Dari Kang Zaen

Hai sahabat, ketemu lagi. Mudah-mudahan ga bosen ya! Sebelumnya aku mau bertanya dulu. Transgender itu termasuk wanita bukan ya? Laki-laki yang melakukan operasi kelamin jadi wanita. Coz aku ingin berkisah tentang makhluk yang satu itu (kejamnya). Cerita ini mengisahkan bagaimana dia berjuang demi sebuah status barunya sebagai wanita. Bagaimana dia berjuang untuk bisa diakui dan dimanusiakan. Dan bagaimana dia berjuang untuk cinta dan keyakinan yang selama ini ia yakini. Sebenarnya aku tak yakin apakah kalian akan menyukai cerita ini atau tidak. Tetapi tidak ada salahnya bila kalian membacanya terlebih dahulu! hehehe, maksa. So, selamat membaca, merenung atau bahka mencaci (hehehe, ngerasa pesimis duluan)

AKU JUGA WANITA

By : Zaenuddin Bangun Setiawan

Entah berapa juta-juta kali kata-kata cemoohan dan cibiran itu keluar dari mulut setiap orang yang mengetahui keadaanya. Bahkan yang paling ekstrim ada yang sampai mengutuk dan memfonisnya sebagai penghuni neraka. Mereka tak sadar siapa mereka. Mereka manusia, bukanlah Tuhan. Sama seperti dia. Tapi inilah kelemahan manusia, selalu merasa diri paling baik dan paling suci dibanding manusia lainnya. Bahkan yang mengutuk bukan hanya dari kalangan yang main-main. Yang paling mengerikan adalah kemarin, ketika acara pengajian rutin ibu-ibu setiap hari selasa. Sang penceramah membawa tema tentang kaum Nabi Luth. Tak ayal, semua mata tertuju padanya. Sakit jelas terasa di hati. Tetapi dia mencoba bersabar. Ini adalah ujian dari Tuhan. Ujian seberapa kuatkah dia dalam perjuangan ini. seberapa layakkah dia menjadi yang sekarang ini. Dan dalam ujian itu, dia berharap Tuhan meluluskannya.

Dia bernama Anisa Septiani. Sebelum operasi lima belas tahun yang lalu, dia bernama Yayan Septiana. Ketika menjadi Yayan, Anisa selalu merasa dirinya adalah wanita. Tak ayal tingkah lakunya pun seperti wanita. Walaupun dari kecil sampai tamat SMA Anisa masih memakai pakaian lelaki, dan rambut dipotong seperti lelaki. Tapi karena kemayu dan tingkah laku seperti perempuan, maka Anisa sering diolok-olok dengan sebutan bencong. Sakit, tentu saja. Marah, inginnya seperti itu. Tapi Anisa selalu diam memendam rasa sakitnya. Keadaan di dalam keluarganyapun tak jauh berbeda. Kalaupun ada yang mengerti dirinya, itu hanyalah sang Ibu. Dia yang membuat Anisa terus bertahan. Beberapa kali Anisa kedapatan akan bunuh diri. Karena dia merasa tekanan yang luar biasa di luar dan di dalam dirinya sendiri. Tapi untunglah dia masih selamat. Dan itu karena Ibunya. Lain Ibu lain Ayah. Seperti keinginan setiap ayah terhadap anak laki-lakinya. Ayah Anisa menginginkan anaknya macho, jagoan, pandai main bola. Bahkan Ayahnya Anisa saking geram melihat tingkah laku anaknya, pernah dengan sengaja mengadu Anisa dengan anak tetangganya. Jelas Anisa kalah. Berbagai cara sang Ayah lakukan untuk bisa merubah Anisa semuanya gugur tanpa hasil. Diikutkan pelatihan bola malah kabur memilih bermain bola bekel bersama anak-anak perempuan di kampung itu. Disuruh ikut mencari rumput buat kambing, malah kabur sembunyi di dapur sambil menghafal resep masakan sayur asem ibunya yang menurutnya paling juara dan wajib dipelajari. Dibentak malah diam seperti orang kesambet. Dipukul, malah menangis. Serba salah. Hingga suatu saat setelah tamat SMA, dia membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ketika semua berkumpul untuk makan malam, Anisa dengan penuh keyakinan dan percaya diri berkata pada semua orang yang ada di situ.

“Sebelumnya Yayan minta maaf pada Ibu, Ayah, De Dadan, De Siska dan De Farhan. Mungkin apa yang akan Yayan katakan pada kalian, akan membuat kalian semua kecewa. Sangat kecewa. Yayan sudah besar saai ini, sudah lulus SMA. Yayan bukan lagi anak kecil. Yayan ingin menentukan kehidupan Yayan sendiri di masa depan. Jangan takut jika suatu saat nanti di akhirat Ibu dan Ayah dimintai pertanggungjawaban atas kelakuan Yayan. Yayan akan meminta pada Allah supaya semuanya dilimpahkan pada Yayan sendiri. Yayan sudah fikirkan resiko ke depan yang harus Yayan hadapi. Yayan berjanji gak akan menyusahkan kalian semua. Kalian hidup tenang dan rukun di sini seperti tak terjadi apa-apa. Sebenarnya berat buat Yayan harus mengatakan ini. Apalagi tanggapan Ayah nanti. Membayangkanya pun Yayan gak sanggup. Tapi ini harus. Yayan hendak ke kota. Yayan akan bekerja di sana.“ Anisa menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya.

“Kamu mau kerja apa di kota? lulusan SMA hanya bisa jadi tukang sapu dan ngepel. Daripada jauh-jauh cuma jadi tukang sapu, mending kamu ngurus kambing di sini. Kamu itu anak tertua, Yan. Harus bisa jadi contoh dan panutan! Adik kamu harus sekolah, bukan cuma kamu saja. Jangan jadi egois. Yang hanya mementingkan diri sendiri. Cukup kamu buat Ayah kecewa dengangan sikapmu!“ sela ayahnya.

Anisa menerawang jauh. Menimbang-nimbang lagi apakah dia siap dengan reaksi keluarganya nanti. Anisa pun memantapkan diri.

“Yayan tidak akan lari dari tanggung jawab. Yayan akan kirim uang untuk keluarga di sini. Yayan tidak bisa pastikan jumlahnya. Tapi Yayan akan pastikan itu rutin tiap bulan. Tolong Ayah mengerti keputusan Yayan. Yayan akan bekerja di…” Anisa terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “di salon punya Teh Mei di Bogor!“ Anisa menunduk. Takut menantap mereka. Terlebih Ayahnya.

Astagfirullah, Yan. Eling, inget Allah. Kamu mau bikin Ayah kecewa lagi. Cukup dengan tingkah kamu yang seperti perempuan, jangan ditambah aktifitas yang memperparah. Kamu tahu, si Mei itu laki-laki. Banci. Tidak bisa menerima kodrat diri. Sesukses-suksesnya dia, apa dia bisa menikmatinya. Dia sekarang sendiri, ibunya matipun dia gak ada di sampingnya. Insyaf, Yan… Insyaf!“ Sang Ayah mengelus dada. Ingin rasanya menggebrak meja atau melempar apa saja pada Anisa yang ada di seberang meja. Boro-boro menggebrak atau melempar, berdiri saja rasanya gak kuat. Terlalu syok.

“Ayah, terkadang sesuatu yang terlihat hina belum tentu hina. Kita bukan Allah yang bisa melihat semua sisi. Keputusan Yayan sudah bulat, Yayan akan pergi ke kota. Lusa. Diijinkan atau tidak, Yayan akan tetap pergi!“

Hening.

“Baik! Jika kamu mau pergi ke kota, pergi sana. Jangan nunggu lusa, sekarang juga itu lebih baik. Aku muak melihat muka kamu. Dasar anak durhaka. Bergaul dengan siapa saja yang kamu mau, jadi apa saja yang kamu mau. Memang, kamu itu banci, dan sampai kapanpun akan tetap banci. Jangan pernah pulang jika aku masih hidup. Uhuk… uhuk… pergi!“ Sang Ayah berteriak lantang.

“Sabar, Yah… Sabar!“ Ibu berusaha menenangkan. Kemudian Anisa pergi ke kamarnya, membereskan semua barang-barangnya. Tak lama kemudian dia keluar bermaksud berpamitan.

“Jangan sentuh salah satupun orang yang ada di sini. Kamu terlalu najis buat kami!“ Anisa pergi meninggalkan rumah dengan tangisan.

Baru sebulan di kota dia sudah merasa rindu pada keadaan rumahnya. Terlebih pada Ibu dan Dadan. Dia melihat uang gaji pertama yang baru saja diterimanya dari Mei. Dia menangis merasakan perih ini.

###@###

Ini adalah tahun ke dua dia bekerja di salon, tapi tidak lagi bersama Mei. Dia pindah setengah tahun lalau ke sini, Keraton Salon mereka menjulukinya. Tidak sembarangan orang yang bisa bekerja di sini karena memang pelanggannya pun bukan orang sembarangan. Dari mulai kaum sosialita, artis sampai para istri pejabat sering singgah ke sini. Masalah penghasilan, jangan ditanya. Jelas besar. Anisa adalah satu-satunya laki-laki yang bekerja di sini. Sang pemilik salon menemukan Anisa ketika di Mall. Waktu itu mereka sama-sama sedang mengunjungi pameran alat-alat kecantikan asal Paris. Hanya butuh waktu sebulan untuk Anisa bisa masuk ke Keraton Salon.

Hidup menjadi setengah pria setengah wanita tidaklah mudah. Cibiran selalu mampir di telinganya tanpa pernah absen. Pandangan orang yang menyebut dirinya gay membuat hatinya begitu sakit. Pernah suatu ketika ada seorang Om Om pengusaha menghampirinya, menyatakan cinta padanya.

Dengan tegas Anisa berucap “Saya tidak seperti apa yang Om lihat. Mungkin semua orang akan sependapat mengatakan saya gay dengan kondisi seperti ini. tapi sungguh saya bukan gay. Jika Om memang mencintai saya, Om akan mengerti. Dan tunggulah sampai saya bisa menjadi wanita seutuhnya!“

Memang, kini setelah penghasilanya tinggi, Anisa berniat operasi kelamin. Dia ingin menyempurnakan dirinya. Sempurna dalam dan luarnya sebagai wanita seutuhnya. Om Om itu tertawa terbahak. Dia geleng-geleng kepala. Seraya mengejek “kamu itu laki-laki, sayang. Ganti kelamin pun kamu tetap laki-laki. Sudahlah terima cinta Om, apa bedanya sekarang ataupun nanti. Ujung-ujungnya kamu juga ditiduri!“

Dengan santai Anisa menjawab “Saya hanya ingin hubungan saya sah. Dengan pria manapun nantinya. Kalau memang Om sudah tidak ada perlu lagi, Anisa mau pulang!“ tanpa menungu persetujuan si Om Anisa pergi.

Waktu terus bergulir, siang dan malam silih berganti dengan teraturnya. Tetapi tak ada yang berubah dari senja. Baik dulu maupun sekarang tetaplah sama. Mungkin sampai nantipun akan sama. Kini menginjak tahun kelima, Anisa telah mendapat posisi yang penting di Keraton Salon. Dia menjadi manager di Keraton Salon cabang di daerah Lippo Karawachi. Di bawah kepemimpinannya, Keranton Salon cabang Lippo Karawachi berkembang pesat. Omset perbulannya jauh melampaui target. Dan ini adalah bulan keenam dari masa kepemimpinannya. Tahun ini akan menjadi tahun paling bersejarah dalam hidupnya. Tahun yang paling dinanti-nanti. Dia akan pergi ke Bangkok untuk melakukan operasi kelamin dan sedikit mengubah bentuk tubuhnya. Sekedar info, tanpa dipermakpun dia sudah terlihat cantik. Apalagi dioperasi.

Daun-daun terus berguguran, tunas barupun bermunculan. Mengganti warna kuning kecoklatan dengan warna hijau muda. Bunga-bunga di taman bermekaran. Ulat yang kemarin masih kepompong kini telah berubah anggun menjadi kupu-kupu. Menari-nari lincah di antara bunga-bunga. Kini hari H keberangkatannya ke Bangkok semakin dekat. Tinggal tujuh hari lagi. Sebelum operasi, ia berniat mengunjungi keluarganya yang telah lama ia tinggalkan. Meminta restu kepada kedua orang tuanya. Sebenarnya ia takut, tapi rindu mengalahkannya. “Lagipula mungkin Ayah telah memaafkanku. Bukankah Singa pun tidak akan memakan anaknya?“ batinnya berusaha memotivasi diri. Dan akhirnya dia pun berangkat menuju kampung tercinta. Dia bersyukur pernah hidup di sana. Walaupun seringnya dulu ia dicaci. Paling tidak, melalui cacian itu dia mengetahui siapa jati dirinya itu.

Tok … Tok … “Assalamualaikum!!!“ Anisa mengucap salam.

“Waalaikumsalam!!!“ seorang remaja yang seumuran anak SMA membukakan pintu.

“Dadan? Ini Dadan?“ Anisa pangling melihat adik laki-lakinya itu. Dadan tumbuh menjadi remaja tampan. Gestur tubuhnya pun tak seperti dirinya. Jelaslah, Dadan laki-laki. Sementara ia, sebentar lagi akan menjadi wanita.

“Ia, saya Dadan. Maaf, kalau boleh tahu Mbak siapa ya? Ada perlu apa?“ dalam keheranannya Dadan bertanya. Dia memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki orang yang ada di depannya. Dadan mengernyitkan keningnya. Sekilas dadan melihat tahi lalat di hidung sebelah kiri membuatmya teringat akan sosok seseorang. Tapi Dadan enggan menyimpulkan.

“Ini Yayan, Dan. Kamu sudah besar ya! Tinggi, macho, cakep. Pasti banyak cewenya!“ Anisa menggoda adiknya.

“A’ Ya.. Ya… Yan! Bener ini A’ Yayan?“ Dadan sangsi. Setahunya, terakhir kali kakaknya pergi masih dalam keadaan laki-laki. Tapi sekarang kok… apakah kota menyihirnya menjadi seperti ini? ah, Dadan pusing, dia menghambur memeluk kakaknya.

“Ini memang A’ Yayan, Dan !“ Anisa berbicara.

“Dadan kangen, A’ Yayan kemana saja! Sekarang A’ Yayan cantik ya. Rambutnya panjang!“ Dadan tertawa.

“Betewe, ga dipersilahkan masuk nih? “

“Oh, lupa. Silahkan masuk A’. Lagian kalau mau masuk, ya masuk aja. Inikan rumah Aa juga.”

Anisa mengusap bulir bening di pelupuk matanya. Bulir yang tercipta dari perasaan rindu.

“Dan, ngomong-ngomong penghuni rumah pada kemana? Sepi banget!“ Anisa celingak- celinguk. “Oh, ya. Aa ke sini hendak minta restu sama Ayah dan Ibu. Aa mau operasi kelamin. Aa tahu, kamu pasti kaget. Aa juga gak ngelarang kamu untuk benci sama Aa. Tapi asal kamu tahu, Aa akan selalu sayang sama kalian. Hampir lupa, perkenalkan nama baru Aa. Anisa Septiani. Kamu bisa panggi Teteh atau panggil nama juga aku ga keberatan!” terlihat Anisa berusaha tegar.

Dadan menunduk, dia bingung harus berkata apa. Harus memulai dari mana. Setelah kepergian kakaknya, kehidupan keluarganya runyam. Ibu meninggal dua tahun setelah kepergian kakaknya. Ayahnya menyusul setahun kemudian. Kini Dadan lah tulang punggung keluarga. Dia yang menghidupi adik-adiknya.

“T… Teh, ikut aku ke suatu tempat yuk!“ Dadan masih canggung memanggil kakaknya dengan sebutan Teteh. Walau bagaimanapun kakaknya kan masih laki-laki.

“Kemana?“

“Teteh ingin tahu Ayah sama Ibu dimana kan? Makanya ayo ikut!“ Dadan berdiri. Menarik tangan kakaknya. Anisa bingung, tapi dia membiarkan dirinya dituntun sang adik. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tapi tak ada satupun yang ia keluarkan. Ia lebih menunggu misteri terungkap sendiri. Setidaknya ada waktu untuk mempersiapkan mental kalau-kalau sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi.

Anisa bingung ketika dia sadar kemana ia dibawa. Pemakaman. Apa maksudnya. Mereka berhenti di sebuah batu nisan. Lilis Suryani Binti Karma. Lalu dia melihat ke nisan di samping nisan yang tadi, Ilyas Abdullah bin Sumarna. Lututnya lemas. Ania ambruk. Lidahnya kelu. Cukup air mata yang mewakili perasaanya kini.

“Ibu meninggal karena demam berdarah tiga tahun lalu. Sementara Ayah meninggal karena serangan jantung setahun setelah kepergian Ibu!“ Dadan mencoba mencritakan apa yang selama ini terjadi.

“Kenapa tak ada yang memberi tahuku, kalian menganggap apa aku ini. Aku tahu aku salah. Tapi… kalian semua tega!“ Anisa menangis semakin menjadi.

“Bukan kami ingin menyembunyikan, tapi Teteh tahu sendiri bagaimana kerasnya Ayah!“

“Aku sudah menjadi anak durhaka. Mereka pergi tanpa memberi kesempatan buatku untuk meminta maaf!“

“Tidak… mereka pergi dalam ketenangan. Sebelum Ayah meninggal, Ayah berpesan. Beliau minta maaf karena selama ini terlalu keras mendidik Teteh. Ayah juga bilang, kini Ayah sudah menerima jadi apapun Teteh nantinya. Makanya tadi pas Teteh bilang mau operasi kelamin aku tidak kaget. Karena aku, Ayah, Ibu dan adik-adik telah siap dengan kemungkinan itu. Jika toh Teteh mau operasi, operasilah!“ Ada rasa haru dalam diri Anisa. Terlebih ketika mendengar wasiat dari ayahnya. Akhirnya stelah hari menua, merekapun pulang. Di rumah mereka disambut oleh adik-adiknya.

“A’ Dadan, itu pacarnya ya?“ Siska yang tak tahu siapa wanita di samping kakaknya bertanya.

Dengan senyuman Dadan menjawab “Kenalin, ini Teh Anisa, kakak kita!“

Farhan mengerutkan kening “Sejak kapan kita punya kakak cewe?“

“Calon kakak ipar mungkin maksudnya!“ sela Siska.

“Bukan, ini kakak kandung kalian. Dulu dia bernama A’ Yayan Septiana!“

Siska dan Farhan bertatapan. Mereka tak mengerti apa maksudnya. “Gini lo adik-adiku, A’ Yayan kini sudah menjadi wanita!“ Anisa menjelaskan. Tapi Farhan dan Siska belum mengerti juga. Akhirnya, Anisa menceritakan kehidupanya selama lima tahun ini dan niatnya untuk pergi ke Bangkok. Dan ketiga adiknya pun setuju. Sebelum ke Bangkok, Anisa membawa adik-adiknya ke Karawachi. Mereka dititipkan pada teman Anisa untuk diurus masalah sekolah dan kehidupan mereka selama Anisa ke Bangkok.

###@###

Inilah Bangkok, ibukota Negara yang berjuluk Gajah Putih itu. Thailand bukan hanya terkenal sebagai negara dengan tempat wisata pantai yang indah. Di balik kemegahan pagoda- pagoda yang bertebaran. Ada sisi lain yang tak bisa dipungkiri dan disangkal dari Thailand. Yakni para Lady Boynya. Ya, Thailand surganya gay di Asia Tenggara (ini menurut pendapat pribadi sih. Hehehe) Ada satu hal yang unik di sini. Kalian akan sangat sulit membedakan mana laki-laki yang menjadi perempuan dan perempuan asli. Jika di Korea selatan hal itu terjadi karena operasi plastik. Maka di Thailand terjadi karena operasi kelamin. Banyak para turis yang sengaja ke sini untuk melakukan operasi. Menurut survei, orang yang melakukan operasi selalu meningkat tiap tahunnya. Salah satu rumah sakit yang paling terkenal dalam hal operasi kelamin adalah rumah sakit Yan Hee. Dan Rumah Sakit inilah yang menjadi tujuan utama Anisa datang kemari. Tentunya bukan tanpa alasan. Jauh sebelumnya, Anisa telah mengumpulkan banyak informasi mengenai operasi kelamin. Tentang biaya, tempat, keaamanan, dll. Dari mulai berselancar di Mbah Google, bertanya-tanya pada kawan, sampai konsultasi pada tour guide. Rencana Anisa akan di Bangkok untuk operasi kelamin plus istirahat pasca operasi selama satu bulan. Kemudian setelah itu ia akan ke Korea selatan untuk operasi pelastik bagian-bagian tubuh yang memang perlu. Semua dia lakukan demi bisa menjadi wanita.

###@###

Ini bukanlah awal kebahagiaan. Tetapi adalah awal perjuangan baru. Setelah operasi, ada tugas lain yang harus dan perlu ia lakukan. Yakni mendapatkan pengakuan dari Negara bahwasanya dia adalah wanita. Anisa semakin rajin mencari-cari informasi. Masuk keluar ruang sidang hanya untuk sebuah status. Lingkungan keluarga dan lingkungan kerja mendukung penuh usahanya. Tapi lain dengan lingkungan tempat dia tinggal. Cibiran semakin memanas. Gosip pagi, siang, sore hanyalah tentang dirinya. Para tetangga berlomba-lomba memvonis dirinya. Mereka bukan lagi manusia, tetapi mereka kini sudah seperti Tuhan. Yang bisa menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka. Tetapi bukan Anisa namanya jika ia menyerah. Dia malah lebih aktif lagi di kegiatan sosial. Dia menjadi Ketua Persatuan Transgender Indonesia (PTI). Selain memperjuangkan status dirinya, dia juga memperjuangkan hak rekan-rekannya. Yakni hak dimanusiakan. Dia juga aktif menggalang dana untuk disumbangkan kepada yayasan-yayasan sosial, dari mulai panti, sekolah, dan korban bencana. Pernah satu ketika aksi demonya diliput stasiun TV. Dia tampil dan diwawancara di sana. Maka hebohlah satu kampung. Kampung tempat dia dilahirkan. Yang lebih menyakitkan, warga meminta kuburan kedua orang tuanya dipindahkan. Jika tidak, mereka mengancam akan membongkar. Gelombang demi gelombang ia lalaui dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Hingga pada 2012 kemarin, dia mendapatkan pengakuan dari negara sebagai wanita.

”Sudah saatnya aku mecari pendamping!“ fikirnya.

Bali, Selasa 11 Juni 2013

“Saya nikahkan engkau Adam Lukmansyah bin Saparudin Subagyo dengan Ananda Anisa Septiani binti Ilyas Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seribu rupiah di bayar tunai!“

“Saya terima nikahnya Yayan Septiana… “

“Saya ulang kembali.” Bapak penghulu berdehem, “Saya nikahkan engkau Adam Lukmansyah bin Saparudin Subagyo dengan Ananda Anisa Septiani binti Ilyas Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seribu rupiah dibayar tunai!“

“Saya terima nikahnya Anisa Septiani binti Ilyas Abdullah dengan mas kawin Saparudin…“

“Coba Mas tenang. Jangan dijadikan beban. Saya ulang sekali lagi, jika tetap tak bisa, maka mau tak mau pernikahan ini batal.” Bapak Penghulu berdehem lagi, lebih panjang kali ini. “Saya nikahkan engkau Adam Lukmansyah bin Saparudin Subagyo dengan Ananda Anisa Septiani binti Ilyas Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar seribu rupiah dibayar tunai!“

“Saya terima nikahnya Anisa Septiani binti Ilyas Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang seribu rupiah dibayar tunai!“

“Sah…!!!“

“ Sahhhhh!!!“

Kedua mempelai terlihat bahagia, begitupun keluarga mereka. Siska dan Dadan menangis terharu. Sementara Farhan memeluk kakaknya. Mereka sengaja menikah di Bali demi kelancaran pernikahan. Tak banyak yang datang kecuali mereka yang benar-benar mengerti akan kondisi Anisa juga kondisi Adam. Ada yang menarik dari pernikahan ini. Anisa mengenal Adam ketika dia belum operasi. Mereka bertemu di Bangkok. Adam dulunya dalah seorang wanita yang dirinya merasa sebagi laki-laki yang terperangkap dalam tubuh wanita. Namanya dulu Sinta Widari. Mereka melakukan operasi di tempat yang sama dan waktu yang sama. Hanya saja setelah operasi mereka tak pernah bertemu. Mereka baru bertemu lagi ketika menghadiri acara amal untuk korban banjir. Baik Anisa maupun Adam tadinya tak pernah mengira siapa pasangannya ini di masa lalu. Tapi seiring berjalannya waktu semua terungkap.

Dan beinilah akhir kisahnya. Mereka menjadi sepasang suami istri Transgender.

End

Tak pernah mengira cerita ini akan selesai. Tapi akhirnya … Plong ! hehehe. Sobat, di dunia ini tak ada manusia yang paling suci. Jadi jangan merasa lebih suci dari yang lain. Karena kesombongan hanya akan memakan diri sendiri. Apalagi sampai berani mengatakan si anu itu akan masuk neraka. Ingat siapa dia siapa kita. Kita sama. Manusia. Manusia tak punya hak menentukan kehidupan mana yang akan ia jalani di alam akhirat nanti. Jika memang menurut kita salah, maka luruskan. Jika tidak bisa diluruskan, maka serahkan semua urusan itu padaNya. Hanya Dia yang mampu membolak-balikan hati.

Sei Senting, Senin 10 Juni 2013, 22.09 WITA

Diruangan Kerja TUK

Add my FB : zaenudin_setiawan@yahoo.com

FB dunia pelangiku : abimanyus34@yahoo.com

Email : bangun36@gmail.com