warm-bodies-movie-poster

Judul : Warm Bodies (novel by Isaac Marion)
Genre: Drama, romance, komedi, fantasi
Thn prod/Thn terbit: 2013/2013 (cover film, terjemahan Indonesia)
Durasi/Tebal halaman: 97 menit/376 halaman

Di suatu masa, pada tahun tak teridentifikasi, diceritakan bahwa kehidupan dunia telah berubah. Bukan tentang mobil terbang, gadget super canggih yang memungkinkan manusia ber-teleportasi, atau robot yang menggantikan hampir keseluruhan aktivitas gerak manusia.Keberadaan manusia sebagai penghuni dominan di muka bumi telah tergeser oleh munculnya komunitas zombie. Mahkluk yang dikenal sebagai kaum mati meskipun masih berada pada kondisi “antara hidup dan mati” ini setiap hari jumlahnya bertambah dan meng-take over kehidupan manusia dengan cara memakan habis mereka, atau memakan sebagian dan membiarkan otaknya utuh agar mereka berubah menjadi zombie untuk meningkatkan populasi. Kaum hidup mengisolir diri, mereka yang masih bertahan memilih untuk tinggal mengelompok di suatu kawasan kota yang tertutup. Bahu membahu mereka membangun pertahanan berupa tembok beton, yang dianggap dapat melindungi mereka dari serangan zombie. Kaum mati sendiri seperti dikomando untuk selalu “pulang” ke base camp berupa bandara yang telah lama mati fungsi.

Adalah R, salah satu dari kaum mati itu. Pemuda zombie ini tak jauh beda dari zombie yang lain. Langkah lamban yang terseok, tak tahu identitas diri, tak bisa bicara banyak –kecuali menggeram–, warna kulit dan bola mata kelabu, mata cekung, hati yang tak bisa merasa, otak yang tak bisa berpikir, dan rasa lapar ketika melihat kaum hidup. Yang membuatnya sedikit lebih beruntung adalah, fisik R tak semengerikan kaum mati yang lain. Tubuhnya masih utuh, wajahnya juga good looking untuk ukuran mayat hidup. Kelebihan yang lain dari zombie cakep ini adalah, meskipun tidak mampu banyak berkata, tapi dia sangat suka membatin. Sepanjang film, kapanpun R bicara dalam hati, saat itulah dia bercerita pada kita.

Jalan hidup R berubah sejak bertemu seorang gadis dari kaum hidup, Julie Grigio. Julie dan Perry, kekasihnya, bersama beberapa remaja kaum hidup suatu hari mendapat tugas keluar menuju wilayah kota yang sudah tak berpenghuni untuk mencari stok obat-obatan. Malangnya, keberadaan mereka terendus R dan kawan-kawan. Perlengkapan senjata dan ketangguhan yang menjadi bekal remaja kaum hidup tak mampu mengalahkan ganasnya para zombie akibat rasa lapar. Di sanalah R melihat Julie, dan pemuda zombie itu terpesona, iya, untuk pertama kalinya setelah menjadi mayat hidup, dia merasa terpesona. Gadis kaum hidup itu dengan panik sekaligus berani berusaha menembaki para zombie menggunakan senapan laras panjang, dan dia telah mengalihkan dunia R hingga lupa pada tujuannya semula. R lalu memangsa seorang pemuda yang berusaha menumbangkannya, yang kemudian dia tahu adalah kekasih Julie. R memutuskan untuk memakan habis pemuda itu, bahkan menyisakan beberapa bagian otaknya untuk dimakan nanti. R sangat menikmati momen menyantap otak manusia, karena isi kepala manusia itu membuatnya bisa melihat kenangan dan ingatan, dengan begitu dia merasa kembali menjadi manusia. Pesta makan para zombie hari itu menyisakan Julie dan seorang gadis lainnya. Entah apa yang mendorong R melindungi Julie. Dia mengaburkan “aroma manusia” Julie agar tak terendus zombie yang lain, bahkan membawa serta gadis itu ke base camp mereka.

IMG-20130721-01242

Julie, entah bagaimana caranya, membuat R menjadi “lebih manusia”. Meskipun awalnya takut dan marah, sikap R yang begitu melindungi membuat Julie lambat laun merasa nyaman bersamanya. Jauh sebelum itu, Julie sebenarnya yakin bahwa munculnya komunitas zombie yang mengambil alih kehidupan manusia, hanyalah wabah yang sebenarnya bisa disembuhkan. Tapi itu bukan berarti dia tidak takut, mengingat ibu dan kekasihnya mati karena dimangsa zombie. Itulah sebabnya, dia tak habis pikir, bagaimana mungkin “seorang” zombie bisa sebaik dan selembut R. Berulang kali dia bertanya penuh heran, what are you?
R jatuh cinta. Dia menyadari itu ketika dia tak ingin Julie takut padanya, ketika dia merasa bahagia melihat gadis itu nyaman bersamanya. Dia ingin bersama Julie lebih lama, meskipun itu artinya harus sembunyi seterusnya dalam pesawat rusak yang dia sulap sebagai tempat tinggal, dan harus bertaruh “nyawa” menghadapi kawanan zombie lainnya dan para boney, kerangka hidup yang merupakan pimpinan para zombie. Ingatan Perry banyak membantunya untuk lebih mengenal Julie. Dan yang lebih menakjubkan, menghabiskan waktu bersama Julie membuat R mampu mengucap lebih banyak kosa kata, meskipun itu terbata-bata dan tak sebanyak yang dia ucapkan dalam hati.

Julie harus pulang. Gadis itu akhirnya merasa lelah tinggal di tengah-tengah komunitas zombie. Ayahnya, Kolonel Grigio, bisa dibilang merupakan orang yang punya andil besar dalam bertahannya manusia yang tersisa. Ayahnya itulah yang berusaha untuk mengevakuasi manusia yang masih bertahan dan mengumpulkan mereka semua dalam suatu kawasan kota terisolir, berinisiatif membangun tembok beton sebagai perlindungan, dan membentuk pasukan militer siap tempur yang selalu siaga terhadap serangan zombie. Pendek kata, ayahnya sangat anti-zombie. Trauma mendalam akibat kematian tak wajar ibunya, membuat ayahnya berasumsi bahwa para mahkluk pemakan otak itu harus dibasmi tanpa ampun. Dia tak pernah sepakat dengan teori Julie tentang zombie sebagai wabah penyakit dan keadaan dunia yang bisa membaik suatu hari nanti.
Keluar dari bandara bukanlah hal mudah untuk R, dia harus membangkang para boney dan mengkhianati zombie yang lain. Bagaimana tidak? Saat seisi bandara begitu bernafsu untuk memangsa Julie, R justru sekuat tenaga melindunginya. Para zombie tertegun heran, menatap aneh dan kemudian memberi mereka jalan untuk pergi setelah melihat Julie menggenggam erat tangan R. Apa ini? Pasangan zombie dan manusia? Kaum mati dan kaum hidup?

Kisah R dan Julie benar-benar dimulai. R berharap banyak dari kebersamaannya bersama Julie. Gadis itu telah mengubahnya. Dia tak peduli lagi tentang rasa lapar akan otak manusia. Dia bahkan bisa tertidur dan bermimpi saat mereka berdua terpaksa menginap di sebuah rumah kosong dalam perjalanan mengantar Julie pulang. Tapi R harus kecewa ketika keesokan paginya, Julie telah pergi meninggalkannya. R merasa bodoh, tidak seharusnya dia berharap banyak, dengan alasan apa Julie bisa menyukainya? Mencintainya? Dia hanyalah “seorang” zombie, mayat hidup. Lalu, apakah akhirnya R menyerah? Kembali pada kehidupannya sebagai pemangsa otak manusia? Ternyata tidak. Ketika memutuskan kembali ke bandara, R terkejut melihat kerumunan zombie yang menghadangnya di jalan. Lebih terkejut lagi mendengar kabar bahwa sebagian besar dari zombie yang ada di bandara mengikuti jejaknya untuk membangkang para boney. Ya, sebagian besar dari mereka berubah karena termotivasi melihat R dan Julie. Mereka mulai merasa, berpikir, bermimpi, dan tak lupa, mereka mulai bicara lebih banyak, seperti R. Mendadak R merasa punya harapan lagi, Julie harus tahu soal ini. Yang Julie katakan tentang zombie bisa sembuh itu benar, ini buktinya, mereka sedang membaik, itu berkat dirinya dan Julie.
Berbekal ingatan Perry dan dukungan dari para zombie yang lain, R memutuskan untuk menantang bahaya masuk ke kawasan kota terisolir, tempat Julie tinggal. Julie terharu, bukan hanya manusia yang patut waspada terhadap zombie, sebaliknya, zombie juga patut waspada terhadap manusia. Dan R nekat menghadapi itu demi bisa menemuinya lagi.
Dan dimulailah perjuangan R dan Julie. Layaknya Romeo dan Juliet, mereka harus menghadapi dua kubu “keluarga” yang menentang hubungan mereka. Para boney yang memburu mereka karena dianggap memicu pemberontakan para zombie, dan Kolonel Grigio bersama pasukan manusia yang tak percaya saat Julie berkata sebagian besar para zombie mulai membaik keadaannya. Kolonel Grigio bahkan nyaris meledakkan kepala R saat tahu pemuda yang sedang bersama putrinya adalah “seorang” zombie. Tapi R dan Julie tak sendiri, mereka didukung sepenuhnya oleh para zombie yang semakin yakin untuk tidak lagi tunduk pada para boney. Sekuat tenaga mereka berusaha menghalangi para boney yang mengejar R dan Julie. Para prajurit manusia awalnya bingung melihat perkelahian para boney vs para zombie. Tapi akhirnya mereka tahu, para zombie ada di pihak mereka.

Lalu bagaimana dengan R dan Julie? Sebuah keajaiban terjadi saat mereka berciuman hangat. Mata kelabu R perlahan berubah warna menjadi biru jernih. Keajaiban yang lain terjadi saat bahu R ditembak oleh salah satu personil Kolonel Grigio. R berdarah! Benar-benar berdarah! Merah! Julie yang susah payah meyakinkan ayahnya bahwa R berbeda, kemudian begitu saja terbantu dengan bukti bahwa R berdarah. R lebih dari sekedar berbeda, dia berubah, dia sembuh, dia kembali menjadi manusia.
Dan keadaan dunia membaik sejak itu. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan dari para zombie. Kaum hidup dan kaum mati hidup berdampingan. Manusia membantu para zombie untuk menjalani hidup yang seharusnya, selayaknya, sewajarnya. Para zombie termotivasi untuk membaik, sembuh bukan lagi hal yang mustahil. After all, it’s all about love. And that’s how the world exhumed.

Tidak bisa tidak, menonton film ini ataupun membaca novelnya, akan mengingatkan kita pada series film dan novel pendahulunya, Twilight. Genre dan jalan cerita yang disajikan juga sejenis. Beruntung Warm Bodies beredar setelah Twilight-fever mereda. Meskipun sejenis, kedua cerita fiktif ini tetaplah berbeda. Dibandingkan Twilight yang settingnya saja sudah berasa mencekam, Warm Bodies lebih terasa unsur komedinya. Film/novel ini juga lebih “berpihak” pada kehidupan manusia. Jika Twilight akhirnya “mengvampirkan” Bella untuk kehidupan dan cinta yang “abadi” bersama Edward, maka Warm Bodies justru “memanusiakan kembali” R hingga bisa menjalani cinta yang sewajarnya, yang dibatasi waktu dan bisa dipisahkan maut, bersama Julie.
Nggak tau kalian lebih suka yang mana, tapi saya pribadi lebih memilih Warm Bodies. Menurut saya, film/novel ini nggak perlu dibuat banyak seri demi bisa mencuri hati. Ketika membaca novelnya 2 bulan yang lalu, saya berharap banyak pada filmnya. Saya pengen tau seperti apa bentuk visual dari novel memikat ini. Dan ternyata nggak mengecewakan. Ada beberapa hal yang memang berbeda antara novel dan filmnya, but still, both are recommended.
Si tokoh sentral, R, diperankan oleh Nicholas Hoult dengan baik. Cowok zombie ini, somehow bisa cool and cute at the same time. Kalau si vampir keren Edward Cullen selalu beraura cool dan misterius, maka R terlihat polos dan innocent. Serius, saya cekikikan tiap ngeliat ekspresi mukanya saat terpesona melihat Julie menari, atau saat dia salah tingkah karena ketauan memperhatikan Julie, dan bagaimana dia “nyebut” saat melihat Julie dalam balutan underwear😀
Pesan moral dalam film/novel ini juga manis. Kebayang kan, seandainya manusia berhenti saling peduli dan saling menyayangi, bukan nggak mungkin beberapa dari kita berubah menjadi zombie yang dingin dan nggak berhati, bahkan tega “memakan” manusia lain. Well, mungkin saja di jaman sekarang ini, zombie-zombie itu sudah mulai berpopulasi meski nggak dalam wujud zombie yang sebenarnya, hehehe.. Intinya, film/novel ini ingin menyampaikan, cinta dan kasih sayang, adalah hal yang membuat manusia “menjadi manusia”, mahkluk yang hangat tubuh dan hatinya.🙂

No matter what.. we stay together.
We’re changing everything..
(R to Julie)