LA Potret cover 5

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kali ini aku tak ingin minta maaf karena terlambat update. Toh dengan minta maaf tak akan merubahku menjadi lebih baik lagi. Jadi, inilah Potret Lima. Yang mau baca silakan baca, yang mau lewat silakan lewat saja.

Sekedar pemberitahuan buat yang masih sudi mengikuti LA Seri Potret ini, dengan amat menyesal aku harus menghentikan update-nya hingga setelah lebaran nanti. Aku masih berhutang dua potret lagi, dan pasti kutunaikan jika malaikat maut tidak menjemputku lebih cepat tentunya.

Selamat bertemu Saif dan Ruthiya di potret ini, check sendiri siapa saja yang jadi cameonya.

Seperti biasa, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret Lima seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Wahai jarak…

Aku membencimu seperti kebencian Fir’aun kepada Musa

Wahai jarak…

Aku mengutukmu seperti kutukan Sang Ibu kepada Malin Kundang

Jarak, kau adalah bedebah

Kau juga bangsat sialan

Jahanamlah kau jarak!

***

POTRET LIMA

ANANDA SAIF AL-FATA nyaris menyemburkan teh yang sedang diteguknya melalui mulut botol. Jika itu sampai terjadi tentu gadis cantik yang sedang duduk di depannya dengan wajah masygul akan seperti baru saja mandi pancuran. Nasib si gadis masih baik, lelaki di depannya mampu bertahan dari kekagetan yang membuatnya nyaris menelan botol teh.

Saif terbatuk kencang, lelaki ini buru-buru meletakkan botol tehnya di atas meja dengan hentakan kuat. Piring mie goreng mereka sampai harus ikut terlonjak dan mengeluarkan suara berdentingan ketika sendok dan garpu di atasnya saling beradu. Saif menepuk dadanya berkali-kali, agaknya ada teh yang nyasar masuk melalui tenggorokannya, seharusnya teh itu masuk melalui kerongkongan bukan ke jalan napasnya.

“Kak…,” gadis cantik di depan Saif memanggil, “Andai aku punya pilihan, aku pasti akan memilih yang terbaik buat kita, buat kamu.”

Saif menyeka mulutnya dengan punggung tangan, sedikit teh juga ikut menyembur melewati lubang hidungnya ketika dia tersedak tadi. Setelah batuknya berhenti dan dapat menguasai diri kembali, Saif menatap si gadis. “Tentu kamu tidak punya pilihan, Ruth. Karena kamu hanya perlu memilihku…”

Si gadis itu, Ruthiya, menggelengkan kepalanya dengan gerakan lemah. “Tidak sesederhana itu, Kak…”

“Apanya yang tidak sederhana?” Saif menukas tajam. “Kamu jahat, Ruth. mengapa sekarang? Mengapa tidak sejak seminggu, sebulan atau setahun yang lalu kamu mengabarkan padaku?”

“Apa bedanya?” Ruthiya kembali menggeleng, “Kamu tidak sedang berpikir jernih sekarang.”

“Yap, aku memang sedang tidak berpikir jernih saat ini. Ya Tuhan, Ruth, siapa orangnya yang tidak bersikap sepertiku saat mendapat kabar bahwa pacarnya akan segera pergi meninggalkannya dalam waktu kurang dari seminggu lagi? Kecuali ia pacar brengsek, maka pasti semua tipe pacar sepertiku akan bereaksi sama.”

Ruthiya terdiam.

“Sial!” Saif mengumpat. Andai tidak ingat sedang berada dimana, ingin saja dia meneriakkan umpatannya barusan dengan suara yang menggelegar. Meski hanya berupa gumaman, masih saja ada beberapa kepala yang menoleh ke mejanya dan Ruthiya.

“Aku minta maaf…”

“Sialan…”

“Kak!”

“Keparat.”

Honey!”

“Bangsat.”

“Berhenti mengumpat! Ada apa sih denganmu?” Ruthiya mendesis tajam, gigi-giginya mengatup geram. “Jaga sikapmu, Kak!”

Damn, rasanya aku ingin menghajar seseorang!”

Ruthiya mendecak, dia mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh lengan kiri Saif. “Tolong, jangan buat aku membenci diriku sendiri. Jangan buat aku merasa berlaku jahat padamu…”

“Kamu sudah berlaku jahat padaku, Ruth!”

Ruthiya mengerjap, matanya mulai berkabut. Gadis ini menarik lengannya kembali lalu menunduk. Dia bukan tidak membayangkan kalau reaksi kekasihnya bakal seperti ini. Ruthiya sudah memikirkan kapan dan bagaimana seharusnya dia memberitahu Saif tentang rencana kepindahan keluarganya ke negeri jiran sejak papanya membicarakan hal tersebut di rumah lebih dua bulan lalu. Dia mengaku salah tidak mengabarkan Saif jauh-jauh hari, dia menyesal mengapa harus memberitahu kekasihnya itu lima hari menjelang keberangkatannya. Nyatanya, bukan masalah kapan sebaiknya Ruthiya memberi kabar yang membuat reaksi Saif sedramatis ini, tapi adalah inti dari kabar itu sendiri. Bahwa Ruthiya akan pergi menyeberang samudra untuk meninggalkannya. Itulah inti dari drama mereka.

Hening.

Ruthiya masih menunduk. Beberapa anak rambut di sisi wajahnya bergerak gemulai dipermainkan angin sore di kafé taman tempat dia dan Saif sudah duduk sejak setengah jam lalu. Ruthiya baru membuka percakapan inti setelah dia dan Saif menghabiskan pesanan mereka. Padahal, inti percakapan itu hanya berupa dua kalimat saja, ‘Dua bulan lalu Papa mengabarkan kalau kami akan menetap di Selangor’ dan ‘Kami akan berngkat awal bulan nanti’. Dua kalimat yang sudah cukup membuat Saif bagai tersambar petir.

Senyap.

Saif menerawang jauh ke pohon cemara yang berjejer rapi di pinggiran taman. Dia amat mencintai Ruthiya. Dalam impiannya, suatu saat Ruthiya akan duduk bersanding dengannya di pelaminan, tersenyum manis dalam busana pengantin mereka sambil menyalami para tamu. Dalam impiannya, dia dan Ruthiya akan mengikuti jejak kakaknya dan Mbak Balqis, berumah tangga. Tapi kini, ketika dalam waktu tak kurang dari lima kali dua puluh empat jam saja lagi Ruthiya akan berada di luar jangkauannya, masihkah impian itu punya kemungkinan terwujud? Rasanya, jodoh adalah lelucon bagi Saif sekarang. Impiannya adalah kemulukan paling muluk. Masa depan seperti apa yang dia dan Ruthiya bisa dapatkan jika jarak akhirnya akan segera memangkas segala yang pernah terjadi antara mereka berdua di masa lalu?

Saif menatap Ruthiya kini, gadis itu masih menunduk. Saif tahu kalau Ruthiya sedang menangis dalam diamnya. “Tak bisakah kamu tetap tinggal, Ruth?” Saif bertanya lembut, “Tak mengapa Papa dan Mama yang menetap di sana, kamu bisa terus tinggal di sini, menyelesaikan kuliahmu…” Ada jeda yang canggung, mereka tak pernah berada dalam situasi sedingin sekarang. “Tak lama lagi, Ruth, setahun setelah aku lulus lalu giliranmu. Ketika Kamu selesai kuliah, aku akan melamarmu…” Saif kesulitan menelan ludahnya. “Kita sudah dewasa dan berhak menentukan keputusan sendiri. Kamu bisa memutuskan apa yang kamu mau, Ruth… kumohon, tinggallah…”

Ruthiya mengesat mata sekilas lalu mengangkat wajahnya, menatap Saif  tepat di matanya. “Masalahnya tidak sesederhana itu, Kak…”

Saif menggeram di tempat duduknya, di atas meja tangannya sampai mengepal hingga buku-bukunya memutih.

“Tolong lihat posisiku. Aku anak tunggal, perempuan. Aku tidak mungkin berpisah dengan papa mamaku, mereka tak akan merestui jika aku memilih tinggal di sini.” Ruthiya menarik napas, “Hingga nantinya aku bersuami, aku masih harus mengikuti kedua orang tuaku…”

“Kalau begitu aku akan menikahimu sebelum lima hari ini lewat.” Saif menukas cepat.

“Jangan gila!”

“Setelah menikah, kita tinggal di rumahku. Biarkan papa dan mamamu yang pergi…”

Ruthiya menggeleng keras, “Kamu berkata-kata tanpa berpikir. Itu mustahil…”

“Apanya yang mustahil?” nada Saif meninggi, “Maksudmu, mustahil kita menikah karena kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” Saif tahu dan sadar kalau tuduhannya barusan adalah tidak benar, dia mengetahui bagaimana Ruthiya begitu mencintainya. Namun saat ini Saif sedang menumpahkan emosinya dengan meracau segala-gala tanpa terlebih dulu menilik kepantasan uucapannya.

“Kamu tahu kalau itu tidak benar, Kak!”

“Jangan-jangan kamu malah gembira dengan rencana kepindahan keluargamu, ini adalah peluangmu untuk menyudahi kisah kita karena kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Begitukah, Ruth?” Saif kembali menumpahkan ketidakbenaran ucapan yang disadarinya sendiri.

Ruthiya kembali berkaca-kaca.

Detik ketika bulir bening menyeberang di atas pipi halus Ruthiya, Saif mengutuk dirinya sendiri karena telah menyakiti gadis itu dengan kalimatnya. Sungguh, menyakiti Ruthiya adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Namun sekarang apa yang sudah diperbuatnya? Tolol. “Damn it…” gerahamnya beradu kuat. Saif ingin berpindah, duduk di samping Ruthiya dan membenamkan kepala gadis itu ke dadanya, menenangkannya, membelai rambut legam Ruthiya yang lurus indah seperti yang biasa dilakukannya. Tapi, Saif hanya kaku di kursinya.

“Aku menyesal telah menyakitimu sedalam ini, Kak…” Ruthiya menyapu kedua mata, merapikan anak rambutnya lalu beranjak bangun. “Aku pulang dengan taksi saja…”

Kenyataannya, dialah yang telah menyakiti Ruthiya. Saif ingin menangkap lengan itu, menggandengnya berjalan ke parkiran sambil berucap bahwa dia yang harusnya menyesal dan berkata maaf.

Namun Saif hanya diam di kursi ketika Ruthiya melewatinya.

***

Aku membenci jarak seperti kebencian Fir’aun kepada Musa

Aku membenci jarak seperti Nurbaya membenci Maringgih

Sungguh, aku benci jarak

Lebih dari itu,

Aku membenci diriku sendiri yang ternyata keok melawan jarak

Tiga hari. Sudah selama itu Saif tidak melihat Ruthiya, mendengar suaranya pun tidak. Sudah selama itu pula Saif tidak bergairah menjalani hari. Pagi datang dengan fajarnya yang menyilaukan dan Saif menatap murung sarapannya tanpa bergairah untuk mengosongkan piring. Siang bertandang dengan panas gahar yang bukan olah-olah dan Saif termangu hampir di seluruh jam kuliahnya. Petang hadir dengan semburat jingganya yang memesona dan Saif tergugu sendiri di balik jendela kamar dengan pandangan hampa. Ketika malam tiba dengan pekatnya yang menggulita, Saif meringkuk di ranjang dengan pikiran bahwa tak lama lagi daftar cowok cakep jomblo akan bertambah satu orang lagi di negeri ini.

Sungguh, kini menjadi jomblo adalah mimpi buruk bagi Saif.

Dulu dia jomblo, tapi itu tak termasuk mimpi buruk karena jomblonya bukan tanpa maksud dan manfaat. Saif menjomblo untuk dapat menjaga adiknya, tapi kini ketika sang adik sudah punya penjaga baru yang juga sekaligus menjadi tempat bermanja dan memadu kasih, manfaat apa yang akan diperolehnya dengan menjomblo? Tak ada, selain dari kesia-siaan dan sakit mata tiap kali berhadapan dengan pemandangan adik dan sahabatnya yang hangat dan harmonis. Saif yakin, setelah Ruthiya pergi, dia akan iri tiap kali melihat orang pacaran di depan matanya. Tak hanya adiknya, orang lain juga akan membuatnya iri.

Tunggu, apakah kepergian Ruthiya juga berarti bahwa tali cinta mereka ikut terpenggal putus?

Malam ini, Saif terlelap dengan pertimbangan : sanggupkah dia menjalani yang namanya Long Distance Relationship dengan Ruthiya? Efek dari pertimbangan tersebut, Saif bermimpi kalau Doraemon mengacak-acak kantong ajaibnya dan mewariskan sebuah pintu kemana saja warna pink untuk dipergunakannya jika ingin ke kamar Ruthiya di Selangor seminggu sekali.

***

Dilema itu seperti pengidap diabetes yang cinta mati pada gula

Dilema itu seperti ragaku yang harus pergi namun hatiku tidak

Sungguh, dilema itu adalah tuba ganas dalam hal cinta

Dan sungguh,

Kini aku seperti penderita insomnia yang tak bisa jauh dari cangkir kopi…

Ruthiya memandang miris pada kotak-kotak besar yang sudah mulai berjejer di dalam rumahnya. Nantinya, kotak-kotak itu akan diangkut dengan jasa kargo ke tempat barunya. Dua hari lagi, dia akan benar-benar mengakhiri dilema yang sudah dialaminya lebih dua bulan lalu. Sekali lagi, andai dirinya punya pilihan, tentu dia akan memilih tinggal untuk memenangkan hatinya sendiri atas dilema yang sedang menguras emosi.

Ketika malam tiba, Ruthiya duduk memeluk lutut di atas pembaringan. Sudah tiga malam dilaluinya dengan ritual yang sama : duduk termangu di atas ranjang sambil menatap potret Saif yang tepat berada di buffet di sisi tempat tidur hingga kantuk datang menyergap saat sudah jauh melewati dini hari. Di satu sudut potret itu bertuliskan “My Everythin’, Kak Sa Sa”

Adakalanya Ruthiya ingin mencari nomor Saif di phone book-nya, berbicara seperti yang sering mereka lakukan, menikmati suara bass lelaki itu ketika merayunya, memintanya mendongeng hingga dia jatuh tertidur seperti yang beberapa kali pernah terjadi meski dongeng itu hanya berupa kilasan-kilasan kenangan masa kecil sang kekasih yang samar-samar. Namun ragu selalu mampu lebih dulu menggagalkan usahanya bahkan sebelum Ruthiya menyentuh ponselnya.

Ruthiya bertanya-tanya, mengapa Saif juga tidak menghubunginya? Apa di sana Saif juga dikalahkan ragu? Ruthiya mengingat-ingat pertemuannya dengan Saif yang terakhir kali, dia mengingat-ingat apakah ada kalimat atau bahasa tubuhnya yang mengartikan bahwa hubungan mereka sudah resmi kandas? Tuhan, jika ada atau bisa jadi Saif sudah mengartikan demikian ___bahwa hubungan mereka sudah berakhir___  maka Ruthiya sudah benar-benar kehilangan lelaki itu, dia sudah benar-benar meninggalkan Saif meski kepergiannya masih dua hari lagi. Apa karena itulah nama Saif tidak lagi terlihat ketika nada panggil ponselnya berbunyi?

Ruthiya menghela napas panjang. Jika benar demikian, maka mereka tidak lagi saling memiliki satu sama lainnya. Ruthiya terpejam, terlalu banyak kenangan akan Saif yang masih tersimpan di kepalanya. Juga terlalu banyak identitas Saif yang masih bertebaran di kamarnya.

Ruthiya membuka mata dan memandang potret Saif di atas buffet. Shirtless. Saif bertelanjang dada dalam potret itu, jeans lusuh membungkus tungkainya dengan amat pas. Itu adalah potret ketika mereka mengunjungi pantai satu hari di awal hubungan mereka. Pada malam-malam sebelum dua bulan lalu, memandang potret itu selalu berakhir dengan kebanggaan penuh-penuh dalam diri Ruthiya. Menjadi pacar seorang lelaki seindah Saif adalah prestasi yang membanggakan. Tentu saja. Tapi sekarang, memandang potret itu hanya menghadirkan sebentuk keputus-asa-an dan penyesalan. Putus asa karena sadar bahwa tak ada apapun yang bisa dilakukannya untuk tetap tinggal dan mengekalkan statusnya sebagai kekasih Saif, serta menyesal karena dirinya sendiri yang menjadi sebab hilangnya status kepemilikan terhadap apapun yang ada pada sosok Saif.

Gadis ini bertanya-tanya, apakah di tempat barunya nanti ada sosok Saif lain yang kadar indahnya tidak kurang satu angka pun dari Saif yang pernah dimilikinya di sini? Pertanyaan selanjutnya, sesulit apakah hubungan jarak jauh itu? Dan pertanyaan berikutnya yang lebih mendasar, apa ada kemungkinan dia dan Saif untuk tetap berstatus pacaran ketika jarak menganga lebar?

Ruthiya merebahkan diri ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Dia rindu lengan Saif yang melingkari pinggangnya…

***

“If, Mak Iyah bikin sarapan untuk dimakan, bukan diaduk-aduk begitu.”

Sekilas Saif mengangkat wajah menatap bundanya yang baru saja menegur lalu kembali menekuri piring. Dia memang berhenti mengaduk-aduk menu sarapannya, tapi itu bukan berarti dia langsung menyuap. Sekarang sendok dan garpunya menggeletak begitu saja dalam piring.

“Dik Gede sedang tidak fit kah? Mbak perhatikan sudah beberapa hari ini murung selalu.”

“Bawa ke rumah sakit aja, Mbak, periksa.” Aidil menukas, pro dengan kalimat kakak iparnya yang seorang dokter.

“Ah, palingan urusan perempuan. Patah hati ya, If?” Adam ikut mengusik adiknya.

“Hah, Kak Saif diputusin Mbak Tiya ya?” Aidil melotot ke arah kakaknya yang masih saja menunduk, gerakan mengunyahnya berhenti total. “Kasihan, padahal lelah dari balik kampung belum ilang, eh sampai sini malah disambut kabar buruk…”

“Dik Bungsu, jangan suka ambil kesimpulan sendiri…”

Aidil nyengir pada kakak iparnya lalu melanjutkan makan. Sesekali dia masih mencuri-curi melirik pada Saif.

Ayah berdehem, “Benar, If, kamu diputusin Ruthiya?” pertanyaan mendadak yang diajukan Ayah sukses membuat semua orang di meja makan menolehnya, termasuk Saif.

Aidil senyum-senyum sendiri, dia mengira kalau ayahnya gak bakal mau ambil peduli dengan masalah asmara anak-anaknya, tapi ternyata sang ayah cukup perhatian juga.

Saif tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahu pelan lalu bangun dari kursinya. Dia siap untuk meninggalkan meja makan.

“Kak, jangan gantung diri ya!” Aidil berseru.

Saif berbalik dan mengepalkan tinju kanannya buat Aidil, “Anak kecil diam saja kalau tidak mau kubogem!”

“Hus, kenapa ini pakai bogem-bogem segala?” Bunda melotot pada Saif.

Aidil mengkeret. Bagaimana tidak, Saif mengucapkan kalimatnya dengan ekspresi yang pernah ditunjukkan kepada preman-preman mabuk di sebuah gedung tua dulu. Aidil langsung bungkam, dia sadar kalau kakaknya sedang punya masalah serius. Pertanyaannya, masalah serius seperti apa? Tak mungkin menyangkut Mbak Ruthiya. Kak Saifnya bukan tipe lelaki yang gampang membuat cewek manapun mengucap kata putus. Jika pun benar Mbak Ruthiya baru saja memutuskan kakaknya itu, maka sungguh perempuan itu sudah melakukan kebodohan paling besar dalam hidupnya.

“Gak kuliah kamu?” Bunda bertanya ketika Saif siap meninggalkan ruang makan.

“Perut Saif mulas, Bunda,” jawab Saif tanpa menoleh.

“Alasan saja,” Kak Adam menimpali.

“Terus adikmu berangkat dengan siapa? Hari ini semua orang punya jam pagi, If!” Bunda masih mengejar.

“Bareng sama pacarnya saja!” Saif menghilang di balik tembok.

Aidil menggeragap ketika semua orang di meja makan menatapnya. Dia mengutuk kakaknya habis-habisan dalam hati.

“Dik Bungsu punya pacar? Sejak kapan? Siapa namanya? Kok gak dikenalin ke rumah?” Balqis bertanya bertubi-tubi.

“Heh? Aidil udah mulai pacaran? Wah, kemajuan nih.” Adam ikut menggoda.

“Pasti anaknya cantik, duh… Bunda pengen cepat-cepat dikenalin.”

“Pacaran boleh saja, tapi jangan senewen seperti kakakmu kalau pas diputusin,” Ayah berkata bijak, percaya kalau sikap aneh putranya karena baru saja patah hati.

Muka Aidil memerah. Dia kikuk sendiri. “Engg… Kak Saif membual tuh, pikirannya sedang kacau.”

“Tapi kalau beneran mau dijemput pacarnya, kita jangan berangkat kerja dulu, tungguin pacarnya Aidil dulu.”

“Kak Adam, enggak ada yang bakal jemput…”

“Pake mobil apa pake motor bebek nih jemputnya?”

“Dibilang gak ada ya gak ada, Kak! Maksa banget!”

Adam terkekeh, “Kalau ada pun gak apa-apa juga kok.”

“Woi, buruan! Mau aku tinggal?”

Aidil kaget ketika mendengar suara Saif yang berseru dari ruang depan. Dia seperti mengalami déjà vu ke masa-masa awal mengenal Saif dewasa. “Tuh, beneran kan? Kepala Kak Saif sedang gak beres. Aidil berangkat duluan…” Setelah menyalami Ayah dan Bunda, Aidil segera meraih ransel kuliahnya dan melesat menyusul Saif.

Hal pertama yang akan dilakukan Aidil ketika sudah berada di balik punggung kakaknya nanti adalah, memplintir pinggang sang kakak sekuat tenaga, sampai tak bisa kembali ke bentuk semula kalau perlu.

*

Saif masih meringis sambil menggosok pinggang kiri yang baru saja diplintir adiknya. “Suasana hatiku sedang buruk, Dil. Jangan pancing aku untuk menurunkanmu di jalan!”

“Turunkan saja! Suasana hati Aidil juga tak kalah buruk, dan ada kemungkinan pinggang kanan Kak Saif akan bernasib sama jika barusan ternyata Kak Saif cuma menggertak!” Aidil menyahut tak kalah tajam. Dia sadar resiko dari kalimatnya, namun sungguh, dia benar-benar sedang kesal pada Saif karena ucapannya di rumah tadi.

Motor berhenti mendadak. Karena tahu kalau Saif memang serius dengan ucapannya, Aidil segera turun tanpa menunggu dibentak. Dengan kasar dibukanya helm, sambil memberengut kesal disodorkannya ke depan sang kakak.

Saif menarik helm dengan kasar meski benda itu sebenarnya sudah cukup dekat dalam jangkauannya. Setelah mengaitkan kait-sabuk helm di besi boncengan, lelaki ini melesat pergi tanpa berkata sepatah kata pun pada Aidil.

“Sialan!” Aidil menggerutu kesal di bahu jalan, “Aku gak akan memaafkanmu kali ini, awas saja!” cowok ini lalu mengeluarkan hapenya.

“Orly, aku diturunkan Kak Saif di tengah jalan ke kampus…”

“He? Kenapa?” Suara Orlando terdengar panik di corong hape.

“Dia sedang gila, entahlah… tiga hari ini tampangnya kusut terus. Kamu masih di rumah?”

“Baru markir motor nih.”

Aidil merasa tak enak. Orlando harus balik lebih dari setengah jarak lagi hanya untuk menjemputnya. “Emmm… aku nunggu angkot aja deh.” Aidil mendengar raungan suara motor Orlando lewat corong hape, pacarnya itu baru saja menstarter motor kembali.

My Prince, meski ke ujung dunia aku akan pergi mengambilmu.” Orlando mengerti apa yang dimaksudkan Aidil dengan menunggu angkot saja. “Tunggu di situ. Dan… jika Saif balik lagi sebelum aku datang, jangan naik ke boncengannya. Mengerti?”

Aidil tersenyum, “Iya. Tapi sepertinya dia gak akan balik.”

“Aku kenal dia, pokoknya kalau manusia sedeng itu balik lagi dan melas-melas minta kamu naik ke motornya, JANGAN MAU!”

Aidil memutar bola mata, “Aku yakin dia gak akan balik lagi.”

Great. I love you…”

Sambungan terputus.

*

Ternyata Aidil salah. Perkataan Orlando tentang Saif yang balik lagi ternyata benar-benar terjadi. Aidil sampai membelalak lebar setelah mengucek-ucek matanya ketika motor Saif terlihat di kejauhan tak sampai lima menit setelah dia berbincang dengan Orlando.

“Naik!”

Aidil bergeming.

“Ayo naik!”

Aidil masih bergeming, bahkan tak mau repot-repot menatap kakaknya.

Saif mendorong kaca helmnya ke atas, “Dil, aku ikhlas jika kamu mau memplintir pinggang kananku. Ayo naik!”

Bukannya bergerak untuk naik ke boncengan Saif, Aidil malah mundur lebih ke sisi kiri jalan sambil bersidekap lengan di dada.

Saif mematikan mesin, dia mendesah pelan. “Baiklah, aku mengaku salah telah mengeluarkan ucapan sembarangan tadi pagi. Tapi masa dengan kalimat bercanda begitu kamu harus kesal?”

Bercanda? Enak bener. Aku sampai ditanyai macam-macam dan diusik hingga gak nyaman. Sialan.

Aidil geregetan untuk menjawab, tapi sepertinya mendiamkan adalah hukuman paling azab buat Saif.

Saif membuka kaitan helm di besi belakang sadel motornya, “Aku minta maaf. Ayo berangkat, nanti telat.”

Aidil mengabaikan helm yang terulur untuknya.

DIIINNN DIIINNN DIIIIIINNN

Sebuah motor berhenti lima meter dari tempat Saif sedang membujuk Aidil. Orlando tegak di atas motornya. Kini Saif yang membelalak ketika sahabatnya itu mengulurkan helm pada Aidil. Sepertinya Orlando menjarah helm orang di parkiran tadi sebelum melesat dengan motornya untuk menjemput sang pacar.

“Siap-siap aja dijewer Bunda, Aku bakal ngadu kalau Kak Saif nurunin di jalan gara-gara sedang kesal dengan masalah sendiri.” Aidil sempatnya mengancam saat hendak menuju motor Orlando.

Saif terdiam, tak bisa merespon ucapan adiknya.

“Sekali lagi lu berani nurunin pacarku di tengah jalan, kupatahkan hidungmu, Sef!” Orlando mengepalkan tangannya pada Saif ketika Aidil sudah memeluk pinggangnya. Orlando menunjukkan jari tengahnya buat Saif sebelum memutar balik motor lalu pergi.

“Setan lu, Do!” Saif berseru gusar.

***

NURUTHIYA NAZIRAH sudah menunggu di lobi gedung fakultas Saif sejak lima belas menit lalu. Dia tidak lagi aktif kuliah, segala urusan menyangkut kepindahannya sudah dibereskan seminggu lalu. Hari ini, Ruthiya datang khusus untuk menjumpai Saif. Begitu sosok Saif dilihatnya sedang menuruni tangga bersama beberapa mahasiswa, Gadis ini berdiri dari duduknya. Dia tak perlu memanggil, Saif sudah lebih dulu melihatnya.

Ruthiya melengkungkan bibir, tersenyum manis buat Saif. Dia merindukan lelaki itu teramat sangat.

Saif memperlambat jalannya hingga berhenti tepat dua langkah di depan Ruthiya. Para mahasiswa lalu-lalang melewati mereka tanpa sebarang reaksi ingin tahu.

Cantik dan memesona, begitulah mata Saif menilai tampilan fisik Ruthiya dari sejak pertama hatinya tertambat pada si gadis. Namun kini setelah tidak berinteraksi lebih tiga hari ___sekarang adalah hari keempat___ cantik dan memesonanya Ruthiya bertambah berkali-kali lipat, padahal tak ada riasan dalam kadar wah padanya. Bahkan Ruthiya sama sekali bersih dari jamahan cat make up. Saif ingin menyusurkan jarinya ke rambut Ruthiya yang hari ini diekor kuda, pita rambutnya senada dengan warna kemeja. Hari ini Ruthiya memakai Rok kembang motif bunga-bunga. Saif bertanya-tanya, apa hari ini Ruthiya akan pamit? Bagaimana dengan sisa satu hari esok?

Tanpa bersuara, Ruthiya menautkan jemarinya ke jemari Saif lalu mulai melangkah. Saif juga mengikuti dalam diam. Kakinya berjalan menurut kemana Ruthiya membawa langkah sementara pandangannya tak lepas dari menatap sisi wajah gadis itu.

Apa jadinya aku tanpa gadis ini?

*

Apa yang terjadi pada siang jika matahari tiada lagi?

Gerhana

Apa yang terjadi pada malam jika rembulan tak pernah muncul?

Gerhana

Aku tanpamu adalah siang tak bermentari

Aku tanpamu adalah malam tak ber-rembulan

Jika tautan jemari kita terlepas,

Maka kita adalah gerhana…

Mereka duduk bersisian di kursi beton di bawah pohon mahoni yang tumbuh rindang di taman kampus. Tempat ini punya kenangan yang tak mungkin mereka lupakan. Menit-menit awal berlalu dalam kediaman. Ruthiya duduk tegak dengan kedua tangan menyatu di pangkuan dan pandangan lurus ke depan, sementara Saif duduk bersandar dengan lengan terlipat di dada juga pandangannya lurus ke depan.

“Aku pasti bakal kangen lingkungan fakultas kita…” Ruthiya berkata lirih, masih dengan pandangan lurus. “Aku pasti bakal ingat terus tempat ini…”

“Tenang saja, seminggu di sana kalimatmu akan berubah.”

Ruthiya menoleh lelaki di sampingnya, Saif masih belum merubah sikap duduknya. “Aku tidak mau kita berakhir seperti ini, Kak… bersikap dingin satu sama lain…”

Saif diam. Berakhir seperti ini… sah, Ruthiya ingin kisah cinta mereka berakhir.

“Kak Sa Sa ingat?  Di sini pertama kali aku dicium dulu…”

Saif mendesah, menurunkan tangannya ke pangkuan. “Aku belum amnesia, Ruth!”

Ruthiya menyadari kesan sinis dalam kalimat Saif. Tak mau menggubris sikap dingin Saif, dia malah menyentuh tangan lelaki itu, menggenggam jari-jarinya. Saif membiarkan ketika Ruthiya memiringkan kepala ke bahunya.

“Andai aku punya pilihan, Kak…” Ruthiya berbisik sembari memeluk lengan Saif.

“Kamu punya, Ruth… pilihlah untuk tinggal.”

Ruthiya diam, dia tak mau mendebat lagi. Toh yang dikatakan Saif adalah satu hal yang sudah mustahil, Saif sendiri pasti cukup sadar akan itu. Saif menunduk, merapatkan dagunya ke puncak kepala Ruthiya, tangannya yang bebas membelai beberapa helai rambut Ruthiya yang lolos dari belitan pita.

“Jangan anggap aku orang asing jika nanti sudah tak di sini lagi ya, Kak.”

“Tolong diamlah, Ruth… jangan bicarakan kepergianmu.”

Ruthiya menurut, dia diam, mendekatkan diri lebih rapat pada lelaki di sampingnya dan kian mempererat rangkulannya pada lengan si lelaki. Saif menunggu-nunggu kapan Ruthiya akan mengucapkan kalimat perpisahan, perpisahan untuk meninggalkannya dan perpisahan untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun hingga satu jam kemudian, tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir gadis itu. Saif mendesah, haruskan dia bertanya? Duduknya mulai terasa pegal.

“Ruth…”

“Iya.”

“Apa yang akan terjadi pada kita?”

Ruthiya melepaskan lengan Saif dan kembali duduk tegak. “Aku bingung…”

“Apakah bingungmu lebih berpihak kepadaku?”

Ruthiya mengernyit, tak mengerti apa yang ditanyakan Saif.

“Emm… apa bingung yang kamu maksudkan adalah bingung harus memutuskan hubungan kita dengan cara yang bagaimana? Jika itu maksudnya, mudah saja Ruth… kamu tak perlu berucap kalimat perpisahan apapun, hanya… pergi saja!”

Ruthiya merasa lidahnya kelu.

“Kamu benar tentang tak ada beda mengabarkan kepergianmu padaku beberapa hari lalu atau beberapa bulan lalu, pada akhirnya ketika sudah tiba hari kamu tetap akan pergi, kan?”

Hening menggantung di antara mereka beberapa saat lamanya. Ruthiya menunduk sambil memijit-mijit jarinya satu sama lain sedang Saif cuma menatap kosong ke depan tanpa sebarang reaksi. Tak ada yang berniat untuk mengawali pembicaraan tentang mau dibawa kemana hubungan mereka ketika sudah tidak berdekatan lagi. Ruthiya tidak senang membayangkan Saif akan didekati cewek-cewek lain sepeninggalnya nanti, sedang Saif benci membayangkan Ruthiya akan dilirik lelaki-lelaki lain di tempat barunya. Ruthiya bimbang antara ingin mengakhiri hubungannya atau mempertahankan dengan menahan gelisah setiap hari dengan pikiran bahwa Saif akan lebih mudah dipikat oleh siapapun ketika ia sudah tidak menemani hari-hari lelaki itu, sementara Saif ragu meminta Ruthiya untuk mempertahankan hubungan mereka, ragu meminta Ruthiya untuk tetap setia di saat ia sendiri meragukan kesetiaannya sendiri jika nanti mereka sudah tidak sama-sama. LDR masih berupa proposal bagi Saif, sepertinya juga bagi Ruthiya.

“Sudah sore, Ruth… aku harus pulang…” Saif beranjak bangkit.

“Aku berangkat besok sore, Kak!” Ruthiya berseru, dia tak mengira Saif akan pulang tanpa memberi titik terang terhadap hubungan mereka.

Saif berdiri kaku, mendesah lalu mengangguk satu kali, “Tak ada apapun yang bisa mencegah kepergianmu, kan?”

Sesaat tadi, Ruthiya berharap Saif akan kembali duduk di sampingnya, memeluknya sambil berucap bahwa hubungan mereka tak akan berakhir dengan kepergiannya. Namun tidak. Ketika Saif mengambil langkah pertama untuk meninggalkan kursi mereka, detik itu pula Ruthiya yakin bahwa dia dan Saif sudah selesai meski tak ada kata berpisah, tak ada kata putus. Berakhir begitu saja.

***

Aidil sadar kalau pintunya sudah diketuk orang sejak belasan menit lalu. Ketukan itu tidak keras, perlahan saja. Aidil juga bisa menerka dengan pasti siapa orang yang berada di balik pintu. Namun dia terlalu malas menunda pekerjaan yang sedang dilakukannya di komputer untuk kemudian beranjak ke pintu. Malas karena tahu apa yang akan dilakukan si pengetuk itu. Lebih dari itu, Aidil ingin membuat si pengetuk pintu di luar sana hilang sabar dan memilih meninggalkan pintunya. Intinya, Aidil ingin menghukum dengan tidak mau beramah-tamah selama beberapa hari ke depan.

Namun nyatanya, kesabaran orang yang mengetuk pintunya itu tak mudah hilang. Hingga melewati dua puluh menit, ketukan perlahan itu masih terdengar. Aidil ingat, satu kali dahulu, kejadian serupa ini pernah dialaminya juga. Dia bertanya-tanya, apa kali ini kain putih yang terikat di penggaris tiga puluh centi juga akan ditemukannya di tangan si pengetuk ketika pintu itu dibukanya?

Sepertinya Aidil harus melupakan niatnya untuk menghukum lebih lama. Dia tak tahan karena ketukan itu mulai mempengaruhinya sedemikian rupa sehingga jari-jarinya tidak bisa bergerak lebih lugas lagi di keyboard. Tugasnya sudah tertunda dengan sendirinya meski ia tidak meninggalkan meja komputernya.

Aidil berdecak kesal. Jika dia bawa-bawa kain putih lagi, aku patahkan penggarisnya!, ucapnya dalam hati. Dengan kasar dia memundurkan kursi dan beranjak ke pintu dengan langkah lebar.

“APA!?”

Aidil sukses membuat wajah Saif bergerak mundur beberapa centi ke belakang ketika pintu terkuak dan wajah bengis menyembul dari baliknya.

Saif meneguk liur, sedikit banyak dia terintimidasi juga dengan sikap Aidil. “Engg… ini, Kak Saif mau minta maaf…”

Perasaan Aidil bercampur antara kesal dan geli. Seperti yang dibayangkannya, Saif muncul dengan kain putih terikat di ujung penggaris tiga puluh centi. Apa aku harus mematahkan penggarisnya ya biar nih orang nyadar kalau aku benar-benar marah kali ini?

Sekali gerak, tangan Aidil sukses menyambar penggaris berbahan mika di tangan Saif. Lalu…

KRAKKK KRAKKK KRAAAKKK…!!!

Penggaris itu berpatahan. Kain putih di ujungnya terlepas dan jatuh ke lantai lebih dulu disusul tiangnya kemudian. Saif melongo, wajahnya pucat. Pandangannya tertunduk menatap bendera perdamaiannya yang berkeping-keping di antara kakinya dan Aidil.

“Pergi sana!!!” Aidil menghardik sambil menuding telunjuk menghalau Saif kembali ke kamarnya sendiri.

Untuk kedua kalinya, Saif meneguk liur dengan perasaan mengkeret. Kali ini adiknya benar-benar mengamuk. Dia membayangkan sebentar lagi daun pintu itu akan berdebam di depan hidungnya. Tapi Aidil masih berdiri di depannya, tidak bergerak untuk menutup pintu kamar. Ternyata itu tak lama, sejurus kemudian Aidil mundur dan siap untuk membanting daun pintu. Dapat membaca apa yang akan dilakukan adiknya, Saif bertindak cepat. Sekali bergerak dia sudah memposisikan dirinya tepat di bingkai pintu, mencegah Aidil untuk menutup pintunya.

“Minggir kalau gak mau kujepit!” Aidil melotot.

“Jepit aja kalau berani.” Saif balas menantang.

“Minggir gak!?”

“Enggak mau!”

“Minggir!”

“Enggak!”

“IF, JANGAN RIBUT! Sudah larut!”

Saif memutar bola matanya. Selalu, yang bakal diteriakkan Bunda jika dia dan Aidil terlibat cekcok adalah namanya. Saif, jangan bertingkah! Saif, jangan kurang ajar! Saif, jangan suka ngusilin adikmu! Saif, jangan jahatin adikmu! Saif jangan ini Saif jangan itu! Selalu begitu. Seperti sekarang. Dialah yang ditegur Bunda. Dan seperti biasa juga, mereka akan sama-sama langsung mingkem jika Bunda sudah bersabda.

Mereka berpandangan. Aidil masih sigap memegang daun pintu dengan kedua tangan, posisinya menghalangi Saif untuk masuk kamar sekaligus juga tampak siap untuk melibas kakaknya itu kapanpun. Sedang Saif juga belum bergeser seinchi pun dari tempatnya berdiri, sepertinya dia cukup yakin kalau Aidil tak akan berani merapatkan pintu. Adu tatap kakak-adik ini berlangsung nyaris semenit.

Tangan Aidil mengambil ancang-ancang siap menghempaskan daun pintu.

Saif mendelik. “AAAAAAAA…!!!”

PAMMM

“SAIF, MAU BUNDA JEWER HINGGA LEPAS KUPINGMU!!!”

Yakin sekali, suara gaduh membuat konsentrasi Bunda yang sedang mengikuti sinetronnya terganggu pada tingkat maha-maha sehingga harus menaikkan volume teriakannya sedemikian rupa.

Di depan pintu Aidil, Saif megap-megap sambil mengelus dada. Wajahnya pucat, sedetik tadi nyawanya benar-benar serasa lepas. Jika terlambat bergerak sekejapan saja, pasti dia sudah sukses dijepit Aidil di pintu. Ternyata adiknya tidak main-main dengan perkataannya kali ini.

Harapan untuk bisa berdamai dengan Aidil dan lalu berkeluh-kesah tentang hubungannya dengan Ruthiya pada sang adik kandas sudah. Aidil sungguh-sungguh marah. Orang yang dianggap bisa memberi pandangan tentang hubungannya dan Ruthiya sudah menutup kesempatan. Aidil tidak mau tahu.

Saif tidak berani lagi mengetuk pintu kamar Aidil, menyentuhnya saja pun tidak. Seakan jari tangannya akan langsung terkutung-kutung bila bersentuhan dengan pintu  Aidil. Dengan tampang kuyu, lelaki ini berjalan lunglai kembali ke kamarnya sendiri.

***

Pilar ke pilar. Dari pilar satu ke pilar lain. Berhenti sebentar di pilar yang satu lalu bergerak lagi ke pilar yang satunya. Saif sudah bertindak bagai setrikaan di beranda rumah sejak setengah jam lalu. Hapenya tergenggam di tangan, nyaris licin lembab oleh tangannya yang berkeringat. Dia harus memilih sebelum menghubungi Ruthiya untuk mengabarkan pilihannya tersebut. Masalahnya adalah, hingga sekarang lelaki ini masih belum memilih apapun. Ketakutan masih merajai hati dan fikirnya. Hubungan jarak jauh rentan dan berisiko untuk berkhianat, berselingkuh. Mungkin Ruthiya tidak akan mengkhianatinya, tapi siapa bisa menjamin ia sendiri tidak akan berpaling? Mengakhiri justru akan membuat dirinya sakit. Tidak mudah melewati hari bagi Saif jika sudah tidak berstatus pacar Ruthiya lagi. Saif mumet.

“Gila lu kumat ya, Sef?”

Saif spontan berhenti dari mondar-mandirnya. Dia menoleh pada orang yang baru menegur. Orlando tegak berdiri di undakan teras, terlihat segar dengan denim hitam dan kaos putih polos berkerah V yang memamerkan pangkal leher dan garis tengah dadanya. Pasti mau jalan sama Aidil. Huh, enak bener mereka, sudah hubungan harmonis aja, berdekatan lagi tinggalnya. Bikin iri saja! Saif mendumel sendiri dalam hati.

“Budeg ya, Sef???” Orlando mencondongkan kepalanya lebih ke arah Saif.

“Lu tuh yang pekak! Ngapain siang-siang bolong ke rumah orang? Nyari makan siang geratis? Jangan harap!” Saif menyembur.

Orlando terkekeh, “Segitunya lu, Sef. Ini sudah lewat jam makan siang, aku udah makan satu jam yang lalu. Ini Aidil minta dikawani ke toko buku, kan tiap bulan dia memang rutin beli buku.”

Saif terdiam. Ruthiya juga suka membaca, khususnya novel romantis. Mulai sekarang, dia tak akan menemani gadis itu menyusuri rak-rak buku untuk mencari novel cinta yang ingin dibacanya. Saif terpekur di tempatnya berdiri, perlahan dia terduduk.

“Dia akan meninggalkanku…” Saif berucap lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Orlando mengernyit tak mengerti. Dia bergerak naik satu undak. “Siapa yang akan ninggalin lu, Sef?”

Saif mendongak menatap sahabatnya, Orlando langsung kaget begitu menemukan mata calon kakak iparnya itu berkaca-kaca.

“Ya Tuhan, Sef… jangan bilang kalau Ruthiya mutusin lu!” Orlando kembali bergerak naik dan ikut duduk di lantai teras bersama Saif.

Saif mengangguk lemah, “Pesawatnya lepas landas sore nanti.”

Orlando melongo.

“Dia akan menetap di Malaysia. Aku tak punya pilihan lain, ah… dia tak bisa memilih untuk tinggal, dia tidak bisa memilihku…”

“Kalau demikian, Mbak Tiya bodoh berarti!”

Kedua lelaki itu sama menoleh ke pintu. Aidil melangkah pelan menuju mereka. Pacar Orlando itu juga sudah rapi dan tak kalah segar dari sang pacar sendiri.

Aidil duduk mengapit Saif yang berada di tengah-tengah. “Apa Mbak Tiya yang mengucap kata putus?”

Saif menatap adiknya, “Aku kira kamu masih ingin menjepitku di pintu…”

Aidil memutar bola mata, “Itu tetap akan terlaksana kok, tapi tidak sekarang. Sekarang aku mau jadi adik yang peduli dulu…”

Saif tersenyum, “Aku tahu kamu selalu peduli, Dil…”

“Iya, pangeranku peduli dan lu yang kurang ajar berani ninggalin dia di tengah jalan!” Tiba-tiba Orlando nyolot.

Saif menoleh pada Orlando, “Aku akan berhasil menebus kesalahanku itu jika saja lu gak sok aktif datang dan main pergi saja!”

“Halooo…! Aku masih belum mendapatkan jawaban…” Aidil mengembalikan topik.

Saif mendesah, “Gak ada yang mengucapkan kata putus, Dil.”

Aidil dan Orlando sama melongo.

“Namun meski tak terucap, toh kami memang tak akan bisa sama-sama lagi.”

Aidil memukul bahu kakaknya, “Ini yang bodoh Kak Saif apa Mbak Tiya sih?”

“Ruthiya bodoh, tapi kakakmu lebih bodoh lagi, Dil,” cetus Orlando.

Tidak mempedulikan ucapan Orlando, Saif fokus memperhatikan Aidil. “Maksudnya?”

“Ya Tuhan, maksudnya ya jelas kalau kalian masih sangat saling mencintai sehingga tidak ada yang cukup berani untuk menyakiti satu sama lain dengan mengucap kata putus. Aku yakin Mbak Tiya begitu, entah dengan Kak Saif…” Aidil berdehem, “Aku tanya, apa Kak Saif benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengan Mbak Tiya?”

“Gak ada bedanya, Dil… kami gak bisa sama-sama. Aku di sini dan dia jauh di sana…”

“Cinta tidak memandang jarak, Sef!” Orlando menukas lagi.

“Lu sih enak ngomongnya, Aidil tepat lima langkah di samping toilet lu!”

“Ssssttt…” Aidil menahan diri untuk membekap mulut kakaknya.

“Kok bawa-bawa toiletku?”

“Ogah aku bawa-bawa toilet lu, Do!”

“Jangan ngawur dulu.” Aidil menetralkan suasana. “Apa alasan Kak Saif tak ingin mengucap putus dan malah menggantung hubungan dengan Mbak Tiya sedemikian rupa?”

Saif menatap adiknya, “Aku ragu untuk LDR, Dil…”

“Kan aku sudah bilang, cinta tidak memandang jarak.” Orlando masih ngotot.

Aidil menghembuskan napas panjang lalu geleng-geleng kepala, “Kak, Aidil bilangin ya… tak ada yang buruk dari LDR jika Kak Saif dan Mbak Tiya pada kenyataannya masih begitu saling mencintai.”

“Yang buruk justru kakakmu, Dil… dia tidak kuat nahan napsu jika gak meluk-meluk Ruthiya seminggu sekali.”

Ucapan Orlando sukses membuatnya menerima tumbukan Saif di bahu, “Bicara ngawur lagi, bogemku nyari sasaran lain di muka lu!”

Orlando bangkit dan pindah duduk, kini Aidil berada di tengah-tengah. “Mau hajar aku? Lu harus berhadapan dulu dengan pacarku ini…” Orlando berkata pelan sambil memegang bahu Aidil.

Mendengar kalimat Orlando, Aidil kontan mendelik. “Jadi kamu mau bilang bahwa jika ada bahaya mengancam kita, aku duluan yang harus menyongsongnya? Menjadikan diriku tamengmu?” Aidil memberengut, “Tega benar…”

“Eh???” Orlando sadar kalau telah salah berucap, “Engg… maksudku enggak gitu, Dil…” lelaki ini kembali berpindah duduk ke tempat semula, “Nih, aku gak jadi make kamu sebagai tameng.”

“Percuma, aku sudah tau kalau kamu rela mengorbankan aku demi keselamatanmu sendiri!”

“Hei, Ruthiya akan berangkat sebentar lagi! Apa yang harus kulakukan?”

Aidil dan Orlando sama-sama fokus memperhatikan Saif kembali. “Pergi temui Mbak Tiya dan bilang Kak Saif akan setia selama dia setia…”

Saif menatap Aidil.

“Katakan kalau jarak tidak akan mumudarkan cinta yang lu miliki buatnya,” sambung Orlando.

Saif menoleh pada Orlando

“Dan bahwa Kak Saif akan menunggu hingga Mbak Tiya bisa menentukan pilihannya dan kembali ke sini atau Kak Saif yang mantap ke sana.”

Saif kembali menoleh Aidil

“Juga beritahu dia kalau cinta selalu punya jalan untuk bertaut dan bertahan…”

Menoleh Orlando.

“Tentu, beritahu juga kalau Kak Saif dan Mbak Tiya jodoh, jangankan Malaysia, Ethiopia saja Kak Saif bakal sambangi.”

Menoleh Aidil.

Of course, jangan lupa kunyah bibirnya sebelum dia masuk passenger room.”

Sekarang Saif menoleh Orlando lagi.

“Kalau perlu, Kak Saif juga harus ngelus bokongnya!”

Sekarang Saif menoleh Aidil lagi.

“Dan jangan ragu untuk bilang ‘Ruth, tak ada yang bisa menggantikan arti bokongmu untukku’, begitu.”

Saif menyesalkan kenapa Orlando berpindah duduk lagi, seharusnya dia tetap berada di samping Aidil agar lehernya tidak asik berputar-putar dari tadi.

Exactly…” Aidil menoleh Orlando, “Kenapa aku jadi ikut-ikutan mesum kayak kamu?”

“Kalian berdua memang sudah begitu sejak lama.”

Aidil nyengir, “Sudah, sana pergi temui Mbak Tiya. Katakan bahwa LDR bukanlah pilihan yang buruk. Apalagi di zaman canggih serba net seperti sekarang, skype, line chatting yang seabrek. Percaya deh, Kak Saif gak akan merasa kalau Mbak Ruthiya jauh.”

Saif meremas pipi adiknya, “Trims, lilbro, gak rugi kamu aku kasih makan, kamu membuka pikiranku.”

“Sef, ingat ya, ini terakhir kalinya lu nyentuh pipi pacarku! Awas kalau terulang lagi,” Orlando menunjukkan buku limanya.

Sorry, Do! Gak ada yang bisa melarangku untuk nyentuh adikku sendiri, apalagi lu yang cuma tetangganya.”

“AKU PAC…”

“Kak Lando!”

Seruan Aidil memangkas teriakan Orlando. Lelaki ini diam kaku di tempatnya.

Saif terkekeh, “Rasain lu!”

“Udah, Kak Saif pergi sana!”

Takut kalau bakal disembur Aidil lagi, Saif segera menuruni undakan teras, menuju garasi untuk kemudian mengeluarkan motornya. Dia harus secepatnya bertemu Ruthiya, hal yang hendak dikatakannya pada gadis itu tidak boleh lewat perantara. Saif ingin mengatakan langsung. Terlebih lagi, bukankah dia harus memberi kecupan bibir dan elusan bokong perpisahan buat Ruthiya?

*

Sekarang Saif merasakan dirinya seperti berada di dalam sebuah film bertemakan cinta arahan sutradara sekelas Rudi Sudjarwo. Saif merasa sedang melakonkan perannya di penghujung durasi. Betapa tidak, setelah tadi ke rumah Ruthiya hanya untuk mendapat kabar dari tetangga gadis itu bahwa semua penghuni rumah baru saja dijemput taksi sepuluh menit sebelumnya, kini Saif memacu motor sekencang yang dia bisa untuk segera sampai ke bandara.

Saif menyalip banyak sepeda onthel yang dikendarai engkong-engkong tak bergigi depan maupun belakang, menyalip sepeda motor berkali-kali, menyalip motor bebek juga berkali-kali, mobil-mobil mewah juga dipeperi asap knalpot motornya yang keluar menggebu-gebu, supir-supir truk dibikin jantungan dengan raungan klakson motornya yang menjerit-jerit sedetik sebelum dia menyalip. Saif sedang kesetanan. Yeah, pada beberapa kasus, cinta memang bisa mengubah manusia menjadi setan.

TERMINAL KEBERANGKATAN LUAR NEGERI

Begitu yang terbaca. Ya Tuhan, Saif tidak menyangka kalau dia benar-benar sedang menjadi Cinta yang menguber Rangga hingga ke bandara dalam AADC. Tentu saja dalam kasusnya si Cinta yang berkelamin cowok dan Rangga yang pakai beha.

Saif keringatan. Dia berjalan ke sana kemari di antara orang-orang yang tumpah-ruah di lobi Terminal Keberangkatan, menjenguk setiap sudut dan meneliti setiap cewek yang menyeret koper yang perawakannya seperti Ruthiya. Hingga lebih dua puluh menit kemudian, dia belum juga menemukan gadisnya. Keringat membasahi dahi, membasahi kaosnya di bagian dada, juga melembabkan ketiaknya. Saif nyaris frustrasi.

Apa dia sudah masuk gerbang check-in?

Saif bergerak mendekati gerbang checkin, dia yakin kalau Ruthiya sudah berada di ruang tunggu khusus penumpang. Bagaimana caraku masuk ke sana? Tak peduli, Saif berjalan cepat melintasi beberapa penyeret koper untuk masuk ke dalam. Namun sayang, langkahnya dicegat petugas bandara yang memeriksa tiket penumpang di depan gerbang checkin.

Jika ini film, setelah merengek-rengek dan mengatakan kalau dia hendak mengejar cintanya, atau setelah teman-temannya ikut-ikutan membujuk seperti dalam film AADC, si petugas bandara pasti akan membiarkannya masuk. Namun sayang Saif tidak punya teman untuk membantunya meyakinkan si petugas. Seandainya punya pun, tetap tak akan merubah keadaan karena ini bukan film AADC. Jika pun ini sebuah film, maka judulnya tentu bukan AADC, melainkan AASDS2, Ada Ada Saja Dengan Si Saif.

“Saya benar-benar mohon maaf, Mas. Selain penumpang dilarang masuk.”

Saif putus asa dengan jawaban si petugas yang terus sama sejak tadi. Dengan bahu turun, dia bergerak mundur. Berdiri kaku dengan tatapan nanar sejauh lima meter dari tempat si petugas.

Sial, bagaimana aku bisa lupa benda ini?

 

Saif merogoh saku, mengeluarkan hapenya. Semoga Ruthiya tidak bego menonaktifkan hapenya bahkan sebelum masuk pesawat. Tapi bagaimana jika seandainya sekarang dia justru sedang memasang seat beltnya? Maka panggilan Saif tak akan tersambung.

Saif menelusuri phone booknya, mencari-cari nama Ruthiya. Segera menekan tombol panggil begitu menemukan namanya.

TUT… TUT… TUT…

Panggilannya tersambung. Artinya, Ruthiya belum berada dalam pesawat. Saif merasa sedikit lega.

“Kak Sa Sa…”

“Halo, Ruth… Ya Tuhan, kukira aku sudah jauh terlambat walau hanya untuk mendengar suaramu.” Saif berujar buru-buru di corong hape.

“Kak…”

Saif merasa bahunya disentuh orang. Pasti si petugas kurang ajar itu. Huh, mengganggu saja. Tidak bisakah aku punya kesempatan mengobrol dengan pacarku meski hanya lewat hape?

Saif menoleh. Dan dia merasa bego seketika. Ruthiya tegak berdiri di hadapannya dengan hape tergenggam di tangan, nada panggil masih terdengar. Ternyata suara Ruthiya yang tadi memanggilnya bukanlah dari corong hape, tetapi tepat di belakangnya. Agaknya Saif berhasil menyalip taksi yang membawa Ruthiya ke bandara sehingga bisa tiba lebih dulu sebelum si gadis.

Selain merasa bego, Saif juga merasa senang bukan main. Tak peduli Papa dan Mama Ruthiya yang berdiri memperhatikan, segera saja dia menyambar pinggang gadis itu dan membawanya masuk ke pelukan.

“Ruth, aku gak mau kehilanganmu…” Saif berucap di sisi wajah Ruthiya. Gadis itu mengangguk pelan di bahu Saif lalu melerai pelukan mereka.

“Ruth, Mama sama Papa tunggu di dalam ya, setengah jam lagi berangkat, jangan terlambat.” Dengan anggukan ramah yang ditujukan buat Saif, orang tua Ruthiya melangkah menuju gerbang checkin sambil menyeret koper besar di tangan masing-masing.

Setelah papa mamanya meninggalkan mereka, Ruthiya tersenyum pada Saif. “Aku kira kamu sudah benar-benar menarik garis, Kak. Aku kira kita sudah benar-benar selesai sejak di taman kampus kemarin sore…”

Saif menggeleng cepat. “Kita belum selesai, Ruth… cerita kita belum tamat. Aku tak akan membiarkan jarak memudarkan cinta yang kumiliki buatmu, aku tak akan kalah bertarung dengan jarak. Percayalah, aku akan menunggumu memilihku dan kembali ke sini atau aku yang ke sana. Cinta kita bisa bertahan meski harus berjarak, Ruth… yakinlah. Kita akan menemukan jalan untuk kembali bertaut. Pegang kata-kataku. Di sini aku akan tetap setia selama di sana kamu juga setia, Ruth…” Sepertinya saran dari adik dan sahabatnya amat sangat membantu Saif kini.

Ruthiya mengangguk lalu tersenyum cerah. “Jadi, Malaysia tak akan memutuskan cinta kita, kan?”

Kembali Saif menggeleng, “Jika berjodoh, jangankan Malaysia, Ruth… Ethiopia pun akan kusambangi…” Semua saran kalimat sudah diutarakan, sekarang, Saif mengancang-ancang untuk mencium Ruthiya dan bila beruntung mungkin dapat mengelus bokongnya juga.

Ruthiya tertawa renyah. “Jadi, kita masih berstatus pacaran, kan?”

“Aku tidak mau jadi lelaki bodoh yang rela melepaskan gadis sehebat kamu hanya karena jarak. Jadi, ya… kamu masih pacarku, Ruth…” Saif tak mau menahan lebih lama lagi. Dengan mantap dipeluknya gadis itu. Ruthiya sedikit berjinjit ketika menempelkan bibirnya ke bibir Saif. Mereka berciuman untuk waktu agak lama lalu sama-sama tertawa.

“Aku pasti akan kangen kamu, Kak.”

“Harus!”

Ruthiya terkikik. “Janji, jangan melirik gadis-gadis seksi di kampus ya!”

Saif mengangguk, “Kamu juga, awas kalau sampai terpikat jejaka melayu di sana, aku gak akan segan-segan memeletmu sekaligus menyantet si jejaka iseng itu.”

Kembali Ruthiya terkikik. “Aku akan sering menelepon…”

“Yeah, akhirnya kita memang harus bercinta di udara…”

“Kamu menyesal?”

“Aku bahagia, kita masih bisa tetap terhubung meski lewat talian.” Saif melirik jam tangannya, “Sudah sana masuk, nanti ketinggalan pesawat.”

Ruthiya mengangguk. Dia memeluk Saif sekali lagi, kembali berjinjit untuk mengecup pipi lelaki itu. Ketika langkahnya mengayun untuk meninggalkan Saif, saat itulah dia merasa dadanya kosong. Mendadak matanya berkabut. Sebelum melewati gerbang checkin, gadis ini menoleh dan melambai pada kekasihnya yang masih berdiri memandang.

Saif mengangkat tangan dan balas melambai.

Begitulah. Mereka berpisah di bandara. Ah, bandara… ia memang tempat dimana banyak perpisahan dan pertemuan terjadi. Ia telah menjadi saksi bisu tak terhitung mata yang basah sembab.

Saif menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ruthiya sudah menghilang di dalam sana. Lelaki ini berbalik dan berjalan pulang. Esok, babak baru dalam perjalanan cintanya akan menjelang, babak baru itu bernama Long Distance Relationship

Juli Hebat 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com