TERLAMBAT

By : Riy Muhibban

Cinta bukanlah sebuah persaingan menuju titik finish, walau ia tetap harus dikejar.

Cinta adalah bagaimana mengikhlaskan hati akan sebuah rencana yang dituliskan Tuhan karena takdir pun ikut andil dalam menulis perasaan.

Yuza, pemuda bertubuh ramping itu berjalan yakin di sepanjang jalan menuju rumah sahabat dekatnya, Marshall. Ditangannya tergenggam sebuah buku pisika, buku yang akan dijadikannya alasan awal mengapa ia sengaja menemui sahabatnya itu. Ya, ia memiliki sebuah janji kepada Vika —adik tersayangnya- untuk mengungkapkan perasaan hatinya kepada cowok blasteran indo-jepang itu. Wajahnya berseri, entah mengapa ia merasa begitu yakin bahwa Marshall akan menerima keinginhadiran adiknya —dihati Marshall- sebagai kekasih. Sepanjang pengamatan Yuza, Marshall terlihat begitu baik kepada Vika, ia selalu memberikan perhatian-perhatian kecil yang membuat Vika perlahan jatuh cinta padanya.

Malam bertabur bintang, angin menyapa dedaunan runcing dipekarangan rumah bercat coklat muda dan membuat ujungnya menari, meliuk menebarkan aroma segar sejuk. Rumah itulah yang Yuza tuju. Rumah kecil yang tanpa benteng mau pun pagar. Hanya pelur semen yang menjadi pembatas serta jalanan umum kecil di depannya. Sejenak Yuza berhenti, berdiri mematung menatap pintu depan yang tertutup rapat. Sinar redup di dalam rumah itu menyamarkan setiap gerak kehidupan penghuninya. Tiba-tiba keraguan menyerang, menyeruakkan keyakinan hatinya hingga memudar sebagian. Bagaimana jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuktikan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya? Bagaimana jika Marshall menolak atau bahkan men-cap-nya tak tahu diri. Dia dan adiknya, bukan siapa-siapa dibanding Marshall, pemuda tampan yang terlahir dari keluarga sangat kaya. Hanya entah karena alasan apa. Marshall lebih memilih tinggal sendiri di sebuah rumah sederhana tak jauh dari rumah Yuza, bersekolah di sekolah sederhana, dan menjalani kehidupan dengan sederhana pula. Hingga saat ini, sepertinya hanya Yuza satu-satunya orang yang tahu tentang keadaan kehidupan Marshall sebenarnya, atau mungkin juga kepala sekolah dan sebagian gurunya.

Yuza menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keyakinan hatinya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Yang terpenting saat ini adalah menyampaikan amanat hati adik tersayangnya itu. Ia tak mau adiknya terus menerus tenggelam dalam kubangan perasaan tanpa sebuah kejelasan apa dia harus tetap disitu atau merangkak naik dan pergi. Mengetahui dengan pasti apa yang Marshall rasakan sebenarnya kepada Vika lebih baik daripada menduga-duga yang belum tentu benar. Memikirkan itu, keyakinan dalam hatinya yang beberapa saat lalu memudar sedikit demi sedikit terkumpul lagi, lebih baik dari sebelumnya. setelah memandangi buku fisika di dalam genggamannya, Perlahan kakinya melangkah menuju teras rumah.

“Kalau gue gak berani, apa yang udah gue siapin sebelum ini bakal sia-sia, kakak macam apa gue kalo gitu?” tandasnya yakin.

Sampai di depan pintu ia kembali menarik nafasnya, berupaya membulatkan keberanian. Tangannya baru saja ia angkat untuk mengetuk pintu ketika dari dalam pintu itu dibuka. Marshall berdiri gagah di depannya. Penampilannya mirip bintang K-pop. Srrr. Sebuah getaran tiba-tiba menggoyahkan hatinya. Ini pertama kalinya Yuza melihat Marshall berpenampilan begitu. Selama ini, Marshall adalah pemuda yang cuek dengan fashion. Tapi malam ini, sisi lain dari Marshall membuat Yuza ternganga.

Yap, Yuza memang unik. Orientasinya berbeda dengan pemuda pada umumnya. Ia mencintai manusia berjenis kelamin sama dengannya. Bukankah tak salah jika hatinya bergetar melihat pemuda tampan didepannya itu?

Beberapa saat keduanya bertatapan kaget. Ini diluar dugaan. Ini kebetulan. Tapi tak lama kemudian keduanya tersenyum hampir bersamaan. Yuza mengerjap-kerjapkan matanya dan menghadirkan kembali sosok Vika dalam benaknya. Getaran hati yang baru saja ia rasakan, ditahannya.

“Yuza? Ada apa?”

Yuza sedikit terbelalak serta gelagapan karenanya.

“Ga pa-pa, gue mau ngajak loe belajar bareng, besok ulangan pisika kan?” jawab Yuza setelah menetralisir keterkejutannya. Sesaat Marshall tertegun, lalu menilik penampilannya sendiri dari bawah hingga tempat teratas yang bisa dijangkau mata agak sipitnya. Beberapa saat kemudian ia seolah-olah sedang berfikir dan menimang-nimang apa yang harus dilakukannya. Sementara di dalam hati yang lain, hati Yuza tepatnya beradu dua perasaan. Harapan dan rasa bersalah. Ia berharap Marshall akan mengurungkan niatnya untuk pergi dan menyetujuinya belajar bersamanya. Seusainya belajar nanti, ia akan mengutarakan tujuan sebenarnya. Kata-katanya juga telah ia susun sedemikian rupa agar menjadi nilai lebih demi keluluhan hatinya Marshall. Disisi lain, ia juga merasa bersalah karena jika harapannya dikabulkan Marshall berarti acara sahabatnya itu malam ini akan gagal. Tapi tak apa, untuk Yuza, hal yang akan disampaikannya juga tak kalah penting —Hatinya memilih. Harapan itu akhirnya mengalahkan rasa bersalahnya.

“Hmm… Gini aja, loe belajar sendiri, besok kalo soalnya susah gue nyontek jawabannya dari loe. Senin depan pas ulangan matematika, loe gak usah belajar, biar gue yang mikir jawabannya. Oke kan? Gimana? Deal?” Marshall mengulurkan tangannya sebagai permintaan sebuah kesepakatan. Yuza terperangah, bagaimana mungkin Marshall mengatakan itu? Yang Yuza tahu, sahabatnya itu paling benci dengan tindakan tak jujur begitu.

“Loe kan paling gak suka nyontek, Shall, malah loe bilang loe benci. Gimana loe bisa ngebuat kesepakatan gitu? Mau ngelanggar aturan sendiri?”

“Sekali-kali lah ga pa-pa. Ya kan?” Marshall tersenyum. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan mengunci pintu, dan memasukkan kunci itu ke saku celananya. “Loe mau masuk ke rumah gue?” Marshall seolah baru menyadari sesuatu.

“Sebenarnya gue mau masuk karena ada yang mau gue omongin ama loe, tapi kalo gak ada loe, ngapain juga gue masuk, entar kalo ada yang hilang loe nyalahin gue” hati Yuza lumayan dongkol.

“Emang loe mau nyolong apa dari rumah gue? Gak ada apa-apa ini” Marshall menatap langit sebentar. “Kalo ada yang mau diomongin besok aja ya di sekolah. Gue ada urusan yang sangat penting sekarang”

“Emang loe mau kemana?” rasa ingin tahu Yuza memaksanya mengeluarkan pertanyaan itu akhirnya.

Marshall tersenyum membayangkan sesuatu, walau tak begitu jelas karena lampu yang dipasang diluar hanya lampu pijar 5 watt, Yuza bisa menangkap perubahan rona wajah Marshall. Memerah seperti wajah Vika saat ditatap Marshall.

“Shall..” tegur Yuza agak kencang menghentikan tingkah gila Marshall, tersenyum-senyum sendiri.

“E… Gue… Gue mau nembak seseorang yang selama ini gue sukain. Do’ain ya?”

Sekali lagi Yuza tersentak. Marshall mau nembak seseorang? Harapannya memudar, kali ini bahkan hampir habis.

“Nembak seseorang? Siapa?”

“Ada deh.. Loe juga kenal ma dia” marshall lagi-lagi tersenyum. Lalu setelah menepuk pundak Yuza ia melangkahkan kakinya pergi. “Sorry gue buru-buru, udah telat, pergi duluan ya, jangan lupa do’ain gue!” katanya agak berteriak karena langkahnya sudah agak jauh.

“Loe gak bawa motor?” tanya Yuza agak berteriak juga. Marshall cuma menggelengkan kepalanya sambil mengulas senyum manisnya. Yuza mematung, menatap Marshall yang semakin jauh. Saat Marshall mulai membelok, Yuza mengikutinya. Nafasnya terhempas berat beberapa saat kemudian. Harapannya habis sudah. Benar-benar habis sekarang. Sahabatnya itu kembali berbelok ke arah yang berlainan dengan arah rumahnya. Artinya bukan Vika yang Marshall maksud. Ada orang lain yang merebut hatinya.

“Moga berhasil, Shall.” dipenghabisan harapannya, entah kenapa bibir merah Yuza bergerak melafalkan do’a itu. Ia menjalankan amanat sahabatnya untuk mendo’akannya tanpa sadar. Langkahnya berayun pelan, sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang akan dikatakannya pada Vika nanti. Ketemu? Tidak, alasan itu masih enggan menyambangi otaknya bahkan saat langkahnya sampai di depan rumahnya. Sekali lagi ia tertegun. Adiknya itu masih dengan setia menunggu kepulangannya di teras rumah. Yuza ragu untuk melangkah. Beberapa menit ia hanya mematung di situ, menatap raut kegelisahan Vika sebelum akhirnya menyeret langkahnya yang gontai.

Vika segera berhambur ke arah kakaknya itu begitu ia melihat kehadirannya. Tatapan gadis itu hingar bingar. Tapi begitu didapatinya wajah muram Yuza, tatapannya berubah sendu. Ada kekhawatiran yang menikam hatinya seketika.

“Bagaimana, Kak?”

Yuza menunduk sesaat, lalu mengangkat kembali wajahnya, membalas tatapan Vika dengan lembut, kemudian tersenyum mencoba memberikan sedikit semangat kepada adiknya itu.

“Sini deh, kakak mau ngomongin sesuatu sama kamu” Yuza menggenggam tangan Vika dan menuntunnya masuk, lalu mendudukkannya di sofa usang mereka. Mata mereka kembali beradu, hati Yuza ragu. Vika menahan nafasnya, jiwanya bergetar tak karuan menanti apa yang akan dikatakan kakak tersayangnya itu. Beberapa saat begitu, Yuza menghembuskan nafasnya pelan dan mulai membuka mulut.

“Maafin kakak, Vik. Kakak belum ngomong apa-apa ama Marshall” Yuza memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya saja. Tidak ada kebohongan dipikirnya akan lebih baik. Kalaupun Vika merasa kecewa atau sakit, setidaknya kekecewaan dan rasa sakit itu akan lebih cepat sembuh. Dan itu jauh lebih baik daripada Vika terus diberi harapan yang palsu.

“Kenapa, Kak?” tanya Vika kecewa.

“Tadi… Saat kakak sampai di rumahnya, Marshall sudah siap mau pergi” sesaat Yuza berhenti sesaat. Menatap dan memastikan Vika siap mendengar apa yang akan dia katakan selanjutnya. “Dia.. Dia mau… Menyatakan perasaannya pada seseorang yang disukainya selama ini”

“Oh…” Vika tersenyum, tapi perlahan senyuman itu terlihat dia paksa, matanya mulai tergenang. Yuza segera meraih kepala Vika dan di dekapnya didadanya sebelum ia melihat airmata adik tersayangnya itu jatuh. Ia tak sanggup melihatnya lagi. Cukup. Dia sudah cukup tersakiti saat air mata itu jatuh dari mata indah Vika saat kedua orang tua mereka bertengkar hingga mereka bercerai. Lalu adik kakak itu memutuskan tinggal dirumah neneknya, rumah yang mereka tempati sekarang. Saat nenek tercintanya meninggal dan saat Vika mengetahui Reza, kekasihnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sudah tiga kali adiknya itu menangis di depannya, dan ini yang ke empat. Yuza tak mau melihatnya. Ia mengecup rambut adiknya itu dengan lembut.

“Maafin kakak, Vik, kakak gak bisa jadi kakak yang baik buatmu” kata Yuza. Vika mengangguk dalam dekapannya disertai sebuah segukan tertahan. “Kita gak bisa memaksa seseorang untuk jatuh cinta ama kita kan?” Yuza mengelus rambut Vika. Membiarkan dadanya basah. Vika mengangguk sekali lagi, memejamkan matanya dan membiarkan setetes air matanya keluar. Berharap itulah air mata terakhir yang dikeluarkannya untuk sesuatu yang tak pernah dimilikinya.

Malam menanjak. Perlahan kedua jiwa kakak beradik itu menemukan sebuah kedamaian. Kedamaian setelah sebuah keikhlasan mulai memeluk jiwa keduanya.

******

Sabtu, sekitar pukul sepuluh lebih.

Marshall berlari mengejar Yuza seusai ulangan. Tangannya langsung melingkar dipundak sahabatnya itu begitu ia berhasil menyusulnya.

“Yuz, thanks ya?”

“Buat apa?”

“Jawaban ulangan tadi lah..”

“Jangan lupa saat ulangan matematika”

“Gampang lah sob, tenang aja”

Kedua sahabat itu berjalan bersebelahan menuju kantin sekolah. Ada Vika disana, duduk sendirian di salah satu bangku sambil memainkan sedotan teh botolnya. Wajahnya lesu, menggambarkan fikiran kusutnya.

“Hai, Vik. Sendirian ya?” sapa Marshall begitu sampai di dekat gadis yang tengah melamun itu membuatnya tersentak. Ia tersenyum menyembunyikan kekagetannya sekaligus menahan getaran mendadak dihatinya.

“Boleh duduk disini kan?” Vika mengangguk. Marshall duduk di seberang meja menghadap Vika, sementara gadis itu menggeser tubuhnya memberikan tempat buat Yuza duduk.

“Mau pesen apa? Aku yang traktir hari ini, terserah kalian lah mau makan apa”

Yuza saling menatap dengan Vika, senyum getir tergaris dibibir Yuza.

“Beneran nih? Gue mau bakso spesial porsi jumbo dan segelas besar lemon juice” Vika melirik Yuza, menunjukkan tatapan tak percayanya pada kakaknya itu. Yuza memang suka bakso, tapi tak serakus itu. “Kamu sama ya?” lanjutnya pada Vika. Vika tersenyum kecut.

“Cuma itu? Gak mau yang lebih mahal?”

“Itu yang paling mahal disini” jawab Yuza. “Sekolah kita ini kan cuma sekolah biasa. Kalo mau yg lebih mahal, traktir kami di restoran”

“Oke, lain kalu gue ajakin kalian ke restoran mahal. Vika mau di retoran mana?” Yang ditanya hanya tersenyum kecut.

Setelah memesan tiga mangkok bakso dan tiga gelas lemon juice, ketiganya terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Yuza harus berhati-hati saat ini. Perasaan Vika sedang tidak baik dan dia harus menjaganya. Beberapa saat kemudian pesanan datang. Marshall langsung menyantapnya dengan lahap, sementara itu Yuza bengong memperhatikan Vika yang sedang menambahkan sambal sangat banyak pada baksonya. Vika tak begitu suka makanan pedas, tapi kali ini sepertinya dia mau melampiaskan kekesalannya dengan cara begitu. Yuza memegang tangan Vika saat gadis itu mau menyendok sambal lagi.

“Sudah, Vik, jangan sampai perutmu sakit” kata Yuza. Marshall menatapnya sesaat sebelum sibuk kembali dengan kegiatannya sendiri menghabiskan makanan pavoritnya itu.

“Kak Yuza bilang, semalam kakak nembak seseorang ya?” tanya Vika ragu-ragu. Marshall langsung terbatuk mendengar pertanyaan begitu. Bakso yang sedang dikunyahnya tertelan langsung. Tenggorokannya panas. Secepat kilat ia menyambar gelas jusnya dan menegaknya sampai habis. Tak cukup itu, ia pun menyedot teh botol Vika.

“Hati-hati dikit lah, Shall” Yuza sedikit tertawa melihat tingkah sahabatnya itu walau sebenarnya ia tak merasakan adanya kelucuan di situasi begitu. Ia mengalihkan tatapannya kepada Vika. Dingin. Adiknya itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Yuza berhenti tertawa.

“Diterima gak, Kak?” lanjut Vika. Bukan jawaban iya atau tidak sebenarnya yang Vika inginkan dengan pertanyaan itu. Tanpa bertanya pun, dengan melihat wajah ceria Marshall dan mencerna sikapnya ia sudah bisa tahu bahwa harapannya pada sahabat kakaknya itu telah pupus. Tak ada lagi.

“Berkat do’a kalian” jawab Marshall sambil mengatur nafasnya. Matanya masih merah dan sesekali ia batu-batuk kecil menetralisir panas tenggorokannya.

“Selamat ya. Kak. Semoga awet dan selalu bahagia” kata Vika sambil mengulurkan tangannya. Marshall menyambut uluran tangan Vika sambil mengulas senyum manisnya. “Oiya. Aku masih ada tugas, pergi duluan ya, makasih traktirannya”

“Baksomu belum dimakan, Vik”

“Ga papa. Kakak sama kak Yuza aja yang makan” jawab Vika sambil berdiri, lalu melangkah pergi. Ia sudah tak kuat berlama-lama di sana.

Marshall masih merasa keheranan dengan sikap Vika. Ditatapnya gadis itu hingga hilang di belokan dekat lab kimia.

“Adek loe kenapa?”

“Gak tau lah, adat cewek gitu kali kalo lagi dapet” Marshall mengangguk-angguk. “Oiya, cewek loe siapa?” tanya Yuza mengalihkan topik bicara.

“Entar pulang sekolah gue kenalin ke dia, walau loe udah kenal sebenarnya, cuman statusnya kan beda sekarang. Lagian dia gak satu sekolah ama kita juga”

“sekarang maksudnya status dia jadi pacarnya Marshall Aditya Guna gitu?” kelakar Yuza. Marshall tertawa.

“Udah ah, kita abisin baksonya, keburu dingin gak enak loh” kata Marshall sambil menusukkan garpu pada bakso pedas Vika, melahapnya sekaligus dan memuntahkannya dengan segera. Apa dia gak tau waktu Vika menambahkan sambal ke baksonya tadi?

“Bakso adek loe ditambahin sambal sebotol ya?” kata Marshall sambil menyedot lemon juice Vika. Yuza hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.

******

Sabtu, sepulang sekolah

Marshall dan Yuza duduk di bangku tembok yang dibuat mengelilingi sebatang pohon lengkeng. Marshall masih sibuk memainkan hape androidnya walau dari beberapa saat lalu teman smsannya tak lagi membalas.

“Kenapa gak dijemput ke sekolahannya aja sih, Shall?” tanya Yuza

“Katanya dia mau jemput gue. Lagian mana tega entar gue ninggalin loe sendirian di depan sekolahan orang. Kasihan juga Vika gak ada temennya nanti” Yuza tersenyum mendengar jawaban Marshall. Ya, perhatian-perhatian Marshall yang kecil seperti inilah yang membuat Vika jatuh cinta padanya. Selain dari fisiknya juga. Perhatian yang disalah-artikan

Sebuah suara motor terdengar menderu mendekat. Yuza bahkan telah menghafal suaranya. Motor itu berhenti di depan mereka. Seorang pemuda tah begitu jangkung melepas helm-nya. Pemuda itu bernama Cakka.

“Hai sayang. Maaf ya membuatmu menunggu” katanya sambil turun dari motornya. “Hai, Yuz” lanjutnya kepada Yuza yang sedang berdiri tertegun menatapnya tak percaya.

“Jadi Cakka pacar loe, Shall?”

“Iya, kita jadian semalem, Yuz” malah Cakka yang jawab sambil melingkarkan tangannya dipundak Marshall. Sesuatu terasa sesak di dada Yuza. Inikah yang terjadi?

“Maafin gue ya, Yuz. Gue baru sekarang berani buka diri sama loe kalo gue ini gay” Marshall menatap Yuza dengan lembut. Ada harapan dan ketakutan dalam tatapannya itu. “Semoga loe gak benci atau jijik ma gue. Tapi kalaupun iya, gue udah siap dengan resiko semua ini kok. Resiko dijauhin seperti yang dilakuin abang-abang gue”

Jadi ini alasannya kenapa Marshall lebih memilih tinggal sendiri? Ucap Yuza dalam hati. Berarti Marshall juga merasakan bagaimana beratnya hidup menjadi seorang pelangi sepertinya dan ia menanggungnya sendiri selama ini. Tapi kenapa harus Cakka yang merebut hati sahabatnya itu? Seorang pemuda yang telah merebut hatinya sejak sekitar enam bulan yang lalu saat mereka bertemu di sebuah warnet. Cakka yang memulai perkenalan. Yuza masih ingat bagaimana hatinya berdebar keras ditatap pemuda itu pertama kali, saat pertama berjabat tangan dan mendengar Cakka menyebutkan namanya dengan suara yang berat. Mereka berteman akrab setelahnya. Hingga sekitar tiga bulan lalu Yuza mengenalkan Cakka kepada Marshall. Ia tak menyangka jika keputusannya itu adalah awal dari kesakitannya. Sekitar satu bulan yang lalu Cakka baru mengakui kalau dia adalah seorang gay. Dari pengakuannya itulah Yuza mulai mendapatkan harapan besar untuk berbagi hati dengan Cakka. Tapi sekarang….

Yuza menghembuskan nafasnya dengan berat, seolah mau membuang bebannya bersama nafasnya itu.

“Tenang aja, Shall. Gue gak berfikiran picik kepada kaum seperti loe” kata Yuza. ‘karena gue juga pelangi, Shall’ lanjutnya dalam hati

Serta merta Marshall memeluk Yuza dan mengucapkan terima kaih ditelinga sahabatnya itu. Yuza menahan sesaknya sebisa mungkin. ‘dan gue, sama siapa gue nyurahin kesakitan gue, Shall?’ lagi-lagi hanya hatinya yang bicara.

“Gue juga mau ngucapin makasih sama loe, Yuz. Kalo loe gak ngenalin dia ke gue, mungkin sampai saat ini gue belum nemuin pelabuhan buat hati gue.” Cakka menjabat tangan Yuza dan menariknya kedalam pelukannya. ‘walau sebenarnya yang aku mau adalah kamu, Yuz’ lanjutnya. Sayang semua itu hanya ada dalam hati, bahkan angin pun tak mendengarnya.

“Nitip motor ya? Hari ini gue mau pacaran dulu” kata Marshall sambil melirik Cakka. Lalu secepatnya menunduk saat tatapannya beradu dengan mata kekasihnya itu.

Yuza mengangguk sambil memaksakan tersenyum. Ia menerima kunci motor yang diserahkan Marshall. Sementara sesak dihatinya makin terasa berat.

“Salam buat Vika ya?”sambung Marshall sambil naik ke atas motor, di boncengan. Tangan Yuza mengepal keras kunci motor saat melihat tangan Marshall mulai memeluk pinggang Cakka.

“Gue salamnya buat loe aja, Yuz.” kata Cakka. Kata-katanya barusan dan senyum manisnya tak ayal membuat hatinya makin perih. Senyum itu bukan miliknya. Bukan.

Mesin motor mulai dihidupkan, dan tak lama kemudian tinggallah Yuza sendirian disitu. Clak. Yang sedari tadi dibendungnya tumpah sudah. Mengalir di pipinya.

“Aku melihat semuanya, Kak” entak sejak kapan Vika sudah ada di tempat itu. Ia memeluk Yuza dan mencoba memberikan ketenangan dihati kakaknya.

“Yang sabar ya, Kak?” pinta Vika. Ia tahu kakaknya terluka.

Ya, Vika telah mengetahui keunikan kakaknya itu. Yuza jujur padanya tentang itu, dan Vika mau menerimanya walau terasa sangat berat pada awalnya. Vika juga tahu, Yuza telah mempersiapkan segalanya untuk menyatakan perasaannya pada cakka nanti malam.

“Mau jadi pusat perhatian terus?” kelakar Vika setelah agak lama mereka masih berpelukan. Yuza melepaskan pelukannya seraya mengusap matanya. Lalu menarik nafasnya panjang.

Vika mengelilingkan pandangannya dan setelah menemukan apa yang dicarinya , ia berteriak memanggil sebuah nama. Adib. Itu yang Yuza dengar. Pemuda bertubuh sedang yang dipanggil Vika mendekat ke arah mereka.

“Bisa antarkan moto itu ke rumahku?” pinta Vika saat pemuda itu telah ada di depannya.

“Dengan senang hati, tuan puteri” jawabnya sambil menerima kunci motor Marshall yang baru saja dia rebut dari tangan Yuza. “Kau bisa menggunakan jasaku kapanpun kau mau”. Adib mengedipkan matanya, dan segera berlari saat Vika mengangkat tangannya seolah ingin memukulnya. Ia sedikit bergaya di atas motor itu begitu ia sampai disana. Vika tersenyum dan melirik ke wajah Yuza. Ada seulas senyum di bibir kakanya itu.

Suara deru motor tak lama kemudian terdengar.

“Jadi, apa kakak mau bersaing denganku untuk merebut hatinya?” Vika menyenggol pinggang Yuza dengan sikunya. Yuza tersentak, lalu tersenyum dan mengalihkan tangannya ke pundak Vika.

Adib berhenti sejenak di depan mereka. “Berhubung zaman sekarang gak ada yang gratis, jadi aku mau minta upah juga untuk pekerjaan baruku ini”

“Mau kuupahi dengan apa?” tanya Vika disertai tawa.

“Cukup segelas moccacino saat nanti malam aku ke rumahmu” adib mengedipkan sebelah matanya lagi dan segera melesat dengan motor Marshall.

“Apa dia lucu, Kak?”

“Apa kamu sudah mau melupakan Marshall? Secepat itu?”

“Gak ada gunanya memaksakan cinta kepada orang yang gak kita cintai kan?” Vika tersenyum lagi “Tapi kalau kakak suka dia, kita bisa kok bersaing secara sehat” kali ini Vika tertawa agak keras.

“Dasar, mau bikin kakakmu ini patah hati lagi karena kalah oleh adik snediri nanti?”

“Gak menutup kemungkinana aku yang kalah loh, Kak”

Yuza tersenyum, ini tak mungkin terjadi. Bersaing dengan adik sendiri merebut hati seorang cowok.

“Gak usah dibahas ah, kakak pasti kalah”

“Belum tentu, Kakak”

“Udah ah, jalan-jalan yuk?”

“Kemana?”

“Tanyakan ke penulis cerita ini”

“Kakak….”

Yuza menggandeng pundak Vika, berjalan menuju halte, siang akan menuju senja dan senja akan menawarkan keindahannya. Yuza tersenyum, hari ini ia dan adiknya telah melalui sebuah perjalanan bernama cinta, cinta yang melukainya. Di depan sana, cinta lain mungkin akan menyambut keduanya dengan indah. Vika telah mengikhlaskan hatinya menerima Marshall untuk Cakka, dan Yuza telah mengikhlaskan hatinya menerima Cakka untuk Marshall.

FIN

NB :

Selesai….

Capeeeekk, pegel, jempolku keriting menulis cerita ini lebih dari 3,5 jam… Semoga ada yang suka.. Ditunggu saran dan kritiknya… yangg like semoga cepet berhenti dari jomblonya dan yangg udah gak jomblo semoga awet atau dapat lebih banyak… #Plak.. Doa terakhir bercanda, tapi kalo mau di-aamiin-in juga ga pa-pa