LA Potret cover 4

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tanpa memperbanyak kata, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY Potret Empat seperti aku menikmati ketika menulisnya. Maafkan jika aku begitu terlambat, aku punya alasan yang bagus jika kalian ingin tahu. Inbox saja dan akan kuajukan alasanku.

Happy reading. Jika sudi, tinggalkan komen, apapun.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Adakah sesuatu yang lebih berharga daripada keluarga?

Mestilah ada…

Sebutlah itu keakraban

Katakanlah itu kehangatan

Jawablah itu keharmonisan

Itulah yang berharga dari keluarga itu sendiri…

Keluarga yang akrab,

Bukan hanya keluarga sebatas identitas

Keluarga yang hangat,

Bukan cuma keluarga sebatas akreditas

Keluarga yang harmonis,

Bukan sekedar keluarga sebatas kapasitas

Dan ketika sesuatu berharga seperti keluarga diutamakan,

Jangan pernah ragu bahwa prioritasmu salah

Jangan pernah bimbang bahwa kau barangkali keliru melangkah

Dan jangan biarkan hatimu dirajai gundah

Mereka, keluargamu…

Adalah kepada siapa kau membaktikan dirimu

Mereka, keluargamu…

Adalah kepada siapa kau membuktikan keberadaanmu

Dan mereka, keluargamu…

Adalah tempat, kepada siapa kau akan pulang setelah jauh berjalan

Tempat segala peluk hangat dan senyum penuh rindu bisa kau dapatkan

Tanpa pamrih,

Tanpa terhutang

Hanya dari mereka,

Keluargamu…

***

POTRET EMPAT

AFIFAH ZAHRAINI memandang suaminya dengan senyum menyeruak di wajah. Sang suami, dengan cangkul di bahu dan caping usang menutupi kepala berjalan melintasi halaman. Sosok menjulangnya terlihat lelah, sisa-sisa keringat masih tampak di wajahnya yang tegas. Anjas baru saja kembali dari mengerjakan petak kecil sawah mereka, lumpur mengotori di beberapa bagian kemeja lusuhnya dan benar-benar mengotori hampir semua inci celana kerjanya. Sekarang sedang musim pembenihan, musimnya pulang dari sawah dengan belepotan lumpur.

Pria itu membalas senyum istrinya begitu tiba di serambi rumah, menurunkan cangkul lalu membuka caping. “Hampir Maghrib, Dik. Sedang hamil tua gak baik berada di luar rumah senja-senja begini…” Anjas menegur istrinya, “Masuk gih…”

“Bang Anjas kolot ah, dulu waktu ngandung Daman Huri hingga hampir genap sembilan bulan, Nia masih lari-lari sepanjang jalan depan rumah Bang Taufik hingga adzan Maghrib berkumandang,” Asnia bersuara dari dalam kios yang sedang dibereskannya. Oh well, bahkan Daman Huri yang sedang mengedot di ambang pintu pun tahu kalau maknya baru saja membual. Wanita hamil sembilan bulan tak akan bisa lari meski dikejar buto ijo sekalipun, walau bisa alih-alih malah menggelinding.

Aini tertawa kecil sambil menempelkan jari telunjuk di bibir ketika melihat suaminya siap mendebat sang adik ipar. “Hampir Maghrib, kan? Gak baik juga mendebat. Aini sudah siapkan handuk sama kaos bersih di kamar mandi.” Sedikit kepayahan, Aini bangun dari kursi kayu di teras rumah, menggandeng Daman Huri yang masih asik mengunyah pentil botol dotnya meski telah kosong, dan lalu beranjak masuk.

Ketika Anjas bergerak menuju pintu luar kamar mandi yang berada di samping rumah dan langsung terhubung dengan dapur pada bagian menjorok lebih ke belakang, deru motor suami Asnia memasuki halaman. Sepertinya Taufik membawa pulang sesuatu, kardus besar bertengger di sadel motor di belakangnya.

Asnia yang sudah selesai memasang gembok kecil di pintu kios memandang heran ke boncengan suaminya. “Abang bawa pulang bonggol sawit ke rumah?”

“Bukan, buat apa bawa bonggol sawit, hendak dibuat apa di sini?” Taufik memasang sandaran motor lalu bergerak turun setelah mematikan mesin. “Tadi Abang pulang ke rumah Emak, ingat Pakcik Hamid yang tinggal di seberang jalan?”

Asnia memang sudah lama tidak pulang ke rumah mertuanya, tapi itu tidak serta-merta membuatnya lupa bagaimana lingkungan juga siapa saja tetangganya di sana. Kurun waktu dua tahun lebih tidak cukup untukmenjadikan ingatannya tumpul. “Ingatlah, Bang.”

“Nah, rambutan di halaman Pakcik Hamid sedang merah-merahnya. Kita dikasih icip.” Taufik membuka tali yang membelit kardus di sadel motor.

Asnia berbinar begitu suaminya memberitahu isi kardus, “Wah, Pakcik Hamid masih baik saja. Kapan ada mampir rumah Emak lagi sampaikan salam Nia sama Makcik Midah, Bang.” Makcik Midah adalah istri Pakcik Hamid, pasangan suami istri itu sudah bagai keluarga sendiri bagi keluarga Taufik. Hamid dan Hamidah, bahkan dari nama saja pakcik-makcik itu sudah berjodoh.

“Hemm… bicara mampir, Emak nitip amanah… kangen pengen nimang Daman, sudah lama juga kita gak ke sana.” Taufik memikul kardus lalu berjalan menuju pintu, istrinya mengekor di belakang. “Nginap semalam dua pun jadilah katanya. Bapak sedang banyak kerja di ladang, tak bisa mengantar Emak kemari seperti tempo hari itu.” Mereka masuk ke rumah. Adzan Maghrib mulai bergema dari pengeras suara surau.

“Bang Taufik ada kasih tahu Emak, kalau kandungan Kak Aini tinggal nunggu hari?”

“Iya, Emak sih bukan memaksa. Ya kalau keadaannya memungkinkan, kalau tidak bisa ya tak jadi apa.”

Asnia manggut-manggut. Sedikit banyak dia tahu kalau suaminya sendiri juga ingin bersama keluarganya di sana selama satu atau dua hari, tapi meninggalkan abangnya dan sang istri yang tinggal menunggu hari persalinan sungguh bukan ide bagus mengingat tak ada orang lain di rumah ini yang bisa membantu ketika saat itu tiba selain ia dan suaminya. “Hhh… kita lihat nanti deh, Bang. Kalau perkiraan persalinannya masih lama, lusa kita bisa menginap semalam di tempat Emak. Tapi hari itu Kak Aini bilangnya gak akan melewati bulan ini.”

Taufik menggumam pendek, lalu menurunkan kardus yang segera saja diobok-obok oleh Daman Huri. Bocah itu sedang memasuki masa emasnya dalam hal mengacaukan barang-barang.

“Daman, jangan diserakin ya.” Taufik menunduk untuk mengecup pipi bulat putranya. Kesalahan, sebelum kumisnya sampai sasaran, hidungnya lebih dulu sukses dihajar setangkai kecil rambutan yang dibaling sang putra. Taufik mengaduh.

“Ya Tuhan, Nak. Jangan lasak gitu ah. Mak gak suka.” Asnia membereskan beberapa rambutan yang berserakan di lantai. Menutup kardus dan menjauhkannya dari jangkauan Daman Huri.

“Mau lambutan…” Daman Huri melotot garang pada maknya. “Lambutaaaan… mau lambutaaannn…!”

“Gak boleh kalau dibuat main.”

Taufik terbahak melihat bagaimana Daman Huri merapatkan giginya karena geram. Ia menaruh sebiji rambutan ke tangan bocah itu sambil masih mengelus-elus cuping hidungnya yang masih merah.

“Wudhu, Bang. Kamar mandi kosong tuh.” Asnia berujar begitu melihat Anjas keluar dari dapur.

“Sempat jamaah?” Aini mengacung di pintu kamar, sudah siap dengan telekung.

“Sempat, Kak. Tunggu sebentar, Nia siap-siap dulu.” Setelah memastikan kalau setangkai besar rambutan tidak akan membuat Daman Huri bertingkah hingga mereka selesai Maghrib, Asnia beranjak ke dapur menyusul suaminya.

Tak lama setelah itu, suara Anjas sayup terdengar mengimami shalat Maghrib keluarganya. Sesekali gumam tak jelas Daman Huri menyeling dari ruang depan, meniru beberapa lafas yang keluar dari bibir pamannya.

“Awwa akbal, awwa akbal…”

Sambil itu, rambutan berlesatan ke segala penjuru.

***

ANANDA SAIF AL-FATA menguap entah yang keberapa kali sejak bus yang ditumpanginya bersama sang adik melewati kota kabupaten terakhir sebelum tiba di tujuan mereka. Masih lebih satu jam lagi menurut perkiraannya.

Apa sebaiknya aku memejamkan mata saja? Tidur ayam barang lima belas menit?

Bagaimana kalau sampai kebablasan hingga melewati terminal tujuan mereka? Dia pasti kena damprat.

Saif menolehkan wajah ke kepala yang sudah menyandar enak di bahu kanannya sejak dua jam lalu. Nyatanya, Aidil sudah molor lebih dari jadwal yang sudah disepakati mereka berdua. Rasa kasihan dan tidak tega lah yang menghalangi Saif untuk menggoyang bahu Aidil dan memberitahu kalau waktunya sudah habis. Mereka mengatur waktu melek ketika sisa perjalanan diperkirakan 4 jam lagi. Aidil mengambil syif tidur dua jam pertama dan Saif dua jam berikutnya, dan sepertinya dua jam berikutnya itu tak akan pernah didapatkan Saif mengingat betapa tak inginnya dia merusak tidur pulas sang adik. Lagipula, menurut hematnya, laju bus tak kurang dari sejam lagi untuk menurunkan mereka di terminal kecamatan.

Alih-alih menggoyang bahu Aidil, Saif malah merapatkan selimut –yang memang tersedia di jok bus- lebih rapat ke leher Aidil. “Huuft, enak bener jadi kamu, Dil…”

Saif melirik jam di pergelangan tangan kirinya, mode digital menunjukkan angka 09:45. Menjelang jam sebelas nanti mereka akan tiba. Saif menerka-nerka seperti apa ekspresi kaget orang rumah Aidil ketika membukakan pintu untuk mereka tengah-tengah malam buta nanti. Pulang tanpa memberi kabar adalah ide adiknya itu. ‘Sekali-sekali biar Bang Anjas sama Kak Asnia jantungan’, begitu Aidil meyakinkan bundanya ketika mereka sama-sama mengepak barang malam kemarin.

Saif membayangkan Kak Asnia akan merepet panjang bahkan bukan mustahil bakal menjewer kuping adiknya karena pulang mendadak, sementara Bang Anjas tentu akan protes dengan seabrek-abrek perlengkapan bayi yang mereka pack dalam tiga kardus besar. Bunda bahkan membeli kerangka buaian stainless yang beratnya bukan olah-olah.

Sebenarnya Aidil akan pulang sendiri, menginap selama seminggu mengingat kuliahnya sedang longgar pasca musim klinik. ‘Syukur-syukur sempat ngelihat bayinya Bang Anjas, kabarnya kan mau dekat hari’, dengan kalimat itu Aidil mendapat restu pulang kampung dari bundanya meski tidak sedang masa resmi liburan kuliah. Dan keikutsertaan Saif adalah syarat mutlak sang bunda yang tidak bisa ditawar lagi.

‘Bukan apa-apa, bawaanmu kan banyak, biar ada teman ngangkatin. Nanti semua suruh pikul kakakmu saja. Lagipula dia kuliahnya juga gak setiap hari, palingan cuma bolos satu atau dua hari.’ Itu kata Bunda sehari sebelum belanja besar-besaran di swalayan untuk mengisi kardusnya.

Alhasil, disinilah Saif sekarang. Duduk bersandar di jok bus, sekuat hati menahan pegal di bahu kanannya yang sedang dialihfungsikan oleh Aidil sebagai bantal tidur.

Hapenya menderingkan nada tanda pesan masuk. Sangat hati-hati Saif merogoh saku celananya agar tidak mengganggu Aidil. Dia masih sempat menguap satu kali lagi sebelum membaca pesannya.

‘Honey, sudah sampaikah?’

Saif tersenyum, sedikit kantuknya menguar begitu membaca pesan dari kekasihnya. Sapaan ‘honey’ dari Ruthiya yang membuat kantuk Saif minggat. Tidak menjawab pertanyaan, dia malah balik bertanya : Kenapa belum tidur?

Tak sampai semenit, hapenya berbunyi lagi. ‘Ini baru saja sikat gigi kok, siap-siap tidur. Belum sampai rumah Aidil?’

Saif mengetik balasan, ‘Masih sejam lagi kayaknya, lebih kurang. Tiya bobo sana, nite.’

Aidil bergerak, mengesot-ngesotkan kepalanya beberapa kali ke ‘bantal darurat’ di sebelah kirinya lalu diam. Saif menyimpan hape, meluruskan kaki lalu menyandarkan kepalanya ke jok.

.

.

Aidil menarik tudung jaketnya menutupi kepala lalu berdiri tegak memeluk dada. Di depannya, Saif sedang sibuk mengidentifikasi barang bawaan mereka yang dikeluarkan asisten sopir dari lambung bus. Hujan yang baru saja berhenti mengguyur kecamatannya membuat udara benar-benar dingin menusuk. Aidil enggan bergerak sekedar membantu Saif menurunkan beberapa kardus bawaan mereka. Dan sepertinya Saif juga tidak keberatan melakukannya sendiri, tidak mutlak sendiri sebenarnya, asisten sopir membantunya mengangkat barang-barang ke tempat kering di bawah atap terminal.

“Dil, panggilin becak,” Saif berujar setelah meletakkan kardus terakhir yang diturunkannya.

Aidil celingak-celinguk. Pada keadaan normal, tanpa dipanggil pun para abang becak pasti bakal berebutan menghampiri begitu ada bus yang berhenti di terminal. Karena hujan, sepertinya tak banyak abang becak yang bertahan stand by menunggu di terminal.

Aidil mengangkat tangan tinggi-tinggi lalu melambai begitu ada becak yang melaju pelan di jalan masuk terminal.

“Sepertinya kita perlu dua.”

Aidil menoleh ke kakaknya, “Kita bisa duduk di boncengan, barang-barang semua taruh dalam becak.”

Saif meniru gerakan Aidil begitu melihat ada becak lain yang masuk terminal, menyusul yang sudah dipanggil Aidil lebih dulu, “Jangan ngebantah!”

Aidil mengangkat bahu lalu langsung nyelonong masuk, duduk dalam kanopi becak yang dipanggilnya pertama kali. Lagi-lagi tidak mau repot membantu kakaknya memasukkan kardus dan ransel mereka ke becak satunya. Anak ini benar-benar patuh amanah bundanya sebelum berangkat pulang. ‘Nanti semua suruh pikul kakakmu saja.’ Dan kalimat itu benar-benar jadi senjata andalannya.

“Dil, bantuin angkat woiii…!” Saif melotot.

Aidil menjawab santai, “Bunda bilang itu tugas Kak Saif.” Bahkan dia tak mau repot-repot menoleh ketika melisankan kalimatnya.

Saif merutuk dalam hati, mukanya memberengut masam. Satu-satunya orang yang patut disalahkan untuk sikap manja sang adik tentu saja bundanya. Muka masamnya baru berganti ramah ketika bapak pemilik becak yang dipanggilnya mendekat untuk membantu.

Setelah selesai mengurus barang bawaan, Saif menghempaskan bokongnya di sebelah Aidil yang sekarang sibuk menggesek-gesek layar hapenya. “Udah ngabarin Orlando?”

“Aidil ngabarin Bunda.”

“Orlando?”

“Iya, dia juga.”

Saif kembali teringat bagaimana Orlando bersikeras minta ikut ketika tahu rencana kepulangan Aidil dengannya. Jika tidak dilarang keras oleh Aidil, Orlando pasti sudah nekat mengisi ranselnya seperti yang pernah dilakukannya satu kali dulu.

‘Kalau kamu nekat mau ikut, aku gak jadi pulang. Bilangin sana sama Bunda suruh balikin perlengkapan bayi yang udah terlanjur dibeli ke tokonya lagi. Kamu tanggung jawab bayinya Bang Anjas gak dapat buaian baru!’ Saif nyaris tak bisa menahan tawanya ketika melihat bagaimana Orlando kalah telak dibungkam kalimat Aidil. Yang menggelikan, sebelum masuk bus siang tadi, Orlando sempat-sempatnya mengirim SMS ancaman untuknya. ‘Awas kalau berani ngambil kesempatan sama pacarku semisal nyosor-nyosor nyium dia lagi, Yayang Ruthiyamu kubuat menjanda sebelum waktunya!’ Ancaman itu, seperti halnya juga dengan beberapa sikap berlebihan Orlando bila sudah menyangkut Aidil membuat Saif yakin, bahwa Aidil sememangnya telah dicintai oleh seseorang yang tepat. Meski cara mencintai Orlando terbilang unik aneh dan slengekan, Saif tahu kalau sahabat kentalnya itu memiliki kesungguhan yang bukan olah-olah terhadap cintanya kepada Aidil.

Mendadak satu pertanyaan melesat tiba-tiba dalam diri Saif. Sanggupkah dia menjadi pembela tunggal jika suatu saat keadaan tidak memihak kepada adik dan sahabatnya itu? Sanggupkah dia melawan kehendak ramai orang yang tentu saja tidak sepaham dengannya menyangkut Aidil dan Orlando?

Becak melaju beriringan di jalanan yang masih basah. Saif menguap lagi, matanya sampai berair.

“Kak Saif tadi gak tidur ya?”

Pertanyaan Aidil menghentikan pikiran Saif. Lelaki itu mendengus, “Mau tidur gimana, kamunya ngorok terus hampir empat jam.”

“Eh? Iyakah?”

Saif menjitak kesal kepala adiknya. Aidil mengaduh, mengelus kepalanya yang masih tertutup tudung jaket. “Kamu beruntung Kak Saif ikut pulang.”

“Aidil beruntung karena Bunda ngasih ultimatum yang lebih dari cukup untuk membuat Kak Saif jadi kuli pikul.” Aidil nyengir. “Eh, Kak Saif gak ngabarin Mbak Tiya kalau udah sampai?”

“Besok pagi aja, biar gak gangguin tidurnya.” Saif merendahkan posisi duduknya hingga bisa menyandarkan kepala ke sandaran becak yang keras di balik punggungnya. “Ya Tuhan, enaknyaaa…” dia mengulet lalu bersidekap lengan ke dada.

Aidil tidak lagi mengusik kakaknya, ketika Saif menggeserkan kepala ke bahunya, Aidil hanya tersenyum tanpa protes. Setidaknya, dia bisa mengganti pengorbanan Saif yang telah merelakan bahunya sebagai bantal ketika dia terlelap di bus dengan melakukan hal yang sama buat sang kakak sekarang. Aidil merelakan bahunya menjadi sandaran kepala Saif walau tentu tak akan sebanding. Dari terminal ke rumahnya hanya berjarak dua puluh menit perjalanan motor. Maksimal mungkin setengah jam dengan kecepatan becak yang tidak bisa ngebut karena jalanan licin. Sedangkan Saif merelakan bahunya hingga berjam-jam. Sisa perjalanan hingga sampai di depan pintu rumah berlalu dalam hening

.

.

Seperti yang dibayangkan Saif saat di bus, mereka benar-benar membuat kaget orang rumah. Bang Anjas memang sempat protes tapi setelah ditegur istrinya pria itu hanya bisa mewakili berterima kasih kepada Tante Anisah lewat Saif. Meski kuping Aidil bebas dari jeweran tangan Kak Asnia, namun repetannya tentu saja tidak dapat dihentikan. Asnia bakal terus mengoceh jika tidak dihentikan suaminya yang dengan senang hati mengangkat kardus berdua dengan Anjas.

“Jangan merepet terus, Nia. Daman bisa melek sampai pagi kalau sampai terbangun.”

Asnia patuh, suaranya memelan ketika bertanya, “Kalian sudah makan? entah masih ada lauk pun.” Asnia berjalan ke dapur. “Duh… Dek, kenapa sampai gak ngabarin sih!” suaranya kembali kuat ketika mengulang kalimat yang sudah berkali-kali diucapkan sejak adiknya turun becak.

Taufik memutar bola matanya.

“Gak apa, Kak… sore tadi kami sempat makan kok saat bus berhenti,” ujar Saif ketika melihat kakak perempuan Aidil sibuk membuka tudung saji.

“Kak Saif memang gak lapar, tapi aku iya, Kak.” Aidil melirik Saif jahil, dia tidak yakin kalau Saif beneran tidak lapar. Saif basa-basi menolak makan tentu saja karena merasa tak enak. Aidil ingat mereka tidak mengunyah apapun selama di dalam bus setelah berhenti jam enam petang di depan rumah makan tempat biasa bus-bus antar kota singgah.

“Makan seadanya aja, Dek. Salahmu sendiri gak ngasih kabar mau pulang.” Asnia menyiapkan dua piring. “Ajak Saif.”

“Kak Saif kan gak lapar, biarin aja.” Aidil berjalan menuju meja makan yang berada di dapur.

Saif merasa benar-benar dikerjai Aidil, basa-basinya dimanfaatkan sedemikian rupa oleh adik angkatnya itu untuk membuatnya bimbang antara mempertahankan ego dengan tidak menuju meja makan atau menggadaikan sedikit rasa malu akibat sudah terlanjur menolak.

“Makan dulu, If. Meski gak lapar ya biar tuan rumah tenang sesuap dua pun jadilah.” Anjas menepuk bahu Saif dengan penuh pengertian.

“Gak usah, Kak Saif gak lapar. Kan?” Aidil menyeringai pada Saif dari meja makan, tangannya sudah memegang sendok nasi.

Kali ini kuping Aidil tak selamat, Asnia sukses menjewernya.

“Adoww…!” Aidil kaget dan langsung mengelus daun telinganya yang baru saja disambar capit Asnia.

“Jangan kurang ajar!” Asnia memelototi adiknya lalu melambai pada Saif, “Makan, If. Kayak kata Bang Anjas, sedikit pun jadilah.”

Saif tersenyum canggung lalu melangkah menuju dapur.

“Huh, sok jual mahal bilang gak lapar. Kayak di rumah siapa aja harus malu-malu.” Aidil masih mendesis-desis membuat Saif sukses merona.

Asnia geleng-geleng kepala, “Sialakan makan, Kakak beresin kamarmu dulu. Terpaksa tidur desak-desakan kalian berdua, ranjangnya masih yang lama, kecil mungil.”

Sebenarnya, kamar itu dulunya adalah kamar Asnia semasa gadis. Aidil sekamar dengan abangnya ketika masih melajang. Begitu Asnia menikah dan tinggal di rumah mertua, kamar Asnia yang berisi ranjang kecil ditempati Aidil sebelum keluarga Saif memanggilnya. Kini setelah ibu mereka meninggal dan kedua saudaranya sudah berkeluarga, dua kamar yang lebih luas di rumah itu dipakai abang dan kakaknya dan kamar kecil Aidil terbiar kosong. Karena lama tak terpakai, Asnia merasa perlu berbenah.

Setelah menghabiskan waktu sepuluh menit di meja makan dan sepuluh menit berikutnya untuk menyikat gigi lalu shalat Isyak, kini Saif menelentang di atas kasur Aidil. Pemilik kasur sendiri masih berada di atas sajadah, tasbih bergerak pelan di antara jari-jari kanannya.

Saif menguap, berbalik meringkuk lebih ke salah satu sisi ranjang untuk menyisakan ruang yang cukup bagi Aidil. Dia menarik selimut hingga pinggang lalu memejamkan mata. Suara jangkrik yang tentu saja jarang ditemui di rumahnya menjadi irama pengantar tidur. Antara lena dan jaga, Saif merasa kamar menjadi gelap. Aidil baru saja memadamkan lampu. Kemudian dia merasakan gerakan di tempat tidur. Aidil tentu sudah berbaring bersamanya.

“Selamat tidur, Kak…”

“Hemmm…”

Aidil meringkuk di belakang punggung kakaknya.

***

Daman Huri duduk manis di tengkuk Saif, kedua kakinya menjuntai melewati pundak orang yang menggendongnya di atas kepala. Dua jumput rambut Saif berada dalam cengkeraman kedua tangan mungil Daman Huri. Keadaan keduanya sama, sama-sama baru bangun tidur dan belum mandi, sama-sama bertelanjang dada, bedanya hanya ukuran celana pendek mereka. Mereka berputar-putar di sekitar halaman. Daman Huri asik tergelak setiap kali Saif bergerak seakan hendak melompat atau hendak jatuh. Saif menikmati menghabiskan waktu dengan keponakan adiknya, hal yang belum pernah bisa diperolehnya di rumah sendiri mengingat orang tuanya tidak berencana memberinya adik, dan sang kakak satu-satunya juga belum punya anak.

“Sekalian pipisin kepalanya ya, Daman! Om Saip belum pernah mandi pancuran.” Aidil berteriak dari dalam kios.

Tanpa menoleh Saif memberi Aidil jari tengahnya.

Aidil tersenyum sambil terus mengatur barang-barang yang menjadi pelopor di kios mereka. Ketika melihat kakak iparnya menuju halaman dengan sapu lidi di tangan, dia menegur kaget. “Kak Aini gak usah nyapu ah, kepayahan gitu. Tinggalin aja sapunya, selepas ini Aidil yang nyapu pekarangan.”

“Kasih aja, Kak. Aidil adalah tenaga profesional menyangkut sapu-menyapu. Kapan hari itu, seluruh komplek dikerjainnya semua. Dulu bahkan dia pernah mungut sampah satu pasar saking senangnya keterima kuliah.” Saif balas dendam.

“Kan waktu itu Kak Saif juga ikut mungutin sampah, malah jadi kepala regu.” Yang mereka bicarakan adalah salah satu sesi Moska Aidil dulu, penyisiran pasar bersama gerobak sampah. Sepertinya itu salah satu momen kenangan mereka yang sukar dienyahkan.

Aini tertawa, “Tak apa. Bidan Sri bilang memang harus banyak gerak kok, katanya bisa merangsang proses persalinan jadi lebih mudah.” Mengacuhkan kekhawatiran adik iparnya, Zahraini mulai menggerakkan sapu.

Taufik mengeluarkan motornya jauh menuju pintu pagar, memanaskan mesin beberapa lama sebelum berjalan kembali ke rumah. Sebelum masuk dia menyempatkan mengambil alih Daman Huri dari tangan Saif, bocah itu perlu mandi.

Aidil merasa damai. Dia dapat membayangkan rutinitas pagi yang sudah berlalu tanpa kehadirannya di sini. Kak Asnia akan bangun pagi-pagi seperti ibu dulu, menjerang air untuk menyeduh kopi atau teh, membuat nasi goreng atau menumis sayur untuk lauk. Kak Aini mungkin seperti halnya hari ini akan menyapu pekarangan atau membuka kios jika Kak Asnia tidak memerlukan tenaganya di dapur, atau mungkin sesekali mereka akan bertukar tempat, Kak Aini yang menyiapkan sarapan sedang Kak Asnia yang membuka kios, menyapu lantai dan membersihkan pekarangan. Para suami mungkin hanya membantu sesekali sebelum bersiap-siap menuju tempat mereka mencari nafkah.

Seulas senyum menyeruak di wajah Aidil. Sewaktu kanak-kanak dulu, dia kerap membayangkan seperti apa keadaan rumahnya ketika kedua saudaranya sudah berkeluarga. Dalam bayangan masa kanak-kanaknya yang samar, Aidil membayangkan ayahnya akan melebarkan rumah, menambah satu atau dua kamar lagi. Kedua orang tuanya pasti sudah ubanan ketika hal itu terjadi, mereka berdua akan menghabiskan hari tua bersama para cucu sementara anak dan menantu mengambil alih semua tugas rumah. Sedikit banyak, keadaan sekarang memang berlangsung seperti bayangannya dulu. Hanya saja, kedua orang tuanya tidak lagi mengambil bagian dari kehidupan mereka.

“Heh, Kesambet?” Saif melambaikan tangan di depan wajah Aidil yang dilihatnya bengong sejak beberapa menit lalu.

Aidil mengerjap satu kali lalu tersenyum, “Seperti seharusnya ya, Kak…”

Saif mengernyit tak mengerti ucapan adiknya. “Apanya yang seperti seharusnya?”

“Kehidupan keluargaku… Bang Anjas dan Kak Asnia, itu seperti seharusnya.” Kalimat Aidil nyaris berupa gumaman saja.

Saif masih tak mengerti. Dia ikutan bengong, ikut memperhatikan entah apa yang menyita perhatian Aidil jauh di sisi pekarangan. Saif yakin, Aidil sedang menerawang.

“Sarapan dulu, Dik. Kak Asnia udah manggil tuh.”

Aidil tersadar dan menoleh pada kakak iparnya yang ternyata sudah selesai menyapu. Khusyuk menerawang, bahkan suara kencang Asnia pun hilang pengaruhnya. “Iya, Kak…” Beriringan dia dan Saif mengikuti Aini masuk rumah.

***

“Perkiraannya memang pertengahan bulan ini ya, Bang?” Aidil bertanya pada abangnya ketika malam ini mereka berkumpul di depan tivi kecil warisan Ayah.

“Ibu Sri bilangnya sih kalau gak pertengahan bulan ya hujung bulan.”

“Kak Aini ngerasanya malah masih lama, perkiraan bidan kan bisa saja salah. Banyak yang lebih hari, ada yang lebih bulan malah.”

“Kelahiran lebih bulan kan beresiko, Kak.” Aidil berujar di sela-sela kunyahan keripiknya. Toples di depannya dan Saif nyaris kosong. Keripik itu dibuat Asnia untuk persiapan hari-hari setelah persalinan Zahraini, sudah menjadi resam di kampung mereka kalau para ibu-ibu atau perempuan yang sudah menikah bakal berkunjung bila ada kelahiran, acara kunjungan itu dilakukan sambil minum teh.

“Kak Asnia dulu gimana? Pas kayak kata bidan gak?” Saif menyelutuk. Malam ini dia yang terlihat paling rakus, onggokan kulit rambutan juga tampak meninggi di depannya.

“Kurang ingat, If… lebih hari juga deh kayaknya. Iyakah, Bang?” Asnia mencari tahu lewat suaminya.

“Beberapa hari saja dari taksiran bidan, iya.”

“Kalian jadi menginap di tempat neneknya Daman?” tiba-tiba Anjas bertanya.

Ternyata Asnia sudah memberitahu kakak iparnya tentang permintaan ibu suaminya, dan sang kakak ipar tentu saja memberitahu abangnya.

“Kalau jadi ya tak apa juga. Cuma sehari dua saja, belum tentu juga Aini bersalin dalam dua hari ini.” Anjas melanjutkan ketika Asnia dan Taufik hanya diam.

Aidil dan Saif yang tidak tahu menahu hanya diam, sesekali mengusik Daman Huri dengan menjawil pipinya yang terlihat berat.

“Yang ngurus dapur nanti siapa kalau Nia gak ada?”

“Aidil kan bisa tuh,” jawab Anjas.

“He?” Aidil bengong.

“Aku masih sangguplah, Nia. Tak apa, toh cuma dua hari kan? Di sini juga ada Aidil yang bisa jadi kawan pas Bang Anjas kerja.”

“Ada Saif juga…” Saif menegaskan keberadaan dirinya yang tak disebutkan kakak iparnya Aidil.

“Emang Kak Saif bisa masak?”

“Enggak.”

“Trus kenapa sok-sokan ngambil peranan?”

“Kan aku bisa menyapu atau menyiapkan kios, atau ngisi bak mandi.” Saif mencoba menunjukkan bahwa dia juga ada gunanya.

“Okey. Selama dua hari Kak Asnia dan bang Taufik gak ada, tugas nyapu dan buka kios bukan milik Aidil, ya! dan jangan lupa, Kak Saif juga harus ngisi bak mandi saat sore.”

Saif baru sadar kalau dia sudah masuk perangkap adiknya. Seharusnya dia diam saja ketika dirinya tidak disebut Zahraini.

“Gak usah didengar, If. Aidil hanya merepet.” Anjas bersuara.

“Melepet… melepet…” Daman Huri membeo. Pipinya langsung diremas Aidil.

“Kalau demikian, besok pagi Nia sekalian ikut Bang Taufik biar dianterin ke rumah Emak sebelum ke tempat kerja.

“Tuh, “ Aidil menepuk paha Saif. “Sudah diputuskan Kak Saif bakal nyapu, buka kios dan ngisi bak selama dua hari ke depan.”

“Hemm… with my pleasure.” Saif tak punya opsi lain.

“Dan Aidil bekerja di sawah sama Bang Anjas.”

“Eh, bukannya Aidil nemani Kak Aini di rumah saja?” Aidil mendelik pada abangnya.

“Jangan jadi keledai pemalas!”

“Heuh… tahu musim sawah gini gak pulang deh kemarin.”

Saif tertawa mendengar kalimat Aidil yang berlawanan dengan ngototnya si adik ketika minta izin pulang dari Bunda. “Kenapa nyeselnya gak pas masih di rumah sana aja, Dil…”

“Diam ah!” Aidil menutup toples, memungut kulit rambutan ke dalam kresek dan menuju keranjang sampah di dapur.

.

.

“Aku kangen, Beib.”

Aidil memutar bola mata begitu menjawab panggilan telepon pacarnya yang diawali kalimat demikian. Saat ini dia hendak siap-siap tidur. Saif bahkan sudah menelungkup di atas tempat tidur.

“Muach muach muach muach…” sepertinya di sana Orlando sedang mencium layar hapenya.

“Setop! Apaan sih?”

“Aku kangeeeeeeeeeeeen…!” Orlando berucap panjang.

“Ya Tuhan, baru juga dua hari.”

“Iya, gak melihatmu selama dua hari rasanya seperti gak melihat empat puluh delapan jam.”

“Sama aja!”

“Gak melihat dua hari rasanya kayak gak melihat dua abad.” Orlando meralat ucapan hanya untuk membuatnya tampak kian gombal.

“Bahkan tulang kita sudah jadi abu dalam kurun selama itu.” Aidil mendengar pacarnya tertawa di ujung talian. “Kenapa belum tidur?” dia bermaksud mengembalikan percakapan ke topik normal sebelum Orlando semakin tak normal.

“Aku terkena syndrome kangensomnia…”

Kembali Aidil memutar bola matanya, dia sudah bisa menerka apa yang dimaksudkan Orlando terkait syndrome anehnya itu.

“Segala inderaku merindukanmu hingga mereka terjaga tak mau tidur. Semua selku siaga sepenuhnya dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki. Ya Tuhan, Dil… aku merindukanmu hingga menggigil.”

Entah pura-pura atau sungguhan, Aidil sekilas bisa mendengar gigi-gigi Orlando bergemelutukan. “Gak usah berlebihan.”

Desah nafas panjang Orlando terdengar cukup jelas dari corong hape. “Kamu selalu begitu, selalu menganggap aku melebih-lebihkan, padahal sungguh, segala yang kukatakan adalah benar. Apa kamu gak merasa sepertiku? Rindu hingga tak bisa terpejam?”

Aidil merasa telah mengecewakan kekasihnya. “I love you, Orly… dengan seluruh sel dari ujung rambut hingga ujung jempol kakiku.” Dia merasa telah mengucapkan kalimat yang tepat.

Tawa pendek Orlando memenuhi pendengaran, “Kamu meniru.”

“Aku belajar dari pacarku.”

“MUACHHH…!”

Aidil tertawa. “Jangan mengurut sambil tidur ya! Mandi besar malam-malam buta gak baik buat kesehatan”

“Tentu sulit untuk tidak melakukannya setelah mendengar suaramu, Beib. Jika dengan begitu rinduku padamu terbayarkan, mandi besar tiap malam pun aku ridho.”

Detik setelah Orlando menyelesaikan kalimatnya, Aidil menyesal telah menyinggung topik sakral itu.

Di atas tempat tidur, Saif terbatuk beberapa kali. Aidil menoleh, kakaknya itu tidak lagi menelungkup, sekarang sudah menelentang dengan kedua tangan terjalin di bawah kepala. Sepertinya Saif merasa bantalnya kurang tinggi sehingga harus mengganjalnya dengan tangan sendiri. Sepersekian detik, Aidil tak bisa untuk tidak menatap bisep Saif yang terekspos sempurna.

“Kamu tidur bareng Saif ya?”

Aidil tersadar, “Gak lupa kan kalau rumahku gak punya banyak kamar?”

Orlando diam.

“Jangan bersikap seolah-olah aku tukang khianat.”

“Iya iya iya.”

Aidil bisa membayangkan ekspresi Orlando saat ini, bibir tipisnya yang agak lebar pasti sedikit maju seperti biasa jika sifat cemburu gak jelasnya kambuh. “Udah ya, hampir tengah malam nih.”

“He eh, goodnite sweet bunny… jangan meluk apapun yang ada di tempat tidurmu ya.”

Aidil berdecak.

Orlando terkekeh, “I love you so much.”

I love you much more… bye.”

Ketika sudah terbaring di kasur dan selimut sudah menutupi hampir seluruh badannya, Aidil tak bisa mengenyahkan angannya yang tertuju pada sang kekasih. Ya, meski tak mengutarakannya sehebat cara Orlando, Aidil juga punya rindu yang demikian kuatnya. Sosok Orlando berputar-putar di kepalanya. Dan khayalan membawanya ke sebuah padang bunga. Mereka bersama, terbaring di atas rumput bersisian menatap langit.  Ketika matanya kian berat menuju lelap yang dalam, Aidil merasa kalau lengan Orlando yang dalam khayal melingkari pinggangnya adalah nyata.

Tak ada yang tahu, tak ada yang melihat. Kalau lengan Orlando yang melingkari pinggang Aidil dalam dunia mimpi adalah lengan Saif pada kenyataannya. Agaknya Saif juga sedang bermimpi atau setidaknya merasa sedang berada di tempat tidur di rumahnya sendiri, dan dia berfikir sedang memeluk gulingnya.

.

.

Saif benar-benar melakukan tugas yang dimandatkan Aidil semalam padanya. dia bangun cepat berbarengan dengan Asnia dan tidak kembali ke tempat tidur setelah shalat Subuh. Saif memeriksa keadaan bak mandi dan mengisinya hingga meluap meski yang dikatakan Aidil adalah bahwa dia harus mengisi bak di sore hari, nanti sore dia akan mengisinya lagi jika perlu. Bahkan dia ikut sibuk di dapur ketika dua wanita di rumah itu mulai menyiapkan sarapan, sementara Aidil hanya duduk menonton sambil memeluk dada.

“Dek, daripada bengong gak jelas di situ mending nyapu lantai,” Asnia menegur.

“Nanti Kak Saif yang melakukan, tenang saja.”

Asnia kontan melotot besar pada adiknya, “Dia tamu kita, kamu gak malu apa? Bahkan air mandimu dia yang nimba?”

Diam-diam Saif meleletkan lidahnya pada Aidil. Aidil membalasnya dengan pelototan. “Biarin aja, Kak. Dulu pas baru ke rumahnya Aidil juga rajin kok, setiap hari nyapu pekarangan.”

“Jangan membual, mana ada sampah di pekarangan Tante Anisah, hijau dan bersih gitu.”

Untuk kedua kalinya Aidil menemukan Saif meleletkan lidah padanya tanpa sepengetahuan Asnia. “Tapi kan ada pohon-pohonnya, memangnya daun pohon ijo selalu? Kak Asnia gimana sih…”

Tak menjawab, Asnia berjalan mengambil sapu ijuk dan menyerahkannya pada Aidil. “Kakak mau siapin perlengkapan Daman Huri yang dibawa ke rumah Emak, gak sempat nyapu lantai. Sana kerjain!” Asnia meninggalkan dapur setelah menitip wajan dan bahan-bahan yang telah dipersiapkannya untuk membuat nasi goreng kepada Zahraini.

Aidil memegang sapu ijuk dan menoleh Saif, “Pilih mana? Lantai rumah apa pekarangan?”

Saif mengangkat bahu, “Aku pilih nyiapin kios aja.” Sambil nyengir Saif berlalu pergi.

.

.

Aidil bertugas menjaga kios seharian ini. Karena tak tahu harus melakukan apa, Saif ikutan masuk ke sana bersama tabletnya dan berdesakan dengan Aidil di satu-satunya kursi di dalam kios. Asnia dan keluarganya sudah berangkat lebih tiga jam tadi, Anjas juga sudah meninggalkan rumah menuju tempatnya bekerja setengah hari sebagai pramuniaga di toko bahan bangunan di pasar kecamatan, setiap hari dia membonceng motor Fadlan yang juga punya pekerjaan tetap di pasar.

Sepi. Aidil mendadak merasa kalau rumahnya sepi. Tak ada gelak Daman Huri, tak ada obrolan ala ibu-ibu dari Asnia dan Zahraini yang tentu akan didengarnya sepanjang hari seperti kemarin meskipun tak ikut terlibat. Dia memandang Saif yang sedang bermain game di tablet. Wajah jenuh juga diperlihatkan Saif, jika Daman Huri ada pasti lelaki itu sekarang sedang asyik bercengkerama dengan bocah itu di ruang depan diantara serakan mobil-mobilan murahan seperti yang dilakukannya nyaris satu harian kemarin.

Aidil bangun jika ada pembeli, mengambil barang yang diperlukan, menyerahkan uang kembalian jika pembeli tidak memberinya uang pas, dan duduk kembali ke kursi. Begitulah yang terjadi padanya setengah harian ini.

Sedang Saif? Main game, meletakkan tablet sebentar ke pangkuan ketika jarinya pegal, merenggangkan leher, ambil tablet lagi, main game lagi, taruh tablet di pangkuan lagi, menekuk jari, lanjut main game lagi. Begitulah yang terjadi berulang-ulang hingga Zahraini memanggil mereka untuk makan siang.

Lalu sisa hari dari siang hingga petang berlangsung tak jauh beda dengan setengah hari yang sudah dilewati. Hanya saja sekarang Aidil yang megang tablet dan Saif yang sibuk bangun-duduk-bangun-duduk untuk melayani pembeli.

Anjas pulang setelah Zuhur, istirahat sejenak lalu keluar dengan caping dan cangkul. Pria itu tidak mengajak adiknya ke sawah, dia berangkat sendiri.

***

“AIDIL… DEK, BANGUUUNNN…!!!”

Sayup-sayup Aidil seperti mendengar suara abangnya. Antara jaga dan tidak dia mengeliat, badannya menyenggol sosok Saif yang tidur membelakanginya. Belum cukup sadar untuk memastikan kalau teriakan menyuruhnya bangun itu sungguhan terjadi, Aidil membalikkan badan sambil menggumamkan suara-suara yang tak lebih seperti bunyi desau angin dari bibirnya. Tangannya yang bebas menggapai-gapai sebelum jatuh ke pinggang Saif.

“AIDIIILLL…!!!”

Kali ini sepertinya dia benar-benar dipanggil. Aidil sontak membuka matanya. Dalam remang matanya menatap nyalang. Ketika namanya diserukan sekali lagi lebih kencang dan derap langkah tergesa mendekati kamar, dia menggeragap bangun. Kesadarannya terkumpul seutuhnya.

Pintu kamarnya dipentangkan, lampu menyala. Saif ikutan terduduk dengan mata menyipit menahan silau.

“DIL, kakakmu kontraksi, sudah beberapa kali sejak tadi. Akan melahirkan sekarang!” setelah berkata demikian, Anjas tergopoh balik ke kamarnya.

Samar-samar, Aidil bisa mendengar suara gelisah kakak iparnya. Bagai dikomando, dia dan Saif melompat dari tempat tidur dan segera menyusul Anjas. Zahraini benar-benar akan melalui proses persalinannya sekarang, padahal baru malam kemarin mereka membicarakan dan yakin kalau dirinya tak akan melahirkan dalam jangka waktu satu atau dua hari ke depan.

“Dil, jemput Bidan Sri. Lekas!” Anjas memberi instruksi dengan panik, dia sibuk membongkar isi lemari, mengeluarkan segala macam kain, entah untuk apa.

Aidil segera berlari.

“If, bisa menjerang air?”

Saif segera melesat.

“Bang, perlaknya dulu…” Aini berujar lemah ketika melihat suaminya bagai orang linglung, lemari mereka nyaris kosong melompong. Keringat memercik di kening, wajahnya pucat.

Anjas menepuk jidat, menarik perlak dan segera menggelarnya di atas tempat tidur. Ketika melihat Aidil yang tiba-tiba nongol kembali di kamar, Anjas kontan membentak adiknya.

“Kenapa balik lagi? Abang suruh kamu jemput Ibu Sri!”

Dibentak demikian, Aidil menggeragap, “Rumahnya empat kampung berselang, apa Aidil jemputnya jalan kaki? Bisa kehabisan napas akunya Bang sebelum nyampe ke sana. Trus nanti apa Aidil harus membopong Ibu Sri kemari atau mengajaknya jalan-jalan malam? Nasib baik jika suaminya mau mengantar Ibu Sri langsung kemari,” dia menyerocos cepat hampir tak ada koma.

Dalam menahan sakit, Aini mau tak mau tertawa pelan. Kepanikan membuat semua orang tak bisa berpikir jernih.

“Bang, aku gak nemu panci aluminium yang besar untuk menjerang air, apa yang ini bisa? Ukurannya cukup besar.” Saif muncul dengan kuali tanah besar di tangan. Begitu besarnya kuali itu hingga nyaris menutupi perut dan dadanya.

Aini mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa, kedua tangannya masih memegangi perut.

“Kalau pake itu hingga keponakanku bisa tengkurap juga gak bakal mendidih airmu, Kak!” ucap Aidil gusar. Bagaimana tidak, kuali tanah yang dibawa Saif adalah kuali yang sudah dimuseumkan sejak ibunya masih ada, tak pernah dipakai lagi karena dianggap boros waktu dan boros bahan bakar. Ketebalan kuali itu lebih dari 2 inchi. Entah bagaimana caranya Saif bisa menemukan ‘kuali Fir’aun merebus Siti Masyithah’ itu.

Anjas mengelus dada, “Aidil pinjam motor Bang Fadlan sana…”

“Tengah-tengah malam begini gedor rumah orang?”

“Lakukan saja, keluarga Fadlan bukan orang lain lagi bagi kita.”

Untuk kedua kalinya Aidil berlari pergi. Dia bersyukur pernah belajar mengendarai motor kopling dari almarhum pacarnya dulu, motor tua Fadlan pakai kopling.

“Dik Saif, pakai panci mengukus saja. Tersangkut di dinding dapur sebelah timur.” Aini berkata pada Saif. “Gak usah banyak, isi setengah panci saja.”

Sambil kepayahan menenteng kuali tanah, Saif meninggalkan pintu kamar.

“Duh, kita salah mengizinkan Asnia pulang ke rumah mertuanya. “Anjas mulai menyiapkan beberapa helai kain di dekat Aini yang tampak kian kepayahan. Selanjutnya dia mulai mengorek-ngorek keranjang perlengkapan bayi yang sudah dipersiapkan di sudut kamar.

“Jangan dipikirkan lagi…” Aini menarik napas, “Kalau Aidil balik nanti… suruh pergi ke rumah, kasih tahu Ummi.”

“Aidil di sini.”

“Ya Tuhan, Dek! Kenapa belum pergi juga, ini kakakmu sudah…”

“Bang Fadlan yang jemput, udah jalan tuh,” Aidil memotong kalimat abangnya.

“Sudah waktunya ya, Nak Anjas?”

Aidil tidak balik sendiri, dia bersama ibunya Fadlan.

“Iya, Makcik… lebih cepat dari taksiran Ibu Sri ternyata,” Anjas merasa sedikit lega dengan kedatangan ibunya Fadlan yang sudah bagai ibu juga baginya.

“Nak Aidil, ambil ember ya. Airnya sudah dijerang? Kalau sudah, satu ember isi air hangat satunya lagi biarkan kosong.” Dengan cekatan, Makcik Munah menghampiri Aini, mengatur tidurnya sambil memberi wejangan-wejangan mendamaikan khas seorang ibu.

Anjas bernapas lega. Istrinya sudah ditemani orang yang seharusnya. Di pintu, Aidil berkaca-kaca. Mendadak dia ingat ibunya. Jika masih ada, ibunyalah yang pasti sekarang berada di posisi Makcik Munah. Semasa hidup, ibunya tak pernah melewati waktu menanti kelahiran cucu, tidak satu kali pun.

Anjas beringsut menuju pintu, memandang adiknya dengan tatapan haru lalu tersenyum, “Berani pergi ke rumah Tok Imam? Minta umminya Kak Aini kemari.”

Aidil mengangguk, “Iya, Aidil periksa Kak Saif dulu mau lihat apa airnya sudah mendidih sekalian siapin embernya.”

“Biar Bang Anjas yang siapkan ember sama airnya.”

Tanpa banyak menunggu, Aidil segera menuju pintu depan. Rumah kakak iparnya berada di perbatasan kampung mereka, berdekatan surau. Jalan kaki di malam buta sekurang-kurangnya menghabiskan waktu delapan sampai sepuluh menit.

Tepat ketika Aidil meninggalkan pekarangan, motor Fadlan masuk  dari arah berlawanan dengan arah tujuannya. Sepertinya pria itu mengebut pulang pergi ke rumah Bidan Sri. Fadlan mengklakson satu kali. “Dek, kemana?” motornya berhenti di pintu pagar.

“Rumah Tok Imam.”

“Sama Bang Fadlan aja biar cepet.”

Aidil menunggu.

Ibu Sri -wanita lingkungan 40-an yang sudah praktek sebagai bidan sejak dirinya lulus Program Pendidikan Bidan C (PPB-C) dan menjadi bidan bagi beberapa desa di sekitar tempat prakteknya termasuk desa pasiennya kali ini-  segera turun dari boncengan Fadlan, tergopoh-gopoh dengan tas peralatan di tangan dia segera melesat ke rumah.

Fadlan memutar motor, menunggu Aidil naik ke boncengan lalu melesat pergi lagi.

.

.

Ibu Sri masuk ke kamar dan langsung disambut sukacita oleh mereka di dalamnya. Malam ini, untuk yang tak terhitung kalinya seorang anak manusia akan memperdengarkan suara tangis pertama di tangannya. Insya Allah.

“Ketubannya baru saja pecah…” Makcik Munah memberitahu.

“Kontraksinya bagus berarti, insya Allah mudah dan bisa cepat,” ujar Ibu Sri sambil meletakkan tasnya.

Ibu Sri segera memainkan perannya, membuka tas peralatan tepat dalam jarak yang mudah dijangkau lalu fokus ke pasiennya. Setelah menganalisa kekuatan his sang bayi dan memastikan kalau Aini cukup kuat untuk mendorong bayinya keluar, dia mulai memberi aba-aba.

Selama puluhan menit kemudian, kalimat-kalimat yang terdengar dari dalam kamar itu didominasi oleh ‘tarik napas – dorong – tarik napas – dorong – iya bagus – tarik napas – dorong – tarik napas – dorong – iya bagus’ yang keluar dari mulut Bidan Sri. Selama proses itu berlangsung, Makcik Munah setia menjadi asisten Bidan Sri. Dan Anjas, meski takut-takut dia tidak beranjak dari sisi istrinya. Lengan kanan Aini berada dalam genggamannya sejak Bidan Sri mulai mengeluarkan aba-aba. Dia memberi spirit kepada istrinya lewat genggamannya.

.

.

Aidil menggumamkan hamdallah ketika tangisan bayi menggema dari dalam kamar. Di sampingnya, Saif dan Fadlan juga tersenyum lega. Tok Imam yang ikut menunggu bersama mereka di luar kamar langsung berdiri, menadahkan tangan, berkomat-kamit sejenak lalu melakukan sujud syukur. Aidil tahu, ini bukan cucu pertama Tok Imam. Aini adalah anak bungsu, satu-satunya perempuan, saudara-saudara lelakinya yang lebih tua sudah lebih dulu memberi cucu buat Tok Imam. Tapi melihat ekspresi bahagia Tok Imam, Aidil tahu, kakak iparnya adalah anak kesayangan, dan tentu saja keponakannya yang ini akan menjadi cucu kesayangan pula.

Fadlan menepuk bahu bapak mertua temannya, “Selamat, Tok.”

Tok Imam tersenyum dan balas menepuk bahu Fadlan.

“Keponakan keduamu, Dil…” Saif berujar pada adiknya. “Selamat…”

Ummi keluar, “Perempuan, Bah,” ucap beliau pada sang suami sambil tersenyum lebar. “Beratnya tiga kilo lebih…”

“Tiga koma tujuh kilo.” Bidan Sri berseru dari dalam kamar. Suara tangisan bayi mulai mereda.

Alhamdulilah…” Semua orang menggumam.

Lalu suara Anjas yang meng-adzan-kan anaknya samar-samar terdengar dari kamar. Semuanya diam dalam kesyahduan.

“Sudah punya nama?” Saif membuka percakapan setelah suara Anjas tak terdengar lagi.

“Sudah-sudah, kami sudah mempersiapkan dua nama, laki dan perempuan,” Tok Imam menjawab cepat sambil bertatapan dengan istrinya yang masih sumringah sejak tadi. “Karena yang lahir perempuan, maka namanya mesti Najwa Azzahra. Tidak ada tawar menawar…”

Aidil tersenyum, “Bagus, Tok. Saya akan jadi orang pertama yang protes jika nama itu tak jadi dipakai.”

“Dan saya akan jadi orang kedua,” Saif ikut-ikutan.

Tok Imam terkekeh dan menjabat tanganSaif lalu tangan adik menantunya. “Bagus, bagus… Omong-omong, sebelum balik ke kota nanti tolong lihat gigi Atok, ada yang sudah goyang, tiap makan asyik geser kesana-kemari.”

“Wah, Tok… saya belum lulus, belum bisa ngobatin. Nanti saya kawani ke Puskesmas ya sebelum balik, dicabut saja biar gak lasak lagi di dalam mulut,” Aidil memberitahu.

Lalu suara Anjas terdengar dari kamar, “Apa tak ada yang mau melihat Najwa?” ternyata dari tadi dia menyimak obrolan yang terjadi di luar kamar sehingga bisa tahu nama yang diberikan bapak mertua buat anaknya.

Dan semua orang berebutan masuk kamar. Tok Imam unggul lebih dulu setelah mendorong badan istrinya yang menghalangi pintu. Aidil masuk kemudian setelah nyaris terjepit di pintu kamar karena Saif juga memaksa masuk disaat bersamaan, badan mereka memenuhi pintu yang lebarnya tidak seberapa itu dan baru bebas setelah Saif mengalah mundur. Fadlan yang sadar dirinya bukan prioritas mengalah masuk paling akhir.

Ah, jika ada cinta yang begitu besar dalam setiap kelahiran, maka tentu tak akan pernah ada kelahiran yang tidak diharapkan. Tak ada bayi yang terbuang atau ditemukan mati, tak ada bayi yang diletakkan di pintu-pintu panti asuhan, dicampakkan di tank sampah. Sungguh, jika cinta yang menyertai setiap kelahiran, tak ada anak yang bukan permata.

 

Mid May 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com