music old new

a NAYAFNI note

#####################################################

Bayangkan jika peradaban kita tidak mengenal nyanyian, tidak mengenal irama. Bayangkan jika dunia tanpa musik, tak ada lagu. Apa yang terjadi pada dunia? Apa yang terjadi pada manusia? Tentu, galau time akan terasa berkali-kali lipat lebih sakit karena tak ada lagu pengobat galau. Bar atau klub malam tentu akan sesepi perkuburan, dan kamar mandi hanya akan terdengar kecipak air tanpa siulan atau teriakan sumbang lirik-lirik lagu favorit. Ah, dunia tanpa lagu adalah pilem horor, Teman.

 

Jika aku yang diminta untuk membayangkannya, maka tak ada lain yang terbayangkan selain bahwa orang-orang seperti Adele, Rihanna, Avril Lavigne, Kelly Clarkson, Beyonce, Mariah Carey, Utada Hikaru, Ayumi Hamasaki and others hanya akan jadi ibu rumah tangga saja yang kerjanya nyikat ubin, nguras bak mandi, cuci piring, cuci baju, menyetrika, membesarkan anak dan meninabobokan suami kala malam atau sesekali terlibat adu mulut dengan tetangga karena memperdebatkan hal sepele semisal ‘Mana lebih penting untuk disilikonkan lebih dulu? Payudara atau bokong?’. Begitu juga orang-orang seperti Bruno Mars, Jason Mraz, Justin Timberlake, Enrique Iglesias, Jay Z, Adam Levine etc hanya akan jadi orang biasa-biasa saja yang tidak pernah kita kenal sebagai pencetak hits hingga hari ini.

Lalu jika tak ada musik tak ada lagu, apa yang terjadi pada orang-orang seperti Ariel, Agnes Monica, Julia Perez atau Anggun atau Afgan? Biar kuberitahu apa yang terjadi pada mereka menurut hematku. Ehem, jika tak ada musik, Ariel tak akan kita kenal dan kasus video mesumnya juga tak akan pernah ada, meskipun ada tapi kita tak akan pernah tahu dan tak akan  mau tahu, karena jika tak ada musik maka Ariel tentu tak akan terkenal untuk dikulik dan dibesar-besarkan masalah pribadinya. Agnes kemungkinan besar cuma jadi pemain film saja, kita tak akan pernah tahu lagu-lagunya dan dia tidak akan jadi juri Indonesian Idol apalagi punya niat go internasional lewat karir musiknya. Jika tak ada musik, lagu Belah Duren milik Julia Perez tidak akan pernah ada untuk kunyanyikan. Dan Anggun? Mungkin tak akan pernah kita dengar namanya dan tak akan pernah menetap di Perancis. Lalu Afgan –meskipun cakep- hanya akan jadi orang biasa-biasa saja karena musiklah yang mengenalkannya pertama kali kepada Indonesia.

Okey, kita hentikan bualan gak jelas ini.

Apa itu musik? Om Google bilang (Ehem, sudah dicampur dengan pikiran penulis sih, hehehe), musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung ritme, lagu dan keharmonisan bunyi yang dihasilkan dari alat-alat pencetus bunyian. Musik adalah sebuah fenomena yang sangat unik dan salah satu ledakan besar dalam bidang seni yang dihasilkan oleh satu atau beberapa alat musik.

Mari kita kembali ke line yang dipilih, 7 SONGS 7 VOICES. Tentu kita sering mendapati beberapa lagu yang pernah populer suatu waktu dulu lalu dinyanyikan kembali pada satu masa kemudian. Yap, begitu banyak lagu yang dinyanyikan ulang, diaransemen ulang. Prinsip me-remake lagu adalah membuat lagu yang dulu pernah populer lebih baik dari sebelumnya. Tentu itu prinsipnya. Tak ada mereka yang me-remake lagu dengan niat agar lebih jelek dari sebelumnya. Di antara bejibun lagu yang dinyanyikan ulang di negeri ini, kali ini kita akan ‘menggunjingkan’ 7 lagu saja dulu. Apa saja 7 lagu beruntung –karena digunjingkan kita- itu, lets cekibrot…!

 1.     YOGYAKARTA [KLa Project vs Ungu]

Sejujurnya, aku belum lama mengenal lagu bagus ini. Dulu ketika usia belasan mungkin lagu ini pernah melintas di kupingku namun tidak benar-benar kudengar. Pertama kali aku jatuh cinta dengan lagu Yogyakarta adalah ketika mengikuti program Indonesian Idol season paling akhir kemarin, lupa siapa yang membawakannya di program itu. Kemudian aku mengunduhnya di internet, Alhamdulillah dapat versi aslinya milik KLa Project. Begitu indah, begitu harmoni. Aku langsung jatuh hati. Cinta pada pendengaran pertama, hihihi.

Lagu Yogyakarta ini adalah salah satu hits album kedua KLa Project yang rilis 1991 (ada yang belum lahir tahun segitu? Kita sama #plak). Lagu ini sepertinya diciptakan bersama oleh KLa Project dan disebut-sebut sebagai lagu monumental bagi Katon Bagaskara Cs. Aku selalu suka suara Katon, bukan tipe suara yang cepat membuat kuping bosan. Musiknya begitu apik, melenakan. Aku suka bait-bait pertamanya sebelum masuk refrain.

Pulang ke kotamu, ada setangkup harum dalam rindu… Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima…

Merinding euy. Jika lagu Yogyakarta ini dijejalkan orang ke kupingku berulang kali dan berulang kali dan berulang kali lagi, aku yakin tidak akan menggepruk orang itu. Begitulah saking sukanya aku akan lagu ini.

Lalu tiba-tiba aku dikasih Yogyakarta versi Ungu. Kaget. Sebelum mengklik play di playerku, diam-diam aku berharap versi recycle oleh band sebesar Ungu akan bagus dan luar biasa. Versi baru ini sendiri termuat dalam album ‘Tribute to KLa Project’ yang rilis tahun 2011, ada sepuluh lagu KLa Project yang dinyanyikan orang lain di album ini. Sepuluh lagu itu tentulah yang pernah hits dari KLa dan digilai para KLanis (sebutan untuk fanatik KLa).

Jujur, aku kecewa dengan Yogyakarta versi Ungu, gak ada gregetnya. Gak bikin sehelai pun bulu di tubuhku berdiri. Hambar, bagai sayur kurang garam, bagai rujak kurang pedas, bagai kopi tanpa gula. Begitulah.

Maka aku bilang (maksudku, kupingku bilang), Ungu gagal me-recycle lagu Yogyakarta. Maafku jika ada fanatik Ungu yang baca tulisan ini.

So, KLa Project versus Ungu… jempol tegak untuk KLa dan jempol terbalik untuk Pasha Cs. Kekekeke.

2.     IJINKAN AKU MENYAYANGIMU [Iwan Fals vs Terry]

Masih ingat sinetron CINCIN? Yap, benar, sinema elektronik yang dibintangi dara jelita yang sekarang berpasangan sama duda keren mantan suami Ikke Nurjanah, she is Ririn Dwi Aryanti. Ah, beruntungnya Aldi Bragi bisa dapat perawan meski dirinya sudah tidak lagi perjaka. Kekeke. Aku tak sering ngikut gosip, apa mereka masih bersama? Sudah merit? Semoga iya.

Kalau masih ingat CINCIN tentu masih ingat juga sama soundtrack-nya yang dinyanyikan Om Iwan Fals dong!

Sayangku… ho wo… o… o…

Pertama kali kenal lagu ini ya dari sinetron itu. Soundtrack-nya bagus, sinetronnya juga lumayan. Gak rugilah mantengin layar tivi lebih dari satu jam setiap malamnya.

Ijinkan Aku Menyayangimu diciptakan oleh Tante Rieka Roeslan dan rilis tahun 2005 dalam album Om Iwan yang bertajuk ‘Iwan Fals in Love’. Kenapa tajuk albumnya seperti itu? Tak lain dan tak bukan karena 16 lagu dalam album tersebut kesemuanya bertemakan cinta, beda dengan album-album Om Iwan sebelumnya yang kebanyakan bertema politik dalam negeri kita tercinta, Indonesia.

Indonesia patut bangga punya musisi sekaliber Om Iwan Fals. Beliau adalah salah satu legenda musik tanah air. Lagu-lagunya kuat, berani, diingat dan dinyanyikan sepanjang masa. Sebut saja Bento, Bongkar, Guru Oemar Bakrie dan banyak lagi. Aku pribadi suka karakter suara beliau, suka lirik-lirik tajam dan kritis dalam banyak lagunya. Luar biasa. Begitu juga dengan lagu Ijinkan Aku Menyayangimu ini. Aku langsung jatuh cinta ketika mendengar pertama kali dan hingga kini masih sering kuputar lewat hape.

Kemudian, tahun 2012 kemarin secara tidak sengaja aku melewati sebuah kafé dimana terdapat ruang karaoke juga. Sayup-sayup aku mendengar beberapa cewek menyanyikan lagu ini secara berjamaah. Berselang hari kemudian, aku kembali mendengar lagu ini di pemutar musik dalam toko yang juga secara kebetulan kulewati. Saat itu aku bertanya dalam hati, kenapa yang nyanyi malah cewek ya? Dan suara si penyanyi cewek ini rasa-rasa kukenal. Lalu aku bicara dengan mbakku, tak lama aku dapat Ijinkan Aku Menyayangimu versi Terry. Iya, ternyata yang nyanyi adalah si cantik Terry, bukan ikan teri. Ternyata, versi Terry ini sudah rilis sejak tahun 2011, aku telat tahu.

Bagus. Salut besar sama Terry yang berani ngambil resiko me-recycle lagu milik penyanyi yang amat sangat hebat dan berkarakter seperti Om Iwan Fals. Gak mudah loh menyanyikan kembali lagu yang pernah dipopulerkan penyanyi kayak Om Iwan Fals. Aku bilang, sama gak mudahnya dengan menggemukkan badan bagi orang kurus dan menguruskan badan bagi orang gemuk. Begitu kira-kira.

Apakah Terry berhasil? Tergantung pada siapa kita bertanya sih aku bilang. Aku pribadi suka. Versinya juga bersanding dengan versi Om Iwan di hapeku. Remaja-remaja baru gede sekarang pasti kebanyakan suka yang versi Terry, terlebih remaja cewek. Tapi mereka-mereka yang agak atau sudah dewasa tentu lebih suka versi Om Iwan. Aku, sedikit lebih suka versi Terry dan lebih banyak suka sama versi asli milik Om Iwan. Hehehehe…

So, Iwan Fals versus Terry… menurutku jempol deh buat keduanya. Jangan protes ya, karena kupingku bilang keduanya punya cengkok indah masing-masing. Terlebih lagi, aku sudah suka Terry sejak dia muncul pertama kali dengan lagu recycle Janji Manis. Heuh, ada yang setuju? Terry is Miss Recycle. Lagu yang udah dinyanyikan ulang olehnya lebih dari satu. Baru-baru ini dia mempermak lagu Rumor kan? Padahal tuh lagu masih terbilang baru, sekali lagi… Terry berani ngambil resiko.

3.     ISABELLA [Search vs ST12]

Search, grup band legendaris Malaysia. Tanyakan pada mama-papa atau om-tante, setenar apakah Search pada jamannya dulu? Luar biasa. Band ini lahir tahun 1981 (Aku entah berada dimana tahun segitu) dan menurut infoku masih aktif hingga kini (semoga benar) meski sempat vakum di tengah karir. Lagu Isabella sendiri masuk dalam album mereka yang bertajuk ‘Fenomena’ yang rilis tahun 1989. Waow, jadulnya. Liriknya ditulis oleh Bob Lokman dan musiknya digubah oleh Search sendiri. Seperti kebanyakan lagu di Malaysia pada jaman itu, Isabella juga mempunyai lirik yang demikian dalamnya, demikian lirisnya. Sepertinya pencipta lagu Malaysia punya kesamaan visi deh dalam nyiptain lagu pada zaman itu. Slow rock, itu genre yang diusung di sana, dan genre tersebut masih bertahan hingga sekarang kayaknya.

Isabella bisa dibilang lagu paling fenomenal dari Search. Bila ada yang bertanya, kenal Search gak? Pasti rata-rata orang akan berkata, “Yang nyanyi lagu Isabella, kan?” Nah, begitulah saking fenomenalnya lagu ini. Aku tak ingat kapan pertama kali kenal Isabella, otak anak ingusan tidaklah begitu baik dalam hal mengingat. Tapi aku ingat, bagaimana kakak dan abangku begitu semangat menyanyikan lagu ini, masa itu aku masih begitu belianya, masih suka pipis sembarangan di jalan. Hehehehe. Bagian refrain dari Isabella-lah yang amat sangat kunantikan jika kakak atau abangku mulai unjuk gigi…

Dia… Isabella… lambang cinta… yang lara… terpi…sah kerana… adat yang berbeza… cinta gu…gur bersama… daun-daun… kekeringan…

Ketika mendengar versi Search sebelum nulis review ini, aku bertanya-tanya sendiri, apa kerongkongan Amy gak sakit ya ngeluarin suara kayak gitu? Kalau Amy ada saat itu, dia akan menjawab : Dengan suare macam begitulah saye mengumpulkan ringgit. You tau ape, dengar sajalah tak usah banyak cakap…!

Isabella versi ST12 muncul tahun 2010. Jujur aku kaget ketika pertama kali dengar lagu ini dibawa Charly bareng bandnya. Benar-benar beda dengan versi aslinya, amat sangat beda. Jika Search membawakannya dengan mendayu-dayu dan terkesan mirisnya lewat genre slow rock, maka ST12 menyanyikannya dengan semangat (menurutku malah berkesan ceria, hilang mirisnya) lewat genre pop melayu (?). Perbandingannya, bila mendengar versi Search aku akan merasa sedih dan meski ikut nyanyi pasti dengan mimik bagai suami baru mati istri, maka ketika versi ST12 diputar aku serasa ingin bergoyang sambil ikut menyanyikan Isabella sambil ketawa-ketawa kesenangan. Intinya, Isabella versi Search meski jadul tapi esensi dari lagunya nyampe banget sedang Isabella versi ST12 meski aransemennya bagus dan modern namun kehilangan aura ‘Isabella lambang cinta lara’. Begitulah.

So, kupingku bilang, Search versus ST12… sama-sama lumayanlah buat menghibur kuping. Eh, tapi entah kenapa kupingku cepat bosan sama lagu-lagu ST12. Bosan bukan berarti lagunya gak bagus loh.😀

4.     KISAH CINTAKU [Chrisye vs Peterpan]

Aku masih suka Chrisye (Alm) hingga sekarang. Dan aku tak pernah tidak suka Ariel. Yah, memang ketika kasus mesumnya Ariel aku sempat kecewa sama ayah keren satu itu, tapi karena udah pernah kecewa sebelumnya ketika dia bikin bunting Sarah Amelia padahal belum nikah, jadi ya gak terlalu kaget dan gak terlalu kecewa juga.

Balik ke lagu. Kisah Cintaku diciptakan oleh Tito Soemarsono dan menjadi hits dalam album Chrisye bertajuk ‘Jumpa Pertama’ yang rilis pada tahun 1988 (ada yang lahir tahun segitu? :D)

Aku suka banyak lagu-lagu Chrisye, seperti halnya aku juga suka banyak lagu-lagu Ariel baik ketika masih bersama Peterpan atau ketika sekarang bersama Noah. Chrisye membawakan lagu Kisah Cintaku demikian bagusnya pada masanya dan Ariel menyanyikan lagu yang sama demikian bagusnya juga pada masanya.

Seperti Iwan Fals, Chrisye juga pantas disebut legenda musik Indonesia. Aku ingat, dulu ketika kecil, aku akan berkomentar setiap kali melihat Chrisye bernyanyi di tivi, “Bapak ini suaranya bagus banget, tapi kalau jumpa beneran aku gak berani ngangkat muka…” hehehe, jujur ketika masih kecil, laki-laki yang manjangin rambut (apalagi jika usianya tak muda lagi) punya aura hitam di mataku. Baru ketika usiaku belasan hal semacam itu –maksudku laki-laki yang manjangin rambut- tidak lagi mempengaruhiku. Maka aku baik-baik saja ketika melihat Anang atau Ahmad Dhani di tivi.

Chrisye termasuk musisi yang lagu-lagunya paling banyak di-remake. Beliau juga termasuk penyanyi yang punya karakter kuat. Bisa dibilang, lagu-lagu Almarhum Chrisye adalah lagu sepanjang masa.

Aku ingat ketika SMP, Guru Kesenian kami membagikan beberapa not lagu untuk dimainkan dengan recorder sebagai nilai ulangan mata ajar Kesenian di kelasku. Di antara not itu, salah satunya lagu Lilin-lilin Kecil milik Chrisye. Aku belum tahu seperti apa lagunya saat itu, tapi ketika kumainkan notnya dengan recorderku saat mengetes not mana yang indah yang akan kupilih untuk diuji, aku langsung jatuh cinta pada Lilin-lilin Kecil. Aku bilang, lagu Chrisye tak ada yang bernilai 6 dari sepuluh, semua di atas 6, beberapa malah bernilai 10 di kupingku, salah satu yang bernilai 10 ya Kisah Cintaku ini. Tapi jangan salah, berkata demikian bukan berarti aku tahu semua lagunya, jujur aku tidak.

Versi Peterpan (minus Andika dan Indra) muncul ke blantika musik Indonesia pada tahun 2008. Aku suka klipnya, ah… nyatanya aku suka semua klip lagu-lagu Ariel, hehehe… Aku suka suara Ariel, amat sangat. Vokalis band yang suaranya paling cetar menurutku ya ayah si Aleya ini, meski ada beberapa temenku yang bilang artikulasinya Ariel kurang jelas di part-part power dan ritme cepat. Tapi gak masalah, bagiku dia vokalis band yang suaranya paling cetar, ngalahin Kaka Slank malah di kupingku (Slankers maapin yaa… aku juga suka Slank kok. :D)

Aransemen Peterpan untuk Kisah Cintaku aku bilang perfecto mulai dari ketukan pertama hingga ketukan penghabisan. Dan tak ada cela dalam suara Ariel, nikmati deh!

Di malam yang sesunyi ini… aku sendiri, tiada yang menemani…

So, Chrisye versus Peterpan… tentu saja aku lebih suka versi Peterpan meski versi Chrisye tidak membuat kupingku nolak atau minta pause.

 5.     SELAMANYA CINTA [Yana Julio vs D’Cinnamons]

Versi asli lagu ini sempat menjadi hits di tahun 1995, diciptakan dan dibawakan oleh Yana Julio, solois sekaligus personil vokal grup Elfa’s Singers. Durasi lagunya cukup panjang, demikian juga dengan musik intronya. Warna vokal Yana Julio sebenarnya sangat menyenangkan, relaxing and comforting. Kalo sekarang, mungkin sejenis dengan Afgan, Vidi Aldiano atau Cakra Khan. Cuman aja, mendengarkan lagu ini di masa sekarang, jadi terasa kalo lagu ini “era 90-an banget”. Musiknya nggak bisa nggak, selalu mengingatkan saya pada lagu-lagu lawas Titi DJ yang hits di era yang sama🙂

Lagu ini akhirnya terdengar lagi di tahun 2005, sebagai lagu tema film layar lebar Cintapuccino. Kalo saya nggak salah, lagu ini juga yang akhirnya melambungkan nama D’Cinnamons, trio akustik gitar asal Bandung, yang sumpah waktu itu saya nggak pernah tau sebelumnya😀 Lirik yang romantis, suara khas Dodo – main vocal D’Cinnamons – ditambah iringan musik akustik yang easy listening, membuat lagu ini semakin manis, dan nggak tau kenapa rasanya girly banget😀

Both are highly recommended. I love both. Tapi kalo misalnya dipaksa memilih, maka saya akan memilih versi D’Cinnamons. Mungkin karena rasa girly tadi. D’Cinnamons mampu membawakan lagu ini hingga mewakili keseluruhan perasaan dalam film Cintapuccino. Bagi yang belum tau, silakan nonton film yang membawa Miller masuk ke Indonesia ini, dan rasakan sensasi ke-cewek-an dalam ceritanya. Thanks to Om Yana buat lirik yang romantis, tapi suara Dodo dan musik akustik D’Cinnamons betul-betul unsur yang melengkapi lagu ini menjadi paket slow mellow marshmallow😀

6.     SALAHKAH AKU TERLALU MENCINTAIMU [Ratu vs Pasto feat Milka]

Kita semua pasti ingat berapa kali duo milik Maia Estianty berganti formasi hingga akhirnya berganti nama menjadi Duo Maia. Ratu pertama kali muncul tahun 2003, dengan single perdana Aku Baik-Baik Saja, kemudian menyusul Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu. Dua lagu ciptaan Maia ini memiliki kesamaan dalam hal lirik dan musik. Vokal khas yang sengau milik Pinkan Mambo rasanya menambah kesan mellow pada dua lagu tersebut. Kalo boleh jujur, saya paling suka formasi awal Ratu, baik dari style performance, warna musik, ataupun jenis suara vokalisnya. Sayangnya, Ratu nggak bertahan lama.

Nggak heran kalo lagu-lagu Ratu “diwariskan” kepada Pasto, karena duo ini bisa dibilang anak asuh Maia Estianty. Sama dengan duo milik “ibu”nya, Pasto juga sempat beberapa kali bongkar pasang personil. Bahkan menurut sumber terpercaya (om Google berkolaborasi dengan tante Wikipedia), sekarang nama Pasto diubah menjadi Pasto-1 setelah pergantian personil yang terakhir pada 2011. Pasto pertama kali me-recycle lagu milik Ratu formasi Maia-Mulan yang berjudul Aku Pasti Kembali. Salahkah Aku Mencintaimu baru di-recycle setelah nama Pasto resmi menjadi Pasto-1. Versi daur ulang ini dibawakan Pasto bersama Milka, seorang new comer yang – maaf – saya nggak pernah tau dia siapa😀 Ada yang tau siapa itu Milka?

Saya suka lagu-lagu Pasto formasi Rayen-Meltho seperti Jujur Aku Tak Sanggup dan Tanya Hati. Tapi untuk lagu satu ini, saya lebih suka versi asli punya Ratu. Ini penilaian subyektif, buat saya versi Ratu lebih klik dan nyaman di telinga. Mungkin ganti personil juga ada pengaruhnya, beda orang beda suara kan? Saya suka lirik lagu Penantian Rahasia, yang Pasto bawakan dalam formasi baru, tapi tetep aja rasanya nggak se-menggigit Jujur Aku Tak Sanggup dan Tanya Hati. Dan lagi, yang membuat aneh dari versi recycle Pasto adalah, kenapa juga lagu ini harus dibawakan featuring alias duet? Rasanya mengganggu makna lagu. Sesuai liriknya, lagu ini menggambarkan perasaan seseorang yang terlalu mencintai kekasihnya sampe nggak rela ditinggalkan, bukannya perasaan dua atau sepasang orang. Bukan berarti versi yang dibawakan Pasto nggak bagus ya.. Sekian.

7.     FIRASAT [Marcell vs Raisa]

Ingat lagu Semusim punya Marcell yang hits di tahun 2003? Kalo iya, pasti juga ingat Jangan Pernah Berubah, dan Firasat. Ketiga lagu ini terangkum dalam album berjudul “Marcell”, yang menandai masuknya Marcell ke industri musik Indonesia setelah sebelumnya menjadi rekan duet Shanty di lagu Hanya Memuji. Lagu-lagu di album ini menjadi hits single dalam waktu yang cukup lama, secara mengejutkan, Marcellius Siahaan muncul sebagai “rival sebanding” buat Glenn Fredly. Firasat diciptakan oleh Dewi “Dee” Lestari yang waktu itu masih berstatus sebagai istri Marcell.

Sekedar info, pada tahun 2008, lagu ini sempat di-recycle oleh penciptanya dalam album Rectoverso, berdampingan dengan antologi berjudul sama yang memuat 11 judul cerita pendek yang notabene merupakan judul lagu di album tersebut. Maka pada 2013 ini, ketika antologi Rectoverso dilayar lebarkan sebagai omnibus, dengan Firasat sebagai salah satu cerita, lagu ini kembali di-daur ulang sebagai lagu tema, bersama 4 lagu lain dari album Rectoverso. Si cantik pendatang baru, Raisa Andriani dipilih untuk membawakan versi recycle terbaru. Komposisi musiknya berbeda jauh dengan versi Marcell, suara piano yang dominan disesuaikan dengan karakter Raisa yang cenderung ke jazz.

Saya cinta Raisa dengan segala kelebihan dan kelebihannya😀 Firasat versi Raisa sangat bagus, just like how she always sings, tapi mungkin, sepertinya, kelihatannya, saya lebih suka versi Marcell. Seandainya dua versi itu diputar berurutan, maka yang lebih menarik pendengaran saya adalah yang versi Marcell, tanpa saya harus skip versi Raisa. Jadi intinya, saya suka dua-duanya. Saya nggak tau harus vote yang mana, versi Marcell lebih bagus, “lebih Firasat”, tapi versi Raisa lebih manis. Silakan dengarkan sendiri agar paham maksud saya🙂

Lagu-lagu recycle, remake, daur ulang, tetaplah sebuah karya. Kita sebagai penikmat musik tidak bisa men-cap seorang musisi yang menyanyikan kembali sebuah lagu lama sebagai orang yang tidak kreatif. Aransemen musik yang sama sekali berbeda pada lagu remake membutuhkan kreativitas, hal itu juga menunjukkan bahwa industri musik mengalami perubahan dan perkembangan, bahwa istilah generasi juga berlaku di sana. Kalau mau menilik lebih jauh dengan mengesampingkan sisi komersil, remake sebuah lagu bisa jadi merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap penyanyi asli atau terdahulu. Sebut saja album-album bertajuk “A Tribute to…”, “Salute to…”, “An Album : Dedicated to…” dan sejenisnya yang berisi lagu-lagu versi remake. Kalau kita perhatikan, musisi yang karyanya di-cover dalam album-album tersebut bukanlah musisi tanpa nama besar. Dan bukankah lagu-lagu remake itu menjaga kelestarian karya sekaligus nama besar sang musisi? Mungkin itu sebabnya nama The Beatles tak pernah lekang oleh masa, lagu-lagu mereka masuk dalam rekor dunia sebagai lagu yang di-remake terbanyak, salah satunya adalah Yesterday, yang kabarnya telah dinyanyikan ulang sebanyak 7 juta kali.

Bicara tentang generasi, maka kita adalah “saksi hidup” berapa banyak karya hebat yang everlasting turun temurun karena dinyanyikan ulang. Beberapa diantaranya yang sudah kita gunjingkan di atas tadi. Apa lagu remake dalam catatan kalian?🙂

 

NAYAFNI