Selayaknya perjumpaan pertama, tak etis rasanya bila tidak memperkenalkan diri. Namaku Zaenudin Bangun Setiawan. Kadang dipanggil Bangun, Zae, Zaen atau yang sekarang paling populer dipanggil Udin (Apa kerennya Udin ???) dan di sini aku berharap kalian memanggilku Kang Zaen (Lebih keren kan? hahaha). Lahir dengan selamat di kota Subang pada hari Kamis tanggal 03 Januari 1991. Tak ada yang spesial sedikitpun dariku kecuali mungkin keanehan yang aku miliki. Rumah tak punya keluargapun tak ada. Intinya aku produk keluarga broken home. Sekarang aktifitasku adalah sebagai karyawan Perusahaan Kayu di daerah Wahau Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ceritanya panjang dan penuh liku sampai akhirnya aku terdampar di pulau terbesar di Indonesia ini.
Ok. Terlalu panjang lebar. Akhir kata, saya ucapkan selamat menikmati tulisan yang tak sempurna ini. Jangan lupa isi kolom komen. Sebagai penyemangatku untuk terus menulis kedepanya. Yang jujur ya komennya ! hehehe
###### @ #######

Di sudut ruangan ini aku duduk sendiri. Merasakan keterasingan, merasakan kesepian, merasakan kehampaan. Entah dimulai kapan aku tak tahu pasti. Yang kutahu bila rasa itu datang, sakitnya menusuk sampai ulu hati. Perih. Teramat sangat perih. Tidak ada minum, tidak ada rokok, pun tidak ada pil seperti biasa untuk mengobati rasa sakitku. Lagu LC pun tak ada berkumandang melatarbelakangi suasana. Gelap. Hening.
Saat ini aku hanya ingin merasakan totalnya rasa sakit. Terkadang aku jambak rambut ini. Rambut yang sama sekali botak. Aku remas kepala ini. Aku pukul apa yang bisa kupukul. Inginnya aku berteriak, tapi keheningan ini seolah membekap mulut. Terasa dikunci. Terlalu lemah untukku bergumam apalagi berteriak.
Andai saja aku punya seorang sahabat, sahabat yang bisa menjadi penyanggaku di saat aku terjatuh, sahabat yang ikut tersenyum di saat aku bahagia. Mungkin beban ini akan sedikit berkurang, atau malah sirna. Tapi ahh… Siapa pula yang ingin bersahabat denganku? Orang aneh yang miskin. Miskin harta, miskin cinta. Hanya kesibukanlah yang menjadi pengalihannya. Kesibukan yang kadang membawa masalah baru. Hmmm . . . Hidup memang takkan pernah bebas dari masalah. Tapi masalah yang seperti apa kita takan pernah tahu. Hanya orang mati yang tak dikunjungi masalah. Setidaknya itu persepsiku. Persepsi seorang atheis yang kecewa pada Tuhan.
Sudah nyaris 22 jam aku di sini. Aku tak tahu sampai kapan aku akan di sini. Udara dini hari buta semakin mendukung suasana. Sakit, dingin. Serasa hati ini membeku. Tak ada nafsu sama sekali. Pernah aku berfikir, kemana lagi aku harus pergi? Seberapa cepat lagi aku harus berlari? Jujur, aku mulai jenuh dan lelah dengan semua ini. Rasa sakit itu dengan cepat dan mudah menemukanku. Dia seperti bayangan kita, dimanapun kita berada dia kan tetap mengiringi. Walau gelap menguasai, bayangan tidak hilang. Hanya tidak nampak. Hahahah aku ingin tertawa melihat kebodohan dan ketololanku. Kenapa aku tidak berani mati? Katanya atheis yang tak percaya Tuhan? Katanya atheis yang tak percaya alam akhirat? Hanya hati kecil ini yang bisa menjawab.
Adzan subuh di surau dekat rumah telah berkumadang. Ada rasa sakit yang lain menyapaku. Rasa sakit yang kukira ini lebih karena rindu. Tanpa sadar air mata mulai turun. Aku menangis. Bukan hanya mata. Tapi juga hati. Seketika rasa sakit yang pertama kurasa menghilang. Seiring alunan adzan yang berkumandang. Inginnya aku berlari ke surau itu. Menyesali keputusasaanku terhadap diriNya yang membuatku menjadi atheis. Berkeluh kesah dan meminta banyak hal pada diriNya. Tapi sayang, iblis meniupkan nafas kesesatan yang amat kencang. Seketika egoku meninggi. Aluanan adzanpun berhenti. Maka berhenti pula tangis ridu itu. Dan rasa sakit yang menemaniku, bertahta kembali. Angkuh menjajah hati.
#### @ ###
Sorry hampir lupa. Terimakasih buat Nay yang udah ngijinin tulisan tak layak ini bertengger di istana DKN-nya. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin. (???????).

@Tulisan pertamaku. Di Sudut ruangan perencanaan.