LA Potret cover 3

an AL GIBRAN NAYAKA story

#################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa menyelesaikan Potret ini. Beberapa hari lalu, aku sempat yakin kalau mood menulisku yang acak-acakan akan membuat Potret ini selesai lebih lama lagi. Tapi syukur, aku tidak melewati bulan Mei ini meski sebenarnya sudah sangat terlambat dari tanggal post Potret sebelumnya. Kali ini, izinkan aku mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para sahabat yang menunggu-nunggu postingan Another Love Actually Story Potret Tiga ini. Sungguh, tak ada maksudku untuk ingkar janji, namun begitulah hidup. Manusia hanya bisa berencana, kuasa penuh berada pada Sang Pemegang Takdir. Aku disentil sedikit masalah, ditakdirkan untuk terlibat masalah. Hehehe, aku sih menganggap itu teguran Tuhan buatku. Ah, lupakan.

So, inilah dia Potret Tiga. Kubuat lebih panjang sekitar 1500-an kata lebih dari dua potret yang sudah kupost, anggap saja ‘extra 1500-an’ itu sebagai tanda maafku atas keterlambatan posting dari batas waktu yang telah kujanjikan kepada para sahabat.

Tak ingin memperpanjang cuap-cuap, selamat bertemu Erlangga dan Rani Tayang di Potret ini. Tetap ada cameonya kok, kekekeke… semoga tak ada sahabat yang merasa kalau porsi cameo lebih dominan dari pemilik potret sendiri yak…

Last, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret Tiga seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

#################################################

Benarkah cinta itu tak pernah salah?

Tanyakan pada para pecinta, maka jawabnya adalah…

‘Cintaku sama sekali tidak salah, apatah lagi berdosa’

Maka cinta para pecinta adalah selalu benar

Sang Pecinta sejati selalu punya tekad baja untuk memberi

Tanpa secuilpun hasrat untuk meminta balik

Tanpa sekeratpun ingin untuk menagih balas…

Demikianlah tulus cinta mereka

Setulus pelita penyerlah gulita

Setulus hujan pembasuh gersang

Setulus angin penyejuk gerah…

Andaipun ada cacat cela,

Andaipun ada salah khilaf,

Maka kesadaran membawa putih hati mereka kembali…

Bahwa tak ada kesempurnaan dalam kefanaan

Tak ada kaca yang tak bisa disambangi retak

Tak ada kain yang tak dapat didatangi robek

Demikianlah hal ihwal cinta…

Tak ada cinta yang bebas ujian

Dan sang pecinta sejati akan menunjukkan,

Betapa kekuatan cinta mereka tak goyah diuji

Tidak gampang dihancur-lebur…

Maka saksikanlah,

Betapa cinta adalah anugerah…

***

POTRET TIGA

ERLANGGA AFGHANESSA terbangun dengan badan basah. Dada telanjangnya berkilat, keringat juga mengalir di sisi wajahnya, turun dari kepalanya yang nyaris plontos. Selimut tebal yang bergulung-gulung tak karuan menutup bagian tubuhnya dari pinggang ke bawah menambah panas keadaan. AC selalu kalah dalam situasi seperti ini.

“Mimpi sialan!” cowok itu merutuk sendiri sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.

Setelah debar dadanya berangsur pelan, Erlangga membebaskan tungkainya yang cuma ditutupi boxer ketat sebatas pertengahan paha dari belitan selimut, dia turun dari ranjang. Cowok itu butuh udara segar. Meski sadar bahwa peristiwa yang baru dialaminya hanya berlangsung dalam mimpi, bayangan yang masih jelas tak urung membuatnya gerah walau sudah berada di alam nyata. Erlangga termangu di jendela yang dengan susah payah dipentangkannya lebar-lebar, jendela itu memang jarang berada dalam keadaan terbuka sehingga memerlukan sedikit usaha ketika membukanya sewaktu-waktu.

Di sini, Erlangga menjengukkan setengah badannya ke luar. Udara dingin membelai wajah dan badannya yang tak berbaju, mengeringkan keringat yang tadinya berbulir hampir di seluruh permukaan kulit.

Erlangga mendesah sendiri, “Mengapa aku harus bermimpi seperti tadi? Masa aku bakal setega itu sama karibku sendiri?” Erlangga bergidik membayangkan betapa buruk gambaran dalam mimpinya beberapa menit lalu.

Sepuluh menit. Erlangga bertahan hingga selama itu menantang dingin udara dini hari. Memasuki menit selanjutnya cowok itu kalah. Udara terasa kian mencucuk di jendelanya yang berada di lantai dua rumah orang tuanya yang megah. Makin membuat menggigil ketika keringatnya pupus dan perasaannya tenang kembali.

Dengan sedikit susah payah Erlangga kembali merapatkan jendela lalu menuju ranjangnya. Sebelum menghempaskan badan kembali ke pelukan kasur yang empuk, diliriknya jam digital di atas buffet di samping ranjang. 03:03.

“Angka cantik,” ujarnya lalu tersenyum sendiri. Cowok itu menadahkan tangan, “Malaikat penjaga tidurku, kirimkan aku mimpi cantik setelah aku tidur sesaat lagi, ya…!” Erlangga nyengir, “Awas kalau mimpi buruk lagi! Aku bakal ganti penjaga!”

Dua menit pertama setelah melafaskan doa tidur, Erlangga menelungkup memeluk guling yang salah satu ujungnya tepat berada di kepitan paha. Dua menit setelahnya, dia mulai terusik dengan keberadaan AC kamarnya. Sekali tarik, selimut tebal kembali membungkus sosoknya hingga ke dagu. Tepat lima belas menit setelah terjengkang lagi di atas kasur, dengkur halus mengalun dari bibir Erlangga yang sedikit membuka. Sepertinya malaikat penjaga tidur benar-benar mengabulkan doanya sesaat tadi.

Dan sepertinya Rani Tayang sedang menarikan tarian Hindustan dengan kamisol mini dan sari transparan di dalam tidur Erlangga.

***

DYANING ARUM KHAIRANI sedang celingak-celinguk di gerai busana muslim. Sendirian. Sore ini gadis itu berniat membeli hijab baru. Sejak berangkat dari rumah tadi dia sudah punya bayangan kerudung seperti apa yang bakal dibelinya berdasarkan hasil hunting selama sepekan di tivi kabel. Namun begitu tiba di plaza yang demikian luasnya, yang tentu saja tidak hanya memajang kerudung namun juga segala macam atribut muslim dan muslimah mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, gadis pacar Erlangga itu dibuat pening sendiri.

Kemanapun Rani memandang, selalu saja matanya berbinar-binar penuh damba. Andai terlihat, dari mata Rani akan melesat keluar bunga-bunga saking mendambanya dia.

Kerudung itu bagus, itu juga bagus, yang itu bagus, yang itu juga bagus, yang di sana bagus, yang di sana juga gak kalah bagus, yang di ujung itu bagus, yang di ujung itu juga sama bagusnya…

Rani sedang lapar mata.

Huwaaa… gamis itu cantik, gamis di sana juga cantik. Ihh… rok itu manis, rok di sana juga manis. Hiii… mukena itu indah, yang itu juga indah. Ahh… sajadahnyaaa… Uhh… korsasenyaaa… Ohh… pecinyaaa…

Ya, benar sekali. Rani sedang kumat.

Tentu saja Rani sedang kumat. Seharusnya dia tak perlu histeris dengan peci. Kecuali dia pergi menemani Erlangga mencari peci, namun kenyataannya sekarang dia sedang mencari kerudung untuknya sendiri. Histeris melihat peci tentu bukan waktunya dan tidak semestinya mengingat dalam agamanya wanita tidak disunatkan memakai peci.

Alhasil, hampir satu jam lamanya Rani hanya grasak-grusuk menerobos orang-orang untuk berpindah dari satu rak pajang ke rak pajang lain, dari satu manekin ke manekin lain, dari satu gantungan ke gantungan lain. Hanya untuk menyentuhkan tangannya ke semua item yang tadi sempat membelalakkan matanya. Rani beruntung tidak kena damprat mbak-mbak pramuniaga yang masih setia mengekor di belakangnya sejak tadi.

“Kerudung ini lagi tren sekarang loh, Mbak. Jika orang jelek yang pakai pasti bakal terlihat cantik, nah kalau orang cantik kayak Mbak ini yang pakai mesti bakal terlihat pangkat kubik cantiknya. ”

Itu kata si pramuniaga ketika Rani menyentuh salah satu kerudung. Ucapan si Mbak sudah jelas membuat Rani mesem-mesem hingga nyaris melepas kerudung itu dari patung kepala yang jadi peraganya lalu membawa ke kasir, tapi pacar Erlangga itu keburu sadar ketika melihat price tag yang seakan tersenyum mengejek padanya. Mamanya tidak membekalkan cukup uang untuk harga kerudung itu.

Dan Rani berpindah. Meninggalkan si ‘kerudung ajaib’ dengan hati tak rela. Cantik pangkat kubiknya batal terealisasi.

“Gamis ini bahannya mutu loh, Mbak. Ini stok baru kami, baru dipajang sore kemarin. Sejauh ini baru dua yang dibawa keluar dari sini, Mbak bakal jadi orang ketiga yang memakainya di kota ini… dan… sepertinya ini limited edition. Hanya ada selusin, dan plaza kami terpilih untuk memasarkannya. Saya jamin, Mbak bakal tampil anggun tiada tara dengan gamis ini…”

Anggun tiada tara…

Rani mupeng. “Harganya?”

Si Mbak melihat label dan dengan mantap menyebutkan harga.

Boleh kredit?

Nyaris saja kalimat tanya gak banget itu meluncur keluar dari bibir Rani, seandainya dia terlambat membekap mulut sendiri segera setelah si pramuniaga meng-halilintar-kan harga gamis itu untuknya. Gadis itu hanya bisa menelan liur.

Sambil nyengir Rani meninggalkan manekin yang padanya menggantung gamis limited edition super mahal tak terjangkau dompetnya. Lagipula, bukankah sebenarnya dia hanya ingin membeli kerudung?

“Nah, Mbak. Rok ini saya rasa cocok banget dipake sama Mbak, sedang tren juga.”

Limited edition juga?”

“Emm… enggak. Kayaknya ini tak terbatas, terus dipasok sudah sejak setahun lalu.”

“Tapi kok masih tren?”

“Plaza kami yang membuatnya terus jadi tren.” Si pramuniaga membanggakan tempatnya mengais rejeki.

Rani manggut-manggut. Tentu saja, dengan harga semahal itu bagaimana rok dimaksud tidak menjadi tren? Harganya hanya bisa ditebus kalangan atas. Segala sesuatu yang dipakai kalangan berduit, dengan serta merta akan terus menjadi tren hingga obral meruntuhkan pamor mereka. Dan ketika itu terjadi, tren pun berganti.

Rani melewatkan etalase mukena dan gantungan sajadah.

“Atau Mbak mau beli peci? Buat pacarnya mungkin?”

Rani tersenyum kecut. “Pacar saya udah punya peci, kalau tak salah ingat, dia pernah menyebutkan kalau pecinya dipesan langsung dari Persia.” Rani ngelantur, dia mulai bête dengan si pramuniaga yang terus saja mengekorinya hingga dia merasa tak bebas mempreteli tiap item yang dipajang.

Ah, andai Syuhada bisa ikut, Rani membatin.

Kebiasaan, Rani akan berbelanja busana dengan dikawani Syuhada. Temannya itu lebih tahu apa yang harus dilakukan dan mana yang harus didahulukan bila berada di plaza kelas eksekutif seperti ini. Syuhada juga dengan mudah akan mengenyahkan pramuniaga semenjengkelkan apapun untuk berhenti mengekor selama mereka memilih. Satu kali, Syuhada malah dengan berani berujar ‘Kami tidak akan membuat cacat barang-barang mahal di sini, percaya!’. Kalimat yang tak mungkin bisa keluar dari mulut Rani se-elegan bila itu meluncur dari bibir Syuhada. Rani belum punya kharisma seperti yang dimiliki karibnya itu untuk membuat pelayan hypermart menutup langkah hingga benar-benar dibutuhkan pelanggan.

Ah, andai Syuhada tidak punya acara sama Kak Gun…

Rani menatap peci-peci yang sedang ditata si pramuniaga. Sekilas pikirannya tertuju pada Erlangga. Kenapa tadi dia tidak minta ditemani Erlangga saja? Uh, bodoh.

Sedang apa ya Erlangga sekarang?

“Loh, Rani? Mau beli apa?”

Rani berbalik. Bagai mendapat angin segar, Rani langsung sumringah begitu menatap sosok cowok di depannya.

“Cari peci buat Erlangga, ya?” si cowok menebak asal. “Seingatku, ulang tahun Angga kan masih lama… Emm, atau salah satu kado tanpa alasan? Duh, enaknya jadi Erlangga, Rani perhatian banget.” Cowok di depan Rani tersenyum kecil, satu lesung pipinya muncul memperlihatkan diri.

Kenyataannya, Rani masih akan selalu tersipu setiap kali berbicara dengan cowok yang sekarang menyunggingkan senyum manis buatnya. Lihat, meski senyum itu biasa-biasa saja, di mata Rani adalah senyum manis. “Ada-ada saja. Engga, Dil… ini Rani sedang nyari kerudung buat sendiri…”

Si cowok berlesung pipi, Aidil, mengerutkan alis. Cari kerudung mengapa di pajangan peci? “Sejak kapan kerudung dan peci jadi idem?” Aidil menunjuk pada deretan peci berbagai corak di depan mereka.

Rani kikuk, “Engg… tadi masih mutar-mutar aja, masih lihat-lihat.” Menghindari agar mukanya tidak semakin memerah, Rani mengambil langkah kembali menuju etalase yang memajang begitu banyak patung kepala berjilbab.

Aidil tersenyum pada si pramuniaga yang sedari tadi memperhatikan mereka. “Kami lihat-lihat dulu, Mbak,” ujarnya lalu menyusul Rani.

Rani memang sudah aman dari jajahan bacot si mbak pramuniaga yang selalu mensugestinya untuk langsung beli, tapi bukan berarti kini dia bisa memilih-milih benda yang akan dibelinya dengan leluasa. Keberadaan Aidil yang mengikuti gerak tangannya dengan sorot mata malah membuat Rani tak fokus menilai kerudung-kerudung itu.

“Rani mau cari kerudung yang kayak apa?” Aidil kini mensejajari si gadis di samping kirinya, tangannya ikut membalik-balikkan kain yang membungkus kepala patung.

“Gak tau… heuh, andai kerudung punya judul kayak buku ya…”

“He?” Aidil mengernyit, cewek di sampingnya masih aneh seperti yang diingatnya selama ini.

“Coba ada kerudung yang judulnya Kiat Menjadi Akuntan Profesional, pasti nyarinya mudah…”

Aidil tertawa pelan, “Atau yang judulnya Dental Material.” Seperti Rani, Aidil ikutan gila menamakan kerudung dengan salah satu jurnal dalam jurusan perkuliahannya.

Sekarang Rani yang tertawa. “Aidil sendiri mau cari apa? Ayo cari aja sana, nanti malah ketunda gara-gara ngikut aku milih kerudung.” Usiran secara halus yang dengan tak enak hati harus dikatakan Rani.

Aidil menaikkan tangan kanannya dimana menggantung kantong kemas berlabel plaza tempat mereka berada sekarang. “Aku baru aja membayar ini ketika melihatmu kebingungan memilih peci tadi,” Aidil masih menggoda dengan menyinggung-nyinggung kata peci.

Rani tersenyum kikuk lalu menepuk dahi. “Aku buta.”

“Enggak, kamu rabun lebih tepatnya.”

Rani mesem-mesem lagi ketika Aidil mengedipkan sebelah mata padanya.

“Nih…” Aidil menyentuh satu kerudung yang masih membebat manekin, “Warnanya kalem.” Dia mengulik label harga, “Lumayan murah. Dan modelnya juga gak jelek-jelek amat, sederhana tapi manis, ornamen batunya ini yang bikin cantik.”

Rani memperhatikan kerudung berumbai yang sedang dilepaskan Aidil dengan hati-hati dari manekin. Dia setuju, kerudung itu manis. Atau… karena Aidil yang menyarankan maka kerudung itu jadi ‘sesuatu’.

Ah, Rani mendesah dalam hati. Apa yang sedang dipikirkannya?

Stop tergoda pesonanya, Rani. Ingat, kamu sudah punya Erlangga! Masa-masa mengagumi pretty boy di depanmu ini sudah lewat. Sekarang adalah jamannya Erlangga. Camkan! ERLANGGA!

Rani menerima kerudung dari tangan Aidil, entah disengaja atau tidak, jemari Aidil bersentuhan pelan dengan telapak tangannya. Gadis itu salah tingkah, apalagi ketika Aidil tersenyum sambil bergurau. “Perlu aku kawani ke bilik pas? Mungkin kamu kesulitan dengan brosmu di dalam sana.”

Rani kian salah tingkah.

Sialnya, Aidil malah menikmati mengganggu pacar karibnya yang di matanya masih semenggelikan ketika pertama kali kenal dulu di malam perkemahan Moska. Walau kini sudah lebih anggun dengan mengikuti cara berpakaian Syuhada, Rani tetaplah cewek yang bisa dengan gampang dibuat merona. Begitu yang Aidil yakini, setidaknya gampang dibuat merona olehnya. Maka, mahasiswa FKG itu pun tak mau kehilangan kesempatan menjahili.

Ketika Rani menerima kerudung dari tangannya dengan malu-malu, Aidil nyerocos lagi. “Ran, jangan adukan omonganku barusan sama pacarmu ya. Aku gak mau disemen Erlangga jadi pondasi rumah.”

Rani terkikik.

“Gak mau nyoba kerudungnya?” tanya Aidil ketika Rani masih belum beranjak.

“Langsung nebus aja.”

“Nanti malah gak cocok loh, bukannya bikin Erlangga makin cinta ketika kamu make kerudung ini, malah yang ada dia bakal nanya siapa yang nyaranin kamu beli kerudung jelek gini. Kalau udah gitu pasti aku juga yang jadi biang keroknya.”

Rani terkikik lagi.

“Lama-lama kamu kayak kuda deh, Ran. Asik meringkik aja.” Aidil kian menjadi. Ternyata Orlando sudah menurunkan sedikit bakatnya pada sang pacar.

Rani spontan mingkem.

“Tapi meski kamu beneran jadi kuda, pasti kamu bakal jadi kuda perempuan paling cantik di antara…”

Rani cemberut dikatai sebagai kuda perempuan.

“Dooo… pacarnya Angga ngambek. Ehem, engggak lah, Ran. Kamu terlalu ayu untuk jadi kuda perempuan meski yang paling primadona di antara kuda primadona sekalipun.”

“Ihh, Aidil apa sih…!” Rani menonjok pundak cowok di depannya.

Aidil cengengesan.

“Aku langsung ke kasir aja. Makasih udah bantu milih.”

“Mau aku temani? Kali aja mbak kasirnya mempan kedipan mataku, trus kita dapat diskon.”

“Lama-lama kamu mirip Erlangga.”

“Hahaha… kalau Erlangga ada di sini pasti langsung berang. Dia mana mau disamakan dengan siapapun itu. Mestilah dia yang paling keren, paling nyenengin, paling bisa mencerahkan suasana, meski menurutku dia juga paling tidak waras.”

“Aidil ngatai pacarku?”

“Eh? Kamu pacarnya? Maaf aku lupa kalau ternyata bidadari seayu kamu bisa juga pacaran sama manusia se-gak-jelas Erlangga.”

Untuk yang tak terhitung kalinya sejak bertemu tadi, Rani tersipu lagi.

“Gak jadi bayar?”

“Eh…” Rani tergagap, kemudian dengan tergesa menuju kasir.

.

.

Mereka seangkot. Rani sebenarnya akan menyetop taksi karena sudah jauh sore ketika mereka keluar dari pelataran hypermart, tapi begitu Aidil mencegat angkot dan mengulurkan tangannya pada Rani setelah berada di dalam, Rani tidak bisa untuk tidak menerima uluran tangan itu.

“Tenang saja, angkot ini juga melewati daerah rumahmu kok. Atau udah janji dijemput Erlangga?” ini kalimat Aidil ketika mengulurkan lengannya pada Rani.

Rani nyaris melayang ketika tangannya bertautan dengan tangan Aidil. Dia masuk angkot dengan kepala tertunduk. Aidil baru melepaskan pegangannya ketika Rani sudah duduk aman. Dan Rani baru menjawab pertanyaan Aidil dengan gelengan kepala ketika dia sudah berada bersisian dengan cowok itu di bangku dekat pintu.

Inilah kali pertama untuk waktu yang lumayan lama, Rani bersisian dengan cowok yang dulu sempat dikaguminya habis-habisan sebelum nenek Erlangga mengenalkannya pada sang cucu kesayangan yang ketampanannya juga tidak di bawah cowok yang kini sedang duduk tenang di sampingnya.

Selintas pikiran aneh berlarian di benak Rani. Andai dulu dia sempat melalui momen seperti ini sebelum Erlangga hadir, bukan mustahil cerita cinta yang ditulisnya kini adalah bersama Aidil bukan dengan Erlangga.

Rani mati-matian menahan diri untuk tidak bertanya pada cowok di sampingnya adakah sekarang dia sedang menjalin sebuah hubungan atau masih sendiri. Namun ketika angkot sudah mendekati daerah rumahnya, Rani tak dapat lagi membendung rasa ingin tahunya.

“Emm… sekarang Aidil pacaran sama siapa? Boleh Rani tahu?”

“He?” Aidil kaget, matanya membulat.

Rani merasa telah lancang bertanya. Dia juga merasa tak pantas telah mengajukan pertanyaan semacam itu pada seorang cowok, lebih tak pantas mengingat dia adalah perempuan yang sudah punya pacar. Sayangnya, Rani terlambat menyadari ketidakpantasan itu, kalimat tanyanya sudah lebih dulu meluncur sebelum analisa kepantasan bergulir di otaknya.

“Enggak deh, lupain aja.”

Aidil berdehem, “Kalau misalnya aku jawabnya belum punya pacar, Rani mau gak mutusin Erlangga dan jadi cewekku?”

Rani batuk-batuk seketika.

Aidil malah terbahak. Tiga orang penumpang lain di dalam angkot memperhatikan mereka sekilas lalu.

“Lupain kalau aku pernah nanya gitu ya!”

“Lupain juga kalau aku pernah jawab kayak barusan.”

Hingga Rani turun lebih dulu di mulut gang menuju rumahnya, mereka tidak membahas masalah pacar lagi, tidak juga topik lain. Obrolan mereka mati total.

***

Erlangga sedang melepas kangen dengan Nenek tersayang. Nenek yang telah berjasa besar dalam urusan asmaranya. Band Wali bilang, Nenekku Pahlawanku (Nayaka bilang : nenekku adalah ibu ayahku dan ibu ibuku│Pembaca : tukang kredit panci juga bilang gitu, Nay!). Begitulah kira-kira. Jika saja sang nenek tidak tersesat di mall hingga kemudian ditemukan Rani, mungkin hingga tulisan ini dibuat Erlangga akan terus jadi jomblo dan hanya bisa menghabiskan malam minggu dengan mengkhayalkan dirinya pacaran dengan Selena Gomes atau Camilla Belle. Bahkan satu kali dulu, Erlangga pernah menghabiskan malam minggu dengan mengkhayalkan kalau guling di kamarnya adalah Maria Ozawa. Jangan bayangkan apa yang terjadi pada guling malang itu, tapi bayangkanlah seandainya yang dibayangkan Erlangga sebagai Miyabi bukanlah guling, tapi kaki ranjang atau laci buffet atau lebih parah lagi lampu tidur di atas buffet.

(Erlangga : Cukup!!! Jangan bongkar rahasiaku!)

Sudah lebih dua puluh menit gagang telepon menempel di kuping kiri Erlangga. Seperti selalu, Erlangga pasti akan lupa pergeseran jarum jam jika sedang mengobrol dengan neneknya. Meski butuh ketajaman pendengaran yang sedikit lebih peka karena suara sang nenek sudah mulai pupus artikulasinya disebabkan jumlah gigi yang berguguran lebih banyak dari pada jumlah yang bertahan, itu tidak menyurutkan minat Erlangga untuk menyimak setiap kalimat sang nenek.

“Nenek kenapa sih gak mau pake gigi palsu? Kan waktu kemari udah disarankan Papa…”

“Haduh, papamu itu, Nak… asal saja minta Nenek pasang gigi tiruan sementara Nenek masih punya beberapa yang asli. Buat apa coba pasang yang palsu.”

Erlangga mengingat-ingat keadaan gigi neneknya. Terakhir kali dia menghitung, yang bersisa adalah enam di rahang bawah dan lima di rahang atas. Itupun dengan catatan bahwa gigi yang mahkotanya sudah tak tahu rimbanya alias tinggal akar saja juga ikut dihitung.

“Sekarang gigi asli nenek sisa berapa?” Erlangga penasaran.

“Hemm… cukuplah untuk beberapa kali makan daging lagi,” si nenek menjawab dengan suaranya yang khas.

Erlangga terkekeh. “Kapan Nenek ada ke sini minta Papa anterin buat pasang gigi tiruan deh.”

“Ah, tidak Nenek minta pun papamu pasti recok sendiri. Bukan apa-apa, Nenek tidak suka pakai gigi palsu, tidak genah rasanya dalam mulut, teman Nenek ada yang sudah pakai, bolak-balik ngeluh rasanya seperti ngemil keramik.”

Erlangga terbahak lagi lebih kencang.

“Walau tinggal gusi, enak saja bawaannya Nenek rasa.” Sesaat, sang nenek terdiam, sepertinya mengganti posisi horn telepon ke telinganya yang lain. “Nah, Cah Bagus, Nak Khairani pacarmu bagaimana kabarnya?”

Ditanya demikian, Erlangga malah ingat mimpinya dua malam lalu. “Baik dia, Nek.”

“Sampaikan salam Nenek padanya…”

“Salam lagi?”

“Lah, terus apa, Le?”

“Pesan khusus apa gitu, Nek. Kan bisa tuh, gak cuma salam aja tiap kali.”

Si nenek terdiam sesaat, “Pesan khusus macam apa toh?”

“Ya terserah Nenek…” Erlangga mendengar neneknya menghela napas panjang.

“Ya sudah, pesankan sama Nak Khairani kalau nanti nentuin mahar jangan yang berat-berat, kasihan cucu Nenek susah memenuhinya nanti…”

Erlangga tertawa hingga sakit perut. “Nenek, cucumu ini belum kebelet kawiiin…! Mbak Wulan tuh yang kudu dipesankan kayak gitu, jangan minta mahar tinggi-tinggi kalau ada pria yang pengen ngelamar.” Erlangga menyinggung kakak perempuan satu-satunya.

“Ah, mbakmu itu, karir terus yang dikejar. Dulu ya, usia seperti mbakmu itu Nenek sudah menyekolahkan adik-adik papamu ke sekolah dasar. Mamamu pun aneh, mbok ya dipaksa anak sulungnya segera nikah kenapa. Tidak kepingin nimang cucu apa mama sama papamu itu…”

“Mbak Wulan kan baru selesai pendidikan juga, Nek. Wajar kalau mentingin karir dulu.”

“Nah gitu gadis-gadis zaman sekarang, beda sama jaman Nenek gadis dulu…”

“Yee… Nenek gadisnya tahun berapaan, beda lah Nek…”

“Sudah-sudah, pokonya pesankan sama Nak Khairani seperti yang Nenek bilang.”

“Gak janji.” Erlangga menjawab cepat.

“Nenek tutup dulu teleponnya, belum ashar, kamu ngajak ngobrol terus.”

“Iya, assalamu’alaikum. Salamin buat Paman juga Bibi, Nek!”

Wa’alaikumsalam, nanti Nenek sampaikan.”

KLIK

Setelah menyimpan telepon, Erlangga keluar ke beranda samping. Ayunan jala yang terikat pada tiang di bawah pohon rindang di sisi pekarangan menggodanya untuk merebahkan diri di sana, tidur siang. Menunggu kantuk, Erlangga merogoh hape, membuka geleri, memilih folder ‘Rani Tayang And Me’ lalu mulai tersenyum-senyum sendiri ketika foto-fotonya bersama Rani tampil dalam modus slide show. Folder itu berisi semua jepretan dari awal mula mereka saling kenal hingga jepretan paling akhir di masa mereka sudah sangat mengenal, masa pacaran dan tayangtayangan.

Memandangi foto-foto itu setelah tadi sempat berbicara dengan sang nenek, mau tak mau membuat Erlangga mereview kembali hari dimana dia takluk dengan pesona Rani untuk pertama kalinya. Langsung takluk pada jumpa kali pertama.

Grandma… you are my old cupid.

Erlangga nyengir ketika slide show sampai pada fotonya bersama Rani sementara neneknya berada di antara mereka, di ruang keluarga rumahnya. Rani memeluk lengan sang nenek demikian akrabnya sambil tersenyum manis. Dirinya sendiri terlihat begitu gembiranya dalam foto itu. ‘Dengan Restu Nenek’, demikian foto itu dinamai. Dan tanpa bisa dicegah, kenangan akan hari itu pun menyeruak spontan dari harddisk di kepala Erlangga…

*

PANIK.

Demikianlah yang terjadi pada Erlangga ketika mendapati bahwa lengan yang sesaat tadi ditangkapnya dan sekarang berada dalam genggaman tangan kirinya bukanlah lengan neneknya. Selain panik dia juga kalut, dan cemas. Lalu serta-merta pikiran-pikiran aneh mulai menjajah isi kepalanya.

Bagaimana jika neneknya diculik? Lalu penculiknya minta tebusan ratusan juta? Minta tebusan masih kemungkinan paling baik, bagaimana jika neneknya diculik lalu dibawa ke lokalisasi, dijadikan ‘pekerja malam’ atau minimal inangnya ‘pekerja malam’?

Erlangga bergidik.

Bagaimana jika ternyata neneknya penasaran dengan escalator yang menurut beliau adalah ‘tangga ajaib’ lalu memilih kembali ke sana? Bukan mustahil neneknya terjerembab di escalator, atau kain batiknya terjepit di ujung tangga bergerak itu lalu jatuh bergedebukan hingga babak belur dan sanggul palsunya lepas atau kondenya berterbangan kemana-mana?

Erlangga ngeri sendiri.

Lalu bagaimana jika ternyata neneknya nekat mengejar dan mengomeli segerombolan cewek ber-tanktop luar biasa ketat dan ber-rok luar biasa mini yang sempat berpapasan di lantai bawah? Lalu karena tak tahan diceramahi oleh wanita tua yang sanak bukan saudara juga tidak, cewek-cewek itu berang dan membogem neneknya rame-rame. Sang nenek memang sudah geregetan dengan gerombolan cewek itu sejak mereka masuk mall.

Erlangga gemetar.

Kemungkinan paling logis, neneknya lalai ketika dia melepaskan pegangannya lalu tidak fokus lagi mengikuti langkah sang cucu hingga hilang di antara lalu-lalang pengunjung mall. Berpikir seperti itu sedikit membuat Erlangga tenang. Namun… bagaimana jika neneknya malah asal masuk plaza dan mengacak-acak barang di dalamnya seperti bila beliau berbelanja di pasar di kampung sana? Tidak menutup kemungkinan neneknya akan dibentak-bentak pramuniaga. Dibentak-bentak masih belum seberapa, bagaimana jika setelah dibentak lalu neneknya diseret dengan kasar ke pintu keluar dan dicampakkan begitu saja seperti bila kita mencampakkan gagang pel?

Erlangga makin panik, makin kalut, juga makin cemas.

“Mbak, lihat Nenek saya gak?” Erlangga bertanya pada wanita yang sesaat tadi nyaris menjerit karena tangannya dipegang anak muda tak dikenal. Satu-satunya hal yang membuat si mbak itu tidak menjerit adalah, anak muda yang menyambar tangannya ini berada dalam kategori ‘berondong manis’. “Nenek saya, umur di atas lima puluh, pake kebaya, batiknya warna itam corak putih. Lihat gak? Tadi masih jalan di belakang saya…” Erlangga berujar cepat, keringat mulai memercik di keningnya.

Si mbak menggeleng, “Gak ada nenek-nenek yang jalan di belakang Adik sejak saya di sini…”

Sah, sang nenek pasti penasaran dengan tangga ajaibnya dan memilih turun kembali ke lantai bawah menggunakan tangga ajaib satunya lagi. Bukan mustahil kemungkinan terjengkang di escalator seperti yang sempat dibayangkan Erlangga sesaat tadi benar-benar kejadian. Atau, neneknya turun untuk kemudian menghampiri dan menasehati cewek-cewek berbusana mini di lantai bawah, lalu…

Nenekku dibogem berjamaah.

Gawat.

Tanpa berbasa-basi sekedar pamit pada si mbak, Erlangga berlari menuju eskalator. Tak ada kehebohan apapun di tangga berjalan itu. Erlangga turun ke lantai bawah, bergerak cepat di escalator seperti menuruni anak tangga yang diam. Di lantai bawah, dia berjalan kesana-kemari, menjenguk ke setiap sudut, melongok ke setiap pintu, menyapu semua sisi dengan pandangan khawatirnya. Bahkan Erlangga juga memeriksa pot sampah, entah apa yang membuatnya berpikiran kalau sang nenek akan ngumpet di situ. Erlangga juga sempat melihat lagi gerombolan cewek-cewek berbusana mini yang sempat membuat neneknya naik darah tadi. Gerombolan cewek-cewek itu baik-baik saja, tidak tampak bahwa mereka baru saja diomeli atau baru saja membogem seseorang.

Kesimpulan : neneknya tidak berada di lantai bawah, tidak terjengkang di escalator dan tidak bentrok dengan pengunjung mall yang lain. Dua kemungkinan sudah berstatus negatif. Sisa dua kemungkinan lagi dan itu tak kalah buruk ; diculik sindikat penculikan nenek-nenek atau dikasarin pramuniaga hypermart.

Tergesa, Erlangga naik kembali menuju lantai dua tempat neneknya raib tak berbekas. Sama seperti ketika di lantai bawah, di sini Erlangga juga berjalan ke seluruh lorong, memeriksa semua toko, bertanya sesekali pada orang-orang yang berpapasan. Nihil, neneknya tidak ditemukan.

Berpeluh, kaosnya basah di beberapa bagian meski di dalam mall cukup sejuk. Erlangga kehabisan akal hendak mencari kemana. Mungkinkah neneknya nekat naik ke lantai tiga, sendirian? Masa neneknya seberani itu? Erlangga bimbang, pikirannya buntu. Tak ada salahnya memeriksa. Erlangga kembali bergerak, berjalan menuju escalator ke lantai tiga. Ketika hendak menjejakkan kaki ke anak tangga pertama escalator, sekonyong-konyong namanya dipekikkan pengeras suara.

“PANGGILAN KEPADA SAUDARA ERLANGGA AFGHANESSA, DITUNGGU NENEK DAN PACARNYA DI BAGIAN INFORMASI. TERIMA KASIH.”

Seruan itu diulangi hingga dua kali.

Erlangga menepuk jidat. Bego, kenapa dia tidak berpikiran untuk langsung menuju bagian informasi ketika pertama kali menyadari neneknya hilang? Seharusnya dia langsung ke sana untuk membuat pengaduan hingga tak perlu berputar-putar kesana-sini seperti gasing.

Erlangga tergesa berbalik untuk menuju bagian informasi. Langkahnya lebar dan cepat. Tapi tunggu, ada yang janggal dari seruan tadi. ‘Nenek dan pacarnya’, apa maksud kalimat itu? Apa neneknya mendadak pacaran dengan kakek-kakek pengunjung mall yang kebetulan terjumpa saat hilang tadi lalu si kakek mengawani pacar barunya mengadu ke Informasi?

Atau, yang dimaksud dengan ‘pacarnya’ adalah pacarku, pacar Erlangga Afghanessa? Kapan aku punya pacar? Atau… Selena Gomes ada di sini?

Erlangga mulai hilang kewarasannya.

Atau, Erlangga yang dimaksud adalah Erlangga lain yang sudah berpacaran yang juga baru saja kehilangan neneknya di mall ini?

Erlangga berdecak. Meski Erlangga yang dimaksud bukan dirinya, dia harus tetap ke sana untuk membuat pengaduan. Jika Erlangga dimaksud adalah benar dirinya, dia mau lihat, kakek-kakek macam apa yang membuat neneknya langsung memutuskan untuk berpacaran detik itu juga di saat usianya lebih pantas untuk menyiapkan kain kafan ketimbang pacaran. Atau bila kalimat itu seperti yang diduganya, dia juga mau lihat siapa gerangan cewek yang merasa dirinya adalah Selena Gomes sehingga merasa pantas untuk ngaku-ngaku sebagai pacarnya.

Erlangga setengah berlari.

Dari jauh, dia sudah bisa melihat pintu ruangan bersekat kaca itu, di bagian dindingnya bertuliskan ‘PUSAT INFORMASI’. Cowok itu merasa lega menemukan neneknya sedang duduk manis di sana sambil tertawa-tawa. Erlangga bergegas, saat sudah di ambang pintu, barulah dia sadar kalau neneknya tidak duduk sendirian. Alih-alih menemukan sosok kakek-kakek atau sosok cewek seseksi Gomes seperti yang dibayangkannya saat menuju ke sini, di samping si nenek Erlangga malah menemukan seorang gadis sepantaran dirinya, ber-rok dan bertudung yang tentu saja amat sangat jauh dari kata ‘hot’. Gadis itu duduk dengan badan menghadap neneknya, terlihat antusias menyimak setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya.

“Ya Allah, Nek… Angga cemas bukan main!” Erlangga menghampiri.

Neneknya menoleh, “Nah, Nak Khairani… ini dia cucu Nenek. Cakep kan seperti yang Nenek bilang.” Bukannya menyambut kedatangan sang cucu dengan sumringah mengingat dirinya baru saja tersesat dan ditemukan kembali, si nenek malah mengkonfirmasi –entah- apa yang diomongkannya sebelum Erlangga datang pada si gadis bertudung. “Nak Khairani pasti cocok sama cucu Nenek. Dia juga belum punya pacar loh.” Si nenek terkikik sendiri.

Erlangga merasa celana jeansnya dijahili orang di tengah pasar atau resletingnya ditemukan orang dalam keadaan terlupa dikancing. Wajahnya merona malu. “Nenek apa-apan sih?” dia menukas gusar. Keajaiban, tidak biasanya Erlangga malu begitu, biasanya dia akan membusungkan dada dan melanjutkan menarsiskan diri.

Gadis itu mengangkat wajah memandang sosok di depannya tepat di saat Erlangga juga sedang memperhatikan si gadis.

Seperti di film-film dalam negeri bertema cinta remaja, dimana jalan ceritanya sudah sangat mainstream dan mudah diprediksi endingnya meski baru memasuki prolog. Begitulah yang terjadi pada Erlangga dan si gadis ketika mata mereka saling terkunci.

Di tempat tak terlihat mata biasa (tapi terlihat jelas oleh mata Nayaka), sesosok makhluk imut –bersayap, berambut kribo dan berpakaian dengan kain alakadarnya- yang di tangannya memegang sebentuk busur cantik tersenyum bahagia. Anak panahnya –yang tentu saja juga tak terlihat- baru saja menancap di dada dua sosok belia incarannya di sana. Tugasnya selesai untuk sepasang anak manusia itu.

Erlangga kikuk ketika gadis di depannya mengerjap satu kali setelah saling menatap nyaris satu menit. Tepat setelah kerjapan itu, wajah si gadis langsung memerah semerah-merahnya. Si gadis menunduk pelan, jemarinya saling memijit satu sama lain di pangkuan sendiri. Seperti Erlangga, si gadis juga salah tingkah.

“Kok saling diam-diaman begitu? Tidak mau saling kenalan?” nenek Erlangga bersuara dengan jailnya. “Kamu Cah Bagus, ahh… mana sifat jintelemennya?”

Jika tidak sedang berada dalam situasi seperti sekarang, Erlangga pasti akan terpingkal dengan kalimat neneknya barusan. Malu-malu dia mengulurkan tangan, “Terimakasih sudah mengantar nenekku hingga kemari, sungguh aku cemas setengah mati tadi…” tangan Erlangga menggantung di depan si gadis. “Aku Erlangga, ah… kamu pasti sudah tahu namaku, seluruh pengunjung mall juga pasti sudah tahu nama lengkapku. Tapi jujur, aku sendiri baru kali ini mengetahui kalau diriku ternyata sudah berpacaran…”

Tangan Erlangga bersambut. Cowok itu merasakan sengatan listrik, tangan si gadis demikian nyamannya dalam jabatannya. Mendadak, bayangan kecantikan Selena Gomes dan keseksian Camilla Belle lenyap seketika, digantikan sosok bersahaja si gadis yang tangannya masih berada dalam genggaman.

Tak dapat dicegah, mendengar omongan cowok di depannya, wajah si gadis semakin matang merah. “Emm… Aku Khairani…”

“Nama lengkapnya Dyaning Arum Khairani, cantik namanya secantik orangnya.” Si nenek menimpali dan tak ayal membuat si gadis kian kikuk dan menunduk. Meski demikian, si gadis tidak berusaha melerai jabatannya dengan Erlangga.

“Iya.” Erlangga merespon pendek, pandangannya masih fokus menatap kepala Rani yang terbungkus kerudung. “Namanya cantik…” yang ini nyaris berupa bisikan tak terdengar.

“Maaf, yang meminta mbak-mbak interkom untuk bikin pengumuman semacam tadi bukan aku.” Rani menggigit bibir lalu kembali menunduk. Ternyata, dia jengah menantang pandang dengan bola mata kecoklatan Erlangga.

Untuk pertama kalinya Erlangga tersenyum.

“Nenek yang nyuruh…” si nenek kembali menimpali.

Sekilas Erlangga menatap neneknya dan mengedipkan sebelah mata. Si nenek manggut-manggut mengerti. Kemudian Erlangga kembali menatap Rani yang sudah mengangkat wajahnya lagi. “Iya, aku tau… maaf yah, nenekku memang suka aneh-aneh… kapan waktu itu malah pernah ibu-ibu sayur di pasar pagi yang diklaim nenek sebagai pacarku.” Erlangga berseloroh.

Rani tertawa canggung.

“Bohong itu, Nak Khairani,” tukas nenek Erlangga.

“Tapi aku benar-benar ingin berterimakasih karena Khairani sudah berinisiatif membawa nenekku kemari. Jika tidak, mungkin sampai petang nanti aku akan terus mutar-mutar bagai orang gila di mall ini. Sekali lagi, terimakasih… Khairani…”

“Cukup panggil Rani saja.”

“Okeh, Rani…” Erlangga tersenyum lagi. “Tahukah? panggilanmu artinya ratu tuh kalau di Hindustan sana.” Erlangga nyengir, “Dan rasanya itu tak salah, kamu beneran kayak ratu…” Erlangga mulai rileks dan mulai mendapatkan ketidakwarasannya kembali.

Rani klepek-klepek, rasanya dia sulit bernapas. “Bisa aja…”

“Jadi mau terus di sini saja sambil remas-remas jari?” tiba-tiba nenek Erlangga berujar.

Erlangga dan Rani sama-sama menoleh. Ketika si nenek menunjuk jabatan mereka yang masih erat, keduanya buru-buru menarik lengan dan kembali salah tingkah.

Setelah debar dadanya normal kembali, Erlangga berbicara sebentar dengan petugas bagian informasi untuk berterimakasih dan berpamitan. Kemudian dia menggandeng tangan neneknya, diikuti Rani mereka meninggalkan ruangan itu.

“Sebagai tanda syukur, aku mau ajak Rani makan…”

“Gak usaaah…” Rani menolak dan siap memisahkan diri meski sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan cowok ganteng bermata coklat dan berambut –meski cepak- tampak terang yang terkesan begitu penyayang. Jarang ada pemuda yang sepeduli Erlangga pada orang tua dari orang tua mereka. Faktor lain yang membuat Rani masih betah berada bersama Erlangga adalah, bahwa dia sadar kalau dirinya sudah terkena demam asmara sejak pertama kali menatap mata Erlangga tadi.

Sebelum Rani berhasil membuat jarak untuk berpamitan, Erlangga keburu menangkap pergelangan gadis itu. “Please… jangan pergi…”

Cukup tiga kata itu saja, dan ekspresi yang begitu pas dari Erlangga. Rani terpaku bagai tersihir.

Si nenek berdehem. “Nak Khairani jangan seperti itu, Nenek juga memaksa nih. Kalau tidak ada Nak Khairani tadi, pasti Nenek sudah nyasar kemana-mana kerena tidak menemukan cucu Nenek dimanapun…”

“Ah, itu bukan apa-apa, Nek. Siapapun orangnya yang melihat Nenek kebingungan di lorong kayak tadi pasti bakal melakukan hal yang sama seperti yang Rani lakukan.”

“Tapi syukur nenekku ditemukan sama kamu.” Erlangga senyam-senyum, membuat Rani kian jengah dengan pipi merona. Ditambah lagi pergelangan tangan kanan Rani masih belum dilepas Erlangga.

“Iya, untung yang menolong Nenek bukan janda beranak tiga…” Sang nenek kompakan sama cucu.

Rani menggumam entah apa lalu memandang Erlangga. “Besok-besok neneknya jangan ditinggalkan gitu lagi, kan kasihan udah tua.” Rani berucap bijak.

Erlangga manggut-manggut lalu tanpa permisi mulai menyeret langkah Rani mengikutinya menuju food court.

Di satu tempat di dalam mall, makhluk imut bersayap tak kasat mata yang tadi memanah Erlangga dan Rani tertawa lebar sambil loncat-loncat, menari-nari kegirangan. Matanya berbinar bahagia melihat tangan mangsanya saling bertaut… yippiiiee!

***

DEGG

Jantung Erlangga berdetak satu kali dengan hentakan yang begitu kuatnya ketika memasuki kafetaria kampus. Bisa dikatakan kalau kafetaria yang sedang dibanjiri mahasiswa dan mahasiswi ini adalah tempat nongkrong paling besar dan paling difavoritkan oleh seluruh warga universitas. Tak heran kafetaria ini selalu penuh oleh murid dari fakultas manapun.

Tapi bukan sesaknya pengunjung yang membuat jantung Erlangga menyentak kuat satu kali dan diikuti debar cepat setelahnya. Namun adalah keberadaan Rani Tayangnya yang tidak sendirian. Erlangga memang sudah sering menemukan Rani tidak sendirian di meja kantin. Dia sering menemukan Rani semeja dengan Syuhada di banyak kesempatan atau Syuhada+Gunawan di sedikit kesempatan. Tapi bersama cowok yang sedang bercakap-cakap dengan pacarnya di depan sana, sumpah! Baru kali ini.

Apa ketika aku menelepon tadi Rani Tayang memang sudah bersama Aidil ya?

Erlangga menduga-duga sendiri. Sebelum menuju kemari, dia memang terlebih dulu menelepon sang pacar dan memintanya ke kafetaria untuk sekedar ngopi bila sedang tak ada jam. Tapi seingatnya, di hape tadi tidak satupun kalimatnya yang berbunyi senada ini : Ajak Aidil ya!

Erlangga ingat mimpinya beberapa malam lalu. Mimpi itulah yang membuat jantungnya berdebar kuat dan cepat. Dia berjalan menghampiri meja.

Erlangga berdehem ketika sudah berdiri di sisi mereka, “Wah, ada Aidil. Surprise…”

“Eh, Mr. Sok Cool datang juga…” Aidil balas berseru.

Erlangga meleletkan lidah pada Aidil lalu memberi perhatian pada pacarnya yang duduk berseberangan, “Halo Tayang…” jari Rani sukses diemut Erlangga.

Rani kontan menarik tangan kanannya. “Angga apaan sih?” ternyata, ngemut jari adalah perangai baru Erlangga, terbukti Rani kaget. Kalau sudah biasa, pasti dia akan berlaku santai, malah boleh jadi bakal ikut mengangsurkan jempol kakinya kiri kanan untuk diemut Erlangga. Tapi tidak.

Aidil melongo sementara Erlangga cengengesan.

“Wah manisnya…” Aidil berujar telat, setelah Erlangga menghempaskan bokongnya di kursi di sebelah kiri Rani.

“Eh, udah mesan ya?” Erlangga bertanya ketika menyadari kalau di atas meja sudah ada tiga gelas besar jus entah apa. Dari warnanya Erlangga mengira kalau dua gelas yang ada di depan Aidil adalah jus alpukat dan sisanya yang di depan Rani adalah jus terong belanda. Erlangga sangat hapal jus yang disukai pacarnya, jus terong. Waow, terong.

Terong gitu aja yang tidak jelas siapa yang nanam amat disukai sama Rani Tayang, apalagi kalau terong punyaku pribadi? Pikiran Erlangga sedikit terkontaminasi, dipicu nama buah yang sudah diblender dalam gelas Rani.

Erlangga bersiap-siap menyambar satu gelas jus di depan Aidil, tapi tangannya keburu dipukul seseorang. “Woi, jangan asal nyambar! Dasar barbar! Pesan sendiri sana. Meski secuil, gak ikhlas minum gue diicip elu!”

Rani tertawa, Aidil terbahak. Sedang Erlangga melongo kaget sambil mendekap tangannya yang kena pukul orang. Sesaat tadi mukanya sempat pias saking kagetnya. Tapi begitu tahu siapa yang muncul dan dengan berani sudah menggaplok lengannya, Erlangga naik darah.

“HOOEEKK… kalau tahu ini minum lu, Do… dibayar emas-permata-mutumanikam-intan-perak pun gue ogah icip meski setetes!”

“Halah, bicara lu aja kayak gitu. Coba gue telat sedetik aja dari toilet pasti jus gue sukses lu colong.” Orlando mengamankan gelasnya lebih dekat dengan dirinya. Dia sudah duduk di kursi di samping kanan Aidil, berhadap-hadapan dengan Erlangga.

“Kalau tau itu minum lu, palingan jika lu beneran telat sedetik dari toilet udah gue campur semen tuh gelas biar cacing dalam perut lu bisa bangun rumah…”

Aidil menghembuskan napas panjang, menggelengkan kepala beberapa kali lalu menopang dagu. Selama ini, responnya selalu begitu bila dua cowok aneh di dekatnya ini sudah saling unjuk gigi. Sementara Rani, sibuk mewanti-wanti Erlangga dengan pelototannya sambil sesekali menggemerutukkan geraham saking geramnya dengan perangai sang pacar. Apa mereka tidak sadar kalau sudah jadi pusat perhatian beberapa pengunjung kafetaria sejak tadi?

Orlando masih belum diam walau sadar kalau pacarnya mulai bête. Erlangga masih tak mau mingkem meski pinggangnya sudah beberapa kali jadi sasaran cubitan Rani. Lalu…

“Mas, mau debat dulu atau pesan makan sekarang?”

“Pas banget Mbak, tolong bawakan arang panas satu piring buat Gerbong Ringsek ini…” Erlangga menunjuk Orlando. “Dia sudah lama gak makan bara api.”

Si mbak pelayan mengernyit.

“Bawakan juga oli kotor satu pasu, Mbak. Gak usah kasih es. Bajaj Rusak satu ini sedang kepengen minum oli.” Orlando tak mau kalah balas menunjuk muka Erlangga.

Si mbak makin mengernyit.

“Ya Tuhan… tolong jangan sekarang!” Aidil berujar putus asa. “Aku lapaaarrrr…”

“Angga, aku keluar aja deh kalau kamu terus berisik gini.” Rani bersiap-siap menyandang tasnya.

“E e e… Tayang jangan pergi. Iya, aku diam. Kita makan. Iya!” Erlangga memelas pada Rani.

Rani tak jadi beranjak, siasatnya selalu mempan terhadap sang pacar. “Jus terongnya satu lagi mbak,” ujarnya pada si mbak pelayan.

“Lah, Tayang lupa ya? Aku kan gak suka terong…”

“Aku suka!” Tiba-tiba Aidil berseru lalu spontan membekap mulutnya sendiri. Orlando langsung menatapnya dengan pandangan tak biasa.

“Ya udah, alpukatnya kasih Angga, untuk Aidil ganti terong…” Rani merespon seruan Aidil dengan bijak.

Aidil mengangguk satu kali.

“Jangan!” tiba-tiba Erlangga berseru. “Aku mau jus terong, iya… aku mau jus terong.” Erlangga paranoid sendiri, dia tak ingin melihat minuman Aidil sama seperti minuman milik Rani.

“Ya sudah, Aidil tetap alpukat aja… kayak aku!” Orlando menyesap sedotannya, tenang.

“Gak ada yang lapar?” tiba-tiba si mbak pelayan bertanya.

“Saya lapar,” jawab Aidil semangat. “Bakso urat jangan pake lemak.”

“Sama…” lanjut Orlando.

“Mie pangsit.” Rani bersuara.

“Idem,” pungkas  Erlangga.

Serentak mereka berempat melipat lengan di atas meja.

“Baik, jus terongnya satu lagi, bakso urat gak pake lemak dua dan mie pangsit dua…”

“Benar sekali!” jawab Rani.

“Acc!” ujar Aidil

“Plus sepiring arang panas buat Gerbong Ringsek ini!” Erlangga menunjuk cowok di depannya.

“Dan sepasu oli kotor buat Bajaj Mogok ini!” Orlando balas menunjuk.

“Kasihan, ganteng-ganteng tapi pikirannya pada gak waras,” jawab si mbak lalu melenggang pergi.

Aidil dan Rani kontan tertawa. Aidil bekakakan sedang Rani bekikikin.

“Huh, sekate-kate tuh si mbak, mau dipensiunkan apa?” Orlando mendengus kesal.

“Untung dia nyebut ganteng, Do. Kalau sempat dia lupa kata itu dan langsung nyebut kita gak waras, Gue semen mulutnya!” Erlangga turut mendengus.

“Dan gue pasti mau bantuin ngaduk semennya,” lanjut Orlando.

“Ngecor pun gue kasih bagian kok!”

Ternyata mereka bisa se-iya se-kata juga.

Aidil geleng-geleng kepala. Rani tersenyum geli.

“Eh, Tayang kerudungnya baru ya?” tiba-tiba Erlangga berseru. “Baru kali ini aku lihat kerudung Rani yang ini.” Erlangga membelai puncak kepala Rani satu kali.

Orlando diserang batuk sedang Aidil hanya bisa ber-ciye-ciye sendirian.

“Kalau mau belai Rani ya belai aja, Ngga. Gak usah mengkambing-hitamkan kerudung ah. Banyak gaya lu!” semprot Orlando setelah batuknya mereda.

“Enggak enggak, kerudungnya memang baru. Iya kan Tayang?” Erlangga meminta pembenaran dari pacarnya.

Rani mengangguk, “Iya baru beli dua hari lalu, ini Aidil yang bantuin milih loh…” Rani menjawab sambil tersenyum senang. “Angga suka?”

“HAH!?” Erlangga terbelalak, menatap Rani.

“APA? Aidil jalan sama Rani beli kerudung tanpa bilang aku?” Orlando juga membelalak, bukan pada Rani melainkan pada Aidil langsung.

“Apa sih lu, ikut-ikutan aja. Memangnya yang pacar Rani siapa? Pake melotot segala, udah gitu salah melototin lagi. Trus harus gitu Aidil ngelapor-lapor? Emang elu bapaknya?”

Orlando sedikit susah meneguk ludahnya ketika disembur demikian oleh Erlangga, gerakan jakunnya tampak jelas. Sedetik kemudian dia menyedot setengah dari isi gelasnya. Tidak seperti tadi, kali ini lelaki itu tidak merespon balik omongan Erlangga.

Merasa sudah berhasil membungkam bacot musuh bebuyutannya, Erlangga kembali fokus pada Rani. “Tayang, beneran jalan sama Aidil untuk beli kerudung? Kenapa gak ngajak aku aja? Pernah ya, aku bilang gak bisa tiap kali diminta kamu?” Erlangga menekankan kata ‘gak bisa’ dalam kalimatnya. “Tayang udah gak nganggap aku ada ya? Sekarang lebih milih ngajak Aidil ya?”

“Ngga, aku hanya kebetulan berpapasan sama Rani di plaza busana muslim, dia bingung milih jilbab jadi ya aku bantu milih.” Aidil bersuara ketika merasakan aura tak enak dari Erlangga.

Erlangga memandang karibnya dengan tatapan tak terartikan. Mau tidak mau, cowok ini kembali mengingat mimpi buruknya beberapa malam lalu. Dalam mimpinya, dia baku hantam dengan Aidil di sebuah lapangan sementara Rani duduk sebagai satu-satunya juri di kursi komentator. Erlangga bergidik mengingat kelanjutan mimpinya. Bagaimana dia menghajar Aidil hingga berdarah-darah karena dalam mimpinya itu Aidil seakan-akan hendak merampas Rani darinya. Apakah maksud mimpinya itu seperti ini? Rani akan berpaling atau Aidil yang akan merebut Rani darinya? Erlangga digusarkan pikirannya sendiri.

“Ehem… ada yang cemburu juga ternyata.” Orlando mengipasi dada dengan cara menarik-narik kemejanya di bagian dada berulang kali.

Erlangga melewatkan kata juga dalam kalimat Orlando, dia menyembur. “Gue mau cemburu atau engga, gak ada hubungannya sama elu!”

“Angga, beneran… aku dan Rani cuma berpapasan. Rani mau cari jilbab sedang aku baru saja beli baju koko untukku sendiri.”

Pesanan mereka diantar pelayan yang sama yang mengatai Orlando dan Erlangga tak waras. Dengan cekatan si mbak mengatur mangkuk dan gelas di atas meja.

“Mbak, bawakan es batu satu cawan ya… mendadak saya merasa kepanasan.” Orlando berucap sambil masih menarik-narik kemejanya. “Ini serius, bawakan ya!”

Si mbak mengangguk lalu beranjak pergi.

“Lu gak usah nyindiri-nyindir gue, Do!”

“Aduh apaan sih, sok penting lu. Gue beneran kepanasan tauk!”

Aidil menatap Orlando tajam, “Kak Lando jangan ngulah!”

“Ada yang ngulah lebih dulu dariku.” Orlando menimpali.

“Peduli tuyul! Yang mau cemburu silakan cemburu, atau yang mau interogasi pacarnya silakan lanjut. Aku lapar…!” beringas Aidil menarik mangkuknya mendekat dan mulai mengisi mulut.

“Aku juga malas ngeladeni sikap yang amat sangat kekanak-kanakan.” Rani ikut-ikutan melahap pesanannya.

Merasa kalau sidang sudah ditutup, Erlangga menyendok pangsitnya dengan malas. Orlando mengikuti setelah lebih dulu melirik cowok di sebelahnya.

Mereka makan dalam kebisuan. Erlangga sesekali masih melirik bergantian antara Rani dan Aidil. Orlando sepertinya terlalu bersemangat dengan garpu dan sendok hingga mangkuknya bersuara paling ribut di antara. Aidil menahan diri untuk tidak menginjak kaki lelaki di sampingnya. Rani meskipun terlihat kalem dan santai, namun hatinya yang paling bergejolak. Gadis ini memikirkan berada di tingkat berapa kecemburuan pacarnya saat ini? Bagaimana meyakinkan Erlangga jika nanti pacarnya itu menanyakan lebih detil? Rani menyadari sepenuhnya kalau Erlangga dari tadi sibuk menatap bergantian antara dirinya dan Aidil. Kecemburuan dan kecurigaan Erlangga sepertinya tidak main-main. Rani harus mempersiapkan diri untuk meyakinkan Erlangga kalau kecemburuan dan kecurigaannya tersebut sama sekali tidak perlu.

Mereka tetap membisu seperti itu hingga si mbak pelayan datang mengantar es batu yang diminta Orlando.

“Lu benar, Do. Gue memang butuh es batu saat ini. Hati gue serasa ada yang bakar!” Erlangga siap menyambar cawan yang penuh es. Namun dia kalah cepat dengan sambaran tangan Orlando.

“Minta sendiri!” Orlando menarik cawan ke dekatnya. “Gue kan udah bilang kalau gue juga beneran kepanasan! GUE GERAH!!!”

Aidil berang sendiri mendengar ucapan Orlando yang diakhiri dengan suara keras nyaris berupa bentakan. Dengan kasar dijatuhkannya garpu dan sendok yang sedang digunakan kuat-kuat ke mangkuknya yang masih berisi setengah. Garpu terpelanting jatuh ke meja. Kuah bakso menciprat ke meja, sebagian ikut mengotori kemejanya dan memercik ke kemeja Orlando.

Rani langsung pucat. Tak pernah dia melihat Aidil berlaku demikian.

“Kalian ini kenapa sih?” Aidil melotot garang. “Ngilangin selera makan, tau gak!” dia menatap Erlangga dan Orlando bergantian. “Jangan kayak anak SD, gak pantes, malu sama umur, malu sama status yang sudah bergelar mahasiswa. Mahasiswa bukan anak sekolah menengah yang masih labil dan menempatkan emosi tidak pada masanya.” Aidil mengambil jeda untuk memasukkan stok oksigen ke dadanya. “Angga ngapain cemburu sih? Rani tuh setianya cuma sama kamu. Kamu kira aku teman macam apa?” Dia menatap Erlangga tajam untuk beberapa lama.

Dipandang demikian, Erlangga mengkerut juga. Dia diam sambil sedikit menundukkan kepala. Selama berteman dengan Aidil, belum pernah dia mendapati karibnya seserius dan seberang sekarang.

“Trus kamu juga…” Aidil sekarang menyerang Orlando.

Erlangga dibuat kaget lagi. Setahunya, Aidil akan selalu memanggil Orlando dengan sapaan ‘Kak’, tak pernah ber-kamu-kamu seperti itu. Hemm… bukti kalau karibnya itu sungguhan marah dan sedang sangat serius.

Jika Erlangga kaget, maka Orlando super keget sampai-sampai terlonjak di kursinya. “A… a… aku kenapa, Dil?” lelaki itu sampai harus tergagap.

“Ngapain ikut-ikutan panas segala? Mau bikin panas keadaan?” Aidil mendengus. Di bawah meja, akhirnya kaki kanan Aidil menghujam kuat-kuat di atas kaki kiri Orlando, bersamaan dengan itu matanya ikutan melotot untuk menegaskan maksud.

“Hhngg…” Orlando nyaris berteriak kesakitan namun ditahan ketika melihat pelototan Aidil, alhasil wajahnya merah menahan sakit.

“Udah dewasa kelakuan masih aja kayak anak TK. Inget ya kalian berdua…” Aidil menatap Erlangga dan Orlando bergantian. “Jika masih aja perang bacot gak penting kayak tadi saat sedang berada di sekitarku, aku cabut gigi kalian tanpa anasthesi! Aku rontokkan! Pahami dan camkan!!!”

Erlangga spontan memegang gigi depannya atas bawah, dia bergidik membayangkan Aidil benar-benar akan merontokkan giginya tanpa pembiusan. Sedang Orlando kesulitan meneguk ludahnya saking takut dengan ancaman Aidil. Sampai saat itu, sepatu Aidil masih berada di atas sepatunya

Tiba-tiba Rani mengacungkan jempolnya buat Aidil. “Aku setuju, lakukan itu jika mereka masih childish kayak tadi.”

“Tayang tegaaa…” Erlangga hopeless.

Rani tak menggubris, gadis itu melanjutkan makannya.

Di bawah meja, Aidil memindahkan pijakannya. Dadanya naik turun.

Hening semenit.

“Maaf…” Orlando berucap lirih sambil meletakkan garpunya ke mangkuk Aidil. Lelaki itu bermaksud menggantikan garpu Aidil yang terpelanting ke meja.

“Do, lu lupa ya? Aidil gak akan make garpunya, dengar gak tadi dia bilang selera makannya udah ilang gara-gara sikap lu yang kayak anak TK!”

Orlando tidak memperdulikan ucapan Erlangga. Setelah tadi meletakkan garpu dan Aidil tidak membantah tindakannya itu, sekarang lelaki itu mulai menyendok bulatan bakso utuh dari mangkuknya untuk kemudian dimasukkan ke mangkuk Aidil. Dia menyendok dua kali yang berarti Aidil mendapatkan bakso extra dua butir. Dua butir bakso Orlando untuk Aidil seorang.

“Aidil kan sedang lapar berat, gak mungkin dia gak lanjut makan…” Ucapan Orlando cukup umum, bisa ditujukan untuk merespon perkataan Erlangga sebelumnya dan bisa juga ditujukan langsung untuk membujuk Aidil agar mau lanjut makan.

Sekilas Orlando tersenyum kemudian mulai makan dengan hanya menggunakan sendok saja.

Erlangga mengangkat bahu lalu meneruskan makannya yang tertunda.

Rani merasa salut dengan kelakuan Orlando barusan, dia menyikut lengan Erlangga. “Angga gak mau kasih aku pangsitnya?”

Erlangga memandang Rani lalu tersenyum. Dia menjangkau mangkuk Rani dan menuangkan sisa isinya ke mangkuk di depannya sendiri. Sekarang mangkuk Erlangga penuh hingga nyaris meluap. “Kita makan semangkuk berdua, biar lebih mesra.” Erlangga mendorong mangkuknya hingga berada tepat diantaranya dan Rani.

Rani tersenyum, “Sendok dan garpu punyaku mau di simpan juga?”

“Iya dong Tayang, kan kita makannya saling suap. Cukup satu sendok dan satu garpu saja.” Erlangga terkekeh.

Aidil tersenyum melihat sepasang kekasih di depannya. Ah, indahnya cinta. Lalu Aidil memperhatikan mangkuknya yang kembali nyaris seperti belum dimakan sedikitpun.

“Kak Lando gak apa-apa baksonya dikasih aku?” Aidil bertanya lembut.

“Wah, balik sopan lagi ngomongnya. Udah gak marah lagi kan?” Erlangga menaik-naikkan alisnya.

Aidil tak merespon kalimat Erlangga.

Orlando menggeleng sambil tersenyum. “Mungkin dengan kamu menghabiskan dua baksoku, kakiku akan sembuh sakitnya.”

Bibir Aidil melengkung bagus. Cukup itu saja untuk mengabarkan isi hatinya kepada lelaki di sampingnya. Aidil memegang sendok dan garpu baru, lalu melanjutkan makannya.

Erlangga dan Rani tentu saja tak mengerti apa yang diucapkan Orlando. Dan mereka memang tak mau ambil tahu. Berdua, mereka sedang bergantian saling menyuap sambil sesekali saling menyapu bibir dengan jari, satu sama lain. Demikian cepatnya cinta memperbaiki keadaan.

Erlangga dan Rani, siapa menduga dan siapa berani menyangkal? Cinta mereka dipertemukan dalam kejadian unik. Dan cupid cinta tak salah memilih sasaran ketika melesatkan panahnya hari itu di Pusat Informasi mall. Cinta mereka bukan cinta sesaat, bukan cinta semusim. Cinta mereka kuat dan tulus dengan segala likunya. Karena mereka adalah dua insan di antara segelintir insan yang layak disebut Pecinta Sejati…

 

 

Hujung Mei 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com