image

Just Be Friends, Not Best Friends
words by: Olief

I vow that
No matter if I stop, or if I forget
I will keep moving forward
Light is shining down, when I look up at the sky

Pada sebuah malam yang kurasa tak akan seorangpun memberikan tangannya, tiba-tiba saja hidup kau suguhkan.

Uluran tangan yang menggengam erat dan menarikku dalam ruang cahaya.

The feelings I wish I could tell you
A miracle created from the things I’ve always believed
Is connected to the future
Always, always I want you to watch over me
Dear my friends

“Lihatlah ini” Katamu sambil menyerahkan sebuah bola cahaya. Sepertinya bukan hanya dari dalam bolanya sinar itu berpijar, namun dari berbagai pantulan cahaya yang membuatnya semakin terang.

Serupa dirimu, dengan segala genggaman dan pelukan dari warna-warna yang kau kenalkan. Aku terhanyut.

The gentle blows of wind
Has become the sign of departure
Flapping my wings, i take flight to the blue sky
In order to grip this feelings.

Sempat aku terlupa dengan segala malam yang mencengkeram leher, membuat sesak dan menekan dada. Kau hilangkan aku melebur jadi kita.

Percayalah, sejak itu aku tak bohong ketika mengucapkan “Kimi wa hitori janai, boku ga sobani iru.”

Kamu tak sendiri, ada aku disampingmu.

Meski sebenarnya kaulah yang membuatku merasa tak sendiri lagi.

Outside of classroom’s window,
Paper airplanes flew to the blue sky of innocent day
As my body grew taller,
Pleasant things, worries and sad things came

Ya, angin itu datang, hujan itu tiba dan panas pun tak bisa dihindari. Bagai gelas, manekin, etalase, tembok, ah apapun itu yang bisa menjadi retak. Aku berusaha mempertahankan Kita. Selalu.

Namun, ternyata kau tak ingin maya, pelukan kata tak bisa menghangatkanmu.

Maka, ketika dingin tetap tercipta, bahkan hingga beku terasa. Aku putuskan mati saja.

Why do flowers wither?
Why do birds fly?
Why does the wind blow?
Why does the moon light up?
Why am I here?
Why are you here?
Why did I meet you?
Meeting you, that was fate

Aku tak pernah menyesal, ketika semua kata menjadi sepi, dan dingin menjadi sebuah hal yang menyelimuti. Maka pertemuan kita adalah yang selalu kukenang.

In the stillness of the shining sky
is your home of return.
Beyond the darkness where the moon sinks
is a narrow path that leads you
back to the beginning

Kau lihat, dengan mata yang berubah merah, dengan luka yang semakin merekah. Kuhentikan darah, mu. Aku. Back to the beginning. Won’t more pain.

Maka percayalah, aku tak pernah bohong ketika bilang kau tak sendiri. Dan jika masing-masing kita hilang hati. Biarkan aku mati.

“I take a change to be an antagonyst.”

Aku mati. Kembali sendiri.

Semarang, 20 Mei 2013

Note : diambil dari lirik Flow – Tabidachi Graffiti dan Orange-range – Hana serta beberapa puisi Aki Sakuya.