CUAP2 NAYAKA

Masih ingat cerita indah nan puitis punya Abi ‘Akang Bleguk’ Zaenal yang sempat publish di DKN beberapa bulan lalu? AKU MASIH INGAAAAAAAAAAAAAT. Sumpah ya, itu cerita luar biasa perihnya tapi dikisahkan dengan bahasa luar biasa syahdunya, luar biasa indahnya. luar biasa bikin iri Nayaka karena dia gak bisa nulis indah berkias kayak gitu. Kang, ajarin aku!

Nah, kini kisah cinta segitiga itu ada lanjutannya. Keeping Dua-nya kata si Akang. Masih seperih yang pertama, masih sepuitis yang pertama dan tentu saja sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa dibaca. Maka, bacalah dan larutlah dalam dilemma Perak, meradanglah dalam penantian Jiwa, dan mengibalah dalam rindu Jibril yang beruntung.

Aku tidak mengubah apapun, ini orisinil seperti yang dikirimkan Akang Bleguk padaku. Hanya mengedit kaedah penulisan di beberapa kata yang salah (kebanyakan pada kata depan dan awalan ‘di’) setauku saja. Pesan buat si Akang, bila dia ada nongol di mari, TOLONG YA, ngedit dulu sebelum kirim ke Nayaka, jadi editor buat tulisan sendiri itu gak rugi TAUUUUKKK!!!

Happy reading

Wassalam

n.a.g

—————————————————————————————————————-

PERAK, JIWA DAN JIBRIL

By : Abi Zaenal

Jibril meregang melepas Perak. Batinnya merana. Hatinya meluap oleh tangis yang tertahan. Piring-piring itu tetap penuh, kasur-kasur bulu angsa itu tetap terpentang. Seluruh kastil redup, seolah sayap ribuan malaikat yang pekat melingkupi seluruh istana, menahan berkas-berkas sinar matahari yang biasa menelisik masuk. Jibril hampa tanpa Perak, meresahkan Raja yang teramat sayang pada putra terkasihnya.

Dikisahkan rasa rindunya yang membuncah pada selembar kertas. Jemarinya menderas, bibirnya lirih berucap, matanya menghujaninya dengan tetes air mata, mengiringi rindu yang tak tertahankan. Perak telah menawan jiwanya. Ksatria berbaju zirah itu mengacaukan pikirannya.

“Aku memetik serat senja lalu ku jadikan latar warna sajakku kali ini. Sore ini aku merindu, entah pada siapa, mungkin pada kesempatan bercinta yang tak kupunya, atau rindu pada ketulusan yang tak pernah ada.

“Hujan itu sebuah syair, lahir dari kegundahan musim, ditulis secara sederhana oleh terik lalu didengungkan lagi ke bumi untuk memberi warna pada bunga-bunga. Segamblang itulah cintaku padamu. Kutulis dari kegugupanku untuk memberikan nada pada bibir yang berhenti berkata-kata.”  Jibril melagu merindu.

Raja berderit melihat Jibril yang merana berkalang tikar, menatap kosong kelam yang terhampar, meratap nama Ksatria yang kini entah dimana. Duka Jibril telah melukai hatinya. Tak rela Raja melihat cendawan itu memupuk mata Jibril sampai bengkak. Tiraninya mengutus sekawanan ksatria untuk membawa Perak. Dikerahkan semua untuk kembalikan senyum Jibril yang sekarang berkalang bumi.

****

Lain bumi lain awan. Di hutan tempat Jiwa dan Perak menyemai cinta, hari demi hari berbulir-bulir tawa dan godaan yang indah. Di saat senja hampir menyambangi, Perak melenggang sekerat rotan, memangku sebakul buah ranum penuh cinta untuk Jiwa. Tapi sayang, sekawanan pion ksatria bertitah Raja itu menghadang, menebar ancaman atas hidup Jiwa. Perak harus kembali ke istana, agar Jiwa tak hangus disiksa salib membara.

Perak tak bisa berkata, sekawanan ksatria itu merentang panah menyala ke arah gubuk itu, api hampir mengelilingi gubuk tempat tubuh mereka bersandar. Lagi dan lagi Perak larut dalam dilema. Cintanya teramat menggunung pada Jiwa. Kasihnya teramat luas pada penyair malam itu.

Merpati tersedu, Perak mengelus perdu dengan tangan kasarnya, meneladani cinta di pelataran, menyisir sayapnya yang ditumbuhi bulu-bulu perak. Sebelum genap tangis dalam diam mengalahkannya, Perak meminang sebait sajak dalam lipatan. Meminta Merpati pagut dalam janjinya.

“Jika kali ini aku harus melenggang kaki, bukan tak lagi mencintainya, aku telah melakukannya dengan sebentuk keberanian sederhana, bukan karena membencinya alasan kupergi, aku hanya tak bisa berlama-lama dengan sebentuk jiwa yang terlalu sering membuatnya mengurai air mata. Pegang kokoh janjimu wahai Merpati, aku selalu mencintanya dalam tiap detik waktu, dalam tiap detak jantungku. Namanya tersemat dalam setiap desah nafasku, bayangnya tercetak dalam kedip mataku.”

Perak berlalu dengan sendu yang dalit. Merpati kelu dalam duka yang larut, janjinya pada Perak mengosongkan pikirannya. Tak terkira bagaimana Jiwa menjalani harinya tanpa Perak.

Jiwa memerangkap dirinya di gubuk itu, menanti Perak yang akan datang dengan rotan di pundaknya, atau dengan menjangan yang terjaring. Tapi matahari telah surut di barat, bulan menggantinya dengan sabit yang melintang, seorang diri tanpa gemintang yang mengedip-ngedip dengan genitnya. Gelisah mulai melecut kalbunya, pikirannya pekat, sepekat malam ini.

Bulan menghilang, berganti gerimis yang rintik. Hanya doa yang terpanjat di setiap malamnya atas Ksatria berbaju zirah itu.

*****

Perak melenggang ke istana yang megah dan gemerlap oleh zamrud, menginjak lantai istana yang memantul mengilau seperti tebaran topaz. Gerbang kamar Raja itu berkasturi, berhadang zirah bertombak runcing, serta kipas berbulu-bulu yang turun melambai-lambai.

“Bilakah semua harus tunduk pada kodrat dan kelumrahan, sungguh, ketetapan titahku adalah musuh sejatimu. Bermain-mainlah dengan indah masa kecilmu. Bukankah aku menyapihmu sedari kecil? Bukan, bukan karena kasih yang menyawang, tapi demi Jibril yang memohon agar kami memberinya kawan, meski kalian dipisahkan jarak karena abdimu pada negeri ini.”

Tapi murka Raja tak mampu goyahkan tekadnya atas Jiwa.

“Lalu pada siapa aku meminta pembelaan? Aku tak punya lagi secuil asa. Lalu kuusik saja ketenangan langit jingga dan sekawanan bidadara yang memagut namanya di antara kehadiran jelaga. Lewat sebaris syair, sendu itu dia biarkan bergulir. Rindu adalah saksi dari adanya cinta di dadanya, bukan padaku ia bertumbuh, tapi karena adanya dirimu.” Raja kini mengiba, meminta asa pada Perak yang kokoh.

“Hatiku telah terpaut padanya. Bukankah ujung laut selalu nampak manyatu dengan langit, namun merekat dikalang bumi. Itulah kami, tak pernah melarut sampai kapanpun. Bukankah cinta tak selalu harus memiliki?” Perak kukuh pada tekadnya, melepas pandangan pada hamparan

Raja mengiba pun tak bisa lunturkan cintanya yang kokoh atas penyair berhati embun itu. Sampai Raja mengajaknya menyusuri lorong gelap menuju kamar Jibril yang menyepi di puncak menara, berkawan gelap dan hawa yang basah.

Pintu kayu lapuk itu terbuka. Perak terenyuh, sayap Jibril yang dulu terentang dari ufuk ke ufuk sekarang rontok, tubuhnya kisut dan matanya cekung. Iba meraja dalam pikir Perak. Sendu bertahta dalam kisaran hatinya. Tak disangka Jibril merana ditinggal olehnya. Tak dinyana Jibril yang rupawan sekarang raib pesonanya karena duka. Jibril beku saat matanya menangkap sosok yang dipujanya. Dia hanya diam, tapi mercon itu meledak-ledak dalam hatinya. Perak menyongsong Jibril yang pipinya basah oleh rindu. Bibir keringnya bergetar.

 

“Di balik garis embun yang beranjak pergi, pada lapisan gerimis yang bergegas memudar, Aku menjerit tanpa suara, merintih tanpa lenguhan, menangis tanpa airmata. Sepi menyerangku tanpa belas kasihan, dihunuskannya aku dengan seribu kesenduan beracun.” Jibril mengadu.

Perak terdiam. Rindu Jibril padanya telah menyesap raganya, meraup senyumnya. Jibril berkawan sepi, berteman air mata. Tapi hati Perak hanya untuk Jiwa seorang. Jiwa yang lembut hatinya, pagutnya yang melemaskan, dan syairnya yang melarutkan. Dia tak bisa berjarak dengan Jiwa, tapi tak mampu lukai Jibril yang sekarat.

“Bagaimana mungkin aku menyetarakan cinta yang kupunya saat ini dengan banyaknya bait yang bisa kubangun di atas sebuah sajak, jika penatnya siang dan terik yang memapar terus melipatgandakan jumlahnya? Aku akan menjadi langit yang mencurah hujan untukmu. Aku akan menyerupa mega yang meneduhkan pandanganmu. Cepatlah memelukku biar kutunjukkan rindu yang tak bisa lagi digambarkan puisi.”

Perak merengkuh Jibril dalam enggan, menciumnya dalam kekakuan bercinta. Batin Jibril memagut puja dan puji pada dewa-dewi yang bertahta di nirwana, mengagungkan cupid-cupid yang lucu yang sekarang memanahinya dengan mata panah merah keemasananya.

Jibril kembali hidup. Hanya Ksatria berzirah perak itu yang dia inginkan, bukan yang lain. Senyumnya kembali hidupkan istana yang sempat redup. Terompet bersahutan, kalkun-kalkun montok itu tersaji mengepul di atas meja, memenuhinya yang telah menampuk segala rupa buah dari penjuru negeri, menyambut senyum Jibril.

******

Musim bergulir. Dan di dalam semak yang membelukar, pohon-pohon yang dulu rindang sekarang meranggas, menggugurkan semua helai hijau itu yang sekarang berlarian diterpa angin. Seperti Jiwa yang hampir ikut meranggas, tapi keyakinannya akan Perak membuatnya selalu saja menunggu datangnya sang penawan hatinya saat senja. Sampai purnama berganti sabit, sabit menghilang dan bulan baru muncul, tapi Perak tak jua kembali. Dan di bawah remang rembulan, gemintang bertebaran, dan awan tipis yang mengabut, dia menjinjitkan kakinya di antara serak-serak daun. Terus mencari kabar atas Ksatria yang merajai pikirannya.

Merpati juga luput lidahnya. Dia hanya sendu menatap Jiwa yang gelisah setiap pagi dan senjanya, menyaksikan malamnya yang penuh doa dan ratap. Setiap sudut telah dia jejaki, semua gua telah dia telusiri, setiap hewan bernafas tak luput dari pertanyaannya atas Perak, tapi hanya bisu yang ditemuinya. Berlembar-lembar kulit kayu itu berderas syair rindunya atas Perak sang Ksatria. Jiwa tak tahu bahwa Merpati dirudung janji pada Perak, dia tak boleh berputih lisan pada Jiwa bahwa dia ke Azzuri demi mengganti nyawa Jiwa yang terancam.

****

Selusin purnama telah melintang. Perak hampir terlupa pada Jiwa yang merintih. Iba itu mengubah diri jadi sebentuk rindu di setiap harinya. Rindu itu berkontemplasi jadi sekerat rasa yang tak dimengerti Perak. Jibril membelah hati perak lewat sisi manusianya. Perak mengawaninya mengajari para anak matahari. Menemaninya menghias telaga yang kini berbunga-bunga di tepinya. Menikmati malam dengan kecipak air di bawah purnama yang serupa cermin. Merebahkan diri pada hamparan dan menghubungkan titik-titik yang berkerlap-kerlip dengan genitnya.

“Seperti bulir dalam telisik, air mata ini menggenang dan membanjiri Sahara. Bukan, bukan nestapa yang melanda, tapi bahagia ini tuhan tempiaskan dalam pusaran hidupku. Aku mencoba memerciki lautan lewat syahdu yang mendera. Mengalun nada dalam puja-puji tak terkira. Satu desah nafaskmu makin menjulangkan sukmaku.”

Perak terlena dalam rengkuhan hangat Jibril, melupa Jiwa yang lintang pukang mencarinya.

 

INTERMISSION