PELAMPIASAN

OLEH :

Suchi.Hime a.k.a d’Rythem24

.

-Giovi Point of View-

Malam minggu adalah malam yang cukup istimewa. Para pemuda pemudi berbondong-bondong keluar dan melepaskan diri dari segala aktivitas mereka demi menikmati akhir pekan ini. Jika beruntung, Mereka bisa saja pergi berdua dengan kekasih tersayang, atau pergi sendirian atau hanya dengan teman saja? Itu tidak buruk.

Pasar malam.
Disinilah aku menghabiskan malam mingguku, dan tentunya aku tidak akan sendirian sekiranya si cunguk itu tidak semenyebalkan ini. Ada seseorang yang mengajakku kemari dengan embel-embel bersedia menemaniku kemana saja atau membolehkanku naik wahana yang kusukai.
But, the reality is…

‘Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan…’

Damn! Kemana sih dia?

Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut keramain di pasar yang hanya digelar setahun Sekali ini. Terlalu banyak orang, mana bisa aku mencari satu orang di antara ratusan orang yang tumpah ruah di sini?

Aku menyimpan ponsel di genggamanku ke dalam kantung celana jeansku.
“Dewa.. Kamu dimana sih?” Keluhku sembari tetap mengedarkan pandanganku kesana kemari.

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 08.38. Ya ampun.. Serius? Sudah hampir 20 menit aku mencarinya? Mungkin karena lapangan tempat dibuatnya pasar ini cukup luas dan agak gelap, aku semakin kesulitan mencari.

“Ah, Dewa.. Kamu ke-” Ucapanku terhenti begitu pandanganku kini berhasil mengunci target yang sejak tadi aku cari.

Di sana dia rupanya, Si pemakai jaket hitam bernomor punggung 25 itu tengah melihat-lihat sepatu yang di jual tak jauh dari tempatku berdiri. lega bercampur kesal, segera saja kuhampiri dia. Tanpa menyapa atau bertatap muka dengannya dulu, aku menarik ujung jaketnya secara kasar dan menyeret ia dari sana.

“Kamu tuh kemana aja sih? Ninggalin pacar sendiri di tengah keramaian begini, gimana kalau aku sam-”
“Pacar?”

Kata-kata beserta langkahku terhenti begitu mendengar suara lembut namun keras dari orang yang sedang aku seret sekarang ini.
Peganganku melemah sampai terlepas dari jaketnya.

“Pacar kamu bilang? Sejak kapan kita pacaran?” Katanya lagi.
Ya ampun.. Ini bukan suara Dewa.

Tanpa mau menoleh ke arahnya terlebih dahulu, aku segera saja memutus jarak dengan berlari menjauhinya.
Stupid! Kok bisa aku sampe salah nyeret orang?

Aku terus saja berlari, menghindari beberapa orang yang sekiranya menghalangi jalanku, hingga tiba-tiba dari belakang ada yang menarik pergelangan tanganku..

“Gio?” Seru suara itu, suara Dewa.
Aku pun menoleh ke belakang, dan benar.. Ternyata ini Dewa.
“Kamu kemana aja sih?” Protesku langsung. Dewa menghela nafas berat.
“Harusnya aku yang nanya gitu sama kamu!” Responnya seraya menyentil daguku. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku ini agak ia condongkan ke arahku.
“A-apa?” Tanya agak gugup padanya.
Dewa terkekeh, “Kamu keringetan tau gak! Nih..” Dewa mengusap dahiku dengan tangan besar namun halus miliknya. Aku jadi tersipu.

.

“Kita mau kemana?” Tanyaku pada Dewa yang tadi menyuruh aku untuk mengikutinya. Katanya dia akan memperkenalkan aku pada saudara sepupunya yang baru pulang dari luar negeri, dan kebetulan Sepupunya itu ada disini juga, di pasar malam ini.

Kami berhenti di warung Mie Ayam Bakso yang sepertinya cukup laris disini.
“Yuk!” Dewa mengedikan kepalanya ke depan dengan maksud agar aku masuk ke dalam bersamanya.
Aku pun melangkah masuk mengekor di belakangnya, tak berapa lama langkah Dewa berhenti ketika Kami sudah berada di tempat duduk yang paling ujung.
Disana sudah ada seorang lelaki yang tengah duduk memunggungi kami, tidak.. Bukan itu masalahnya.
Jaket nomor 25 itu?
Jangan-jangan..

“Woy!” Dewa menepuk pundak Lelaki-ah tidak, Cowok itu hingga Ia menoleh dan mata Kami entah sengaja atau tidak langsung saling bertatapan.
Baru sebentar melihatku, Cowok di depan kami ini sudah mengerutkan keningnya. Dia memperhatikan aku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Damn! He must be remember me?
What should I do?

“Nah, Gio.. Ini sepupu aku,” Ucap Dewa membuyarkan pikiranku yang tengah berkecamuk. “Ren, ini.. Temenku, Giovi,” Lanjutnya dengan sedikit memberi jeda.

Cowok yang di panggil ‘Ren’ oleh Dewa itu bangun dari tempat duduknya, Ia mengulurkan tangannya ke arahku, “Farren Alhamdani.. Salam kenal,” Katanya seraya memperkenalkan diri dengan menunjukan senyuman yang penuh arti.

“Aku Giovi Adiresya, salam kenal juga.” Kataku yang lalu membalas jabatan tangannya.

Tak berselang lama, Kami melepaskan jabatan tangan kami.
“Ya udah, Kalian duduk dulu ya.. Aku mau minta pesanan.” Baru saja aku mau minta dia untuk tidak pergi, tapi Dewa malah mendudukan aku lebih dulu ke tempat yang ada di samping Farren ini.

Oh, God.. Apa yang harus aku katakan padanya?
Aku jadi bimbang tak menentu di tempatku.

“Kamu pacar Dewa, ya?”

Jleger!

Kenapa dia begitu to the point?
Apa yang harus aku jawab?

Aku coba mengalihkan pandanganku kemana-mana, tidak mau meladeni pertanyaan secara terang-terangan nan membuatku jadi tak tau mau apa itu.

“Ehem.. Jangan pura-pura mengabaikanku.” Sindirnya yang langsung membuatku menolehkan pandanganku ke arahnya.

Aku menelan ludahku, tatapan penuh kecurigaan dan menuruk dari matanya menciptakan rasa kalut luar biasa dalam jiwaku.

“So?” Katanya sambil mengangkat sebelah alisnya.

Aku tertunduk cukup dalam, “Aku.. Cuma pelampiasannya.” Jawabku sejujurnya meskipun aku tau dia pasti tak paham akan jawabanku.

“Kau gay?”

Deg!

Apa lagi itu?
Debaran gugup dari perasaan kalutku makin bertambah kencang.
Aku pun memberanikan diri menatap matanya.
Ia terlihat menyunggikan senyum kecut, seingin tau itu kah Kau?
Batinku bertanya-tanya.
Ketika aku akan membuka mulut..

“Pesanan datang!”

Suara Dewa mengintrupsiku dan membuat aku kembali membenarkan posisi dudukku.
Ia meletakan nampan di atas meja yang berisi 3 mangkuk Mie Ayam Bakso.

Huft, aku mendadak jadi bad mood.
How boring..

Aku menatap kosong ke arah mangkok Mie Ayam Bakso yang barusan Dewa sodorkan di depanku.
Nafsu makanku tiba-tiba hilang.
Padahal baru pertama kalinya aku bertemu dengan cowok bernama Farren ini, tapi dia seakan telah jadi mimpi buruk buatku.
Dia terang-terangan sekali..

“Gio? Di makan dong..” Sahut Dewa ke arahku begitu tau aku tak juga menyentuh makananku. Aku hanya mengangguk dan memaksakan diri untuk memakan hidangan di depanku ini.

– – –

Kenapa?

“Namaku Farren Alhamdani, senang bertemu dengan Kalian semua.” Ucapnya memperkenalkan diri di depan kelasku sambil memasang senyum sok-tapi memang- manisnya.
Aku kira tempo hari adalah hari pertama sekaligus hari terakhir kami bertemu, tapi ternyata.. Dia malah satu kelas denganku.

Apa ada yang lebih buruk dari ini?

.

“Mulai hari ini Farren satu kostan sama kita,” Ujar Dewa memberitahuku begitu aku sampai ke tempat kost, dimana aku tinggal bersama dengan Dewa disini.

Okay. That’s not surprising me anymore.

Aku hanya menggumam pelan menanggapinya.
Kenapa rasanya aku begitu tak suka-ah, ralat.. Aku bukannya tidak suka pada Farren, hanya saja..

“Kalian sudah pernah bercinta, ya?”

Uhuk!
Aku yang sedang memakan mie goreng dalam mulutku pun langsung tersedak mendadak mendengar pertanyaannya.
Gila? Apa dia tak bisa menyadari sedikit atmosfir di sekitarku dulu!

Aku menoleh kesal ke arahnya, Farren terlihat memasang senyum tanpa dosa.

“Dengar ya.. Aku tidak tau apa masalahmu dan aku sama sekali tak ingin menanyakannya juga, tapi please.. Liat aku lagi apa, dan.. Ah, jangan terlalu to the point bisa gak sih?” Keluhku padanya yang di jawab oleh si empunya dengan manggut-manggut tidak jelas.

Dia agak menyebalkan, atau dia hanya penasaran saja?
Kenapa tidak bertanya pada Dewa saja, sungguh keterlaluan..

“Aku hanya heran saja, bagaimana mungkin seorang Gay mau tinggal bersama dengan orang yang jelas-jelas dia sudah ketahui hanya menggunakannya sebagai pelampiasan. Sampai nanti..”

Aku terdiam di tempatku begitu mendengar perkataan Farren tadi, sedangkan ia terlihat sudah tak lagi di tempatnya yang tadi duduk di hadapanku.
Aku meletakan sendok dan garpu yang sedang ku pegang ke atas piring.

Lagi-lagi, selera makanku hilang seketika.
Sebenarnya, apa sih maunya dariku?
Aku menghela nafas berat sambil agak berdecak kesal.

“Kamu disini?” Seru Dewa begitu Ia memasuki ruang makan tempatku berada, di tempat kost ini memang agak terbilang mewah dan elegan. Meskipun biayanya mahal, tapi itu tak jadi masalah buatku, karena.. Ada orang yang sedang duduk di hadapanku saat ini.

“Kenapa gak di makan?” Tanya Dewa begitu sadar aku terus terdiam. Aku cuma tersenyum simpul ke arahnya.

Sebenarnya, aku juga bingung..
Aku tau Dewa tak mencintaiku, semua ini terjalin atas dasar keputusan sepihak dariku..
Meskipun aku menganggapnya kekasihku, begitupun kadang sebaliknya Ia, tapi ini semua cuma.. Cuma bentuk pelampiasan yang dia mau aku tunjukan sesuai apa yang pernah aku janjikan padanya.
Aku tidak mau dia tersakiti, walaupun aku tau.. Selalu aku yang sakit karena ia pada akhirnya.

.

“Giovi?” Panggil seseorang dari belakangku begitu aku baru akan keluar dari kelas.

Ck, mau apalagi dia..

“Hmm?” Gumamku menjawab malas.
Farren tersenyum, “Aku dengar, Dewa bekerja di sebuah Cafè bukan? Bisa antar aku kesana?” Katanya meminta.

“Aku memang mau kesana kok.” Jawabku.
“Yes! Ayo kita pergi sekarang.” Tanpa terduga olehku, Farren malah menggaet tanganku dalam genggamannya begitu saja. Dan entah kenapa, aku tidak memberontak sama sekali.
Aku menghela nafas pelan.
Ya sudahlah..

.

Jarak usia Kami terpaut 3 tahun dengan Dewa yang usianya memang sudah mendekati 24. Dia sudah berhenti kuliah dan mulai mencoba hidup mandiri dengan cara bekerja di tempat ini.
Cafè tempatnya bekerja cukup luas, dengan gaji 1,5 juta perbulan yang tak aneh kenapa Dewa selalu merasa puas tanpa mengeluh ketika bekerja disini.

Aku dan Farren duduk di tempat yang sama namun bersebrangan di batasi oleh meja di tengah kami.
Rasanya untuk duduk di sampingnya apalagi hanya berdua membuatku kurang siap.

“Apa Kau sudah sering kemari?” Tanyanya mulai membuka pembicaraan.
“Iya, hanya seminggu 3 kali sih,”
“Cuma untuk menemui dan melihat Dewa?”
Nah, dia mulai lagi..

“Selamat datang di Cafè Hanzelux, bisa ku tulis pesanan Kalian?”

Lagi, suara Dewa kembali mengintrupsi Kami seperti di malam-malam kemarin.
Aku menoleh ke arahnya, Ia tengah berdiri di hadapan kami dengan seragam kerja yang sangat aku suka saat di sedang memakainya. Membuatnya, terlihat makin tampan dan agak menggemaskan.

Aku tersenyum, ketika baru ingin membuka suara..
“Ice cream vanilla melon dengan toping coklat strawberry, kan?” Sela Dewa yang sudah sangat hapal apa yang selalu aku pesan.
Aku mengangguk kikuk sembari agak mengkerucutkan bibirku.

“Kamu pesen apa, Ren?” Tanya Dewa beralih pada Farren.
“Hmm, sama deh kaya Gio.” Jawab Farren sambil matanya terus fokus menatapku.
Entah kenapa, aku menangkap sinyal tak mengenakan dari tatapan ini. Tatapan ini mengingatkan aku yang selalu melihat Dewa dengan cara seperti itu..
Hei, tidak! Tidak mungkin!

“Tampaknya Kalian sudah saling mengenal satu sama lain dengan sungguh-sungguh ya?” Farren memulainya lagi begitu Dewa sudah pergi dari hadapan Kami.

“Apa maksudmu? Kami ha-”
“Kau menyukainya, bukan?”

Damn! What he want to know about with asking me all this privacy stuff of me?
Aku mulai menggerutu dalam hati. Kalau tak ingat dia adalah sepupu Dewa, sudah aku maki-maki dia.

“Kenapa? Apa aku salah bertanya begitu?”
Aku mendengus sebal. Dewa, cepet datang bawa pesanan kami.

Oh, god.. Dan Dewaku benar-benar datang.
Ia meletakan pesanan Kami masing-masing satu di atas meja.

“Selamat menikmati,” Ucapnya ramah. Aku tersenyum ke arahnya dan dia balik tersenyum padaku.

“Kamu lembur gak hari ini?” Ujarku mulai bertanya pada Dewa.
“Nggak. Jam 8 aku udah pulang, tapi.. Aku ada janji sama seseorang malam ini. Kenapa? Mau nunggu?” Jawabnya seraya bertanya lagi padaku.
Aku menggeleng, “Gak apa kok.” Balasku sekenanya.

“Ya udah, aku mau balik lagi ke dapur ya. Habisin eskrimnya.” Pesan Dewa sebelum beranjak yang hanya ku balas dengan anggukan.

Kini aku beralih ke eskrim pesananku yang sudah agak mencair, padahal cuma di tinggal sebentar.
Sedangkan Farren yang duduk di hadapanku, terlihat sudah menghabiskan beberapa sendok eskrim yang ia masukan ke dalam mulutnya.

Tak ada obrolan lagi selama kami saling menikmati eskrim rasa favoritku ini.
Tetapi, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengusap bibirku dengan jarinya.
Aku tercekat dan tak dapat menghindar, tangan Farren rupanya membersihkan eskrim yang ada di sekitar mulutku.

Deg!

Apa yang dia lakukan?
Dia menjilat jarinya yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan bibirku?
Okay, Aku rasa ini sudah mulai agak tidak beres.
Aku coba mengalihkan pandanganku kemana saja asalkan bukan ke manik matanya.
Orang ini.. Dia sungguh-sungguh membuatku tak karuan.

“Gio?”

Aku pun menoleh begitu mendengar namaku di panggil, dan tanpa bisa ku hindari.. Aku pun menatap matanya. Dia tersenyum ke arahku.

Ada debaran aneh yang langsung menyeruak memenuhi dadaku..
Tapi.. Apa ini?

Dan lagi, dia sukses membuatku kehilangan nafsu makanku.

.

Tok.. Tok.. Tok..

Aku terbangun dari pembaringanku begitu mendengar suara kamar kosku di ketuk dari luar.
Mungkin itu Dewa?
Ku lihat jam dinding yang ada di dekat lemari pakaian sudah menunjukan pukul 10 lewat 26 menit.

Tanpa mau berlama-lama, aku pun segera bangun dari tempat tidur kemudian berjalan ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka..
Benar dugaanku, ternyata ini Dewa.

“Kamu kok baru pulang?” Tanyaku padanya yang memang tumben pulang jam segini padahal tidak lembur. Jam kerjanya akan di mulai sejak pukul 9 pagi sampai paling larutnya jam 8, tak ada hari libur di tempatnya kecuali di beberapa hari tertentu Ia akan di perbolekan pulang di jam yang sesuai kemauannya.

Tapi Dewa tak menggubrisku melainkan langsung masuk ke dalam dan kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di samping tempat tidurku.
Yaa, kamar Kami menjadi satu. Tepatnya semua kamar di kos-kosan ini punya 2 tempat tidur di masing-masing ruangannya. Itulah kenapa aku menyebut kosan ini cukup mewah.

Aku menutup pintu kamar perlahan-lahan. Setelah itu berjalan ke arah Dewa dan lalu melepaskan sepatu yang masih terpasang di kedua kakinya.
Dia selalu seperti ini setiap saat Ia kelelahan, dan itu menjadi alasanku kenapa aku mau tetap ada di sampingnya.
Jujur saja, meskipun satu kamar.. Kami tak pernah melakukan hal menarik bersama-sama disini.
Tidak sama sekali.
Berpelukan, tidur seranjang.. Tidak pernah.
Hubungan kami hanya terjalin seadanya dengan aku yang mencintainya sedangkan dia..

“Tak akan pernah bisa mencintaiku..” Desisku.
Bagi Dewa, Cintanya hanya ada satu orang..
Seorang gadis yang dulu pernah di pacarinya dan tanpa banyak berpikir langsung membuang Dewa begitu saja dari hidupnya dengan cara menikahi lelaki lain..
Terpukul, sedih dan sakit.. Itu semua yang aku tau pasti sedang Dewa rasakan.
Dan oleh sebab itu, aku memutuskan untuk selalu berada di sampingnya, menjadikan diriku seolah-olah berperan sebagai kekasihnya dan berlagak seakan aku adalah orang yang di cintai Dewa..
Padahal nyatanya, aku hanyalah pelampiasannya saja.

.

“Farren?” Sahutku terkejut begitu mendapati Ia ada dalam kamarku sesudahnya aku mandi.
“Eh? Aku kira kamu kemana..” Responnya santai sembari mulai duduk di atas ranjang Dewa yang sudah di tingggalkan pemiliknya sejak pukul 6 tadi.
“Kamu gak berangkat kuliah?” Tanyaku padanya. Dia hanya menggeleng.
“Ini udah hampir jam 7 lho.. Mau telat?”
“Santai aja. Pake aja baju kamu dulu, terus kita berangkat bareng.” Katanya seraya memandangku yang kini hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangku.
Aku memutar bola mataku, jengah padanya.

Aku membuka lemari pakaianku kemudian melepas lilitan handukku. Karena aku sudah lebih dulu memakai boxer, jadi tak perlu khawatir kalaupun dia akan melihatku.

Aku mengambil kemeja berwarna putih agak kebiruan favoritku yang selalu tergantung di samping pintu lemari, mulai memakainya, tapi saat tanganku baru akan mengancingkannya, terpaan nafas di belakang leherku membuat aku sedikit bergidik.
Karena tidak tahan, aku pun berbalik menghadap Ia-yang sudah pasti Farren yang ada- di belakangku. Namun begitu menghadapnya aku agak memundurkan wajahku dari jangkauannya agar tak terlalu dekat dengannya.

Farren melihatku dari bawah sampai ke atas dengan tatapan yang.. Errr, pervert.
Jangan-jangan..

“Kau gay, huh?” Tuduhku langsung. Farren menyunggingkan senyum.
“Maling kok teriak maling..” Katanya membalasku. Tangannya mulai bergerak membenarkan kerah kemejaku kemudian turun mengancingkannya.
Dan anehnya, lagi-lagi aku tak melawannya.
Tangannya mengancingkan kemejaku dari bawah, dan terhenti menyisakan 3 kancing yang masih terbuka di bagian paling atas.

“Kau punya tubuh yang bagus..” Pujinya seraya membelai dadaku dari bagian kemeja yang terbuka dengan tangannya. Aku menahan nafasku begitu terasa ia terus bermain-main di puting dadaku yang rata.

Oh, god damn! Kenapa aku tak dapat melakukan perlawanan?

“Kenapa diam? Apa kau menikmatinya?” Tanyanya begitu belaiannya terhenti. Mata kami bertemu, manik matanya yang tajam membuatku tak berkutik.
“Ok.. Ayo, Kita lanjutkan..” Ucapnya seraya mendekatkan mulutnya ke arah dadaku.
Oh, no! I know what will happen after this..

“A-ah..” Desahku agak tertahan ketika merasakan nippleku mulai di jilat dan di gigit perlahan olehnya. Aku menengadahkan kepalaku sambil menggigit kuat-kuat bibirku.

Tangannya tak cuma tinggal diam, Ia mengusap pinggang dan juga punggungku.
Oh, dia coba membangkitkanku..

“Kau menyukainya, ya?” Tanyanya berbisik di telingaku yang setelah itu di kecupnya.
Aku tetap diam, tak tau harus bagaimana.. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasakan pelecehan semacam ini.

Ku dengar Farren terkekeh pelan membuat aku menatap bingung ke arahnya yang sudah berjongkok di bawahku, tepatnya di antara selangkanganku.

“Mau melanjutkannya?” Tangannya tergerak mendekati boxerku.
Tidak! Jangan!

Aku menahan tangannya dengan tanganku yang lalu di genggamnya erat.
Dia menatapku dari bawah.
“Baiklah, Kita lanjutkan nanti..” Katanya dengan mencium tanganku, Ia kemudian beranjak dari hadapanku dan keluar dari kamarku tak lama setelah itu.
Tubuhku merosot pelan dan terjatuh di atas lantai. Aku pun memeluk tubuhku sendiri yang terasa bergetar.
He seriously.. Make me feel scared and blank at same time.

– – –

Seharian ini aku terus-terusan menghindari Farren, mau itu saat di kelas, di kantin, di tempat praktek dan juga parkiran.
Kejadian tadi pagi membuatku merasakan takut luar biasa begitu mataku menatap siluet tubuhnya melintas di hadapanku..
Hii, mengerikan.

Aku berjalan pelan di tepi jalan ini, tak ingin pulang dulu tapi juga tak tau mau menuju kemana.
Aku menoleh ke kanan dimana banyak sekali grosir juga toko bertempatan dan kebetulan terlewati olehku.
Hmm, apa aku harus membelikan sesuatu untuk Dewa ya?
Sudah lama aku tak membeli oleh-oleh untuknya.

Aku pun memutuskan masuk ke dalam salah satu toko yang menjual berbagai perhiasan serta souvenir cantik. Ada juga boneka, kue dan beberapa patung lilin kecil terjual disana.

Aku memilih untuk melihat-lihat ke bagian souvenir berbau sepak bola, karena Dewa menyukai olahraga yang satu ini, mungkin aku akan membelikan satu untuknya.

Aku menelusuri sampai ke kolong penyimpanan paling bawah, dan saat akan memutar ke tempat di sampingnya.. Mataku menangkap pemandangan yang sulit di percaya namun menyakitkan hati.

“Dewa..” Sebutku hampir tak bersuara melihatnya kini terlihat sedang merangkul seorang Gadis di sampingnya yang juga sepertinya tengah memilih Souvenir disini.

Aku langsung membalikan tubuhku begitu Dewa melanjutkan pilih memilihnya ke rak penjualan yang lain disana.
Karena tak tau lagi apa yang akan aku lakukan, akhirnya aku memutuskan untuk keluar saja dari dalam toko ini.

Aku berlari sekuat mungkin dengan harapan semoga aku cepat lelah dan melupakan apa yang baru saja aku lihat di dalam toko tadi.
Sejak kapan? Sejak kapan Dewa punya cewek lagi?
Aku takut.. Perasaan takut kini menghantui diriku..
Aku takut.. Takut Dewa tak mau aku untuk ada di sisinya lagi.

.

Sesampainya aku di kostan, aku langsung merogoh saku celanaku dengan maksud ingin mengambil kunci, tapi karena terlalu terburu-buru begitu aku mendapatkannya, kunci kamarku malah terjatuh..
Ketika aku merunduk untuk mengambilnya, tangan seseorang terlihat terlebih dahulu memungutnya.
Aku pun kembali menegakan tubuhku, dia menatapku dengan tatapan bingung.

“Kemana aja kamu? Hari ini kok kayanya susah banget buat ketemu ama kamu?” Tanyanya padaku. Rupanya dia sedikit sadar aku menghindar meski dia tak menyebutnya begitu.

“Aku gak kemana-mana kok.. Udah, sini,” Jawabku seraya merebut kunciku dari tangan Farren.

Aku segera saja memasukan kuncinya, dan lalu membuka pintu yang setelah itu aku masuk ke dalam dan di ikuti Farren yang mengekorku.
Huh, mau apalagi dia?

Aku terduduk lesu di tepi ranjang tempat tidurku di susul Farren yang juga ikut duduk di sampingku.
Terbersit lagi dalam pikiranku bayang-bayang Dewa bersama seorang Gadis-yang jujur tak aku kenali- ketika di toko tadi.
Kekasihnya kah itu? Tapi, bagaimana mungkin semendadak ini?

“Gio, Kamu nangis?” Seru Farren yang ada di sampingku.
Aku menangis? Aku pun langsung memegangi pipiku yang memang sudah basah.
Crap! Why I’m not realize it.
Farren mengusap lembut pipiku, mengeringkan tetesan pipiku yang ada disana.
Kenapa di saat seperti ini? Harus Farren yang ada disini.
Kenapa bukan Dewa?
Farren menghadapkan wajahku ke arahnya. Tatapannya begitu dalam padaku, menciptakan debaran yang lagi-lagi terasa aneh dalam dadaku.

“Kamu kenapa? Ada masalah?” Tanyanya dengan hati-hati.
Entah kenapa mendengar suara lembutnya berucap begitu, membuatku tak dapat lagi membendung perasaanku lebih lama lagi. Aku menangis, tetes demi tetes airmataku membanjiri tanganku.

Farren membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Tangannya juga tak tinggal diam dengan terus membelai rambutku.
Why? Why always him?
Aku selalu mengharapkan, semoga ini Dewa, semoga Dewa yang memelukku begini, tapi kenapa dia?
Aku takut.. Aku takut justru aku tak pernah dapat merasakan pelukannya.

“Cerita sama aku, bagi beban kamu ke aku.. Ada apa?” Bisiknya perlahan di sela-sela isakanku.
“De-Dewa.. Dia.. Dia udah punya cewek! Aku gak mau.. Ak-aku takut!” Tuturku dengan suara agak tersendat. Rasanya hatiku sakit.
Secinta inikah aku pada Dewa?

“Kamu segitunya ya cinta sama Dewa?” Tak tau perasaanku saja atau memang Farren mendesis tak suka dalam perkataannya tadi.
Aku melepaskan tubuhku dari pelukannya.

“Iya, aku cinta sama Dewa! Sangat cinta sama dia! Puas?!” Ungkapku dengan penuh emosi. Farren tersenyum sinis.

“Apa sih yang udah dia kasih ke kamu? Kasih sayang? Perhatian? Bahkan, dia aja gak cinta sama Kamu, Gio! Coba sadar.. Kamu tuh cuma pelampiasan dia, dia akan dan pasti bakal selalu nyakitin kamu!”

Deg!

Kata-kata Farren tadi semata-mata malah menimbulkan rasa sakit yang makin terasa dalam dan menyiksa dalam dadaku.
Dia benar, dan kebenaran yang dia katakan menyakitkan aku.

Aku menghapus airmataku dengan telapak tanganku kemudian menatapnya, “Tapi aku gak peduli!”

“Apa?”

“Aku gak peduli kalau harus selalu di sakitin sama dia, Ren! Selama aku sakit dan nangis begini bisa bikin dia tetep ada di sampingku, itu udah cukup buatku..” Terangku pada Farren yang saat ini terlihat mengeraskan raut wajahnya.
Marahkah? Atau cemburu?
Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur dalam mencintai Dewa.
Apa aku terdengar bodoh?
Yeah, I’m an idiot trully!

“Kau mengesalkan!” Kata itu sukses membuatku agak mengerutkan kening.
Apa dia bilang?

Tanpa ku duga Farren tiba-tiba saja mendorongku dan lalu menindih tubuhku di ranjang ini.

“Ren? Kamu ma-Emmph!” Protesku terhenti dengan cepat secepat mulutku yang terbungkam oleh ciuman Farren.
Aku coba berontak, tapi kakiku ia duduki dan tanganku juga dia tahan di atas kepalaku.

Apa yang harus aku lakukan?
Mengapa ini terjadi padaku?
Kenapa harus aku?

“Farren! Giovi!!” Suara Teriakan dari orang yang sudah sangat aku kenal itu seakan berhasil menciptakan tenaga besar pada tubuhku, aku pun mendorong kuat-kuat tubuh Farren dari atasku hingga Ia terjungkal ke lantai.

Oh, tidak!
Dewa dan Gadis itu kini sedang menatapku dengan ekspresi shock, bingung dan.. Dewa.. Marah? Kecewa?

“Ehm, Dewa.. Aku mending pulang aja ya,” Pamit Gadis itu seakan segan melihatku.
“Tapi, Din-”
“Udah ya, bye!” Gadis itu tak menggubris penjelasan Dewa dan malah pergi begitu saja. Tapi, Dewa juga tak mengejarnya.

Dewa mendecak keras, setelah itu Ia menatapku serta Farren yang baru saja bangun dari lantai karena aku dorong tadi.
Dewa terlihat marah dan itu membuatku semakin takut.

“Kalian ngehancurin semuanya! Sial!” Murkanya seraya menunjuk aku dan Farren secara bergantian.

Aku beranjak dari tempat tidurku dengan maksud ingin menghampirinya.

“Jangan deket-deket!” Bentak Dewa ke arahku.
“Aku minta ma-”
“Harusnya Kalian tau tempat dong kalau mau ngelakuin hal semacam itu!” Selanya.
“Dewa! Loe apa-apaan sih?” Kini Farren ikut mengintrupsi.
“Diem Loe! Loe juga sama aja, Ren! Kalian homo! Menjijikan!”

Buagh!

Tanpa bisa ku duga lagi, dengan sangat cepat Farren melayangkan pukulannya tepat ke wajah Dewa.
“Loe brengsek, Dewa!” Caci Farren sambil tangannya mencengkram keras kerah jaket yang Dewa pakai.
Aku lihat dari ujung bibir Dewa mengeluarkan sedikit darah.

“Stop, Ren!” Teriakku sekeras-kerasnya membuat Farren dan Dewa menoleh ke arahku secara bersamaan.
Beberapa orang dari kostan yang sama dengan kami pun bermunculan di depan kamarku.
Farren menjauhi tubuh Dewa dengan agak mendorongnya.

“Ada apa ini?” Tanya Mas Adjum yang menjadi salah satu dari orang-orang yang mengerumuni Kami bertiga.

Kami terdiam dengan saling memandang sekilas.
Dewa membalikan tubuhnya, Ia mengambil sebuah bungkusan yang baru aku sadari ada di samping pintu masuk.
Sebelum beranjak lagi dari tempatnya, Ku lihat Dewa menoleh terlebih dahulu ke arahku.

“De-Dew-”
“Udahlah, Gio..” Bentak Farren ke arahku dengan suara terahan. Aku menatapnya sengit.
“Ini semua gara-gara Kamu tau gak! Ah!” Aku pun tak menggubris Farren dan berlari keluar menyusul Dewa. Dia pasti belum terlalu jauh.

.

“Dewa?!” Panggilku ke arahnya saat dia baru akan menyebrang. Dewa mengeratkan pegangannya pada bungkusan yang Ia bawa sebelum akhirnya menoleh ke arahku.

“Dewa.. Aku gak ada apa-apa! Dia cuma-”
“Kau kira aku peduli?”

Aku mematung seketika di tempatku mendengar ucapannya.
Dia.. Bagaimana mungkin?

“Lakukan semuanya sesukamu! Aku udah gak peduli!” Lanjutnya yang setelah itu menjauhiku menyebrangi jalanan di depan Kami.

Tubuhku melemas seketika. Aku berlutut di tepi jalanan ini.
Dewa.. Dia meninggalkanku.
Benar kata Farren, pada akhirnya, akan dan selalu Dewa yang pasti menyakitiku.

.

Aku berjalan lesu kembali ke kost-kostanku.
Pandanganku sudah buram, mau menangis, tapi sudah tak sanggup.

Begitu sampai di kamar kostku, aku bersyukur sudah tak ada lagi kerumunan disana.
Tapi aku agak terkesiap begitu Farren keluar dari kamarnya dengan membawa tas besar di gandengan tangan dan juga punggungnya.
Dia mau kemana?

“Ren? Kamu mau kemana?” Tanyaku yang langsung di balas tatapan penuh amarah oleh Farren.

“Kau benar-benar mengesalkan! Aku sudah muak..” Katanya. “Aku sudah tak membutuhkanmu lagi, lakukan semuanya sesukamu!” Dan Farren berjalan melewatiku begitu saja.

Dia.. Tidak mungkin kan?
Aku masuk ke kamarku dengan langkah gontai.
Aku terduduk di lantai kamarku, sakit, lemas dan menyesal semuanya tergabung jadi satu dalam hatiku.

Pada akhirnya.. Mereka berdua meninggalkanku sendirian..
Pada akhirnya selalu aku yang sakit sekaligus tanpa ku mau menyakiti Mereka berdua..
Percumakah semua yang aku lakukan untuk membuatmu menyukaiku?
Sia-siakah ini semua?
Apa artinya aku bagi Kalian?
Kenapa akhirnya jadi begini?

Aku merutuki kebodohanku sendiri.
Benar juga kata Farren, aku mengesalkan.

– – –

Pada dasarnya semua orang yang berulang tahun pasti akan merayakannya.. Mau itu dengan hang out, atau bisa saja dengan membuat pesta kecil-kecilan.
Tapi aku tidak..
Sejak insiden yang terjadi antara Dewa, Farren yang di akibatkan oleh kebodohanku, aku terus mengurung diri di dalam kamar kostku.
Saat ada orang bertanya, aku hanya menjawab ‘Tidak tau..’ dan ‘Tidak ada apa-apa..’ di karenakan aku tak tau harus menjawab apa sesungguhnya.

Aku kesepian sekarang, ini hari jadiku yang ke 21 tapi tak ada seorang pun yang berada di sampingku untuk memberikan selamat maupun coba ajak meramaikan..
Sakit rasanya..
Ingin menyesal, tapi sudah terlambat..
Andai saja aku bisa memutar waktu.. Aku ingin kembali ke keadaanku yang sebelumnya, meski harus sakit karena Dewa aku tak apa.. Asal dia tetap di sampingku.

Tok.. Tok.. Tok..

Suara pintu dari luar agak menggugahku yang sedang berbaring di tempat tidur..
Siapa sih? Padahal beberapa hari ini aku sudah terbiasa tak membukakan pintu..

Tok.. Tok.. Tok..

Lagi-lagi pintuku di ketuk dari luar.
Tapi tak ada yang memanggil namaku seperti biasanya.
Aku pun terduduk di kasurku meskipun malas.

Tiba-tiba kenop pintuku terputar.
Lho kok? Bukannya aku sudah mengunci pintu?
Aku mendekati tepi tempat tidur, badanku terasa sakit semua, padahal kerjaanku hanya tidur dan tiduran.

Pintu terbuka dan sebuah bungkusan di letakan oleh sebuah tangan di samping pintuku.
Tunggu.. Bungkusan itu..
Itu.. Milik Dewa yang Dewa bawa sebelum pergi darisini.

Aku langsung saja berdiri dari tempat tidurku dengan berlari kecil ke arah bungkusan itu.
Aku kemudian mengambilnya dan melihat ke dalamnya.. Ada sebuah surat dan sekotak kado.
Aku ambil suratnya, disana bertuliskan..

‘Happy Birthday, Giovi Adiresya..

By: Dewa Hairizal’

Deg!

“Dewa?”

Butuh beberapa detik untukku mencerna semua ini, hingga akhirnya aku menyadari sesuatu.

“Dewa?!” Seruku begitu tau maksud dari semua ini.
Aku pun segera membuka pintu dan benar.. Dia kini ada di hadapanku.

“De-Dewa?” Sebutku dengan suara yang gemetaran bercampur rasa masih tak percaya.
Dewa terdiam, dia melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan prihatin.

“Gio?” Dia mengusap kepalaku pelan.
Aku yang sudah tak tahan pun berjingjit untuk memeluknya.
Aku terisak dalam dekapanku untuknya, ada perasaan senang meskipun rasa bersalah masih menyelimutiku.

“Aku minta maaf, Dewa! Jangan tinggalin aku! Aku cinta kamu, aku.. Aku sayang sama kamu, Dewa!” Tuturku mengungkapkan semuanya.
Dewa tetap terdiam, tak ada tanda-tanda ia merespon pelukanku dan menjawab ungkapanku.
Apa dia masih marah?

“Ee-eh!?” Aku sangat terkejut begitu terasa Dewa menaikan kedua lututku dan di letakan di antara pinggangnya.

Sekarang aku sudah kembali terbaring dan Dewa berada di atas tubuhku.
Kami sama-sama terdiam dengan saling menatap satu sama lain, kado darinya masih ku genggam begitupun dengan suratnya.

“Kamu.. Sakit?” Tanyanya memecah kesunyian.
Aku mengerjapkan mataku perlahan.
Tangan Dewa bergerak mengusap pipiku yang tadi basah oleh airmataku.

“Happy birthday to you, Happy birthday to you.. Happy birthday happy birthday.. Happy birthday Giovi..” Dewa menyanyikan lagu Happy Birthday untukku. Aku menyunggingkan senyum meski dengan kembali meneteskan airmata dari sudut mataku.

“Ini.. Bukan mimpi kan?” Tanyaku pelan. Dewa menggeleng, kemudian tangannya menarik kedua pipiku sembari terkekeh pelan.

“Bukan, Gio. Ini nyata..” Jawabnya yang kemudian merendahkan wajahnya ke wajahku, dan.. Mencium bibirku.

Ini nyata? Sungguh?
Apa ini artinya, dia sudah memaafkanku dan kembali padaku?
Aku masih belum percaya.

Dewa menyudahi ciumannya, Ia tersenyum.
“Maafin aku.. Selama ini aku sadar, aku udah terlalu banyak nyakitin kamu. Aku juga baru sadar kalau ternyata, aku sayang sama Kamu, Giovi. Aku butuh kamu..” Ungkapnya panjang lebar yang masih aku tanggapi hanya dengan kediamanku.

“Farren udah ngejelasin semuanya sebelum dia berangkat lagi ke singapura, dan aku udah janji sama dia buat gak nyakitin kamu juga buat gak ngejadiin kamu pelampiasan aku lagi, makanya.. Aku datang kesini buat minta izin sama kamu,” Lanjutnya yang kini tengah memberi jeda dalam penjelasannya.
Ia menarik nafas agak dalam dan perlahan lalu menatapku dengan begitu serius..
“Boleh kan.. Aku milikin kamu dan cinta sama kamu mulai hari ini?”

Mataku melebar mendengar pengakuannya yang baru saja tertangkap indra pendengaranku.

“Hah?” Responku beloon dan sukses membuatnya tertawa.

“Boleh?” Tanyanya meminta kepastian.

“Apa?” Tanyaku balik. Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya terheran akan sikapku.

“Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya, Gio. Gak ada yang lain, selain Kamu mulai hari ini.” Dewa lalu mencium keningku lembut.
Satu ciuman ini membuat aku sadar dan mengerti. Aku tersenyum simpul.

“Iya..” Kataku.
“Hmm?” Gumam Dewa.
“Aku.. Milik Kamu dan Aku harap kamu bisa bener-bener cinta sama aku.” Jawabku. Dewa menyunggingkan lagi senyumnya.
“Makasih..” Balasnya seraya mengusap pelan pipiku.

.

Jam Weker berbentuk potongan Melon, itulah kado yang Dewa berikan padaku.
Haha.. Mentang-mentang aku sangat suka sekali pada Melon.
Aku menoleh ke padanya, “Thanks ya, Dewa.. Ini lucu,” Ucapku sembari mencium Weker pemberiannya.
“Kok yang di cium wekernya aja sih?” Katanya sok merajuk. Aku pun mengecup pipinya perlahan dan sebentar.
Dewa mengedip-ngedipkan matanya lucu.

“Farren kapan berangkat ke singapura?”
“Umm, 3 hari yang lalu.. Kenapa? Kangen ama dia?”
“Gak juga.. Cuma aku juga ngerasa masih ada salah ama dia..”
“Dia yang justru minta maaf sama Kamu tau.. Untung waktu itu aku cepet dateng, kalau gak.. Dia pasti udah do this and that ke kamu,” Ujarnya dengan nada naik turun.
“Masa? Tapi aku juga seneng kok, kamu cepet dateng.. Tapi..”
“Apa?”
“Cewek yang waktu itu sama kamu? Pacar kamu kan?” Tanyaku hati-hati.
“Ah, Dia.. Dia bukan siapa-siapa aku kok, justru waktu itu dia ikut sama aku buat milihin kado itu di toko souvenir,” Perjelasnya yang langsung membuatku merasa tidak enak. Aku rupanya salah paham padanya. Tapi, jujur.. Hatiku merasa lega dan senang.

“Kenapa senyum-senyum?” Tanyanya memandang aneh padaku.
“Nggak kok. Hehe..” Aku terkekeh.
Dewa merapikan rambutku dengan tangannya, “Kapan terakhir kamu mandi coba?”
“Hehe.. Lupa! Kenapa? Aku jelek ya?”
“Kamu emang udah jelek dari dulu kali..” Katanya dengan menahan tawa. Aku memonyongkan bibirku.
Dewa mendekatkan wajahnya ke arahku perlahan, “Mau aku mandiin?” Bisiknya.
Aku agak melotot tak percaya.. Namun tetap mengangguk.
Dengan sigap Dewa menggandeng tanganku yang kemudian Ia bawa diriku keluar dari kamar.

.

Masih sulit di percaya rasanya, tapi ini kenyataan..
Aku senang, sungguh sangat senang.. Entah bagaimana aku mau menggambarkannya, hanya saja aku lega.
Setidaknya, semua yang aku lakukan selama ini tak percuma juga..
Sekarang.. Pelampiasan itu sudah tak ada lagi dan tergantikan oleh Tali Kasih Sayang antara aku dan Dewa.
Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian..
Aku tersakiti dulu, dan kemudian baru bersenang-senang.
Yaa, aku rasa begitu.. ^^

*The End*