image

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

First, aku minta diperbanyak maaf karena keterlambatan potret dua ini yang molor jauh dari dua minggu jeda seperti kujanjikan. Semoga dimaafin, kalau pun engga ya gak apa-apa, palingan aku bakal lebih telat lagi di potret selanjutnya. :p

Second, fufufufufu… aku senaaaaaaaaaaang. Kenapa? Karena memang aku bahagia dan amat sangat menikmati ketika mencoret A.L.A.S kali ini. Aku bernostalgia dengan LA, melihat-lihat ke belakang, mengingat-ingat detil dan sebagainya. Rasanya ternyata benar-benar enak.

Third, aku sempat mau banting lappie-ku malam minggu kemarin. Sumpah aku geram habis-habisan karena mendadak tuh benda nge-hang. Ketikanku lenyap secara tiba-tiba tepat di depan idungku. Padahal saat itu aku udah nulis hingga 2000-an kata lebih. Bayangkan, dua ribu kata yang kugali susah payah dari batok kepalaku setelah membangun imajinasi yang tak kalah payahnya serta direalisasikan oleh jari-jariku lewat tulisan, mendadak hilang lenyap begitu saja. IYA, LENYAP BEGITU SAJA. Yang tinggal hanya dua paragraf awal. Jahanam bener nih lappie, sempat hilang sabar sedetik aja sungguh layar dan keyboardnya kucerai mati. Tapi ternyata Tuhan masih sayang Nayaka, DIA mengerti betapa beratnya perjuangan Nayaka dalam membuat cerita. Setelah usut sana selidik sini, klik sana kulik sini berbekal petunjuk dari mbakku, ketikanku dapat kukembalikan semula, dari dua paragraph tersisa balik lagi hingga lebih dua ribu kata. Alhamdulillah. Selama sejarah menulisku, tak pernah aku sebersyukur malam minggu kemarin. #cium Toshi-kun#

Fourth, selamat berjumpa Gunawan dan Syuhada di potret dua ini. Selain mereka, ada beberapa cameo yang nongol secara tiba-tiba dari balik layar, pengen eksis juga ternyata figuran-figuran itu. Siapa saja cameo-nya? Cek sendiri dalam baris-baris yang sudah kubuat.

Last, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret Dua sebagaimana aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Wahai bayu senja,

Beritakan pada setiap daun yang kau hembusi

Bahwa cintaku padanya adalah cinta yang sebenarnya…

Wahai burung malam,

Kabarkan pada seluruh dahan yang kau pijaki

Bahwa cintaku padanya adalah cinta yang sebenarnya…

Wahai mentari pagi,

Pesankan pada semua belantara yang kau sinari

Bahwa cintaku padanya adalah cinta yang sebenarnya…

Wahai hati…

Bahasamu kumengerti,

Gerak-gerikmu kupahami,

Wahai hati…

Terimalah dengan ikhlas insan terbaik itu sebagai pemilikmu

Karena padanya,

Ada cinta yang sebenarnya…

Seperti adanya aku, hatiku…

***

POTRET DUA

GUNAWAN HAFITS menyudahi iktikafnya ketika suara Syuhada menyeru dari pintu masuk mushalla. Gadis itu sedang memperoleh keistimewaan wanita bulanannya dua hari lalu sehingga tidak ikut masuk mushalla dan menjadi makmum kandanya seperti biasa.

“Udah lima belas menit, Kanda mau aku nunggu hingga setengah jam lagi?” Syuhada memberengut, dia tak tahan menjadi pusat perhatian setiap kali ada mahasiswa yang naik ke mushalla.

Gunawan mengulum senyum, “Biasanya sabar, ini kok engga?” lelaki itu melepaskan peci dari kepala dan memasukkannya dalam tas. “Toko buku kan masih buka hingga malam nanti…”

“Jadi mau nunggu hingga malam turun?” Syuhada belum ceria. “Kanda mau aku pulang jam berapa ke rumah? Ummi jadi makin cerewet akhir-akhir ini… sering banget pulang lewat maghrib.”

“Dinda, siklus ya siklus… tapi jangan sampai sensi segitunya ah.” Gunawan berjalan keluar, duduk di teras mushalla dan mulai memakai kaus kakinya. “Hari ini gak bakal lewat maghrib, janji!”

Merasa salah dan ditegur, Syuhada diam, matanya memperhatikan kekasihnya mengenakan alas kaki. Dia ingat, itu sepatu yang dibelikannya tahun lalu sebagai kado ulang tahun Gunawan. Awet, meski tak alpa hari dipakai kekasihnya itu.

“Yuk…!” Gunawan bangun lebih dulu.

Syuhada bangkit berdiri dengan muka masih masam.

“Hhh… kayak dicekoki air jeruk nipis kalau ngelihat muka Dinda.”

Candaan Gunawan tidak berefek, wajah cantik Syuhada masih tertekuk dengan kadar keasaman yang belum berubah sejak di teras mushalla tadi.

“Coba ada kertas lakmus, bisa kita periksa nih kadar asamnya.” Gunawan masih berusaha, namun sia-sia.

Mereka sampai di parkiran kampus, tempat jeep tua Gunawan berdiri bangga sendiri di antara mobil-mobil masa kini yang tampilannya nyaris serupa satu sama lain. Jeep itu yang paling mencolok dan mencuri perhatian. Inilah uniknya Gunawan, meski pembawaannya kalem tenang dan agamis, tunggangannya bisa dibilang sporty dan gahar abis. Tak ada yang tidak kenal jeep willys yang sudah dimodif sedemikian rupa menterengnya di kalangan fakultas tempat Gunawan kuliah, hampir semuanya tahu. Senior-senior kenal jeep sangar itu, para junior mengagumi jeep tua tapi berkelas tersebut meski tidak begitu kenal pemiliknya. Kebiasaan, kendaraan semacam itu dikendarai oleh preman kampus atau mahasiswa yang menganggap fungsi utama universitas adalah sebagai lahan pamer dan cari perhatian ketimbang tempat menuntut ilmu. Gunawan tidak menyalah-arti-kan fungsi utama kampus dengan mengendarai mobil jinggo itu. Otomotif mencuri perhatiannya hanya sekedar hobi.

Sepertinya hari ini Syuhada sedang jadi target bulan-bulanan rasa yang disebut kesal, atau sebal, atau jengkel, atau dongkol, atau gondok atau polio atau campak atau cacar (kenapa larinya sampai ke macam-macam penyakit yang ada imunisasinya gini ya? sarap nih yang nulis). Meski sadar perasaan begitu adalah manifestasi dari kondisi hormonalnya karena sedang kedatangan siklus bulanan, tak pelak itu tetap membuat moodnya jungkir balik. Apalagi jika yang menjadi pemicu adalah orang yang paling tak diingini kehadirannya sekarang.

“GUN, TUNGGUIN…!!!”

Setelah tadi Syuhada harus kesal menunggu dan dongkol setiap kali dipandang orang yang lewat saat duduk di teras mushalla, kini gadis berjilbab itu harus dongkol lagi karena kedatangan sesosok gadis yang tak kalah cantik dan seksi dengannya, bahkan mungkin lebih seksi mengingat gadis yang barusan datang dan mengacaukan lagi suasana hatinya itu tidak berhijab seperti dirinya. Gadis yang baru datang mengenakan hot pants yang memperjelas keseksian tungkainya, memperlihatkan kemolekan pinggulnya meski atasan yang dipakainya jatuh hingga ke pertengahan paha. Dan… jangan lupakan riasan wajahnya yang sempurna dimahkotai rambut legam bergelombang serta sepatu cantik bertumit hampir setengah tinggi trotoar yang kian mempertegas sosoknya; gadis modis.

Syuhada merasakan bibirnya sedikit lebih maju dari kondisi biasanya.

“Halo, Syu…” si gadis modis menyapa Syuhada sebelum fokus lagi pada Gunawan.

“Halo, Mbak Mila…” Syuhada memberi si gadis modis senyum timpang dimana sudut bibirnya hanya tertarik sebelah saja.

“Kalian ada lewat toko buku gak? Aku nebeng lah, baru baca resensi novel romantis di bulletin kampus…” si gadis modis, Lukmila Tamala mengacungkan senaskah tabloid kampus di tangan kanannya. “Aku ikut sampe depan depstor aja boleh ya?”

Jika tadi merasa bibirnya sedikit agak maju, kini Syuhada juga harus mengakui kalau giginya juga seperti dikikir pandai besi. Dia geregetan dengan sosok tak diundang di depannya. Ingin saja Syuhada membatalkan rencananya ke toko buku agar Gunawan tidak dicentili gadis yang kabarnya karib kandanya ini. Heuh…

“Kebetulan, Mil. Aku sama Syu juga mau ke toko buku, mau cari Warm Bodies, Syu udah kebelet sejak tiga hari lalu tapi baru kini sempat.” Gunawan memandang lembut pada Syuhada.

“Pas pake banget!” Lukmila sumringah. “Kemarin-kemarin aku juga pengen beli novel itu, tapi berhubung udah tengok pilemnya jadi gak penasaran lagi.” Tanpa berlama-lama, Lukmila langsung memanjat ke jeep Gunawan dan duduk di bak belakang.

Sabar. Syuhada berbisik di hati. Dengan mimik bete gadis itu mengikuti pacarnya duduk di jok depan.

Mobil tanpa atap itupun mulai meninggalkan pelataran kampus untuk kemudian melaju di jalanan.

.

.

Syuhada menyusuri lorong yang dibatasi rak setinggi dirinya dengan langkah yang mulai menyentak. Langkahnya sudah begitu sejak belasan menit lalu, sejak dia sudah menggenggam satu jilid novel Isaac Marion yang diidamkannya di tangan. Seharusnya saat ini dia dan kandanya sudah pulang jika saja Mak Lampir yang berjalan mendahului beberapa langkah di depannya tidak sok keranjingan membaca dengan mengajak mereka berburu buku bagus dari rak ke rak. Padahal seperti Syuhada, novel romantis yang ingin dibeli si Mak Lampir juga sudah berada di tangan.

Yang bikin kelenjar tyroid Syuhada kian defisit hingga gondoknya kian besar adalah tingkah kandanya. Kenapa tidak, setelah tadi menyambut baik ajakan Lukmila Tamala untuk hunting buku bagus tanpa meminta persetujuannya, kini si Kanda malah mengobrol seru dengan si Mak Lampir sambil melihat halaman belakang buku-buku yang dicomot dari raknya.

Syuhada merasa diacuhkan. Kerena itulah, sepatunya seperti punya dendam kesumat terhadap lantai bookstore yang sedang dijelajahinya ini sehingga dia merasa perlu menghujamkan kakinya kuat-kuat setiap kali membuat langkah.

Syuhada bukan tidak percaya dengan kandanya. Dia sadar kalau mereka memang karib, Gunawan dan Lukmila konon sudah sahabatan sejak sekolah menengah dulu, bahkan sudah kenal keluarga satu sama lain. Syuhada tahu betul itu, dia juga sangat tahu kalau kandanya tidak sedikitpun memandang tali persahabatannya dengan Lukmila dengan persepsi lain selain murni jalinan akrab persahabatan. Namun Syuhada tak dapat menampik kalau dirinya memiliki kekhawatiran terhadap keakraban kandanya itu dengan sahabatnya yang seorang gadis cantik dan seksi pula. Dia bahkan sudah khawatir sejak Gunawan memperkenalkan Lukmila pertama kalinya dulu sebagai sahabat dekat. Dulu, dia mengira kandanya dan Lukmila hanya kenal satu sama lain sebatas teman kampus yang sempat sama-sama jadi mentor ketika Moska. Nyatanya, belakangan ketika dirinya bukan lagi sosok biasa-biasa saja bagi Gunawan, Syuhada tahu kalau Lukmila adalah karib kekasihnya. Karib sangat dekat, begitu kata kandanya.

Syuhada cemburu, dan takut. Dia cemburu tiap kali ketika ada kesempatan berjumpa –kebetulan atau memang diagendakan- Gunawan dan Lukmila pasti akan tampak begitu dekat, begitu lepas, begitu nyaman, begitu gembira bertingkah dan bercanda. Syuhada takut keakraban dan kedekatan mereka lambat-laun akan berefek pada hubungannya dengan Gunawan. Syuhada takut kehilangan. Takut perhatian untuknya berkurang.

Rasa cemburu dan takut itu pula kerap menaikkan tensinya, merusak suasana hatinya secara brutal. Seperti sekarang. Syuhada kesal. Di depannya, dua karib itu sedang asyik berdiskusi tentang buku sambil tertawa-tawa.

Ketika panas hatinya seakan tak terkendali, Syuhada memilih bertindak. “Kanda, perutku kram…”

Gunawan dan Lukmila sama menoleh.

“Eh, Syu kenapa?” Lukmila mendekat.

“Dindaku sedang siklus, Mil,” jawab Gunawan sambil tersenyum.

Syuhada menggigit gerahamnya. “Aku turun duluan deh, Kanda sama Mbak Mila lanjut aja nyari-nyari.”

“Yah, gak apa deh Syu kalau gitu. Kami gak akan lama, bentar lagi nyusul turun,” ujar Lukmila sambil tersenyum.

Bukan respon yang diharapkan Syuhada. Lebih mengesalkan, kandanya malah mengiyakan.

“Dinda gak apa turun duluan?”

Sebenarnya Syuhada ingin teriak kalau dia bermaksud mengajak kandanya turut serta untuk turun bersamanya, meninggalkan si Mak Lampir cantik menggrasak-grusuk rak buku semaunya seorang diri. Tapi kalimat Gunawan malah membuatnya tak punya pilihan lain.

“Ya sudah deh, sini bukunya biar Kanda yang bawa ke kasir. Dinda turun duluan, nunggu di mobil terus, bentar lagi Kanda nyusul…” Gunawan mengulurkan tangan untuk mengambil buku di dekapan Syuhada.

Syuhada menggeleng, “Tak apa, aku bawa sendiri saja ke kasir. Duluan ya, Mbak Mila.”

Jika Lukmila atau Gunawan cukup peka, maka mereka akan menangkap nada tak enak dalam kalimat Syuhada barusan. Namun sepertinya semua indera mereka saat ini sedang tumpul. Lukmila mengangguk sambil tersenyum ramah. Gunawan malah melepas dengan senang hati, “Hati-hati, Dinda…” begitu ujarnya.

Dengan sepatu yang masih bermusuhan dengan lantai, Syuhada meninggalkan dua karib itu di belakangnya.

Mungkin begini lebih baik, daripada mataku dicabe-in terus. Syuhada mengeluh dalam hati.

.

.

Muka Syuhada masih tertekuk sepanjang jalan pulang. Ternyata benar, hari ini rasa jengkel sedang mengubek-ubek hatinya. Setelah tadi nyaris menunggu hingga setengah jam sendirian di jeep, kini dia juga harus pasrah menerima kenyataan kalau jeep pacarnya akan melewati gerbang rumah Lukmila Tamala lebih dahulu.

Ah, kemana para pacar si Mak Lampir satu ini di saat-saat seperti sekarang? Syuhada tidak peduli kalau saat ini dia sedang menuruti bisik-bisik setan yang terus membakar amarahnya tanpa istirahat sejak dari mushalla tadi.

“Makasih ya, Gun, untuk tumpangannya dan untuk bukunya juga. Ah, kalau tahu bakal dibayarin sekalian pasti aku gak cuma ambil dua naskah aja.” Lukmila turun dari jeep.

APA? KANDA BAYARIN BUKU SI MAK LAMPIR HINGGA DUA JUDUL? Hati Syuhada menjerit-jerit hingga serak.

“Halah, cuma dua buku saja. Lain kali kamu pula yang bayar, baru deh saat itu aku yang ambil hingga satu lusin buku.” Gunawan tertawa.

“Maka silahkan menunggu kesempatan itu hingga janggutmu memutih.”

“Huh, dasar Miss Kikir!”

Lukmila tertawa, “Eh, gak masuk dulu nih? Syu mampir yuk, mungkin ada yang enak-enak di dapur.”

Huh, memangnya kamu kira aku tukang ngosongin makanan di dapur orang apa!

Syuhada masih cukup sopan dengan tidak membiarkan kalimat barusan menyembur keluar dari mulutnya, alih-alih dia malah tersenyum buat Lukmila sambil berucap, “Gak apa, Mbak Mila. Lain kali saja, salam buat Tante ya…”

Sekilas Lukmila tampak bagai kecewa, “Yah… padahal Mama senang loh kalau kamu datang. Aku kasih tahu nih, Mama suka banget tuh sama kamu Syu, katanya kamu gadis sholehah, calon istri ideal buat Nak Gun dan bla bla bla…”

Ya iyalah, gak kayak kamu yang suka godain pacar orang.

Syuhada sedang diserang penyakit hati. Ternyata benar kata orang tua-tua, ketika sedang dalam keadaan kotor, wanita lebih mudah dihasut setan.

“Tapi yang bikin kesel jika Mama mulai nyuruh aku begini begitu. Pake tudung lah, pake rok lah… gitu tuh saking sukanya Mama sama kamu.” Lukmila nyengir. “Yuk mampir dulu lah…”

Syuhada berusaha bersikap ramah yang sebenarnya sama sekali tak ingin dilakukannya, “Lain kali deh, Mbak. Ini pun udah jauh sore…”

“Yah…”

Gunawan mengklakson, “Yuk, Mil.”

Jeep itu melaju lagi.

Syuhada diam sepanjang perjalanan, Gunawan juga diam. Hanya suara Opick dari perangkat musik di jeep yang menyela di antara mereka. Baru ketika mobil membelok ke jalan komplek menuju rumah Syuhada, Gunawan membuka suara.

“Masih betah jualan limau purut terus nih kayaknya.”

Syuhada tak merespon.

“Limau purut sekiloan berapa, Buk?”

“Diam aja!”

Gunawan kaget, niat hati mengajak bercanda malah direspon tak baik oleh dindanya.

“Dinda kenapa sih?” Gunawan mengernyit. “Iya Kanda tahu kamu sedang halangan, tapi jangan gitu juga ah. Ayo senyum, ceria lagi. Bikin hati Kanda hangat lagi.” Dari bercanda, kini Gunawan mulai menggombal. “Senyum di wajah cantik Dinda selalu bikin hangat di sini eh…” Gunawan menyentuh dadanya lalu terkekeh. “Ayo, Cinta senyum dong, satu kaliiii aja.”

“Minta hatinya dihangatkan sama Mbak Mila saja sana! Saat ini aku sedang ingin membakar!” Syuhada mulai ketus.

Gunawan kian mengernyit. Dia mencoba mencerna ucapan Syuhada. “Maksudnya? Kok jadi Mila? Ada apa nih?”

Syuhada membisu.

Gunawan tersenyum geli sendiri. Sedikit, dia mulai mengerti apa yang membuat pacarnya bagai diserap Dementor dari tadi, tak ada keceriaan sedikitpun. “Dinda cemburu sama Mila, iya?”

“Seharusnya Kanda gak perlu nanya.”

Gunawan tertawa. Kesalahan fatal. Seharusnya cowok itu tidak tertawa saat ini.

“Ya, tertawa saja. Tertawakan kekonyolanku. Tertawakan ketakutanku. Tertawa saja karena aku memang cemburu pada teman cantikmu itu…”

Mulai extreme nih. Gunawan tercengang, jeepnya sudah memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Syuhada.

“Yang mengesalkan, kamu seakan gak mau tahu. Kamu seakan gak peduli dengan perasaan takutku. Kamu berlagak tak penting rasa takutku ini. Setiap kali bertemu dia selalu saja kamu ladeni tingkahnya, selalu saja aku dikesampingkan. Selalu saja kamu biarkan dia bermanja-manja denganmu…”

Gunawan melongo bodoh. Apa dirinya dan Lukmila terlihat seperti itu? Bermanja-manja?

“Kamu gak memikirkan kalau aku kesal tiap kali melihat kalian seakrab itu, seakrab orang pacaran, bukan sahabat. Kamu gak berpikiran sama sekali kalau hal itu menjadi masalah buatku, kamu terlalu menganggapku baik-baik saja dan tidak akan berpikiran yang negatif…”

“Aduh, apa sih ini? Dinda berlebihan…” Gunawan berujar gusar ketika kata ‘kamu’ dalam kalimat Syuhada muncul kian sering, biasanya lebih banyak kata ‘kanda’.

Jeep berhenti, satpam rumah Syuhada membukakan pintu.

“Gak usah masuk, aku turun di sini saja!” Syuhada siap hendak mengeluarkan kakinya, tapi Gunawan menahan ujung lengan bajunya.

“Dinda, jangan begini…”

“Telat, aku sudah begini,” sahut Syuhada. “Dan akan terus begini bila kamu masih memperlakukan Lukmila Tamala whatever itu layaknya pacar keduamu.” Gadis ini menyentakkan lengannya.

Gunawan menangkap lagi ujung lengan baju Syuhada ketika pegangannya terlepas, jika salah fokus sesaat tadi bisa-bisa rok Syuhada yang ditariknya.

“Dinda, Mila punya pacar sendiri…”

“Berarti gak cukup manja-manja sama pacarnya sehingga harus dimanjain kamu lagi.”

Gunawan putus asa. “Sumpah, dia murni hanya sahabat. Aku sama sekali gak berpikiran untuk mengakrabkan diri padanya lebih dari sekedar teman.”

“Kelakuanmu memperlihatkan sebaliknya…” Syuhada sampai merapatkan giginya ketika berucap begitu.

Satpam Syuhada sudah kenyang memperhatikan.

Gunawan menggeleng keras. “Aku sama sekali gak berpikiran kalau Dinda terganggu dengan keberadaan Mila. Itu kebodohanku karena tidak peka. Untuk itu aku minta maaf…” Wajah Gunawan memelas.

Syuhada mendorong pintu jeep yang sudah setengah terbuka dengan sepatu karetnya, menyentakkan lengannya lebih kuat lalu keluar dari jeep. “Gak usah mampir, pulang terus sana!” dan dia melenggang masuk tanpa menoleh.

Beberapa saat lamanya Gunawan bengong bagai orang bodoh, lalu tersadar. “Besok Kanda jemput berangkat kuliah kayak biasa…” serunya.

“Aku bosan naik jeep!” Syuhada balas berseru, tidak mau repot-repot memalingkan muka untuk menoleh.

Sang Kanda shock dengan jawaban dindanya.

“Marahan, Mas Gun?”

Gunawan tersenyum masam pada Satpam rumah Syuhada yang sudah mengenalnya baik. “Gak tau, Bang. Suasana hati Syuhada sedang tak baik kayaknya.”

Si Satpam tersenyum, “Kudu diperhatikan dan dimanjain lebih lagi tuh…”

Gunawan tertawa pendek, “Pamit, Bang. Assalamu’alaikkum…”

“Oke, Mas. Wa’alaikumsalam.”

Sepanjang jalan pulang, perasaan Gunawan kacau-balau. Bukan karena  meletus balon hijau, tapi karena hari ini lampu Syuhada tidak menyala hijau. Hari ini lampu kekasihnya itu berubah merah, artinya dia sedang marah.

***

Hari ini Syuhada kucing-kucingan dengan Gunawan. Dia berjuang keras untuk tidak berjumpa dengan pacarnya itu. Tadi pagi dia berangkat lebih awal bertepatan dengan jam ngantor ayahnya untuk menghindari jemputan Gunawan. Di kampus ketika jam kosong, dia ngumpet di lobi direktorat fakultasnya, tempat yang tidak mungkin didatangi Gunawan yang pasti sedang bingung mencarinya.

Hapenya di-nonaktif-kan sudah sejak semalam karena tak tahan mendengar nada panggil atau nada pesan dari benda itu yang sudah ribut sejak sore hari. Gunawan mengirim pesan dan menelepon hampir tiap pergantian menit. Dan tentu, Syuhada mengabaikannya.

Tak biasa naik angkot, Syuhada malah kelimpungan sendiri ketika jam kuliahnya selesai. Dulu sebelum pacaran dengan Gunawan, bila tak ada kawan pulang Syuhada akan merengek-rengek minta dijemput kakaknya. Sekarang meski dia menangis darah, Balqis tak akan datang dengan serta merta, kakak iparnya tidak mengizinkan sang istri mengendara selama masa kehamilan. Begitulah.  Yang jelas, dia belum pernah berjuang dengan angkot. Syuhada melangkah menuju halte setelah keluar dari pekarangan gedung fakultasnya, melangkah dalam keadaan takut-takut. Takut ditemukan Gunawan dan diseret ke jeep sangarnya, juga takut salah menyetop angkot yang tidak melewati jurusan perumahannya.

Syuhada berdiri terasing sendiri di halte. Tak ada lagi tempat duduk, penuh. Bahkan dia tidak kebagian tempat bernaung, bagian yang dinaungi atap halte pun tak ada yang luang. Alhasil dia berdiri sambil mengernyit di tepi halte, di bagian yang disimbah terik matahari siang menjelang sore.

Syuhada nyaris berkuah seutuhnya ketika seorang pengendara motor menyerunya. Si pengendara berhenti setelah motornya melaju melewati halte hingga sejauh sepuluh meter.

“Syuuu… pulang???”

Syuhada harus menghormat agar dapat melihat jelas siapa gerangan orang yang menyerunya. Lalu dia bagai mendapat angin segar ketika mengenali si pengendara. Badannya berhenti berkuah.

“Kak Lando!” Syuhada berteriak girang hingga mengundang perhatian beberapa penunggu angkot.

Syuhada berjalan menghampiri tetangga sekaligus teman adik-adik kakak iparnya yang juga sudah bagai temannya sendiri. “Sendirian, Kak?” tanyanya begitu berdiri di sisi motor besar Orlando.

“He eh, kuliah Aidil baru selesai jauh sore nanti, tadi pagi bareng dia. Syu mau pulang?”

Kesempatan, batin Syuhada. “Iya.”

“Ayo aku anterin, bisa duduk motor kan?” Orlando melirik rok Syuhada yang nyaris menjela tanah.

“Duduk menyamping aman kan? Gak harus ngangkang kan?” Syuhada menatap cemas sadel motor Orlando yang sedikit tinggi di bagian belakang.

Orlando ngakak, “Rokmu bisa kemana-mana kalau nekat ngangkang, Syu.” Orlando masih terus terbahak.

Syuhada langsung melotot dan sukses membuat tawa Orlando lenyap bagai direnggut setan.

Orlando kesulitan meneguk liur saking takutnya dengan pelototan Syuhada. “Engg… aman kok duduk samping. Lagipula kamu gak mungkin duduk ngangkang, selain karena pake rok, juga kerena kita gak boleh mepet-mepet… kan bukan muhrimnya.” Orlando nyengir kuda sambil dalam hati berharap kalau omongannya kali ini tidak salah yang tentu akan memperpanjang durasi melotot Syuhada.

Tak apalah, daripada pake angkot belum tentu juga dapat tempat duduk, Syuhada membatin. “Jangan ngebut tapi ya, Kak!”

Orlando memberi satu jempolnya tanda setuju.

Syuhada memanjat hati-hati ke boncengan Orlando, memastikan kalau kain roknya tidak akan menyelip masuk ke roda motor ketika kendaraan itu melaju nanti. Dia menyamankan duduknya dan memposisikan tas di celah antara samping kanan badannya dengan punggung Orlando. Ketika merasa duduknya sudah pas, baru Syuhada meminta Orlando untuk jalan.

“Ingat, jangan ngebut!” Syuhada mewanti-wanti.

“Gak mau rangkul pinggang nih?” Orlando mulai jail.

“Jangan harap!”

Pujaan hati Aidil itu terkekeh, “Jangan khawatir, aku gak akan ngadu ke pacarmu kok.” Orlando kian menjadi, “Pegangan di saku jaket deh paling engga, daripada nanti kamu tercecer di jalan. Aku gak mau dipukul Mbak Balqis atau dikarate Kak Adam kalau sampai membuat adik mereka berkaparan di aspal.”

Syuhada mengakui kebenaran kalimat tukang ojeknya. Ragu-ragu dia mengulurkan tangan kanannya mengait ke saku jaket Orlando. “Udah, jangan banyak omong lagi, jalan!”

Motor besar itu mulai bergerak. Kecepatan Orlando tak lebih dari angka 30. Sangat lamban. Angka itu dipertahankan Orlando hingga mereka keluar dari kawasan universitas.

“Ini terlalu lamban, Kak,” Syuhada menegur, tangan kanannya masih setia memegang pinggiran saku jaket Orlando. “Berapa kecepatannya?”

“Tadi katanya jangan ngebut, ya ini tiga puluh aja.”

“Jadikan enam puluh, kalau gini bisa sejam baru nyampe rumah.”

Lelaki itu mematuhi, motornya melaju sedikit lebih kencang.

“Ehem, kenapa gak bareng Gunawan?” Orlando bermaksud mengajak mengobrol gadis di boncengannya.

“Jam pulangnya gak bareng.” Syuhada berbohong.

“Eh, kok? Tadi aku sempat jumpa dia loh di lobi gedung, katanya mau pulang juga.”

Syuhada lupa kalau pacarnya dengan lelaki yang motornya sedang dia duduki ini satu fakultas, hanya beda kelas. Dia salah memilih kalimat bohongnya. “Engg… Syu kira dia belum abis jam, jadi pulang lebih dulu.”

Orlando manggut-manggut.

Menit-menit selanjutnya berlalu tanpa kata. Orlando fokus ke jalan dengan 60 km/jam sedang Syuhada malah memikirkan Gunawan. Dia bertanya-tanya, bagaimana suasana hati Gunawan saat ini. Ah, tentu kekasihnya itu sedang resah. Hape Syuhada masih padam hingga saat ini.

“Kak…” setelah lama diam, Syuhada memanggil.

“Ya.”

“Menurut Kak Lando, wajar gak sih seorang cewek bersikap kekanak-kanakan karena menganggap pacarnya terlalu intim dengan teman ceweknya?”

Entah apa yang menjadi dasar pemikiran Syuhada sehingga dia merasa tak masalah mendiskusikan keadaan hubungannya pada Orlando yang diketahuinya selalu konyol, tak pernah serius. Syuhada memang tidak menyebutkan dirinya secara langsung, tapi mengganti dengan menyebut ‘cewek’, lebih umum.

“Eh?”

Tuh kan, pria ini lama nangkap kalau diajak bicara serius. Di belakang, Syuhada memutar bola matanya.

“Maksudnya gimana nih?”

“Ya maksudnya gitu, seorang cewek bersikap kekanak-kanakan dalam menyikapi hubungan pacarnya dengan teman perempuannya yang dianggap sudah lebih intim ketimbang sahabat…” Syuhada menjelaskan.

Orlando mengangguk mengerti. “Sikap kekanakan gimana tuh, trus keintiman kayak apa dulu? Intim sampai teman ceweknya duduk di pangkuan si cowok atau si cowok yang nyender-nyender ke dada teman ceweknya, gitu?”

Syuhada menyesal telah membuka forum diskusi dengan pria yang sekarang menyopirinya. Sekali lagi, dia memutar bola matanya.

“Kekanakan kayak misal cemburu trus marah-marahin cowoknya, sampai dirinya juga jadi benci ngelihat teman cewek dimaksud…”

Orlando manggut-manggut lagi. “Trus, intimnya kayak apa?”

“Maksudnya, kedekatan pacarnya dengan teman ceweknya tuh udah kayak orang pacaran…”

“Syu, orang pacaran itu tuh saling remas jari, saling cium kening, pelukan kalau jumpa, saling natap lama tanpa kata-kata, saling cium tangan, saling nyandar, trus kalau udah gak nahan sesekali pasti ciuman sama raba-rabaan, kalau ada kesempatan biasanya bisa saling gesek-gesekan juga. Nah, dalam kasus yang Syu tanyain, intim yang mana dari sekian intim-intim yang aku sebutin?”

Syuhada memerah. Dalam hati gadis itu merepet habis-habisan.

Dasar ngeres, aku sama kandaku pacaran tapi gak ada tuh peluk-pelukan sampai cium-ciuman atau raba-rabaan segala. Apalagi sampai gesek-gesekan.

 

“Lupain deh, Kak. Gak jadi minta pendapat.”

Orlando ngakak besar sampai laju motornya sedikit mengalami turbulensi.

“Kak Lando diam ah!”

Tawa Orlando perlahan-lahan reda, “Emm… Syu sedang punya masalah sama Gunawan ya?”

Syuhada tak menjawab.

“Yang dimaksudkan tadi itu Syu sendiri, kan? Cewek itu Syu dan cowoknya Gun sedang cewek yang satu lagi temannya Gun, iya?”

Syuhada masih tak menjawab.

“Memangnya menurut Syu, mereka sungguhan akrabnya udah kelewatan?”

Syuhada masih tetap tak menjawab.

“Maaf nih, bukannya mau bela siapa atau menyalahkan siapa, juga bukan mau membenarkan gender sendiri,” Orlando mulai serius. “Tapi kalau aku lihat ya, Gun itu tipe cowok yang teguh megang komitmen, kalau dia udah bilang A maka selamanya bakal A, kenapa? Karena dia tipe lelaki yang keyakinannya gak mudah tergoyahkan. Aku bisa lihat dari pembawaannya. Dia pernah gak, meyakinkan Syu kalau temannya itu murni teman?”

Syuhada membisu, pikirannya melayang ke sosok Gunawan dan kata-katanya ketika bertengkar di depan gerbang rumah kemarin. Ya, Gunawan memang meyakinkannya saat itu bahwa dia tak menganggap Lukmila lebih sekedar teman.

Tak mendapat jawaban tidak serta-merta membuat Orlando berhenti ngoceh. “Lelaki kayak Gun itu susah dicari di zaman ini loh, Syu… emm… sama susahnya seperti mencari lelaki yang tampannya kayak aku ini,” Orlando tertawa kecil.

Untuk ketiga kalinya, Syuhada memutar bola mata. Cakep boleh lah, tapi kalau konyol dan narsisnya kelewat takar? Apa gak puyeng yang jadi cewekmu? Protes itu hanya menggaung dalam hati saja.

“Analisaku sih gini ya, Syu. Gunawan itu terlalu baik, terlalu friendly, maka dia bakal cepat dan mudah membuat orang di sekitarnya menyayanginya. Dan karena dia terlalu baik juga maka dia sendiri tentu amat sangat menyayangi orang-orang di sekelilingnya itu. Namun jangan salah nih, tentu sayangnya lebih besar ke orang yang istimewa di hatinya, dalam kasus ini ya kamu Syu. Yakin deh, Gunawan gak akan menyalahkan kepercayaanmu dengan pacaran diam-diam atau secara tak langsung dengan teman ceweknya itu, terlebih jika dia udah punya gadis seindah kamu.”

Hemm… bisa serius dan bisa ngomong benar juga nih orang ternyata. Hati Syuhada kembali menukas. Sekilas hidungnya kembang-kempis dipuji Orlando dengan kata ‘indah’.

“Cemburu sih boleh ya, itu sah dan wajar, namanya juga cinta. Kayak sambal terasi, bukan sambal terasi namanya kalau tidak dikasih terasi. Gitu juga, belum cinta kalau belum cemburu. Tapi jika menganggap curang kekasih baik kayak Gun… maaf nih ya, sekali lagi bukan menjudge atau bela kelamin sendiri…” Orlando mengambil napas. “Menganggap curang kekasih kayak Gun, itu kayak tidak bersyukur sudah dikasih anugerah terbesar dalam hal cinta. Punya kekasih kayak Gun itu adalah anugerah, sama kayak misal punya pacar seperti Orlando yang ini… juga anugerah, paling gede malah.” Orlando tertawa lagi.

Empat kali. Syuhada sudah memutar bola matanya sebanyak empat kali sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Dia tak menyangka Orlando sekonyol itu, sambal terasi? Hhh, apa tak ada yang lebih berkelas. Tapi dia mulai mengakui kebenaran dalam kalimat Orlando yang panjang lebar.

“Itu pendapatku sih, Syu. Belum tentu bener semua juga. Hehehe… terserah Syu lah menyikapi kayak apa. Aku juga gak lihat dekatnya mereka bagaimana. Insting perempuan memang lebih tajam, perempuan lebih peka, tapi jangan salah menyimpulkan juga, bisa rugi.”

“Tapi menurut Syu, mereka bener-bener dekat. Syu percaya saja jika Kak Gun memang benar-benar nganggap temannya murni teman, tapi jengkelnya itu loh, Kak… geregetan tiap lihat mereka bercanda berdua. Kak Gun seakan lupa kalau udah punya pacar, sakit mata Syu….”

“Kalau begitu jangan lihat, pura-pura buta aja jika mereka mulai bercanda akrab, atau berlagak kalau yang sedang bercanda itu bukan pacarnya Syu…”

Syuhada speechless. Dia memilih diam selama sisa perjalanan karena sesi serius Orlando sudah selesai. Jikapun dia menjawab lagi, maka yang akan diterimanya adalah kekonyolan saja.

***

Gunawan bagai orang tidak makan tiga hari. Lemah, letih lesu, lunglai bahkan loyo. Komplit sudah 5 kondisi tak nyaman berawalan L terjadi padanya. Sudah tiga hari dia tak melihat Syuhada. Dua hari kemarin hape dindanya itu sama sekali tak memberi harapan karena benar-benar tak diaktifkan, sedang hari ini sedikit ada harapan meski Gunawan hanya bisa mendengar suara kereta api saja setiap kali menekan tombol panggil. Sudah tak terhitung pesan yang diketiknya, operator simcardnya pasti senang dengan prestasi layanan SMS mereka yang tentu meningkat di nomor Gunawan. Paket nelponnya sama sekali tak terpakai, rugi dibelinya sudah enam kali dalam kurun waktu tiga hari ini, dengan rincian beli dua kali sehari, paket siang hingga jam enam sore dan paket malam hingga jam nol-nol. Alhasil, Gunawan membazirkan rejeki abahnya.

Gunawan juga enggan menyambangi ke rumah Syuhada, kenapa? Karena sudah dua hari belakangan ini umminya Syuhada yang langsung menggantikan peran putrinya sebagai pacar Gunawan. Cowok kalem itu kapok mengobrol dengan calon mertuanya yang amat sangat terobsesi dengan produk gerabah dan peralatan rumah tangga.

“Kata Syu, Ummi disuruh ngobrol sama Nak Gun, dia mau tidur malam lebih awal dari jam seharusnya.”

Itu kata si Ummi di hari pertama. Dan Gunawan puyeng disodori koleksi katalog gerabah si Ummi hingga menjelang adzan maghrib.

“Syu bilang, kalau ada yang mau diobrolkan bisa mewakili sama Ummi, dia mau berlagak seolah-olah jadi putri pingitan.”

Itu kata si Ummi di sore kedua. Dan Gunawan nyaris keracunan dipaksa ngobrolin omzet pasar gerabah yang sama sekali tidak dimengerti Ummi yang suka gerabah apalagi dirinya yang baru tahu kalau calon ibu mertuanya itu gerabahmania.

Jadi sore ini, karena khawatir dirinya akan bernasib sama seperti dua sore sebelumnya bahkan kemungkinan bakalan lebih parah semisal diajak Ummi ikut ngocok arisan, maka Gunawan memilih berdiam diri di kamar dan melanjutkan kegiatan miskol dan esemes-nya.

Dengan tampang bak cucian belum terjamah pantat setrika, Gunawan ‘menduda’ di jendela kamarnya. Hape tersambung pada charger, baterenya tak pernah surplus sudah tiga hari ini, defisit terus-terusan.

Panggilannya masih tak digubris Syuhada, pesannya tak satupun mendapat reply. Dia lelah sudah. Perlahan disandarkannya kepala ke bingkai jendela.

Lupakah dia kalau mendiamkan orang lebih dari tiga hari hukumnya dosa? Ah, tapi ini belum lebih tiga hari. Gunawan bicara dalam hati.

Tuhan, aku bisa gila kalau terus begini. Siapa yang bisa kuajak untuk bercerita? Aku butuh seseorang untuk diajak bicara…

Gunawan menyentuh opsi KONTAK pada layar ponselnya. Tadinya dia berniat menelepon karibnya, Lukmila Tamala, dan menceritakan semuanya pada gadis itu. Namun begitu daftar kontaknya muncul, matanya langsung menemukan nama kontak berawalan A yang berada di urutan lima teratas yang kemungkinan besar bisa menjernihkan kekeruhan pikirannya, setidaknya menghibur.

Gunawan menekan tombol panggil.

Tak perlu menunggu lama, suara bagus langsung menyapanya di ujung talian.

“Assalamu’alaikum, Kak Gun, wah… jarang-jarang…!”

Di jendelanya, Gunawan tersenyum mendengar suara ceria orang yang diteleponnya. Suara ceria dan penuh semangat.

Wa’alaikumsalam, Kak Gun ganggu kegiatanmu gak, Dil?”

“Kalau misal sekarang Aidil sedang meditasi jelas telepon Kak Gun menggangu, tapi saat ini Aidil sedang mediasi…”

“He?”

Gunawan mendengar Aidil tertawa. “Iya, mediasi. Ada dua bocah yang sedang berantem ngeributin ukuran kolor masing-masing. Nah, Aidil jadi penengahnya.”

Gunawan tertawa, sekilas dia dapat menangkap suara ribut-ribut. “Siapa tuh yang ngeributin sais celana dalam?”

“Nih, Kak Lando sama Erlangga. Sumpah deh, mereka kalau jumpa kayak kucing dan tikus…”

“GUE KUCINGNYA, KUNYUK INI TIKUS GOT-NYA!”

“NGAKU KUCING JUGA LU, GUE MAH TETAP JADI COWOK GANTENG AJA!”

Gunawan sampai harus menjauhkan corong hape dari kuping. Luar biasa power teriakan dua orang yang jadi latar belakang hubungan teleponnya dengan Aidil. “Yang mana kucing yang mana orang narsis nih, Dil?”

Aidil tertawa lagi, “Gak usah dibahas, Kak. Bentar, Aidil keluar dari medan tempur dulu, cari tempat senyap biar gak terganggu sama ngeong kucing dan cicit tikus.

“LU TIKUS GOT!”

“LU KUCING KURAP!”

Gunawan tertawa mendengar perdebatan aneh itu. Dia sudah memilih nama yang benar dari daftar kontaknya.

“Sip, Aidil di beranda. Silahkan, Kak, ada yang pengen diomongin? Soalnya jarang-jarang nih Kak Gun ngebel kemari.”

Gunawan menghela napas.

“Tuh, napasnya aja sesusah itu. Biar Aidil tebak, dilihat dari napasnya ini mesti masalah percintaan. Bener gak?”

Gunawan tertawa, “Anak-anak sok tau.”

Giliran Aidil yang terkekeh, “Jadi bener ya? Sedang ada masalah sama Syu?”

“Syu hubungi Aidil? Atau… Syu cerita ke Mbak Balqis trus Mbak Balqis cerita lagi sama Aidil, iya?”

“Enggak kok. Menurut cerita sih, Kak Lando yang sempat ketemu Syu…”

Kini Gunawan mengerti mengapa Aidil bisa menebak tepat, Orlando pasti bicara pada tetangganya itu. Tapi yang dia tak mengerti, mengapa Syuhada bisa cerita ke Orlando? Kapan? Semudah itu cerita masalah percintaan sama orang lain? Lelaki pula, kalau misal Syuhada cerita ke teman perempuan itu lain hal. Tapi ini, Orlando? Kenapa harus pada Orlando? Jangan-jangan…

Gunawan kebakaran jenggot. “Aidil tahu gak kapan mereka ketemu?”

“Kemarin deh kayaknya, apa kemarin lusa ya? Lupa.”

“Ketemu sengaja?”

Aidil tertawa, “Wah, ada yang cemburu nih.”

“Dil… seriusan ah.”

“Enggaaa…” Aidil berteriak. “Tenang, Syu itu setia kok. Mereka ketemu gak sengaja. Kata Kak Lando, Syu hampir kering berdiri di halte ketika pulang kuliah, trus Kak Lando nawarin nganterin pulang. Gitu.”

Dindaku diantar pulang cowok lain? Heuh… enak benar si Orlando itu. Gunawan merepet sendiri.

“Kak, sebenarnya ada masalah apa sih? Bukannya selama ini kalian mesra-mesra aja?”

“Kalau Syu sempat cerita ke Orlando lalu Orlando cerita ke kamu, pasti kamu udah tahu kan?”

“Iya, tapi kan Aidil belum tahu versi Kak Gunawan.”

“Kamu bener-bener ahli mediasi ternyata.”

Di seberang sana, Aidil terkekeh lagi. “Yang mau mendamaikan kalian siapa? Aidil cuma pengen tahu, hehehe…”

Gunawan gigit jari.

“Jadi, cewek mana yang membuat Kak Gun nempel terus dan membuat Syu ngelempar bom?”

Gunawan terbahak, “Ngaco.”

“Serius, cewek mana yang membuat Kak Gun kegatelan hingga Syu jadi cemburu?”

“Dil, Kak Gun bukan lelaki gatal. Percaya atau enggak, Kak Gun hanya setia pada satu gadis saja!”

“Iya iya iya… tau. Gimana cerita?”

“Tapi kamu harus percaya ya sama Kak Gun, sumpah demi apapun sama sekali tak terbersit dalam hati Kak Gun mau menduakan Syuhada.”

“Iya, saya percaya!” jawab Aidil meyakinkan ala bintang iklan shampoo.

Gunawan menghela napas. “Syu menganggap kedekatan Kak Gun sama Mila tuh kelewat batas.”

“Mbak Lukmila?”

“He eh. Padahal kamu tahu kan, Dil, Mila itu adalah sahabat dekat Kak Gun.”

“Hemm… mungkin Kak Gun bener-bener kelewat batas, tapi gak sadar…”

“Nah itu, kayaknya bener, Kak Gun yang gak peka sama perasaan Syu. Tapi sungguh, Kak Gun gak niat membakar cemburu Syuhada, sumpah.”

“Iya, cukup sumpahnya. Aidil yakin kalian berdua tuh cintanya udah mentok, gak bakal pindah ke lain hati lagi. Tapi kalau Kak Gun gak pandai-pandai menjaga, gak nutup kemungkinan Syu bakal terjerat sama orang lain, sama Aidil misalnya. Tahu gak? Aidil jadi satu-satunya orang yang menandatangani baju Syu saat penutupan moska dulu. Kak Gun hati-hati saja, bukan mustahil Aidil bakal jadi the next Kanda bagi Syu…” Aidil membual.

“Heh, gak sadar apa, tuh Kak Adam sama Mbak Balqis siapanya kamu?”

“Hihihi… lupa.”

“Pikun.”

“Eh, tapi kan Aidil anak angkat, Kak. Bisa dong…”

“GAK BISA!”

“Duh, segitunya bilang gak bisa.”

Lima L Gunawan sudah tak nampak lagi. “Dil, menurutmu, Kak Gun harus gimana? Sudah tiga hari nih Syu mendiamkan diri.”

“Putuskan saja, trus cari lain,” jawab Aidil ngasal.

“Aidil, jangan jahat gitu…”

“Hehehe… gak ngerti, Kak. Aidil bukan konselor perkawinan.”

“Yang mau cerai siapa?”

Kembali Aidil tertawa di ujung sana, “Gak usah ngapa-ngapain juga gak apa, Kak. Tungguin aja Syu kangen sendiri.”

“Kalau dia gak kangen-kangen?”

“Pelet aja!”

“Ya Tuhan, kalau dekat Kak Gun jewer kupingmu, Dil!”

“Hehehe… habisnya Kak Gun aneh, masa minta saran sama yang lebih muda, Kak Gun yang lebih pengalaman lah yang lebih tahu harus ngapain.”

“AIDIL, ANGGREKMU DIJAILIN ERLANGGA, NIH!!!”

Sayup-sayup Gunawan mendengar teriakan. “Tuh, sana damaikan bocah-bocahmu, Dil!”

“Mereka memang selalu gitu, bikin gerah. Udah ya, Kak… Aidil mau nyelamatin anggreknya. Itu harta berharga banget…”

“He eh. Dil, makasih ya.”

“Iya, semangka! SEMANGAT KAKAK!” Aidil berubah alay dan lebay secara tiba-tiba lalu ngakak sendiri. “Kalau mau muntah, muntahin layar hapenya saja, Kak!”

Gunawan ikut tertawa, “Ada-ada saja. Udah ya Dil, sekali lagi terimakasih atas waktunya. Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam.

 

Gunawan meninggalkan jendela sekaligus meninggalkan hapenya yang masih tercharge. Saatnya mencari pantat setrika untuk merapikan diri. Lelaki itu masuk kamar mandi.

.

.

Gunawan tidak mau kecolongan hari ini seperti tiga hari sebelumnya. Jadi, pagi-pagi buta dia sudah memarkir jeep willys-nya di depan beranda rumah Syuhada. Saking paginya, abang Satpam sampai melongo ketika membuka gerbang buat jeep Gunawan.

Gunawan tersenyum pada ayahnya Syuhada yang sedang menikmati ritual paginya di beranda rumah. “Assalamu’alaikum, Om.” Meski untuk ibunya Syuhada, Gunawan tetap memanggil Ummi, tapi buat sang ayah tidak demikian. Gunawan lebih enak menyebut ‘Om’.

Wa’alaikumsalam… Nak Gunawan pagi benar hari ini…” Ayahnya Syuhada menyambut di beranda dengan cangkir kopi di tangan kanan dan koran di tangan kiri.

“Saya mau ikut sarapan, Om…” seloroh Gunawan yang membuat ayah Syuhada tertawa.

“Silahkan silahkan, langsung ke dalam saja. Ummi sama Syuhada ada.”

Lampu ijo. Setelah basa-basi sekedarnya dengan bos besar di rumah sang pacar, Gunawan melewati pintu depan yang memang berada dalam keadaan terbuka.

Ummi menyambutnya ramah di ruang makan, beliau sedang mengatur menu sarapan di meja makan, seorang diri. Entah kemana pembantu rumah. Gunawan membantu menempatkan piring-piring.

“Bik Mar kemana, Ummi?” Gunawan tak tahan untuk tidak menanyakan keberadaan perempuan setengah baya yang kerap membuatkan minum buatnya bila sedang kemari.

“Ada di belakang, ngerendam cucian entah. Sebentar, Ummi panggil Syu sama Om dulu biar sarapan sama-sama.”

Siapa sangka, basa-basinya di beranda tadi benar-benar jadi kenyataan. Gunawan benar-benar sarapan untuk pertama kalinya di meja makan rumah Syuhada. Bersama Ummi, bersama si Om yang menyusul masuk beberapa menit setelah Gunawan selesai menata piring, dan tentu saja bersama pacar yang sudah dikangeninya tiga hari ini.

Meski sudah mengetahui kedatangan Gunawan lewat deru jeep-nya lima belas menit lalu, melihat sosok pacarnya duduk manis sambil berbicara akrab dengan kedua orang tuanya tetap saja membuat mata Syuhada membundar ketika tiba di ruang makan.

Entah karena efek sudah tak melihat selama tiga hari, Syuhada merasa Gunawan makin tampan saja. Mendadak dia diserang demam kangen tipe antiklimaks (Pembaca : He? ada ya, Nay?/ Penulis : Baca sajaaaa!!!) dimana demam kangen itu baru terjadi saat sudah berjumpa, setelah konflik. Seharusnya demam kangen itu terjadi ketika dirinya tak bertemu Gunawan.

Sama. Tak melihat lebih tiga hari juga membuat Gunawan terpesona ketika Syuhada masuk ruang makan dan mengambil tempat duduk tepat di depannya.

Acara sarapan berlangsung tertib dan khidmat (kayak upacara tujuh belasan aja). Tertib dan khidmat karena tak ada piring yang terbang, sendok yang melayang atau garpu yang menyangsang. Tadinya Gunawan mengira Syuhada bakal ngamuk-ngamuk karena dirinya datang pagi-pagi buta. Ternyata tidak. Sebaliknya, dia malah memergoki Syuhada beberapa kali sempat mencuri-curi lirik padanya sepanjang sesi sarapan.

.

.

Mereka melewati setengah perjalanan ke kampus dalam keheningan. Syuhada duduk tenang sambil menatap ke depan sedang Gunawan menyetir tak kalah tenang juga sambil menatap lurus ke depan (ya iyalah, namanya juga nyetir, kalau gak natap ke depan namanya bukan nyetir tapi nyetor. Nyetor jiwa ke malaikat maut a.k.a bunuh diri).

“Bukannya Kanda kuliah sore hari ini?”

Rasanya sudah berkurun lamanya sejak terakhir kali mendengar kata ‘kanda’ dari bibir gadis di sampingnya. Pertanda baik. Gunawan tersengih.

“Ngantar Dinda dulu nanti pulang lagi. Biasanya juga gitu kan?”

Sepertinya Syuhada jadi linglung. Gunawan memang akan tetap mengantar Syuhada meski dia sendiri tak ada jam pagi. Gunawan sudah berhasil memerankan dirinya sebagai kekasih yang baik dengan melakukan hal itu.

Lalu hening lagi hingga jeep membelok jalan masuk kampus.

“Dinda minta maaf…”

Gunawan memperlambat laju mobilnya. Sesaat ditolehnya Syuhada lalu menggeleng, “Kanda yang harus minta maaf karena enggak peka dengan gerak-gerikmu. Maaf sudah membuatmu terbakar cemburu…”

Syuhada balas menggeleng, “Dinda yang terlalu bersikap kekanak-kanakan.”

Gunawan juga balas menggeleng, lama-lama mereka bagai sedang dugem di bar, asik geleng-geleng saja padahal stereo di jeep Gunawan sedang off. “Aku yang micu Dinda bersikap kayak gitu, aku yang salah…”

“Tapi aku yang mens…” Syuhada berucap lirih.

Gunawan mengernyit. “He?”

Jeep memasuki pekarangan gedung Fakultas Ekonomi tempat Syuhada menimba ilmu akuntannya. Gunawan berhenti di satu sisi luang. Kemudian memutar badan menghadap gadisnya. “Ada hubungannya kah?”

“Aku lebih sensitif hingga memicu kita bertengkar tempo hari.”

Gunawan tersenyum, “Lupain deh, gak perlu kita omongin lagi. Yang jelas kita udah baikan, setuju?” Gunawan menunjukkan kelingkingnya.

Syuhada tertawa manis sambil menautkan kelingkingnya bersama kelingking Gunawan.

Mereka saling menatap lembut, lalu sama-sama tersenyum.

“Dengan ini saya nyatakan Gunawan Hafits bin Abdul Hakim dan Chumaira Syuhada Aritago binti Ruslan Dani Aritago resmi tak terpisahkan lagi hingga salah satu diambil Tuhan…” Gunawan berucap lancar lalu mengecup kelingkingnya yang bertaut dengan kelingking Syuhada.

“Ih apaan sih, Kanda gak jelas gini. Jangan sebut-sebut diambil Tuhan, gak baik…” meski protes, Syuhada tak dapat menyembunyikan binar bahagia di matanya.

“Pokoknya kita gak boleh pisah hingga tua nanti, hingga kita sama-sama diserang osteophorosis. Hingga kita menjadi kakek nenek tanpa gigi dan rambut kita putih semua…”

Syuhada tertawa. “Amin.”

“HEH, pacaran aja! Mau bel tuh!”

Mereka dikejutkan kedatangan Rani. Gadis itu berdiri melotot di depan jeep.

“Kami baikan, Raaan…!” Syuhada berteriak senang, beberapa mahasiswa menoleh memperhatikan. Ternyata Syuhada juga curhat pada karibnya itu perihal problema percintaannya.

Rani mengangguk senang, “Iya, udah tau. Kalau belum baikan mana mau kamu dikecup-kecup begitu.”

Syuhada tersipu.

“Jangan fitnah, Ran. Barusan itu bukan kecup-kecup. Cuma cium jari saja!” Gunawan meralat.

“Cium yang lain juga gak apa-apa kok, Kak Gun. Syuhada pasti ikhlas lahir bathin dunia akhirat…”

“HUSH!” Syuhada melotot pada Rani. “Omonganmu, Ran. Aku cabein nanti!”

Rani langsung mingkem.

Syuhada turun dari jeep. “Kanda, Dinda masuk ya. Assalamu’alaikum…”

Gunawan mengangguk, “Wa’alaikumsalam…”

Syuhada berjalan menuju gedung kuliah bersama Rani. Mereka melangkah sambil bisik-bisik dan terkikik bersama.

Entah apa yang menjadi bahan bisik-bisik dua gadis itu. Tapi Gunawan yakin, Syuhada tidak membisiki Rani kalau kecupannya tadi buruk sekali. Karena Gunawan percaya bahwa bagi Syuhada… tak ada yang buruk dari sosoknya. Sama seperti Syuhada baginya, segala yang ada pada dindanya itu adalah kebaikan yang membuat kisah hidupnya berwarna indah.

Dinda, ketika saatnya nanti, kamu akan menjadi muara hidupku hingga akhir hayat…

 

 

Mei Luar Biasa 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com