Meet Him In Riyadhah Garden, AGAIN...!!! cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kali ini aku tidak mau ber-prakata banyak-banyak. Intinya, aku minta maaf jika sekuel Meet Him In Riyadhah Garden ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian terhadap salah satu fiksiku itu. Aku minta maaf, maaf… maaf dan maaf.

Jika boleh kusarankan, untuk mereview gambaran kalian sebelum membaca sekuel ini agar lebih bisa nyambung, tak ada salahnya membaca ulang Meet Him In Riyadhah Garden, klik link di bawah ini

https://algibrannayaka.wordpress.com/2012/07/19/meet-him-in-riyadah-garden/

Meski sedikit saja, semoga kalian bisa menikmati membaca MEET HIM IN RIYADHAH GARDEN, AGAIN…!!! seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

=== Catatan ke-47, review lagi…! ===

‘Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali’

Pernah bersinggungan dengan ungkapan seperti itu? Membaca atau mendengarnya barangkali?

Pertama kali kutemukan ungkapan demikian adalah di buku catatan teman sebangkuku lebih tiga tahun lalu. Saat itu aku baru masuk SMA, belum jadi berandal karena masih lugu-lugunya dan masih bergaul dengan anak baik-baik serta sebangku dengan anak yang suka baca dan menulis. Nah, di salah satu buku catatan teman sebangkuku itulah kudapati ungkapan tersebut pertama kalinya, tertulis lumayan bagus menggunakan tinta gold di sampul belakang. Bukan karena temanku itu benar-benar mengalaminya, tapi katanya kalimat itu hanya sekedar comot saja dari diary kakak perempuannya. Oh hell, si teman sempat-sempatnya nyuri baca diary kakak perempuannya. Dan siapa sangka, sekarang malah aku yang suka nulis diary, ahaku lebih suka menyebutnya CATATAN, hehehe.

Setelah membacanya, saat itu aku berfikir bahwa ungkapan tersebut begitu dalam maknanya. Betapa ungkapan itu menyiratkan rasa sesal teramat sangat terhadap masa lalu yang disebut perjumpaan. Saat itu aku setuju. Nalarku, ketika harus berpisah dengan orang yang telah memberi kesan tak mudah hilang pada diri kita, tentulah kita merasa sakit. Sakit dalam makna yang lebih khusus, yang dirasakan oleh hati. Lalu kita merenung, mengingat perjalanan masa sejak kita bertemu hingga berpisah. Kemudian menerawang masa depan dimana kita tidak pasti akan bertemu kembali dengan ia yang telah pun berpisah. Mengenang masa telah lewat dan menerawang masa akan datang inilah yang membuat kita sakit. Lalu kita berpikir, ‘Andai aku tak pernah bertemu, maka aku tidak akan sakit seperti ini’. Jika sudah begitu, maka ungkapan di atas sangatlah benar. Kita menyesali habis-habisan pertemuan yang telah terjadi. Demikian nalarku tika itu.

Namun sekarang, pandanganku berubah. Bagiku kini, ungkapan itu tak lebih dari bualan kosong mereka yang yang tak bisa memaknai arti sebuah pertemuan sehingga harus menyesalinya ketika terjadi perpisahan. Ungkapan itu bagiku kini adalah pandangan mereka yang tak pernah meyakini bahwa Tuhan itu ada, bahwa langkahnya sudah ada yang mengatur. Ungkapan itu adalah kalimat yang keluar dari bibir-bibir mereka yang putus asa dengan keadaan mereka, yang percaya bahwa hidupnya sudah pun hampa semenjak ia berpisah. Oh God… tak ada yang abadi di semesta ini, kawan. Hari ini ada esoknya tiada, hari ini datang esoknya pergi, hari ini wujud esoknya lenyap. Lumrah. Jadi, untuk apa menyikapi secara berlebihan sebuah kefanaan hingga harus menanam sesal sedalam itu?

Bila ungkapan tersebut bisa aku ubah, maka aku akan berujar begini: Aku tidak menyesali pertemuan meskipun perpisahan membuatku bersedih hingga menangis. Terdengar lebih baik bagiku sendiri. Setidaknya, begitulah yang kupercayai sejak setahun lalu.

Lebih kurang setahun yang lewat, aku bertemu seseorang yang meninggalkan kesan tak terlupa, lalu kami berpisah. Pertemuan yang tak lama memang. Namun ketika kami berpisah, aku tidak merasa menyesal telah bertemu dengannya, yang ada justru rasa syukur karena langkahnya telah diperjalankan Tuhan ke tempat dudukku. Jikapun ada penyesalan, satu-satunya sesal adalah mengapa pertemuan itu begitu singkatnya hingga aku tidak mengenal apapun tentang ia selain dari sosok dan kharisma menakjubkan setiap kali ia membuka suara. Begitulah, jika harus menyesal, maka aku menyesal hanya mengenalnya di hujung sore saja.

[Itu beda, kau hanya mengenalnya sesaat, maka kau tak akan merasakan posisi seperti yang dimaksud ungkapan itu. Bagaimana dengan mereka yang bersama dalam kurun lama lalu berpisah? Ungkapan itu untuk mereka yang seperti itu, bukan untukmu yang hanya bersama-sama sebentar saja. Karena hanya sebentar, kau tak akan mengerti seperti apa rasanya berpisah setelah sekian lama merajut hari seperti mereka. Sakit tauuu…!!!]

Hehehe… lihat, aku juga menuliskan sanggahan nalarku, kan? Well, mungkin benar aku tak akan merasakan emosi dari sebuah perpisahan yang demikian , karena dalam kasusku kebersamaan itu hanya sesaat, maka aku menganggap ungkapan itu bualan. Hemm… mungkin benar aku salah. Namun tak apa, aku tetap meyakini bahwa tidak seharusnya kita menyesali sebuah pertemuan, apalagi jika pertemuan itu telah memberi kita banyak hal baik dan pengalaman menyenangkan.

Kau tidak harus menyesal telah bertemu seseorang yang pernah mendatangkan keceriaan bagimu, yang kehadirannya sempat kau syukuri… hanya karena ia tak bisa bersama-sama denganmu lebih lama lagi.

Seperti santri tampan dan bersahaja yang pernah hadir dalam hidupku. Ia memberiku keceriaan, kehadirannya kusyukuri meski awalnya kukesalkan dalam hati. Lebih dari itu… ia juga memberiku pengajaran teramat berharga tentang arti sebuah kegagalan. Ia mencerahkan pandanganku. Ia orang pertama yang hadir selayaknya obat saat aku sakit, spirit ketika aku drop, kompas ketika aku buta arah. Tak salah aku berkata bahwa ia juga pelita ketika semua lampu kurasakan padam untukku. Tak lulus bagi seorang siswa kelas tiga… bukankah artinya sama dengan mati lampu? Bagiku iya. Bayangkan semula kau berada sendirian di sebuah ruang amat terang, lalu ketika kau terbiasa dengan keadaan serba jelas dan nyaman tiba-tiba penerang ruangan itu padam sedang kau tak memiliki satu pun suluh atau sebatang lilin, tidak juga korek api. Apa yang terjadi? Sesak. Dadamu sesak dan dinding ruang seakan menghimpitmu dari segala penjuru. Begitulah ketika lampuku mati. Tapi saat itu ia menyalakannya lagi untukku, lewat kata-katanya…

‘Tuhan memberi kita kegagalan agar kita sadar kodrat kita sebagai hamba, dhaif dan tak punya kuasa. Kita tak bisa meraih kesuksesan tanpa ridha-Nya, sekeras apapun kita berusaha… Dan tuhan tidak memberi kita kegagalan melainkan agar kita lebih bersyukur ketika Dia memberi kita keberhasilan’

Kukutip lagi kalimatnya yang telah membuatku yakin dan percaya bahwa Tuhan punya rencana indah dibalik peristiwa tak indah hamba-Nya. Terimakasih. itu kata yang hanya bisa kuucapkan sekali saja untuknya, padahal ia layak menerima lebih dari satu ucapan terimakasih saja. Karena setelah bertemu ia, aku meninggalkan banyak kesia-siaan dalam hidupku sebelumnya. Aku meninggalkan rokok, aku meninggalkan kebiasaan bolos, aku meninggalkan ritual tidur di kelas, aku meninggalkan kebiasaan malas belajar, aku juga meninggalkan bilik warnet dan kamar play station lebih cepat dari yang biasa kulakukan. Hehehe… Karena jujur saja, aku tidak bisa benar-benar berpisah dengan warnet dan play station, jadi aku berhenti lebih cepat bila sedang melakukan dua hal itu. Istilahnya… emm… mengurangi kesia-siaan, mungkin.

Lihat, begitu banyak perubahan menuju ke arah kebaikan yang telah kurintis setelah bertemu dengannya. Tidakkah ia berhak mendapatkan lebih dari satu ucapan terimakasih?

Tuhan Allah… berbaikhatilah pada hambamu yang amalnya belum pun seujung kuku ini. Kapanpun KAU berkehendak, meski itu baru datang saat aku tidak secakep ini lagi, tolong pertemukan sekali lagi aku dengannya. Aku janji, Tuhan… aku tidak akan berpikiran hal jorok saat bertemu ia, aku hanya ingin mengulang kalimat terimakasihku sekali lagi… sekali lagi.

Tuhan Allah… jika Kau kabulkan pintaku ini, aku janji akan melakukan wisata religi ke seluruh mesjid di lingkungan Kota Lhokseumawe dan mengumpulkan tanda tangan semua ketua remaja mesjidnya (gak mau rugi, :D). Amin ya Allah…

Eh, aku lupa… ada pinta yang lebih penting! Luluskan aku juga ya Allah…

Taman Riyadhah, 18 April 2013

Hari terakhir UN

AKU

.

.

Setelah membubuhi tanda tanganku di bagian paling bawah halaman, aku menutup buku catatanku, buku yang kupelihara dengan baik, kujaga dari air dan kotoran, kulindungi dari hujan dan debu saat terik. Empat puluh tujuh kali sudah aku mencoret buku yang tebalnya tak seberapa ini. Jika tak salah menghitung, ini adalah catatan ke sembilan belas yang kucoret ketika aku sedang berada di Taman Riyadhah, sisanya kebanyakan di kamarku, beberapa kutulis ketika sedang di perpustakaan sekolah yang mendadak jadi tempat favoritku. Aku menulis catatan ke-47 dengan isinya demikian bukanlah serta-merta. Aku baru saja menyelesaikan ujianku. Dulu, di taman ini di bangku ini dan dengan seragam yang ini juga aku pernah berbicara banyak dengan seorang santri yang telah membuka pandanganku. Catatan ini kubuat karena hari ini ketika ujianku usai, aku mengingatnya lagi.

Diary, entahlah apa catatanku ini layak dipanggil begitu atau tidak. Kegiatan menulis di sebuah buku yang sifatnya amat personal mungkin iya disebut sebagai menulis diary. Namun menurutku, apa yang kutuliskan tidaklah murni disebut diary. Empat puluh enam catatanku sebelumnya bernada sama seperti catatan yang baru saja kutuliskan. Aku menulis pandangan-pandanganku, pemikiran-pemikiranku yang kebanyakan diilhami masa yang telah lewat. Berbeda dari materi yang biasa ditulis orang-orang kebanyakan dalam sebuah diary. Umumnya diary itu berisi curhatan menye-menye si empunya, kegiatannya hari-hari yang didramatisir dengan suasana hatinya hari itu, kebanyakan diary malah berisi pasang surut perasaan cinta pada sang kekasih bagi mereka yang punya pacar, momen-momen indah dan tragisnya, keluhan-keluhannya terhadap orang sekitar yang biasanya selalu diawali kalimat ‘dear diary’. Tak ada dua kata ‘dear’ dan ‘diary’ yang tertulis sebaris di bukuku. Maka, aku lebih suka menyebut kegiatan menulisku sebagai ‘menulis catatan’, catatan agar lupa tidak lupa, catatan sebagai pengingatku. Begitulah. Menulis catatan sudah menjadi hobi baruku hampir setahun ini.

Aku merentangkan kedua tangan, merenggangkan otot-ototku. Rasanya seperti mendapat kebebasan. Masa-masa kritisku baru saja selesai. Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana perasaanku cemas dan takut menantikan pengumuman kelululusan. Tahun ini aku bahkan yakin nilaiku akan memuaskan sudah sejak UN hari pertama, kecuali lingkaranku kurang tebal atau abang-abang toko buku menipuku dengan menjual pensil 2B palsu. Aku optimis bahwa jawaban-jawabanku di LJK adalah benar, sembilan puluh persen. Aku pasti lulus. Waktu setahun ini sudah kumanfaatkan dengan sangat baik, sangat baik dimana aku menolak tawaran Paket C dan menebalkan muka juga menulikan telinga untuk duduk di bangku kelas tiga kurang lebih dua belas bulan lagi. Aku tak mau memiliki ijazah Paket C, karena aku berhak mendapatkan yang lebih dari itu.

Dua orang murid SMA melintas di depan kursiku, cowok dan cewek, bukan dari SMA-ku, seragam mereka beda. Asumsiku, mereka pasti pacaran. Pacaran di Taman Riyadhah setelah UN selesai, manisnya. Ekor mataku mengikuti dua sosok itu yang berjalan sambil tertawa-tawa. Si cowok memegang bungkusan di tangan kirinya, camilan mungkin. Aku baru berhenti memperhatikan ketika langkah mereka mandeg di sebuah bangku yang berada tepat di bawah salah satu pokok asan bagian paling barat taman.

Kuhela napas. Empat tahun menjalani masa SMA tak sekalipun aku berada dalam keadaan seperti yang dialami dua murid barusan. Kasmaran. Katanya masa SMA adalah masa-masa paling indah dari perjalanan hidup seorang manusia. Jika yang dimaksud dengan masa paling indah itu adalah cinta remaja yang terjadi ketika usia 15 sampai 18, maka aku tidak akan mengalami masa indah itu. Usiaku sudah sampai batas. Dan mengingat orientasiku –yang menurut orang-orang adalah ketidakwajaran namun limited edition menurutku, sejak awal-awal pun masa indah itu memang sudah mustahil terjadi padaku.

Dari dulu aku punya sebuah pertanyaan. Apakah sama rasanya kasmaran saat pacaran antara cowok dan cewek dengan cowok dan cowok? Aku tak pernah pacaran dengan laki-laki meski ketertarikanku ke arah sana, apalagi pacaran dengan cewek yang bagiku sama artinya dengan menabur duri di jalan sendiri. Maka, aku tak tahu jawaban pertanyaan itu. Yang biasa kutemukan adalah view kasmaran antara cowok dan cewek, lewat sinetron atau FTV yang kutonton, juga lewat beberapa judul novel cinta yang sempat kubaca akhir-akhir ini. Sedang cowok dengan cowok, aku buta. Maka aku tak bisa membandingkannya. Hemm… andai menemukan cowok cakep limited edition bagi cowok cakep yang juga limited edition sama mudahnya seperti cowok straight menemukan cewek cantik di sini… pasti aku sudah tahu seperti apa kasmarannya pacaran dengan cowok.

Pacaran tentu beda rasanya dengan sebatas naksir saja. Pacaran itu timbal balik, sedang naksir cuma sepihak tak ada baliknya. Seperti sarjana yang map lamaran kerjanya ditolak. Pungguk kangenkan bulan, kata pepatah lama. Mengadu teriak dengan orang bisu, memberi rekaman suara pada orang tuli atau lukisan buat orang buta. Begitulah naksir itu, naksir cowok limited edition kepada cowok unlimited edition, tak mungkin ada respon.

Aku tahu seperti apa rasanya naksir yang demikian. Di sekolahku, banyak mereka yang wajah dan kelakuannya membuatku naksir. Namun begitulah, susah menemukan cowok limited edition di sini yang bisa dijadikan teman senasib bahkan yang tidak cakep sekalipun, konon lagi menemukan yang cakep untuk diajak pacaran. Nyaris mustahil bagiku.

Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Meski masih tengah hari, sudah cukup ramai yang memilih masuk ke dalam sini. Kebanyakan adalah mahasiswa, terlihat dari baju mereka yang trendy dan ransel-ransel di punggung. Beberapa siswa SMA juga kudapati bercengkerama di beberapa bangku, termasuk sepasang kekasih yang baru masuk beberapa menit tadi. Cuaca panas bisa jadi faktor yang membuat mereka memilih Taman Riyadhah sebagai tempat kumpul-kumpul. Di dalam sini, matahari hilang sengatnya dan harus mengakui kehebatan pokok-pokok asan.

Aku menguap. Kulirik jam tangan karet di pergelangan kiriku, sudah jauh melewati jam makan siang, sudah masuk waktu zuhur. Aku merasa-rasa apakah cacing di perutku masih tahan jika aku shalat lebih dulu baru kemudian pulang ke rumahku di Tumpok Teungôh atau harus segera membuka tudung saji Emak baru zuhur setelahnya. Kuraba perutku, kuputuskan untuk zuhur terlebih dulu.

Aku membereskan buku catatan dan alat tulis, kumasukkan ke dalam tas selempangku, berkawan dengan papan jalan alas LJK yang sudah empat hari ini menjadi benda utama pengisi tas.

Kutinggalkan kursi semen, berjalan menuju gerbang timur Taman Riyadhah. Tujuanku adalah Islamic Centre yang dari sini jaraknya hanya tinggal menyeberang perempatan saja ke Lapangan Hira’, lokasi mesjid itu berada.

.

.

Islamic Centre

Islamic Centre menyambutku sangat bersahabat. Aku tidak begitu sering shalat di sini, hanya sesekali jika kebetulan berada di sekitarnya dan hatiku sedang ingin. Aku melepas alas kaki di bawah tangga selatan lalu mulai menapaki undakan tinggi naik ke mesjid untuk selanjutnya menapak turun lagi menuju tempat wudhu di bagian dalamnya.

Sejuk. Selalu begitu rasanya setiap kali aku qiyam di sini. Pilar-pilar yang tinggi membuat angin dalam Islamic Centre bebas bersileweran dan berubah sejuk. Padahal, angin di sini berasal dan juga sama dengan angin di luar sana yang tentu berhembus panas di kulit karena cuaca sedang gahar-gaharnya.

Dasi abu-abuku berkibar selama aku menghadap kiblat.

Aku masih belum merasa lapar. Jadi, setelah salam lalu berdoa aku memilih untuk bersandar di pilar sebelah luar, dekat dengan tangga. Menikmati semilir angin di kulit wajahku, merasa nyaman ketika angin menyapa sisa bulir-bulir air wudhu di tepi garis wajahku.

Beberapa orang keluar dari mesjid lalu menuruni anak tangga. Sepertiku, mereka juga baru saja shalat zuhur. Selang semenit setelah rombongan pertama meninggalkan tangga, beberapa remaja berseragam SMA juga berjalan keluar, salah seorang dari mereka sempat tersenyum padaku. Entah untuk alasan apa, aku merasa bahagia melihat rombongan putih abu-abu itu. Meski kabarnya moral remaja Aceh sudah mulai bobrok, tentulah tidak semua remajanya seperti itu. Masih ada yang cinta agama seperti rombongan barusan.

Aku mengelesoh semakin rapat ke pilar. Untuk beberapa menit kemudian kelopak mataku memberat. Rasanya kantuk akan benar-benar menenggelamkanku ketika suara langkah berderap tertangkap telingaku. Tidak, itu bukan derap langkah, tapi derap kaki serombongan anak-anak yang berebut berlari menaiki tangga. Baju muslim mereka semarak dalam warna-warni cerah. Tas kecil yang pasti berisi juz amma tersampir di bahu masing-masing. Aku tersenyum sendiri. Di belakang rombongan anak-anak itu ikut berjalan seorang pemuda dalam balutan kokonya yang putih bersih. si pemuda –guru ngaji anak-anak itu- tersenyum sekilas padaku yang kubalas dengan senyum alakadarnya.

DIIINN DIIINNN

Bunyi klakson dari bawah sana membuat si pemuda guru ngaji yang sudah berada di dalam mesjid membalik badan, menoleh ke pelataran mesjid. Aku ikut menoleh ke arah yang sama. Seorang pengendara motor tegak di sana, memakai baju koko sama putih dengan si pemuda guru ngaji yang berdiri dua meter di sebelahku, tanpa helm, peci rajutnya warna hitam berbunga putih.

Aku mengerjap.

“Aku harus jemput jam berapa?” si pemuda di atas motor berseru, matanya menyipit menahan panas.

Aku berdebar.

“Selepas ashar,” pemuda guru ngaji balas berseru lalu melambai satu kali dan meneruskan langkah mengikuti murid-muridnya.

Aku mengucek mata. Apa pandanganku baru saja menipuku? Apa karena terlalu sering mengingatnya akhir-akhir ini maka mataku ikut-ikutan mengaburkan pemandangan asli? Tapi aku ingat sosoknya, aku ingat ikal rambutnya, terlebih… aku tahu seperti apa suaranya.

Di bawah sana, pemuda di atas motor mengusik gear, siap berlalu.

Aku mengerjap beberapa kali lagi sebelum benar-benar yakin bahwa mataku tidak mengaburkan pemandangan asli.

“Hei…!”

Tapi seruanku kalah cepat dengan gas yang ditarik si pemuda. Motor itu maju ke jalan.

Aku bangkit meninggalkan pilar yang nyaris menjadi tempat tidurku sesaat tadi. Kantukku tak bersisa. Tergesa-gesa aku menuruni tangga, melampaui dua anak tangga sekaligus tiap sekali rempuh yang membuat pahaku merenggang tak biasa. Motor itu masih terlihat jelas, melaju pelan. Dengan tergesa-gesa juga kupakai sepatu. Kuabaikan kaus kaki, kain bau itu kumasukkan dalam saku celana abu-abuku.

Aku berlari mengejar, melintasi pelataran mesjid lalu menyusuri trotoar di sepanjang Lapangan Hira’.

Punggungnya masih terlihat. Aku kian semangat ketika dari kejauhan kudapati traffic light yang berada tepat di perempatan depan gerbang timur Taman Riyadhah sedang menyala merah. Semua kendaraan berhenti, motor milik pemuda bekoko putih juga berhenti begitu sampai di sana.

Hatiku bersorak. Kupercepat lariku.

“Tidak tidak tidak…!” aku berujar putus asa ketika kulihat lampu berganti hijau.

Lalu motor-motor melintas cepat di depanku, aku tak bisa lekas menyeberang. Dadaku mulai bergolak, mataku mencari-cari. Tak kulihat lagi pemuda berbaju koko putih itu. Tuhan… jangan lakukan ini padaku. Hanya sekejapan lagi saja aku nyaris menemukannya…

Aku menyeberang dari pinggir Lapangan Hira’ menuju perempatan. Beberapa kenderaan memberiku jeritan klakson. Tak kupedulikan. Aku berhenti pas di sisi tiang traffic light. Bagai orang linglung kuputar badanku kesana kemari, mencari-cari kemana motor pemuda berkoko putih membelok. Hingga dahiku berkeringat, aku tak menemukannya. Dia hilang.

Traffic Light

Bahuku turun. Kuarahkan sekali lagi pandanganku ke tiap-tiap jalan dari perempatan dimana aku sedang berdiri kalut. Ke arah Jalan Medeka yang langsung menuju kota Lhokseumawe, ke jalan menuju Pasar Inpres di arah utara, ke Jalan Mayjen T. Hamzah Bendahara di sebelah selatan dan terakhir menatap lama jalan menuju Simpang Kuta Blang yang berada persis di sisi Taman Riyadhah. Ia tak terlihat dimanapun. Meskipun ada, aku tak mungkin lagi mengejarnya.

Lunglai, dengan bahu yang kian jatuh aku menyeberang menuju Taman Riyadhah. Niat untuk pulang ke rumah sama sekali tak terlintas di benakku, apalagi rasa lapar… sedikitpun tak mengusik. Aku lupa semua hal selain bahwa aku baru saja kehilangan kesempatan emasku… itu satu-satunya yang kusadari.

Aku menyelip-nyelip melewati beberapa motor yang terparkir tepat di depan gerbang Taman Riyadhah, tujuanku adalah pagarnya. Di sini kusandarkan diriku beberapa lama, meratapi nasib malangku sambil menatap bengis pada tiang traffic light di depan sana. Seharusnya lampu merah jahanam itu menyala sedikit lebih lama dari biasanya. Ingin saja kucabut tiang sialan itu lalu kupecahkan lampunya satu-satu, atau kubetot keluar dari pancangnya kemudian kumutilasi hingga tak terhitung bagian.

“Aarrrggghhh…!!!”

Aku menggaruk-garuk kepala yang mendadak seperti jadi lahan urbanisasi kutu secara gaib. Lalu, pikiran untuk kembali menuju Islamic Centre dan menunggu di sana hingga Ashar bertandang kemudian. Bukankah tadi guru ngaji itu minta dijemput selepas ashar?

Tiba-tiba lampu pijar menyala terang di atas kepalaku. Ya, menunggu di Islamic Centre adalah ide cemerlang. Aku sumringah. Membayangkan bahwa kurang lebih dua jam lagi aku akan bertemu orang yang sosoknya tak pernah pudar di ingatanku dalam kurun setahun ini. Bahuku tegak lagi, wajahku cerah lagi. Dan kutu-kutu meninggalkan rambutku.

“Aku akan mengejutkanmu selepas ashar nanti. Bersiap-siaplah, wahai pria yang lembut hatinya…”

Aku tersenyum sendiri, teringat olehku novel Ayat-ayat Cinta yang kutamatkan bulan lalu. Di dalamnya ada kalimat begitu, ‘wahai insan yang lembut hatinya…’ jika tak salah ingat ada dalam surat Noura untuk Fahri. Ah, ayat-ayat cinta… andai ada Fahri untukku yang bukan Noura, bukan Maria apalagi Aisha.

Aku menepuk jidat.

Aku sadar kalau Tuhan ternyata mendengar pintaku. Baru beberapa waktu lalu ketika menulis catatan kesekian aku kembali meminta agar DIA berbaik hati mempertemukanku dengan orang yang sangat ingin ketemui, dan belumpun berganti hari setelah doa terakhir kini Tuhan sudah akan mengabulkannya. ‘Sudah akan’ karena kami belum bertemu, tapi akan bertemu. Yuhuuuiii…!

Kutinggalkan pagar Taman Riyadhah, kembali menyelip-nyelip di antara jejeran motor di depan gerbangnya. Saking tergesa-gesa, tali tas selempangku sampai menyangkut di setang salah satu motor yang kulewati.

Aku berdecak kesal. Kenapa mereka harus memarkir pas di depan gerbang? Sungguh mengganggu, dumelku dalam hati sambil membebaskan tali tas yang membelit setang motor.

Kemudian mataku membundar. Jika tak sadar sedang berada dimana, ingin saja aku melompat tinggi-tinggi. Motor yang setangnya menjawil tali tas-ku sama persis seperti motor yang dikendarai pemuda berkoko putih yang tadi kukejar. Aku memang tak sempat memperhatikan plat, tapi ini benar-benar motornya. Artinya, kemungkinan besar dia ada di dalam taman sana. Hei, tidakkah ini pertanda? Pertanda bahwa aku memang berjodoh dengannya. Lihat, setang motornya menahanku agar tidak pergi. Oh, apa dia benar-benar Fahri untukku?

Kutepuk jidatku sekali lagi, lebih keras sekarang.

Lalu aku meragu, motor begini tentu bukan keluaran satu-satunya. Mungkin saja ini punya salah satu pengunjung, bukan milik pemuda yang kulihat tadi. Ah, tak ada salahnya masuk ke dalam sana dan mengecek langsung. Jika pun bukan, aku hanya perlu bersabar lebih kurang dua jam lagi sebelum benar-benar akan bertemu dengannya di Islamic Centre.

Raguku hilang berganti dengan pemikiran mantap dan sebuah kepastian. Bahwa hari ini aku akan bertemu dengannya adalah pasti, bila tidak sekarang di Taman Riyadhah maka pasti tinggal menunggu waktu di Islamic Centre.

Kaki kananku menyeberang masuk melewati gerbang Taman Riyadhah.

Of course… yang pertama kali kuperhatikan begitu berada di dalam taman adalah bangku tempat biasa aku duduk, bangku semen tempat setahun lalu kami duduk bersama di bawah guguran bunga kuning pokok asan.

Namun bangku itu lengang. Tak ada sesosok pun yang duduk di atasnya. Mungkin dia memilih bangku lain… aku menghibur diri.

Ketika hendak mengalihkan pandangan menyusuri sisi lain taman, ekor mataku menangkap satu sosok melangkah mendekati kursi itu. Sosok berkoko putih, peci rajut tergenggam di tangan kiri dan plastik kecil di tangan kanan.

Aku terpana. Rambutnya masih seperti dulu, tak berubah sedikitpun. Kuperhatikan plastik kecil di tangan kanannya dan kemudian aku tersenyum sendiri. Kubawa pandanganku ke pinggiran taman tempat seorang pria setengah baya sedang melayani orang-orang yang membeli jajanan padanya. Pasti isi plastik kecil di tangan kanan si pemuda adalah sirih manis, dia baru saja meninggalkan si penjual ketika ekor mataku menemukannya.

Kursi itu tak lagi lengang. Kini, ada santri yang duduk di sana. Santri yang sama di kursi yang sama dan dalam taman yang sama pula, seperti satu hari dulu. Seperti telah tersurat, seperti begitulah yang seharusnya terjadi. Ya Tuhan, begitu kuasanya tanganMu. Aku bagai menemukan tujuan perjalananku. Aku merasa jadi musafir yang menemukan bandar di perjalanan, bandar untuk singgah. Mendadak aku menemukan diriku disimbah cahaya terang-benderang, dan pada saat yang sama juga disiram air telaga paling sejuk di dunia. Aku terpesona…

Bagai kesegeran di pucuk daun kala pagi

Bening jernih kilaunya bak zamrud

Tertulis segar dan bening itu embun…

Bagai gurun kering nan kerontang

Perih dambakan hujan agar hijau tercipta

Tersurat hijau indah di tengah gurun itu oasis…

Aku adalah pucuk daun sebelum mengembun

Hingga basah bening hadir kala fajar

Ia embun yang mengilaukanku…

Aku adalah gurun kering kerontang

Hingga hujan turun mencipta hijau

Ia oasis yang menyejukkanku…

Seperti pucuk daun diganyuti embun,

Seperti oasis hijau di tengah gurun,

Skenario Tuhan ternyata seindah ini…

Aku menunduk meneliti diri, mematut baju seragamku yang ujungnya tidak lagi berada dalam celana. Dasiku juga tidak lagi membelit leher seketat tadi pagi, kini longgar. Kusapu sisa keringat di dahi, juga kurapikan ujung-ujung rambutku.

Kemudian aku mulai melangkah menujunya. Langkah pelan namun kulakukan dengan hati mantap. Dia sedang menunduk mengubek-ubek isi kantong yang diletakkan di paha. Satu lipatan sirih manis masuk ke mulutnya.

Assalamu’alaikum…”

Dia berhenti mengunyah, berhenti mengubek-ubek kantong. Wajahnya terangkat.

“Ini taman Riyadhah?” tanyaku, nyaris tak bisa menahan senyum di bibir.

Dia ternganga, matanya membundar.

“Ehem… Aku harus memastikan kalau aku tak menunggu di tempat yang salah. Apa benar ini tamannya?” aku melanjutkan, masih berusaha keras agar tidak tertawa saat untuk kedua kalinya mulutku menirukan kalimatnya ketika dulu dia menghampiriku di tempat yang sama.

Ya, aku ingat hampir semua kalimat-kalimatnya, sebagian malah tercantum dalam buku catatanku.

“Namanya sudah tak jelas lagi di sana. Ada huruf yang sudah hilang. Jadi aku harus bertanya agar pasti jika aku memang sudah sampai di Taman Riyadhah…” aku kian menjadi-jadi.

Dia mengerjap, menelan kunyahan sirih yang kuyakin belum pun halus sempurna dimamah gerahamnya, lalu dia tersenyum. “Kamu meniru…”

Kini aku tak menahan senyumku lagi. Ternyata, ia masih mengenalku, masih ingat detil pertemuan kami. Apakah selama ini aku juga selalu dalam ingatannya seperti halnya dia yang tak pernah enyah dari ingatanku? Ah, harapku terlalu tinggi.

“Rencana Tuhan memang penuh kejutan ya…” dia tertawa. “Siapa sangka…”

“Kamu belum menjawab salamku.”

“Aku dulu juga harus memberi salam hingga dua kali? lupakah?”

Aku menyengir, “Assalamu’alaikum…”

Ia tertawa kian keras. “Ucapan salam bukan untuk candaan ah…”

“Memang bukan, itu kan doa. Doa sejahtera… Assalamu’alaikum…”

Wa’alaikumsalaaaam…” jawabnya sengaja dipanjangkan.

Aku menunjuk sisi kosong di kirinya. “Boleh aku menunggu bersamamu sampai sepupuku datang?”

“Berhenti jadi beo!”

Aku ngakak. “Aku baru pertama kali kemari, sepupuku akan menjemputku di sini ketika pengajiannya usai…”

Dia berdecak gusar, “Lama-lama kamu menyebalkan,” ujarnya sambil menepuk sisi luang di sebelah kirinya, mempersilakanku duduk.

“Asal tahu saja, dulu ketika awal-awal menghampiriku di sini kamu juga membuatku kesal, tau!” aku duduk di sampingnya.

“Gak boleh kesal sama ulama, dosa…” dia membalas narsis.

Aku tertawa, lalu kuulurkan tanganku padanya. Aku tak mau mengulang kebodohan yang sama dengan tidak berusaha tahu namanya seperti dulu. Jadi aku akan mengajaknya berkenalan secara resmi kali ini.

“Apa aku harus menyebut nama?” dia menyambut uluran tanganku.

“Juniswar Gaffarul…” kusebutkan namaku lebih dulu sambil menjabatnya makin erat.

“Hemm… tidak jelek.” Sebelah alisnya terangkat ketika berujar begitu. “Panggil aku Pak Ustadz saja!” dia memberiku cengiran.

Aku melotot. “Namamu!”  kugigit gigiku ketika berucap.

“Pak Ustadz. Kan udah aku kasih tahu barusan. Panggil-aku-Pak-Ustadz…”

Jeda berlebihan di ujung ucapnya membuatku geram, tangannya makin kujepit. “Sini KTP-mu!” tangan kiriku menadah.

Dia terbahak, “Ehem… Ali… namaku Ali.”

Aku mengernyit, menduga-duga kalau dia hendak mengelabuiku lewat sudut-sudut mulutnya yang mengerut menahan tawa. “Pendeknya kamu punya nama… pasti bohong nih!”

“Lengkapnya… emm… Alibaba.”

Aku berdecak, “Alibaba Upik Abu? Aladin Alibaba Kuweh Supet? Huh, siapa mau percaya! Sini KTP-nya…!” aku hendak merogoh saku baju kokonya meski kutahu tak mungkin ada dompet berisi kartu identitas di dalam sana.

Dia tertawa-tawa sambil menangkap tangan kiriku dengan tangan kirinya yang masih memegang peci. Kantong sirih di pahanya merosot ke kursi.

“Lagian kamu ngotot sih, kan aku udah minta dipanggil Pak Ustadz saja.”

Aku memandang kedua tanganku yang kini bertaut dengan kedua tangannya. Ah, aku terbang. Baru juga tangan, padahal dulu aku pernah menyandar ke bahunya. Apa kali ini aku bisa bersandar ke dadanya ya? Bagaimana caranya agar bisa? Hush, aku sudah janji tidak akan berpikiran jorok.

“Halo?” dia membungkuk, “Kena totok jin ya?”

Aku tersadar dari bengongku, “Padahal dulu kamu tidak semenyebalkan ini…” kulerai jabatan kami.

Sekilas dia manatapku serius, lalu tersenyum jahil. “Seingatku, dulu juga kamu tidak sengotot ini…”

“Baiklah Pak Ustadz, lupakan saja aku pernah ingin tahu namamu…” aku mengalah dan mengikuti maunya. “Lalu, apa yang membawamu masuk kemari?” lagi-lagi aku berharap dia akan menjawab bahwa kenangannya tentangku yang telah membawa langkahnya masuk ke Taman Riyadhah. “Bukan karena sepupumu minta kamu menunggu di sini kan? Tentu kamu bukan baru turun dari bus. Eh, atau kamu sungguhan baru sampai dari Melbourne?” aku lanjut bertanya meski sudah yakin kalau dia pasti sudah tiba sejak kemarin-kemarin. “Jauh-jauh dari Melbourne tanpa ransel?” sengaja kujenguk punggungnya.

Dia terbahak besar, “Melbourne… hehehe. Masih ingat saja.” Dia berdehem, “Aku berangkat dari Meulaboh kemarin pagi, ada urusan sedikit di Banda Aceh yang lumayan makan waktu jadinya baru sampai kemari menjelang subuh tadi, sepupuku langsung menjemput ke terminal.”

Aku manggut-manggut, “Baru tiba semalam dan siang ini langsung ke Taman Riyadhah? Apa yang membawamu?” aku mengulang pertanyaan inti yang membuatku menanti jawaban dengan debar luar biasa di dada.

‘Ingatanku tentang remaja SMA tak lulus ujian yang membawaku kemari…’  bahkan aku seakan sudah mendengar jawaban demikian, menggaung-gaung di kepalaku. Aku mendengar harapanku sendiri. Nyatanya itu sekedar harap saja…

Dia mengangkat kantong sirihnya. “Entah apa racikan rahasianya, ranup maméh di sini benar-benar ngangenin, rasanya beda dengan yang di sana…” dia memasukkan satu gulungan sirih lagi ke mulutnya dan mulai mengunyah.

Sedikit, aku merasa bego sendiri. Harapku terlalu tinggi. Tak mungkin dia masuk ke Taman Riyadhah dan memilih duduk di bangku yang sama karena ingin mengenang pertemuan kami dulu. Mustahil. Tapi…

“Juga, siapa tahu hari ini ada siswa SMA labil yang sedang gundah gulana karena tak lulus ujian atau yang baru di-loeh-gueh-end-kan pacarnya yang bisa kuberi siraman rohani…” dia terus mengunyah dengan ekspresi menggemaskan.

Aku nyaris melompat dari tempat dudukku. Ternyata… aku juga jadi alasan mengapa dia bisa masuk kemari, yah meski alasan utamanya tetap sirih manis di mulutnya itu. Hei, mungkin dia malu mengakui… bisa jadi kan? Aku mengembang seperti spons cuci piring yang kelebihan air.

“Ehem… jika kamu berharap bertemu siswa SMA yang tak lulus untuk dihibur, maaf Pak Ustadz… kamu datang terlalu cepat…”

“Iya, aku tahu ini baru hari terakhir UN,” potongnya sambil menatap ke dadaku. “Siapa tahu aku tak sempat datang ketika hari kelulusan seperti tahun lalu, jadi sudah terbayarkan dengan hari ini…”

Aku paham, dia menatap dasiku yang dulu sempat diakui disukainya.

“Kamu bolos ujian?” tiba-tiba dia berseru. Beberapa pengunjung taman sampai menoleh ke tempat duduk kami. “Pasti bolos, kan? makanya jam segini masih keluyuran belum balik ke rumah. Huh, bagaimana mau lulus, ujian saja kamu gak ikut…” dia menceramahiku. “Kayaknya setelah bicara banyak dulu gelagatmu sudah mau baik, mau bertekad untuk berubah… dasar remaja jaman sekarang. Jangan-jangan setelah aku naik motor saat itu kamu balik mungutin lagi bungkus rokok yang kamu buang ke tong. Iya?”

“Pak Ustadz gak boleh berburuk sangka…”

Dia menelan kunyahan sirih yang kesekian. Aku bertanya-tanya, apa dia tak merasa kalau lidahnya tebal? Hemm… sepertinya dia sudah kebal. Tapi aneh, suka makan sirih yang ada pinangnya kenapa giginya putih-putih saja? Apa ada kemungkinan dia pakai bayclean sebagai pengganti listerine?

“Gak jadi membela diri?” dia membawaku kembali ke kenyataan.

Fokus pandanganku beralih dari barisan putih dalam mulut si santri, sekarang menatap wajah putih bersihnya. “Pertama-tama, aku tidak bolos ujian, sudah empat hari aku berkutat dengan LJK…”

“Mana buktinya?”

Aku membuka tas dan memperlihatkan papan jalanku padanya.

“Ah, palingan untuk mengelabui orang rumah saja.”

“Sumpah demi Allah, aku ada ikut ujian,” mimikku berubah serius.

Dia tersenyum. “Alhamdulillah…”

Mendadak aku merasa sejuk, hatiku dingin. Kuberi dia seulas senyum.

“Kedua-dua?”

“Kedua-dua, aku tadi sudah mau pulang ke rumah, tapi zuhur dulu di Islamic Centre…”

“Kamu shalat zuhur di mesjid?” dia melotot tak percaya.

Aku mengangguk dalam-dalam.

“Keajaiban…” lirihnya.

“Hei…!” aku memukul lengan pemuda di depanku. “Meski badung, gini-gini aku ngerti shalat, tau!”

Alhamdulillah…”

Hatiku sejuk lagi. “Yah, meskipun shalatku masih sering bolong juga sih…”

Astaghfirullah…”

Aku memberengut, dia tergelak.

“Mulai hari ini gak boleh bolong lagi, ya!”

Insyaallah…” balasku.

“Eh, barusan saja aku juga habis dari Islamic Centre, ngantar sepupuku ngasih pengajian…”

Aku baru sadar kalau pemuda guru ngaji yang sempat tersenyum padaku di Islamic Centre adalah sepupunya. Maksudku, aku ingat dia punya sepupu, tapi tadi saat di Islamic Centre aku sama sekali tidak berpikiran kalau guru ngaji itu adalah sepupunya. Padahal sekilas dulu aku sempat melihat wajah si sepupu ketika menunggu di gerbang taman dengan motornya.

“He eh, aku tahu kamu baru saja dari sana…” ujarku kemudian.

“Eh? Kamu tahu? Kamu melihatku?” dia kaget.

“Iya, aku juga berteriak memanggil. Tapi sepertinya cotton bud di tempatmu habis maka gak dengar…” olokku. “Padahal aku duduk tepat di penghabisan anak tangga… matamu mulai minus juga sepertinya.”

“Silau tau, gak bisa buka mata lebar-lebar,” dia membela diri. “Eh, kalau kamu sudah melihatku sejak di sana, mengapa tadi menanyakan lagi kalau aku baru sampai dan apakah sepupuku menyuruhku menunggu di sini? Ada-ada saja…”

Aku nyengir, “Suka-suka…”

Dia tersenyum, “Ternyata wajahku masih dikenali meski dari jauh ya…”

Aku tak menjawab, hanya merenung ke peci rajut yang masih dipegangnya. Namun hatiku tetap berujar, wajahmu akan tetap kukenali hingga bila-bila masa…

“Jadi, kamu mengikutiku hingga kemari?”

Haruskah aku mengaku kalau aku hampir berputus asa mencarinya tadi? Haruskah kuakui kalau aku selalu berdoa untuk bisa bertemu lagi dengannya? Bahwa aku juga baru saja menuliskan catatanku yang ke sekian tentangnya? Haruskah kuperkatakan seperti apa gembira hatiku saat menemukan sosoknya di bangku ini, di dalam Taman Riyadhah? Haruskah kuakui… bahwa aku merindukannya? Atau… haruskah kuceritakan bagaimana aku celingak-celinguk bagai ayam epilepsy di simpang lampu merah sana beberapa saat lalu? Tadinya pasti ada pengendara yang mengira bahwa aku gelandangan berseragam SMA, atau lebih parahnya banci putih abu-abu yang sedang mangkal. Tunggu, banci di simpang lampu merah di Kota Lhokseumawe??? Hemm… pasti bakal anyar. Yang bikin heboh, kenapa mangkalnya siang-siang bolong?

Sialan, aku bukan banci!

Nyatanya, aku hanya mampu menjawab soalan itu dengan senyum saja. Andai dia dapat mengartikan senyumku seperti apa yang terkandung dalam hatiku…

“Tadi kamu bilang sudah mau pulang, artinya hingga jam segini belum balik ke rumah?”

“Kalau sudah pulang gak mungkin aku masih pake dasi begini.”

Dia mengangguk-angguk, “Itu dasi yang sama dengan yang dulu?”

“Tentu saja.”

“Masih bagus ya.”

“Akui saja kalau kamu juga masih suka.”

Dia tersenyum, “Iya, aku masih suka dasimu… kalau lulus nanti jangan dicat ya!”

Ya Tuhan, rasanya aku ingin memeluk santri-Mu yang satu ini. “Bukan kalau, tapi aku memang pasti lulus…”

“Yakin banget.”

“Kenapa engga, aku punya waktu setahun untuk memperbaiki diri. Asal tahu saja, aku nolak perintah ibuku untuk ngambil paket C aja biar ekspres. Aku ikhlas duduk di kelas tiga dua semester lagi, gak peduli dipanggil ‘abang kelas empat’ oleh junior-juniorku nyaris selama dua belas bulan belakangan. Ikhlas diajari guru-guru yang sama meskipun aku tahu mereka eneg ngelihat sosokku selama mata ajar mereka berlangsung…”

“Gak ada istilah guru eneg melihat siswanya yang mau berusaha memperbaiki diri…” dia menukas.

“Iya, aku tahu. Itu tadi aku melebih-lebihkan saja, kalau dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia namanya majas hiperbola…”

“Wah, pinter nih udahan.”

Aku nyengir.

“Jadi sampai jam segini belum makan siang?”

Aku nyengir lagi.

Dia mendesah, “Pantesan kamu gak nyerobot sirihku… belum makan nasi ternyata.”

“Eh? Memang kapan pernah aku menyerobot sirihmu? Dulu kan kamu yang nawarin sendiri.”

“Ya kerena aku lihat kamu gak ngeluarin rokok, aku fikir nanti kamu pasti akan menyerobot sirihku…”

“Nah, bicara rokok, mau tau yang ketiga-tiga gak?”

“Oh, udah dua ya? baiklah, yang ketiga-tiga apa, Nak Gaffarul?

Mendengar dia menyebut nama belakangku, aku jadi penasaran dengan namanya lagi. “Ehem… orang-orang biasa memanggilku Gafar saja.”

“Yang ketiga-tiga apa, Nak Gafar?”

“Yang ketiga-tiga, Pak Ustadz… aku tidak memungut lagi rokok yang di depanmu kubuang ke tempat sampah. Bahkan, aku langsung berhenti merokok sejak saat itu.”

Dia berdecak beberapa kali, kagumkah dia?

“Allah sayang padamu, Nak Gafar.”

“DIA menyadarkanku lewatmu, Pak Ustadz… terimakasih…” ya, aku sudah mengucapkan terimakasih keduaku buatnya. Amat jauh berselang dari terimakasih yang pertama, tapi pasti akan lebih jauh lagi jika kami tidak bertemu lagi di sini hari ini.

Dia menepuk bahuku, “Saling nasihat-menasihatkan dalam hal kebaikan memang dianjurkan kan? Agar kita tak jadi manusia merugi… begitu kata-Nya dalam surat Al-‘Ashr.”

Aku diam menatapnya.

“Tapi, Gaffar…” dia membuang sapaan ‘nak’ yang sempat disebutkannya tiga kali tadi. “Percayalah bahwa bukan aku yang membuatmu meninggalkan pekerjaan makruh yang sudah terbukti kerugiannya itu, tapi tekad dari hatimu sendiri untuk meninggalkannya.” Dia mengulum senyum sekilas, “Allah juga bilang demikian, jika tak salah ingat ada dalam Ar Ra’du ayat sebelas… Allah tidak akan merubah keadaan satu kaum kecuali dirinya sendiri yang merubahnya…”

Rasa-rasanya aku pernah mempelajari ayat itu dalam satu sesi mata ajar Pendidikan Agama Islam, entah di kelas dua.

“Terimakasih, Pak Ustadz…”

Dia tertawa, “Aku geli dipanggil pak ustadz.”

“Kan kamu sendiri yang minta dipanggil begitu… panggil-saja-aku-pak-ustadz…” kutiru kalimatnya tadi dalam jeda yang sama persis. “Iya kan, Pak-Us-tadz???”

“Hehehe… amin aja deh, siapa tahu aku benar-benar jadi ustadz suatu hari nanti.”

“Amin.”

Sejenak kami saling diam. Dia sudah berhenti mengunyah sirihnya, tersisa beberapa gulungan saja di dalam kantong. Aku duduk diam di sampingnya, menikmati kebisuan kami dengan caraku sendiri. Yang kufikirkan dalam diamku, seperti apa pertemuan kami kali ini akan berakhir?

Aku mendongak, memperhatikan kerimbunan dahan pokok asan. Sayang sekali, bunga-bunga kuningnya belum muncul. Meski angin membadai sekalipun tak akan ada bunga yang luruh dari atas sana menyiram kami. Artinya, aku dan santri di samping kananku tak mungkin mengulang momen dimana kami saling mengacak rambut satu sama lain untuk membersihkan luruhan kuning bunga pokok asan dari kepala, seperti tahun lalu.

“Tidak sedang masa berbunga ya…”

Aku menoleh, dia menggerakkan dagunya ke atas. Ah, apakah dia baru saja memikirkan hal yang sama denganku? Menyayangkan pokok asan yang sedang tak berbunga?

“Hemm… padahal lebih bagus bila sedang ada bunganya,” responku.

“Kamu tidak lapar?”

Sebenarnya aku ingin menjawab ‘ya’ untuk pertanyaannya. Namun aku takut dia akan memintaku untuk segera pulang yang artinya adalah perpisahan dini dan harus dihindari buatku. Jadi, aku hanya diam sambil memuntir-muntir dasi.

“Sakumu mengembung? Sisa jajan ya?” dia menunjuk saku celanaku. “Makan saja, jangan sungkan-sungkan, aku gak akan minta kok, aku tau kamu sedang lapar, lumayan kan buat pengganjal perut sebelum benar-benar makan di rumah.”

Aku menatap sakuku, dan langsung tertawa detik itu juga. “Untuk jajanan yang satu ini, aku tidak keberatan berbagi…” kurogoh saku celana.

“Ya Allah… kaus kaki!” dia melotot, “Kenapa bisa di situ?”

Kuberi dia cengiran sebelum menjawab, “Tadinya kupikir langkahku bakal lebih ringan tanpa benda ini…” kuangkat kaus kakiku.

“Turunkan! Jorok.”

Kuikuti perintahnya, kupakai kembali kaus kakiku.

“Ehem, mungkin ini terdengar biasa tapi sungguh maknanya tidaklah biasa-biasa saja.” Dia menghela napas, “Tahu kan, kebersihan itu setengah dari iman…?”

“Aku tahu…”

“Ya, semua orang tahu. Tapi sayang tidak semua orang sadar maknanya.”

“Apa maknanya, Pak Ustadz?” kukedipkan mataku ketika untuk kesekian kali kupanggil dia dengan panggilan ‘pak ustadz’.

Dia mesem-mesem, peci rajut kembali dikenakan di atas kepala menutup sebagian besar helai rambutnya. Dengan peci di kepala, begitulah sosoknya kukenal untuk pertama kali. Tak bisa kuhindari, aku menelusuri lagi garis wajahnya dengan mataku, seperti dulu. Alis tebalnya masih mengagumkan, hidungnya juga masih berada dalam kemancungan yang sama seperti kuingat. Hanya… bulu-bulu di sisi wajahnya tampak mulai kasar, turun hingga ke dagu. Jika dulu aku bisa melihat garis samar yang membelah dagunya, kini aku tak bisa menemukan garis itu lagi. Bulu-bulu di dagunya mulai legam, namun entah mengapa itu justru makin membuat dia kelihatan lelakinya, kelihatan ikhwan-nya. Wanginya juga masih sesegar seperti pertama kali kubaui.

Seperti apa rasanya bila aku menyusurkan jari-jariku di wajah indah ini?

Tidak boleh berpikiran jorok. Aku berhenti berkhayal dapat membingkai wajahnya dengan dua tanganku. Ketika dia mulai bersuara untuk menjawab pertanyaanku, aku kembali lagi ke kenyataan.

“Islam adalah agama yang cinta kebersihan. Islam mewajibkan penganutnya untuk ber-thaharah. Dari sini saja kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa anjuran menjaga kebersihan itu bukanlah propaganda semata. Kebersihan setengah dari iman bukan sekedar seruan kosong. Itu anjuran… kita berwudhu setiap kali masuk waktu shalat, itu tuntutan agar kita selalu berada dalam keadaan bersih, suci ketika hendak beribadah yang artinya bahwa kita beriman. Orang beriman adalah mereka yang beribadah, dan beribadah itu keadaan kita harus bersih dulu. Kita disunatkan mandi ketika hendak pergi ke mesjid pada hari jumat, ketika hendak shalat dua hari raya… itu juga hikmah dari kebersihan setengah dari iman. Ajaran tentang kebersihan ada dalam perilaku nabi… salah satunya, nabi ber-siwak. Pernah dengar?”

“Sepertinya pernah…”

Dia tersenyum, “Kalau kita di zaman ini, ber-siwak adalah menyikat gigi.”

Aku manggut-manggut.

“Jadi, meskipun kaus kakimu baru dipakai satu hari…”

“Ini sudah empat hari,” potongku.

“Nah, apalagi kalau sudah empat bulan…”

“Empat hari, Pak Ustaaadzz…!”

“Tapi baunya kenapa udah kayak empat bulan?”

“Namanya juga anak lelaki.”

“Aku lelaki, tapi saat sekolah dulu kaus kakiku tidak sebau punyamu ini meski kupakai tujuh hari penuh.”

Aku jadi merasa tak enak. “Emm… beneran bau ya?” kupandangi kaus kakiku dengan tatapan miris.

Dia terbahak, “Kalau beneran bau, sudah dari tadi-tadi aku kabur.”

Aku jadi tenang.

“Masih mau dengar?”

“He eh…”

“Meski kaus kakimu baru dipakai satu hari, bukan berarti kamu bebas menyimpannya di tempat yang tidak seharusnya. Kebersihan itu juga adalah keteraturan, nah… keteraturan adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, dimana tempat kaus kaki? Di kaki dalam sepatu, bila tak dipakai kenapa tidak mengatur letaknya agar kebersihan tetap menjadi bagian kita? Dalam kasusmu, apa salahnya dibalut kertas buku dan dimasukkan dalam tas?” Dia menatapku hangat, “Maaf, bukan menceramahi, tapi menularkan pengetahuan… hehehe…” dia mengambil jeda satu tarikan napas. “Bicara tentang keteraturan, hukum keteraturan juga terjadi pada alam, dan Allah adalah sang pengatur yang Mahahebat. Lihat pergantian siang dan malam, pergantian musim. Keteraturan juga ada dalam penciptaan manusia, Tuhan menempatkan hidung sebagai indera pembau tepat di atas mulut? Apa hikmahnya?”

“Agar kita tau apakah napas pasangan kita bau atau tidak ketika berciuman,” sampukku.

Dia mengangguk, padahal kukira tadinya aku bakal disanggah. “Itu salah satunya. Coba bayangkan jika Allah tidak mengatur letak hidung di atas mulut, tapi di ketiak kiri atau kanan atau di mata kaki. Bayangkan setiap kali kita hendak makan, kita harus terlebih dahulu mendekatkan sendok makan ke ketiak kiri kanan atau ke mata kaki untuk memeriksa bau makanan apakah sedap atau tidak. Bagaimana pula saat kita memakai masker pelindung polusi? Tentu kita harus menggunakannya di mulut yang ada di muka dan juga di ketiak karena hidung berada di sana.”

Aku benar-benar membayangkannya, tapi… yang kubayangkan adalah ketiak santri di sampingku. Seseksi apa ya ketiaknya? Hush, jorok lagi.

“Itu hanya salah satu contoh. Intinya, karena Allah yang Mahapengatur sudah mengatur penciptaan sedemikian baiknya, satu-satunya wujud syukur kita adalah dengan hidup sama teraturnya.” Dia menutup sesi pencerahannya.

Aku mencerna kalimatnya, menyerapnya dalam ingatanku. Saat tiba di kamar nanti, aku punya pe-er catatan yang harus kutulis.

Dia memandang berkeliling, “Ada yang bawa berondong jagung tuh, dan sepertinya di sini ada yang makin lapar…” dia bangkit berdiri lalu meninggalkan bangku menuju penjaja popcorn.

Aku sadar kalau dia menyindirku. Namun ada yang aneh di sini, dia tidak bersikeras menyuruhku pulang. Pikiranku jadi nyasar kemana-mana, apa dia tidak menyuruhku segera pulang karena masih ingin berlama-lama denganku dalam Taman Riyadhah? Bernostalgia akan pertemuan telah lewat? Semoga iya.

Tak lama dia balik, langsung menyerahkan cup popcorn padaku sementara dia membuka tutup botol air mineral. “Jangan sungkan-sungkan, murah ini kok…”

“Karena murahlah maka enggan. Yang murah biasanya gak enak…”

“Rezeki jangan dikatai… di syukuri, ingat… walainkafartum inna ‘azaabi lasyadid…

Aku bergidik, beberapa kali pernah mendengar khatib jumat berujar seperti itu.

“Berondong jagungnya enak, alhamdulillah…” aku berujar cepat lalu mulai memasukkan jagung meledak itu ke dalam mulutku. Dia mengikuti.

Hanya butuh waktu sepuluh menit, cup popcorn hanya tinggal plastik dan karton saja. Dia menyodorkan botol air mineral yang bersisa setengah. Kuterima dengan hati berbunga-bunga. Aku minum dari botol yang sama, menempelkan bibirku pada bekas bibirnya. Indirect kiss, kata orang.

Beberapa menit setelah sesi ‘makan siang’ selesai, kami kembali diam membisu. Aku asik menerawang kemana-mana sedang dia bergumam entah apa, mungkin berzikir.

“Apa tahun depan aku bisa kemari lagi ya?” tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibirnya, lalu dia tersenyum sendiri, pandangannya lurus ke depan. “Jujur aku tak menyangka tadinya bakal ketemu kamu lagi di sini… rasanya seperti déjà vu. Terlebih ketika kamu bercanda dengan meniru ucapan-ucapanku saat menghampiri tempat dudukmu dulu…”

Aku diam dengan perasaan tak terkatakan. Menerka-nerka kemana arah pembicaraannya.

“Bertemu denganmu lagi hari ini, rasanya seperti aku memang tak pernah pulang ke Meulaboh sejak hari pertama sampai di sini waktu itu…”

Aku diam.

“Apa aku bisa kemari lagi tahun depan, ya?” pertanyaan itu seperti diajukan untuk dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu…” padahal, aku ingin menyuarakan hal yang sama seperti yang disuarakannya. Bisakah tahun depan atau kapanpun itu aku akan bertemu lagi dengannya? Rasa-rasanya aku mulai tahu seperti apa pertemuan hari ini akan berakhir, kurang lebih tentu sama seperti pertemuan pertama kali dulu.

“Yah, manusia memang tak pernah tahu. ‘Ilmu bukan sifat kita manusia, tapi sifat-Nya. Maka wajarlah kita tak tahu…”

Sekilas, aku ingat sesi pengajianku dulu pada kajian 20 sifat Allah, salah satunya ‘ilmu, mengetahui.

Kulihat dia mendongak, lagi-lagi tersenyum sendiri, mengajak tersenyum dahan-dahan pokok asan di atasnya. “Ah, Taman Riyadhah… aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali menemukanmu dulu… andaipun tahun depan aku tak sempat memasukimu, kau tetap Taman Riyadhah di hatiku…”

Aku mengernyit, “Kamu berpujangga?”

Dia menolehku dan menggeleng.

Lalu kumandang adzan bergema dari Islamic Centre, ashar sudah masuk waktu. Aku ingat ucapan si guru ngaji yang minta dijemput setelah ashar. Ah, musuh utamaku ternyata adalah waktu. Aku benci waktu yang rasanya terlalu buru-buru hari ini. Sesaat lagi, sosok di sebelahku pasti akan melafaz salam perpisahan.

“Sudah ashar…”

Aku mengangguk lemah mengiyakan ucapannya.

“Sepupuku minta dijemput selepas ashar…”

“Iya, aku mendengar dia berkata seperti itu tadi…”

Adzan sudah sampai di pertengahan lafaz.

Kudengar bunyi napasnya yang dihembuskan cukup keras. Apakah dia merasa hal yang sama sepertiku? Enggan berpisah?

“Selama ini, pernah tidak kamu shalat dua waktu berturut-turut di Islamic Centre?”

Aku menolehnya yang juga sedang menolehku. Lalu menggeleng.

“Berarti hari ini jadi hari pertama kamu akan shalat di sana dua waktu berturut-turut…”

Adzan telah sempurna dikumandangkan sang muazzin. Tapi kami masih belum beranjak.

Dia bangun sambil menarik lenganku untuk ikut berdiri. “Ayo, aku akan jadi imam shalat asharmu kali ini?”

“Eh? Di sana kan ada imam sendiri, kita tentu masih sempat berjamaah.”

Lalu kudengar muazzin meng-iqamat.

Dia tersenyum padaku, “Jangan kuatir, aku pernah mengimami shalat orang lain sebelumnya, jangan takut jamaahmu tidak sah… beberapa bulan ke depan mungkin aku malah akan benar-benar jadi imam sesungguhnya…” dia menarik tanganku.

Bergandengan, kami keluar melewati gerbang Taman Riyadhah. Langit mendung menyambut ketika rimbun pokok asan tidak lagi meneduhi aku dan dia. Ternyata benar kata kiasan, kukira terik hingga ke petang rupanya mendung di tengah hari. Begitulah cuaca hari ini, tadi panas luar biasa sekarang malah mendung yang tersisa.

Hanya Tuhan yang tahu seperti apa bahagia hatiku ketika tangan kami bergandengan, pun ketika aku berada di boncengannya. Meskipun jarak tempuhnya amat sangat singkat, semenit berada di balik punggungnya adalah enam puluh detik mengesankan untukku sepanjang hari ini…

.

.

Seharusnya dia tidak menjadi imam shalat asharku. Seharusnya dia mengimami shalat maghrib, atau isya atau subuhku agar aku bisa puas menikmati suaranya ketika membaca al-fatihah dan surat-surat pendek setelahnya. Ashar… aku hanya bisa menikmati tiap takbirnya saja.

Kami tiba di Islamic Centre ketika imam sudah di rakaat kedua, sampai di puncak tangga saat tahiyyatul awal dan selesai berwudhu ketika imam rukuk di rakaat keempat. Sepertinya, santri yang sekarang duduk bersimpuh sedikit lebih maju di sebelah kiriku dan sedang berdoa memang sengaja berlambat-lambat ketika berwudhu. Entahlah, yang pasti kami tidak menjadi masbuk di rakaat terakhir jamaah di depan sana yang sekarang hanya tinggal beberapa orang saja.

Dan yang pasti, aku tidak menyesal menjadi makmumnya. Di belakangnya kini aku juga sedang berdoa, satu kalimat saja yang terus kuulang-ulang dalam doaku, ‘Ya Allah… janganlah ini Kau takdirkan sebagai kali pertama dan terakhir aku menjadi makmumnya…’

Kuharap dia memanjatkan doa serupa dalam lafaz diamnya.

“Cium tangan…” dia berbalik menyamping dan langsung mengulurkan lengannya. “Cium tangan imam katanya bisa dapat keberkatan…”

Sudut bibirku tertarik. Dengan rasa bahagia kusambut dan kutempelkan punggung tangannya ke wajahku.

Rasanya aku ingin waktu berhenti berputar saat ini. Berat ketika kulepaskan tangannya.

“Di luar mendung ya…”

“Sudah sejak tadi kan?”

Kutolehkan wajahku ke pelataran mesjid, redup. Lalu pandanganku kembali masuk ke dalam Islamic Centre, menatap sisa-sisa jamaah pada shaf jauh di depan kami. Aku mencari-cari sosok si guru ngaji, sungguh-sungguh berharap kalau sepupunya itu tak ada di sana atau sudah pulang lebih dulu agar kebersamaanku dengan santri di sisiku terulur lebih lama. Lalu aku ingat janji yang kucoret dalam buku catatanku…

‘… Akan melakukan wisata religi ke seluruh mesjid di lingkungan Kota Lhokseumawe dan mengumpulkan tanda tangan semua ketua remaja mesjidnya…’

Aku tersenyum sendiri. Ah, kaulku benar-benar akan terjadi.

“Kenapa tersenyum?” dia mengernyit heran menatapku.

“Ehem… tak apa. Aku hanya senang bisa shalat dua waktu berturut-turut di sini…”

“Kalau shalat terjaga dari satu waktu hingga masuk waktu shalat selanjutnya… keadaan seperti itulah yang dikatakan bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar…”

Tiba-tiba saja aku merasa amat sangat hina.

“Ketika sudah selesai mengerjakan satu waktu shalat dan kita memelihara shalat yang sudah kita lakukan dengan tidak bermaksiat hingga tiba waktu shalat berikutnya, artinya kita sudah menjaga shalat kita. Ketika itu kita lakukan seterusnya dan seterusnya dalam pergantian waktu shalat yang satu dengan waktu shalat selanjutnya, maka tak ada celah untuk melakukan perbuatan keji dan mungkar. Begitulah… shalat sungguh-sungguh pencegah kita berbuat keji dan mungkar…

Keji dan mungkar… aku sadar bahwa aku belum sekalipun memelihara shalatku. Bahkan saat tadi melaksanakannya.

“Sepupuku…”

Aku menoleh ke arah yang sama yang dipandangnya. Si guru ngaji sedang bercakap-cakap dengan seorang jamaah sambil berjalan pelan, dia melambai sekilas pada kami. Imam shalatku balas melambai sambil mengiring senyuman.

“Apa sepupumu kenal ketua remaja mesjid di sini?” aku bertanya iseng.

Dia lagi-lagi menatapku heran. “Mungkin kenal, tanyakan saja nanti padanya. Buat apa? Kamu mau jadi anggota remaja mesjid? Alhamdulillah ya Allah…”

Aku tertawa, “Bukan… kalau mau jadi remaja mesjid kenapa harus jauh kemari, di mesjid tempat tinggalku juga bisa.”

“Lalu untuk apa?”

Aku geli sendiri saat menjawab. “Aku punya kaul…”

“Hah?”

“Kaul untuk ngumpulin tanda tangan ketua remaja mesjid…”

“Dalam rangka apa kamu bikin kaul aneh kayak gitu?”

“Gak ada…”

Dia mengintimidasiku dengan pelototannya.

“Pak Ustadz gak boleh tahu, kaul itu kan gak boleh diumbar…”

“Memangnya ini mengumbar? Huh, sok tau… ayo, kaul apa?”

Aku mingkem.

Dia makin melotot, memaksa untuk tahu.

“Ali, mendung… balik sekarang saja, bisa?” si guru ngaji sudah berdiri bersama kami.

ALI? Guru ngaji itu memanggilnya Ali? Jadi ketika di Taman Riyadhah tadi dia berkata yang sebenarnya?

Aku menoleh memperhatikan sang santri. Dia tersenyum padaku sekilas lalu.

“Bisa, daripada nanti kehujanan di jalan…” si santri menjawab sepupunya. “Salaman dulu, ini makmum shalat asharku barusan…” pundakku dijawilnya.

Sepupunya mengulurkan tangan dan tersenyum ramah. Aku yakin dia pasti ingat kalau aku adalah murid SMA yang juga sempat disenyuminya tadi ketika memanjat ke Islamic Centre. Kusalami tangannya dan balas tersenyum.

“Kelas berapa?” si guru ngaji berbasa-basi.

“Kelas empat…”

Yang menjawab adalah si santri.

“He?” sepupunya bengong.

Aku tersipu malu-malu, “Tahun kemarin gak lulus, tadi baru aja ikut UN hari terakhir…”

“Oh…” si sepupu tertawa canggung, “Gak lulus ujian biasa ah… dulu aku juga pernah tinggal kelas.”

Aku tak yakin apa dia benar-benar pernah tinggal kelas atau hanya sekedar ingin menghibur menaikkan gengsiku. Entahlah.

“Yuk, makin mendung nih!” sepupunya menepuk bahuku lalu berjalan mendahului.

Harapanku untuk berlama-lama di sini bersama si santri kandas sudah. Kami berjalan mengekor di belakang sepupunya, si guru ngaji. Tiap langkah yang kubuat semakin memilukan perasaanku.

Setelah menyerahkan kunci motor pada sepupunya, dia menungguku mengenakan sepatu.

“Apa besok kamu kemari lagi?” aku memberanikan diri bertanya.

“Entahlah. Mungkin saja…”

“Kapan balik ke Meulaboh?”

“Mungkin besok, mungkin lusa…”

“Secepat itu?”

“Sebenarnya perjalananku kemari memang tak direncanakan. Ingat tadi saat kukatakan kalau aku ada perlu di Banda Aceh?”

Aku mengangguk, bertanya-tanya dalam hati apa hubungan urusannya di Banda Aceh dengan kepulangannya yang begitu cepat?

“Karena kupikir sudah kadung nyampe Banda Aceh, jadi aku nekat nyambung transport kemari setelah urusanku selesai…”

Aku manggut-manggut. Sebersit harap mencuat lagi dalam hatiku, “Boleh aku menyimpan nomermu?” kukeluarkan buku catatan dan penaku dari dalam tas.

Kupastikan bahwa angka-angka yang dia ucapkan tak salah kutulis. Dua belas angka itu kucantumkan di bawah baris bertuliskan ALI.

“Kenapa mencatat di buku?”

“UN gak boleh bawa hape, dirazia. Hari pertama aku kena… setelahnya jadi malas bawa, repot harus ngambil ke ruang pengawas setelah waktu habis,” jawabku sambil menyimpan buku kembali dalam tas.

Dia mengangguk mengerti.

Sepupunya menghampiri kami bersama motornya, “Ali, yuk… jangan sampai kehujanan, nanti tunanganmu bisa nangis tujuh hari tujuh malam kalau kamu sampai sakit…”

Aku ternganga.

Dia tertawa kikuk.

Sepupunya terbahak sendiri.

“Ada-ada saja…” dia menukas tawa sepupunya.

Kutemukan kecanggungan ketika dia menepuk pundak si guru ngaji.

Rasanya senyumku kali ini adalah yang paling pahit seumur hidupku, kupaksakan sebuah kalimat. “Wah… ada yang mau nikah muda rupanya…”

Dia tersipu. Pandangannya tak bisa kuartikan.

Sepupunya mewakilinya merespon, “Biasa, anak kesayangan Kiai. Mana mau dilepas lagi, dikontrak langsung jadi menantu, dijodohin sama putrinya. Anak pondok nikah muda sudah biasa… daripada timbul fitnah atau zina. Bener kan, Ali?” si sepupu tertawa. “Lagian baru tunangan, nikahnya nanti… sebelum nikah ya masih bisa keluyuran, kayak sekarang, Ali keluyuran gak ijin hingga sampai kemari…”

Dia diam menatapku. Tatapan itu tidak seperti tatap yang kudapati sebelum-sebelumnya. Aku merasa hatiku kosong.

Inikah pesan tersirat dari ucapannya ketika di Taman Riyadhah tadi?

‘Ranup maméh di sini benar-benar ngangenin, rasanya beda dengan yang di sana…’

Angin dingin menghembus kulit wajahku.

‘Ah, Taman Riyadhah… aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali menemukanmu dulu… andaipun tahun depan aku tak sempat memasukimu, kau tetap Taman Riyadhah di hatiku…’

Guruh mulai menggaung dari arah pantai.

‘…Beberapa bulan ke depan mungkin aku benar-benar jadi imam sesungguhnya…’

Tak lama lagi dia akan jadi imam istrinya.

Guruh bergema lagi, kian kuat kali ini.

“Ali, mau hujan…” si sepupu memutar haluan motor menghadap jalan.

“Iya…” dia menjawab pelan tanpa mengalihkan tatapannya dariku.

Kupaksa sebuah senyum meski kutahu kalau senyumku kali ini akan terlihat lucu. Wajahku kaku. “Selamat eh…” aku malah menyiksa diriku dengan tertawa bodoh setelah memberinya kata ‘selamat’.

Dia diam.

Kuulurkan tanganku, “Selamat atas pertunangannya, Ali… Ah, aku lebih suka memanggilmu Pak Ustadz…”

Wajahnya tidak seceria tadi. Perlahan dia menyambut uluran tanganku. “Sayyidul Ali Chudry…” dia baru saja melafazkan nama lengkapnya. “Aku senang bisa mengenalmu hingga dua kali…”

Mulutku menganga.

Jabatan kami terlerai.

“Jangan coret dasimu, ya! Aku masih suka…” dia tertawa pendek sambil menunjuk dadaku.

Aku menunduk memandang dada. Angin meriapkan dasi abu-abuku.

Assalamu’alaikum…”

Usai sudah, salam perpisahan sudah bergulir dari bibirnya. Dia naik ke boncengan sepupunya.

Ketika masih di Taman Riyadhah, aku bertanya-tanya seperti apa kali ini pertemuan kami akan berakhir? Aku sempat mengira kalau pertemuan kedua kami ini akan berakhir sama dengan pertemuan kami sebelumnya. Hampa. Ternyata aku salah… kali ini tidak hanya hampa yang kurasakan, tetapi juga sakit. Hampa dan sakit karena harapanku juga harus padam. Harapku padanya harus berakhir hari ini. Jika dulu aku hampa, tetapi aku masih bisa memupuk harapku. Kini tak lagi.

Catatan-catatanku akan menjadi coretan usang saja dalam buku yang pasti akan sama usangnya. Aku tak bisa lagi menuangkan semua kalimatnya yang tadi sempat kuserap selama kami bicara ke dalam catatanku. Bahkan, rasanya aku tak lagi sanggup membalik lembar-lembarnya untuk sekedar me-review

Mengadu teriak dengan orang bisu ternyata sehampa ini. Menghadiahkan rekaman suara kepada orang tuli rupanya sesakit ini. Dan aku telah salah mengharap orang buta untuk dapat mengagumi lukisanku.

Klakson dibunyikan dua kali. Senyum dan lambaian tangannya dikaburkan kabut yang tiba-tiba muncul menghalangi pandanganku.

Punggungnya kian jauh.

Dan mataku kian mengabut.

Guruh menggema lagi, kurasakan lebih dekat.

Wa’alaikumsalam…”

Dia tak ada untuk mendengar salam balas dariku.

Lalu gerimis menyimbahku yang masih kaku di pelataran Islamic Centre.

Beginilah pertemuanku dengannya berakhir.

Gerimis berubah menjadi hujan. Aku masih tak beranjak. Tubuhku sekuyup hatiku. Dan buku catatanku tidak lagi kupelihara, kini hujan berhasil menyimbahnya hingga lapuk. Janji yang kutulis di dalamnya… akan menjadi hutangku dengan-Nya. Barangkali Tuhan sedang menamparku…

Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuanlah yang kusesali.

Kini setelah bertemu lalu berpisah untuk kedua kalinya, aku mulai meragui nalar keduaku terhadap ungkapan itu yang muncul setelah bertemu lalu berpisah dengannya untuk pertama kali. Sekarang, aku meragu makna yang mana yang paling benar untuk ungkapan lama itu.

Aku tidak menyesali pertemuan meskipun perpisahan membuatku bersedih hingga menangis. Hatiku berbisik, mataku melebur bersama hujan.

“Sayyidul Ali Chudry… aku tidak menyesal bertemu denganmu…”

Di kejauhan sana, dalam simbahan hujan, pokok-pokok asan dalam Taman Riyadhah menertawakanku…

Hujung April 2013

Dariku yang sederhana

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com