Robotto

 

 

Aku selalu melihatmu membaca sebuah buku yang diambil dari tumpukan barang-barang di sudut kamarmu yang berdebu.

Mata hitam milikmu akan begitu serius meneliti setiap baris demi baris kalimat di buku itu.

Membalik halaman demi halaman dengan hati-hati dan sesekali keningmu akan berkerut seperti sedang berpikir keras.

Kemudian kau akan mendesah pelan dan mulutmu akan berbisik…

Cinta.

Entah apa itu… sepertinya sesuatu yang membuatmu bertingkah aneh belakangan ini.

Matamu akan menerawang jauh, tatapan yang hampir sama seperti milikku.

Namun perlahan ada sesuatu yang mengalir dari kedua pipimu.

Entah kenapa aku selalu merasa kau begitu indah seperti itu. Saat butiran bening keluar dari matamu.

Butiran yang terkadang nampak berkilauan seperti kristal.

Hei… aku ingin sekali bisa merasakan butiran bening itu mengalir dari kedua mataku.

Merasakan sesuatu yang disebut menangis itu.

Kau yang terkadang terisak di balik pintu kamarmu  yang sempit ini

Sendiri… sendiri…

*

*

Kau pernah bilang padaku

Hati manusia begitu menakutkan

Terkadang dia hitam, terkadang dia putih

Terkadang abu-abu, hingga kau tak tahu ada dipihak mana hati itu

Tak tahu lagi hati seperti apa yang kau temui

Kau akan menatap keluar, mengamati orang-orang yang berlalu lalang.

Menatap mereka tajam dan terkadang sedikit takut.

Apakah kau sedang menerka seperti apa hati mereka?

Lalu aku akan coba menerka sendiri, apa warna hatiku…

Itupun, kalau aku memilikinya.

 

Aku tak merasakan dinginnya hujan atau sengatan matahari musim panas

Kesedihan ataupun kebahagiaan

Pada saat yang sama hanya ada mimpi yang terprogram

dan hilang entah kemana

 

Terkadang lagi kutemui dirimu sedang melempar semua barang-barang di kamarmu.

Membanting vas kaca, merusak buku-buku ataupun gambar-gambar yang susah payah kau buat.

Kau sering kesal.

Entah pada siapa, tapi yang ku tahu kau tak pernah kesal padaku.

Kau selalu lembut padaku.

Setelah amarahmu reda

Kau akan tertidur pulas, lalu dalam kesendirianmu itu selalu saja kulihat butiran bening mengalir dari sudut matamu.

Apakah mungkin menangis bisa membuatmu melupakan amarahmu?

*

*

Aku tak akan lupa.

Bukankah ingatan yang kupunya sudah terprogram sebelumnya?

Tentang senyummu.

Senyum yang kau berikan padaku saat pertama kali kita bertemu

Senyum yang lebih indah dari butiran kristal itu.

Kau bilang senyum itu berarti kebahagiaan.

Apakah itu artinya kau bahagia bertemu denganku?

Dan aku akan tersenyum untukmu

Karena aku bahagia bisa mengenalmu

 

Walaupun kau merangkul erat bahuku

Aku tak akan bisa merasakan kehangatan atau  nyaman

ketika matahari tenggelam hanya akan ada gambaran esok

dan aku akan bicara sendiri lagi dan lagi

*

*

Suara tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Seketika itu juga aku segera tersadar.

Seorang pria paruh baya berjas rapi menghampiriku dan segera menjabat tanganku erat-erat

“Hebat! Hebat sekali, Master! Anda benar-benar jenius,”

Aku hanya tersenyum kecil dan membalas jabatannya. Beberapa orang penting yang hadir malam itupun ikut memberikan ucapan selamat

“Maha karya yang luar biasa, uji coba hari ini benar-benar sukses, kami benar-benar tak bisa membedakan RO13O7 dengan manusia.  Robot milikmu benar-benar luar biasa, Master!”

Rasanya berbagai ungkapan pujian yang sama terus mengalir tak ada hentinya.

Dan dari sudut mataku aku memperhatikanmu.

Kau yang terdiam kaku dengan bibir yang masih terus tersenyum.

Kau yang disana adalah maha karya, sedangkan aku adalah penciptamu.

Kau seperti cermin, yang begitu mirip denganku.

*

*

Terinspirasi dari :

Robot, Song by DAI

Robotica Robotics, Anime OVA by Soubi Yamamoto