CUAP2 NAYAKA

Salam…

Seperti tertulis, Zamrud. Cerpen ini indah seperti judulnya.

Aku ingin memberitahu sepenggal kisah yang kutemui di kehidupanku, sepintas saja. Sahabatku, aku sering memanggilnya Roel. Aku memandangnya sebagai sosok sahabat sejati, bagiku. Tak perlu kujabarkan makna kata ‘sejati’ yang aku yakin Para Sahabat pasti sudah lebih tahu penjabarannya. Lalu ketika aku mulai sering berkunjung ke rumahnya (bahkan kadang menginap), pandanganku buatnya bertambah. Apa itu? Dia juga adalah sosok kakak sejati. Adiknya, Liz, sekarang mungkin berumur delapan belas tahun. Sama dengan cerita kawan Abi ini, Liz menderita Down Syndrome juga. Seorang gadis belia yang bila ia berada dalam kondisi normal sedang mengalami masa-masa indah masa remaja (mempercantik diri, melirik-lirik pemuda yang menarik perhatiannya, berpuitis ria dengan gebetannya lewat sms, atau mempersiapkan surat cinta mereka), tapi Liz justru menjadi suri rumah, dia tak mengenal masa-masa itu. Lalu Roel? Inilah sejatinya sahabatku itu, aku suka terharu melihat seperti apa dia mengurus adiknya bila Sang Ibu sedang tidak berada di rumah, aku kerap kehabisan kata-kata tiap kali Roel bilang “Mau cari gelang buat Liz…” saat beberapa kali dia pernah mengutarakan hal itu di awal bulan. Liz begitu maniak akan gelang, anehnya, hiasan pergelangan tangan itu tak pernah lama bertahan di lengan Liz, entah rusak, entah hilang atau dibuangnya. Yang pasti tidak bertahan lama. Dan bila sudah tak ada, dia akan sibuk berucap “gelang, gelang!” sepanjang hari.

Dan Roel, meski hanya gelang rantai besi murahan, bila sudah niat pasti akan dibawanya pulang. Aku juga pernah dengar ibunya berucap, “Baju Liz, Bang Yon yang belikan…” saat beliau melipat cucian kering di depan tayangan sinetron. Aku merasa berada di tengah-tengah keluargaku sendiri bila sedang di rumah Roel…

Tuhan, apakah aku bisa menjadi Roel buat adik seperti Liz, jika aku Kau takdirkan memiliki adik demikian?

Happy reading, Sahabat. Abaikan cuap2ku di atas. Cerpen Kawan Abi yang ke-8 ini bukanlah bacaan yang sia-sia.

Kawan Abi, maaf aku nyampah di cerpenmu ini, tapi kamu gak berhak marah, aku punya hak peto sebagai yang punya rumah. He he he…

 

Wassalam

Nayaka al Gibran

___________________________________________________________________________

ZAMRUD

By : Abi Zaenal

Suara gelak tawa masih terdengar renyah dan menimbulkan gema yang indah. Aku melongok dari ruang kerjaku, memundurkan sedikit lantas menjinjitkan kursi yang kusenderi dan tersenyum lega. Bola karet itu menggelinding di atas lantai, lantas terpatul-pantul dengan lincahnya sampai sudut ruang tengah. Aku menarik nafas dalam-dalam lantas menghembuskannya dengan pelan. Rasanya letih itu lenyap setiap mendengar tawa renyah anakku yang sekarang sedang asik tertawa sendiri dengan bolanya. Lalu aku kembali pada berkas-berkas yang masih menumpuk di atas meja.

Tapi bingkai foto di depanku begitu menggodaku untuk meraihnya. Kujangkau bingkai itu dengan tanganku, lantas mengusapnya lembut dengan ujung jemariku. Mengusap gambar wajah dan senyum ceria dua anakku yang sedang mengapitku. Renaldi yang sedang anteng memegang bola kesayangannya, dan Sigit yang lucu sedang mencium pipiku. Aku kembali tersenyum sambil mengusap foto yang diambil tiga tahun lalu.

Renaldy, anakku yang istimewa. Istimewa karena di usianya yang sudah menginjak tiga belas tahun, dia hidup dalam dunianya sendiri. Menurut dokter, anakku yang manis itu menderita Down Syndrome. Suatu penyakit kelainan mental yang banyak menjangkiti. Kadang aku ingin marah saat anak lain mengatainya idiot. Perasaan seorang ibu pasti akan terluka setiap mendapati anaknya diteriaki seperti itu. Kenapa mereka tak punya rasa empati? Toh kami tak meminta Tuhan menjadikannya seperti ini. Tapi tidak, sekali-kali aku tak akan mengutuki anugerah Tuhan ini meskipun sekarang suamiku entah dimana. Dia terlalu pengecut untuk menjalani hidup seperti ini.

Biasanya aku baru bisa menemaninya bermain selepas mengerjakan tugas kantorku yang menumpuk ini. Di setiap hariku, sebisa mungkin aku tak lembur. Lebih baik kerjaanku yang belum selesai aku kerjakan di rumah sambil menemani dan mengawasi Renaldy, anakku yang manis. Tapi rasa penasaran melandaku saat tak kudengar racauannya. Aku berdiri dan melangkahkan kakiku ke ruang tengah, tempat Renaldy bermain.

Dia tampak asik sekali dengan pensil yang dipegangnya, bukan, bukan dipegang, tapi digenggamnya. Dia begitu senang dengan apa yang dia lakukan. Menggambar. Dia paling senang menggambar. Aku sering tertawa senang setiap melihat hasil gambarnya. Mulutnya sering menggumamkan sesuatu yang tak jelas.

Detak jam yang menempeli dinding mengingatkanku, bahwa Sigit belum juga pulang. Padahal sekarang sudah jam tujuh petang. Meskipun tadi pagi dia bilang bahwa dia akan pulang lebih sore dari biasanya, dan akan diantar oleh kakak temannya, tapi tetap saja aku merasa tak tenang. Ah, ternyata benar kata ibuku dulu, seorang ibu akan masih mengkhawatirkan anaknya walaupun dia sudah besar. Tapi belum, Sigit masih kelas lima SD, dia masih putra kecilku, walaupun sekarang dia sudah enggan kucium pipinya saat kuantar ke sekolahnya. Dia juga selalu tak mau saat aku membekalinya makanan dari rumah. Dan aku juga pernah melihatnya berjalan berdua dengan seorang gadis seusianya saat hendak menjemputnya. Ah, rupanya anakku itu sudah mengenal yang namanya cinta.

Aku mendongak ke arah pintu karena terdengar suara ketukan kemudian terbuka dan muncullah raut muka cemberut dari Sigit. Dia terlihat lelah sekali. Aku menghampirinya dan mencoba melepaskan tas yang tersampir di pundaknya. Tapi dia melepaskannya sendiri dan menaruhnya di atas lantai tanpa berkata sedikitpun. Tak ada cium tangan seperti kemarin, tak ada binar matanya menceritakan kejadian di sekolahnya yang membuatku tergelak dan kadang mengernyit. Kali ini dia langsung melepaskan sepatu juga kaos kaki yang dia kenakan dan bergegas masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sedikitpun kepadaku.

Mungkin anakku kelelahan dengan acara sepulang sekolahnya tadi.

Tapi naluri seorang ibu menghantarkan langkahku ke kamarnya. Saat pintu kamarnya kubuka, kulihat dia sudah menelengkupkan badannya di atas kasur yang dibalut seprai bergambar Spiderman, tokoh superhero kesayangannya. Baju seragam masih melekat di badannya. Padahal biasanya dia yang selalu langsung mengganti seragamnya tanpa mau kubantu.

“Kenapa tidak dilepas dulu seragamnya, Sayang.. Mamah bantu lepaskan ya…” aku mencoba mendekatinya lantas duduk di tepi ranjang.

“Aku sudah besar, Mah…”

Itulah kalimat yang keluar dari mulutnya. Tapi aku seorang ibu dan dia tetap anakku. Seorang ibu pasti akan merasakan apa yang bahkan tak diucapkan oleh anaknya. Hanya seorang ibu yang mampu memahami apa yang diucapkan oleh anaknya, bahkan yang masih belum fasih bicara sekalipun.

Kini dia pura-pura tertidur memunggungiku sambil memeluk guling. Aku menjangkaunya, duduk di sampingnya sambil mengusap rambutnya. Biasanya dia akan berbalik ke arahku dengan lipatan kedua telapak tangannya di bawah pipinya sambil tersenyum manis. Memintaku menceritakan kisah para sahabat Rosul atau mengisahkan kisah legenda yang waktu itu diceritakan oleh kakeknya di kampung, atau merayuku agar membelikan kaset film yang banyak tentang superhero. Tapi tidak saat ini. Dia masih pura-pura tertidur.

Tapi tentu aku lebih tahu desah nafas saat dia tertidur.

“Makan dulu sayang, tadi Mamah sudah masak nugget kesukaan kamu. Yuk…”

Sigit bergeming.

“Mamah tadi lihat robot-robotan Spiderman loh, satu buat kamu, satu lagi buat Kak Enaw…”

Enaw adalah panggilan untuk anakku, Renaldi.

Dan sekarang tubuhnya berbalik ke arahku, masih dengan tampang cemberutnya. Aku kembali mengusap rambut halusnya yang sekarang berjambul. Aih, aku selalu ingin tertawa setiap melihat anakku yang tumbuh kembang setiap harinya. Tadi pagi dia tampak berlama-lama di depan cermin, terus saja membetulkan rambutnya yang dia buat berjambul. Dia pasti sedang jatuh cinta. Anakku yang baru menginjak kelas lima SD sudah jatuh cinta.

“Anak mama yang ganteng, kenapa cemberut terus…?” aku mengelus pipinya yang tampak menggembung lucu. Dia hanya merengut lantas terduduk menghadapku. Mata bulatnya terlihat indah.

“Anak perempuan yang dikuncir itu namanya siapa..?” tanyaku mulai menggodanya. Sekarang pipinya tampak memerah. Dia tersipu. “Namanya Linda, kan?”

Lagi-lagi dia tersipu. Apakah dia akan bilang bahwa anak perempuan itu adalah pacarnya? Hmm… dia terlalu kecil untuk pacaran. Apakah efek dari tayangan televisi yang tidak mendidik itu menyebabkan hampir semua anak tumbuh dewasa sebelum waktunya?

“Dia temen aku Mah…” suara manjanya itu akhirnya keluar juga dari mulutnya.

“Lantas, kenapa anak Mamah yang pinter ini cemberut..? Ayo dong, cerita ke Mamah.” Ucapku sambil mengusap rambutnya. Sekarang matanya tampak mencelot ke atas dan badannya bergoyang kanan-kiri dengan lucunya, lantas terkekeh sendiri.

“Menurut Mamah dia cantik gak?”

Alisku mengerut. Tak bisa kusembunyikan senyum geliku mendengar pertanyaannya. Tapi bukankah seorang ibu sudah seharusnya menjadi labuhan pertama anaknya? Seorang ibu itu adalah madrasah, gudang segala apa yang ingin diketahui anaknya. Aku tak akan marah mendengar pertanyaan seperti itu. Seorang anak harus tahu tentang dunia luar dari ibunya. Bahkan ketika anakku bertanya tentang sex, aku akan menjelaskan padanya, tentu saja dengan bahasa yang bisa diterima anak seumurnya.

Bukankah kita harus mendidik anak sesuai dengan zamannya? Toh hal itu jauh lebih baik daripada dia mencari jawaban di luaran yang sering tak beretika. Dan di sini aku harus menjalankan peranku sebagai seorang ibu, juga sebagai seorang ayah sekaligus. Aku harus mengarahkan putraku pada jalur yang selayaknya.

“Menurut Mamah, dia itu anak yang cantik. Dia itu yang juara satu itu, kan?” Dia mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan retorisku. “Nah, seorang wanita itu pasti akan suka sama anak laki-laki yang pintar. Jadi Igit harus belajar yang rajin biar bisa pintar. Kalau dia gak bisa mengerjakan soal, Igit kan bisa ajarin dia.”

“Iya gitu, Mah?”

“Selain itu wanita juga suka anak yang rajin, yang kuat. Makanya kalau libur, kamu olahraga di rumah, bantuin mamah…” dia terkekeh mendengar celotehku.

“Menurut mamah, kalau aku sudah pintar, rajin, terus rambut aku dimodel spike begini, dia bakal suka aku?” pertanyaan lugu yang menggelitikku. Dan aku hanya mengernyit menahan tawa. Ah, anak zaman sekarang bahasanya pun sudah canggih sekali. Dan aku hanya bisa mengangguk.

“Tapi… tadi aku kesal Mah sama temen aku. Dia terus saja ngeledek aku karena Kak Enaw…” raut cemberutnya kembali muncul. Jadi ini yang membuatnya pulang dengan raut cemberut seperti tadi.

Inilah hal yang sering kami alami. Sigit selalu menjadi korban ledekan teman-temannya. Bahkan dulu dia pernah berkelahi dengan teman-temannya saat dia terus saja diledeki karena memiliki kakak seperti Enaw. Sampai di rumah dengan baju kotor dan raut kusut, dia akan langsung masuk kamar sampai aku membujuknya, dan menjelaskan secara perlahan tentang apa yang Enaw alami.

“Kenapa sih, Mah… Kak Enaw seperti itu? Kenapa kakakku gak kayak yang lain? Ivan sering cerita kalau dia sering dibantuin ngerjain PR matematika sama kakaknya. Dia juga sering main bola sama kakaknya, main PS bareng…” Sigit berceloteh terus, membandingkan Renal dengan kakak temannya yang lain.

Dadaku mulai riuh, ada sedikit sesak dalam hatiku. Tapi aku tak boleh marah. Itu adalah rasa yang manusiawi, apalagi oleh anak seumuran Sigit. Dia pasti menginginkan sosok kakak yang kuat, yang bisa menemaninya belajar, melindunginya saat dia dijahili anak-anak nakal, hal yang tidak bisa dia dapat dari Renal.

“Sekarang Mamah mau nanya sama Igit. Kalo Igit punya berlian, apa yang akan Igit lakuin?” Raut wajahnya sedikit mengendur. Dia terlihat berpikir sejenak.

“Aku bakal jaga berlian itu mah. Aku gak bakal biarin berlian itu diambil, atau dicuri oleh siapapun. Aku bakal terus ngelindunginya..”

“Nah..kakakmu itu adalah berlian yang Tuhan hadiahkan buat Mamah, buat Igit juga. Tuhan nyuruh Mamah buat ngejaga, terus ngelindungin dia. Igit mau bantu Mamah kan buat jaga Kak Enaw, berlian yang Tuhan titipin ke Mamah?” aku mencoba menjelaskan padanya dengan silogisme sederhana. Tapi anakku ini adalah anak yang cerdas. Dia pasti akan terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang merepotkan sampai dia puas dengan jawaban yang dia terima.

“Berlian itu kan istimewa, Mah. Kalau Kak Enaw istimewanya apa coba?”

Aku tertegun, kehabisan kata. Aku tak mampu menderas kata-kata untuk menjelaskan betapa istimewanya Renal bagiku. Lantas aku mendengar pintu kamar kembali terbuka. Dan Renal masuk ke dalam kamar dengan langkahnya yang tak sempurna. Dia tampak tertawa riang dengan mulut basah. Di tangannya terkibar-kibar selembar kertas. Setelah sampai di tepi ranjang, dia menjangkauku, kuusap bibirnya yang basah dengan kaosnya. Dengan gerakan tangan yang ringkih dia mengulurkan kertas itu ke arah Sigit. Sigit menatapku dengan tatapan heran. Lantas tangannya meraih kertas gambar itu dan dia segera menunjukkan gambar itu padaku.

Rasa sesak muncul saat gambar seorang yang berkerudung, sedang menuntun dua anak di kanan kirinya. Anak dengan rambut jambul dan juga anak yang sedang tertawa lebar. Aku lantas mendekatkan badan Renal, mengelus dan mencium rambutnya, kemudian mencium pipi Sigit.

“Lihat, Kak Enaw udah ngasih hadiah gambar ini buat Igit. Bukankah Kak Enaw itu hebat?” Sigit memandangku sebentar, lantas tersenyum manis.

“Sini Kak Enaw naik. Kak Enaw, ini Igit? Masa Igit rambutnya jelek begini…? Kan sekarang Igit udah di-spike…” Enaw hanya terkekeh dan aku mengelus rambutnya lagi. Dia memang anakku yang istimewa.

“Sudah, sekarang Igit mandi dulu, terus makan. Jangan tidur malem-malem ya, besok kan kita mau jalan-jalan…”

“Beneran, Mah…? Asik… Kak, besok kita jalan-jalan…”

“Apa Mamah ajakin mamahnya Linda sekalian ya…” aku menggodanya.

Dan Sigit semakin tersipu. Dia tertawa malu-malu. Bilang jangan tapi matanya merajuk.

Ah, aku adalah seorang ibu paling bahagia di dunia, karena Tuhan telah menitipkanku satu zamrud, dan juga satu berlian untukku. Tuhan tahu zamrud itu harus kujaga. Akan ada makna dari setiap yang Dia takdirkan. Akan ada kebahagiaan dari setiap cobaan yang Dia hadiahkan untukku.