YEOBOSEYO (Hallo)
By. Choi Ha Soo

Tuuut… Tuuut.. Tuuuut.. Tuuut..
“Nomor yang anda panggil sedang tidak aktif, silakan hubungi beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut”
Tuut..
“Halo, sayang. Apa kamu sudah makan, aku mengkhawatirkanmu. Di luar hujan, aku harap kamu tidak kehujanan. Berteduhlah dan biarkan hujan reda.”
Beberapa kali aku coba menghubunginya namun tak pernah ia angkat, aku pikir mungkin dia sedang di jalan. Atau mungkin sedang bekerja, menemui kliennya. Aku coba berpositif thinking tentang apa yang dia lakukan disana. Hari ini genap satu tahun kita menjalin hubungan, semakin hari rasa sayang, perhatian dan waktu semakin berkurang. Aku coba tanyakan kenapa, dia jawab
“aku sedang sibuk sayang. Jadi aku mohon kamu mengerti”.
Baiklah aku akan mencoba mengerti kamu sayang, karena janjiku akan mencintaimu di saat senang dan di saat dukamu. Sayang maafkan aku bila selama ini aku tak pernah percaya kamu, sejujurnya aku khawatir akan kesetiaan janji kita.

~~~~~~

Hari ini, aku pergi ke perpustakaan kota yang terletak di seberang kantor tempatmu bekerja. Tak ada niat memang untuk memata-mataimu, aku memang berniat untuk mengembalikan beberapa buku yang ku pinjam dari perpustakaan karena masa kembalinya sudah habis. Ketika selesai aku keluar dari perpustakaan itu, mataku melihat dirimu sedang mengobrol asyik dengan seorang lelaki seusiamu. Sedikit pun aku tak menaruh curiga, pikirku mungkin itu kawan kerjamu.
Jadi aku biarkan dirimu disana dan aku bergegas pergi ke halte di dekat-dekat situ. Sedikit perhatianku padamu, dengan mengirimimu pesan singkat mengingatkan agar tak lupa untuk makan siang dan beribadah shalat dhuhur. Aku harap kamu membaca dan menurutinya.

~~~~~

Jam menunjukan pukul 10 malam aku menunggumu di rumah kontrakan kita, bukan kah kamu berjanji akan menemaniku belajar untuk UTS besok. Aku coba menelponmu untuk mengetahui keberadaanmu.
Tuuut.. Tuuut… Tuuuut…
“nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif silakan coba hubungi beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan setelah nada berikut”.
Tuut..
“Halo, sayang. Kamu dimana ini sudah larut malam, bukan kah besok kamu masih harus berangakat pagi dan bekerja kembali. Jangan takut, aku tak akan merepotkanmu untuk menemaniku belajar jika kamu pulang. Aku sedang belajar sekarang, hati-hati di jalan dan segeralah pulang”.

~~~~~~

Bunyi alarm handphoneku berhasil membangunkanku, aku dapati diriku terbangun di atas kasur sendirian. Tak ada tubuh yang berbaring di sebelahku, tiba-tiba perasaanku kalut. Kuraih handphoneku dan kucoba menelponmu.
Tuuut… Tuuut… Tuuuut…
“maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silakan coba hubungi beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut”
Tut..
“halo, sayang. Aku tidak melihatmu terbaring di kasur, saat ku cari di sekeliling rumah kontrakan pun tak kudapati dirimu. Semalam apa kamu tidak pulang? Ada lembur lagi kah?”
Aku berpikir mungkin kamu sedang banyak kerjaan di kantor, dan untuk itu tidak dapat pulang. Akhirnya setelah kucoba menenangkan diri, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhku dan beranjak ke kampus. Hari ini UTS pertama di semester 4, aku tak cukup bersemangat seperti dulu saat kamu pertama kalinya hadir di hidupku saat itulah kamu selalu memberiku semangat untuk terus belajar demi mengejar cita-citaku.

~~~~~

Ujian di mulai, aku mencoba mengalihkan pikiranku sejanak tentang dirimu, dan berkonsentrasi pada lembar soal yang sekarang ada di hadapanku. Bahan materi yang aku pelajari semalam semburat hilang seketika teringat akan dirimu yang tadi malam tak pulang. Mas-mas pengawas ujian di depan mengingatkan peserta ujian bahwa waktu yang tersisa tinggal 20 menit lagi. Astaga lembar jawabanku masih kosong. Sayang maafkan aku, kali ini aku bodoh, aku berbuat salah. Aku bersi keras mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada, sedikit demi sedikit ingatanku kembali kepada bahan materi yang aku pelajari tanpa mu semalam. Kurang satu pertanyaan lagi tapi.. pengawas mengambil lembar jawabanku karena waktu sudah habis.

~~~~

Sepulang dari ujian, di tengah perjalananku menuju rumah kontrakan kita. Ada niatan untuk kembali mencoba menghubungimu. Kali ini tak terdengar bunyi tuuut.. tuuut.. tuuut.. lagi sebelum costumer representatif berbunyi.
“ maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, silakan coba hubungi beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada berikut”
Belum berbunyi nada tut.. yang dimaksudkan aku menekan tombol reject. Kemudian aku berpikir, mungkin kamu lupa mengcharger handphonemu.

~~~~

Senja berlalu, rembulan berpulas senyum menawan disana, aku bisa menikmati keindahannya. Namun tak beberapa lama kemudian awan hitam menutupinya, pertanda akan turun hujan. Sayang kamu dimana? Kenapa tak memberi kabar padaku, aku mulai cemas akan hal ini, lalu aku coba datang menghampirimu di kantor tempatmu bekerja. Walau hujan mendera aku beranjak kesana, ketika aku sampai di depan perpustakaan kota dan hendak menyebrang jalan, aku melihat dirimu bersama lelaki kemarin. Kali ini kalian terlihat lebih akrab, maafkan aku sayang aku tiba-tiba cemburu setelah melihatmu bersamanya. Aku coba menelponmu, aku harap kamu mengangkatnya.
Tuuut.. tuuut.. tuuut..
Sayang angkat telponmu, aku melihatmu dari jauh. Kenapa kau tidak mengangkat telponku. Aku jadi semakin penasaran pada dirimu, kenapa tak kau angkat telponku. Lalu kau beranjak masuk ke dalam sebuah taxi yang kau stop tadi, sayang pergi kemana? Ini sudah waktunya pulang.
Rasa penasaranku bergejolak, akupun mengikutimu dari belakang maafkan aku sayang. Aku mulai tak percaya padamu, taxi yang membawamu dan lelaki itu berhenti di sebuah motel. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Kamu menuju loby motel itu dan menanyakan kamar kepada petugas yag ada di loby itu, katanya kamar sudah penuh. Kemudian aku tak begitu mendengar jelas apa yang kamu bicarakan dengan lelaki itu. Kamu pergi bersamanya, masuk ke dalam toilet yang sepi dan kalian berdua masuk kedalam skat kamar mandi paling ujung. Aku mengikutimu dengan hati-hati agar tak ketauan, sengaja akupun masuk kedalam skat kamar mandi nomor 3 berjarak 2 skat dari tempatmu dan lelaki itu berada. Aku mendengar suara desahanmu, desahan seperti saat kita memainkan sebuah permainan di ranjang rumah kontrakan kita. Sayang apa yang kau lakukan bersamanya disana. Tiba-tiba airmataku menetes, sayang apa kau tau bagaimana perasaanku saat ini? Sayang aku percaya kamu, tapi kamu..
Dengan tangan bergetar dan tangis tertahan, aku mengambil handphone dari dalam tas samping kecil pemberianmu. Aku tekan nomor mu dan suara tuut.. tuut.. tuut.. berkumandang di telingaku, handphonemu berbunyi aku mendengarnya sayang, nada dering itu, bukankah aku yang memilihkannya untukmu. Sayang aku tak sanggup menahan tangisanku, aku tak sanggup terus berada disini mendengar desahan desahanmu.

~~~~~

Kejadian semalam itu membuat kondisi ku melemah. Sepulang ujian, aku pergi ke klinik dengan langkah lunglai. Dokter klinik itu memeriksaku, dengan stetoskopnya dia memeriksa debar jantungku. Kata dokter klinik itu,
“kamu harus dibawa ke rumah sakit, saya akan buatkan surat rujukannya. Detak jantungmu lebih cepat dari orang normal kebanyak semuumurmu, apa kamu punya riwayat sakit jantung?”
Pertanyaan dokter klinik itu membuyarkan lamunanku tentang desahan desahanmu semalam.
“iya dok punya, tapi kata dokter saya dulu. Penyakit jantung saya sudah sembuh” jawabku.
Dokter klinik itu melihatku sambil memutar-mutar bolpoint di ujung kedua jemari jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Bisa jadi itu belum sembuh total” sahutnya kemudian.“Terakhir kali kapan doktermu itu bilang kamu sudah sembuh dari penyakitmu?” pertanyaan kedua muncul dari mulut dokter itu. Aku mencoba mengingat-ingat lagi kapan terakhir kali dokter jantung itu berkata aku sudah sembuh, dan kudapati waktu itu.
“kira-kira 1 setengah tahun yang lalu dok” jawabku tak yakin.
“begini saja, kamu telpon orang tuamu agar datang kesini dan menemanimu rongcent. Saya tidak yakin jantung kamu baik-baik saja. Supaya lebih jelasnya kamu harus rongcent, ini surat rujukannya”
Dokter klinik itu memberikut surat rujukan, aku tak menuruti kata dokter tadi untuk menelpon orang tuaku. Toh aku masih bisa pergi ke rumah sakit sendiri, sudah dua hari ini kamu tak pulang ke rumah kontrakan kita. Sayang apa kamu masih bersamanya?

~~~~

Hari ini hasil test rogcent ku keluar, dokter jantung memanggilku.
“nak kamu sendiri kesini?” tanya dokter itu basa-basi.
“iya dok, bagaimana hasil testnya dok?” tanyaku tak sabar menunggu beliau memberikan hasil testnya.
Sambil mengeluarkan hasil rongcent dari dalam amplop coklat yang bertuliskan namaku dipojok kanan bawah, dokter itu berkata.
“kamu terkena jantung Aritmia nak, jenis penyakit jantung yaitu gangguan irama atau detak jantung yang kadang lebih cepat kadang lebih lambat dan tidak teratur”. Jelasnya padaku.
Aku masih terdiam dan mendengarkan penjelasanyan, dan berharap masih ada kemungkinan penyakit jantung itu bisa sembuh.
“faktor utama yang menimbulkan penyakit ini karena kurangnya kalsium dan terjadinya penyumbatan pembuluh darah, efek yang dihasilkan dari penyumbatan pembuluh darah ini akan menyebabkan serangan jantung”
“lalu apa masih bisa disembuhkan dok?” tanyaku
“masih asal kan kamu bisa mengatur pola makanmu, hindari stress maka kamu akan sembuh”, jelasnya.

~~~~~

Aku bersyukur penyakitku masih bisa disembuhkan, aku bergegas beranjak pulang. Menunggu taxi yang lewat. Aku melihatmu lagi bersama laki-laki itu, ketika aku hendak memanggilmu dan menghampirimu, kamu sudah lebih dulu pergi dengan mengendarai taxi. Sayang apa kau akan melakukan hal seperti kemarin bersamanya? Dadaku terasa sesak, nafasku terpotong-potong aku jatuh di trotoar rumah sakit. Seseorang menolongku, tapi tak berapa lama kemudian aku dapat mengontrol nafasku kembali. Akhirnya aku pulang ke rumah kontrakan kita, aku harap aku segera bertemu denganmu. Aku mohon padamu untuk menjelaskan semuanya padaku, jangan ada kebohongan, jangan ada kata perpisahan. Buat aku nyaman seperti dulu sayang, buat aku tersenyum melihat tingkahmu menyanyikan lagu romantis dengan suara mu yang tidak romantis itu. Buat aku kembali sehat sayang.. jangan kau siksa aku seperti ini.

~~~~

Cklek…
Suara pintu terbuka, kamu akhirnya pulang. Aku tak langsung menanyakan kenapa dua hari ini kamu tak pulang. Karena wajahmu ketika kulihat, tanpa senyum. Jadi aku hanya bisa tersenyum melihatmu, dan menawarkan air hangat untukmu mandi. Seusai mandi, aku sudah berada di ranjang kasur. Biasanya kamu langsung meloncat ke kasur dan memelukku, tapi kali ini tidak. Kamu berlahan duduk di pinggiran kasur dan mengeringkan rambutmu yang basah, tak ada kata terucap dari bibirmu. Akhirnya aku yang memulai percakapan.
“Sayang dua hari ini sibuk sekali ya di kantor, sampai-sampai kamu tidak pulang” tanyaku.
“iya banyak sekali klien yang harus kutemui, bagaimana ujianmu? Lancar?”
“alhamdulilah lancar”
“ya sudah ayo kita tidur, aku sangat lelah”
Lampu kamarpun kumatikan, sayang kamu sangat berbeda sekarang. Aku tak berani menanyakan hubunganmu dengan laki-laki itu dan mengenai apa yang kau lakukan bersamanya di toilet motel waktu itu. Aku takut kamu menjadi marah, tapi aku tak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan ini di hati.
“sayang..”
“hmmm…”
“beberapa hari ini aku sering pinjam buku di perpustakaan depan kantormu”
“iya terus..”
“aku melihatmu bersama seorang lelaki waktu itu, kalo boleh tau siapa laki-laki itu?”
“teman kantorku”
“aku juga melihatmu bersamanya pergi ke motel, apa yang kalian lakukan disana?”
“kamu membuntutiku?” tiba-tiba dia beranjak dari tidurnya.
“maafkan aku sayang, aku mendengar semua walau tak melihat langsung apa yang kalian lakukan di dalam toilet motel waktu itu” tangisanku pecah seketika.
Kulihat dia hanya terdiam dan kemudian bangkit dari ranjang tempat tidur, mengambil koper dan memindahkan baju-bajunya kedalam koper tersebut.
“mau kemana sayang.. tanyaku sambil terus menangis”
“aku mau pergi, aku sudah bosan denganmu.” Jawabnya seperti tak menyadari apa kesalahannya.
“tapi kamu sudah berjanji akan terus bersamaku”
“lupakan janji ku waktu itu, aku tak benar-benar sayang padamu”

~~~~

Malam itu dia pergi, pergi membawa baju dan sedikit debaran jantungku. Karena kurasakan sekarang jantungku semakin melemah. Sepulang dari ujian terakhir di UTS semester 4. Aku pergi ke kantornya hendak memberikan surat kepadanya, surat yang kutulis semalam saat kepergiannya pada sisa-sisa debar jantungku yang melemah. Aku menitipkannya pada satpam di kantornya, berpesan untuk memberikan kepada Fio nama kekasihku.

~~~~

Aku pulang ke rumah kontrakan itu, debar jantungku semakin kurasa lemah. Nafasku mulai tak beraturan, aku menelpon kedua orang tuaku untuk datang menjemputku. Mataku sudah berkunang-kunang tak sanggup lagi untuk berdiri. Aku tergeletak di teras rumah kontrakan.

Fio POV

Sepulang kerja, satpam kantor memberikan sepucuk surat dengan amplop warna coklat muda. Yang bertuliskan kepada Fio Anggara Putra, nama lengkapku. Saat ku buka isi amplop itu, tulisan tanganmu yang rapi itu menarikku untuk membacanya.
Untuk Fio pemilik debar jantungku,
Dulu kita pernah sepakat menyebut jantung ini radar, kelak bila antara kita ingkar, ia tak akan menunjukkan detak dengan benar. Tentu kamu tau sekarang jantungku tak menunjukkan detak dengan benar.
Sayang ibarat suara kau adalah nadanya, dari C ke G kau alunkan simphony hati dari yang terindah sampai yang terlara. Tentu kamu tau, kau sedang memainkan nada simphony yang mana.
Padamu, aku tak menitipkan apa selain detak jantung yang seakan akan berhenti ini dan cinta yang kutitipkan ini padamu.. pemilik debar jantungku.
Jika kepergian adalah takaran seberapa pekat rinduku, maka izinkanlah aku pergi lebih lekat lagi pada titik detak jantungku. Agar kau tau seberapa besar cinta yang ku miliki ini.

Your love
Fabian

~~~~~~

Hari ini aku datang ke pemakamanmu, sengaja aku tak mengenakan baju warna hitam. Karena aku tau kamu tak menyukai warna hitam, makanya aku datang dengan baju warna biru kesukaanmu. Aku tak tau harus bagaimana pada diriku yang bodoh ini, yang begitu bodohnya meninggalkanmu yang benar-benar mencintaiku. Maafkan aku sayang karena aku begitu tega membiarkanmu menderita, maafkan aku atas semua kebodohan-kebodohan yang menyakitimu. Aku menyesal telah berbuat begitu padamu.