CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini yang ke-8 dari Kawan Abi Zaenal. Masih seapik tujuh judul sebelumnya. Aku sendiri menangkap begitu banyak hal baik dalam tulisannya kali ini. Cerpen ini mengajarkan, cerpen ini mencerahkan, cerpen ini membawa kita melihat lebih dalam kepada satu sosok yang keberadaannya sama berarti layaknya keberadaan sosok Ibu. Ayah. Cerpen ini membuka mata, setidaknya bagiku.

Izinkan aku berdiri, dan memberi applause secara personal kepada Kawan Abi Zaenal. Aku mengagumimu, Teman…

Kepada Sahabat yang baca, andai tidak memberatkan, mohon tinggalkan sebaris kalimat di bawahnya.

Happy reading.

Wassalam

Nayaka Al Gibran

__________________________________________________________________________________

Pidato Abi Zaenal

Cerpen ini adalah cerpen bagian pertama dari threeshoot Secangkir Kopi Untuk Abah. Cerpen bagian pertama ini mengisahkan tentang seorang anak lelaki kebanggaan abahnya yang ternyata seorang gay. Cerpen kedua nanti mengisahkan anak perempuan yang diboyong ke kota oleh suaminya. Sedang cerpen ketiga tentang bagaimana perjuangan seorang ayah mendamaikan dua anaknya dengan si kakak sulung yang pernah menghuni hotel prodeo.

Langsung aja welah dibaca cerpen bagian pertama.

_________________________________________________________________________________

SECANGKIR KOPI UNTUK ABAH

By : Abi Zaenal

 

Senja meniupkan anginnya pada daun-daun terserak di halaman belakang rumahku. Menebar hawa dingin yang membuatku merekatkan jaket yang kugunakan. Jingga sudah meraja di barat, dengan awan kelabu-keemasan yang memesona, meski tak nampak hewan-hewan yang kembali ke peraduannya.  Kursi besi yang panjang ini masih saja hangat, karena satu cangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaniku menikmati momen menghipnotis ini.

Aku menyesap kopi yang masih mengepul di tanganku ini sambil tersenyum kecut. Aromanya menebarkan wangi yang membuatku terdiam beberapa saat, membuat pikiranku kembali pada beberapa waktu sebelum aku hijrah ke kota ini. Masa dimana aku menikmati momen-momen mengesankan bersama sosok hebat itu. sosok yang mengajarkan aku pada banyak hal, pada banyak petuah hidup. Sosok tegar yang pendiam, sosok jenaka yang arif. Ah, mataku selalu saja basah setiap mengingat sosok itu. Abah.

Kini pikiranku bermain-main dengan masa kecilku, masa dimana abah menggendongku di punggungnya selepas mengunjungi makam ibu. Ketika itu aku bertanya, apa aku bisa sekolah di tempat belajarnya Habibie, idolaku dulu. Abah yang waktu itu bahkan tak mampu belikan aku mobil batman yang kuingin hanya diam saja. Tapi ketika kami berdua melintasi kebun jambu milik kami, beliau menjunjung tubuhku dipundaknya, menyuruhku memetikkan beberapa buah jambu yang telah ranum.

Kami berdua terduduk di atas batu besar menghadap barat, menikmati momen dimana alam menjalankan titah tuhan, menenggelamkan siang dan menghadirkan malam. Beberapa butir ranum itu kukumpulkan dalam raupan tanganku, lantas kugosok jambu itu dengan kaosku. Abah mengusap rambutku dan tersenyum tipis padaku.

“Lihatlah bagaimana alam mengajarkan banyak hal pada kita. Maha karya Tuhan ini mengajarkan esensi hidup. Matahari mengajarkan kita untuk tanpa pamrih. Burung mengajarkan kita pada kerja keras dan kasih sayang. Angin mengajarkan kita untuk menebar kesejukan pada setiap yang ditemuinya. Belajarlah pada alam jika kamu ingin menjadi bijak, karena alam mengajarkan apa itu esensi bahagia dan cinta.”

Aku yang waktu itu masih terlalu muda untuk memahami kalimat yang dalam itu hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang dimaksudkan Abah.

 

“Hidup itu untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk meminta atau bahkan mengiba. Belajarlah pada daun yang menghidupi satu pohon. Bahkan dia rela mengorbankan dirinya saat kemarau menjelang. Dia gugurkan dirinya untuk menjaga inangnya, dia korbankan dirinya untuk hewan-hewan kecil. Dan kamu De, jangan pernah takut untuk berkorban, karena tuhan menghitung segala keikhlasan kita. Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih hebat.”

Aku terpana mendengar kalimat hebatnya itu. Ayahku yang pendiam, kini berapi-api membekaliku ilmu hidup.

*****

Dua puluh tiga. Ah, umurku sudah lebih banyak tiga tahun dari waktu dulu abah menikahi ibu. Lagi-lagi aku teringat ketika abah mengisahkan lahirnya kakakku yang sulung dengan berapi-api. Meski sekarang si sulung itu telah menjadi seorang yang brengsek. Entah apa yang membuat Abah begitu sabar menghadapi anak yang seperti setan tingkahnya.

Abah selalu bilang padaku bahwa menjadi seorang ayah adalah kebanggaan seorang lelaki. Cinta seorang ayah pada anaknya tak beda dengan cinta ibu pada kami. Meski mereka berdua menunjukkannya dengan cara mereka sendiri. Seorang ayah itu harus kuat, mengimbangi ibu yang perasa. Seorang ayah harus tetap tenang mengimbangi ibu yang mudah menangis. Bila dia marah, bukan tak sayang, tapi dia beritahu bahwa kita salah dalam bertingkah.

Dulu begitu sering aku tertidur saat menonton tv. Tapi saat mataku terbuka, aku sudah berselimut di atas kasur. Aku juga sering menangis saat mobil kulit jerukku dirusak oleh temanku, tapi esoknya sudah ada mobil dari kayu dengan roda karet bekas sandal dan bisa mengapung. Abah tak banyak bicara, tapi tatapannya mengajarkan banyak hal padaku. Senyumnya meredakan tangisku. Abahku yang hebat. Abahku yang istimewa. Untuk lelaki sederhana dan guru keihklasanku, dengan sangat kuucapkan, aku sayang engkau.

Aku masih ingat saat abah yang pendiam itu tertawa bangga saat aku pulang membawa piagam. Aku menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris waktu itu. Sampai merah padam wajahku menahan malu, karena abah menceritakan pada setiap orang yang ditemuinya. Lantas mengadakan syukuran sederhana karenanya, meskipun kutahu itu terlalu berlebihan untukku. Tapi aku begitu senang dibuatnya.

Tapi senja yang gemericik itu aku tertunduk, tak mampu menatap wajahnya yang sendu. Satu kabar tak baik sampai di telinga abah. Entah dari siapa kabar itu bermula. Anak yang selalu dibanggakannya telah menyalahi kodrat. Aku yang pendiam ini menyukai sesama. Beliau tak menamparku seperti dugaku. Juga tak mengusirku dengan sarkas seperti syakku. Beliau hanya duduk diam memandang keluar jendela, memandang rintik-rintik air yang jatuh dari atap. Pandangannya kosong. Senyum sederhana itu tak lagi nampak dari bibirnya.

Aku tak mampu menyangkal karena berita itu absah. Aku yang harusnya bersimpuh, mencium kakinya hanya mampu diam, hanya bisa mengusap air yang terus mengaliri pipiku. Mata kelabu beliau tampak berkedip beberapa kali, lantas terlihat satu tetes air matanya jatuh. Abah yang tegar dan mengajariku untuk pantang menangis, kini tumbang. Hari ini beliau kalah.

Harusnya abah memukuliku, menendangku atau bahkan melemparku. Itu lebih baik daripada melihat beliau diam dan mengusap matanya. Melihat jakunnya naik turun dengan desah nafasnya yang berat. Pemandangan itu terasa membekukan paru-paruku yang penuh oleh sesal.

“Tolong buatkan secangkir kopi untuk Abah, De…”

Kalimat itu meluncur dari mulut Abah dengan bergetar. Sedikit parau dan seolah menahan nafas karenanya. Aku mengusap pipi yang sepertinya takkan kering senja ini. Bergegas ke dapur dan segera menjerang air. Tanganku gemetar saat menuangkan air mendidih pada cangkir yang sudah kububuhkan tiga sendok gula dan tiga sendok kopi. Takaran kesukaan Abah. Tiga untuk jumlah anaknya, tiga lagi untuk wanita yang dia cintai dalam hidupnya. Ibuku yang sekarang sudah ditempatkan Tuhan di syurga, Asni kakak perempuanku yang telah diboyong suaminya di kota, juga nenek –ibunya, yang telah melahirkan sosok hebat Abah.

Aku masih berdiri di sampingnya, menanti tangan ringkihnya meraih cangkir itu, membauinya dengan tersenyum lantas menyesapnya perlahan. Pandangannya masih tertuju pada hamparan hijau. Tapi tatapan kosong itu melanglang buana, terbawa pikirannya yang berkutat membayangkan cercaan dari kerabat, hinaan dari khalayak. Bahkan mungkin titah untuk segera meninggalkan tanah tempat aku hidup karena kenistaan yang tak kuingin ini.

Kini tangannya meraih cangkir itu, bibir bergetarnya mulai menyesapnya. Aku sesak melihatnya. Tapi riak kopi itu membuatku ambruk, bersimpuh dan memeluk kakinya tanpa mampu berkata-kata. Aku hanya sesenggukan tanpa mampu menderas permohonan ampun. Seribu ucap itu mengalir lewat mataku. Sejuta maaf itu mengalun lewat isakku.

Beliau tak berucap cukup lama, hingga meluncurlah satu kalimat dari bibirnya yang kisut.

“Kamu kurang menambahkan satu sendok gula, De…”

Pahit. Kenyataan pahit itu beliau kiaskan lewat takaranku. Kalimat sederhana yang menggambarkan betapa kecewanya beliau pada anak yang digendongnya sedari kecil. Betapa nistanya aku membalurkan lumpur ini ke wajahnya yang teduh. Beliau mengusap rambutku lantas meraih pipiku. Aku menatapnya dalam remang mataku.

“Tapi satu yang kita lupa. Bukankah kopi pahit itu adalah obat agar kita tetap terjaga, menjaga harta kita yang paling berharga? Menjaga agar kita mampu berdiri di sepertiga malam terakhir? Kopi pahit adalah sebagian jalan hidup. Kamu adalah anak bumi, kamu juga anak matahari dan anak angin… dan kamu adalah anak Abah yang hebat.”

****

Senja itu turun dengan perlahan. Meninggalkan siang yang mendung, menuju malam yang menenangkan. Aku masih bersimpuh di kaki abah, menolak beranjak meski panggilan merdu itu saling bersahutan. Abah bangkit dan menuntunku. Menimbakan air wudlu untukku. Dan aku tak mampu berhenti terisak ketika beliau memakaikan sarung untukku. Melilitkan kain itu dipinggangku, persis saat aku belajar sholat saat lima tahun. Beliau menggelarkan sajadah untuk kami berdua, mengimamiku dan melantunkan ayat-ayat itu dengan pelan, tak mampu membaca keras karena getar bibirnya.

Selepas meraup wajahku, aku mendekap abah. Membaui wangi tubuhnya. Wangi yang mengantarku pada imaji dimana Abah menggendongku saat aku baru lahir, mengadzaniku di telinga kiriku, mendendangkan iqomat di telinga kiriku, menjunjungku setinggi mungkin saat aku baru belajar berjalan. Menuntunku melewati pematang sawah, dan deretan itu masih terus berputar dan tak terputus.

Abah merangkulku. Tersenyum getir dengan mata sembab.

“Di dunia ini banyak yang tak berlaku seperti ingin kita karena kedudukan kita hanya sebagai makhluk. Apapun dan bagaimanapun kamu, darah abah mengalir dalam tubuhmu. Sebelum datang mereka yang akan merajam tubuhmu dengan batu, sebelum darah mengucur dari kepalamu, carilah tanah dimana kamu akan menjadi sebaik-baik manusia. Dirikan gubuk-gubuk tempat mengajar anak-anak matahari, tebarkan ilmu pada pewaris para raja. Purnama menjadi saksi bahwa aku adalah abahmu. Aku ridho atas engkau.”

Aku mendesah, masih enggan melepas pelukan dari tubuhnya yang bergetar. Aku tahu beliau sayang dengan teramat padaku. Tapi kenistaanku mengharuskanku pergi meninggalkan beliau sendiri di gubuk ini. harusnya aku menjaganya selepas si brengsek itu menginap di hotel prodeo, dan kakak perempuanku tak kuasa menolak titah suaminya ikut ke rantau. Aku yang selayaknya mengurusnya, memandikannya saat beliau sakit, memasakkan bubur untuknya, membersihkan kotorannya. Harusnya aku tetap di sini mendampingi masa tuanya. Tapi kenistaan ini membuat kami harus berjarak. Membuatku harus membiarkannya dengan kehidupan sebatang kara.

*****

Kumandang adzan di sela-sela deru mobil kembali mengingatkanku bahwa aku harus kembali menghadapnya. Memohonkan ampun pada-Nya atas ketidakmampuanku menjaga hati. Mendoakan Ibu, memintakan syurga buat Abah yang memang pantas mendampingi ibu di sana. Memohonkan Dia kirimkan seribu malaikat untuk menjaga beliau, memohonkan segala yang terbaik untuk guru keikhlasanku, guru ketegaran dan juga guru kehidupanku.

 

INTERMISSION