11819_173684792789400_1542422965_n

ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

AAAAAAAAAAAAAAAAA…..!!!!!

Hosh… hosh… hosh…!!! Rasanya… rasanya… rasanya… hhh rasanya bagai dikejar sekawanan anjing gila yang dibelakangnya kawanan si anjing juga di kejar segerombolan babi liar dan lima meter di belakang gerombolan babi liar ikut berlari sekoloni werewolf new born yang sedang diburu sepasukan vampire pimpinan Aro Volturi yang kebetulan sedang melarikan diri setelah kalah perang sama kelompok vampire pimpinan Cullen Family yang dibantu werewolf old born pimpinan Jacob Blake (He? Maksudnya, Nay? JANGAN TANYA!), sementara aku berlari sendiri paling depan dengan bokongku hanya berjarak seujung kuku dari taring anjing gila yang berada paling depan dari rekan-rekan sesama anjing gila dalam kawanannya. Ah… rasanya ketar-ketir boo… (mati kita).

Slap! #pindahlayar#

Ketar-ketir, begitulah yang kurasakan ketika mulai menulis tulisan yang sebentar lagi bakal kalian baca, tentunya jika berminat. Aku sudah ketar-ketir bahkan sejak mengetik judulnya di bagian kertas paling atas. Aku tertanya-tanya, apakah aku bisa menjaga ritmenya agar tak jauh beda dengan dua tulisan terkait sebelum ini (Love Actually series dan Orlando’s Diaries), terlebih lagi, apa aku bisa menciptakan korelasinya? aku tak yakin mampu. Maka aku pun ketar-ketirlah. Namun meski gemetaran, penaku gerak terus sih.😀 ‘pena’ yang satunya lagi juga masih sering kugerakin. :p

Biar kuceritakan. Sebenarnya aku ingin menyatukan beberapa potret dalam satu postingan saja (ada 6 potret rencananya), semuanya pake Nayaka’s P.O.V, namun setelah selesai bikin Potret Satu, jumlah katanya sudah 6.000-an kata (tidak lagi standar sebuah cerpen). Aku berfikir, baru satu potret sudah sebanyak itu, mau sepanjang apa postinganku nanti? Apa gak jereng bacanya? Apa gak juling ngeditnya? Apa gak retak glasses-ku melototin layar lebih lama dari normalnya? Apa aku sanggup nahan pipis, apa aku sanggup nahan ejakulasi? Jawabannya, gak sanggup. Maka aku putuskan, potret-potret itu bakal kuposting terpisah dengan jarak post dari satu potret ke potret selanjutnya minimal 1 tahun, eh engga ding, 1 bulan aja, ah satu bulan kasihan yang nunggu, 2 minggu deh. Insyaallah bisa 2 minggu sekali satu potret. Dan karena postnya satu-satu, berhubung aku suka banget angka 7, maka rencananya bakal ada hingga potret ke-7. Nah, baik kan Nayaka? post sekalian cuma 6 tapi nego-nego sama panca indera sendiri jadi 7 jika post gak sekalian, baik gak guweh?

Ada yang bertanya-tanya, kok Potret? Kenapa bukan Melly Goeslow atau Anto Hoed atau BBB aja? Melly Goeslow Satu, Anto Hoed Dua, BBB Tiga gitu, kenapa harus Potret? Takjawab yo… “Masallah buat loeh???” *gampar*

Wahai, yang kumaksud bukan potret grup band itu, tapi potret beneran, sinonimnya foto ya? Cocoknya memang pake potret, bukan kocek seperti di Love Actually dulu. Kenapa Potret? Biar kujawab dengan serius, kerena tiap segmen dari tulisan yang akan kubuat tokoh sentralnya beda-beda. Kayak di sebuah rumah dimana dindingnya penuh bingkai foto yang memuat gak hanya satu wajah jelek si pemilik rumah dengan gayanya yang tak tentu hala, pasti bingkai-bingkai itu memuat banyak wajah dan ragam gaya (kecuali si empunya rumah cukup narsis dan gak tahu malu dengan memajang hanya foto jeleknya sendiri saja dimana-mana di seluruh bagian rumah hingga ke lotengnya sekalipun). Kalian bakal faham sendiri setelah melihat potret-potretku ini nanti.

Saranku satu aja, bagi yang belum pernah baca LA series dan Orlando’s Diaries, baiknya baca itu dulu sebelum melahap Potret ini dan 6 potret lagi ke depannya (jika Tuhan Mengizinkan), bukan apa, hanya agar tahu dan kenal kisahnya, tidak bingung sendiri seandainya langsung melototin potretnya. Yang belum baca tapi mau baca, silakan ubek-ubek arsip Al Gibran Nayaka di blog ini, LA series dan Orlando’s Diaries dimaksud ada di sini. Maaf gak bisa menyertakan link-nya.

Last, sampaikan saran dan kritiknya di kolom komen. Katakan apa saja, aku pasti balas. Harapku, semoga kalian menikmati membaca ANOTHER LOVE ACTUALLY STORY Potret Satu seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Betewe, di potret ini yang kangen sama Kak Adam silakan obati kangennya, yang naksir sama Kak Adam silakan mengkhayalkan diri jadi Mbak Balqis, karena mereka berdua yang terbingkai dalam Potret Satu ini. Hehehe…

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Cinta adalah keagungan. Kemurnian dari hati manusia.

Kesucian rasa yang hadirnya tidak terprediksi.

Karena ia agung dan murni, karena ia suci…

Maka tak ada yang salah dengan cinta.

Tak ada kejelekan dalam jalannya jika rasa itu benar-benar cinta,

tak bercampur dengan nafsu dan amarah.

Tidak juga dikeruhkan pengkhianatan.

Dan bila masanya tiba, maka penyatuanlah yang jadi akhirnya.

Mengucap ikrar di depan juru nikah, menjadi satu.

Ada cinta yang tak bisa menyatu dalam ikrar pernikahan.

Meski demikian, cinta itu adalah cinta.

Cinta yang sebenarnya selalu benar.

Walau norma dan nilai memandangnya salah…

Ia tetap sebenarnya cinta…

Karena ia agung dan murni, karena ia suci…

Maka tak ada yang salah dengan cinta, yang sebenarnya…

***

POTRET SATU

 

AZHAR SADAM AZ ZULHAN menatap dengan perasaan mendamba pada balita-balita yang sedang bermain di ayunan di taman kota, tempatnya sekarang sedang menghabiskan sore bersama Balqis –istrinya. Gelak tawa balita-balita itu seakan menyihir pendengarannya untuk tidak menangkap suara lain, menggelitik rasa rindu yang sudah bersarang selama umur pernikahannya, hampir genap dua tahun. Adam membawa pandangan terus berpindah dari satu balita ke balita lain, ikut tertawa sendiri di tempat duduk ketika mendapati balita yang dipandangnya sedang tertawa, merasa gemas hingga jemarinya mengepal bila menemukan balita yang berpipi bulat bak telur angsa, atau berbinar tiap melihat para orang tua –bunda dan ayah- yang sedang menggendong buah hati mereka yang lebih kecil sambil berbicara entah apa di wajah sosok-sosok lembut itu.

 

Adam sedang mendamba. Ia sangat ingin menjadi seperti pria-pria itu, ingin menjadi salah satu dari mereka yang sudah berstatus ayah, bukan hanya suami.

 

“Mas, aku tidak menemukan coke, sepertinya gak diijinkan lagi dijajakan di sini, menjaga pengunjung anak-anak dari jajanan tak sehat mungkin.” Balqis mengangsurkan susu kemasan pada suaminya, “Yang mendominasi dimana-mana ya ini, gak ada minuman karbonasi lagi. Padahal minggu lalu masih ada ya, Mas…” lanjutnya seraya duduk di sisi kiri suaminya. Saat duduknya nyaman, Balqis mencucuk susu kemasannya dengan pipet.

 

Adam melirik susu kotak yang baru saja diterimanya dari Balqis, istrinya memilih rasa strawberry, lalu ia tersenyum sendiri.

 

Apa anakku nanti akan suka susu rasa strawberry seperti ini?

 

Adam mengosongkan setengah isi kotaknya, di sebelah kirinya Balqis sedang mengunyah kentang goreng, kotak kemasnya tergeletak membuka di atas pangkuan.

 

“Cobain, Mas, masih hangat baru saja digoreng.”

 

Adam beringsut merapat pada Balqis, merentangkan lengan kiri di sandaran kursi, di belakang kepala istrinya. Tangan kanannya mulai berganti-ganti dengan tangan kanan Balqis masuk ke kotak kemas kentang goreng.

 

“Jadi, lama balik karena tercari-cari kaleng soda atau karena nungguin kentangnya digoreng?” Adam mulai aktif mengunyah, tangannya mulai lebih sering mengeluarkan irisan-irisan kentang dari kotak kemas.

 

Balqis diam, tidak menjawab, ia jadi enggan mengunyah. Pandangannya menghala ke depan, pada sekelompok orang tua yang sedang berbincang sementara anak-anak mereka berkejaran di sekitar. Balqis tidak mengedip untuk waktu yang cukup lama. Jika tadi Adam memandang pemandangan serupa dengan mata berbinar sambil sesekali tersenyum, maka tidak demikian dengan Balqis. Wanita ini memandangnya dengan pandangan kosong, sedikit menyiratkan keputus-asa-an dan lelahnya pengharapan.

 

Faktanya, sama seperti sang suami yang begitu mendamba seorang anak, Balqis juga demikian amat sangat mendambanya pada seorang anak. Mendambakan dirinya menjadi seorang ibu, menyempurnakan statusnya sebagai perempuan.

 

“Dik?”

 

“Eh?” Balqis mendongak menatap suaminya yang sekarang juga sudah berhenti mengunyah. “Tadi Mas bilang apa?” Balqis membetulkan letak kerudungnya yang melorot.

 

Adam tersenyum, ia sangat paham tatapan istrinya beberapa saat tadi. Sekilas, Adam melirik ke depan kepada beberapa orang tua yang sedang berbincang di satu kursi, lalu melanjutkan melirik anak-anak mereka sebelum kembali menatap istrinya.

 

“Ummi telpon lagi, ya?”

 

Balqis mendesah. Tebakan suaminya tepat.

 

Adam cukup hapal bagaimana Balqis selalu begitu enggan membahas tentang ibunya akhir-akhir ini, sejak sang mertuanya itu sering berujar ‘Ummi kangen pengen nimang cucu…’ di tiap pertemuan mereka atau setiap kali menelepon.

 

“Dik…” Adam kembali memanggil lirih saat Balqis tidak kunjung bersuara.  Ia menyentuh tangan kiri istrinya, menautkan jemarinya dengan jemari sang istri lalu membawanya ke pangkuan. “Ummi bicara apa?”

 

Balqis diam, memandang jemarinya di pangkuan Adam sebelum menyandarkan tengkuknya ke belakang, “Bawah dikit lengannya, Mas.”

 

Adam menurunkan lengannya lebih ke tengkuk Balqis.

 

“Pulang ini sempat mampir toko bahan kue gak, Mas? Bunda nitip bahan-bahan cake. Apa tokonya masih buka hingga jauh sore, ya?”

 

Adam tak pernah memaksa Balqis membicarakan hal yang membuat istrinya itu tak nyaman, terlebih jika hal tersebut juga bisa membuatnya tak nyaman dan terpojok meski tak ada yang bermaksud memojokkannya. Dan hal tersebut akhir-akhir ini juga mulai membuat Adam bersyukur bila tidak terlalu sering disinggung, oleh mertuanya atau oleh siapapun.

 

Namun sore ini Adam sedang ingin mengobrolkannya, berdua saja dengan Balqis entah untuk yang keberapa kalinya. “Ummi nanyain lagi kamu sudah hamil atau enggak, iya?”

 

Balqis batal menyandar lebih lama, ia juga menarik tangannya dari pangkuan Adam. Wanita itu menunduk dan kembali mengunyah kentang gorengnya.

 

“Balqis?” Adam memanggil nama sambil menjenguk ke wajah istrinya.

 

“Hemm…” Balqis menggumam enggan di sela-sela kunyahannya.

 

“Ummi nanyain gitu lagi?” Adam tahu kalau ia sedang memaksa keengganan istrinya.

 

“Ummi sedang tidak punya pertanyaan lain akhir-akhir ini… biarin aja, gak usah dibahas.”

 

Adam tersenyum gemas melihat ekspresi Balqis yang anti. Ia mulai ikut mengunyah lagi, tidak berusaha menanggapi kalimat istrinya. Balqis sudah membuka obrolan tentang itu, meski katanya tak usah diobrolkan, tapi Adam cukup tahu kalau itu artinya bahwa mereka akan membicarakannya.

 

“Yang mengesalkan, Ummi makin aktif pake hape…”

 

Adam tertawa pendek, masih tidak menanggapi.

 

“Yakin deh, pasti nomorku atau nomor Mas dan nomor telepon rumah di sini berada di tiga teratas daftar kontak Ummi, biar bisa langsung panggil tanpa gulir ke bawah, cepat update kabar sekaligus cepat bikin aku kesel.”

 

Adam tertawa lagi. “Itu Ummi loh…” ia menggoda.

 

Balqis berdecak, “Gak apa-apa kalau gak sering, tapi minggu ini nyaris sehari dua kali telponnya…”

 

“Ummi lagi banyak pulsa, ladeni saja.”

 

“Kemungkinan juga tagihan pasca bayarnya gak pernah dikomplain Ayah… pasti dua bulan terakhir ini di luar kebiasaan.”

 

Adam lagi-lagi tertawa.

 

“Yang bikin kesel itu pertanyaannya sama melulu loh, Mas. Dikira Ummi wanita itu bisa hamil dalam hitungan hari apa, kemarin sudah tanya eh hari ini nanya lagi. Duh… kalau hamil sudah pasti langsung kita kabari, kenapa harus repotin diri ngecek tiap ganti hari?” Balqis menggeram di tempat duduknya.

 

Adam manggut-manggut, “He eh, kan meski usahanya tiap malam gak mungkin besoknya langsung ngefek ya… perjuangan sperma kan butuh waktu ya?”

 

Balqis mendelik, “Kenapa larinya bisa ke situ?”

 

“Eh?”

 

“Kita gak tiap malam…”

 

Adam tertawa, “Bagaimana kalau itu kita terapkan mulai nanti malam?” Ia menaik-naikkan alisnya, “Kalau Ummi telepon lagi bilang kalau kita sedang berusaha lebih keras dari sebelum-sebelumnya…”

 

Balqis memerah, gemas ditonjoknya perut sang suami. “Mas mikirnya kemana-mana…”

 

Adam masih tertawa sambil mengusap bagian perutnya yang ditonjok Balqis. “Mungkin Tuhan belum mau ngasih karena menurut-Nya kita belum berusaha cukup keras…”

 

“Kita sudah shalat tahajjud hampir tiap malam bulan-bulan terakhir ini, Mas. Minta dalam tiap doa di tiap waktu shalat. Sebelum ini juga kita sudah berkonsultasi kemana-mana, menjalani beragam tes dan pemeriksaan, makan bermacam herbal sampai muak. Kita sudah berusaha keras…”

 

“Tapi kan belum tiap malam kita me…”

 

Balqis mencubit keras lengan Adam yang membuat suaminya itu berhenti bicara dan mulai mendesis keperihan sambil menggosok lengan.

 

“Bicara ngawur lagi aku semprot kemejanya pake susu!” Balqis mengancam.

 

“Gak takut, kan yang cucikan nanti kamu sendiri, Dik.”

 

Balqis hilang pamor. Tidak meladeni lagi canda suaminya, ia kembali menatap ke depan, ke sumber gundah hatinya.

 

Adam ikut diam.

 

“Ummi kayak gak ingat kuasa Tuhan ya, Mas…” Balqis berujar setelah senyap beberapa lama. “Kalau Tuhan belum berkehendak kan gak akan terjadi, ya…”

 

“Hemm…”

 

“Mas setuju tentang Ummi?” Balqis memiringkan badannya menghadap Adam. “Perhatikan deh, yang ngusik-ngusik tuh cuma Ummi aja, Bunda kan gak pernah. Padahal tiap hari sama-sama di rumah, tapi Bunda adem-ayem saja. Lah Ummi, tiap hari asyik itu-itu aja yang diobrolkan, padahal enggak tinggal sama-sama. Gimana kalau kita tinggal di rumah sana, pasti bakalan menjadi-jadi. Ummi nutup mata, kan gak sedikit pasangan yang baru punya momongan setelah bertahun-tahun nikah, sedang kita belum pun genap dua tahun… satu kali kapan itu Ummi malah nuduh kita menunda kehamilan…” Balqis berkata panjang lebar, menyuarakan pemikirannya yang beberapa diantara sudah pernah mereka obrolkan.

 

Adam mengulum senyum buat istrinya, “Usia Ummi lebih tua dari usia Bunda kan, ya? Wajar kalau Ummi begitu inginnya punya cucu. Sedang Bunda sendiri aktif kerja, otomatis waktunya lebih banyak tersita untuk mikirin pekerjaan. Lain sama Ummi yang duduk rumah, tentulah Ummi sering merasa sepi dan mikirin andai punya temen di rumah, temen kayak seorang cucu gitu…” Adam juga menjelaskan tak kalah panjang. “Selain itu ya, Bunda punya Daman Huri. Yah meski tidak di sini dengannya, tak bisa dilihat dan dipegang langsung, cuma bisa denger celoteh aja di corong telepon, tapi cukuplah sebagai pengalih dari keinginan punya cucu dari kita. Ditambah lagi, istrinya Anjas juga sedang mengandung, kabarnya malah tinggal nunggu hari. Perhatian bunda tentu gak nuntut ke kita, kan? Maka Bunda gak recok, gak ngusik-ngusik.” Adam mengambil jeda untuk menarik napas. “Ummi kayak gitu wajar loh, Dik. Ummi belum punya, belum ngerasain euphoria seperti Bunda, meski hanya cucu bukan kandung sekalipun, Ummi belum ngerasain meski hanya cucu angkat. Iya kan?”

 

Balqis terdiam lagi, ucapan suaminya sangat tepat. Umminya tak salah sama sekali. Tak salah ingin menimang cucu dari putri sulungnya yang sudah menikah. Umminya benar. Karena Balqis juga sama inginnya seperti keinginan Ummi, hanya saja dirinya tidak meledak-ledak. Tidak, sebenarnya Balqis cukup meledak-ledak, dalam hatinya ia cukup menginginkan, cukup menuntut yang kadang mendekati tertekan karena tak kunjung kesampaian, namun ia tidak meledakkannya di permukaan, tidak mengeluh dan menghujat yang pasti akan menguji ia dan suaminya. Namun mereka sama mengerti perasaan satu sama lainnya, itu yang menguatkan mereka.

 

“Allah belum ngasih…” lirih Balqis akhirnya, matanya berubah sendu. “Aku belum dipercayakan jadi ibu, belum pantas ketitipan amanah…”

 

Adam mendesah. Dirangkulnya bahu sang istri agar menyandar ke bahunya. “Allah pasti bakal denger pinta kita. Kamu lebih dari pantas jadi ibu, karena aku sangat yakin diriku juga amat pantas jadi Ayah. Masalahnya hanya pada waktu… dan sejauh mana kita sabar…” Adam menunduk mencium puncak kepala Balqis yang tertutup kerudung, “Setuju, Dik? kita sedang diuji. Jika sabar dan terus berusaha juga berdoa, Allah pasti meluluskan…”

 

Balqis selalu makin mencintai sosok yang sedang merengkuh bahunya itu di saat-saat seperti ini. Bujukannya selalu mendamaikan, membesarkan hatinya, membuat perasaannya membaik, memperbaiki suasana hatinya.

 

“Amin…” ucap Balqis sambil menggenggam tangan kiri suaminya.

 

Mereka dikagetkan sebuah bola karet yang tiba-tiba melesat jatuh di kaki kursi, tepat di depan mereka. Balqis melerai genggamannya, lalu menunduk meraih bola karet merah di kakinya.

 

“Akbar, jangan baling bolanya sembarangan…!”

 

Balqis tersenyum pada seorang wanita yang terlihat bangun dari duduknya, menghampiri seorang bocah yang menjelepok di rumput –anaknya. Si wanita –seorang ibu- membantu anaknya berdiri sambil menepuk-nepuk lembut bokong si anak, membersihkan rumput-rumput kering yang menempel di celananya. Setelahnya, si ibu menoleh Balqis dan tersenyum ramah.

 

“Tuh, tante cantiknya mungutin bolamu, ayo sana ambil…” si ibu berujar, masih terus tersenyum pada Balqis dan Adam.

 

Bocah bernama Akbar mulai meniti langkah menuju kursi Balqis dan suaminya, sama sekali jauh dari ragu atau tatap takut-takut. Akbar melangkah sambil mengangkat kedua tangan. Bunyi ‘cip cip cip’ keluar di setiap langkah yang dibuatnya. Sepatunya tampak menggemaskan.

 

Balqis tertawa renyah, ia mengangsurkan kotak kemas kentang goreng ke tangan Adam. “Sebentar ya, Mas…” ujarnya seraya menepuk paha Adam lalu bangun dari kursi.

 

Adam mengangguk, merasakan campuran rasa senang dan kasihan saat melihat mata Balqis yang berbinar. Senang melihat ekspresi gembira di mata itu, sekaligus mengasihani tatap mendamba yang ikut terpancar dari sana. Ketika Balqis mulai berjalan untuk mempersingkat jarak tempuh Akbar, Adam menyadari bahwa ia juga sama kasihannya dengan sang istri. Adam sedang mengasihani diri sendiri.

***

Swalayan ini sungguh ramai, Adam sampai kesulitan menjaga troli belanjaan mereka agar tidak menyenggol troli orang lain atau lebih parah lagi menyenggol si empunya troli. Di depannya Balqis berjalan pelan sambil sesekali melihat daftar belanjaan di tangannya.

 

“Sereal?” Balqis berhenti sambil menoleh ke belakang pada Adam. Daftar belanjaan itu memang bukan dibuatnya sendiri, Bunda yang menyerahkannya atas permintaan ia dan suaminya. “Selama ini kan gak pernah ada ya, Mas… Mak Iyah selalu sempat bikin sarapan yang tentu lebih enak dari sereal…”

 

“Titipan Saif atau Aidil mungkin, atau bisa jadi buat Bunda atau Ayah sendiri, bawa ke kantor pas lembur.” Adam menduga-duga.

 

Balqis menggeleng, “Masak Bunda bawa sereal anak-anak ke kantor?” Balqis memperlihatkan daftar belanjaan pada suaminya.

 

Adam tersenyum membaca brand sereal yang tertulis di daftar. Sekilas dia ingat ketika beberapa malam lalu adiknya berujar ‘Kayaknya enak ya, Kak…’ padanya saat televisi sedang menayangkan iklan.

 

“Itu titipan Aidil,” jawabnya mantap. Bunda memang akan selalu meng-interview orang-orang setelah mendata kebutuhan rumah yang menipis.

 

Adam ingat, dulu sebelum ia berumah tangga, Bunda pasti akan bertanya seperti ini ketika membuat daftar belanjaan: Dam, obat ketekmu masih ada?; If, agar-agar rambutmu sudah mau habis?; atau, Aidil ada nitip apa?

 

Adam tersenyum sendiri, sejak menikah Bunda tidak lagi meng-interviewnya. Kadang ia merasa rindu Bunda menganggapnya bagai remaja lagi, mengingatkan ini dan itu dengan ujar-ujar bak seorang teman saja, bukan seorang ibu. Ah, hakikatnya seorang ibu memanglah teman bagi putra-putrinya.

 

“Hemm… pesanan Dik Bungsu rupanya…” Balqis manggut-manggut. ‘Dik Bungsu’ adalah panggilannya untuk adik iparnya yang paling muda, panggilan senada juga berlaku untuk adik iparnya yang lebih tua, Dik Gede. “Mari kita cari.”

 

Adam mendorong troli mengikuti Balqis menuju lorong produk makanan. Untuk sampai ke sana, mereka harus melewati rak-rak yang penuh aneka macam susu bayi dan balita. Beberapa orang tua dan anaknya terlihat berseliweran di lorong, beberapa ada yang sedang meneliti kemasan susu. Orang tua memang harus teliti memilih susu anak, Adam sering mendengar kalimat semacam itu.

 

Balqis asyik memandang kotak-kotak susu di kiri kanannya. Kapan aku akan memilih salah satu dari susu-susu ini? Balqis membatin, langkahnya melambat bertahap hingga benar-benar berhenti bergerak sama sekali.

 

Adam menghela napas berat ketika Balqis mengulurkan tangan menjangkau satu kotak susu di bagian atas rak, wanita itu harus berjingkat.

 

“Dik…”

 

Balqis menoleh dan tersenyum. “Katanya, susu ini paling recommended untuk anak di atas dua belas bulan hingga tiga tahun.”

 

Adam diam. Baru berhadapan dengan susu balita saja Balqis sudah bersikap sedemikian rupa, bagaimana jika mereka melewati rak susu ibu hamil atau sudut perlengkapan bayi di swalayan ini?

 

Balqis membalik kotak, meneliti tabel kandungan susu yang kabarnya paling dianjurkan itu. Ia tersenyum senang sendiri, “Perfect…” ujarnya.

 

“Sadam?”

 

Ada suara yang memanggil. Suara perempuan.

 

Adam menoleh, demikian juga dengan istrinya. Lima langkah di belakang mereka, seorang wanita dengan perut besar tersenyum ramah. Si wanita –yang usia kandungannya diperkirakan Balqis sudah lebih dari enam bulan- melangkah mendekat. Di sebelahnya, sang suami mengiringi sambil menggendong seorang bocah laki-laki, putra mereka. Si suami juga tersenyum tak kalah ramah.

 

Bila ada sekelompok orang yang tidak ingin lagi ditemui selama sisa umurnya, maka wanita yang sedang menghampirinya ini berada di urutan teratas orang yang paling tidak ingin ditemui Adam. Kalau saja istrinya tidak langsung mendekat dan menyambut uluran tangan si wanita itu, ingin sekali Adam berbalik pergi menghindar. Nyatanya, meski sudah lama berlalu, dan dirinya juga sudah berkeluarga seperti halnya si wanita, sosok Andini masih membuat Adam geram setengah mampus, merusak suasana hatinya dengan serta-merta dan membuatnya muak.

 

“Beli susu juga?” Andini bertanya ramah setelah menyalami Adam dan Balqis, suaminya bersalaman kemudian.

 

Jika Balqis menanggapi Andini dengan ramah –bahkan dengan takjub menyentuhkan tangannya ke perut Andini yang melendung sambil tersenyum dan berujar hangat, maka Adam hanya menekuk mukanya. Ia tidak mau repot-repot mengesankan bahwa dirinya orang yang ramah dengan berbasa-basi pada Zamri, suami Andini. Adam diam sambil melipat lengan di dada. Sedang Zamri, mungkin karena sadar aura tak ramah dari pria yang dikenal istrinya sebagai Sadam, maka ia pun tidak berusaha membuka obrolan, alih-alih ia menggendong putranya merapat ke rak, melihat-lihat.

 

“Hamil kedua tentu tidak seberat yang pertama ya…” ujar Balqis, susu yang tadi diambilnya sekarang didekap ke dada.

 

Andini tersenyum, “Yah, begitulah, karena sudah pengalaman sebelumnya… nunggu persalinan pun gak secemas anak pertama. Meski begitu, rasanya tetap luar biasa…”

 

Balqis tertawa canggung, tawa yang membuat Adam ingin segera menarik lengan sang istri dan membawanya pergi dengan segera.

 

“Sudah tahu jenis kelaminnya?”

 

Andini menggeleng, “Ayahnya ingin jadi teka-teki saja, biar tetap menduga-duga. Tapi rasanya perempuan…” Andini tertawa, “Perasaan ibu…” lanjutnya.

 

Adam berdehem, lumayan keras untuk membuat Zamri menoleh. “Dik, kita masih harus mengisi troli…” ujarnya sambil menatap Balqis, berharap agar Balqis mengerti tatapnya yang ingin segera meninggalkan lorong.

 

Balqis mengangguk untuk suaminya lalu kembali memandang Andini. “Ini mau beli susu buat sendiri atau buat si jagoan?” Balqis mencuil gemas pipi batita dalam gendongan Zamri.

 

“Buatnya.” Andini menunjuk anaknya. “Kalian juga?” ia menatap kotak susu yang masih dikepit Balqis di dadanya. “Berapa usia si buah hati?”

 

Rona Balqis berubah, ia sadar kalau belum menjawab pertanyaan pertama Andini ketika menyapa tadi. Kini pertanyaan itu berlanjut lebih spesifik.

 

Adam semakin kesal.

 

“Laki apa perempuan nih?” kejar Andini.

 

Adam mendengus. Tiba-tiba saja emosinya tersulut. Ia mendekat pantas, dengan wajah mengelam ia merebut cepat kotak susu dari kepitan lengan Balqis lalu menatap tajam pada Andini. “Bukan urusanmu,” desisnya di depan wajah Andini lalu melesakkan kotak susu yang diambilnya dari Balqis ke sebarang celah, tidak di tempatnya semula.

 

Andini bengong, Zamri mengernyit. Mata Balqis membundar, tidak faham dengan arogansi sang suami yang belum pernah dilihatnya selama ini.

 

“Mas!” Balqis memberi penekanan tak biasa pada panggilannya.

 

Adam tak menyahut, disambarnya lengan Balqis lalu setengah menyeretnya berlalu dari hadapan Andini. Balqis berusaha meminta maaf pada pasangan yang baru dikenalnya dengan mengangkat tangan dan tersenyum kikuk, jalannya tak lempang. Ada apa dengan Adam? Sebelum-sebelumnya, obrolan tentang anak tidak pernah membuat suaminya seberang ini.

*

Adam baru saja selesai membuka kemejanya ketika ponsel Balqis berdering. Dia melirik jam di nakas, hampir tengah malam. Siapa yang menelepon ketika mereka akan bersiap-siap tidur? UGD lagi?

 

Adam menoleh ke pintu kamar mandi, Balqis belum keluar juga dari sana sejak masuk lebih lima menit tadi.

 

“Dik, ada yang menelepon!” serunya.

 

“Siapa, Mas?” Balqis balas berseru.

 

“Rumah sakit mungkin.” Ada nada kesal dalam jawaban Adam, ia sudah berkali-kali meminta istrinya untuk menonaktifkan ponselnya bila malam, khususnya di jam tidur. Bukan sekali dua ia harus mengantar Balqis dini hari buta ke rumah sakit karena ada pasien gawat. Entah apa yang membuat rekan-rekan istrinya sesama dokter merasa tidak becus menangani pasien gawat di saat jatah mereka yang piket jaga sehingga harus mengganggu jam tidur mereka. Sungguh kurang ajar.

 

“Jawab saja, Mas.”

 

Adam mendengus kesal, dilemparnya kemeja yang baru ditanggalkan ke keranjang cucian di sudut kamar. Meleset jatuh ke lantai.

 

Adam beranjak ke ranjang, menghampiri ponsel yang menggeletak di atasnya bersama kerudung yang tadi dipakai Balqis.

 

‘Ummiku’

 

Itu nama yang tertera di layar ponsel. Adam menghembuskan napas berat sebelum menekan tombol jawab. “Iya, Ummi. Assalamu’alaikum…” sapanya di corong.

 

Wa’alaikumsalam. Mana Balqisnya, Nak Azhar?” kedua mertua Adam lebih suka memanggil nama depannya saja.

 

“Di kamar mandi, Ummi.”

 

“Nge-tes ya?”

 

Adam langsung tahu apa yang dimaksudkan ibu mertuanya. Dia bingung sendiri. Kenapa mertuanya menganggap wajar untuk mengajukan pertanyaan begitu malam-malam buta seperti sekarang, terlebih kepada dirinya. Bukankah biasanya prosesi tes-mengetes itu kebanyakan dilakukan pagi hari? Urine pagi? Atau Adam yang tak tahu kalau malam juga boleh? Entahlah. Yang pasti, pertanyaan mertuanya salah jam dan salah sasaran menurutnya. Tentu pertanyaan itu lebih wajar bila diajukan langsung pada putrinya. Adam lebih suka bila si Ummi langsung bertanya apa Balqis sudah positif atau belum ketimbang diajukan pertanyaan seperti tadi.

 

Sebersit pikiran iseng melintas di kepalanya. “Iya, ngetes beha baru yang saya belikan tadi, Ummi…” kapok kan? Adam geli sendiri.

 

“Oalaaah… ngetes beha kok mesti di kamar mandi, Balqis bagaimana toh ini.”

 

Adam menahan tawa hingga mertuanya mengajukan pertanyaan susulan.

 

“Bagaimana, kalian sudah periksa lagi? Balqis sudah hamil belum?”

 

Adam menggaruk kepalanya, mulai frustasi dengan si ibu mertua. “Ya belum, Ummi.” Padahal baru tadi pagi Balqis memberitahu padanya kalau Ummi bertanya pertanyaan serupa di telepon.

 

“Aduh, kalian ini ngelakukan apa sih kalau malam? Tidur-tidur saja tanpa buat apa-apa?” si Ummi mulai blak-blakan. “Bagaimana Balqis bisa hamil kalau cuma baring-baring saja, Nak Azhar bagaimana toh…”

 

Adam merasa demam, bulu tengkuknya berdiri. Dia mengelus dadanya. “Ya belum dikasih aja, Ummi. Kudu sabar lagi…”

 

Mertuanya mulai merepet, Adam mendengarkan dengan bibir mengerucut. Sesekali meresponnya dengan gumaman pendek yang didominasi kata ‘Ya’ dan ‘He eh’. Mengesankan kalau ia adalah menantu yang penurut.

 

Balqis keluar dari kamar mandi, rambut legamnya terurai hingga ke pinggang. Dia tersenyum ketika Adam menatapnya, Balqis tahu kalau umminya yang menelepon, suara Adam jelas terdengar dari kamar mandi.

 

Adam menjauhkan ponsel dari telinga dan membekapnya dengan tangan, “Ummi punya solusi yang katanya mujarab buat kita…” bisiknya sambil mencondongkan badan ke arah Balqis. Mereka berdua tersenyum lebar.

 

“Bilang aja kita punya solusi yang lebih mujarab lagi, Mas.” Balqis balas berbisik sambil menyanggul rambut, kemudian ia berjalan ke meja rias.

 

Adam tertawa pendek lalu kembali mendekatkan ponsel ke kupingnya. “Iya, Ummi, dengar kok ini…” ternyata si mertua terus merepet selama Adam tidak mendengarkan.

 

“Minggu ini kalau sempat mampir ke rumah, berdua. Biar Ummi kawani ke sana. Anaknya teman arisan Ummi hanya tiga kali konsultasi langsung bisa hamil, cukup sebulan berobat saja…”

 

“Eh? Konsul kemana, Ummi?”

 

“Lah, Nak Azhar tidak nyimak omongan Ummi barusan?”

 

“Engg…”

 

“Ada yang nyaranin klinik alternatif sama Ummi, biasa menangani mereka yang ingin punya keturunan. Aman kok, sudah terbukti banyak yang berhasil, kliniknya juga sudah dilegalkan. Baguslah kabarnya, sejarah kerjanya juga sudah lama, tidak diragukan. Yang terpenting, praktiknya aman…”

 

Adam menghela napas, “Iya deh, Ummi. Hari minggu nanti kalau sempat kami mampir.”

 

“Harus itu,” Si Ummi menekankan.

 

“Iya.”

 

“Ya sudah, salam buat bundamu. Tanyakan, kapan berkunjung lagi kemari, ada katalog gerabah baru sama Ummi, hari itu bundamu minta dikabari kalau Ummi sudah pegang katalog baru…”

 

Bisa panjang nih obrolannya, Adam tidak mau terlibat salah satu topik yang biasa diobrolkan di forum-forum arisan ibu-ibu itu. “Iya, nanti Bunda saya kabari deh bahwa Ummi sudah punya katalog baru,” Adam melihat Balqis menoleh padanya sambil tersenyum jahil. Adam memutar bola mata dan segera hendak mengakhiri telepon walau di ujung sana si Ummi masih berkotek. “Iya Ummi iya, gak bakal lupa kok. Assalamu’alaikum…”

 

Adam bernapas lega.

 

“Hari minggu kenapa?” tanya Balqis begitu Adam menutup telepon.

 

“Ummi mau kawani kita ke klinik alternatif yang khusus nangani mereka yang ingin punya anak. Kata Ummi sih bagus, udah ramai yang berhasil.” Adam menyimpan ponsel di nakas lalu mengambil kerudung Balqis dan memindahkannya dari atas ranjang.

 

“Hemm…” gumam Balqis sambil terus membersihkan wajah di depan meja rias. “Mas sempat?”

 

“Ummi udah wanti-wanti, gimana bisa gak sempat?” Adam selesai menggantung kerudung yang tadi dikenakan Balqis ke swalayan di gantungan jilbab.

 

Balqis tertawa lalu beranjak dari depan meja rias sambil mematut gaun tidurnya. “Ummi masih gigih aja ya…”

 

“Usaha, kan? Berdoa dan terus berusaha.”

 

Balqis tersenyum. “Kayak teman Mas yang tadi ketemu di swalayan, pasti mereka usaha juga tuh. Tapi usaha mereka cepat berbuah hasil ya… mau dua malah.”

 

Adam tidak merespon, berpura-pura tak mendengar.

 

“Itu tadi temannya Mas, kan? Mereka terlihat sempurna sekali ya, dia dan suaminya, juga putra mereka…”

 

Adam masih berlagak tuli dengan membelakangi Balqis sambil meloloskan kaus dalamnya.

 

“Mas?”

 

“He eh.” Adam berjalan ke sudut kamar, ke tempat keranjang baju kotor berada.

 

“Andini itu bisa kenal sama Mas bagaimana?”

 

Adam memungut kemeja yang tadi dilemparkan meleset dan menjejalkannya bersama kaus yang baru dilepasnya ke dalam keranjang. Dalam hati ia sedang menimbang-nimbang jawaban yang bijak untuk diutarakan kepada Balqis.

 

“Mas…”

 

“Hemm…” Adam berbalik menghadap Balqis. “Dia itu teman kerjaku dulu, Dik. Aku sempat kerja bareng dia ketika perusahaanku sama perusahaannya terlibat kerja sama, maka kenal.” Ini sudah yang paling bijak, menurut Adam.

 

Balqis mengernyit, ia belum puas dengan jawaban suaminya. “Mas punya masalah dengan dia? Dulu mungkin?”

 

“Kok nanya gitu?” Adam membuka kancing jeans dan meloloskan celana itu dari tungkainya.

 

“Ya itu persepsiku sih, sikap Mas tadi gak bersahabat banget kelihatannya.” Balqis menghela napas, “Apa dia memutuskan Mas?”

 

“Eh?” Adam kaget sendiri, kedua tangannya diam di pinggang celana pendek yang masih menutup tungkainya sebatas di atas lutut.

 

“Andini itu kekasih Mas dulu, iya kah?”

 

Adam hendak tertawa, namun diurungkan karena melihat raut wajah Balqis yang serius. Ia harus memberi istrinya itu jawaban bijak lainnya. “Dik, Andini itu murni hanya teman kerja, mantan teman kerja.” Adam menekankan ucapannya pada kata ‘teman kerja’. “Tak lebih, tak ada hubungan khusus, tak ada satupun kencan pendekatan apalagi penjajakan, jika pun ada pertemuan empat mata di luar kantor, obrolannya sebatas dunia kerja, nothing special.” Adam mengangkat dua jarinya. Jika tidak anti terhadap kenangan buruk masalahnya dengan Andini dulu, ingin saja Adam menceritakan sedetil-detilnya pada Balqis. Namun, apa untungnya jika pun Adam menceritakan siapa Andini sebelum mereka menikah pada Balqis? Meski yakin kalau Balqis akan memandangnya bersih dan memandang rendah Andini, apa untungnya? Tak ada. Yang ada hanya kesia-siaan yang memuakkan bagi Adam sendiri, sama memuakkannya ketika ia melihat sosok Andini di swalayan tadi.

 

Balqis tak bereaksi, hanya tatapan bola matanya yang terlihat masih menuntut.

 

Adam mendesah, ia beranjak duduk di tepi ranjang. “Ya, memang sempat ada masalah. Tapi percayalah, itu tak ada korelasinya dengan apa yang kamu duga, mantan kekasih?” Adam menggeleng, “Seharusnya kita bertemu lebih awal agar kamu tidak berpikiran kalau aku punya mantan kekasih, karena sudah pasti aku tak akan membiarkanmu menjadi mantan kekasih dengan memutuskan hubungan kita sebelum berhasil ke pelaminan. Sayangnya kita tidak bertemu lebih awal…”

 

Balqis mengernyit, “Jadi intinya, Mas punya mantan kekasih? Banyak mantan kekasih?”

 

Of course, my angel… suamimu tidak jelek ketika masih lajang, sama rupawannya seperti sekarang saat tak lagi perjaka. Tentulah banyak perawan yang memburunya.” Adam kumat.

 

Balqis mencibir, “Dan Andini salah satunya…”

 

“Salah satu yang bukan tipeku, benar sekali.”

 

Balqis hendak buka suara lagi, tapi Adam keburu meletakkan telunjuknya di bibir sendiri, mengisyaratkan Balqis untuk diam. Adam menunjuk weker di nakas. “Waktunya tidur, Dik. Percayalah, masalahku dan Andini tidak pantas kita perdebatkan, aku sendiri tidak suka mengobrolkannya lagi. Bisakah aku mendapat pengertian dari jelitaku?” tatapan Adam berubah sayu.

 

Balqis mengerjap.

 

Adam tersenyum penuh arti sebelum berujar lirih, “Sekarang, bisakah aku menerapkan usahaku untuk membuatmu hamil?” dengan jahil, Adam mengerling sambil menaik-naikkan alisnya. Ia sangat suka menggoda Balqis dengan tingkah seperti itu, suka melihat tiap kali Balqis bersemu merah.

 

Balqis luluh, lumer dengan rona merah di kedua pipinya. Ia berjalan menuju saklar, mematikan lampu kamar. Temaram lampu tidur di atas nakas menerangi sosok suaminya yang masih duduk menunggu sambil terus mengikuti geraknya dengan tatapan lembut menghangatkan.

 

Adam merenggangkan tungkainya ketika Balqis mendekat, memberi ruang bagi sang istri untuk masuk ke kungkungan tungkai bagian atasnya. “Hemm… dik, aku heran, bagaimana kamu selalu terlihat begitu indah setiap lampu kamar dimatikan?”

 

“Gombal,” desah Balqis sambil menempatkan diri di antara paha Adam yang merenggang.

 

“Sungguh,” Adam balas berbisik sembari meraih pinggang ramping Balqis, merapatkan sosok sang istri ke perutnya.

 

“Artinya, kalau di tempat terang, aku jelek? Gitu kah?” Balqis meremas bahu Adam dengan satu tangan sementara tangan yang lain bergerak di tengkuk sang suami, menyusurkan jemarinya hingga ke puncak kepala.

 

Adam tertawa lirih, lalu menggeleng. Ia semakin merengkuh Balqis untuk merapat. Tangannya membelai punggung Balqis, sesekali Adam menyapu bibirnya sendiri dengan ujung lidah. “Kalau di tempat terang, kamu bercahaya lebih kuat dari penerang itu sendiri. Kamu lebih bercahaya dari lampu manapun…”

 

Balqis tersenyum, “Gombal lagi…” bisiknya kian parau, kini tangannya berpindah dari bahu menuju dada bidang Adam, sementara jemari yang tadi bermain di kepala mulai turun menyusuri garis rahang dan berhenti di bibir Sang suami.

 

Balqis mengerang ketika Adam menundukkan kepala ke ceruk dadanya yang terbuka, gaun tidur Balqis berpotongan rendah di bagian dada. Balqis bergetar, Bibir Adam memberi sengatan listrik pertama ke tubuhnya. Satu tangan Adam bergerak turun dari punggung Balqis, menuju ke pinggul, sedang tangan yang satunya membelai pundak sang istri, menurunkan tali gaun tidur sang istri menuju siku.

 

Balqis bergerak, ia mengangkat satu tungkainya terlebih dahulu untuk mengapit pinggang Adam, diikuti tungkai satunya lagi kemudian. Kini ia berada di pangkuan Adam yang masih duduk di tepi ranjang, bertumpu lantai.

 

“Jangan lupa doa, Mas… moga jadi ibadah dan mendapatkan zuriat.” Balqis berbisik di telinga sang suami.

 

“Hemm…” Adam tersenyum, memeluk Balqis ke dadanya dan beringsut mundur lebih ke tengah ranjang. Sedetik kemudian mereka jatuh terlentang, bertindihan.

 

Bismillah… Allahumma jannibnas-syaithoona…

 

Dan untuk ke sekian kalinya, indahnya mahligai pernikahan mereka lakoni bersama, dengan doa, dengan pengharapan, dan dengan tawakkal pada Tuhan setelahnya terhadap apa yang diidam-idamkan, buah dari pernikahan itu sendiri. Mengarungi suka-duka pernikahan dalam biduk rumah tangga adalah cinta hakiki. Dan sudah dikabarkan, bahwa sesungguhnya pernikahan bernilai ibadah adalah pernikahan yang simbiosisnya membawa bahagia bagi pelakunya, bukan mudharat bagi salah satu atau bagi keduanya.

 

Dan Azhar Sadam Az Zulhan sangat tahu bahwa pernikahannya dengan Chuzaira Balqis Aritago bukanlah dan tak akan pernah menjadi secuil pun kemudharatan. Karena cinta, dan rasa saling melengkapi satu sama lain, menguatkan saat yang satu lemah, menenangkan ketika salah satu bergolak, seperti puzzle yang saling mengisi celah. Itulah cinta… begitulah seharusnya kado cinta bernama pernikahan itu…

***

Adam mengerjap, sinar matahari yang menerobos lewat jendela yang tirainya tersibak menyilaukan pandangan. Ia merenggang di pembaringan, lalu menatap sekeliling kamar. Hanya dirinya seorang, tak ada Balqis yang subuh tadi memanjakan sisa tidurnya lewat surah-surah yang ia baca di atas sajadah. Lamat-lamat Adam mendengar bunyi kucuran air dari kamar mandi, Balqis tentu sedang berbersih diri, bersiap-siap hendak menunaikan sumpahnya sebagai insan medis.

 

Adam turun dari ranjang, segera menyadari kalau Balqis belum membereskan sajadah dan mushaf yang tadi dibacanya bakda subuh. Adam berjongkok, membungkus mushaf dengan sajadah lalu bergerak menuju meja kecil yang merangkap rak buku di satu sudut kamar, berdampingan dengan meja kerjanya yang kadang juga dipakai Balqis mempelajari buku-buku tebal dunia kedokteran.

 

Adam menaruh mushaf sekaligus sajadah yang membungkusnya di atas meja kecil. Beberapa buku yang sering dibawa Balqis tampak menggeletak acak di atas meja. Adam menyusunnya satu-satu ke rak. Ia tertarik pada satu buku yang di sampulnya tertulis rapi dengan tulisan tangan Balqis. AZDAMALQISTA. Demikian deretan huruf besar di sampul buku itu terbaca. Adam mengernyit? Beberapa detik kemudian, ia meyakini bahwa tulisan di sampul buku kecil itu adalah peleburan namanya dan nama Balqis.

 

“Ternyata istriku kreatif…” Adam tersenyum, hampir dua tahun menikah, ia tak pernah tahu kalau Balqis suka menulis. Buku itu dibukanya.

 

Kata siapa tulisan seorang dokter hanya bisa dieja oleh para apoteker? Ucap yang mengatakan tulisan dokter adalah yang terjelek di muka bumi tidaklah mutlak benar. Balqis seorang dokter, dan Adam tidak serta-merta memuji keelokan tulisan tangan dalam buku itu karena Balqis istrinya. Tidak. Adam akan tetap memuji dan mengakui kalau tulisan tangan Balqis begitu elok meski sekiranya ia bukan suami Balqis.

 

Adam mengucek mata dan mulai membaca. Apa yang ditulis balqis di halaman pertama sungguh membuatnya kian mencintai istrinya itu. Adam mengagumi sosok Balqis kian besar. Tulisan Balqis adalah kemurnian cinta seorang wanita kepada seorang pria, kemurnian cinta seorang istri kepada suaminya.

 

Suamiku lebih muda dua tahun dariku… tapi kedewasaan sikap dari ia yang memang telahpun dewasa tidaklah di bawahku. Dulu sebelum menikah, tidak sekalipun terbersit bahwa aku akan bersuamikan pria yang lebih muda, minimal sebaya. Namun begitulah lika-liku jodoh. Beruntungnya aku dapat adik kelas, hihihi…  Meski pandangannya demikian dewasa, nyatanya ia juga bisa menggemaskan semuda usianya dariku. Kadang konyol, dan menjengkelkan, dan kadang ngawur bahkan mesum, hihihi, tapi ia tahu kapan saatnya bertingkah begitu, tahu takaran dan batas dimana ia harus berhenti lalu menjadi dewasa kembali. That’s my husband, my man.

 

Cuping hidung Adam kembang kempis, ia tahu kalau istrinya telah menulis dengan jujur. Ia menuju halaman selanjutnya.

 

Hari-hari belakangan ini, aku sedang menyukai sebuah senandung. Senandung yang mengingatkanku ketika Adam menyatakan perasaannya untuk pertama kali sekaligus langsung mengajukan dirinya menjadi suamiku. Rasanya masih menggelikan bila mengingat bagaimana aku refleks menampar pipinya ketika ia hendak menciumku setelah kalimat cintanya terucap. Menggelikan karena setelah itu aku malah menabrak dadanya, masuk ke pelukannya. Aku masih ingat kalimat yang bergulir dari bibirnya…

 

‘Tuhan menitipkan rasa cinta di hatiku ini untuk kuberikan padamu, Balqis. Percayalah, Aku adalah adam yang diciptakan bagi hawa sepertimu. Karena aku percaya, kamulah yang diciptakan Tuhan dari tulang rusukku. Balqis, kamu tidak punya pilihan apapun, selain dari menerima cintaku yang hebat ini. Jadi… menikahlah denganku…’

 

Adam tersenyum geli. Ia ingat bagaimana dulu melatih kalimat yang ditulis Balqis ini di depan cermin di kamarnya dari hari Senin hingga Sabtu, Adam melatih kalimatnya selama sepekan agar bisa memenangkan hati Balqis di malam akhir pekan, dan ia berhasil meski skenario cium pipi yang hendak ditampilkannya sebagai improvisasi membuat dirinya harus kena tampar. Adam masih ingat detil itu.

 

Tangannya membalik halaman.

 

Ah, itu adalah lafaz cinta paling agung dan paling optimistis dari sekian banyak lafaz cinta yang kuketahui, kubaca dan kudengar. ‘Tuhan menitipkan rasa cinta di hatiku…’ maknanya sama seperti senandung yang kusukai ini, cinta suci dimana Tuhan yang jadi saksi. Syair dalam senandung ini begitu indah dan padan. Kapan sempat nanti, akan kukenalkan senandung ini pada suamiku. Aku ingin ia tahu bahwa kami bagaikan gambaran dalam senandung. Setidaknya, aku ingin ia merasa bahwa aku merasakan diriku terhadapnya adalah seperti yang digambarkan senandung ini…

 

“Apa yang kamu ingin untuk kurasakan, Balqis?” Adam berlanjut ke halaman lain. Balqis mengisi halaman dengan paragraf yang pendek-pendek.

 

Cintai aku karena Allah, sayangi aku karena Allah

Kasihi aku karena Allah, miliki aku karena Allah

Bukan langit bukan bumi, bukan bulan matahari

Kau jadikan saksi cinta

Hanya Allah sang Mahacinta

Bukan harta bukan rupa bukan pula kehebatan

Iman dan taqwamu sayang

Mencintamu aku tenang

Kuingin menjadi surga dalam lembaran hidupmu

Kujadikan engkau imam

Bimbing aku jalan kebenaran

Cintai aku karena Allah

Kasihi aku karena Allah

……… (*)

 

Adam tersenyum dan berkata lirih, “Aku sudah merasakannya, Balqisku… bahkan sebelum kamu menyukai senandungmu ini…”

 

Tuhan telah mengirimkan bagiku seorang malaikat-Nya untuk melindungiku, membimbing langkahku. Seorang imam yang selalu berjalan di depanku. Janjiku untuk selalu menapak di belakangnya. Ikrarku untuk senantiasa membaktikan diriku padanya. Ia, panglima perangku yang gagah berani, ia raja yang tiap lakunya membuatku serasa jadi permaisuri tanpa selir. Aku ingin menjadi ratu baginya hingga maut…

 

Adam berbinar, disusurkan jemarinya di atas tulisan Balqis sebelum melanjutkan.

 

Surga seorang istri telah tersurat terletak di kaki suaminya. Azhar Sadam Az Zulhan adalah suamiku, jalanku untuk beroleh surga. Aku memang tak akan bisa menjadi seperti Tuan Fatimah yang begitu indah baktinya pada Sayyidina Ali suaminya, baktiku tak akan pernah sama selayaknya Siti Fatimah. Namun qalbuku telahpun bertekad, selama langkahku masih beriringan dengan langkah suamiku, selama ia masih mengimami tiap ruku’ dan sujudku, selama qiyam-ku tetap di belakangnya, akan kuperhambakan diriku untuknya. Seorang istri juga adalah hamba suaminya. Ia adalah juga kehormatan dan kemuliaan suaminya. Para istri juga ibarat perhiasan, perhiasan bagi para suami.

 

Dengan izinmu ya Rabb… Aku, dengan segala kedhaifanku akan berusaha menjadi perhiasan paling indah bagi suamiku… Aamiiin…!

 

Satu jeda di sela ibadahku sebagai hamba-Nya

Dan sebagai makmum suamiku

Balqis

 

Adam ingin melanjutkan membuka halaman berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi. Namun suara teriakan Balqis dari kamar mandi mengagetkannya hingga membuat buku kecil di tangan melesat jatuh ke lantai. Adam bergerak siaga menuju kamar mandi, tidak biasanya di rumah ada tikus atau kecoa. Kebanyakan wanita akan histeris bila terjumpa tikus atau kecoa, Balqis juga pasti sama. Adam sudah setengah jalan ke kamar mandi.

 

Namun, sebelum Adam berhasil mencapai pintu, Balqis sudah lebih dulu melesat keluar, test pack mengacung di tangan kanannya.

 

“Maaasss…!!!” Balqis melompat.

 

Adam nyaris terjengkang dihantam tubuh Balqis yang menerjangnya tanpa ampun. Jika saja Adam tidak segera bisa mengimbangi diri dan merangkul pinggang istrinya, mereka pasti sudah berserakan di lantai kamar saat ini.

 

“AKU HAMIL…!!!” Balqis menjerit, berganyut ke pinggang Adam saking euforianya. “GARISNYA GAK MINUS LAGIII…!!!” Masih berganyut pada Adam, Balqis menyosorkan test pack tepat di depan hidung suaminya.

 

“ALLAHU RABBI…!!!”

 

Tak peduli kalau test pack itu baru saja dikencingi Balqis, Adam menunduk hingga puncak hidungnya nyaris menyentuh ujung benda yang membuat Balqis bagai dilontarkan meriam perang dari kamar mandi sesaat tadi. Adam melotot besar melihat tanda tambah di depannya. Ingin saja ia turun keluar rumah lalu berlari keliling komplek sambil terus menggendong Balqis dan berteriak mengabarkan kehamilan istrinya pada semua orang. Namun Adam masih belum segila itu. Yang dilakukannya adalah menciumi Balqis bertubi-tubi hingga sang istri sesak napas dan terpaksa menghentikan ciuman itu dengan menyodokkan dengkul kirinya ke selangkangan Adam.

 

Adam tertawa sambil menurunkan Balqis. “Tuhan, akhirnyaaa…”

 

Balqis tersenyum, menatap test pack-nya sekali lagi dan berujar, “Ummi pasti bakal lari ke halaman para tetangga sambil bawa toa…”

 

“Dan bikin hajatan hari ini juga,” sambung Adam.

 

“Selanjutnya, pasti topik di pertemuan arisan Ummi mendatang adalah kehamilanku…”

 

“Dan gak mustahil kita bakal jadi bintang tamu khusus talk show interactive mereka,” lanjut Adam.

 

“Tak peduli masih terlalu dini, Ummi bakal sibuk nyari sepasang nama di buku bank nama bayi…”

 

“Dan ngotot kita harus make salah satu nama pilihannya itu saat aqiqah.”

 

“Hemm… dan mengapa buku notesku sampai menggeletak kayak gitu di lantai?” Balqis menunjuk bukunya yang menggeletak telungkup di lantai kamar.

 

“Suamimu baru saja membacanya,” jawab Adam mulus.

 

Dan jemari Balqis pun bergerak mulus memelintir kuping Adam, sang suami yang akan berstatus ayah setelah sembilan bulan ke depan…

 

 

Foot note :

(*)Lirik Cintai Aku Karena Allah – Novi Ayla KDI2

 

 

 

 

April Hebat 2013

Aku yang sedang melepas kangen

-n.a.g

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com