image

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Pertama sekali, aku ingin minta maaf kepada para sahabat yang sapaannya tak kupedulikan, yang pesan dan mentionnya pernah kuabaikan, via twitter atau via email atau via ponsel. Maaf, aku jadi brengsek beberapa waktu lalu.

Semoga para sahabat saat ini kutemui dalam keadaan sehat walafiat tak kurang suatu apapun, tak kurang sembako, tak kurang sandang juga tidak kekurangan pangan apalagi sampai kekurangan diajar. Semoga para sahabat kudapati dalam kondisi bahagia serba kecukupan.

Ehem, apakah ada diantara para sahabat yang merindukan Nayaka Al Gibran melebihi rasa rindu kepada pacar sendiri? Jika ada, putuskan saja pacarmu dan jadilah pacar Nayaka.😀

Aku rindu menulis lagi, maka aku pun menulis. Maafkan aku yang membuat blog ini terbengkalai sekian lama. Tapi begitulah hidup, kita tak tahu kapan akan berada pada satu keadaan/masa yang mengharuskan kita berhenti sejenak, istirahat dan menarik napas dalam, mengangkat semua lelah, mengumpulkan energi baru. Anggap saja itulah yang terjadi pada Nayaka lebih sebulan ke belakang. Trimakasihku kepada para author yang masih mau bertahan, aku menghargai usaha kalian demi menghidupkan blog yang sudah ‘bagai kerakap di atas batu’ ini. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Lama tidak menulis bukan berarti sekalinya megang pena inspirasi langsung lancar dan cerita tertuang tanpa hambatan, tidak. Lama tidak menulis tidaklah membuat inspirasi mengendap dan bertumpuk untuk dituang dalam tulisan saat kembali menulis. Itu tidak terjadi padaku. Justru kebalikannya, aku merasa asing dengan keyboard, kagok dengan jariku sendiri yang rasanya kaku. Proses editingku lebih panjang di cerpen kali ini. Yah, begitulah jika seorang penulis amatir sudah lama tidak mengasah bakatnya yang pas-pasan. Meski proses ngeditnya lama, hasilnya tidaklah bisa dibilang sempurna, jadi… beri aku teguran.

Aku menyelesaikan cerpen ini lumayan lama, satu minggu penuh. Itupun setelah menguras stok ide yang sememangnya tidak pernah ada yang luar biasa, semua ide tulisanku amat sangat standar, mainstream. Namun yang namanya sudah kepalang rindu, ya hajar saja, urusan gak ada yang baca atau gak ada yang suka nanti belakangan diurus, yang penting ceritanya jadi dan rindu pun terpuaskan. Lalu, aku pun berhasil menyelesaikannya.

Bagi yang mau baca, silakan dibaca. Yang enggak mau baca tapi udah terlanjur dibuka, hehehe… ini dia masalahnya guys! Nayaka memang bukan ibunya Malin Kundang yang kutukannya langsung jadi kenyataan, meski begitu bukan berarti Nayaka gak boleh mengutuk. Maka, bagi yang udah buka page ini tapi gak baca, aku sumpahin (tanpa pandang kelamin) mencret selama sisa hidupnya.

Last, semoga kalian menikmati membaca ON THE RAINY DAY seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

*Halaman bertanda dari buku catatan Faruq M. Qudsy*

Hujan kembali menyambangiku sore ini, tempiasnya balik lagi menjamah kaca jendelaku. Hujan yang lain dengan hujan yang waktu itu. Bukan hujan yang sama, hanya luruhnya saja dari langit yang sama. Hujan hari itu adalah hujan hari itu, dan hujan hari ini adalah hujan hari ini…

 

Aku amat sangat patut berterima kasih pada hujan yang datang hari itu. Satu kali dalam hidupku hujan pernah membawa padaku seorang insan yang kuyakin akan kuingat dan kukenang seumur masaku. Insan yang sorot matanya pernah membekukanku, yang akrab sapanya telah merobohkan asing satu sama lain saat itu, yang manis lengkung bibirnya sanggup memenjarakan bingkai rupanya dalam jarak pandangku. Tawanya akan selalu terekam dalam memoriku. Ia yang hangat punggungnya pernah menjalari dadaku, yang aromanya sempat mengakrabi penciumanku dalam rinai gerimis dan gerak laju. Dan eratku padanya seakan baru saja terjadi gerimis tadi.

Rasanya aku tak akan pernah lupa hari itu, 27 Nopember tiga tahun yang lalu. Ah, seharusnya aku menulisi lembar ini dari dulu. Dari sejak diriku mengalami malam-malam gelisah menjelang lelapku setelah gerimis itu, berharap sosoknya hadir dalam lenaku. Sejak aku kerap memperlambat langkah di depan emperan kedai photo copy, berharap menemukan dia di sana duduk di atas sadel motornya. Sejak mataku tak bisa lepas menatap lalu-lalang motor besar dengan pengendaranya yang berkaos putih, berharap jika salah satu dari sekian banyak pengendara bermotor dan berkaos sama itu adalah dirinya. Sejak aku sering sengaja pulang sore ketika warung-warung tenda mulai beroperasi, berharap melihat sosoknya di dalam salah satu tenda sedang mengunyah martabaknya. Pun seharusnya aku sudah menulisi lembar ini sejak hujan pertama setelah hujan hari itu. Tapi aku tak menulisnya.

Namun apa bedanya, jika hingga saat ini dan pasti masa-masa mendatang pun aku tak akan lupa detilnya? Bahkan kalaupun aku tak mencoretnya, ingatanku tak akan mengkhianatiku dengan menghapusnya dari batok kepalaku. Ia telah menjadi senyawa dalam diriku, senyawa yang tak bisa dipisah lagi.

Satu-satunya saat dimana aku tahu seperti apa rasanya jatuh cinta teramat dalam adalah ketika melihatnya. Itu bukan kagum, bukan perasaan tertarik sesaat, yang kurasa saat itu adalah bahasa hati… hingga kini. Aku tidak lagi mendapati diriku berada dalam suasana hati yang sama ketika bertemu orang lain pada hari-hari setelah bertemu ia. Mungkin hingga nanti aku menutup mata, aku tidak akan jatuh cinta pada seseorang sehebat saat itu lagi. Mulukkah aku? Entahlah, yang aku tahu sejak gerimis itu hingga saat aku menulis ini, ia adalah arti cintaku, definisiku tentang jatuh cinta yang sebenarnya…

Dengan amat teguhnya aku berkata, ia satu-satunya insan yang akan menghuni hatiku hingga habis jatah udaraku. Maafku untuk siapapun nanti yang memaksa masuk dalam hatiku, maaf karena siapapun itu tak akan bisa masuk ke sana seperti ia yang kutemui saat hujan, si siapapun itu hanya bisa masuk dalam hidupku saja, tidak dalam hatiku.

Wahai insan yang tak kukenal namanya, saat ini pada angin untuk tak terhitung kalinya aku berbisik… aku mencintaimu. Wahai insan yang hanya kutemui pada setengah hari, masih pada angin aku berkisah… aku akan ingat dirimu sampai bila-bila masa. Wahai insan yang tak kutahu beradanya, selalu pada angin jua aku berkeluh-kesah… aku merindukanmu pada setiap kejapan.

Andai Tuhan sudi bermurah hati untukku, meski terlarang… izinkanlah takdirku dan takdirnya bersilangan satu kali lagi. Andai Tuhan sudi bermurah hati sedikit lagi, meski salah aku berdoa… suratkanlah bahwa aku dan dirinya untuk saling mencinta.

Apakah selamanya? Aku, ia, hujan dan gerimis akan terikat dalam satu simpul bernama kenangan…?

***

27 Nopember…

Melalui jendela kelas, Faruq menatap gusar pada gumpalan awan hitam yang mulai berarak menutup langit di atas sana. Guruh mulai bergema sayup di utara, tidak boleh tidak, di kawasan dimana rumahnya berada itu pasti sudah lebih dulu diguyur hujan. Dari kepekatan cakrawala yang terlihat di utara sana sudah pasti hujannya amat sangat lebat.

Sudahkah Mama mengangkat jemuran? Faruq membatin, bukan apa-apa, hanya saja seragam olah raganya untuk besok tadi pagi sempat dilihatnya berada diantara cucian kotor yang dibawa sang mama ke bilik cuci.

Saat bel berdering dan para siswa berhamburan keluar, Faruq bergegas. Dia mempercepat langkah menerobos warna abu-abu yang memadati koridor begitu berhasil melewati ambang pintu. Dia harus segera sampai ke pangkalan ojek yang letaknya lumayan jauh dari gerbang sekolah. Masa-masa beginilah Faruq akan merutuk habis-habisan kenapa papanya harus membangun rumah di kawasan yang tidak dilewati angkot, apalagi bus sekolah. Transportasi ke daerah rumahnya kalau bukan ojek yang di musim hujan begini kerap naik tarif maka pastilah becak. Dan Faruq benci naik becak, dia selalu merasa jadi ibu-ibu dengan keranjang belanjaan penuh daun singkong atau kangkung bila berada di dalam kanopi becak. Begitulah, ojek adalah pilihan terbaik baginya hingga kini.

“Buru-buru, Zam?”

Faruq menoleh pada teman yang mensejajari langkahnya begitu menginjak halaman, tanpa bersuara dia menunjuk langit. Si teman tertawa.

“Makanya bawa payung!” cetus si teman sambil menaikkan tudung jaketnya lalu melangkah lebih cepat melewati sosok-sosok bergerak di hadapannya.

Faruq berpikir sejenak, lalu berteriak, “Pan, bareng siapa? Aku nebenglah, ya?” dia berusaha mengejar. Andai setelahnya tahu bahwa ia akan menyesal telah meminta begitu, Faruq pasti tidak akan berteriak pada siswa yang selalu pulang melewati depan rumahnya itu.

Taufan –anak super badung di kelas mereka- berhenti lalu menoleh, “Sayang sekali, sejak dibelikan motor oleh ayahku, aku sudah bersumpah bahwa yang boleh naik di boncenganku adalah siswa yang pake rok.” Taufan menyeringai, “Aku tidak melihat kamu pake rok, Zam.”

Dan begonya, Faruq malah menunduk menatap celana abu-abunya. Sial. Dia bersumpah tidak akan memberikan contekan lagi buat makhluk tak tahu balas budi di depannya ini.

“TAUFAAAN…!!! BURUAAAN…!!!”

Satu teriakan melengking diikuti dengan suara guruh petir setelahnya, membuat Faruq membawa perhatian ke sumber suara. Yah, tentu saja. Mengapa dia bisa lupa bahwa meski badung Taufan sudah laku? Di arah parkiran, Khoiriah Atiqah Khamsah tegak berkacak pinggang ala pose supermodel di red carpet. Sudah hampir enam bulan ini kakak kelas setahun di atas mereka yang seksinya selangit itu menjadi pacar Taufan. Beda usia tak masalah, meski pada kasus Taufan ceweknya yang lebih tua, kakak kelas.

“Iya, Beib… I’m coming…!”

Huh, sok Inggris. Padahal pekerjaan rumah pelajaran satu itu selalu diperolehnya dariku. Dasar cunguk. Faruq mendumel sendiri dalam hati. Tampang sih boleh cakep, tapi kalau otak nol gede apa menariknya?

Namun sedetik kemudian Faruq merasa miris sendiri ketika menyadari bahwa dia juga amat sangat kerap mengkhayalkan teman badungnya itu di kamar mandi, dan khayalan itu tidak satu kali pun gagal membuat dirinya lemas beberapa menit setelah jari-jarinya diam, selalu berhasil. Ah malangnya.

“Tuh, Zam…” Taufan mencolek lengan Faruq lalu menunjuk pacarnya yang belum hilang reumatiknya –Atiqah Khamsah belum menurunkan kacak pinggangnya, “Yang kayak itu tuh yang pake rok.”

Segera, Taufan meninggalkan Faruq untuk mendapati pacarnya dan lalu menghilang.

Faruq menghembuskan napas kecewa, dia hanya membuang-buang waktu. Tapi setidaknya apa yang terjadi sesaat tadi makin menyadarkannya bahwa Taufan hanya bisa dikhayalkan dan dikagumi fisiknya, tidak untuk diharapkan dapat dimiliki lebih dari itu.

Genteng sekolahnya mulai mengeluarkan bunyi tik tik tik, beberapa seru panik mulai menggaung. Faruq mendongak langit sekilas lalu, kemudian mulai berlari sambil memegangi tas selempangnya di atas kepala.

*

Rintik segera berubah menjadi bak cucuran atap sesaat setelah Faruq melewati gerbang sekolah. Andai rumahnya tidak berada di utara, pasti begitu melewati gerbang dia bisa langsung menyosor pintu salah satu bus sekolah yang sudah berderet di luar pagar seperti yang dilakukan kebanyakan temannya, atau bila ke utara sana ada angkot yang melewati tentu dia akan dengan ikhlas hati pergi bernaung di halte bagus di dekat gerbang sekolah seperti yang juga dilakukan oleh sebagian besar temannya.

Apakah sudah saatnya aku merengek pada Papa minta dibelikan motor? Rengekan macam apa yang paling ampuh dan berefek paling cepat?

Faruq berlari cepat meninggalkan gerbang sekolah sambil menimbang-nimbang rengekan seperti apa yang akan dilakukannya ketika tiba di rumah. Tapi sepertinya ini bukan hari baiknya…

CRAAAPPP

“BANGSAT…!!!”

Faruq urung memikirkan lebih lanjut jenis rengekan yang akan dilakonkannya di depan sang papa, baru saja dia memaki pengendara motor yang melaju kencang dan tentu saja mengalahkan laju larinya di bahu jalan. Ciprat air hujan dari jalan berlubang nyaris menyerbu masuk lubang hidungnya. Dari memaki pengendara motor –yang sudah tentu tak mendengar carut-marutnya- kini Faruq mengutuk pemerintah kabupaten yang tak kunjung menambal jalan –juga tak mungkin terdengar oleh mereka yang duduk oncang-oncang kaki di kursi empuk di kantor-kantor pemerintahan.

Basah sudah. Mengurungkan niat untuk terus berbasah-basahan menuju pangkalan ojek, Faruq melesat berteduh di emperan kedai photo copy yang setengah pintu besinya sudah tertutup. Kedai photo copy itu sebuah ruko, ada hunian di lantai atasnya. Faruq berteduh bukan untuk menyelamatkan seragamnya, hanya mencegah isi tas selempangnya lebih basah lagi.

Pria paruh baya pemilik ruko sedang membereskan kedainya. Melihat Faruq memasuki emperannya, ia tersenyum. “Tidak bawa jaket, Nak?” basa-basinya ramah.

“Gak terpikirkan, Pak… tadi pagi cerah banget, gak nyangka bakal hujan.” Faruq mengibas-ngibaskan rambut dan kerah seragamnya, “Bapak udah mau tutup, ya? Cepetnya…,” Faruq melanjutkan sambil melonggarkan dasi abu-abunya.

Si bapak kembali tersenyum, “Hujan gini juga, Nak. Dari tadi pagi memang sudah sepi, sepertinya hari ini guru-guru tidak memberikan tugas photo copy buat para siswa…” si bapak mulai menarik sisa pintu besi kedainya.

Faruq tersenyum simpul lalu manggut-manggut, “Gak apa ya, Pak, saya berteduh di sini…”

“Ya silakan, Nak…”

Sosok pria setengah baya itu tak tampak lagi seiring dengan bunyi gesekan pintu besi rukonya yang bergerak merapat.

Guruh menggelegar didahului kiblatan cahaya bak blitz kamera super hebat di ruang kecil dan gelap. Faruq mengkeret. Teringat olehnya akan berita yang beberapa hari lalu sempat dibacanya di koran lokal langganan papanya. TIGA ORANG REMAJA KRITIS SETELAH DIPETIR KETIKA BERTEDUH DI EMPER TOKO, begitu judul beritanya. Analisa yang dimuat di koran tersebut, sambaran petir dipicu oleh ponsel para remaja itu yang berada dalam modus aktif saat petir menjamah mereka.

Kalang kabut, Faruq merogoh saku lalu bernapas lega begitu selesai me-nonaktif-kan alat komunikasinya sebelum blitz selanjutnya datang. Membayangkan dirinya hangus dijilat petir membuat Faruq yang memang sudah kedinginan sejak tadi makin menggigil saja. Dia bergidik.

Faruq merapat ke pintu besi, memeluk dada, berdoa agar para petir tidak memilihnya sebagai sambaran mereka pada hujan kali ini. Berharap agar hujan segera reda agar ia juga bisa segera naik ke boncengan tukang ojek menuju ke utara.

Kriuuuk kryuuuuk cruuuiiit

Oh Tuhan. Sudah dingin, menggigil, nyaris basah, kini ditambah cacing yang melolong lapar minta jatah makan siang mereka. Komplit sudah. Lengan Faruq yang sedari tadi bersidekap dada kini turun melingkar di perut. Andai dasinya adalah selapis cracker panjang dan renyah, Faruq tak keberatan memasukkan dasinya itu ke mulut. Atau andai sepatunya adalah steak alot yang susah dikunyah pun Faruq tak akan sungkan untuk menelan sepatunya itu langsung tanpa dikunyah. Namun sayang dasinya tetap adalah secarik kain abu-abu tak mungkin berubah jadi cracker meski diungkep seratus tahun bersama keju cheddar seratus kwintal, dan sepatunya tetaplah menjadi sepatu saja meski diiris-iris dan dimasak bersama daging beneran dalam kuali besi hingga tabung gas kosong oleh seorang chef paling profesional di muka bumi, tak akan berubah jadi steak.

Ah, perut lapar membuat pikiran yang punya perut sedikit hampir sama dengan pikiran penghuni bangsal di rumah sakit jiwa.

Faruq menatap bergantian antara dasi yang menjulur ke tengah dadanya dan sepasang sepatu di kakinya, menimbang-nimbang manakah diantara kedua benda itu yang terlebih dulu akan dicicipi jika kudeta cacing atas lambungnya naik level.

Saat sedang asyik menimbang-nimbang antara dasi dan sepatu, sebuah motor dengan derumannya yang garang melesat bagai anak panah membelah deras hujan dan langsung naik ke emperan ruko tempat Faruq bernaung. Bannya yang beradu dengan ubin berdecit kencang karena laju motor direm kuat-kuat oleh si pengendara. Ban depan motor yang gedenya naudzubillah itu berhenti tepat selangkah dari ujung sepatu Faruq. Sedetik tadi, Faruq nyaris mengangkat kedua tangannya untuk berteriak ‘HOOOOO…!!!’ dan ‘SETOOOOOPPP…!!!’ sekencang-kencang yang dia bisa, tapi urung karena si pengendara lebih dulu menginjak rem kaki dan menarik rem tangan. Bokong motor gede itu sampai harus terangkat, menimbulkan celah beberapa inchi antara ban belakangnya dengan ubin emperan. Mesinnya spontan mati.

Tak jadi mengangkat tangan di udara, kini lengan Faruq kembali naik ke dada, berusaha menenangkan dentuman jantungnya yang tadi sempat hampir copot. Sesaat tadi, bayangan mati dalam keadaan perut lapar sudah menghantui pikiran Faruq. Dalam hati, Faruq memaki-maki pengendara sialan yang masih berada di atas motor jahanam di depannya. Meski dalam hati, carut-marutnya kali ini lebih banyak dan lebih hebat daripada saat dia memaki pengendara motor yang nyaris meng-irigasi lubang hidungnya ketika berlari di bahu jalan, lebih banyak dan lebih hebat pula dibanding makiannya terhadap pemerintah kabupaten yang tak kunjung merehab jalan. Makian dalam hati itu diakhiri dengan :

…dasar orang buta, gak punya mata, bawa motor kayak anjing gila, manusia gak tahu aturan, udah gitu berteduh di sini lagi… bukannya cari emperan lain. Manusia gak tahu aturan, bawa motor kayak anjing gila, gak punya mata, dasar orang buta, … noh, masih banyak emperan yang lain…

Namun kemudian sumpah serapah itu menguap entah kemana ketika si pengendara melepas helmnya, menatap Faruq sambil sedikit tersenyum tak berdosa. Tak tahu saja kalau dirinya hampir membuat anak orang mati kaget beberapa detik tadi.

Tatapan dan senyum si pengendara itu tampak begitu ramahnya di mata Faruq. Si pengendara mencantel helm di satu stang motor diikuti mini bag seukuran tas pinggang di stang yang lain, lalu bergerak turun. Selanjutnya, dia menggeser posisi motor gede itu dari vertikal menjadi horizontal dengan posisi berdiri Faruq, si pengendara memasang cagak dua, sama sekali tidak terlihat kepayahan dengan bobot motor yang bukan main itu.

Faruq lupa bagaimana cara berkedip. Pengendara motor di depannya tentu saja seorang lelaki. Posturnya persis seorang perwira muda, takaran ototnya begitu pas. Tinggi dan jangkung, tungkainya atletis, dadanya bidang, bahunya lebar, lehernya kokoh. Yang membuat saraf motorik Faruq semakin lupa memerintah kelopak matanya untuk bergerak menutup adalah wajah pemuda si pengendara.

Faruq belum pernah melihat wajah semenakjubkan itu, paras-paras tampan di layar tivi yang dihapal Faruq tak ada yang seperti pemuda ini. Wajah pemuda si pengendara begitu hati-hatinya dipahat Tuhan, tak ada cela, tak ada cacat.  Rahangnya begitu persegi khas lelaki, bulu-bulu halus mengantri rapi membingkai sisi wajahnya kiri kanan dan sedikit berkerumun di ujung dagu, sangat pas dengan rambutnya yang dipangkas gaya lelaki sekali : tipis di sekeliling dan lebat berombak di atas. Bibirnya demikian berkarakter, sensual yang maskulin, bagian atas yang tipis dan bagian bawah yang sedikit lebih bermassa dari bibir atasnya, merah muda warnanya.

Pasti bibir itu tak pernah diobok-obok nikotin, Faruq membatin.

Tatapan Faruq berlanjut ke hidung. Hidung si pemuda demikian mancung, tulang hidungnya menonjol di pertengahan garis wajah, seperti hidung kebanyakan aktor Bollywood. Faruq kehilangan kata-kata begitu sampai pada mata si pemuda pengendara. Indah dan bagus saja sungguh tidak cukup untuk melabeli seperti apa mata si pemuda. Matanya lebih dari sekedar indah dan bagus, dilindungi alis tebal dan hitam yang berbaris rapi di atas matanya kiri kanan.

Lelaki ini adalah bidadara.

Faruq hanya menemukan kata ‘bidadara’ untuk menyimpulkan segala keindahan pada lelaki yang tadi dalam hati sempat dikatainya sebagai anjing gila. Faruq teringat sebuah kalimat, tak ada manusia yang sempurna. Apakah yang dimaksud oleh ungkapan itu adalah keadaan fisik? Jika iya, ungkapan itu jelas salah, karena sekarang Faruq melihat langsung bukti nyata bahwa ada manusia yang sempurna, physicly. Kecuali makna ungkapan itu lebih kompleks, bukan fisik saja yang dimaksud.

Tiba-tiba saja Faruq meragu. Apakah tadi pagi dia sudah benar-benar bangun dari tidurnya? Mungkin saja saat ini dia sedang bermimpi bertemu angel without wings. Faruq menggigit bibir bawah dan membelalak sendiri dengan sakit yang ditimbulkan gigi taring pada bibirnya. Faruq semakin sadar bahwa dia memang tidak sedang berada di tempat tidur ketika untuk kesekian kalinya kilat berkilau diikuti guntur membahana beberapa detik setelahnya.

Aku sungguh-sungguh berjumpa bidadara.

Setelah memastikan motornya terparkir sempurna, pemuda itu menoleh Faruq yang masih bengong dengan posisi berdiri yang tidak berubah, “Hujannya gila, gede-gede banget jatuhnya. Aku nyerah, gak sanggup nerobos lagi…” ujar si pemuda sambil menurunkan zipper jaket yang dipakainya. “Kilatnya juga mengerikan, zap zap gitu kayak di studio foto…” jaket yang sudah berhasil dilepasnya basah total sampai menetes-netes.

Faruq merasa telinganya dimanjakan habis-habisan oleh suara si pemuda. Apa sebutannya? Bariton kah? Keraton, atau maraton? Apapun, yang pasti Faruq suka bunyi yang dikeluarkan oleh getaran pita suara si pemuda. Dan satu lagi, dia suka barisan putih rapi yang terlihat setiap kali si pemuda membuka mulutnya.

“Ah, basah sampai ke kolor-kolorku…” lirih si pemuda lagi sambil sekilas memandang ke selangkangannya sebelum mulai memeras jaket.

Refleks yang tak bisa dihindarkan meski harus berakibat wajah merona setelahnya, Faruq ikut melirik ke selangkangan si pemuda.

Damn… jantannyaaa…! hati Faruq menjerit histeris, celana dalamnya menyentak satu kali.

Merasa cukup memeras, si pemuda menyindai jaket itu di atas kedua stang motornya.

Faruq baru sadar akan kondisi si pemuda –yang diduganya seorang perwira- yang basah seluruhnya, sebelumnya dia kurang memerhatikan karena terhipnotis akan paras rupawan yang belum pernah ditemukannya pada sosok lain ditambah sesaat tadi panas dingin mendapati bagian meninggi di celah paha si pemuda. Kaos putih si pemuda lengket ke badan karena basah, mencetak garis dada dan perutnya. Faruq bisa melihat kalau air juga terus menetes-netes di ujung celana denim orang di depannya.

Dia benar-benar menerobos hujan.

“Oh hujan, lihat apa yang kau lakukan pada kaosku…” lagi-lagi si pemuda berucap lirih, bicara sendiri. Dia masih belum menoleh lagi pada siswa SMA yang mengacung bagai patung sambil memeluk dada satu meter di sebelahnya. Tanpa canggung, ia mencengkeram tepi badan kaosnya lalu menariknya ke atas, meloloskannya melewati kepala. Kini pemuda itu bertelanjang dada di emperan ruko orang. Ada tali hitam berbandul miniatur kunci dan peluru yang melingkari pangkal lehernya, terlihat seksi. Badannya bersih, tidak tampak satu goresan parut pun di sana, tidak juga ada tatoo.

Faruq sesak napas, bagai ada karet ban yang mengganjal di kerongkongan. Jakunnya yang belum begitu menonjol bergerak naik turun. Ini bukan curi-curi pandang, ini melihat terang-terangan. Faruq terang-terangan melihat bagaimana lengan pemuda di depannya itu mengeras saat memeras kaosnya, gelang besi pipih bergandengan dengan jam tangan –yang pasti water resistant– di lengan kanan si pemuda menambah daya tarik. Faruq jelas-jelas memperhatikan bagaimana otot dada dan perut si pemuda mengetat ketika memeras kaosnya. Yang paling mencuri perhatian, tentu saja ban celana dalam si pemuda yang muncul di atas pinggang celana luarnya. Faruq merinding begitu menemukan barisan bulu halus turun dari arah pusar si pemuda dan lenyap bersembunyi di balik ban celana dalamnya.

Tiba-tiba pemuda itu menoleh lagi pada Faruq, sedikit tersenyum sebelum menyentakkan kaos yang baru saja diperasnya di udara, menerbangkan sisa-sisa air sekaligus sedikit merapikan kusut bekas perasan. Sentakan itu mengeluarkan bunyi keras yang membuat Faruq berkedip –sepertinya untuk yang pertama kali sejak kemunculan si pemuda.

“Baru pulang sekolah, Dik?” setelah dari tadi selalu seperti sedang berbicara sendiri, sekarang si pemuda menujukan ucapannya langsung buat siswa SMA di sebelahnya.

Faruq cuma menekuk lehernya sedikit, memberi sebuah anggukan tak sempurna.

Pemuda itu tersenyum, lebih lebar kali ini. “Kamu enggan bersuara untuk pertanyaan bodoh ya…” sekarang dia tertawa pendek. “Yah, aku sadar kalau pertanyaanku memang bodoh. Dengan seragam seperti itu di jam segini, tidak mungkin kamu baru saja mau berangkat ke ladang.”

Tidak merespon kalimat si pemuda, Faruq malah merasa kecewa karena yang punya kalimat mulai mengenakan kembali kaosnya.

“Kelas berapa?” ternyata si pemuda sungguh-sungguh ingin mengajak ngobrol siswa SMA di sebelahnya yang masih tegak diam.

Faruq berdehem, berusaha merilekskan lidahnya sebelum mengeluarkan suara untuk pertama kali. “Sedang menghabiskan bulan-bulan di kelas dua…”

Faruq melihat pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiga kali, Faruq menghitung.

“Apakah IPA?” pertanyaan selanjutnya dari si pemuda yang sekarang sedang berjongkok untuk membuka simpul tali sepatunya.

Faruq ingin mengangguk, lalu sadar kalau pemuda yang sedang fokus pada sepatunya itu tidak akan melihat anggukannya. “He eh…” gumamnya pendek, berharap si pemuda mendengar sengau dari hidungnya itu.

“Tentu saja, wajah-wajah kayak kamu itu cerminan siswa yang berotak encer, pengidola Einstein, iya?” dia menoleh sekilas sebelum melanjutkan membuka sebelah lagi sepatunya, lalu berucap, “Semester kemarin dapat rangking berapa… Faruq Muzammil Qudsy?”

Mata Faruq membundar, pemuda di depannya tersenyum lebar sambil menggerakkan dagunya ke dada kiri Faruq.

“Rangking berapa?” ulangnya sambil berdiri, sepatunya di sandarkan terbalik dengan ujung menghadap ke atas di pintu besi ruko.

Faruq lebih dulu menunduk menatap dada kirinya dimana terdapat tempelan kain kecil yang memuat huruf-huruf penyusun namanya, jelas terbaca. “Aku tak mau dikira hendak menyombong…”

Si pemuda tertawa lebar, tapi kontan terputus ketika gelegar petir membahana hingga terasa menggetarkan pijakan. Mereka berdua sama terperanjat.

“Menyombong itu, bila kamu langsung bilang ‘Eh, aku rangking satu loh’ pada orang asing tanpa ditanya lebih dulu…” ujar si pemuda setelah kagetnya lenyap.

Faruq semakin menyukai sosok di depannya.

“Jadi, rangking satu?” si pemuda ingin meyakinkan.

“Guru-guru tidak punya siswa lain yang rapornya layak untuk diberikan angka itu selain aku…”

“Nah, itu baru menyombong.”

Untuk pertama kalinya sejak berdiri di sini, Faruq tertawa. “Sengaja…”

Bibir si pemuda melengkung lagi, “Pintar sombong itu wajar, Dik… yang kurang ajar adalah merasa diri lebih pintar dari orang lain lalu berfikir layak untuk menyombongkan diri… padahal itu hanya baru merasa diri pintar, tidak benar-benar pintar.”

Faruq menggeleng, “Gak setuju, pintar lalu sombong tetaplah sesuatu yang tidak baik. Meski wajar, itu adalah kewajaran yang buruk…” Faruq menurunkan lengan dari memeluk dada. “Seharusnya, kehidupan kita jangan membenarkan sifat buruk bermodal kelebihan sebagai suatu kewajaran, jangan menyebutkan sifat buruk yang timbul kemudian setelah punya kemampuan lebih sebagai sesuatu yang wajar, langsung aja sebut kurang ajar…” Faruq merasa kalau kalimatnya tidak efektif, tatapan pemuda di depannya yang membuat kalimatnya tak efektif.

Si pemuda berdecak, “Adik Muzammil Qudsy… kamu layak dapat rangking satu!” jempolnya mengacung.

Faruq tersipu canggung. “Emm… Kakak ini tentara ya? Polisi muda barangkali?” Faruq ingin menjawab rasa ingin tahunya sejak tadi.

Alis lebat si pemuda bertaut, “Darimana kamu menyimpulkan begitu? Aku ada tampang sangar ya?”

Faruq berkedip cepat beberapa kali, “Tampang sangar itu preman pasar, Kak.”

Tawa pendek kembali keluar dari mulut si pemuda, “Ya, benar. Yang sangar-sangar itu memang kebanyakan jadi algojo pasar. Tapi tentara atau polisi yang bertampang sangar juga gak sedikit, kan?” dia mengambil mini bag dari stang motor, membuka resleting dan mengubek-ubek isinya.

Faruq tidak tahu apa yang sedang dicari si pemuda dari dalam tasnya, sungkan bertanya dia memilih memperhatikan saja.

“Heuh… lembab…”

Mata Faruq membulat lagi. Yang dikeluarkan si pemuda dari dalam tas kecilnya ternyata adalah sebungkus rokok dan pemantik. Perkiraannya di awal tadi bahwa si pemuda tidak terjamah nikotin berdasarkan warna bibirnya yang segar ternyata meleset. Pemuda ini adalah perokok.

Sebatang sigaret sudah terjepit di bibir si pemuda, dia berusaha menyalakannya, gagal. Pemantiknya tidak mau menyala. Berkali-kali mencoba tapi gagal melulu, dengan kesal si pemuda meremas bungkus rokoknya sekaligus pemantik sebelum mencampakkannya pada hujan. Rokok yang sempat dikeluarkannya tadi masih terselip di sudut bibir.

Faruq bersyukur si pemuda tidak bisa menyalakan rokoknya.

“Aku bukan polisi, Dik… apalagi tentara berseragam loreng. Aku masih kuliah.”

Mereka melanjutkan topik.

“Oh, seorang mahasiswa…”

“Apa aku tampak terlalu tua untuk menyandang gelar itu?” si pemuda bertanya masih dengan rokok lembab di bibir.

Sejenak Faruq diam, lalu menggeleng.

Rokok di bibir si pemuda disemburkan ke hujan. “Terlalu muda?” tanyanya kemudian lalu tertawa, “Aku melantur…”

Faruq ikut tertawa, “Yang bener, Kakak terlalu kebagusan kalau sampai memilih untuk jadi preman pasar.”

Tawa si pemuda meledak lagi. “Terus, kenapa tadi memilih menyebut polisi dan tentara?”

Faruq mengangkat bahu, “Postur Kakak mensugesti pikiranku untuk menyimpulkan kayak gitu…”

“Posturku?” si pemuda memandang dirinya sendiri.

“He eh, badan Kakak bagus. Kebanyakan perwira kan punya badan bagus…”

Faruq merasa dirinya terlalu berterus terang, tidakkah sebaiknya dia memberikan jawaban lain? Bayangan si pemuda yang sedang bertelanjang dada mengusik Faruq, zipper jeans si pemuda juga. Cukup untuk membuat bagian bawah pusarnya seketika mengeliat lagi.

Namun si pemuda tersipu sendiri mendengar perkataan anak di depannya. “Jadi kamu mau bilang, seharusnya mahasiswa itu berbadan ceking dan jungkring, begitu?”

Faruq menggeleng, “Pembicaraan kita mulai tidak jelas, mulai ngawur…”

“Yap, mungkin memang sedikit ngawur.” Si pemuda kembali mengobok-obok tasnya. “Dulu saat masih SMA sepertimu, aku sempat ingin jadi polisi…” ujarnya tanpa memandang Faruq.

“Apa yang terjadi?”

Si pemuda mengangkat bahu, dia sudah menemukan benda yang diinginkannya, ponselnya yang berbungkus plastik gula. “Menjelang tamat SMA, aku pernah kena tilang… gak punya SIM. Polisi yang nilang nawarin dua opsi, nebus di tempat dan langsung bebas atau ambil surat bukti melanggar dan nempuh jalur seharusnya yang bisa berhari-hari bahkan bulan…”

Faruq mendengarkan sambil ketar-ketir begitu melihat si pemuda mulai memencet-mencet ponselnya.

“Aku benci diriku sendiri karena milih opsi pertama. Lebih benci lagi sama polisinya…”

Faruq tertawa pendek, “Dan begitu tamat SMA cita-citanya ganti?”

Si pemuda menoleh Faruq, lalu mengangguk. “Saat ini aku sudah semester lima.”

Si pemuda mulai asik dengan ponselnya, Faruq mengkeret tiap kali kilat memancar terang. Dia enggan menyuarakan ketakutannya dengan menyuruh si pemuda mematikan alat komunikasinya. Hujan masih sederas saat pertama kali tumpah hampir setengah jam lalu, kilat dan gunturnya juga masih kerap. Faruq menatap gusar pada cucuran hujan dari kanopi yang memayungi emperan.

“Kamu tidak pegal berdiri terus di situ?”

Faruq menoleh, pemuda teman berteduhnya sedang berusaha duduk menyamping di atas sadel motor.

“Maksudnya, aku harus duduk di lantai ini?” Tanya Faruq sambil menunjuk lantai.

Pemuda itu tersenyum kecil, “Sadel motorku lebih enak ketimbang lantai itu…” dia menggeser duduknya lebih ke bagian depan motor, nyaris di atas tangki bahan bakar. “Kamu sudah lebih dulu berdiri di sini daripada aku kan? Bagaimana kamu bisa tahan?”

Faruq merasa mendapat tawaran menggiurkan, duduk bersebelahan dengan lelaki setampan pemuda di depannya, kapan kesempatan langka seperti ini akan terulang? Tidak berlebihan, pasti seribu tahun ke depan –jika dirinya panjang umur tentunya. Faruq sangat ingin memanjat ke atas motor itu, tapi dia masih berdiri mematung, menatap bergantian antara ponsel di tangan si pemuda dan hujan di luar kanopi ruko.

“Hei, Dik Muzammil Qudsy… kamu tidak akan terjungkal. Ayo naik kemari…” si pemuda memanggil –sambil menepuk sisi luang di sebelahnya- ketika menunggu siswa SMA di depannya tak kunjung bergerak.

Sejenak, dada Faruq menghangat mendengar bagaimana akrabnya panggilan si pemuda, ingin saja dia cepat-cepat meloncat ke sadel motor itu. Tapi benda di tangan si pemuda masih jadi sesuatu menakutkan baginya sekarang.

Pasti yang disambar bukan hanya yang memegang, yang di sebelahnya juga pasti terserempet…

“Dik…?”

Faruq mengangkat pandangan ketika dia dipanggil lagi, si pemuda juga sedang menatapnya. Mereka saling menatap, sebentar saja.

“Hhh… aku hanya orang asing yang sedang berusaha berbuat baik pada orang asing lainnya,” ujar si pemuda sambil tersenyum. “Ayo…!” kali ini, satu lengan si pemuda ikut terulur.

“Emm… aku takut disambar petir…”

Alis si pemuda nyaris bertemu, sampai saat itu tangannya masih terulur menunggu.

“Eengg… hape yang sedang aktif bisa membimbing petir untuk datang dan menyambar kita…” Faruq menyadari sepenuhnya bahwa kalimatnya barusan terdengar konyol sekali. Dan itu terbukti.

Sesaat kening si pemuda kian bertaut, namun sedetik kemudian dia terbahak hingga motor bergoyang. Tingkah si pemuda menegaskan kekonyolan ucapan Faruq.

Faruq merasa kian jadi si pandir seiring gelak pemuda di depannya yang kian jadi. Semenit. Faruq mulai gusar, tanpa senyum serta dengan mimik serius dipandangnya pemuda di atas motor lekat-lekat.

Ditatap sedemikian rupa ternyata membuat si pemuda kikuk sendiri. Berangsur-angsur tawanya melemah dan berhenti total. Kesadaran bahwa dia baru saja menyinggung perasaan seseorang muncul kemudian. Dia berdehem dan menyatukan telapak tangan di depan hidung sambil sedikit menundukkan wajah.

“Maaf…” ujarnya, tidak cukup jelas terdengar diantara gemuruh hujan.

Faruq masih diam, namun saat ini hatinya sedang memasuki musim semi. Melihat sikap si pemuda, bunga pun muncul dimana-mana, tentu saja diiringi gambar hati warna merah yang terus berlesatan dari matanya. (gambar hati dimaksud pasti akan jelas terlihat seandainya ini film kartun)

“Aku minta maaf…” si pemuda kembali berujar sambil melerai telapaknya. Sedetik kemudian dia memencet beberapa tombol di ponselnya lalu menunjukkan layarnya ke arah Faruq. Hitam. “Udah aku kasih mati hapenya, ngikutin punyamu yang sudah mati lebih dulu…” kembali dia tersenyum. “Adik Muzammil perlu aku bantu naik?” dia berlagak hendak turun dari sadel motor.

“Aku bisa.”

Faruq memanjat dengan mudah. Kini dia dan si pemuda sudah duduk berisisian di atas motor, cukup rapat. Berada sedekat ini dengan si pemuda membuat dada Faruq makin kencang berdetak. Berkali-kali dia sengaja mengendus udara dalam-dalam hanya untuk membuat diagfragmanya dipenuhi aroma orang di sampingnya, begitu enak. Bukan harum, tapi enak. Kata ‘enak’ dipakai untuk sesuatu yang bisa membuat nikmat, bisa dinikmati. Faruq menikmati aroma si pemuda, karena aromanya enak.

“Kejadian seperti yang dimuat di koran itu terjadi satu dalam sekian banyak kasus sambaran petir. Alaminya, petir akan selalu menyambar sesuatu yang lebih menjulang dalam satu area, begitu sih yang kutahu… dalam kasus remaja itu, anggap saja kecolongan, lagi nahas. Lagipula, menurut berita mereka kan berteduhnya di emperan yang lumayan terbuka gitu, sekelilingnya lapang. Lah kita diantara banyak bangunan tinggi gini.”

“Kakak baca berita itu juga?” Faruq menoleh, membuatnya dapat melihat dari dekat bulu-bulu halus di sisi wajah si pemuda.

“He eh, baca. Dan ketakutanmu menjadi masuk akal sih, yang disambar remaja sekolah juga kan?”

Faruq jadi tersipu sendiri, pemuda itu sedang menatapnya. Alih-alih menjawab, Faruq malah klemek-klemok bagai ayam patah leher. Kemudian, sesuatu yang memalukan terjadi begitu saja tanpa permisi lebih dulu…

KRIUUUK KRYUUUUK CRUUUIIIT CRUUUIIITT

“Heh?” si pemuda kontan memegang perutnya, lalu dengan lugunya berujar sendiri, “Bukan cacingku…”

Tiba-tiba saja Faruq ingin punya kekuatan seperti yang dimiliki Jessica Alba dalam Funtastic Four, dapat menghilang. Mukanya merah menahan malu luar biasa. Bagaimana tidak, kali ini cacingnya sungguh keterlaluan. Selain suaranya lebih membahana dari yang pertama tadi, juga lebih panjang durasinya.

Sialan, cacing jahanam. Tunggu pembalasanku bulan puasa nanti…

“Dik Muzammil belum makan siang?”

Faruq tahu, si pemuda pasti mati-matian menahan diri agar tidak tertawa ketika mengajukan pertanyaan ini. Terlihat dari otot wajahnya yang menegang membendung semburan tawa.

Faruq nyengir, menyelamatkan sisa-sisa malunya. “Hehehe… makan mie aja sih tadi…”

“Pake bakwan?”

“Pake risol juga…”

“Hemm…” si pemuda manggut-manggut. “Waktu SMA, aku juga sering makan mie pake bakwan atau risol. Meski porsinya banyak, tetep aja keroncongan pas bel pulang…”

“Kakak bilang begitu bukan untuk menyelamatkan malu-ku, kan?”

Si pemuda menggeleng, “Saat ini aku juga sedang lapar, maka tadi kukira perutku yang bunyi…”

“Ternyata cacingku lebih tak tahu tata karma ketimbang cacing punya Kakak…”

Mereka sama-sama tertawa.

Lalu hanya hujan, kilat dan petir saja yang mendominasi hingga beberapa menit kebersamaan mereka di atas sadel motor. Faruq diam sambil memeluk tas selempang ke dadanya, menatap cucuran air dari kanopi, sementara si pemuda menggosok-gosok bagian punggung ponselnya di atas pahanya yang berbalut jeans lembab.

“Lama sekali redanya…”

“Hemm…” si pemuda berhenti menggosok dan melirik jam tangannya. “Udah sejam lebih…”

“Makin lama kayaknya makin deras saja…”

“He eh, itulah mengapa aku gak sanggup nerobos lagi tadi, makin lama makin deras.”

Faruq menoleh, “Nerobos hujan tanpa mantel itu sama dengan nyiksa diri… terpapar dalam hujan terlalu lama kan bisa ngundang banyak akibat buruk.”

Si pemuda tersenyum, “Aku sedang dinasehati anak kecil rupanya…”

BLAAARRR BLAAARRR BUUUMM

Faruq terperanjat, barusan adalah petir paling kuat sepanjang hujan hari ini. Motor tempat mereka duduk menjuntai kaki sampai bergetar, sangat kentara terasa. Jika saja lengannya tidak dipegang pemuda di sampingnya, Faruq sudah pasti melorot.

“Pegangan tiap kali ada petir, Dik… kempes bokongmu kalau sampai anjlok ke lantai.”

Faruq hanya mengangguk, diliriknya jari-jari tangan si pemuda yang masih mencengkeram lengan atasnya. Faruq suka gelang putih pipih yang melingkar di pergelangan tangan si pemuda, suka jam tangannya yang tampak berkelas, lebih suka lagi lengan si pemuda yang tampak begitu kokoh.

Faruq mengangkat wajah dari memandang lengan si pemuda dan langsung kaget sendiri mendapati kalau si empunya lengan sedang menatapnya. Wajah si pemuda sedang tertunduk ke arahnya. Mendadak Faruq jadi boneka salju, beku, bagai puding yang sudah diinapkan sehari semalam dalam peti es. Faruq diam tidak membuat sebarang gerakan, celakanya dia malah nekat melawan tatapan si pemuda yang berakibat fatal bagi jantungnya. Faruq diserang aritmia, detak jantungnya jadi tak beraturan lagi.

Ketika nyaris menjadi sesak, Faruq menunduk lalu menghalakan pandangannya lurus ke depan, kembali menatap hujan. Perlahan, si pemuda melepaskan cengkeramannya di lengan Faruq dan meniru tingkah siswa SMA itu, menatap hujan kembali. Sama-sama diam.

Baru lama kemudian si pemuda membuka suara. “Pintar, cakep, enak diajak ngobrol… di kelas tentu kamu banyak diidolakan ya? Para cewek-cewek…” Ucapan si pemuda seakan sengaja dibiarkan menggantung.

“Yang banyak diidolakan justru temanku yang badungnya minta ampun, dan maaf kata… tidak pintar dan suka bikin kesel bila diajak ngobrol kecuali saat ngobrolin contekan…”

Si pemuda tertawa, “Beda dong sama jamanku SMA dulu…”

Faruq menggeleng, “Tidak sepenuhnya beda kok, cakep masih jadi poin yang membuat kita diidolakan, malah itu poin utamanya…”

“Jadi, si badung bodoh dan ngeselin di luar jam contekan itu cakep?”

“Sangat…” Faruq mengangguk mantap, lalu melanjutkan dalam hati, tapi Taufan tertinggal jauh berkilo-kilometer bila dibandingkan denganmu, Kak… mulai besok kayaknya kamu juga akan segera menggantikan sosok Taufan di kamar mandiku. Faruq mulai membayangkan sabun cair di rak mandinya.

“Siapa nama pacarnya?”

“Eh?”

“Si badung cakep itu, dia jadi idola kan? Tentu punya pacar…”

Hampir Faruq salah mengira si pemuda menanyakan nama pacarnya. “He eh. Pacarnya kakak kelas kami, Kak Kori… mantan mayoret marching band tahun lalu. Cantik dan seksi, mereka cocok…”

“Cinta memang tak pandang usia, ya…”

“Iya.”

“Terus kamu, siapa nama…”

“Jangan tanya!” Faruq memangkas ucapan si pemuda.

Si pemuda mendelik, lalu tertawa pendek. “Si rangking satu masih jomblo?”

“Jangan bahas!”

“Gak ditaksir siapapun?”

“Ganti topik!”

“Gak punya pacar kayak si badung gak pinter…”

No coment!

“Kasihan dong. Otak pinter, muka cakep tapi gak laku…” lalu “AARRGGHH…!”

Si pemuda mengaduh sambil menggosok-gosok kepala, Faruq baru saja menjambak rambut bagusnya.

“Aku udah warning loh, Kak. Aku bilang jangan tanya, jangan bahas, minta ganti topik, trus gak mau nanggepin. Rasain kan akibatnya?”

“Sakit tauuuk…” tukas si pemuda sambil masih mengelus kepalanya. “Aku mending ditonjok aja deh daripada dijambakin…”

BUUKKK

“Ah, sial!”

Si pemuda mengumpat, bahunya baru saja ditonjok Faruq. Motor sampai oleng. Bukannya mengelus bahunya yang kena hajar, dia malah mencengkeram lengan atas Faruq kembali, khawatir teman berteduhnya itu merosot jatuh.

“Aku pegangan kok, hehehe…”

“Fiuhh… bener kata nenek, ngadepin anak-anak kudu banyak ngelus dada.” Si pemuda melepaskan cengkeramannya.

Faruq nyengir, Dan ngadepin lelaki tampan kayak kamu kudu kuat nahan napsu biar gak mikir macam-macam yang bikin selangkangan unjuk diri.

Keasyikan dan keakraban serta-merta yang terjadi diantara keduanya membuat mereka melupakan sekitar. Sekarang, seakan mereka berada di emperan bukan dikarenakan hujan, tapi memang sengaja berada di sana untuk bercengkerama layaknya sahabat karib, layaknya teman lama yang kebetulan berjumpa di jalan dan memilih melepas rindu di emperan ruko.

Begitulah yang terlihat, seorang lelaki muda duduk bersama seorang remaja berseragam SMA di atas motor, bersisian. Tertawa, bicara dan bertingkah ibarat sudah kenal lama. Padahal, hanya hujan hari ini yang mempertemukan mereka.

Deru kendaraan bermotor di jalanan menyadarkan mereka. Kedua sama membawa pandangan ke jalan, beberapa pengendara motor tampak melaju di sana.

“Eh, reda ya?” Faruq turun, melangkah ke tepi emperan dan mengulurkan tangan memeriksa hujan. “He eh, reda nih.”

“Lah iya, udah reda. Tuh jalan mulai ramai lagi.”

Faruq menoleh, si pemuda sedang mengenakan sepatunya yang tentu saja masih basah. Mendadak Faruq merasa kehilangan. Berlebihankah? Dalam diam, diperhatikannya tiap gerakan yang dibuat si pemuda. Kakinya terasa begitu enggan melangkah, dia masih ingin berada di sini bersama si pemuda. Untuk pertama kalinya sejak hujan tadi, Faruq berharap agar hujan tak pernah berhenti, agar hujan kembali luruh deras. Waktunya hanya sampai si pemuda menstarter motornya saja, setelah itu? Hilang sudah.

Selesai dengan sepatu, si pemuda memeriksa jaketnya lalu menggumam sendiri. “Basah bener masih, keringan kaos dah kalau gini…” dia menyentuh badannya lalu menghela napas. Memutuskan untuk tidak mengenakannya, si pemuda melilitkan kedua lengan jaketnya sedemikian rupa di stang motor lalu membuat simpulan.

Faruq memperhatikan selama si pemuda mengerjakan itu. Hatinya manggaungkan doa agar hujan turun lagi, agar kilat dan petir bersambung lagi. Tapi bunyi di perutnya yang mulai perih membuat doanya menjadi sebuah dilema. Dia masih ingin berada bersama dengan si pemuda tapi dia juga harus segera pulang untuk mengisi lambungnya.

Si pemuda menyelempangkan tas kecilnya kembali kemudian memutar motornya menghadap jalan. Sekarang, sosok jangkungnya sudah tegak di atas sadel, siap turun dari emperan.

Mesin mulai berderum. Time to say goodbye. Si pemuda tersenyum manis, Faruq membalas dengan senyum getir. Di saat-saat terakhir begini, doa Faruq tidak berarti lagi.

“Sampai di sini, Adik Muzammil…”

Faruq berkedip.

“Hati-hati ya pulangnya… mudah-mudahan gak terjebak hujan lagi di jalan…”

Faruq mengangguk.

“Eh, pulangnya pake apa nih?”

Apa dia mau mengantar?

Harapan Faruq berganti. Tidak lagi berharap hujan kembali turun lebat secara mendadak, kini Faruq berharap agar si pemuda menawarkan diri untuk mengantarnya.

Faruq menunjuk ke utara, “Ojek…” ujarnya, lalu tersenyum.

Si pemuda memandang jurusan yang ditunjuk Faruq, lalu mengangguk-angguk. “Baik-baik deh kalau gitu, jangan minta tukang ojeknya ngebut, jalanan licin baru hujan…”

Harapan terakhir Faruq kandas seutuhnya. Dia hanya bisa menanggapi kalimat si pemuda dengan anggukan lemah.

“Pulang ya…” si pemuda tersenyum hangat lalu mengenakan helmnya.

Apa yang bisa dikatakan Faruq? Tak ada, hanya hatinya yang seakan sesak. Ini yang pertama kali dirasakannya. Sebelumnya, dia tak pernah merasakan sehampa ini ketika berpisah dengan orang asing. Hei, asingkah pemuda ini? Lalu apa arti keakraban yang tercipta diantara mereka sepanjang sore?

Tidak, pemuda ini bukan orang asing bagiku. Bukan dia…

Motor itu bergerak perlahan turun dari emperan.

“Sampai ketemu, Dik… makan yang banyak ya begitu sampai di rumah. Cacingmu pasti mendoakan kamu panjang umur bila bisa ngosongin panci nasi di rumah…”

Faruq tertawa tertahan. Dia pasti akan merindukan pemuda ini.

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…” pertama kalinya, Faruq merasa amat sangat terpaksa menjawab salam.

Dan motor itu bergerak, ke selatan.

Faruq masih berdiri, menatap punggung si pemuda. Laju motor itu perlahan. Ya, si pemuda pasti ingat kalau jalanan licin.

Mendesah satu kali, Faruq berhenti menatap kaus putih si pemuda dan mulai melangkah menuju utara. Ada ojek yang sedang menunggunya. Setiap langkah yang dibuatnya, kian menambah galau hatinya.

Wajah si pemuda, sosoknya. Tawanya, sikap akrabnya, senyumnya yang tampak demikian familiar –tidak asing, candanya, dan aromanya. Tuhan… Faruq menghirup napas dalam-dalam, aroma itu masih tertinggal di hidungnya. Faruq memejamkan mata, sosok itu masih tergambar di matanya, kian jelas. Faruq mendengar sekitar, suara dan kalimat-kalimat si pemuda memantul-mantul di liang dengarnya ditingkahi bunyian semesta –bunyian semesta yang didominasi deru mesin kendaraan.

Faruq terus melangkah, tidak bersemangat seperti biasanya. Pangkalan ojek masih jauh di depan sana. Deru motor terdengar lambat di belakangnya, terus bergerak. Ketika deru motor itu berada di sisi kanannya, Faruq menoleh.

“Aku merasa punya hutang moral jika tidak mengantarmu…”

Motor itu berhenti, pengendaranya tersenyum pada Faruq.

Apa ini sungguhan?

“Dik Muzammil, aku anterin ya?”

Apa ini beneran?

Si pemuda mengernyit mendapati Faruq hanya berdiri diam menatapnya. “Ehemm… percaya deh, aku bukan anggota sindikat penculik anak-anak SMA. Aku orang baik-baik, mahasiswa baik-baik. Aku akan mengantarmu sampai rumah, suer…” dua jarinya membentuk huruf V.

Apa aku berhalusinasi saking terusnya memikirkan tentang si pemuda?

Bahu si pemuda turun melihat Faruq masih tak bereaksi. “DIK MUZAMMIL, MAU AKU ANTAR GAK NIH???” hilang sabar, si pemuda membentak.

Faruq bekedip. “Biasanya, karena rayuan halus gak mempan, para penculik pasti bersikap kasar dan main bentak bila hilang sabar dan kepepet waktu…”

Si pemuda memutar bola mata. “Dasar geblek! Ayo naik!”

Faruq menyengir lalu tanpa pikir-pikir lagi segera naik ke belakang si pemuda. Senang bukan main, lengannya langsung melingkari pinggang orang tanpa diminta.

“Bismillah…” lirih si pemuda sebelum memasukkan gear.

Motor itu mulai melaju.

*

“Laper… makan martabak aja dulu ya! ”

Begitu kata si pemuda ketika mengerem motor di depan warung tenda  yang didepannya ada gerobak sate dan juga dapur martabak. Faruq tentu saja tak menolak, ini akan memperlama kebersamaannya dengan si pemuda. Bila perlu dia akan membeli semua porsi martabak dan memakannya berdua dengan si pemuda hingga warung tenda ini tutup. Tapi, dari mana duitnya untuk nebus semua martabak? Huh, khayalan muluk anak baru gede ya gitu.

“Boleh kan martabak aja?” si pemuda bertanya ketika sudah duduk di bangku sederhana dalam warung.

“Bahkan jika cuma telur ceplok pasti aku lahap, laper… Kak!”

Si pemuda tertawa, “Sate mahal…” ujarnya sambil mengangkat-angkat alis.

“Setuju!”

Tak sampai sepuluh menit, piring mereka tiba. Dan tak sampai sepuluh menit juga piring itu kosong, menyisakan remah-remah irisan bawang merah korban cuka yang pucat bagai ibu hamil kurang darah (begitu direndam cuka, bawang pun jadi anemia), dan tentunya sendok serta garpu.

“Uang jajan mahasiswa lebih banyak dari siswa SMA, jangan sok-sokan mau nraktir aku!”

Demikian ucap si pemuda ketika Faruq mengeluarkan dompetnya setelah mereka menelan martabak ke perut masing-masing.

“Eh, tapi…”

“Tapi apa? Tapi belum kenyang?”

Faruq bedecak, “Tapi aku udah cukup ngerepotin…”

“Nah itu, cukupkan saja berarti kalau memang udah cukup. Jangan nambah bikin repot dengan nanam budi padaku, balasnya berat tau, beberapa malah ada yang dibawa mati, gak sempat terbalas.”

Faruq melongo. Ini yang bego siapa ya? Bukannya dia yang udah nanam budi? Kan sekarang aku mau balas…

Meski tak mengerti, Faruq memasukkan kembali dompetnya. Setelah itu mengikuti si pemuda keluar tenda.

Si pemuda mengemudi sementara Faruq memeluk badannya dari belakang sambil menerangkan jalan.

“…Lurus aja… nanti ada pertigaan belok kanan… jumpa mesjid belok kiri… ketemu pertigaan lagi belok kiri lagi… terus lurus sampe ketemu gapura… nanti rumahku yang cat ijo…”

Demikian Faruq berceloteh di sela-sela laju motor. Makin lama duduknya makin mepet ke punggung orang. Si pemuda tidak keberatan, ketika gerimis tiba-tiba kembali jatuh dan Faruq kian erat memeluk badannya, si pemuda hanya mewanti-wanti…

“Pegangan kuat, Dik. Aku mau ngebut, bisa gawat kalau terjebak hujan lagi…”

Sepertinya si pemuda lupa kalau dia pernah mengingatkan anak yang duduk di boncengannya tentang jalan licin setelah hujan, tidak baik mengebut.

Faruq ingat itu, tapi dia tidak mau ambil pusing. Dia percaya sepenuhnya pada pemuda asing yang memboncenginya sekarang, bukankah tadi si pemuda menerobos hujan? Tentu dia cukup mahir dengan motornya.

Jadi, Faruq melakukan apa yang diminta. Merapatkan diri ke punggung si pemuda hingga tak menyisakan sedikit pun celah serta mengetatkan lengannya. Faruq juga menempelkan sisi kanan wajahnya ke belakang bahu kiri si pemuda tepat ketika si pemuda mengganti gear dan mulai mengebut.

Gerimis pun jatuh.

Faruq larut dalam damai aneh di punggung berlapis kaos putih si pemuda, bibirnya menyunggingkan senyum. Dia tak peduli meski laju motor yang lumayan kencang akan mempersingkat kebersamaannya dengan si pemilik punggung. Yang ingin dilakukannya hanya menikmati hangat yang menjalar dari punggung si pemuda ke dadanya. Itu sangat tak terperi sensasinya, serasa diawangkan ke angkasa. Faruq sedang mendekap kehangatan si pemuda.

“Mesjid belok kiri kan, Dik…”

“He eh…”

Motor terus melaju, gerimis belum berubah jadi hujan, dan Faruq masih memeluk si pemuda.

“Pertigaan nih, kiri ya?”

“He eh…”

Motor masih melaju, gerimis masih gerimis, dan Faruq mabuk dalam wangian hangat si pemuda.

“Gapura tuh, masuk terus kan?”

“He eh…”

Motor melambat bertahap, gerimis masih luruh, dan Faruq belum menjarakkan diri dari belakang si pemuda.

“Yang ijo, ya? yang ada pohon mangganya dekat pintu pagar?”

“He eh…”

Motor berhenti, gerimis belum mau pamit, dan Faruq melepaskan badan si pemuda dengan enggan.

“Hutang moralku lunas,” ujar si pemuda sambil menoleh ke belakang.

Faruq turun dari boncengan, “Mampir, Kak…”

“Gak usah, Dik, takut hujan lagi nanti…” dia mengulurkan tangan kanannya pada Faruq. “Ayo salaman dulu, aku mau pamit.”

Faruq menggenggam erat tangan si pemuda, begitupun sebaliknya.

“Makasih ya, Kak…”

“Hemm…”

“Rasanya aku gak akan ngelupain Kakak…”

Si pemuda mengernyit, “Kenapa?”

Faruq nyengir, “Aneh gak? Aku jumpa Kakak di emperan lebih tiga jam lalu, diajak duduk di motor biar gak pegel, trus aku dibayarin martabak lalu diantar hingga ke rumah…” Faruq tersenyum. “Kakak ini terlalu baik untuk cepat-cepat dilupakan…”

Si pemuda tertawa, “Mungkin nanti saat kamu sesusiaku, kamu akan mengalami hal semacam ini entah dimana dan dengan siapa. Bertemu seseorang dalam kondisi tak terduga lalu berucap pada hatimu sendiri, ‘Langkahku sudah di atur Tuhan’” dia menepuk bahu anak di depannya, “Kamu pasti akan menganggap bahwa apa yang aku lakukan hari ini bukanlah suatu keanehan, tapi kewajaran karena kita makhluk sosial yang hidupnya sudah diatur Tuhan… setiap detiknya.”

Faruq menganga dengan perasaan tak terdefinisikan ketika jabatannya dengan si pemuda terlerai.

“Aku pamit ya, jaga diri baik-baik.”

Faruq mengangguk lesu.

“Assalamualaikum…”

“Wa’alaikumsalam…” Jawaban salam Faruq sama lesu dengan anggukannya sesaat tadi.

Seperti deja vu. Untuk kedua kalinya mereka saling berbalas salam. Untuk kedua kalinya Faruq diaduk-aduk rasa kehilangan, lebih kentara kini.

Motor itu memutar haluan ke arah datangnya tadi, setelah mengklakson satu kali si pemuda melesat kembali diantara luruhan gerimis.

Faruq kaku menatap punggung si pemuda. Masih berdiri diam hingga motor itu melewati gapura dan menghilang di tikungan. Kali ini mereka akan benar-benar berpisah, si pemuda tidak akan memutar balik motornya seperti tadi. Dia telah menunaikan hutang moralnya, langkah yang diyakininya telah diatur Tuhan.

Apakah Tuhan juga mengatur langkahku untuk bertemu dengannya? Jika benar, semoga Tuhan kembali melakukan hal serupa…

* 

Ketika langkahnya mulai menapaki jengkal tanah menuju pekarangan, saat itulah Faruq menyadari betapa bodoh dan tolol dirinya. Dia bodoh tidak mengetahui siapakah si pemuda, tidak mengetahui satu ejaan pun dari namanya. Dia tolol tidak mengambil kesempatan yang muncul berkali-kali ketika si pemuda bersuara…

‘Dengan seragam seperti itu di jam segini, tidak mungkin kamu baru saja mau berangkat ke ladang…’

Seharusnya Faruq bertanya, ‘Dan dengan pakaian kuyup seperti itu, kemana Kakak akan pulang?’ agar tahu keberadaan si pemuda.

‘Semester kemarin dapat rangking berapa… Faruq Muzammil Qudsy?’

Si pemuda tahu namanya, berusaha tahu dengan mau mengintip badge nama di bajunya. Tidakkah seharusnya saat itu Faruq mengulurkan tangan dan mengulang menyebut namanya sendiri agar si pemuda juga balas menyebut namanya?

‘Aku bukan polisi, Dik… apalagi tentara berseragam loreng. Aku masih kuliah…’

‘Saat ini aku sudah semester lima

Bukankah juga itu adalah kesempatan Faruq untuk menyimpan sedikit identitas si pemuda, selain dari identitas yang bisa dilihat mata dan didengar telinganya atau dibaui hidungnya serta dirasai kulitnya? Seharusnya Faruq bisa tahu kampus mana serta jurusan apa yang dipilihnya ketika melepas seragam abu-abunya agar bisa mengikuti jejak alumnus si pemuda, atau sekedar tahu saja jika dia tak cocok untuk menapaki jejak.

Tapi Faruq memang bodoh dan tolol. Karena yang pertama kali ingin diketahuinya adalah yang mana profesi si pemuda antara tentara dan polisi. Dia melewatkan hal penting yang harus diketahuinya lebih dulu. Siapa si pemuda, dimana dia bisa menemukannya kembali setelah nanti berpisah? Faruq dibohongi inderanya sendiri, ia ditipu.

Faruq tak menyimpan apapun, bahkan nama.

Namun, andai Faruq mau mencari tahu seperti si pemuda mencari tahu namanya di seragamnya, Faruq pasti akan tahu. Andai Faruq tidak hanya memandang gelang putih pipih yang dikenakan si pemuda sebagai penambah daya tarik lengannya yang kokoh, andai Faruq memandang gelang itu lebih bukan sebagai penambah keseksian tetapi juga sebagai identitas. Maka pasti… dia akan menemukan nama si pemuda yang terpahat di sepanjang lingkar gelang.

Tapi sayang, Faruq terlalu remaja untuk mengeja detil tersembunyi. Yang terbaca justru keindahan yang tampak oleh mata. Maka hanya itulah yang dimilikinya, gambaran sosok si pemuda dengan segala detil indah kasat mata dan kebersamaan tak lama antara dirinya dan si pemuda.

Maka selamanya, si pemuda adalah insan tak bernama yang hanya dikenalnya tika hujan mengantar keakraban dan gerimis mencipta kehangatan. Ya, selamanya Faruq dan si pemuda dan gerimis dan hujan akan terikat dalam satu simpul bernama kenangan…

 

Awal April 2013

di kamar jelek di negeri nayaka

n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com