Resensi

Tetralogy Buru 1: Bumi Manusia

 

“Seorang Pelajar harus juga adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

— Pramodya Ananta Toer —

Identitas Buku

Judul Buku          : Bumi Manusia

Penulis                 : Pramodya Ananta Toer

Penerbit              : Lentera Dipantara

Tebal         : 540 lembar + sampul

Harga                    : Rp. 20.000  s/d Rp. 30.000

Lokasi beli           : Stand Buku PasarBlauran atau Kampung Ilmu Jalan Semarang Surabaya.

 

Tentang Penulis

Pramodya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara: 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun dalam penjara Orde Lama, dan 14 tahun dalam penjara Orde Baru.

21 Desember 1979 Pram mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI, tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai akhir tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur sekaliseminggu selama 2 tahun.

Namun penjara tak mampu membuatnya bertekuk lutut dan berhenti menulis. Penjara justru menjadi kawa candra dimuka baginya hingga Pram menjadi penulis dengan kepribadian yang unik. Baginya menulis adalah perlawanan terhadap kezaliman. Baginya menulis adalah sebuah perjuangan. Maka tak ada alasan baginya berhenti menulis ketika jeruji besi membatasi kebebasannya.

Lebih dari 50 karya telah Pram tulis dan perjuangkan. Beberapa karyanya lahir di Pulau Buru, sebuah pulau pengasingan di Kepulauan Maluku, diantaranya adalah Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa asing.

Sinopsis

Bumi Manusia

Bumi Manusia adalah buku pertama dari empat buku Tetralogi Buru. Buku pertama ini menceritakan tentang seorang pemuda berjulukan Minke. Tak jelas mengapa dia diberi julukan tersebut. Tak jelas pula siapa nama Minke sebenarnya.

Minke mengawali kisahnya sebagai seorang siswa HBS (hogere burgerschool), sekolah tingkat menengah jaman kolonial belanda. Hidupnya yang datar-datar saja mulai beriak tatkala dia bertemu dengan Keluarga Melema, yang terdiri dari Nyai Ontosoroh dan kedua anaknya Robert dan Annelis Melema. Pada saat itu, masyarakat menganggap seorang Nyai (pribumi yang menjadi gundik Belanda) tak ada bedanya dengan seorang pelacur. Tapi dalam pertemuan itu, Minke menemukan hal lain. Nyai Ontosoroh sama sekali tak tampak sebagai seorang pelacur. Bahkan Nyai Ontosoroh terlihat sangat terpelajar untuk ukuran seorang wanita pribumi, bahkan bisa dikatakan lebih terpelajar dari wanita Belanda Asli.

Dalam perjalanannya, Minke dan Annelis saling jatuh cinta. Nyai Ontosoroh sangat senang karena akhirnya Annelis memiliki teman. Bahkan dia mengusulkan Minke untuk tinggal di rumahnya yang mewah. Tapi kehidupan tak selalu berjalan lancar. Konflik demi konflik terus mendera cinta mereka. Sampai pada akhirnya konflik pun memuncak tatkala Tuan Besar Melema ditemukan tewas di tempat pelacuran.

Sidang pun digelar dan melibatkan seluruh penghuni rumah Nyai Ontosoroh, termasuk Minke. Dalam persidangan itu lah, aib mereka dibongkar satu per satu. Mereka menjadi tontonan dan olok-olokan hakim. Minke tak tinggal diam, begitu pula Nyai Ontosoroh. Mereka terus melawan. Hingga akhirnya kebenaran berpihak kepada mereka. Tuan Besar Melema terbukti telah dibunuh oleh Babah Ah Tjong sang pemilik rumah pelacuran tanpa alasan yang jelas.

Namun konflik belum berakhir, bahaya yang lebih besar telah mengintip mereka. Insinyur Maurits Mellema, Putra resmi Tuan Besar Mellema datang dan menuntut hak asuh atas Annelis dan Robert Mellema. Tentu berembel-embel dengan harta yang menjadi hak mereka. Dalam peradilan inilah mereka kalah. Hak asuh Annelis Mellema jatuh ke tangan Ir. Maurits Mellema.

Dalam keputus asaan itu Minke mengaku kalah. Tetapi sebuah pernyataan luar biasa keluar dari seorang Nyai Ontosoroh: Kita telah melawan Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Komentar

Tak ada kata lain selain Excellent.

  1. Karya ini ditulis di sebuah pulau pengasingan. Bayangkan saja, kita berada dalam pengasingan, betapa nelangsanya? Tetapi dalam kenelangsaan itu justru Pram mampu menuliskan  buku setebal ini. Tidak hanya tebal fisiknya, tapi benar-benar tebal isinya. Berbeda dengan penulis kebanyakan saat ini, yang semua serba mudah terutama dalam informasi dan pengetahuan.
  2. Karya ini penuh dengan nilai-nilai seperti keadilan, ketabahan dan perjuangan. Ini juga yang menajadi nilai plus bila dibandingkan dengan karya-karya saat ini. Sebagian besar karya-karya bertebaran di masyarakat tidak banyak membawa pesan dan nilai-nilai, sehingga terkesan dangkal. Berbeda dengan karya Pram yang memang dalam, meski bagi sebagian orang terasa berat.
  3. Karya ini membuka cakrawala sejarah yang segar dan baru. Tidak kaku seperti buku paket pelajaran sejarah yang kita enyam sejak SD sampai SMA. Selain itu juga disuguhkan analisis yang subyektif namun argumentatif. Sehingga tidak melulu menggambarkan apa yang tertulis dalam dokumen saja. Tetapi juga perasaan-perasaan masyarakat saat itu.
  4. Karya ini juga menyentuh, dalam. Bikin nyeseg pokoknya huhuhu. Aku sampai berkaca-kaca saat membaca bagian akhirnya.Saat Minke dan Nyai Ontosoroh dipaksa pisah dengan Annelis.

Kesimpulan

Jadi?

Novel ini recomended banget untuk dibaca.