Holaaa…

Finally bisa nge-post lagi setelah sekian lama (dan lewat deadline T__T). Padahal udah nyangka dihapus dari daftar karena udah lewat sebulan, tapi ternyata belum.

Yep, kali ini saya akan me-review (itu pun kalau bisa disebut review ya) buku yang berisi kumpulan dongeng anak-anak. Tapi tentunya bukan dongeng anak biasa. Ini adalah kisah-kisah dongeng yang diceritakan pada anak-anak di dunia sihir.

Sebenarnya buku ini sudah ada sejak lama di rak buku, tapi baru sempat terbaca sekarang (aslinya baru tertarik untuk membaca).

Jika kalian pernah membaca novel atau menonton film ‘Harry Potter and The Deadly Hollows‘ pasti tahu buku apa yang saya maksud. Ya, benar, ini adalah buku yang diwariskan oleh Profesor Albus Dumbledor kepada Hermione Granger. Salah satu kisah di dalam buku ini (Kisah Tiga Saudara) merupakan petunjuk bagi Harry dan teman-temannya untuk melawan pangeran kegelapan. Dan seperti apa isi buku ini? Lets see…

the tales of beedle the bard

THE TALES OF BEEDLE THE BARD

KISAH – KISAH BEEDLE SI JURU CERITA

Diterjemahkan dari bahasa Rune kuno

Oleh Hermione Granger

By

J. K. Rowling

 

SANG PENYIHIR DAN KUALI MELOMPAT

Pada suatu masa, hiduplah penyihir tua baik hati yang menggunakan sihirnya dengan murah hati dan bijak untuk menolong para tetangganya. Bukannya menyombongkan sumber kekuatan sihir yang dia miliki, si penyihir tua berpura-pura mengatakan bahwa semua ramuan, jimat, dan obat penawar yang dia berikan muncul begitu saja dari kuali kecil yang dia sebut sebagai kuali keberuntungan. Bahkan dari tempat-tempat yang jauh, banyak orang datang kepadanya, membawa berbagai macam masalah. Dan si penyihir dengan senang hati akan mengaduk kualinya, lalu membereskan masalah mereka.

Penyihir yang dicintai banyak orang ini hidup bahagia sampai tua, lalu meninggal dunia. Si penyihir mewariskan seluruh hartanya kepada satu-satunya anak laki-laki yang dia miliki. Tetapi sifat sang anak berkebalikan dari ayahnya yang lembut hati. Menurut anak ini, orang-orang yang tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali tak berharga, hingga dulu mereka sering bertengkar tentang kebiasaan ayahnya memberikan bantuan sihir kepada para tetangga.

Setelah kematian ayahnya, anak laki-laki itu menemukan bungkusan kecil yang tersembunyi di dasar kuali tua milik ayahnya, dan namanya tertera di bungkusan tersebut. Dia membuka bungkusan itu, berharap akan menemukan emas, tetapi hanya menemukan sepatu yang halus, tebal, ukurannya terlalu kecil untuk dipakai, dan hanya sebelah. Di dalam sepatu itu terdapat sepotong kain bertuliskan, “Anakku, harapan terbesarku adalah kau takkan pernah membutuhkan sepatu ini.”

Anak laki-laki itu memaki kepikunan ayahnya, lalu melemparkan sepatu itu kembali ke dalam kuali, dan memutuskan untuk menggunakan kuali tersebut sebagai tempat sampah mulai esok hari.

Malam itu juga seorang perempuan petani mengetuk pintu depan.

“Cucu perempuanku terkena penyakit kutil parah, sir,” katanya pada anak laki-laki sang penyihir. “Biasanya ayahmu membuatkan ramuan khusus di kuali tua…”

“Pergi!” seru si anak lelaki. “Apa peduliku pada kutil cucumu yang nakal?”

Dan dia membanting pintu di hadapan perempuan tua itu.

Saat itu juga terdengar suara berisik dari dapurnya. Si penyihir menyalakan tongkat sihirnya dan membuka pintu dapur. Dan di sana, dia sangat takjub ketika melihat kuali tua milik ayahnya tumbuh satu kaki perunggu dari dasar kuali. Kuali itu melompat-lompat di tempat, di tengah-tengah dapur, membuat suara yang sangat berisik ketika kaki perunggunya berdentam-dentam di atas lantai batu. Si penyihir mendekati kuali itu dengan keheranan, tapi langsung mundur ketika melihat seluruh permukaan kuali dipenuhi kutil.

“Benda menjijikkan!” serunya. Pertama-tama, dia mencoba me-Lenyap-kan kuali itu, lalu berusaha membersihkan kuali dengan sihir, dan akhirnya memaksa kuali pergi dari rumahnya. Tapi tak satu pun mantranya berhasil, dan dia tak mampu mencegah kuali itu melompat-lompat mengejarnya keluar dapur, lalu mengikutinya ke kamar tidur, terus melompat dengan berisik di setiap anak tangga kayu.

Semalaman si penyihir tak bisa tidur karena kuali itu terus-menerus melompat di sebelah ranjangnya. Dan keesokan paginya, saat dia hendak sarapan, kuali itu juga terus melompat-lompat mengejar hingga ke meja makan. Klontang, klontang, klontang, begitulah bunyi kuali berkaki perunggu. Si penyihir bahkan belum sempat memakan buburnya ketika terdengar ketukan lagi di pintu.

Seorang laki-laki tua berdiri di depan pintu.

“Keledai tuaku, Sir,” jelas si laki-laki tua. “Keledaiku hilang, atau dicuri orang. Tanpa keledai itu aku tak bias membawa barang dagangan ke pasar, dan nanti malam keluargaku pasti akan kelaparan.”

“Dan aku sudah kelaparan sekarang!” jerit si penyihir, lalu membanting pintu di depan laki-laki tua itu.

Klontang, klontang, klontang, begitulah bunyi kaki perunggu si kuali saat melompat-lompat di lantai. Tapi sekarang suaranya bercampur dengan lenguhan keledai dan erangan manusia yang sakit menahan lapar, semuanya bergema dari dalam kuali.

“Jangan melompat-lompat. Diamlah!” pekik si penyihir, tapi seluruh kekuatan sihir yang dia miliki tak mampu membuat kuali kutilan itu diam. Kuali it uterus saja melompat-lompat mengikutinya sepanjang hari, melenguh dan mengerang dan mengeluarkan suara berisik, tak peduli apa yang dilakukan si penyihir dan ke mana dia pergi.

Sore itu terdengar ketukan ketiga di pintu, dan di ambang pintu berdiri seorang perempuan muda yang menangis begitu sedih, seakan hatinya akan patah.

“Bayiku sakit amat parah,” katanya. “Maukah kau menolong kami? Ayahmu menyuruhku datang kapan pun aku punya masalah…”

Tapi si penyihir membanting pintu di hadapan perempuan muda itu.

Dan sekarang kuali penyiksa itu terisi penuh dengan air asin, menumpahkan air mata ke seluruh lantai saat dia melompat, melenguh, mengerang, dan mengeluarkan kutil lebih banyak lagi.

Meskipun sepanjang minggu itu tak ada lagi penduduk desa yang datang meminta bantuan kepada si penyihir, kuali berkaki terus memberitahunya tentang berbagai penyakit dan kemalangan penduduk desa. Hanya dalam beberapa hari, kuali iru bukan hanya melenguh dan mengerang dan menumpahkan air mata dan melompat-lompat dan mengeluarkan kutil, tapi juga terbatuk-batuk dan muntah-muntah, menangis seperti bayi, mengaing seperti anjing, menumpahkan keju basi dan susu asam dan siput-siput yang kelaparan.

Sang penyihir tak bias tidur atau makan karena kuali it uterus mengikutinya. Tapi kuali berkaki tak mau pergi, dan si penyihir tak mampu membuat kuali itu diam atau memaksanya berhenti melompat-lompat.

Akhirnya si penyihir tak tahan lagi.

“Bawalah semua masalahmu, semua kesulitanmu, dan semua keluhanmu!” teriaknya sambil berlari di tengah gelapnya malam, menuju jalan desa, dengan kuali yang melompat-lompat di belakangnya. “Ayo! Biarkan aku menyembuhkanmu, memperbaiki keadaanmu, dan menghiburmu! Kuali ayahku ada di sini, dan aku akan membuat kalian sembuh!”

Dengan kuali yang terus melompat di belakangnya, si penyihir berlari sepanjang jalan, mendaraskan mantra ke setiap arah.

Di dalam salah satu rumah, kutil-kutil anak perempuan itu lenyap saat dia tidur; keledai yang hilang di-Panggil dari lapangan penuh tanaman berduri dan dikembalikan ke kandangnya dengan selamat; bayi yang sakit diberi ramuan dittany – salah satu jenis tanaman mint berbunga ungu hingga putih – dan terbangun, sehat kembali, dan pipinya merona merah. Di setiap rumah yang penghuninya sakit dan sedih, sang penyihir berusaha membantu sebaik mungkin, dan perlahan-lahan kuali di sebelahnya berhenti mengerang dan muntah-muntah, dan mulai terdiam, bersih mengilap.

“Bagaimana sekarang, kuali?” Tanya sang penyihir yang gemetar kelelahan ketika matahari mulai terbit.

Kuali itu memuntahkan sepatu sebelah yang dulu dilemparkan sang penyihir ke dalamnya, lalu mengizinkan sang penyihir memakaikan sepatu itu ke kaki perunggunya. Bersama-sama, mereka berjalan kembali ke rumah sang penyihir, suara langkah kaki kuali itu akhirnya teredam. Tetapi sejak hari itu hingga seterusnya, sang penyihir membantu penduduk desa seperti ayahnya dulu. Karena kalau tidak, kuali itu akan melepas sepatunya dan mulai melompat-lompat lagi.

 

AIR MANCUR MUJUR MELIMPAH

Jauh di atas bukit, dalam sebuah taman ajaib yang dikelilingi dinding-dinding tinggi serta dilindungi sihir yang kuat, berdirilah air mancur mujur melimpah.

Sekali setahun, pada jam-jam di antara terbit dan tenggelamnya matahari di hari terpanjang dalam tahun itu, salah satu orang yang tak mujur mendapat kesempatan untuk berjuang mencari jalan ke Air Mancur, membasuh diri di sana, dan mendapatkan kemujuran yang melimpah untuk selama-lamanya.

Pada hari yang telah ditentukan, ratusan orang datang dari seluruh penjuru kerajaan agar mereka dapat sampai di dinding-dinding taman sebelum fajar tiba. Laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, tua dan muda, memiliki kekuatan sihir maupun tidak, mereka semua berkumpul di tengah gelapnya malam, masing-masing berharap dirinyalah yang akan berhasil memasuki taman ajaib.

Tiga penyihir perempuan, dengan masalahnya masing-masing, bertemu di antara kerumunan orang banyak itu. Sambil menunggu terbitnya matahari pagi, mereka menceritakan kesedihan masing-masing kepada yang lainnya.

Penyihir pertama, bernama Asha, menderita sakit yang tak bias disembuhkan tabib mana pun. Dia berharap Air Mancur akan menghilangkan semua sakit-penyakitnya dan memberinya umur panjang serta kebahagiaan.

Penyihir kedua, bernama Altheda, bercerita bahwa rumah, emas, dan tongkat sihirnya telah dicuri seorang penyihir jahat. Dia berharap Air Mancur akan mengembalikan kekuatan serta kekayaannya.

Penyihir ketiga, bernama Amata, telah ditinggalkan oleh pria yang sangat dicintainya hingga Amata berpikir hatinya takkan pernah sembuh lagi. Dia berharap Air Mancur akan membebaskannya dari duka dan rasa rindu.

Karena saling mengasihani, ketiga perempuan itu setuju bahwa jika mendapat kesempatan, mereka akan bersatu dan berusaha mencapai Air Mancur bersama-sama.

Langit mulai disinari cahaya pertama matahari terbit, dan ada celah kecil di dinding yang terbuka. Kerumunan orang itu mendesak maju, setiap orang berseru bahwa merekalah yang berhak atas keajaiban Air Mancur. Sulur-sulur tanaman merambat dari taman ajaib menjulur di antara kerumunan orang, dan melingkar mengikat penyihir pertama, Asha. Asha menggapai pergelangan tangan penyihir kedua, Altheda, yang mencengkeram ujung jubah penyihir ketiga, Amata.

Dan Amata tersangkut pada baju besi seorang kesatria kumal yang duduk di atas kuda kurus kering.

Tanaman merambat itu menarik ketiga penyihir masuk ke celah diniding, dan sang kesatria tertarik dari kudanya, di belakang ketiga penyihir.

Seruan-seruan marah dari kerumunan orang yang kecewa memenuhi udara pagi, lalu kerumunan itu terdiam ketika dinding-dinding taman tertutup kembali.

Asha dan Altheda marah kepada Amata yang tak sengaja menarik sang kesatria masuk ke taman bersama mereka.

“Hanya satu orang yang dapat membasuh diri di Air Mancur! Sudah cukup sulit menentukan siapa di antara kita yang berhak melakukannya, dan sekarang adatambahan seorang lagi!”

Sir Luckless, begitulah nama yang diberikan orang-orang negeri di luar taman ajaib kepada sang kesatria, memperhatikan bahwa ketiga perempuan yang bersamanya adalah penyihir. Dan karena dia tidak memiliki kekuatan sihir, keterampilan hebat dalam berduel dengan tongkat besar sambil berkuda, berduel dengan pedang, maupun keterampilan lain yang berharga, Sir Luckless yakin dia tak mungkin mengalahkan ketiga perempuan itu mencari jalan menuju Air Mancur. Sebab itulah Sir Luckless menyatakan keinginannya untuk mundur dan keluar dari dinding-dinding yang mengelilingi taman itu.

Mendengar ini, Amata juga menjadi marah.

“Pengecut!” katanya mencemooh sang kesatria. “Tariklah pedangmu, Kesatria, dan bantu kami mencapai tujuan!”

Demikianlah ketiga penyihir dan kesatria menyedihkan itu masuk lebih jauh ke taman ajaib. Tanaman-tanaman obat langka dan berbagai jenis buah serta bunga tumbuh melimpah mengapit jalan setapak yang diterangi cahaya matahari. Tak satu pun rintangan mereka temui sampai mereka mencapai kaki bukit tempat Air Mancur berdiri.

Di sana, seekor cacing putih raksasa meliingkar di dasar bukit, matanya buta dan tubuhnya membengkak. Ketika mereka semakin mendekat, cacing itu berbalik dan memperlihatkan wajahnya yang jelek, lalu mengucapkan serangkaian kata:

“Persembahkan kepadaku bukti sakitmu.”

Sir Luckless menghunus pedang dan mencoba membunuh binatang itu, tapi pedangnya justru patah. Lalu Altheda melempari cacing itu dengan batu, sedangkan Asha dan Amata mendaraskan setiap mantra yang mungkin dapat menghilangkan si cacing atau membantu mereka melewatinya, tetapi kekuatan tongkat sihir mereka sama tak bergunanya dengan batu yang dilemparkan Altheda ataupun pedang besi sang kesatria: Cacing itu tetap tak membiarkan mereka lewat.

Matahari bergerak semakin tinggi di langit, dan Asha yang putus asa mulai menangis.

Kemudian cacing besar itu mendekatkan wajahnya dan meminum air mata yang mengalir di pipi Asha. Setelah Hausnya terpuaskan, cacing itu menggeliat ke samping dan menghilang ke dalam lubang yang terbuka di tanah.

Gembira karena cacing itu menghilang, ketiga penyihir permpuan dan sang kesatria mulai mendaki bukit. Mereka yakin dapat tiba di Air Mancur sebelum sore menjelang.

Akan tetapi, di tengah perjalanan menaiki lereng terjal, mereka melihat kata-kata yang terukir di tanah di hadapan mereka:

“Persembahkan padaku buah usahamu.”

Sir Luckless mengambil satu-satunya koin yang ia miliki, lalu menaruhnya di sisi bukit berumput itu, tetapi koinnya menggelindingke bawah dan hilang. Ketiga penyihir dan sang kesatria terus mendaki, namun tak selangkah pun mereka maju, meskipun mereka sudah berjalan selama berjam-jam. Puncak bukit tak juga semakin dekat, dan ukiran kata-kata itu tetap ada di hadapan mereka.

Keempat orang itu menjadi putus asa ketika matahari terlihat menurun dan mulai bergerak tenggelamndi horizon, tetapi Altheda terus berjalan, lebih cepat dan berusaha lebih keras daripada yang lainnnya, memaksanyang lain mengikuti contoh yang dia berikan, meskipun dia tak bergerak lebih dekat ke puncak bukit ajaib.

“Jadilah pemberani, teman-teman, dan jangan menyerah!” seru Altheda sambil menyeka keringat dari keningnya.

Seiring dengan jatuhnya bulir-bulir keringat Altheda ke tanah, ukiran kata-kata yang menahan laju mereka perlahan-lahan menghilang, dan kini mereka bisa bergerak semakin dekat ke puncak bukit.

Bahagia karena rintanga kedua ini berhasil disingkirkan, mereka berjalan secepat mungkin menuju puncak bukit, sampai akhirnya mereka dapat melihat Air Mancur, gemerlapan bagaikan Kristal di bawah naungan pepohonan dan bunga-bungaan.

Tetapi sebelum bisa mencapai Air Mancur, mereka dihadapkan pada anak sungai yang mengelilingi puncak bukit, menghalangi jalan mereka. Di kedalaman air yang bening, terdapat sebuah batu halus yang di permukaannya tertulis:

“Persembahkan kepadaku harta masa lalumu.”

Sir Luckless mencoba menyeberangi anak sungai dengan perisainya, tapi perisai itu tenggelam. Ketiga penyihir menariknya dari air, lalu mencoba melompati anak sungai itu. Namun mereka tidak dapat menyeberanginya, sementara di langit hari mulai tenggelam semakin jauh.

Maka mereka semua memikirkan apakah arti pesan pada batu itu, dan Amata yang pertama kali memahami isi pesan tersebut. Dengan tongkat sihirnya, Amata menarik semua ingatan tentang saat-saat bahagia bersama kekasihnya yang hilang dari benak, lalu menjatuhkan semua ingatan itu ke dalam air yang mengalir deras. Anak sungai menghanyutkan ingatan Amata, dan tiba-tiba muncul batu-batu pijakan di sepanjang anak sungai, dan akhirnya ketiga penyihir serta sang kesatria bisa melewati anak sungai, menuju puncak bukit.

Air Mancur Mujur Melimpah berkilau di hadapan mereka, berdiri di antara tanaman obat serta bunga-bungaan, semuanya lebih langka dan lebih indah daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya. Warna langit berubah merah bagaikan permata rubi, dan tibalah waktunya bagi mereka untuk menentukan siapa yang akan membasuh diri di Air Mancur.

Tetapi, sebelum mereka membuat keputusan, Asha yang lemah terjatuh ke tanah. Kelelahan akibat perjalanan dan perjuangan mereka menuju puncak bukit, dia hamper mati.

Ketiga temannya ingin menggendong Asha ke Air Mancur, tetapi Asha begitu sedih dan menderita sehingga dia memohon agar mereka tidak menyentuhnya sama sekali.

Maka Altheda cepat-cepat mengumpulkan berbagai tanaman obat yang menurutnya akan membantu Asha, mencampurnya dengan air di botol minuman Sir Luckless, dan menuangkan ramuan itu ke mulut Asha.

Seketika itu, Asha mampu berdiri lagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seluruh gejala penyakit parahnya hilang tak berbekas.

“Aku sembuh!” seru Asha. “Aku tak perlu membasuh diri di Air Mancur – biar Altheda yang membasuh diri!”

Tapi Altheda sedang sibuk mengumpulkan lebih banyak lagi tanaman obat.

“Jika aku bisa menyembuhkkan penyakit ini, aku pasti bisa memperoleh emas berlimpah! Biar Amata saja yang membasuh diri!”

Sir Luckless membungkuk, mempersilakan Amata berjalan menuju Air Mancur, tapi Amata malah menggeleng. Anak sungai tadi telah menghanyutkan seluruh penyesalan Amata atas kekasihnya, dan dia menyadari bahwa selama ini kekasihnya memang jahat dan tak setia, terbebas dari laki-laki itu saja sudah merupakan kebahagiaan besar baginya.

“Kesatria yang baik, Andalah yang harus membasuh diri di Air Mancur, sebagai balasan atas semua tindakan kesatria anda!” kata Amata pada Sir Luckless.

Maka sang kesatria berjalan maju kea rah Air Mancur Mujur Melimpah, dengan baju besi lengkap, di tengah cahaya terakhir matahari yang hamper tenggelam sepenuhnya, dan membasuh diri di Air Mancur itu. Sir Luckless betu-betul tak menyangka dirinya yang terpilih dari ratusan orang yang menunggu-nunggu kesempatan ini, hingga dia gemetar gembira karena kemujurannya.

Ketika matahari turun dari kaki langit, Sir Luckless melangkah keluar dari bawah Air Mancur dengan penuh kemenangan dan kemuliaan. Dalam baju besinya yang karatan, Sir Luckless berlutut di hadapan Amata, perempuan paling baik hati dan cantik yang pernah dilihatnya. Dengan gembira dan bangga karena keberhasilannya, sang kesatria memohon agar Amata sudi membuka hati untuknya dan menikah dengannya, dan Amata, yang tak kalah gembiranya, menyadari bahwa dia telah menemukan laki-laki yang pantas mendapatkan cintanya.

Akhirnya, ketiga penyihir dan sang kesatria bersama-sama menuruni bukit, bergandengan tangan, dan sejak saat itu keempatnya memperoleh umur panjang danhidup bahagia. Dan tak seorang pun pernah curiga bahwa sebenarnya Air Mancur Mujur Melimpah sama sekali tidak memiliki keajaiban.

 

PENYIHIR BERHATI BERBULU

Pada zaman dahulu kala, seorang penyihir muda yang tampan, kaya, dan berbakat, mengamati bahwa teman-temannya jadi suka bertindak bodoh ketika mereka jatuh cinta. Mereka meloncat ke sana kemari dan berdandan, kehilangan nafsu makan, dan bahkan kehilangan harga diri. Jadi penyihir muda itu memutuskan untuk tidak pernah jatuh dalam perangkap kelemahan seperti teman-temannya, dan menggunakan Ilmu Hitam untuk memastikan imunitasnya.

Tanpa mengetahui rahasianya, keluarga penyihir muda itu menertawakan sikapnya yang begitu tak acuh dan dingin.

“Semua akan berubah,” ramal mereka, “saat seorang gadis menarik perhatiannya.”

Tetapi tak seorang gadis pun menarik perhatian si penyihir muda. Meskipun banyak gadis tertarik melihat sikap angkuh sang penyihir dan menggunakan cara-cara paling halus untuk menyenangkan sang penyihir, tak satu pun berhasil menyentuh hatinya. Penyihir muda itu bersukaria dalam sikap tak acuhnya dan kisah-kisah yang beredar sebagai akibatnya.

Kesegaran masa muda mulai memudar, dan teman-teman si penyihir satu demi satu menikah dan memiliki anak-anak.

“Hati mereka pasti sudah kering.” Katanya mengejek diam-diam, saat mengamati tingkah laku teman-temannya yang kini menjadi orang tua, “makin lama makin mengerut akibat tuntutan-tuntutan keturunan mereka yang terus merengek!”

Dan sekali lagi si penyihir member selamat kepada dirinya sendiri atas keputusannyya yang bijaksana pada masa lalu.

Pada waktunya, orang tua si penyihir yang sudah tua meninggal dunia. Anak mereka tidak berkabung; sebaliknya dia justru menganggap dirinya beruntung atas kematian mereka. Sekarang dia yang berkuasa di kastil mereka. Setelah memindahkan hartanya yang paling berharga ke ruang bawah tanah yang paling dalam, si penyihir hidup nyaman dan berkelimpahan, kesenangannya selalu diutamakan oleh para pelayannya.

Sang penyihir yakin bahwa semua orang iri padanya, iri pada kesendiriannya yang sempurna dan tak terganggu. Karena itulah amarahnya begitu memuncak ketika pada suatu hari dia mendengar dua pelayan berbicara tentangnya.

Pelayan pertama mengatakan bahwa dia merasa kasihan kepada sang penyihir yang tak juga dicintai seorang pun, meskipun dia memiliki begitu banyak kekayaan dan kekuasaan.

Tapi pelayan kedua justru mengejek, bertanya-tanya mengapa laki-laki yang memiliki begitu banyak emas dan kastil megah tak bisa membuat seorang gadis pun tertarik menjadi istrinya.

Mendengar percakapan itu, harga diri sang penyihir sangat tersinggung.

Seketika itu juga, sang penyihir memutuskan untuk mencari istri, dan wanita yang akan menjadi istrinya harus lebih baik daripada istri orang-orang lain. Wanita itu haruslah memiliki kecantikan tiada tara, sehingga semua laki-laki yang melihatnya akan iri; wanita itu haruslah berasal dari keturunan penyihir, sehingga keturunan mereka akan mewarisi bakat sihir yang sangat hebat; dan wanita itu haruslah memiliki kekayaan yang sama besar dengannya, sehingga kehidupan si penyihir yang nyaman tidak akan terganggu meskipun ada tambahan orang dalam keluarganya.

Mungkin butuh waktu lima puluh tahun bagi si penyihir untuk menemukan wanita seperti itu. Tetapi kebetulan sekali, sehari setelah sang penyihir memutuskan untuk mencari istri, seorang gadis yang memenuhi semua kriterianya datang ke daerah itu untuk mengunjungi sanak saudara.

Gadis itu adalah penyihir yang berkemampuan tinggi dan memiliki banyak emas. Dia juga begitu cantik sehingga menarik hati setiap laki-laki yang melihatnya; setiap laki-laki, kecuali satu orang. Hati sang penyihir muda sama sekali tak merasakan apa-apa. Meskipun demikian, gadis itu memenuhi semua criteria, jadi sang penyihir mulai mendekati gadis itu.

Semua orang yang melihat perubahan dalam diri sang penyihir sangat terkejut, dan berkata kepada gadis itu bahwa dia telah berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan ratusan gadis lain.

Gadis muda itu sendiri senang namun sekaligus menghindar dari perhatian yang diberikan sang penyihir. Dia merasakan bahwa di balik hangatnya pujian sang penyihir, sebenarnya hati penyihir itu sangat dingin. Dia belum pernah bertemu laki-laki yang begitu aneh dan menutup diri seperti sang penyihir. Akan tetapi, sanak saudaranya berkali-kali mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi, dan mereka menerima undangan jamuan besar yang diadakan sang penyihir untuk menghormati gadis itu.

Meja dipenuhi peralatan makan dari emas dan perak yang dipenuhi anggur terbaik serta berbagai makanan mengundang selera. Para pemusik memainkan suling-suling berlapis sutra, menyanyikan lagu tentang cinta yang tak pernah dirasakan tuan mereka. Gadis itu duduk di singgasana di sebelah sang penyihir yang berbicara sangat pelan menggunakan kata-kata para penyair, meskipun dia tak tahu arti kata-kata itu.

Gadis itu mendengarkan, kebingungan, hingga akhirnya menjawab, “Bicaramu sangat baik, Penyihir, dan aku akan sangat senang menerima semua perhatianmu, jika saja aku yakin kau punya hati!”

Sang penyihir tersenyum dan mengatakan bahwa gadis itu tak perlu khawatir mengenai hal tersebut. Sambil meminta sang gadis untuk mengikutinya, penyihir itu mengajak si gadis pergi dari jamuan, turun ke ruang bawah tanah tempat dia menyimpan hartanya yang paling berharga.

Di sini, dalam kotak Kristal ajaib, tersimpan hati sang penyihir yang masih berdetak.

Setelah begitu lama terpisah dari mata, telinga, dan jemari, hati itu tak pernah lagi menyaksikan keindahan, atau mendengar suara music, ataupun merasakan lembutnya sutra. Gadis itu ketakutan melihatnya, karena sekarang hati sang penyihir sudah menyusut dan tertutupi bulu-bulu hitam yang panjang.

“Oh, apa yang telah kau lakukan?” si gadis menangis. “Kembalikan hati itu ke tempatnya semula, kumohon!”

Untuk menyenangkan gadis itu, sang penyihir mengambil tongkat sihirnya, membuka kotak Kristal, merobek dadanya sendiri, dan meletakkan kembali hati yang berbulu itu ke lubang kosong yang merupakan tempat asli hati itu.

“Sekarang kau telah sembuh dan akan merasakan arti cinta sejati!” si gadis berseru, lalu memeluk sang penyihir.

Sentuhan lembut lengan si gadis, suara napasnya di telinga sang penyihir, dan aroma rambut pirangnya yang tebal; semuanya menusuk hati yang baru terbangun itu bagaikan tombak tajam. Tetapi setelah bertahun-tahun berada dalam keterasingan, hati sang penyihir berubah aneh, menjadi buta dan buas dalam kegelapan yang mengelilinginya, dan seleranya menjadi begitu kuat serta jahat.

Para tamu lain mulai menyadari ketidakhadiran tuan rumah mereka dan si gadis. Meskipun awalnya tak terganggu, mereka jadi semakin gelisah ketika jam-jam mulai berlalu, lalu mereka mencari keduanya ke seluruh kastil.

Akhirnya mereka menemukan ruang bawah tanah, dan pemandangan yang sangat mengerikan telah menunggu mereka di sana.

Gadis itu terbaring tak bernyawa di lantai, dadanya robek, dan sang penyihir yang kini jadi gila berjongkok di sebelahnya. Dalam salah satu tangan sang penyihir yang berlumuran darah tergenggam hati yang besar, halus, dan mengilap. Penyihir itu menjilat dan membelai-belai hati itu, bersumpah akan mengganti hatinya dengan hati si gadis.

Di tangan yang satunya, sang penyihir menggenggam tongkat sihirnya, mencoba mengeluarkan hatinya yang sudah susut dan berbulu. Tetapi hati yang berbulu itu lebih kuat daripada sang penyihir, hati itu menolak melepaskan diri dari semua rasa yang sekarang bisa ia nikmati, menolak masuk kembali ke kotak kematian yang telah meyekapnya begitu lama.

Di hadapan para tamu yang ketakutan, sang penyihir melempar tongkat sihirnya, lalu mengambil belati perak. Sambil bersumpah untuk tak pernah dikendalikan oleh hati, dia mencabut hatinya sendiri dari dada.

Untuk sesaat, sang penyihir berlutut dalam kemenangan, masing-masing tangan menggenggam satu hati; kemudian dia jatuh di atas tubuh si gadis, dan mati.

 

BABBITY RABBITY DAN TUNGGUL TERBAHAK

Pada zaman dahulu kala, di negeri yang sangat jauh, hiduplah seorang raja bodoh yang memutuskan bahwa hanya dia yang boleh memiliki kekuatan sihir.

Oleh karena itu, Raja memerintahkan kepada pasukannya untuk membentuk pasukan pemburu penyihir dan member mereka sekawanan anjing pemburu hitam yang buas. Pada saat yang sama, raja mengeluarkan pengumuman yang harus dibacakan di desa dan kota, di seluruh negeri: “Raja mencari instruktur sihir.”

Tidak ada penyihir sungguhan yang berani mengajukan diri untuk posisi tersebut, karena mereka semua bersembunyi dari Pasukan Pemburu Penyihir.

Tetapi, seorang penipu licik yang tak punya kekuatan sihir sama sekali, melihat hal ini sebagai kesempatan baik untuk memperkaya diri. Maka dia datang ke istana, mengaku sebagai penyihir hebat. Si penipu memainkan beberapa trik sederhana untuk menunjukkan kekuatan sihirnya, dan Raja yang bodoh langsung menunjuknya menjadi Kepala Penyihir Besar, Guru Sihir Raja.

Penipu itu memohon agar Raja memberikan sekarung besar emas kepadanya, supaya dia dapat membeli tongkat sihir dan berbagai keperluan sihir. Dia juga meminta beberapa permata rubi yang besar untuk membuat jimat penyembuh, serta satu-dua piala perak untuk menyimpan dan membuat ramuan. Semua permintaan ini disanggupi oleh Raja yang bodoh.

Si penipu menyimpan semua harta itu di rumahnya sendiri, lalu kembali ke halaman istana.

Penipu itu tidak tahu bahwa dia diawasi oleh perempuan tua yang tinggal di  pondok kumuh di ujung halaman. Nama perempuan itu Babbity, dan dia adalah tukang cuci yang membuat semua seprai di istana tetap lembut, wangi, dan putih. Babbity mengintip dari balik seprai-seprai yang sedang dijemurnya dan melihat si penipu mematahkan dua ranting dari pohon Raja lalu masuk ke istana.

Si penipu memberikan salah satu ranting kepada Raja dan meyakinkannya bahwa ranting itu adalah tongkat sihir berkekuatan hebat.

“Tapi tongkat itu hanya akan berfungsi jika Yang Mulia layak menggunakannya,” kata sang penipu.

Setiap pagi, si penipu dan Raja yang bodoh keluar ke halaman istana, lalu melambai-lambaikan tongkat sihir mereka dan meneriak-neriakkan  mantra omong kosong kea rah langit. Si penipu sengaja memperlihatkan trik-trik baru supaya Raja tetap memercayai kemampuannya sebagai Penyihir Besar serta kekuatan tongkat sihir yang dibeli dengan banyak emas.

Suatu pagi, ketika  si penipu dan Raja yang bodoh sedang memutar-mutar ranting mereka, melompat-lompat dalam lingkaran, dan merapal mantra-mantra kosong, suara tawa terbahak-bahak sampai ke telinga Raja. Babbity si tukang cuci sedang mengamati Raja dan penipu itu dari jendela pondok kecilnya. Dia tertawa begitu keras hingga tak bisa berdiri dan tak terlihat lagi dari jendela.

“Aku pasti terlihat sangat konyol hingga tukang cuci istana tertawa sekeras itu!” kata Raja. Dia berhenti melompat-lompat dan memutar-mutar rantingnya, lalu mengerutkan kening. “Aku letih berlatih sihir! Kapan aku siap menunjukkan mantra-mantra sungguhan di depan rakyatku, Penyihir?”

Si penipu berusaha menenangkan muridnya, meyakinkan Raja bahwa sebentar lagi dia pasti mampu melakukan sihir hebat. Tapi tawa Babbity telah menyinggung perasaan Raja lebih dari yang diduga si penipu.

“Besok,” kata Raja, “kita akan mengundang para bangsawan untuk melihat raja mereka melakukan sihir!”

Si penipu sadar sekaanglah waktunya dia mengambil seluruh harta yang sudah diberikan Raja dan pergi jauh.

“Maaf, Yang Mulia, itu mustahil! Aku lupa mengatakan kepada Yang Mulia bahwa besok aku harus pergi jauh…”

“Jika kau pergi dari istana tanpa izinku, Penyihir, Pasukan Pemburu Penyihir-ku akan mengejarmu dengan anjing-anjing mereka! Besok kau harus membantu menunjukkan kemampuan sihirku di hadapan seluruh bangsawan, dan jika ada orang yang menertawakanku, aku akan memenggalmu!”

Raja kembali ke istana dengan marah, meninggalkan si penipu sendirian dan ketakutan. Bahkan seluruh kelicikannya tak bisa menyelamatkan si penipu, karena dia tak bisa kabur dan tak bisa membantu Raja menunjukkan keterampilan sihir  yang sama-sama tidak mereka kuasai.

Untuk melampiaskan ketakutan dan kemarahannya, si penipu mendekati jendela pondok Babbity si tukang cuci. Saat mengintip ke dalam, dia melihat perempuan tua itu duduk di meja, sedang membersihkan tongkat sihir. Di salah satu pojok pondok, dalam ember kayu, seprai-seprai Raja tercuci sendiri.

Si penipu seketika paham bahwa Babbity adalah penyihir sungguhan, dan perempuan tua yang  telah memberinya kesulitan besar itu juga dapat menyelesaikan masalahnya.

“Perempuan tua!” seru si penipu. “Tawamu membuatku  berada dalam kesulitan besar! Jika kau tak mau membantuku, aku akan memberi tahu semua orang kau adalah penyihir. Dan kaulah yang akan dicabik-cabik oleh kawanan anjing Raja!”

Babbity tua tersenyum pada si penipu dan meyakinkannya bahwa dia akan melakukan apa pun yang dia mampu untuk membantu.

Si penipu menyuruh Babbity untuk bersembunyi di semak-semak sementara Raja mempertontonkan keahlian sihirnya. Dan saat itu Babbity harus menggunakan mantranya untuk membantu Raja, seolah-olah Raja sendirilah yang memiliki kekuatan sihir. Semuanya harus dilakukan tanpa sepengetahuan Raja. Babbity setuju melakukan semua itu, tapi dia menanyakan satu hal.

“Tuan, bagaimana jika Raja mencoba mantra yang tidak Babbity kuasai?”

Si penipu hanya mendengus.

“Sihirmu lebih dari cukup untuk imajinasi raja bodoh itu.” Ia meyakinkan Babbity. Si penipu lalu kembali ke istana untuk beristirahat, sangat puas atas kepintarannya sendiri.

Pagi berikutnya, semua bangsawan di kerajaan, laki-laki dan perempuan, berkumpul di halaman istana. Raja naik ke panggung di hadapan mereka, si penipu berdiri di sebelahnya.

“Pertama-tama, aku akan membuat topi lady di sana menghilang!” seru Raja, lalu mengarahkan rantingnya kepada perempuan bangsawan yang dimaksud.

Dari balik semak-semak di dekat mereka, Babbity mengarahkan tongkat sihirnya kea rah yang sama dan membuat topi itu menghilang. Begitu besar kekagetan dan kekaguman para penonton yang berkerumun, dan begitu keras tepuk tangan mereka untuk Raja yang merasa bangga bukan main.

“Kemudian, aku akan membuat kuda itu terbang!” seru Raja, lalu mengarahkan rantingnya kepada kudanya sendiri.

Dari balik semak-semak, Babbity mengarahkan tongkat sihirnya kepada kuda itu dan kuda itu terangkat tinggi ke udara.

Para penonton semakin gembira dan takjub, dan mereka berseru-seru memuji raja mereka yang ajaib.

“Dan sekarang,” kata Raja menengok ke segala arah untuk mencari ide, ketika Kapten Pasukan Pemburu Penyihir berlari ke depan.

“Yang Mulia,” kata Kapten, “pagi ini Sabre mati karena memakan cendawan beracun! Hidupkan dia dengan tongkat sihirmu, Yang Mulia!”

Dan sang kapten membawa tubuh anjing pemburu penyihirnya yang paling besar, yang sudah tak bernyawa lagi.

Raja yang bodoh melambaikan rantingnya dan mengarahkannya pada anjing mati itu. Tetapi di balik semak, Babbity hanya tersenyum dia bahkan tak mau repot-repot mengangkat tongkat sihirnya, karena tak ada sihir yang dapat membangkitkan makhluk yang sudah mati.

Ketika anjing itu tetap tidak bergerak, para penonton mulai berbisik-bisik hingga tertawa. Mereka curiga bahwa dua keberhasilan Raja sebelumnya hanyalah tipuan.

“Mengapa tidak berhasil?” teriak Raja pada si penipu yang sedang memikirkan satu-satunya tipuan yang tersisa.

“Di sana, Yang Mulia, di sana!” serunya sambil menunjuk ke semak-semak tempat Babbity bersembunyi. “Aku dapat melihatnya dengan jelas, penyihir jahat yang menghalangi sihir Yang Mulia dengan mantra-mantra jahatnya! Tangkap dia, tangkap dia!”

Babbity lari dari semak-semak, dan Pasukan Pemburu Penyihir langsung mengejar, melepaskan kawanan anjing pemburu yang haus akan darah Babbity. Tetapi saat mencapai pagar tanaman yang rendah Babbity lenyap dari pandangan semua orang. Ketika Raja, si penipu, serta semua bangsawan sampai ke sana, mereka melihat kawanan anjing pemburu menyalak dan berputar-putar di sekitar pohon tua yang bengkok.

“Penyihir itu mengubah dirinya jadi pohon!” teriak si penipu. Karena takut Babbity akan berubah lagi menjadi manusia lalu membongkar rahasiannya, dia menambahkan, “Tebang dia, Yang Mulia, itulah caranya menghukum penyihir-penyihir jahat!”

Sebuah kapak langsung dibawa ke tempat itu, dan pohon tua itu tumbang disertai sorakan keras para bangsawan dan si penipu.

Meskipun begitu, ketika mereka bersiap-siap kembali ke istana, terdengar suara tawa terbahak-bahak, membuat mereka semua terpaku di tempat.

“Orang-orang bodoh!” seru suara Babbity dari tunggul pohon. “Semua penyihir tak bisa dibunuh dengan cara dibelah dua! Ambil kapaknya, jika kalian tidak percaya padaku, dan belahlah Penyihir Besar menjadi dua!”

Kapten Pasukan Pemburu Penyihir ingin sekali mencobanya, tapi ketika dia mengangkat kapak, si penipu tersungkur dan berlutut, memohon ampun dan mengakui semua kecurangannya. Ketika si penipu diseret untuk dibawa ke penjara bawah tanah, tunggul itu tertawa lagi, lebih keras dari sebelum-sebelumnya.

“Dengan membelah dua seorang penyihir, kalian telah menebar kutukan mengerikan atas seluruh kerajaan ini!” tunggul itu memberitahu Raja yang ketakutan. “Sejak saat ini, setiap kesulitan yang kautimpakan kepada teman-teman penyihirku akan terasa bagaikan ayunan kapak pada dirimu sendiri, sampai-sampai kau akan berharap mati saja karenanya!”

Mendengar itu, Raja juga jatuh berlutut, dan mengatakan pada tunggul pohon itu bahwa dia akan segera mengeluarkan pengumuman ke seluruh negeri. Semua penyihir di kerajaan akan dilindungi dan mereka semua boleh mempraktikkan sihir dengan tenang.

“Bagus sekali,” kata tunggul, “tapi kau belum menebus kesalahanmu kepada Babbity!”

“Apa pun, apa pun yang kau inginkan!” seru Raja yang bodoh sambil memegangi tunggul itu.

“Kau akan mendirikan patung Babbity di atasku, untuk mengingat tukang cucimu yang malang dan untuk mengingatkanmu selamanya atas kebodohanmu sendiri!” kata tunggul.

Raja langsung setuju, dan berjanji untuk menugaskan pematung terbaik di kerajaan membuat patung Babbity dari emas murni. Kemudian Raja yang sangat malu beserta seluruh bangsawan kembali ke istana, meninggalkan tunggul terbahak.

Ketika halaman istana kembali lengang, dari lubang di antara akar-akar pohon keluarlah seekor kelinci kekar dan bermisai tebal sambil menggigit tongkat sihir. Babbity keluar dari halaman istana menuju tempat yang sangat jauh dengan melompat-lompat. Tak lama kemudian patung emas tukang cuci berdiri di atas tunggul, dan sejak saat itu tak ada lagi penyihir yang diburu di kerajaan tersebut.

 

KISAH TIGA SAUDARA

Pada zaman dahulu ada tiga saudara, kakak-beradik laki-laki, yang berkelana melewati jalan panjang berliku-liku di senja hari. Pada waktunya, ketiga saudara ini tiba di sungai yang terlalu dalam untuk diseberangi dengan berjalan kaki dan terlalu berbahaya untuk diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian, ketiga saudara ini menguasai ilmu sihir, maka mereka tinggal melambaikan tongkat sihir mereka dan sebuah jembatan muncul di atas air yang berbahaya itu. Mereka sudah tiba di tengah jembatan ketika ternyata jalan mereka dihalangi oleh sosok berkerudung.

Dan kematian berbicara kepada mereka. Dia marah telah kehilangan tiga korban baru, karena para pengelana biasanya tenggelam di sungai. Tetapi kematian licik. Dia berpura-pura member selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka, dan berkata masing-masing berhak mendapatkan hadiah karena telah cukup pintar untuk menghindarinya.

Maka, si sulung, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir yang lebih hebat daripada semua tongkat sihir yang ada: tongkat sihir yang harus selalu memenangkan duel bagi pemiliknya, tongkat sihir yang layak diterima penyihir yang telah mengalahkan Kematian!  Maka Kematian menyeberang ke sebatang pohon elder di tepi sungai, membuat tongkat sihir dari dahan yang menggantung di sana, dan memberikannya kepada si sulung.

Kemudian si tengah, orang yang sombong, memutuskan dia ingin mempermalukan Kematian lebih jauh lagi, dan meminta kekuatan untuk memanggil yang lain dari Kematian. Maka Kematian memungut sebutir batu dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah, dan memberitahunya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuk mengembalikan orang yang sudah mati.

Kemudian Kematian menanyai si bungsu, apa yang diinginkanya. Si bungsu ini yang paling rendah hati dan juga paling bijaksana di antara ketiga kakak-beradik ini, dan dia tidak memercayai kematian. Maka dia meminta sesuatu yang bisa membuatnya melanjutkan perjalanan dari tempat itu tanpa diikuti oleh Kematian. Dan Kematian, dengan amat sangat enggan, menyerahkan Jubah Gaib-nya sendiri kepada si bungsu.

Kemudian Kematian menyisih dan mengizzinkan ketiga kakak-beradik itu melanjutkan perjalanan mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan, sambil membicarakan dengan takjub petualangan yang telah mereka alami, dan mengagumi hadiah dari Kematian.

Pada saatnya ketiga kakak-beradik ini berpisah, masing-masing menuju tujuan mereka sendiri-sendiri.

Si sulung berjalan kira-kira seminggu lagi, dan tiba di suatu desa yang jauh, mencari penyihir kenalannya, dengan siapa dia pernah bertengkar. Tentu saja dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya, dia tak mungkin kalah dalam duel yang terjadi. Meninggalkan musuhnya mati di lantai, si sulung menuju tempat penginapan. Di sana dia membanggakan keras-keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperolehnya dari Kematian sendiri, dan tentang bagaimana tongkat sihir itu membuatnya tak terkalahkan.

Malam itu juga, seorang penyihir lain mengendap-endap mendatangi si sulung yang sedang terlelap, bersimbah anggur, di tempat tidurnya. Pencuri ini mengambil tongkat sihirnya dan, sebagai tambahan, menggorok leher si sulung.

Maka Kematian mengambil si sulung sebagai miliknya.

Sementara itu, si tengah pulang ke rumahnya, tempat dia hidup sendiri. Dia mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati, dan memutarnya tiga kali dalam tangannya. Betapa heran dan gembirannya dia, sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya, sebelum gadis itu meninggal dalam usia muda, muncul seketika itu juga di hadapannya.

Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin, terpisah darinya seolah oleh sehelai selubung. Walaupun telah kembali ke dunia orang hidup, dia sesungguhnya bukanlah bagian dari dunia itu dan menderita. Akhirnya, si tengah, menjadi gila karena kerinduan yang sia-sia, membunuh diri supaya bisa benar-benar bergabung dengan gadis itu.

Maka Kematian mengambil si tengah sebagai miliknya.

Namun, meski Kematian mencari si bungsu selama bertahun-tahun, dia tak pernah berhasil menemukannya, barulah ketika telah mencapai usia lanjut, si bungsu membuka Jubah Gaib-nya dan memberikannya kepada anak laki-lakinya. Dan kemudian dia menyalami Kematian sebagai teman lama, dan pergi bersamanya dengan senang, dan sebagai teman sederajat, mereka meninggalkan kehidupan ini.

 

END

 

Kalau setelah membaca tulisan ini anda merasakan ada perubahan pada system saraf dan system pencernaan anda, disarankan untuk segera mengunjungi dukun pijat terdekat. kekekekeke…. XXD