Ame ni niteiru

Title                   :  Ame ni Niteiru (~ Looks Like Rain  ~)

Disclaimer      :  Ame ni Niteiru (~ Looks Like Rain  ~) © Watanabe Taeko-sensei

* Memories in the Rain (Ost Bleach) Vocal by :

Morita Masakazu (Kurosaki Ichigo) & Orikasa Fumiko (Kuchiki Rukia)

A/N : Ingin menulis lagi kata-kata ‘indah’ di Manga (Komik) Ame ni Niteiru (~ Looks Like Rain  ~) punya Watanabe Taeko-sensei yang diterbitkan oleh salah satu penerbit di Indonesia, jadi sedikit banyak saya mengutip kata-kata yang ada di Manga tersebut. Watanabe-sensei sendiri selalu membuat manga dengan unsur Sho-ai di dalamnya, termasuk Manga ini. Saya nggak akan Spoiler cerita Manga ini, jadi lebih baik baca sendiri ya hehehe… #EvilGrin

Saa~ Dozo Yoroshiku Onegaishimasu ^^

 *

*

*

Yuuki’s Present

duongnhucomua

~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~ Ame ni Niteiru~ ~ * ~ ~ * ~ ~* ~ ~

(~ Looks Like Rain ~)

*

*

*

Ame mae no hi mo ame de sono  mae mo Ame de

(Rain the day before also rained and it rained before)

Slow Motion Ai wa totzusen ni… Ore no mae de kowarete

(In slow motion, Love was suddenly… broken in front of me) *

.

.

.

 

“Seperti hujan…”

Itu kata yang sama yang pernah kita ucapkan.

“Seperti butiran hujan yang jatuh di bahu, hujan yang begitu lembut indah berwarna keemasan…”

Dan itu memang mirip denganmu, Yuu…

Waktu begitu singkat, hingga tiba pagi hari di bulan Februari yang sangat dingin.

Bagimu, itu mungkin sama dengan musim dingin yang ke-17.

Pertemuan yang tak disengaja. Pembicaraan pertama kita yang kupikir begitu ‘aneh’.

Apalagi ketika kau terlihat serius dan mulai menceritakan tentang dirimu, tentang hujan…

Tubuhmu yang begitu ringan, yang ternyata sedang ‘berjuang’ sendiri.

Iya, kau dan tubuhmu yang rapuh itu tengah ‘berjuang’ untuk hidup.

Setidaknya untuk hidup lebih lama satu hari lagi.

Dan saat aku tahu itu, aku sadar.

Aku ingin selalu menemanimu.

Yuu…

Kau selalu saja memandangi danau ini dari padang rumput di tempat yang tinggi, hanya diam menunggu turunnya malam. Belakangan, aku selalu memperhatikan itu.

Sebab selalu saja melalui pertemuan yang tak pernah kupikir sebelumnya, mataku selalu memandang kearahmu.

Aku menatap ke langit, kembali bermimpi tentangmu. Sebab seharusnya kita masih diperbolehkan bermimpi, apapun juga.

Dan bagiku hujan serupa air mata, sebab kau menangis lalu entah kenapa aku pun ikut menangis. Sebelumnya aku tak pernah melihat air matamu. Sebab sama seperti hujan, kau begitu dingin.

Tangis yang memang bukan pertama kalinya kulihat dan kuharap bukan untuk yang terakhir kali.

Saat itu aku memelukmu. Erat.

 

“Aku tak mau mati…”

“Ya”

“Aku tidak ingin mati…”

“Ya…”

“Tidak ingin mati…”

“…”

 

Hening yang ada ketika kurengkuh bibirmu. Rasanya begitu sesak mendengar setiap kata yang kau ucap disela tangismu.

Setidaknya aku mengerti, kau belum ingin mati saat ini.

Kau masih ingin hidup, masih ingin bermimpi dan menatap kembali hujan.

Dan akupun masih ingin di sampingmu.

 

Namun saat itu pula, di musim dingin ke-17 mu itu.

Kau pergi, Yuu…

Membuatku menatap langit, berharap menemukanmu.

Membuatku menanti hujan yang mirip denganmu.

Meninggalkan sedikit kenangan untukku, kenangan kecil yang begitu berharga di hidupku.

Dan ada sesuatu yang ingin kukatakan atau kubisikan di telingamu.

Sekali ini saja dihidupku.

Kini, dari dulu maupun dimasa yang akan datang…

Aku menyayangimu.

 

Aku menyayangimu,

Yuu…

 

Sawaki Tomoyuki kepada Okuse Yuuichi

 

.

.

.

OWARI