Salam…

Kali ini aku tidak sedang menulis cerpen, apalagi puisi. huuummm lalu apa? Cerbung kah? Tentu saja bukan. Lah ini aja cuma sekali tembak selesai (one shoot). Mungkin bisa disebut resensi. Tapi bukan juga ding. Tidak ada ulasan film yang aku tonton, buku yang aku baca, atau musik yang aku dengar.

Ah…. terlalu berbelit-belit ya?

Hehehe. Ini sebuah catatan resensi hidupku, lebih tepatnya keinginanku, cita-citaku.

Semoga kawan2 berkenan membacanya.

Dan jangan lupa berikan komentar.

Thanks to Yayak, yang udah bolehin posting coretan aneh ini. Kalo masih ada typo, jangan dicaci-maki. Kurasa kau sudah paham, typo itu seperti sudah menjadi bagian dari tulisanku heheheh.

Here we go: My Will

Dulu, waktu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Bu Guru pernah memberi tugas menggambar. Seandainya tugasnya adalah menggambar bebas, tentu aku tidak akan kesulitan. Aku akan menggambar dua buah gunung nyaris kembar berwarna biru dengan matahari oranye di tengahnya. Apakah kalian juga akan menggambar hal yang sama?

Tapi, tema gambar kali itu berbeda. Temanya agak sulit dan membuatku mengerutkan dahi. Tema kali itu adalah profesi yang dicita-citakan. Lah apanya yang sulit? Mungkin bagi sebagian besar kawan, tak terlalu sulit menggambar profesi yang dicita-citakan. itu terbukti dari lancarnya teman-temanku mengerjakan tugas itu. Nyaris tidak ada yang kesulitan menyelesaikan tugas menggambar itu.

Seorang teman, menggambar seorang lelaki gagah berbaju hijau loreng-loreng berdiri tegap membawa senapan. Yup, dia menggambar tentara.

Teman yang lain menggambar seorang perempuan manis memakai baju serba putih, bertopi putih juga, dia memegang jarum suntik sambil tersenyum manis. Yup, dia sedang menggambar seroang suster beneran, bukan suster ngesot atau suster keramas, apalagi suster yang ngesot sambil keramas. Qiqiqiq

Ada pula teman yang menggambar seorang pria sedang mengemudikan pesawat. Ada yang menggambar wanita berkacamata membawa penggaris panjang menunjuk ke papan tulis. Bahkan ada yang menggambar seorang pria telanjang dada membawa cangkul.

Yang lebih extrim, ada yang menggambar gadis cantik pakai rok mini dan memegang bulan sabit. Temanku itu bercita-cita menjadi Sailor Moon.
Lantas apa yang aku gambar?

TIDAK ADA.

Aku tidak bisa menyelesaikan gambarku. Aku bingung dengan cita-citaku. Walhasil aku cuma bisa menangis ketika waktu pengumpulan gambar tiba. Dan Bu Guru pun memperlakukan aku dengan khusus, aku diperhatikan dan disayang sebagai anak berkebutuhan khusus. Tidak terlalu salah memang, toh akhirnya anak itu tumbuh menjadi lelaki berkebutuhan khusus. Plaaaakkkk!

Duduk di bangku SD tidak membuat pikiranku tercerahkan. Aku masih buntu dengan cita-citaku. Sementara teman-temanku semakin fokus dan terobsesi dengan cita-citanya. Beberapa teman membeli mainan bahkan kostum sesuai cita-cita. Ada yang membeli baju hijau loreng-loreng plus senapan,tentu senapan mainan. Ada juga yang membeli baju serba putih plus topi putih plus spuit dan jarum suntik. Ada yang koleksi berbagai macam pesawat. Dan lain-lain. Tapi ada pula yang akhirnya pindah cita-cita. Temanku yang bercita-cita menjadi Sailor Moon, ganti cita-cita menjadi Wedding Peach.

Hingga pada suatu hari, guru kelas 1 SD-ku meminta kami untuk maju satu-satu dan menceritakan tentang cita-citanya. Aku kebakaran jenggot, padahal waktu itu aku belum tumbuh jenggot. Aku panik. Aku berfikir keras untuk merumuskan cita-citaku. Aku buntu! Aku tidak mau diperlakukan khusus. Karena jelas berbeda perlakuan khusus antara guru TK dengan guru di SD. Di TK bu guru penuh dengan kasih sayang. Di SD? Huft dia penuh dengan makian dan hukuman.

Tapi alam semesta berbuat baik padaku. Beberap saat sebelum aku maju, aku membuka LKS dan melihat daftar sahabat pena. Dan…. eureeeeekaaaaa…… aku menemukan cita-cita yang pas untukku. Aku mengkopi-paste cita-cita sahabat pena itu. Dan taaaraaaa…….

AKU INGIN MENJADI MANUSIA YANG BERGUNA BAGI NUSA DAN BANGSA.

Sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Cita-cita maha agung yang pernah ada. Cita-cita keren luar biasa. Cita-cita bagi anak-anak yang bingung dengan cita-citanya. Dan aku pun berhasil melewati tugas menceritakan cita-cita itu dengan baik. Hihihi…

Namun itu belum selesai. Menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa masih menyisakan sejumput kegelisahan. Sebenarnya manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa itu manusia yang seperti apa? Entah…

Kegelisahanku berakhir ketika aku duduk di kelas 3 SD. Untuk siswa kelas 3 SD sudah diperbolehkan dengan Pramuka Siaga. Dan dari latihan-latihan pramuka itulah aku mulai terinspriasi tentang cita-citaku. Di pelatihan pramuka, kita bisa diskusi dengan para Penggalang yang sudah kelas 5 atau 6, dan tentunya kita bisa tanya-tanya cita-cita mereka sebagai referensi. Kita juga bisa tanya ke pembina dan mendapatkan bimbingan. Dan itu kuoptimalkan untuk mengetahui minat dan bakatku. Hmmmm pramuka memang luar biasa.

Tapi sayang seribu sayang, menjadi Pramuka bukanlah sebuah cita-cita. Pramuka bukanlah profesi. huft!

Dan aku kembali menabrak cul de sac: Jalan buntu. Aku belum menemukan cita-cita yang pas untukku.

Hingga pada suatu ketika, pada saat brifing materi penjelajahan, bertempat di kelas 6, aku iseng-iseng merogoh laci bangku. Dan aku menemukan buku paket IPA kelas 6. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya saat membuka lembar demi lembar. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto berturut-turut menyelinap ke dalam kepalaku. Aku menemukan cita-citaku.

AKU INGIN MENJADI ASTRONOT PENJELAJAH ALAM SEMESTA.

Wowwww…. kedengarannya lebih keren dari cita-cita pertama. Lebih keren dari pilot yang hanya terbang dari satu kota ke kota lain. Bahkan lebih keren dari Sailor Moon yang hanya punya kekuatan bulan doang. Qiqiqiqiq. Dan sejak saat itu lah aku jatuh cinta dan tergila-gila dengan pelajaran IPA yang kelak kemudian hari berubah nama menjadi Sains.

Perjalanan cintaku dan sains kian tahun kian menggairahkan. Bahkan bisa bertahan lama hingga aku duduk di bangku SMP. Aku mencintai Fisika dan Biologi. Aku mencintai mereka berdua sekaligus. Namun yang namanya perjalanan cinta, tentu ada ombak dan badai, ada onak dan duri. Selalu ada rintangan.

Rintangan pertama datang dari seorang lelaki. Tampan, gagah, sexy, dadanya berbulu, baik hati dan tentunya punya sifat melindungi dan mengayomi. Ah… Aku sungguh terpesona pada lelaki itu. Dan lelaki itu melarikanku ke dunianya: SASTRA. Yup, dialah guru Bahasa dan Sastra Indonesia.

Ia menculik dan menyekapku di perpustakaan. Menjejaliku dengan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Achmad Tohari, menyuapiku dengan La Barka-Pada Sebuah Kapal-Namaku Hiroko-nya Nh. Dini, dan membuaiku dengan Pengakuan Pariyem-nya Linus Agustinus. Aku melupakan Sains dan berpaling ke SASTRA.

AKU INGIN MENJADI SASTRAWAN

Tapi rupanya Sains tidak terima aku memutuskan dia begitu saja. Dia rela menjadi yang kedua sambil menunggu kesempatan untuk menggantikan Sastra secara diam-diam. Dan akhirnya Sains berhasil saat dia memperkenalkan Kimia di bangku SMA. Lalu memenuhi benakku dengan sistem periodik unsur.

Aku bingung, berada di dua pilihan yang sama beratnya. Kami terlibat dalam cinta segitiga. Aku, Sastra dan Sains. Mereka saling bersaing memperbutkan perhatianku. Sains membiusku dengan kinetika dan dinamika gerak lurus. Sastra merayuku dengan Rabindanath Tagore. Lalu Sains mencumbuku dengan deretan alkana, alkena dan alkuna. Sedangkan Sastra memabukkan aku dengan karya-karya AA Navis.

Hingga pertempuran mereka pun semakin membuatku jatuh cinta pada keduanya. Dalam keadaan chaos itu Sastra mengukir sebuah kemenangan telak sekaligus kekalahan tak terbantahkan. Dia berhasil membuatku berpaling dari Sains, sekaligus meninggalkan dirinya sendiri. Sastra meperkenalkan aku pada Price of an Apple-nya TW Powel. Dan aku pun jatuh cinta pada Sosiopolitik.

Kecintaanku pada Sosiopolitik membuat wali kelasku bingung. Dalam kuisioner pemilihan jurusan, aku memilih IPS, padahal nilai matematika, fisika, kimia dan biologiku berderet sembilan. Aku kembali diperlakukan secara khusus. Aku kembali menjadi anak berkebutuhan khusus.

Karena tekanan, rayuan, dan bujukan wali kelas, akhirnya aku masuk jurusan IPA. Keputusan yang harus kubayar dengan mahal, karena aku harus terpisah dengan Herdian, lelaki sebangkuku saat kelas 1 SMA. Tapi sungguh dalam hati, cintaku masih untuk Herdian dan IPS. Cinta terlarang yang menggairahkan.

AKU INGIN MENJADI POLITIKUS.

Maka aku pun berusaha keras tetap belajar pelajaran-pelajaran IPS walaupun masuk IPA. Dan aku bertekad untuk kuliah di jurusan IPS. Dan niatku itu kuwujudkan saat mengikuti UM UGM. Pilihan pertama Hubungan Internasional. Pilihan kedua Ilmu Hukum. Pilihan ketiga barulah Fisika.

Usahaku tidak sia-sia. Aku berhasil lolos UM UGM dan mencantumkan namaku sebagai salah satu calon mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Aku sombong tidak terkira saat itu. Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Orang tuaku, terutama ibuku melarang keras aku kuliah di kampus yang berlokasi di kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu.

Gempa dan Merapi yang menjadi kambing hitam saat itu. Tapi aku yakin bukan karena itu Ibuku mencak-mencak melarangku kuliah di sana. Dia khawatir gelagat burukku akan semakin parah jika aku kuliah di sana. Ibu mengendus rahasiaku terdalamku saat aku sering menanyakan (baca: meragukan) keberadaan dan kekuasaan Tuhan.

Dewasa ini aku mulai menyadari kekhawatiran ibuku itu. Bagaiman tidak, lah literatur ilmu-ilmu sosial sebagian besar bersumber pada literatur barat yang berlandas pada ideologi Sekuler-kapitalisme. Tentu dia tidak ingin aku terjerat semakin dalam pada ketidakpercayaanku kepada tuhan. Walaupun sekulerisme masih mengakui keberadaan tuhan, tapi pada dasarnya dia tidak mempercayainya. Sekulerisme meminggirkan tuhan hanya di pojokan tempat ibadah saja. Dia melarang tuhan mengatur kehidupan di luar tempat ibadah. Maka wajarlah banyak politisi dan hakim yang korupsi tanpa takut pada tuhan. Karena mereka korupsi dan melakukan berbagai keburukan di luar tempat ibadah.

Tidak sampai di sana. Ibuku mengultimatum aku bahwa aku hanya boleh kuliah di Surabaya. Bukan di Malang atau Jember. Alasan yang dikemukakan adalah agar ibu bisa sering mengunjungi aku sewaktu-waktu beliau kangen. Tapi motiv sebenarnya adalah agar aku tidak menghamili anak orang. Atau malah dihamili anak orang? Qiqiqiq Ibuku paranoid pada pergaulan jaman sekarang.

Karena kesal, aku mengultimatum balik. Aku hanya mau masuk fakultas kedokteran. Jika tidak diterima, aku tidak mau kuliah. Dan Ibuku setuju walaupun ragu. Secara biaya masuk dan SPP fakultas kedokteran adalah yang termahal di antara jurusan lain. Waktu itu uang masuk 75 juta yang tertulis. Yang tidak tertulis bisa lebih. Dan beratnya bahwa biaya itu harus dibayar di muka secara kontan. Sedangkan SPP 5,5 juta per semester. Tidak termasuk biaya buku.

Tapi ibuku dekat dengan keberuntungan, mungkin karena dia dekat dengan Tuhan. Aku diterima di jalur reguler. Uang masuk 7 juta, bisa diangsur hingga sepuluh kali serta mendapatkan keringanan hingga separuhnya. Sedangkan SPP hanya 700 ribu per semester. Dan terakhir, aku mendapatkan beasiswa sebesar 1.5 juta per bulan.

Itulah awal kebahagiaan bagi ibuku, dan penderitaan bagiku. Tidak ada lagi benda-benda langit yang memijar dan saling mengitari. Apalagi novel-novel sosial politik. Yang ada hanya anatomi,  fisiologi, histologi, biokomia dan kawan-kawan sebangsanya. Aku menderita luar biasa di semester-semester awal. Sampai-sampai aku mulai berfikir bahwa tuhan itu tidak adil. Dia lebih memihak ibuku daripada aku. Eh tunggu dulu?…. Bukankah aku tidak meyakini keberadaan dan kekuasaan Tuhan? Lantas mengapa aku menggugat keadilannya?

Huft… akhirnya aku harus mengakui bahwa tuhan itu ada. Dia yang mengatur semua ini. aku kalah dalam percaturan dan pertaruhan ini. Ibuku menang.
Tapi tentu ada hikmah di balik setiap musibah. Semester 3, aku mulai menyukai Ilmu Kedokteran. Aku bertemu dengan Fisiologi (Ilmu Faal). Dan dialah yang kemudian menuntunku untuk mengenal dan mendekat kepada Tuhan. Tuhan luar biasa. Aku jatuh cinta pada-Nya, meski aku masih sering selingkuh dari-Nya.
Dan akhirnya, inilah aku.

AKU (TIDAK INGIN) MENJADI DOKTER

Jadi apa cita-citaku saat ini? Ternyata pertanyaan ini masih sering dipertanyakan dalam redaksi yang lain. Mau ambil spesialis apa?

Huft…

Aku masih bingung. Untung tidak ada dosen yang memberi tugas menggambar spesialis yang dicita-citakan. Sampai saat ini aku masih belum ada gambaran mau masuk jurusan spesialis apa. Padahal teman-temanku sudah punya gambaran di lekuk otak masing-masing. Ada yang tergambar dirinya sedang membawa stetoskop unyu-unyu berbentuk belalai gajah. Ada yang tergambar membawa pisau dan gunting. Ada yang tergambar membawa palu dan pen light. Bahkan ada pula yang tergambar membawa bubuk kecantikan ajaib.

Lantas apa cita-cita ku saat ini? ah biarlah mengalir bersama dengan waktu. Nikmati detik-detik ini dan lakukan yang terbaik saja.

Jadi apa cita-cita ku? Arrgghhh…. kalau dipaksa jawab, maka akan aku jawab dengan jawaban yang nyaris sama dengan cita-cita awalku.

Aku ingin MATI sebagai Manusia yang BERIMAN dan BERTAKWA kepada Tuhan serta BERGUNA bagi alam semesta, manusia dan kehidupan.

AKU INGIN MASUK SURGA.