Salam…🙂

eh eh eh…. ternyata ada kesalahan pembuatan Judul sejak Riang Merapi 5: Gnoti Seauton yang kutulis menjadi Riang Merapi 4: Siulan Batu. Sehingga RM 4 jadi dobel. Tadi udah sempat kuperbaiki beberapa, mendadak rubah apiku ngambek, al hasil gak sempat nyelesaiin perbaikan.

Jadi kalo ada yang menanyakan Riang Merapi 9 mana? koq langsung loncat 10? hehehehe yang ya honocoroko dotosowolo …. (ketularan bapaknya Riang). well supaya nggak Bingung aku urutkan aja:

1. Bisikan

2. Hikayat Sebuah Nama

3. Thesis IV

4. Siulan Batu

5. Gnoti Seauton

6. Sesat

7. Danau Mistis

8. Damai

9. Golden Number

10. Pulang

Spesial untuk Bee, foto-fotonya dah aku aplot juga di tiap episode🙂 yangini juga dah ada fotonya loh😛

Untuk Yayak, thanks masih dibaca walopun terganggu typo. Oh iya dapat salam tuh dari dokter bersenyum manis 😀 wkwkwkwk

Untuk Mbak Olief, Uwa, unique dan pembaca lainnya, ditunggu komentarnya.

Thanks

Desem.

 

Riang Merapi 10: Pulang

Originally written by Divan Semesta

edited n covered by Desem

pirated from divansemesta.blogspot.com

 

Riang Merapi 7: PULANG

 

pulang

Setelah mendengar kata damai yang dikatakan Fidel, Riang berjibaku menghilangkan sejuta macam pertanyaan yang mengganjal pikirannya. Ia bingung: mengapa di kepalanya pertanyaan-pertanyaan yang selama ini antri tertib mendadak chaos ingin keluar dari barisan loket? Mengapa sejak mengenal sepsang lelaki pendaki itu pertanyaan-pertanyaan yang dulu ia penjarakan kabur melarikan diri dan menemukan kebebasannya?

Ya jeruji pikiran Riang telah dibobol. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah maling yang merongrong kenyamanan hidup Riang. Sejak Riang menyelesaikan sekolah menengah atas, sejak ia pulang dari Yogya ke Thekelan pertanyaan-pertanyaan menghilang untuk sementara tetapi ketika Pepei meracau di jalan setapak, di dekat pohon mati, pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengendap-endap seperti copet. Pertanyaan-pertanyaan itu tengah menunggu Riang lengah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menyerupai gerilyawan Siera Maestra saat menjatuhkan rezim Batista.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berdentum, selayak meriam kompeni meluluhlantakkan Kerajaan Klungkung Bali dalam Perang Puputan. Menggemuruh dan terus menggemuruhkan dada riang. Hilanglah bayang-bayang Pepei, hilang pula bayang-bayang Kardi dan gerombolannya. Riang benar-benar merasa kosong. Pertanyaan-pertanyaan itu telah menyedot dan menjerat pikiran Riang, mau atau tak mau, rela atau tak rela, setuju atau tak setuju. Pertanyaan-pertanyaan itu laksana blackhole yang menjerat cahaya.

 

RIANG MASIH MELAMUN saat Pepei menyerahkan dua ekor ikan pada Fidel.

Riang merasa tidak nyaman. Ia bangkit, membantu Fidel memasak satu ikan lagi. Usai

sarapan mereka berkemas. Meninggalkan danau, Riang tidak mendengar suara aneh sekedar untuk mengucapan selamat jalan. Danau yang Riang lihat untuk pertama dan terakhir kalinya itu menghilang ditelan kabut. Mungkin itulah danau yang ceritanya hidup dari mulut ke mulut, dari kicau ke kicau: menjadi obrolan para pendaki dan setiap penduduk desa. Danau mistis.

Ketiga orang itu berjalan perlahan menembus belantara. Parang berpindah tangan saat seorang di antara mereka kelelahan, karenanya, yang memimpin jalan pun bergantian. Tantangan terberat selama tersesat hanya pada saat mereka melipiri jurang yang dalam. Selanjutnya tak ada masalah kecuali sepatu karet Riang yang menyebabkan kakinya koyak. Kaki Riang lengket mengeluarkan bau tak sedap. Pepei mengambil tindakan. Ia mempelester kaki Riang dan melapisinya dengan kain katun dan wol. Riang merasa langkahnya menjadi nyaman, rasa sakitnya berkurang. Beberapa jam kemudian, ketiga orang itu sudah melewati vegetasi khas pegunungan.

Ketika sebuah semak duri berbuah warna warni mereka sibak, perjalanan pulang menemui titik terang. Jalan setapak yang semula Riang kira jalan air, memandu ketiga orang itu menuju arah perkampungan. Semua keletihan dan ketidak pastian musnah saat mereka melihat genting warna hitam terpanggang matahari. Di tempat itu kumpulan ternak mulai tampak sebesar potongan lidi. Pemandangan ini membuat orang yang tersesat kembali merasa berbudaya. Pemandangan itu membuat mereka tentram. Dan dari bukit terakhir pun, suara sungai kecil terdengar berdenyar. Sampai di sana mereka berleha-leha di alirannya.

Ketiga orang itu memakan biskuit, meminum air hujan dan mencampurnya dengan sirup. Usai rehat cukup lama, mereka kembali berjalan. Sore harinya ketiga orang itu sudah sampai di perkampungan. Riang tak mengenali perkampungan yang ia lewati, sebab memang perkampungan itu jarang dilewati pendaki. Penduduknyapun merasa janggal melihat tiga orang tiba-tiba berjalan beriringan. Biasanya iring-iringan yang mereka lihat adalah iring-iringan tukang panggul kantung mayat.

Di gerbang kampung, energi mereka isi. Ketiga orang itu melahap nasi dan lauk pauk sederhana, namun –nasi dan lauk pauk itu– mereka rasakan paling nikmat sedunia. Dan di warung itulah desas desus mengenai munculnya gerombolan residivis yang mengacau Desa Selo terdengar siaranya.

Sekitar jam sembilan tadi, berita di radio menginformasikan bahwa ketika gerombolan membuat kekacauan, tak ada yang melawan sebab saat itu ketika gerombolan –yang diberitakan radio berjumlah puluhan orang datang– hampir seluruh lelaki dewasa tengah berada di lahan pertanian. Berita di radio diulang-ulang hingga menjadi topik pembicaraan yang paling hangat hari ini.

Iki lho! Iki lho beritane, ini lho. Ini lho beritanya!” pemilik Radio berteriak antusias sewaktu duri ikan pindang selip di geraham Riang. Jumlah orang-orang yang mengacau kampung terdengar terlalu berlebihan. Jumlah gerombolan hanya belasan orang.

Keresek … keresekkeresek

Mboten jelas Pak! volumene diagengaken. Kurang jelas Pak! Volumenya diperbesar!” pinta Riang.

Keresek … keresek … Volume radio diperbesar.

Sejak tadi siang aparat kepolisian bergerak. Dalam investigasinya, radio menyiarkan langsung komentar korban.

“Dasar mucikari!” kata seorang perawan kampung yang diisengi perabotannya. Wanita lain yang mengaku rambutnya dijambak dan seorang ibu yang ditendang memaki-maki menyebut semua penghuni kebun binatang. “Polisi harus segera menangkap bajingan-bajingan itu!” kata dua orang pemilik warung yang tabungannya dibobol.

Berita selesai. Penyiar menjanjikan kabar terbaru beberapa saat ke depan dan di saat berita beralih menuju berita harga kol dan jantung pisang, dahi Pepei tiba-tiba mengkerut. Bukan, bukan dikarenakan pemberitaan radio. Sesuatu yang menjalar di pangkal paha Pepei membuatnya gatal. Seekor binatang –menyerupai lintah—menempel di sana.

Pepei memasukka tangan kanannya ke dalam celana. Beberapa menit tangan itu meraba-raba dan meremas sesuatu. Tak berapa lama Pepei berhasil menangkap dan mencabut binatang jahanam itu lalu menginjaknya di tanah. Ia meminta satu kantung plastik air panas pada pemilik warung. Pepei meletakannya di kantung celana untuk merredakan gatal. Riang merona, wajahnya kembali membara.

Tanpa banyak bicara, setelah energi pulih kembali mereka turun dari perkampungan menuju jalan aspal. Dalam perjalanan itu Riang membujuk Pepei dan Fidel agar tidak mengantar dirinya. Ia mengkhawatirkan keselamatan dua orang, yang sebenarnya lebih banyak menyelamatkan dirinya.

“Mengenai jam yang ketinggalan, biar kuantar,” ucap Riang membujuk. Tetapi, kedua orang itu tetap bersikukuh.

“Ini bukan tentang jam,” elak Fidel “Jika gerombolan Kardi mencegat, apa yang akan Riang lakukan jika sendiri melawan lima belas orang? Jika bertiga, setidaknya gerombolan itu akan berfikir dua kali untuk menyerang?”

“Mungkin, kita tidak sanggup melawan mereka semua, tapi semakin banyak jumlah orang yang melawan, semakin banyak pula waktu yang bisa kita ulur?” Pepei menambahkan. Ia merangkulkan tangan ke pundak Riang. Riang tertunduk.

“Mengulur aa…a apa?” tanya Riang gugup, dadanya kembali bergemuruh.

“Memberi kesempatan agar penduduk Thekelan memberi pertolongan.” Tak ada lagi yang bisa Riang lakukan. Ia tahu pernyataan mereka tak mungkin bisa digubrisnya. Pernyataan kedua orang itu merupakan keputusan yang fix. Apalagi pernyataan Pepei terakhir, benar-benar terdengar heroik di telinga Riang. Terbayang oleh Riang bagaimana Pepei akan berusaha melindunginya dengan jiwa dan rahanya. Ah wajah Riang semakin terbakar bara.

Poooo…..mmmm Sebuah membunyikan klakson dan melaju pelan dari belakang mereka. Riang melambaikan tangan untuk menghentikan bus itu. Mereka pun segera masuk dan melanjutkan perjalanan hingga dua jam ke depan.

Dan dua jam perjalanan itu adalah dua jam perjalanan terlama yang pernah Riang rasakan. Ia berusaha memejamkan mata. Tapi pikirannya tak hendak istirahat. Berebagai hal datang dan pergi menjahili otaknya. Pertama-tama gerombolan Kardi. Ia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan gerombolan residivis itu. Ia ingat dengan jelas bagaimana Si Kardi berkoak-koak memasuki rumah yang baru saja dibangun bapak. Lalu parang-parang mereka yang mengkilat mengejar perjalanan mereka sejauh jalur pendakian Kopeng.

Duk… sebuah benda keras menimpa pundak Riang. Riang membuka mata, ternyata benda itu adalah kepala Si Pujangga Gila: Pepei. Dan entah kenapa dada Riang semakin bergemuruh melihat wajah tegas Pepei tertidur pulas bersandar ke pundaknya. Wajah Riang kembali dijalari bara.

Ah… mengapa dia menjadi aneh begini setiap kali memikirkan Pepei? Sedang orang yang dipikirkannya malah tertidur pulas, damai.

Damai? ….

Kini kata itu yang memenuhi ronga kepalanya. Sesaat bulu kuduknya merinding saat angin seolah menghembuskan kata itu ke telinganya. Perlahan Riang pun merasa damai, lalu tertidur pulas.

“Kopeng-kopeng mas….” kenek bus mengguncang bahunya. Riang terbangun. Dan betapa terkejutnya ketika dia menyadari posisi tidurnya: kepalanya bersandar di dada Pepei.

“Udah bangun Yang? Bangunin sekalian Pepeimu itu” ujar Fidel agak ketus. Senyum kalem yang ia suguhkan biasanya tidak tampak. Ia segera bersiap-siap mengeluarkan bawaannya tanpa mengindahkan Riang dan Pepei yang masih saling bersandar.

kopeng

Ketika sampai di pasar Kopeng bus berhenti. Ketiga orang itu turun lalu berjalan melewati gerbang wisata. Mendung di lokasi wisata Kopeng menyebabkan suasana menjadi suram. Riang menemui penjaga. Penjaga yang sudah Riang kenal bertahun-tahun itu tidak tahu menahu mengenai peristiwa yang terjadi di Selo tadi pagi. Penjaga yang dahulu pernah tinggal di Thekelan itu tidak melihat gerombolan Kardi memasuki lokasi wisata tempatnya bertugas.

Ketiga orang itu berjalan lagi, menaiki tangga tanah sambil sesekali menyapu pandangan ke segala arah. Tak ada yang mencurigakan namun Riang belum yakin selamat hingga ia melewati gerbang kuburan. Kabar baik dari penjaga Kopeng tidak menyurutkan kekhawatirannya. Riang bukan saja khawatir akan keberadaan gerombolan Kardi. Gerbang kuburan yang nanti akan mereka lewati mengingatkan dia pada bisikan yang membuatnya sulit pejamkan mata. Apalagi melihat Fidel yang tampak tidak ramah sejak mereka turun dari bus. Riang semakin kacau.

Gerbang kuburan semakin dekat, ratusan nisan tampak kusam dan mengerak Angin mendorong pohon-pohon sampai doyong. Suara krak yang ditimbulkan mengingatkan Riang pada tulang yang patah. Di tempat itu segalanya tampak mencurigakan dan … sebuah suara pekak tiba-tiba menjadi sangsakala yang seolah menggulung tulang ekor Riang. Seorang lelaki yang dikenalnya muncul dari balik semak.

“Setan alas!” mata Kardi terbelalak, melalap. “Rupanya anak setan ini yang membuat semua kacau! Asu!

Seorang lelaki mengelus brewoknya, anggota gerombolan yang lainnya melompat keluar dari semak-semak di pinggir jalan setapak. Lima belas orang mengepung. Empat orang lelaki memegang pentungan kayu, lima lainnya memegang golok, senjata sisanyakepalan tangan. Riang merasa tulangnya dipresto. Tulang punggungnya tiba-tiba rapuh, kekurangan zat kapur dan terasa lunak.

“Kalau tidak mau mati, jangan melawan!” Kardi memperingatkan. “Serahkan barang-barang Kalian!” Kardi berteriak mengancam Pepei dan Fidel, lalu menunjuk Riang. “Untuk Asu yang satu itu!” Goloknya ia mainkan. “Aku akan memberinya pelajaran yang tak mungkin dilupakan! Kau akan mengisi sisa hidupmu dengan penyesalan!” Kardi hendak membuatnya cacat.

Ancaman itu membuat Riang tak mampu gerakkan badan. Ancaman adalah sirap. Tak terpetik keinginan Riang untuk melawan. Ia mendadak mencium bau kemboja. Riang merasa, dirinya tengah dimasukan ke dalam keranda. Riang hanya bisa menaruh harapan. Ia hanya bisa memandang, meminta tolong dan menatap. Tetapi apa yang Riang harap? Ia tak melihat adanya indikasi Pepei dan Fidel akan bergerak. Kedua orang itu malah meletakan ranselnya di tanah.

Lelaki yang perkataannya tentang mahluk halus demikian meyakinkan, kini Riang saksikan –dengan mata kepalanya—sendiri, gemetar. Lutut kaki Fidel tampak bergerak secepat jarum mesin jahit. Bukan Kwan Im lagi yang ia lihat, tapi Pat Kay!

Yang lebih tak bisa dipercayai, lelaki lain yang sok-sokkan bersabda tentang kegunaan pohon tumbang, yang belagak bicara kematian: o kematian adalah kepastian, o apa yang akan kita hadapi setelah kematian, o dan o berlagak seolah jalan setapak adalah panggung teater itu, lelaki yang menggemparkan dadanya dan menyiramkan bara di wajahnya itu, ya  lelaki yang berwajah tegas bermata tajam bersenyum menjerat itu tanpa malu-malu membuat Riang ingin hoek sor! Pepei yang sok-sok-an itu kencing di celana.

Gerombolan Kardi tertawa. “Badan dan muka boleh keren, tapi kelakuan? Kayak banci!” Teriak Kardi mengejek. Riang kecewa. Mengapa bisa seperti itu? Dimanakah janji mengulur waktu, sebelum penduduk desa datang membantu? Kepercayaan Riang akan keberanian ke dua orang itu wafat. Riang ingin menangis.

Namun … tiba-tiba … di detik-detik yang tak mungkin ia duga, sebuah senter terbang dan menghantam! Bersamaan dengan itu,. Pepei segera mengeluarkan parang dan mengayunkannya menuju bahu lelaki bertubuh paling besar. Lelaki itu mengelak lalu membuat sabetan ke arah kepala. Pepei menghindar. Ujung golok tipis membeset wajah. Ia tak merasakan apa-apa, luka itu terlampau ringan.

Dan jeda waktu antara sabetan dan tarikan tangan itu lantas Pepei manfaatkan. Ia menyerang balik dan “Krak!” Bunyi tulang terdengar patah. Tak ada darah yang memancar. Pepei belum mengeluarkan parang dari sarungnya, namun dua orang sudah terkapar.

tarung

Di sisi lainnya, senter yang sebelumnya Fidel lempar membuat anak buah Kardi terhempas di tanah. Di tangannya alat penerang itu menjadi senjata yang berbahaya. Usai menghantam satu kepala lagi, senter yang ada di tangan Fidel hancur berkeping. Tak ada lagi senjata, namun Fidel tak mau memberi kesempatan bernafas. Ia meringsek dan memukul satu lelaki lain dengan tangkas! Ia bergulat di tanah dengan seorang yang –tubuhnya—lebih kecil darinya. Beberapa pitingan dan bogem ke arah dagu membuat penjahat bertubuh kecil pingsan.

Di tengah-tengah kejadian yang begitu cepat, Riang tersulut. Keberanian seketik timbul, kepercayaanya pada sepasanglelaki pendaki tumbuh dan berkembang. Ia kalap. Ketakutan membuatnya nekat. Ia menyabet pinggang anak buah Kardi yang bertubuh tambun. Usus yang terburai membuat lelaki itu kelojotan hampir mati.

Lelaki brewok yang Riang temui di gerbang kuburan ia kejar. Ia menebas golok di lambung. Lelaki brewok berkelit cepat. Parang Riang menggombang angin. Peristiwa yang begitu cepat terjadi membuat gerombolan Kardi mundur dan tak lagi mengelilingi mereka rapat. Lima orang telah terkapar di jalan, dan semak-semak. Keraguan mulai mengganggu gerombolan yang tersisa. Mereka tak mau lagi bertindak gegabah.Mereka mulai menaksir kekuatan lawan, dan saat taksir menaksir itu terjadi, akal Riang yang beku mulai mencair.

“Tolong! Toloooooooong, begal! Ada begaaaaaaall!!” pita suara Riang bergetar hebat. Teriakan pertama mengantarkan dua orang petani yang melengkapi dirinya dengan pacul dari lokasi wisata Kopeng. Teriakan kedua membawa seorang ibu penggarap lahan kentang. Clurit berada di genggamannya. Kardi bimbang. Ia dan gerombolannya kebingungan.

Riang terus teriak. “Begaaaaall! Toloooooooooooong! Ada begal!” Teriakan Riang yang terakhir disambut kentongan dari arah Thekelan.

Keputusan diambil. Gerombolan Kardi surut. Kardi menyuruh anak buahnya berlari masuk ke dalam hutan. Lelaki berewok segera memungut tas coklat yang terjatuh saat Pepei melemparkan ranselnya. Bersama Kardi, ia menyusul sisa gerombolan. Kedua orang itu memotong lahan pertanian bersama delapan orang lainnya. Dari kejauhan Kardi berhenti. Ia berteriak mengancam.

“Riang!! Lusa Kau pasti mampus di tanganku!” Kemeja planel Kardi berkibar sebelum tubuhnya menghilang.

 

DARI ARAH THEKELAN kerumunan orang lari membawa macam senjata. Sisa anak buah Kardi yang terkapar menjadi bulanan penduduk desa. Beberapa orang hampir mati setelah kepalanya diadu dengan batu. Polisi kemudian datang memisahkan. Mereka langsung menggiring lima pesakitan menuju bak mobil di pintu wisata Kopeng. Di tempat itu mereka menyusun siasat: memobilisasi masyarakat untuk mengadakan penyisiran.

Hingga beberapa hari kemudian, penyisiran tak menghasilkan apa pun juga, namun kini, peristiwa dikalahkannya gerombolan menyehatkan kepercayaan diri penduduk Thekelan. Jika gerombolan Kardi dibekuk oleh tiga orang, bagaimana hal nya jika orang-orang satu desa bersatu meringkus mereka?

 SORE SETIBANYA di rumah, bapak memeluk Riang erat-erat. Di ruang tengah ibu menggamit langannya. Pada wajah Riang ibu meletakkan pipinya yang dicucuri air mata.

Ndak kurang apa pun Bu… ndak kurang apa pun…” sahut Riang menenangkan. Di luar rumah, ia melihat Fidel dan Pepei diinterogasi tentang ihwal kejadian oleh aparat kepolisian. Mereka dikelilingi penduduk desa yang mengharap datangnya kisah perkelahian yang hebat. Kedua lelaki itu berusaha meminimalisir peran yang mereka lakukan. Dan hal ini membuat banyak penduduk desa kecewa.

Malam hari itu, sebenarnya Riang ingin mendengar kembali, ia ingin mengulangi lagi kejadian yang telah mereka alami bersama. Tetapi sehabis makan ikan yang mereka dapatkan di danau Merbabu, kedua orang itu tidak membicarakan hal yang Riang inginkan. Mereka tertidur begitu saja, seolah-seolah mengalami hal yang biasa terjadi. Keduanya saling menggenggam tangan dalam lelap mereka seolah tidak ingin melepas dan kehilangan satu sama lain.

Mendadak dada Riang kembali bergemuruh. Tapi bukan oleh gemuruh yang sama sebelumnya. Gemuruh itu lain, oleh sebab “sesuatu” yang lain pula. Sesuatu yang menusuk dada menjalar ke tenggorokannya hingga perih terasa mencabik jalan nafasnya. Wajahnya juga membara, tak hanya wajahnya saja, tapi juga matanya. Riang melangkah pergi meninggalkan mereka.

###

Esok hari, setelah mereka kenyang melahap makan siang yang disediakan Ibu Riang Fidel dan Pepei memutuskan pergi. Mereka segera menyiapkan barang-barang mereka. Riang nyaris lupa pada arloji Fidel yang tertinggal tempo hari. Ia segera berlari dan mengambilnya.

“eh nyaris kelupaan lagi” Riang menyerahkan arloji Fidel. Pepei merebutnya saat Fidel nyaris menerimanya. Fidel dan Riang terbengong.

“Ini pemberianku dulu kan?” tanya Pepei sambil memeriksa arloji itu.

“Ya” jawab Fidel singkat dan dingin. Senyum kalemnya menghilang. Mendadak suasana menjadi kaku.

“Ah ternyata kau masih menyimpannya hahaha” Pepei terbahak, entah untuk apa.

“lu mau ambil lagi?” tanya Fidel ketus. Tampaknya ada sesuatu di antara mereka, sesuatu yang berhubungan dengan arloji itu.

“Ah kau selalu saja berfikir buruk tentang aku. Kau sudah tidak adil sejak dalam pikiranmu!” ujar Pepei tak tampak marah sama sekali. Dengan sigap dia sudah menggenggam pergelangan Fidel. Tanpa menunggu Fidel berontak, dia sudah memakaikan arloji itu. Ia tersenyum sementara Fidel dan Riang masih mematung. Kedua wajah mereka membara, oleh bara yang berbeda.

Tanpa banyak bicara mereka berjalan menuju Wisata Kopeng. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing, dengan angan masing-masing. Fidel masih tenggeam dengan kenangannya tentang arloji itu bersama Pepei. Pepei pun demikian. Sedang Riang tenggelam oleh perasaan yang tak menentu, menebak-nebak apa yang ada di dada Pepei, apa yang ada di dada Fidel dan apa yang ada di dadanya sendiri. Paling tidak tak satu pun dari mereka terkenang tentang gerombolan Kardi. Residivis itu benar-benar musnah dari pikrian mereka bertiga.

Di gerbang kawasan wisata Kopeng, mereka berpisah. Suasana haru menyeruak mengikat mereka. Teringat sejenak tentang perjalanan yang mereka tempuh beberapa hari yang lalu.

“Maaf…” bisik Fidel saat menjabat erat tangan Riang. Senyumnya kembali tersungging di wajahnya yang kalem.

“Ah … mas ini…” jawab Riang polos. “Nggak salah apa-apa koq minta maaf, kayak lebaran aja hahahah….”

“Pastinya ada sesuatu yang tidak berkenan di hatimu tentang aku dan Pepei.” Fidel seolah bisa menebak apa yang ada di dalam hati Riang.

“Ah ndak… koq Mas. Yowis… Mudah-mudahan Mas Fidel senantiasa sehat dan bisa lekas kembali ke Thekelan!” katanya bergetar. Haru menguasai otaknya.

“Lain waktu bukan aku yang ke Thekelan. Lain waktu Riang yang akan ke tempatku?” Fidel tersenyum dan Riang kembali tertawa mengusir belenggu yang mencekat erat jalan nafasnya..

“Sampai jumpa lagi Mas!” ujar Riang ke Pepei. “Suatu saat nanti, mungkin aku akan mengunjungi Mas di Yogja.”

“Aku tunggu!!” seru Pepei. Ia kembali menatap tajam dan tersenyum menjerat. Tanpa menunggu Riang tersadar, ia sudah merangkul Riang erat. “Aku tunggu…” Pepei mengulang jawabnya dalam bisik yang teramat dekat di telinga Riang. Lalu mereka pun segera berpisah.

Pepei dan Fidel segera masuk ke bus. Bus kemudian berjalan perlahan menuju Kota Sultan Hamengku Buwono. Sesekali klaksonnya terdengar. Dari kejauhan Riang melihat tangan Pepei keluar dari jendela angkutan. Lelaki itu membuang kantung plastik transparan ke dalam bak sampah. Terulang dalam ingatan Riang, kilasan peristiwa saat Pepei memasukkan air panas ke dalam kantung celana untuk meredakan gatalnya. Riang tertegun. Ia tak sadar menepukkan tangan di jidatnya! Riang menginsyapi. Riang bersyukur. Lelaki itu … Pepei, mengetahui benar, betapa pentingnya fungsi toilet umum. Riang sungguh-sungguh bersyukur.

Hehhh….. Riang mendesahkan nafas panjang setelah bus yang dinaiki Pepei dan Fidel tak terlihat. Kini Ia kembali sendiri. Segera ia berjalan kaki kembali ke rumahnya. Pulang.

riang