CUAP2 NAYAKA

Salam…

Kembali dari Akang Bleguk (kata seorang teman), ini ceritanya yang keempat di DKN setelah sebelumnya ada Black Swan, Beng Beng dan Kamu Tetap Kakakku. Amat sangat layak baca, ritme tulisannya aku bilang begitu pas untuk sebuah cerpen lebih kurang dalam 2000 kata, aku pribadi cukup bisa menikmati. Begitupun kuharap pada kalian yang menjenguk kolom ini, semoga bisa masuk dalam ritmenya.

PESAN buat Akang Bleguk (bila Si Akang ada mampir) : Aku ngedit banyak typo EYD kali ini, dan kaedah penulisan. Aku sebutin aja ya buat masukan kecil (aku sendiri juga gak pintar2 amat dalam hal EYD dan tata cara penulisan). Pertama, aku memperbaiki penulisan kata depan (di, ke, dari, …). Hampir semua kata depan dalam cerpen ini digabung padahal seharusnya pisah. Lalu, kapitalisasi. Dalam cerpen ini banyak huruf yang seharusnya KAPITAL tapi tidak di-kapital-kan. Lalu, penggunaan tanda titik (.) dan koma (,). Ada beberapa dialog/kalimat yang tanda titik/koma-nya tertinggal. Lalu, cetak miring untuk istilah asing (termasuk kata dalam Bahasa Inggris). Lalu, typo huruf/kata (huruf/kata yang kurang dan huruf/kata yang salah/kurang tepat). Semoga Akang Bleguk gak ngambek tulisannya kupreteli. Ahihihi… kalau ngambek, besok2 dia sendiri pula yang kupreteli (HAH?)

Happy reading, enjoy…

Wassalam

Nayaka

________________________________________________________________

TIDUNG CINTA
By Abi Zaenal (Alabatan)
Kuhirup aroma laut yang segar ini. Ah…segar sekali. Kuedarkan mataku menyapu seluruh sudut kapal ini, kapal motor yang membawa kami semua ke Pulau Tidung, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu. Kutengok teman-temanku, mereka masih asyik dengan lembaran kartu remi di tangan. Sementara penumpang lain terlihat mulai menggosokkan balsem ke pelipis mereka.
Kutengok lagi laut yang terhampar hijau kebiruan. Bunyi deburannya bermain indah di telingaku, mendebarkan jantung dan membuatku merasa nyaman. Buih-buih air laut yang putih bergelembung-gelembung halus terlihat lucu sepergi gelembung air sabun di pasar malam.
Dan di sela hiruk pikuk para penumpang, mataku menangkap seseorang yang sedang berdiri di samping pintu kapal. Lamat-lamat dalam ingatanku muncul bayangan seseorang. Seseorang yang sewindu lalu membiaskan logikaku antara benar dan salah tentang cinta. Ya, dia membuatku terperosok dalam lingkaran cinta yang abu-abu.

Aku mulai berjalan ke arahnya karena sekarang rasa penasaranku telah mendominasi. Dari sudut mataku tampaklah dia dengan senyum bersahajanya melihat perputaran roda kemudi itu. Dia memerhatikannya seperti melihat adegan sirkus yang memesona.

“Kamu ke Tidung juga, Riz?” tanya dia tiba-tiba tanpa melihat ke arahku.
Aku sedikit tersentak kaget. Dia memanggil namaku?
“Jangan bilang kamu lupa sama aku, Riz..” katanya dengan senyum anehnya yang semakin meyakinkanku pada seorang anak yang dulu begitu dekat denganku.
Aku tersenyum mengenang, lalu menghampirinya dan kemudian menjabat tangannya yang terasa kokoh dan kasar. Kita memang satu SMP dulu. Aku ingat, waktu sekolah dia yang tinggi kurus ini paling sering telat masuk kelas. Dia siswa yang paling ditunggu karena waktu itu dia jualan gorengan di kelasku. Cukup aneh memang. Seorang anak laki-laki mau jualan gorengan dan pernak-pernik anak gadis. Tapi dia terlihat cuek meskipun sering dijadikan olokan meskipun hanya candaan diantara teman sekelas dulu. Dan jujur saja, dulu aku sempat menaruh hati padanya. Bukan karena secara fisik dia sempurna, tapi karena kesederhanaannya.

Dia mengajakku duduk di pinggiran kapal sambil menjulurkan kaki ke bawah, merasakan buih-buih air laut yang terhempas. Terasa lembut sekali, lembut yang dingin.
Kami bertukar kisah. Tentang apa dan kenapa. Tentang kapan dan bagaimana. Tentang kenapa dia berhenti sekolah dan meninggalkanku tanpa pamit. Dia hanya terdiam tanpa berani menatapku. Dan aku tak bisa sembunyikan rasa kecewaku karena dulu aku begitu mengharapnya, meski harap itu masih tersimpan dalam doa-doa kecilku.
“Eh, lihat… ada pelangi” katanya tiba-tiba sambil menunjuk ke arah buih di kakiku dan mengembalikan pikiranku yang telah terlempar ke masa satu windu yang lalu.
Mataku mencari-cari pelangi ke arah yang dia tunjuk. Dan benar saja, untuk pertama kalinya aku melihat pelangi di antara percikan gelombang yang terhempas dan meloncat-loncat dengan indahnya seperti sirkus Russia. Dan ketika kutengok, dia tampak tersenyum manis ke arahku. Sejak dulu aku selalu dibuat kagum oleh cara pandangnya melihat sesuatu. Itulah dia, dia selalu bisa melihat keindahan yang tersembunyi dibalik kesederhanaan.
Sekarang kulihat dia melihat jam tangannya, lalu bergumam pelan.
“Masih jam setengah delapan. Mau ikut sun bath?” tawarnya dengan binar mata yang membuatku penasaran, seolah dia akan memeperlihatkan padaku sebuah mutiara hitam yang diambil di palung Banda.
Dan tanpa menunggu persetujuanku, dia menarik tanganku lalu berjalan di pinggiran kapal yang penuh dengan dus-dus dan karung-karung bawaan penumpang kapal dan tersenyum ganjil ke arahku.
Aku hanya diam mematung. Melihatku yang hanya diam saja, diapun naik lalu mengulurkan tangannya ke arahku. Akupun menyambutnya dan dengan susah payah aku naik. Dia mengenakan kaca mata hitam lalu merebahkan badannya dan menopangkan kepalanya diatas lipatan tangannya dibawah hangatnya matahari pagi. Aku tersenyum melihatnya. Di balik kesederhanaan hidupnya, dia masih bisa berlagak seperti orang kaya.
“Siapa bilang cuma orang kaya aja yang bisa sun bath di atas kapal pesiar…”
Aku tersenyum geli melihatnya bertingkah seperti itu. Terlihat norak memang, tapi selama itu bisa buat kita tersenyum, kenapa tidak?
Kuedarkan mataku dan seluruh penjuru mata angin masih memantulkan cahaya matahari yang hangat dan semakin melambungkan bahagiaku. Ternyata inilah hidup bagi orang seperti dia. Dan sepanjang perjalanan kami mengenang masa-masa sewaktu kami SMP. Saat aku paling susah kalau disuruh olahraga, saat aku diboncengnya sampai ke rumahku, saat dia masuk kelas dengan senyum anehnya. Benar kata Einstein, relativitas waktu itu ada. Waktu terasa cepat saat kita habiskan bersama orang yang kita rindukan. Tak terasa dua jam setengah perjalanan tak cukup untuk mengenang kebersamaan kami dulu.
Setelah kami turun, aku langsung diseret kawan-kawanku untuk mengabadikan momen menginjakkan kaki di pulau ini. Aku dengan enggan berpose dan baru sadar bahwa mataku tak menangakap lagi kemana kakinya melangkah. Aku sedikit kecewa karena mungkin hampir tak ada waktu untuk mencari dimana dia menginap.
Setelah merapikan barang di homestay, aku dan kawan-kawanku memutuskan untuk istirahat dan siap-siap berenang selepas ashar. Dan setelah makan siang dan sholat ashar, aku dan kawan-kawan langsung menuju ke destinasi pertama, Jembatan Cinta. Kawan-kawanku tampak antusias dan tampak berlarian ke jembatan cinta yang fenomenal karena mitosnya. Aku hanya tertawa dan bersorak tanpa berani ikut meloncat seperti yang lain. Dan ketika kawan-kawanku mengajak untuk naik banana boot, mataku menangkap seorang dia. Aku yakin itu Daffa. Dia sedang berdiri bersama seseorang di atas keramba yang mengapung di tengah laut.
Dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan saat dia tampak keasikan melihat terumbu-terumbu karang dengan kacamata sederhananya di sekitar keramba. Itulah dia, dari dulu sampai sekarang selalu bisa mencari bahagianya sendiri, dia dengan ke-apa-ada-an-nya telah memerangkap hatiku.
Malamnya, aku tak bisa pejamkan mata karena otakku penuh oleh dia dan kenangan masa kecil kami. Ya, aku harus ke sana. Aku harus temui dia. Akhirnya kukayuh sepedaku dan kulajukan ke Jembatan Cinta. Dalam keremangan cahaya bulan aku lihat dari jembatan ke arah keramba yang terapung itu.
Dan ternyata dia sedang mencumbu malam dan merasakan liarnya angin laut. Dia tersenyum ke arahku lalu menjemputku dengan sampan.

Sesampainya di keramba dengan kaki masih gemetar karena untuk berjalan ke arah saung, aku melewati dua bilah bambu yang di kirinya lautan, sedang kanannya kolam ikan kerapu.
“Apa yang membawamu ke sini?” tanya dia sambil menggelar tikar di samping saung.
Aku hanya diam. Apa perlu aku bilang padanya bahwa aku ingin menghabiskan malam ini bersamanya?
“Aku..hanya ingin menanyakan satu hal” jawabku sambil berusaha mengumpulkan keberanianku.
Kami kembali diam karena aku yakin dia tahu apa yang akan kutanyakan. Lalu tanpa kata dia melemparkan pancingan ke tengah laut. Setelah itu dia duduk sambil memeluk lututnya dan memandang jauh ke laut lepas.
“Boleh aku bertanya sekarang?”
“Gak boleh” jawabnya singkat.
“Waktu itu kenapa kamu pergi tanpa pamit?” todongku tanpa menghiraukan larangannya.
Dia kembali diam. Diam yang sunyi. Diam yang membuatku resah menunggu jawaban. “Apa kamu pergi karena aku?” desakku.
Dia masih saja memandangi bintang yang seperti ditaburkan oleh ribuan malaikat yang menjaga langit.
“Kamu dari dulu sampe sekarang gak hilang-hilang yah cerewetnya.”
“Hey, aku gak cerewet. Aku cuma minta sebuah alasan.”
“Kamu tahu ayahku meninggal sejak aku SD. Dan ibuku yang perantau itu hanya punya aku. Aku yang menjadi sulung punya kewajiban untuk menghidupi empat adikku. Dan pasti ada hal yang harus dikorbankan. Biarlah aku hanya mengenyam sekolah sampai SMP, tapi adikku harus bisa melanjutkan sekolah mereka…”
Aku terdiam. Aku tahu dia paling tidak suka dikasihani. Pantang sekali untuk mengharap iba. Aku ingat pesannya dulu, jangan biarkan orang mengiba padamu, buatlah mereka tersenyum melihat senyum tegarmu.
“Hidup itu adalah bertahan. Bukan hanya untuk pemenuhan materi, tapi untuk mempertahankan agar kebahagiaan itu tetap ada di sekitar kita, di sekitar orang yang kita cintai, karena kebahagiaan bisa kita cari lewat sesuatu yang sederhana,” lanjutnya dan aku hanya diam mendengar ucapannya. “Eh, sepertinya pancingan kita dapat ikan” katanya tiba-tiba lalu beringsut ke arah pancingannya.
Dan acara selanjutnya adalah bakar ikan diselingi candaan mengenang masa lalu. Dia tertawa puas saat ingat aku yang ujian praktek dribbling bola basket seperti seekor monyet memainkan kelapa, atau tentang dia yang masuk kelas seperti orang pindah rumah. Dan sampai makan selesai pun, tawa itu masih berderai dan melambungkan kebahagiaanku. Kebahagiaan dengannya yang indah, dengan dia yang dulu pernah membuatku kehilangan tawa.
Setelah itu kami berdua berbaring menopangkan kepala di atas lipatan tangan sambil menatap bintang yang berkedip-kedip dengan genitnya.
“Eh, kalau nanti kamu mati, kamu mau tinggal di bintang yang mana?” tanyaku.
“Aku mau berlarian di rasi bintang layang-layang..”
“Kenapa di rasi bintang layang-layang?” tanyaku penasaran.
“Karena aku ingin bebas seperti layang-layang itu. Layang-layang yang tak punya tali kenur, bebas berlarian tapi selalu menjadi petunjuk bagi mereka yang mampu membaca langit. “
“Boleh aku ikut bersamamu menghuni rasi bintang layang-layang itu?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.
Dia memandangku sebentar lalu menarik selimutnya. Angin malam berhembus semakin kencang. Lalu dia menyelimutiku dan aku beringsut kesisinya. Aku tak perlu menunggu jawabnya. Aku hanya ingin bersisian dengannya, agar aku merasa damai, agar aku bisa mengecap bahagia, dengan orang yang mengacaukan logikaku.
******
Matahari mulai merangkak naik di atas Tidung Kecil. Warna emasnya terlihat indah. Kupandangi air laut yang jernih memamerkan terumbu-terumbu karang dan ikan kecil warna-warni yang berenang mengitari terumbu itu dengan lucunya.
”Matahari itu terbit untuk memberikan harapan pada seluruh mahluk. Ia menyempurnakan shubuh dengan begitu hangat.”
“Kenapa matahari harus merangkak naik?” keluhku sambil masih memandangi ikan-ikan kecil di bawahku.
Daffa menoleh lalu mengernyit. “Kenapa, Riz?”
“Aku…berharap ribuan malaikat menahan agar matahari tak merangkak naik.”
Dia tertawa pelan. Tawa yang sebetulnya tak harus keluar dari mulutnya karena membuatku semakin tak mau melepasnya.
“Kamu akan pulang hari ini?”
“Aku kan kesini hanya ingin buktikan pada adik-adik baruku di panti, bahwa… meskipun kami miskin, tapi kami bisa merasakan bahagia. Terlahir miskin itu bukan pilihan, tapi hidup bahagia adalah keharusan.”
Aku kembali diam mendengar kata-katanya. Lalu bersuara beberapa saat setelahnya, “Kamu percaya mitos Jembatan Cinta?” tanyaku lagi.
“Bila berjalan beriringan sambil berjabat tangan, cintanya akan abadi?”
Aku mengangguk pelan. “Boleh aku menjabat tanganmu ketika mengantarmu ke dermaga?” pintaku padanya.
Kami berdua lantas berdiri dan dengan ragu aku menjabat tangannya dan dia menggenggam erat tanganku. Kami berdua terdiam. Diam yang indah. Biarlah genggaman tangan ini yang menyampaikan isi hati kami. Biarkan cahaya matahari pagi ini menjadi saksi dan angin yang berhembus mengabarkan pada seluruh makhluk bahwa aku mencintanya.
*****
Aku masih memandangnya saat dia menggenggam tiket pulang, dia tersenyum dan menghampiriku lalu menjabat tanganku. Aku hanya diam dan tak ingin melepasnya. Rahangku mengeras dan kulepas genggaman tangannya dan langsung menghambur ke sepedaku. Kukayuh sepedaku sekuat yang aku bisa. Tidak, aku tidak mau kehilangan dia lagi.
Sesampainya di homestay, kulihat beberapa temanku sedang membuat kopi susu. Mereka menatapku heran ketika aku menghampiri mereka.
“Aku..pulang duluan ya. Kakekku sakit” kataku ragu-ragu.
“Loh, kok? Bukannya masih ada dua hari lagi?”
Untuk kesekian kalinya berbohong menjadi senjataku. Aku sudah tak peduli benar dan salah. Aku hanya ingin mengejar bahagia. Bahagia itu harus dikejar, bukan ditunggu. Selanjutnya kami sedikit berdebat tentang ini dan itu. Tapi akhirnya aku diizinkan pulang lebih dulu.
Dan setelah kupakai tas punggungku, akupun segera berlari ke parkiran dan langsung menyambar sepedaku. Kukayuh sepedaku sekuat tenagaku. Dan setelah sampai di dermaga, kulihat Daffa sedang duduk di kapal. Dia kebingungan melihatku terengah-engah dan menghambur ke arahnya.
“Aku akan ikut tinggal di rasi bintang layang-layang, dengan atau tanpa izinmu. Dulu kamu pergi tanpa menjabat tanganku. Aku gak mau itu terulang lagi. titik.”

Dia menatapku dengan tatapan merindu lalu tersenyum.
“Banana boot seru loh. Gak nyesel..?”
“Aku masih punya pisang di rumah, banyak lagi,” kataku sambil mengerling padanya.
Dan akhirnya kapal pun melaju dengan cantiknya. Kulihat hamparan laut dengan riak-riak kecil gelombangnya mulai memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Kuperhatikan yang lain mulai tertidur. Lalu aku menyenderkan kepalaku ke punggungnya. Dia menoleh sebentar.
“Kamu ngantuk?” katanya pelan. Pelan yang terdengar syahdu di telingaku.
“Iya…” jawabku pura-pura walaupun sebenarnya aku belum mengantuk.
Aku hanya ingin memeluknya, membaui tubuhnya yang sudah lama sekali tak kucium. Dan damai yang telah lama tak kurasakan kini mulai menggetarkan dadaku. Biarkan debur ombak itu menyuarakan isi hatiku yang telah kugenggam sewindu yang lalu. Biarkan camar itu melagukan nada-nada dengan harmoni cinta yang berterbangan melontarkan rinduku bersama bintik-bintik air yang mengapung ke langit.
“Bangun..kita sudah sampai..” katanya tiba-tiba.
Aku terlonjak, benar saja, semua pengunjung telah bersiap-siap untuk segera turun dari kapal. Setelah kupakai tas punggungku dan memegang tangannya, kami berkelit dengan jalanan yang becek, lalu naik angkutan yang mengantarkan kami ke Stasiun Kota.
“Sekarang kita mau kemana?” tanyaku.
“Kita naik kereta yang menuju ke bintang layang-layang..”
“Hey…”
“Hahaha. Asal kamu tau, aku itu…pengamen..”
“Aku gak peduli…”
“Aku tinggal di bedeng sama anak-anak jalanan.”
“Aku bisa kunjungi kamu setiap minggu. Aku hanya ingin bersama kamu, setidaknya mendampingi kamu sampai ke bedeng,” lanjutku meyakinkan bahwa aku sanggup hidup dengan kesederhanaannya.
Dan ketika kereta melaju, kami melihat beberapa orang yang tampak lusuh sambil membawa alat musik seadanya, Daffa tersenyum dan langsung bergabung bersama mereka. Dia bertepuk tangan dan aku hanya ikut menyanyi dengan kikuk. Dan di sela-sela nyanyian itu, dia berbisik padaku.
“Inilah hidup, terlepas dari apa dan bagaimana cara kita bertahan hidup, satu hal yang kamu harus ingat, berjuanglah hidup untuk orang banyak, raihlah kebahagiaan bersama orang-orang di sekitarmu. Jangan raih kebahagaianmu sendiri karena itu egois.”
Dan di sela-sela musik petik dan tetabuhan dan nada-nada lagu yang terlontar, kupanjatkan syukurku dan juga ikrarku, bahwa aku akan mencari bahagia bersamanya, mencoba bertahan dalam bahagia yang sederhana.

END