Haaaaalllooooo!!!!
Jujur aku kangen untuk posting cerita. Tapi otakku benar-benar sedang bebal. Tak mampu diajak berfikir. Maka dari itu aku re-post cerpen pertama yang aku buat. Entah kenapa pagi ini aku ingin membaca coretan pertamaku. Dan setelah aku membacanya, rasa miris muncul. Sungguh hancur coretanku itu. Ya, walaupun coretanku berikut-berikut nya tidak lebih baik sih…hehe
Banyak yang aku rubah dari cerpen yang dulu berjudul LAST FOREVER ini. Karena memang banyak yang harus diperbaiki, walaupun tetep… Hasilnya tidak jauh lebih baik. Dan di cerita ini pula Nay pertama kali menyapaku di kolom komen. Hwaaaaa… Jadi ingat masa-masa itu…
Ok cukup curhatan ga pentingnya. Silahkan dinikmati dan dicaci…
Happy reading….
Budhayutz^^

SELINTAS – SELAMANYA

Cintaku hidupku matiku hanya untukmu
Terima kasih atas cinta yang telah kau beri
Cintamu adalah anugerah bagiku
Nafas untuk hidupku dan nyawa untuk ragaku
Keadaanmu takkan membuatku ragu untuk memberikan hidupku untukmu
Karena cintaku tak hanya mencintai segala yang ada pada dirimu
Cintaku untuk hatimu
Cintaku untuk hidupmu
Berbahagialah dengan sisa hidupmu walau ragaku tak dapat memelukmu
Berbahagialah dengan sisa hidupmu walau bibir ini tak kan pernah kembali menciummu
Berbahagialah dengan cintaku untukmu

Kembali aku menatap batu yang mengukir indah namamu. Batu yang tertancap pada gundukan tanah merah. Batu yang menjadi penanda rumah barumu. Tidurlah dengan tenang di kasur tanahmu, tunggu aku menjemputmu ke alam keabadian, bersabarlah sayang. Cinta ini akan mempersatukan kita kembali. Cintaku hanya untukmu.

#flashback

Langit tak urung berganti warna hingga sore menjelang,tetap pekat dengan gumpalan kapas hitam. Nampaknya langit pun mengerti akan perasaanku saat ini. Hitam kelam seperti langit malam.

Aku terdiam, menangis, meratapi masa depanku yang telah lebur. Mengasihi diriku yang telah hancur. Dan memaki segala yang telah terjadi. Semangatku sirna, dayaku hilang, dan tenagaku menguap entah kemana. Tak ada lagi mimpi dan harapan. Semua seolah lenyap tak berbekas. Meninggalkan raga tanpa jiwa. Menyisakan fikir tanpa logika.

Maka disinilah aku sekarang. Duduk meringkuk memeluk lutut. Di dalam ruangan tanpa penerangan. Kenyataan ini benar-benar meluluh lantahkan semangatku untuk menjalani hidup. Sudah beberapa hari ini aku bolos kerja, pekerjaanku kini hanyalah meratap dan menangis. Kini temanku hanyalah gelas-gelas kopi dan puntung rokok. DEPRESI dan STRES, dua kata itulah yang mungkin sedang aku alami.” Hmmm… malang benar nasib ini Tuhan.” keluhku dalam hati.

Tok…tok…tok…

“Ki, kamu didalam, Ki?” samar pintu itu bersuara diiringi seseorang memanggilku di luar sana. Ku angkat lemah kaki ini, perlahan aku membuka pintu itu, cahaya terang sedikit meyilaukan. Mungkin karena beberapa hari ini lampu kamar memang sengaja aku matikan, jadi mataku kaget menerima cahaya matahari. Samar mulai terlihat sosok
yang membangunkanku dari ratapan, perlahan semakin jelas, badannya tegap, dengan rambut sedikit gondrong tapi masih tetap rapih, bibirnya tipis menggoda. Aku mengenali sosok ini, yah dia adalah Satya, kekasihku.

Are you ok?” dengan raut wajah cemas segera ia menerjangku dengan pertanyaan dan pelukan.

Yeah, I’m fine,” jawabku lemas.

“Trus kemana aja kamu beberapa hari ini? Ga ada satu hal pun yang masuk ke telingaku tentang kabarmu,” nada suaranya kini lebih tinggi, menandakan dia marah dengan sikap ku beberapa hari ini.

“Ga kemana-mana, cuma lagi pengen sendiri aja”.

And what’s going on here??!!” pertanyaan selanjutnya yang ia lontarkan setelah melihat kamar ku yang tak beraturan. “Kamu tuh kenapa sih? Kenapa kamu tiba-tiba berubah gini? Lihat tuh rupa kamu, ga jauh beda sama orang gila yang suka mangkal di lampu merah tau ga.”

Yeah…I know. Udah 2 hari ku ga mandi,” jawab ku santai, seraya kembali ke posisi dudukku semula sembari membakar ujung rokok yang telah kusematkan di bibir ku. Sementara itu Satya mulai membenahi kamarku yang abstrak. Merapikan gelas-gelas bekas kopi. Memungut pakaian yang berhamburan. Membersihkan lantai yang berserakan. Lihatlah, tak ada lagi bantahan untuk alasan kenapa aku begitu mencintainya. Tampan rupanya, baik budinya, lembut tuturnya. Sempurna dirinya dimataku, dengan cinta yang tak kalah sempurna pula yang ia miliki untukku. Lagi, genangan itu mengalir di pipiku. Membasahi bola mataku. Perih rasanya membayangkan tentang kehilangan dirinya. Namun, bulat sudah tekad yang ku buat. Segera, keputusan ini akan harus ku ambil. Karena cepat atau lamba, semua akan terjadi. Tak ada satu laki-laki pun yang mampu menerima keadaanku. Begitu pula dengan Satya. Segara aku menghapus raut menyedihkan dari mukaku. Tak ingin ada rasa iba yang datang untukku. Yah… Aku tak ingin dikasihani untuk ganjaran atas semua salah dan khilafku.

“Aku ingin putus” tiba-tiba kalimat itu lancar terlontar. Menyentakan Satya yang sibuk dengan plastik berisi sampah.

“Apa?!”

“Aku ingin kita putus”

“Kenapa? Salahku apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta putus?”

“Ga… kamu ga salah apa-apa, cuma udah bosen aja aku sama kamu.”

“Bosen?! Segampang itu kamu bilang bosen?”

“Yah, mau gimana lagi, gitu keadaannya”

BBBUUUKKKKK

Kurasakan kepalan tangan mendarat di mukaku, disusul dengan darah yang mengalir dari hidungku.

Tanpa berkata apa-apa Satya pergi meninggalkanku setelah memberikan sebuah pukulan yang ku anggap sebagai kado perpisahan kami. Tak dapat ku bendung lagi, air mata ini menetes juga. Maafkan aku Satya, aku terpaksa melakukan ini padamu, lebih baik kamu meninggalkanku karena sikapku, dibanding  karena keadaanku sekarang yang aku yakin tak kan sanggup kamu terima dan akhirnya kamu akan meninggalkan aku juga.

HANCUR!!!!

Yah… Hancur, kata itulah yang dapat mewakilkan perasaanku sekarang. Dunia terasa berhenti berputar, langit jingga beralih kelabu dan impianku lebur menjadi abu. Hanya
pahit yang dapat ku rasakan, kelu batinku tuk dapat menerima semua kenyataan. Vonis yang ku dapatkan telah membuat semua impian indah akan masa depan sirna seketika.
Vonis yang ku dapatkan dari perbuatan masa laluku. Ingin rasanya kuberteriak pada langit bahwa aku menyesal atas perbuatan masa lalu, namun apa daya, semua tak berguna,
semuanya telah terjadi dan tak mungkin kembali. Dan kini aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai.

Aku menangis sejadinya, merasakan sakit karena harus kehilangan, kehilangan asa dan harapan, dan tentu kehilangan cinta yang telah ku nanti sekian lama. Kumenangis meratapi nasib yang kurasa sangat tidak adil padaku, takdir yang telah merenggut
kebahagiaanku yang ku rasa begitu singkat, takdir yang telah menghancurkan semua impianku. Lama ku terisak dalam tangis, membuat mataku perih, dan pusing bertengger di kepalaku. Ku angkat lemah badan ini, ku gerakan kaki menuju kamar mandi hanya untuk
membasuh muka, agar pusing dapat sedikit pudar. Lama ku terdiam, kembali memikirkan hal-hal yang terjadi padaku saat ini, dan aku hanya dapat menghela nafas panjang, engingat ini semua sudah terjadi.

Belum sampai kakiku menginjak di kamarku, namun pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu, segera ku bergegas masuk, disana sudah berdiri pria yang ku kenal, Satya, dia kembali lagi. Dia berdiri mematung memegang sebuah kertas, wajahnya pucat, ekspresinya lebih parah dibanding saat aku putuskan tadi.

“Mau apa balik lagi? Masih belum puas memukulku?”

Dia hanya terdiam menatap tajam wajahku, tangannya masih memegang kertas itu. Jangan-jangan. Seketika dia menghampiriku, dan belum sempat kuberkata dia sudah memeluk tubuhku, memelukku dengan erat, nafasnya tersenggal, pertanda ia sedang menangis.

“Apa karena ini sikap kamu berubah beberapa hari ini? Apa karena ini pula kamu tiba-tiba membuang aku dari hidupmu,” tanyanya berbisik di sela tangisannya.

Aku tak dapat berkata apa-apa, ini di luar dugaanku.

“Kalau kamu berpikir aku akan meninggalkan mu karena ini, kamu salah, Ki. Kamu tahu cintaku ini teramat sangat besar untukmu, tak ada satu hal pun yang dapat membuatku membencimu apalagi sampai meninggalkanmu.”

Kalimat terakhir yang Satya ucapkan berhasil murubuhkan dindingku, dinding yang sengaja kubangun agar aku sanggup meninggalkannya. Sekarang giliran aku yang memeluknya dengan erat, sekuat tenanga aku mencengkram tubuhnya. Tangisku kembali pecah, kali ini lebih hebat, ku menangis sejadinya di pundak pangeranku ini.

“I love you,” bisikku di telinganya.

A lot of love for you sweetheart,” jawabnya.

“Aku mencintaimu lebih dari apapun, aku ga akan ninggalin kamu, ga akan pernah…” lanjutnya.

“Tapi, Sat, aku sakit”

“Denger yah, aku ga perduli dengan apa yang terjadi sama kamu sekarang, aku telah berjuang untuk mendapatkan cinta kamu, aku ga akan ngelepasin kamu dengan alasan
apapun…TITIK.”

“Tapi aku ga bisa bahagiain kamu Sat, kamu tahu resikonya kan, aku ga mau bikin kamu tersiksa.”

“Aku mencintai mu, mencintai hatimu, mencintai tingkah lakumu, mencintai segala bagian tubuhmu, cintaku bukan hanya pada pantat atau batang kemaluanmu saja, aku mencintai hidupmu.”

“Tapi, Sat…” belum sempat kalimatku selesai, bibirnya telah menyentuh bibirku.

“Aku ga mau denger kata tapi lagi, cintaku ini sungguh untukmu, begitu pula hidupku.”

Mendengar kalimat terakhir yang terucap dari bibir indah itu aku tak sanggup berka-kata lagi. Perasaan ini tak dapat ku ucapakan, bahkan tak dapat ku lukiskan. Yang aku tahu lorong gelap ini perlahan mendekati pintu terang, pintu yang akan membawaku pada gerbang kebahagiaan.

Hari demi hari kulalui dengan kebahagiaan bersama pangeranku, semua terasa indah, tak ada lagi kabut gelap menyelimuti batinku, hanya cahaya terang yang senantiasa menyinari relung jiwaku. Semuanya begitu sempurna.

Namun bukanlah hidup bila semuanya terjadi sesuai kehendak manusia. Tuhan selalu mempunyai rencana lain disetiap rencananya, kebahagian dibalik kepedihan dan begitu pula sebaiknya.

“Satya pasti suka dengan kadoku ini” yah, hari ini adalah hari jadi cinta kami. Sengaja aku menjauhinya selama seminggu untuk memberikan sedikit kejutan. Untuk hadiah aku membeli sebuah  jaket dengan merek favoritnya, tentunya dengan design yang pasti dia sukai. Aku hafal betul apa yang dia suka dan tidak Kebetulan hari ini dia libur pasti dia ada di kosan, dan sengaja pula aku izin bolos untuk mempersiapkan ini semua. Setelah semua kejutan selesai dipersiapkan segera aku menuju kosannya, tak butuh waktu lama untuk tiba di sebuah rumah yang dirubah menjadi kost-kostan oleh pemiliknya karena tidak terpakai. Segera aku menuju kamar Satya, pintunya sedikit terbuka, ah benar saja fikirku pasti dia ada di kosan. Namun belum sempat aku membuka pintu, sepintas dapat kulihat ada orang lain di kamar itu, lemas seluruh badanku melihat tamu itu tanpa baju dan celana, begitu juga dengan Satya. Darah panas segera mengalir ke otakku, amarahku meledak sektika, aku banting pintu kamar itu. Kaget mereka dengan kedatanganku.

“Oh… Jadi ini perbuatanmu di belakangku. Tega banget kamu ngelakuin ini semua sama aku !!!” caci maki mulai muntah dari mulutku. Satya hanya bisa terdiam, berusaha mengumpulkan nyawa yang telah kabur saat kukagetkan tadi. “Dan kamu! Sebaiknya kamu segera pergi sebelum aku hancurkan batok kepalamu!” karena ketakutan anak itupun segera pergi setelah memakai pakaian seadanya.

Rupanya nyawa Satya telah berkumpul, masih dalam keadaan tanpa busana dengan batang yang mengelantung dia coba menenangkanku. “Tenang Ki, semuanya bisa aku jelasin.”

“Jelasin?! Ga perlu! Mataku sudah cukup mendapat penjelasan dari semua ini. Aku emang bodoh, udah percaya sama kamu. Seharusnya aku tahu ga ada satu pun lelaki yang bisa tahan tanpa sex. Aku emang kotor, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya kaya gini. Udah cukup penderitaanku dengan status ODHA menempel di badanku. Ga perlu lagi kamu tambah dengan penghianatan hina ini.”

Tanpa menunggu Satya membalas ucapanku, segera aku berlari menjauh dari setan itu, namun belum sampai kaki ini melewati pintu, dia sudah meraih tanganku, ditariknya badan ini ke dalam pelukannya. Aku berusaha berontak, aku mendorong tubuhnya dengan sisa tenaga yang aku miliki, tubuhnya menjauh, terpental menubruk dinding. Sesaat kemudian dia tidak beranjak, wajahnya meringis seperti kesakitan, matanya memerah.
Perlahan aku melihat cairan menetes di balik telinganya, cairan itu berwarna merah, cairan itu darah. Tuhan apa yang telah terjadi, ada apa ini, kenapa darah mengucur dari kepalanya, apa dia terbentur begitu keras hinggga berdarah…ASTAGA… ada apa ini Tuhan. Sibuk dengan pertanyaan di dalam kagetku, tak kusadari mata Satya telah tertutup untuk selamanya, dia telah menghirup nafas terakhirnya. Pangeranku kini telah tiada.

#end flashback

“AKU MENCINTAIMU DENGAN SELURUH HIDUPKU.”

Itulah kalimat terakhir yang Satya ucapkan sebelum malaikat selesai memberikan siksaan sakaratul maut. Masih jelas terekam dalam ingatanku, tatkala wajahnya berubah pucat di hadapanku. Memang, tak ada satupun yang mampu menyangka dan menerka maut. Maut yang menjemput Satya setelah badan yang kudorong kala itu menubruk dinding, dan naas, tepat dibelakang kepala Satya tertancap paku yang menjadi jalan kematiaannya.

“Ayo. Waktu kamu sudah hampir habis,” suara berat milik lelaki paruh baya membuyarkan lamunanku. Lelaki itu memakai seragam kepolisian, dia adalah petugas yang diberi mandat untuk mengawalku ke makan ini.

Setelah kejadian itu aku masuk penjara. Aku dilimpahi hukuman 2.5 tahun kurungan.  Tahun ini aku mendapat remisi, tapi remisi itu tidak aku pakai untuk mengurangi masa tahanan, tapi aku tukar dengan waktu agar aku dapat berziarah ke makam Satya. Benciku hilang setelah anak yang waktu itu kepergok sedang main badan dengan Satya meminta
maaf. Dia meminta maaf karena telah memaksa Satya untuk bercinta, walaupun Satya tidak pernah ingin melakukannya. Ah sayang, andai saja waktu itu aku lebih mempercayainya, mendengar penjelasannya, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Dan tak mungkin kembali.

“Baik, Pak,” aku menjawab lemas. Aku akan kembali kerumah penebusan dosaku di dunia, sembari menunggu waktu penebusan dosa di akhirat tiba.

Tunggulah aku sayang.

AKU SELALU MENCINTAIMU.