CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini yang kelima. Kesan yang aku tangkap, pembelajaran. Ya, pembelajaran yang berharga. Salut gede buat Akang Bleguk Abi Zayednal. Tulisanmu ini layak diapresiasi, Kang… keren dan berisi.

Aku ulas ya, hehehe… kehidupan pasca pernikahan seorang gay. Singkat padat dan amat jelas. Aku yakin, semua berharap (bahkan yang tak mau mengakui sekalipun). Di relung terdalam dari hati, suatu saat nanti harapan untuk itu pasti ada. Tulisan ini setidaknya bisa jadi secuil pengingat.

Semoga ada sedikit pembelajaran yang nyantol di kepala setelah menamatkannya ya…

Happy reading, enjoy

Wassalam

Nayaka

________________________________________________________________

PERHIASAN DUNIAKU

by : Abi Zaenal

Mereka selalu bilang bahwa cinta itu sederhana. Mungkin. Karena yang aku tahu juga bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana mengulaskan senyum di pagi hari. Tapi semua itu tampak tak mudah saat aku membuka mata, bahkan saat aku membuka jendela, menunggu sinar matahari yang akan menguapkan embun pagi. Semua menjadi tak sama sekarang, karena aku lagi-lagi harus menjalani hidup dengan kepalsuan.

Kamu tahu, tiga bulan ini bukan waktu yang mudah bagiku. Tiga bulan itu terasa seperti bertahun-tahun hidup di dalam dunia yang aku takuti. Bukan, bukan seperti yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng tentang dunia yang kejam. Bukan tentang panggung sandiwara yang sarkas itu. Ini adalah tentang realita, saat aku memilih untuk kembali pada kodratku.

Aku tahu kamu mencintaiku. Aku tahu itu. Tapi ini tetap saja tak mudah bagiku. Hidup satu atap dengan orang yang tidak ada dalam imajinasiku tentang sebuah keluarga. Aku memang tak mendapatimu saat mata ini terbuka karena kamu sedang membuatkanku teh manis di dapur. Dan lagi-lagi aku harus menghembuskan nafas kecewaku.

Kamu datang dengan senyum terbaikmu dengan secangkir teh manis yang masih mengepul, menebarkan aroma teh melati ke seluruh ruangan ini. Mengalahkan aroma basah dari luar, aroma embun yang sedang menunggu datangnya cahaya matahari.

Aku mencoba membalas senyummu. Aku tak mau kamu sedih karena melihat rautku yang tak segar pagi ini. Benar, aku tak bisa memicingkan mataku semalam. Aku dirudung sejuta rasa. Rasa yang melanda semenejak kita berdua mengikrarkan janji hidup bersama, dalam suka dan duka.

Semua itu karena hal klasik yang melanda orang sepertiku. Usiaku yang hampir menginjak kepala tiga telah membuat orang tuaku resah. Selalu saja sama, gunjingan para kerabat dan juga tetangga yang mengusik ketenangan hari-hari orang tuaku. Tentang aku yang sudah mapan tapi belum juga ingin menikah.

Ingin. Aku juga ingin menjalani kehidupan normal seperti kebanyakan yang lain. Aku juga ingin mengajari anakku naik sepeda, aku ingin mengajak putriku membeli baju pesta. Tapi ini tak mudah. Aku tak pernah punya rasa itu pada lawan jenisku. Aku selalu dilanda rasa sepi bila tak berada dekat pria itu. Pria yang telah membuatku tak bisa lepas dari dekapannya yang kokoh dan hangat itu.

Sampai akhirnya kamu dikenalkan ibuku. Katanya kamu adalah putri dari kerabat yang tinggal di kota kecil itu, yang mengahabiskan masa remaja di pesantren. Kamu tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku malu. Aku malu pada tuhan yang telah begitu baiknya padaku menganugerahkan jodoh sepertimu. Kamu tetap melayaniku selayaknya seorang isteri. Padahal aku belum pernah menyentuhmu sejak dari malam pertama yang katanya seperti nirwana itu. Aku hanya bisa mengecup keningmu, meskipun yang ada dalam pikirku adalah pria itu.

Kamu tak tahu betapa takutnya aku bila kamu katakan yang belum pernah terjadi itu saat mertuaku yang penuh harap itu bertanya apakah kamu telah mengandung. Aku takut. Tapi rasa takut itu tak bisa membuatku ereksi untuk menghamilimu. Rasa takut itu justru membuatku terus saja memicingkan mata sepanjang malam, membuatku pusing saat bangun tidur.

“Diminum dulu Mas, teeh manisnya. Mumpung masih hangat.”

Lagi-lagi suara lembutmu kamu lontarkaan padaku. Suara yang sama sejak pagi setelah ijab kabul itu. Aku menghampirimu, meraih cangkir itu dan menyesapnya pelan. Ah, memang masih hangat, tapi tak kunjung menghangatkan hatiku, meskipun ulasan senyummu tak pudar sedikitpun.

Aku menghempaskan pantatku di atas kursi. Berusaha mengatur nafas. Aku bahkan tak berani menoleh ke arahmu sekarang. Aku malu. Aku begitu malu karena kamu masih saja tersenyum tulus padaku.

“Kenapa kamu tak meninggalkanku, De… setelah tahu yang sebenarnya?”

Aku beranikan membuka mulutku sekarang. Tak tahan aku harus begini. Kadang aku ingin kamu meninggalkanku, agar kamu terbebas dari derita ini. Mana ada istri yang rela menemani suami yang tak pernah menjamahnya? Mana ada istri yang tahan dengan sikapku yang beku? Aku yakin kamu sama seperti wanita lain yang punya hati yang rapuh. Aku tahu kamu mengharapkan kehangatan dari seorang suami. Tapi sayangnya itu tak kamu dapatkan dariku.

“Aku istrimu, Mas. Aku telah berjanji pada tuhan untuk mendampingimu dalam kondisi apapun. Apapun dan bagaimanapun kamu, kamu tetap suamiku, Mas, imam dunia akhiratku…”

Lagi-lagi aku ingin berteriak, tapi semua teriakan itu tertahan di dadaku dan sekarang ingin meledak.

Kenapa kamu begitu bodoh? Aku tak pernah mencintaimu dan takkan pernah bisa. Aku hanya mencintai pria itu. Aku hanya merasakan kedamaian dan kebahagiaan bersama pria itu, kamu tahu itu. Dan aku hanya bisa berputus asa menanggapi kegigihanmu.

“Kamu berhak mendapat seorang suami yang lebih layak, De. Bukan suami sepertiku yang seorang… gay...”

Aku menutup wajahku. Badanku bergetar saat kamu memegang pundakku, lantas mengusapnya dengan lembut, memberikan sedikit pijatan di sana, berusaha menyamankanku. Padahal kamu tahu usaha itu takkan pernah berhasil. Aku merindukan usapan dari pria itu, bukan dari kamu. Aku merindu dekapan dadanya dan bisa bermanja-manaja di sana, memainkan bulu-bulu itu, menjadi nakal dengan puting itu.

“Tuhan itu tak pernah salah menyisipkan rasa, Mas. Bukankah ketika tuhan berkehendak, Tuhan tinggal bilang, ‘kun fayakun’? jadilah, maka jadilah. Dan bukankah Tuhan itu mendengar do’a seorang ibu? Tapi do’a seorang istri itu juga didengarkan oleh Tuhan, Mas. Dan aku adalah seorang istri. Aku akan mintakan yang terbaik untuk suamiku.”

Dan kalimatmu itu telah berhasil membuat mataku mengabut. Kamu terlalu tulus sampai-sampai aku berpikir bahwa Tuhan tak adil terhadapmu. Harusnya kamu mendapat seorang lelaki gagah. Bukan seorang lemah sepertiku, seorang lelaki yang menjadi bahan cemoohan karena sikapku. Kamu harusnya mendapatkan seorang lelaki yang bisa membimbingmu, bukan aku yang bahkan tak pandai mengaji ini.

“Sekarang Mas ambil air wudlu dulu. Dede siapin dulu sarung dan sejadahnya. Kita shubuh dulu ya. Abis itu kita belajar tadarus lagi…”

Ah, tuhan itu terlalu baik pada mahluk durjana sepertiku. Tuhan mengirimkan seorang bidadari untuk seorang yang telah dilumurkan lumpur oleh iblis, bukan, lumpur hitam itu kubalurkan oleh diriku yang tak bisa bertahan dari godaannya yang menawarkan kenikmatan semu.

“Aku tak minta banyak hal sama Mas. Aku cuma minta keteguhan hati Mas. Biarkan campur tangan Tuhan membantu kita, Mas. Dan aku akan tetap menunggu campur tangan Tuhan itu.”

Tangan halusmu menarik lembut tanganku, mengahantarku ke kamar mandi. Membersihkan ragaku dengan air wudlu sebelum menghadap-Nya. Dan baik hatimu untuk mengajariku mengaji telah mencampurkan air wudlu itu dengan air mataku.

Ah, aku harus bergegas. Fajar sebentar lagi muncul.

Sajadah tergelar, sarung terlipat rapi diatasnya, menungguku untuk melilitkannya ke pinggangku. Dan entah kenapa setiap kali aku melihatmu mengenakan mukena, tampak cahaya itu terpancar dari wajahmu. Apakah itu karena senyum tulusmu? Entahlah. Mungkin Tuhan telah menaburkan sebagian cahaya rembulan itu di wajahmu.

Kamu kembali mengangguk, membuyarkanku dari kekaguman atas pancaran wajahmu yang meneduhkan, dan aku berjalan sedikit ke depanmu. Mengangkat kedua tanganku dan mulai meminpinmu untuk mendirikan sholat. Melafalkan surat-surat pendek dengan terbata-bata, karena baru tiga bulan kamu mengajariku.

Kedua tangan meraup wajahku, mengamini doa-doa yang sebenarnya tak tulus itu. Apa aku tulus saat berdoa agar aku kembali ke jalan kelumrahan? Entahlah. Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab entahlah.

Dan sekarang jemarimu begitu indah tertatih-tatih dengan tongkat kecil, menunjuki huruf-huruf arab yang seperti cacing itu. Tapi berkat kesabaranmu aku mulai terbiasa membaca dari kanan ke kiri. Sampai aku memintamu untuk membacakan dengan lagammu yang indah, melanjutkan dengan terjemahannya yang menyusup pelan-pelan ke dalam hatiku.

Kamu masih membacanya dengan senyum saat aku berjalan ke arah nakas, mengambil sebuah kotak kecil yang terbalut pita. Menghampirimu dan memilih rebahan di pahamu. Kamu tersentak kaget dan mengakhiri bacaanmu, menutup mushaf yang tak pernah berdebu itu. Matamu terbelalak saat kuangsurkan kotak itu. Dengan ragu kamu membukanya. Dan aku begitu menikmati raut bingungmu, jemari bergetarmu dan gerak saat gigi atas menggigit-gigit bibirmu. Kamu belum terbiasa dengan ini, aku tahu itu.

Aku bangkit. Menunggu momen saat kamu terkesiap melihat apa yang ada di kotak itu. Benar saja, matamu membulat sempurna saat itu, kamu menatapku tak percaya.

“Sekarang, bolehkah aku mengucapkan selamat ulang tahun untuk perhiasan duniaku?”

Kataku sambil merentangkan kedua tanganku. Kamu mendekapku erat, dan mulai sesenggukan. Aku mencium keningmu dengan lembut, seraya berdo’a dalam hati agar rasa itu segera tumbuh dengan segera, agar aku bisa menjadi seorang imam yang bisa membahagiakanmu.

Aku mungkin memang bukan seorang suami yang baik sekarang. Tapi aku tak akan pernah melewatkan hari ini, hari dimana Tuhan telah menurunkan seorang bidadari untukku. Hari dimana Tuhan telah menciptakan perhiasan dunia yang terindah, mengalahkan indahnya zamrud dan memesonanya safir biru.

Aku lantas bangkit dan segera mengunci pintu dan juga menutup jendelaku, segera mengibaskan gorden itu agar serangga luar tak bisa melihat ke dalam sini.

“Dan sekarang, apakah aku boleh menjalankan tugasku sebagai seorang suami?”

Inilah tekadku. Aku harus mencoba saat ini. Bukankah Tuhan ada membantuku lewat campur tangan-Nya? Kamu tampak tersipu sambil mengusap pipimu yang basah. Kamu menjadi kikuk sekarang. Tapi, apa aku sudah kesiangan untuk ‘menjadi seorang suami’ sekarang? Hey, bukankah serangan fajar itu begitu dahsyat? Itulah yang sering diceritakan teman sekantorku. Bahwa alam telah membuat seorang lelaki menjadi begitu hebat di pagi hari.

Aku melihatmu terkesiap saat aku mulai menanggalkan helaian yang menutupi ragaku, menyisakan kain tipis yang menutupi bagian intimku. Aku segera menepuk kasur yang kududuki, dengan kerlingan mata padamu.

Kamu dengan ragu mulai bangkit, berjalan dengan kikuk ke arahku. Dan lagi-lagi kamu terkesiap saat aku menarik tanganmu sampai kamu terjatuh di dadaku, dan kamu terkekeh pelan saat tonjolanku mengganjal perutmu.

“Ayolah De.. Ada lilin yang harus segera Dede tiup sekarang..”

Kamu mulai memutar bola matamu, dan sungguh, itu terlihat indah sekali. Lalu sunggingan senyummu membalas kerling nakalku. Kusibakkan selimut itu tapi kamu kembali menariknya.

“Ah, aku lupa, aku belum mengajari Mas salam ‘itu’, sebentar..”

Kamu beringsut dan aku menghela nafas. Lalu aku mulai mengikuti apa yang kamu lafalkan. Tapi belum juga selesai, aku sudah mendaratkan bibirku dengan tergesa, berusaha menikmati keindahan ini, keindahan yang dulu sempat dikenalkan oleh pria itu.

Dan sekarang kusibakkan selimut beludru ini, agar kalian tak melihat gerakan indah yang kami sertai dengan lenguhan. Agar kalian tak melihat gigitan, jamahan, remasan, dan jerit tertahan itu. Ah, kalian tak akan menyaksikan bagaimana aku melihat surga itu.

 

END

 

***

Cerpen ini aku buat untuk orang-orang yang bertekad meninggalkan dunia pelangi.

Banyak di antara kita yang sudah bertekad untuk mengakhiri dunia kelam ini, tapi terganjal ketakutan-ketakutan. Kita pasti akan tetap berdosa dengan membohongi istri kita, keluarga kita dan banyak sekali orang. Bahkan perceraian itu sudah di ambang mata. Tapi satu hal yang kita hiraukan. Kita masih punya Tuhan.

Ketika hati kita telah bulat, yakinlah Tuhan akan menunjukkan jalan. Memang tak mudah. Dan yang merintangi itu sudah siap menghadang, tapi ingat, campur tangan tuhan itu tak bisa ditolak siapapun.