CUAP2 NAYAKA

Salam…

Seperti membaca salah satu syair fenomenal milik Kahlil Gibran. Luar biasa. Aku merinding di tiap kata, terpesona di tiap kalimat, terpukau di tiap baris, lalu mabuk mengawangkan-ku setiap berganti paragraf. Ini awesome. SANGAT DIREKOMENDASIKAN. Aku pribadi suka jenis tulisan kayak begini, indah dan sarat makna. Kalau misal ini film, ini adalah epic movie, hihihi…

Kalian gak akan rugi baca (kecuali jika kalian memang gak suka tipe tulisan gaya begini). Ketiga-tiga karakter tokohnya begitu mengagumkan, Jiwa yang tegar dengan cinta tulus meski harus terbakar, Perak yang kuat memegang bakti meski harus tertawan, dan Jibril Sang Penakluk yang paham akan cinta sesungguhnya sepasang kekasih. Great, aku bilang.

So, tunggu apa lagi??? Buktikan sendiri cetar membahana-nya cerpen ketujuh Akang Bleguk ini.

P.S : Akang Bleguk, typo-nya juga masih kutemukan dan udah tak-edit se-nampak yang dilihat mata kaburku. Ahihihi…

Wassalam

Nayaka

________________________________________________________________

PERAK, JIWA DAN JIBRIL

by : Abi Zaenal

 

Adalah Azzuri, negeri dalam dongeng yang dilimpahi kemakmuran. Kastilnya menjulang tinggi dan runcing, laksana Gothik yang memukau, seolah seribu malaikat menebarkan sinarnya melingkupi kastil nan menawan itu. Pilar-pilarnya kokoh bak kaki Goliath, menancap menerkam bumi. Menaranya melengkung indah, dipeluk oleh patung-patung cupid yang lucu, yang tersenyum meski dikejar Poseidon.

Awan bertumpuk melayang seperti kapas, bergelembung yang indah, berkejaran dan saling menubruk, menebar cipratan air yang berbutir-butir mengilap. Mengawani kilat yang menyemburat, menutup jingga di barat yang memesona dengan sinar matahari yang berlesakan di antara celah-celah awan.

Rumput dan ilalang yang meliuk-liuk seperti penari perut bercengkrama dengan angin yang menghembus menggelitiki setiap yang dilewati, menebar aroma wangi dari bunga yang bercumbu dengan serangga. Bul Bul berjinjit di antara dahan-dahan perdu apit, mencuri dengar jerejak yang bernyanyi merdu, menidurkan jangkrik yang terkikik.

Jiwa, sang penyair terduduk meratap, menebar kata dari lisannya yang dalit. Mengucap ratap dan doa atas orang yang dilimpahi seluruh hatinya. Hari ini mendung memayungi bumi, seperti kelam yang mendera hatinya. Betapa riuh kalbunya, sosok yang menyandera hati dan pikirnya kini mendekapnya, meminta restu atas kepergiannya.

“Aku, Prahara. Aku adalah bunga tanpa nama, entah bagaimana aku bisa memiliki warna indah, mungkin karena air mata yang membasahi akar-akarku setiap waktu. Aku tak percaya saat kau tiada. Aku ingin murka saat kau luput dari mataku.” Jiwa sang penyair meratap.

Perak, sang ksatria berzirah merangkul erat, mencumbu lekuk leher yang jenjang itu, menyingkap jubah halus berbulu cerpelai yang hangat itu.

“Aku adalah mendung yang teduh, engkau memintaku menghalau terik namun tak kau izinkan aku menuangkan hujan. Sulit memahami kemauanmu, cintamu penuh syarat.” Perak bertutur meminta restu.

“Aku adalah kata-kata cinta, bersamamu aku merentang menjadi bait-bait syair, lalu engkau pergi merangkai cerita di lembaran hati lain, dan tinggallah aku menjadi coretan-coretan, tak bermakna,” Jiwa kembali meratap, ketakutannya atas keelokan sang tertawan menggoyahkan keyakinannya.

“Dan bila kau melangkahkan kakimu, sungguh, aku adalah bintang yang hancur, pecahanku menembus bumi, menjauh dari galaksimu, menghilang dari peredaran. Selamanya.” Jiwa mengimbuhinya dengan desah.

Perak merangkul erat, menggenggam jemari Jiwa yang kisut, bergetar karena cinta yang meluap. Dan pada masa itu, angin bertiup membawa air mata Jiwa yang sendu dalam diam, tak sepenuhnya memberi restu atas kepergian Perak.

“Aku pergi. Aku kuat dalam tekadku. Hatiku padamu adalah kokoh seperti baja, jiwaku akan tetap milikmu seperti embun dan halimun.” Perak mengecup Jiwa, melunturkan air mata Jiwa yang deras seperti Gangga.

Perak pun berlalu mengibas zirahnya yang mengilat, mengokang temali yang melintangi kuda yang gagah itu. Berlari menderas kerikil, mengarungi deras sungai, menerabas halimun gemunung yang membekukan itu, demi titah sang raja, menyelamatkan Jibril Sang Bidadara yang rupawan.

Debu-debu senja terjun dari tumpukan awan yang berkejaran, memerahi persemedian penat dan melarungkannya di atas angin yang berputaran. Perak mulai mengitari imaginasi, bersetubuh dengan ketelanjangan intuisi.

*****
Matahari berganti purnama, sabit memunggungi gerhana, berbulan Perak tak kunjung kembali. Mengisutkan Jiwa yang dilanda rindu yang mengosongkan pikirannya, memenuhinya dengan satu nama, Perak.

Dia merindu sosok yang gagah itu, merindu saat dia berjinjit nakal, mengecup bibir yang manis seperti cerry itu, beradu dengan hidung yang menjulang seperti Vesuvius, membaui lekuk tubuh yang sewangi kesturi, mengilat seumpama cermin, melarutkan diri dalam gairah surga. Bergelut dan bergelung, menyatu dalam lenguh dan desah. Meremas yang indah, menggenggam nan erat, dan menggigit yang nikmat.

“Merana adalah karibku, kental dan tak pernah menjauh. Aku masih menggenggam pena ini, menggoresnya di atas kertas yang basah oleh air mataku. Aku mencintai sepi, meratapi kekasih setiaku yang tak pernah menepi.” Jiwa terisak dalam diam, lelah bertanya pada nuri yang bertengger di atas balkon yang menjorok, menghadap hamparan yang teduh.

*****

Perak berkawan dengan dentingan mata pedang yang beradu, berteriak menantang kawanan lawan yang menyandera Jibril Sang Bidadara, Si Anak Raja. Peluh menepi, darah mengucur, lengkingan menghentak. Sampai akhirnya semua lawan tumbang oleh pedangnya yang terhunus.

Jibril terpukau, terpesona oleh Perak yang gagah. Perak memangkas pagar yang mengurung Jibril dalam sangkar. Perak memangku Jibril, mendudukannya pada kudanya yang kokoh itu. Berjalan perlahan melintasi gemunung yang berbukit-bukit. Dekapan hangat Perak yang mengokang temali di belakang Jibril, menyemai rasa itu, rasa yang tak pernah Jibril rasakan.

Perak Sang Ksatria mencarikan buah untuk Jibril yang lapar. Tapi menjangan melintas, meluluhkan Jibril, membuatnya mengulurkan tangan ke mulut menjangan itu. Menjangan itu makan buah dari tangan putih Jibril dengan rakusnya.

Jibril mengisahkan mimpinya pada Perak. Semua tentang inginnya lari dari megahnya istana untuk berdiri di antara para anak matahari. Pewaris bumi.

“Aku adalah pagi yang cerah, malam memintaku datang untuk memberikan jalan bagi para pemimpi mewujudkan bunga tidurnya. Akulah siang yang bergelora, pagi membaiatku sebagai altar tempat kaki-kaki kecil demi mimpi besar mereka. Dan akulah malam yang anggun, senja menghiasku dengan anak-anak matahari tempat para pemimpi menggantungkan harapan mereka.”

Perak membisu. Tercekat oleh pesona Jibril yang rupawan. Hatinya tertawan oleh kata-kata yang tertutur dari mulutnya yang mungil itu. Dan untuk saat ini, Jiwa luput dari hatinya.

******

Jiwa bertopang dagu menatap gerbang kastil. Matanya terus mengedar, mencari sosok yang merenggut waktu tidurnya. Merpati datang, mengisahkan pengkhianatan dan nikmat cinta yang menghilang. Perak telah terjerat cinta Sang Jibril. Sang Ksatria tunduk oleh pesona Bidadara yang menyerupa Yusuf. Bening air mata Jiwa menetes, menghujani bumi yang mulai gersang. Nasib malang dari hati yang dibuang, seperti menerka firasat dalam ribuan tanda bimbang.

“Aku tahu, kesetiaan dan ketulusan tak cukup berharga dari lekuk syahwat yang menantang, tak cukup menarik dari tubuh-tubuh tegap yang telanjang,” Jiwa berkeluh pada merpati yang ikut mengiba.

Air mata menjadi satu-satunya bulir tirakat, lelehan rasa yang mengerti bahwa Jiwa merintih sekarat. Lalu apa yang paling bernilai untuk cinta? Jika kesungguhan hanya dianggap sebagai pemanis kata-kata?

******

Terompet bersahutan, bergantian dari bubungan ke bubungan, menyambut Sang Ksatria kembali dari medan perang. Elu-eluan membahana dari setiap mulut, mengalirkan pujian yang menderas. Senyum itu terulas di bibir Perak. Dialah pahlawan negeri, menyelamatkan Jibril dari cengkram raja yang nista itu.

Jiwa menatap sendu dari sudut istana, menatap keduanya yang senyumnya mengembang. Perih hatinya tak sejalan dengan derai tawa mereka. Pelupuk matanya seperti segara yang tak sanggup menahan laju bening air matanya. Hatinya hancur, tapi pekik itu tertahan, seperti jantungnya tercerabut dengan paksa.

Perak membatu, melihat Jiwa yang merana. Langit runtuh di atas raga Jiwa, bumi melesak dalam lubang tak bertepi, memerosok dalam kegelapan yang pekat. Jiwa bernafas, tapi pikirannya telah mati. Jiwa hampa. Kosong tak bertuan.

Perak mendekat, mendekap Jiwa yang beku. Bersujud dan menciumi tangan Jiwa yang sekarang ringkih, hanya tulang berbalut kulit. Dagingnya tergerus rindu yang teramat pada ksatria yang menawan hatinya.

“Entah aku yang terlalu bodoh, atau hujan yang teramat cerdas. Ditenggelamkannya bibirku dalam kekakuan berterus terang. Aku diseret arusnya tanpa ampun. Aku tak bisa tolak titah itu. Aku adalah pion yang lemah.” Perak memasrahkan diri.

Jiwa melepas genggaman Perak yang kokoh. Menatapnya dengan sendu. Kedatangannya tak seperti dalam mimpinya. Perak telah menarik sauhnya dan melabuhkannya di lain dermaga.

“Kudengar senda gurau hujan dari barisan titik air pada dinding kaca. Kulukis sebentuk hati dengan segurat luka yang membaginya menjadi dua bagian. Ya, itulah hatiku sore ini” Jiwa menahan agar butiran itu tak lagi menjatuhi bumi. Jiwa lebur hatinya. “Dalam lenguh panjang, aku menebas nafas yang menjauh terbang. Tak ada yang lebih baik selain memahami diri sendiri. Terlalu banyak hal yang menguras emosi dan tak berarti. Aku menutup mata, mendengar melalui nurani. Hati ini perlu dilindungi” Jiwa meneruskan tangisnya.

Jiwa pun pergi, meninggalkan Perak yang sesak oleh sesal. Mengutuki diri tak bisa melawan hirarkhi. Kedua tangannya merengkuh lutut, merasa lemah karena cinta. Dia ksatria, tapi dia masih manusia. Kini kabut menutupi Azzuri, seperti air mata yang menumpuk di pelupuk Perak.

*****

Gubuk sederhana itu tersembunyi di balik rimbun yang pekat, di atas daun-daun yang terserak. Purnama bertengger berselimut awan, menggantung indah tanpa temali yang memancang langit. Gemintang berkedip, menghias berpadu dalam rasi yang indah tak terperi.

“Aku hanyalah pendulang malam, Ksatria Syair yang memanah rembulan dengan mata pena. Kulesatkan cinta sepiku ke kawanan bintang, biar hanya yang memercayai keajaibannya yang kuizinkan untuk memetiknya. Jiwaku terlalu lama berhampa. Biar! Biar rasa ini di sana, tak tergapai siapapun.”

Jiwa meratap, memupus harapan atas ksatrianya yang gagah. Mencoba berikhlas memang tak mudah, tapi tuhan itu berkuasa. Dia punya segala mau. Dia tahu segala ingin. Burung hantu merias malam dengan pekurnya yang sepi. Angin memutar menuruni lembah, menghaturkan kerinduannya yang mengkristal pada Perak. Dan nama itu terucap dalam lirih.

Perak terbangun. Bulir-bulir peluh menepi di dahinya. Nafas memburu terdengar bising, meracaukan kata yang selama ini tertahan untuk terucap. Rindu, Perak rindu pada Jiwa yang selalu bersenandung indah agar dia terlelap, mengusap helaian rambutnya yang legam. Membelai pipinya yang kini cekung. Rindu itu menghisap raganya. Bahagia yang dia rasa ternyata semu.

Perak terjaga. Meraih zirah yang tersampir di kaitan gading yang mungil itu. Jibril terperanjat, menyaksikan Perak yang ketir karena rindu. Jibril mendesah, mencoba mengulas senyum, meski pahit merajai lidah. Kelu menyerupa permen yang tertahan di mulut, perih mengakar dalam mata.

“Jangan lagi kau kupas kesedihan dari raut wajah tampanmu atau aku akan terhempas dari keindahan sederhana yang kau miliki itu. Senyummu serupa barisan pelangi yang disematkan bidadara di gumpalan awan. Maka biarkan aku terus mengagumimu tanpa perlu menyentuhmu, karena tak semua hal indah itu harus dimiliki.” Jibril melepas Perak. Dia tahu hatinya hanya milik Jiwa Sang Penyair.

Perak mengecup Jibril dalam kening yang halus bak pualam itu. Menerima restu dengan sungging yang hampir meledak. Dia berlari mengibaskan temali, kembali menunggangi kudanya menderas malam. Perak tahu bahwa hatinya tertawan Jiwa. Jibril hanyalah pesona yang tak pantas untuk hatinya. Jibril pasti akan mendapat bidadara yang setahap dirinya. Bukan dia yang harus terus berjuang di medang perang.

Perak bertanya pada embun yang mulai turun, berteriak pada seluruh penjuru mata angin yang delapan. Dan merpati sahabat Jiwa terenyuh mendengar tangsinya di depan telaga, air mata Perak mengeruhkan beningnya telaga itu, membangunkan ikan-ikan yang terjaga.

Merpati berkisah dimana Jiwa mengendapkan rindunya, terbang rendah menuntun kuda gagah itu menderas ilalang. Sampai pada pohon berakar sepinggang, di balik rimbunan pohon yang menjulang.

Perak tersungkur di kaki Jiwa yang beku. Meratap dalam bahasa kalbu yang lirih. Memohonkan pengampunan atas kekhilapannya. Jiwa bergeming, menatap lurus matahari yang mulai menyemburat, memancarkan cahaya terang nan hangat.

“Cinta bukan sekumpulan ciuman tabu, bukan ragam pelukan-pelukan menggebu.
Cinta adalah ketaklukan, pengabdian jiwa dengan penuh kerelaan. Lalu sejauh mana kita meneladani sebuah hati jika kita masih saja mampu melukai?” Jiwa kukuh dalam dukanya.

Perak menebar kenangan. Kalbunya berkisah tentang asmara yang indah, menggebu dan membakar malam. Kelopak bunga itu tertabur di pembaringan, harum itu tercium kembali, air susu itu terasa mengepul kembali.

“Seperti mega mendung yang mengakar di kaki fajar. Aku adalah wujud rindu yang mengejawantah. Naik mengepul diangkat kekhawatiran, turun merendah digiring kepasrahan cinta. Tak bisakah kau baca isyarat air sebelum gerimis menjadikannya hujan? Aku memujamu seperti malam pada rembulan. Aku mencitamu laksana ikan pada telaga”

Jiwa luluh, mengalah pada rindu yang pekat. Batinnya runtuh oleh sesal. Dan kalbunya kalah oleh cintanya yang menggunung. Dia meraih Perak dan merangkulnya erat. Mata indahnya menintikkan air mata bahagia. Pujiannya terpanjat pada tuhan yang mengumpulkan doanya dan menghujamkan padanya pagi ini.

“Cinta yang dewasa itu mensyukuri. Rindu yang matang itu mengerti. Dan aku masih mencintamu seperti matahari dan pagi”

Perak merengkuh Jiwa, seolah tak ingin lepas. Dan mereka meregang cinta pada sisa umur yang mereka miliki.

 

 

P.S : Cerita ini berkisah tentang cinta Jiwa pada Perak. Jiwa Sang Penyair harus merelakan Perak Sang Ksatria yang diutus oleh raja untuk menyelamatkan anaknya, Jibril Sang Bidadara. Dan ternyata Perak terpesona oleh kerupawanan dan juga baik hatinya Jibril. Dan sesampainya di kerajaan Azzuri, Jiwa yang mendapati Perak bersanding dengan Jibril akhirnya memilih pergi.

Tapi Perak tersadar, hatinya adalah milik Jiwa. Dia hanya mendapati kebahagiaan yang semu dengan Jibril. Melihat keteguhan Perak, Jibril akhirnya melepas Perak untuk mencari Jiwa.

Jiwa bersembunyi di tengah hutan bersama kawannya, Merpati. Melihat Perak yang begitu tersiksa mencari Jiwa, Merpatipun memberitahu dimana Jiwa tinggal. Awalnya Jiwa menolak, tapi mereka berdua sadar, cinta mereka jauh lebih kokoh dari apapun. Dan mereka pun menghabiskan sisa hidup mereka di tengah hutan itu, jauh meninggalkan istana.

*****

Ini adalah cerpen duetku bersama Nino Tama. Sebagian besar kata-katanya dia yang buat, aku hanya menyusunnya menjadi sebuah cerita.