Cuap-cuap

Salam…

Akhirnya selesai juga editing dan covering Riang Merapi. Huhuhu ternyata mengkoneversi cerita non gay themed menjadi gay themed tidak semudah yang kubayangkan.

Well cuap-cuap ini sekaligus membalas komen-komen yang belum tertanggapi di Riang Merapi sebelumnya. Bukannya karena malas, tapi ini terpaksa, kuota habis, jadi semuanya jadi lemot. Berkali-kali gagal aplot balasan komen.

@yayak: kalo hari besok adalah hari pertamamu di alam kubur, berarti besok adalah hari pertama aku berkabung.

@bee: kuota habis, jadi untuk sementara gak bisa aplot foto2. Entar foto2nya nyusul. Kalo perlu diberi judul khusus hehehe

@anna: makasih, hati2 entar kamu yang diboyong huru hara selesai baca Riang merapi.

Bagi yang ingin melihat versi asli, bisa langsung berkunjung ke lapaknya Abang Divan: divansemesta.blogspot.com.. Ini tulisan dah lama banget, jadi kayaknya ada di awal-awal. Atau kalau nggak mau repot, minta aja di eyang gugle: Riang Merapi Divan Semesta. Ntar ada link download PDF-nya.

Terima kasih semua, spesialnya untuk Yayak al Gibran dan tentunya Abangku Divan Semesta.

Selamat membaca🙂

Riang Merapi 8: Golden Number of Phi

Originally written by Divan Semesta

Edited and Covered by Desem

Pirated from divansemesta.blogspot.com

tenda

Pagi menyingkap kabut, menyingkap pula kemisteriusan Danau Misteri. Danau itu tampak lebih ramah dari semalam. Pagi itu Riang kembali bangun kesiangan. Ia tak sempat melakukan apapun pagi ini.  Sekedar untuk cuci muka atau buang air pun belum. Riang mengingat kembali suara yang mampir di telinganya tadi malam. Acapkali ia mengigat suara itu, acapkali pula ia tersesat di dalam pikirannya: mengapa suara yang mengaku sebagai simbah itu kini manambahkan kata damai? Riang berusaha menggodam pertanyaan itu hingga serpih remah-remah. Tetapi, tidak bisa. Ditambah lagi dengan pelukan hangat Pepei yang membuat dada Riang bergemuruh tak menentu. Riang merasa kacau, ia membutuhkan pertolongan. Ia segera membuka tenda dome.

Di luar, Fidel sibuk dengan plastik penampungan yang diluberi air hujan. Seekor semut dan sebuah daun kering mengambang di atas genangannya. Fidel menuangkan genangan air itu ke dalam botol. Sisa genangannya ia manfaatkan untuk memasak air teh dan merebus mie, sementara air endapan danau ia gunakan untuk menanak nasi.

“Mas?” sahutnya pada Fidel. Mulut tenda terbuka lebar.

Fidel melirik. “Badanmu segar?” tanyanya klise. Jelas di mata Fidel Riang tampak pucat. “Teh dulu Yang…” Ia menyodorkan segelas teh hangat. Riang menghirupnya pelan-pelan.

“Ada apa Yang?” tanya Fidel setelah menyaksikan kesadaran Riang bertambah. Wajahnya terlihat lebih segar.

“Sore kemarin kita membicarakan keberadaan mahluk halus …” ucap Riang ragu.

“Kemarin kita bicara tentang keberadaan dan penggambarannya, lantas?” Fidel menatap Riang. Tak ada satu orang pun yang pernah ia kenal langsung membicarakan topik yang berat seperti itu setelah bangun tidur.

“Bagaimana Mas mempercayai keberadaan mahkluk halus, sedang Mas sendiri belum pernah melihat, meraba atau mengajaknya bicara?” Fidel memperhatikan rongga mata Riang. Hitam seperti mata panda. Tidurnya tak nyenyak.

“Apa yang terjadi tadi malam?” Fidel curiga. Ia berusaha menyelidikinya. Sebersit curiga menyusupi sulcus otaknya: Pepei. Pandangannya menyusuri sekitar danau, mencari lelaki karibnya yang super iseng itu.

“Tidak apa,” Riang mengelak. Fidel tahu. Ia membiarkan Riang. Manusia tidak bisa dipaksa. Kalau Riang bersedia, ia pasti akan membeberkan semuanya.

“Mempercayai keberadaan berbeda dengan mengetahui wujudnya.” Fidel mulai membuka pembahasan sambil menambahkan air teh pada gelas yang dipegang Riang. “Ada, belum tentu dapat diketahui wujudnya…” Keriut di wajah di Riang kurang lebih menanyakan: apa pula ini?! Fidel tersenyum senang melihat Riang yang mulai berfikir.

“Mempercayai keberadaan berarti mempercayai adanya sesuatu di alam semesta, tetapi mempercayai tidak otomatis mengetahui langsung wujudnya. Riang mendengar aku bersuara, tetapi bagaimana wujud suaraku?”

“Tidak tahu” jawab Riang polos. Mantanya mengerjap cepat.

“Bukankah suara itu ada? Bagaimana wujudnya?” Fidel tak memaksa Riang menjawab. Ia melanjutkan. “ Karena tiupan angin, aku merasakan dingin sewaktu mencuci muka di bak penampungan wihara dekat rumahmu, tetapi bagaimana bentuk angin itu? Seperti apa bentuk dingin itu? Aku tidak tahu tetapi aku yakin angin ada. Ketika dikejar-kejar gerombolan Kardi, kita cemas. Kita tahu bahwa kita cemas, tetapi seperti apa bentuk rasa cemas itu? Kita tidak tahu tetapi kita mengetahui bahwa cemas itu ada. Keberadaan suara, angin, perasaan cemas itu ada, tetapi kita tidak bisa melihat wujudnya. Tidak terlihat itu bukan berarti tidak ada.”

“Rasanya aku mulai paham.”

“Kau merasa paham lantas seperti apa bentuk rasa faham?” Fidel menguji.

Riang tertawa. “Sudah! Sudah!” katanya. Dan dengan itu ketakutannya sedikit reda. Fidel berusaha mengkoreksi pengertian Riang mengenai perbedaan antara keberadaan dan wujud. Ia mulai memahami bahwa yang dimaksud keberadaan.  Bagaimana dengan keberadaan “sesuatu” yang menggemuruh di dadanya? Yang menggelitik di perutnya? Yang membara di wajahnya? Bagaimana pula wujud “sesuatu” itu? Apakah itu yang dinamakan …. cinta? Riang gusar dengan pikiran-pikirannya. Ia segera mengalihkan pertanyaannya ke pertanyaan lain.

“Bagaimana mempercayai keberadaan mahkluk halus sedang Mas sendiri belum pernah melihat, meraba atau mengajaknya bicara?” Riang cerdas. Ia mengkonfrontir pekataan Fidel kemarin sore bahwa untuk mempercayai wujud atau penggambaran mahluk halus seperti yang dikatakan orang-orang, ia diharuskan untuk menyentuh atau setidaknya melihat lebih dulu apa yang dikatakan orang sebelum ia mempercayainya. Riang pikir Fidel tidak konsisten dengan ucapannya kemarin.

“Jadi, apa menurutmu, aku mempercayai keberadaan mahluk halus atau tidak?” Fidel kembali bertanya, untuk memastikan.

“Percaya! Seperti kepercayan adanya angin dan perasaan cemas…” ucap Riang menggantung. Ia kembali pada “sesuatu” yang mengobrak abrik pikirannya. Apakah ia percaya pada “sesuatu” itu? Keberadaan dan wujudnya?  Arrgghh….. Riang kembali menggodam pikiran-pikirannya.

“Aku mempercayai keberadaan mahluk halus bukan karena menyandarkan pada analogi atau perumpamaan suara, angin dan perasaan. Itu cuma untuk membedakan pengertian kata keberadaan dan wujud,” Fidel tertawa. Riang tidak. Otaknya keriut.

“Jika kebanyakan orang mempercayai keberadaan mahluk halus dikarenakan merasakannya, sedangkan aku tidak,” Fidel meluruskan penangkapan Riang. “Aku mempercayai keberadaan mahluk halus karena menyandarkan kepercayaan dari informasi yang disampaikan Tuhan melalui kitab suci. Dari Agama.”

“Lantas, orang lain mempercayai mahluk halus dari mana?” Riang memutuskan untuk fokus pada pembahasan. Ia tak membiarkan pikiranya kembali melayang-layang pada “sesuatu” itu, sesuatu yang timbul sejak ia melihat lelaki pendaki berwajah tegas bermata tajam, lelaki yang menjadi karib lelaki di depannya: Pepei.

“Bisa dari informasi yang diberikan oleh sesuatu yang ia percaya: bisa dukun bisa manusia.”

“Bisa juga ia benar-benar melihatnya,” sanggah Riang.

“Bisa iya melihatnya, dan bisa juga tidak, tetapi untukku …. aku tetap tidak mempercayai penggambaran mahluk halus sebelum benar-benar melihat dan membuktikannya sendiri, karena terkadang ketika orang mengatakan melihat wujudnya, padahal terkadang wujudnya memang tidak ada.” Pembicaraan ini semakin sulit bagi Riang.

“Orang sering kali menyimpulkan wujud mahluk halus padahal bisa jadi ia salah menganalisa fakta. Kita sering melihat atau mendengar orang lari terbirit-birit karena menurut penuturannya, mereka melihat hantu hitam, melihat sosok mahluk menyeramkan yang dikepalanya menggeliat-geliat ular, padahal setelah diselidiki ternyata bukan mahluk halus atau hantu. Apa yang mereka lihat adalah bayangan pohon kering yang disinari cahaya bulan.”

“Lantas dari mana Mas mempercayai keberadaan mahluk halus?” Riang terlihat antusias. Pembahasan tentang keberadaan dan wujud makhluk halus mengusir bayang-bayang “sesuatu” dari pikirannya.

“Kan sudah kubilang mempercayainya dari kitab suci. Mengenai wujudnya seperti apa aku tidak tahu, sebab aku belum menemukannya. Aku akan mempercayai wujud atau penggambaran mahluk halus bila aku menemukan wujud, melihat dan membuktikannya langsung, atau menemukan informasi penggambaran mahluk halus dari kitab suci dan informasi yang kitab suci menyuruhku untuk mempercayainya. Aku belum merasa perlu mempercayai penggambaran wujud mahluk halus dari dukun atau manusia di sekitar kita karena manusia itu selalu alpa.”

“Lantas kita harus mempercayai dari siapa?” Riang semakin antusias.

“Dari firman Tuhan yang disampaikan melalui kitab suci.”

“Bagaimana kita percaya pada informasi yang diberikan Tuhan?” Pertanyaan Riang naik jabatan. Ia maju selangkah.

“Bagaimana kita bisa tidak mempercayai Tuhan Pencipta Semesta Alam jika kita telah membuktikan-Nya? Bagaimana kita bisa tidak mempercayai informasi yang disampaikan-Nya, jika kita telah membuktikan keberadaan Tuhan sementara kita tidak mempercayai informasi yang diberikan-Nya? Lalu kepada siapa lagi kita menaruh kepercayaan?” Fidel memberondongnya dengan pertanyaan, bukan dengan jawaban yang diharapkan Riang. Riang mengkerut sebal.

“Apa Riang pernah disuntik?” tanyanya. Riang tidak melihat adanya keterkaitanan antara suntik menyuntik dengan kepercayaan terhadap Tuhan, tapi ia berusaha mengikuti alur pembicaraan. Ia yakin lelaki kalem dihadapannya punya jalur berfikir yang spesial seperti halnya lelaki yang membekapnya dengan puisi-puisi gilanya. Ah mengapa dia kembali teringat pada lelaki itu.

“Pernah.” Jawab Riang cepat, berharap ingatan tentang lealaki berpuisi gila itu cepat pergi dari pikirannya.

“Di mana?”

“Di tangan.” Jawab Riang tak menunggu lama. Ia tak boleh diam terlalu lama kalau tidak ingin lelaki puisi gila itu datang ke pikirannya kembali.

“Berapa kali?”.

“Di tangan sekali, di pantat berkali-kali! Aku tidak menghitungnya. Sebegitu pentingkah?” ingatan tentang lelaki itu sudah terserpih sama sekali.

“Sebegitu pentingkah pantat, maksudmu begitu?” tanya Fidel nyaris terkekeh melihat wajah Riang yang super serius. Ia tidak tahu bahwa pemuda desa itu sedang bertempur dengan pikirannya sendiri.

“Ya bukan to Mas!” jawab Riang mulai sebal. Fidel mulai menggila seperti karibnya. Argh…. mengapa Riang kembali memikirkan lelaki puisi gila itu lagi?

“Maksudmu, sebegitu pentingkah keterkaitan antara disuntik dengan kepercayaan terhadap informasi yang diberikan Tuhan?” Riang lega, orang yang ia pikir kehilangan fokus pembicaaraan ternyata mengerti sepenuhnya apa yang akan dibicarakan. Ia tak segila lelaki Puisi itu. Lelaki, puisi, lelaki, puisi, lelaki lagi, puisi lagi. Riang mulai sebal dengan pikirannya sendiri.

“Kau akan mengerti kaitannya, tetapi sebelumnya mari kita sistematikakan dulu.” Fidel memandu kembali Riang ke alam kenyataan. Riang bernafas legah. “ Tetap di lanjutkan?” tanyanya.

“Ya.” Jawabnya mantab.

“Sehabis disuntik pernahkah Riang bertanya mengenai racikan bahan kimia apa yang dimasukkan dokter ke dalam tubuh Riang?”

“Tidak. Untuk apa bertanya?”

“Bukan untuk apa, tetapi mengapa, mengapa tidak menanyakannya?!”

“Sebab aku percaya penuh pada dokter.”

“Mengapa harus percaya penuh, padahal banyak dokter yang melakukan praktik ilegal, praktik gelap. Padahal, banyak dokter yang menyuntik cairan kimia yang salah dan membuat penyakit seseorang bertambah parah.”

“Dokter di desaku pintar dan baik,” sergah Riang. Ia teringat seorang dokter lelaki di kampungnya. Dokter itu masih muda, enerjik, lincah, baik hati, tidak sombong tapi tidak suka suka menabung. Dokter dari Surabaya itu tidak ganteng, tapi juga tidak jelek. Yang jelas dokter itu punya senyum manis yang tulus untuk pasiennya. Dokter itu bernama dokter Deffan Septian Muharam. (Dilarang protes! Kekekeke :p )

“Tidak pernah satu orang pun yang bertambah parah setelah diobati olehnya!” Jawab Riang polos. Riang mulai kehilangan arah pembicaraan.

Fidel tersenyum, “Riang mempercayai dokter, karenanya Riang menganggap tidak perlu untuk bertanya: mengenai bahan kimia apa yang dimasukkan dokter ke dalam pantat?”

“Ya”. Riang Ia masih belum menangkap arah pembicaraan lelaki kalem di hadapannya.

“Nah, sekarang kembali ke pokok permasalahan yang kita bicarakan: mengapa Riang tidak mempercayai sesuatu yang di sampaikan Pencipta manusia, mengenai suatu hal sementara Riang malah lebih mempercayai yang diciptakan-Nya?” Riang legah akhirnya Fidel mengajaknya kembali ke pokok permasalahan yang mereka bahas.  Nyaris saja Riang menelan ludah karena mengantuk dan sebal.

“Mempercayai yang diciptakan-Nya? Mempercayai siapa?” tanya Riang setengah sebal.

“Orang-orang yang membicarakan wujud mahluk halus itu ciptaan Tuhan juga kan?” Riang diam. Fidel menggodam pikirannya.

“Apa mungkin kita menuduh Tuhan berbohong berkenaan dengan informasi yang disampaikan-Nya, sementara kita mengakui bahwa dia Pencipta manusia?” Fidel kembali menggodam Riang, Riang terhuyung sempoyongan. Ia kembali kepada pertanyaan yang ia sampaikan kepada Fidel sebelumnya: Bagaimana kita percaya pada informasi yang diberikan Tuhan? Dan sekarang dibalik oleh Fidel: Bagaimana kita tidak percaya pada informasi yang diberikan Tuhan sedangkan kita mempercai-Nya sebagai pencipta kita?

“Oh iya,…” Riang menggaruk kepala, “tapi….” Riang mencoba bertahan.

“Tapi apa Yang?” Fidel menurunkan tensinya. Ia melihat kebingungan di wajah pemuda Desa Thekelan di hadapannya.

“Bagaimana kalau kita tidak mengakui adanya Pencipta manusia?” tanya Riang ragu. Ia teringat pada puisi-puisi gila yang disajakkan Pepei. Ah mengapa ia teringat Pepei lagi?

“Kalau tidak mengakui adanya Pencipta, wajar jika dia tidak mempercayai informasi yang diberikan Tuhan. Karena baginya Tuhan tidak ada.” Jawan Fidel kalem, sekalem wajahnya.

“Berarti dia tidak mempercayai keberadaan dan wujud mahluk halus?”

“Itu wajar. Bagaimana mau mempercayai keberadaan mahluk halus terlebih wujudnya sementara mempercayai Tuhan yang menciptakan mahluk saja tidak?”

Riang berpikir lama. Orang yang percaya pada Tuhan tentunya percaya pada informasi yang diberikan oleh tuhan. Sedangkan orang yang tidak percaya pada tuhan tentunya tidak percaya pada informasi yang diberikan oleh tuhan. Bagaiaman dengan orang-orang yang menanyakan keberadaan dan wujud tuhan? Apakah mereka mempercayai tuhan? Apakah mereka juga mempercayai informasi yang diberikan oleh tuhan? Bagaimana dengan Pepei dan puisi-puisi gilanya? Apakah Pepei percaya pada tuhan? Apakah Pepei percaya pada informasi yang diberikan tuhan? Apakah Pepei juga percaya pada makhluk halus? Ah kenapa Pepei lagi? Riang benar-benar sebal dengan pikirannya.

“Lantas,” tanyanya memotong pikirannya yang melayang ke mana-mana, “informasi dari Tuhan mana yang dapat kupercaya.” Fidel tersenyum cerah. Ia menganggap pertanyaan itu sebagai sebuah kejutan. Di matanya Riang adalah pemuda desa yang cerdas. Fidel menepuk pundak Riang sebelum melanjutkan diskusi mereka.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa kitab yang dipegangnya adalah kitab informasi yang paling terpercaya. Artinya kitab yang dipegangnya dianggap sebagai sebenar-benarnya Firman Tuhan untuk mengatur dan memberikan informasi gaib, termasuk mahluk halus pada manusia. Maka, ketika ada banyak orang yang mengatakan kitab suciku adalah kitab suci ciptaan Tuhan, apa yang harus kita lakukan?”

“Apa yang harus kita lakukan?.” Riang membeo.

“Membandingkan!”

“Membandingkan?” Riang kembali membeo.

“Ya! Membandingkan, meneliti kitab suci yang mana yang sesungguhnya ciptaan Tuhan atau malah reka-rekaan manusia belaka,” Fidel memperhatikan wajah Riang yang bersinar. Riang mendapat pencerahan.

“Kau memahami bagaimana manusia menemukan alur untuk mempercayai keberadaan sesuatu yang gaib, bukan saja mengenai mahluk gaib, tetapi juga mengenai surga, neraka bahkan awal penciptaan manusia dari mana?” Riang berpikir hingga semenit. Fidel membiarkan. Iblis, malaikat, jin, setan, surga, neraka apakah benar-benar ada? Tuhan, apakah benar-benar ada. Puisi-puisi gila Pepei merasuk dalam diksi yang lain. Riang mulai gelisah. Pepei membuatnya gila.

“Aku memahaminya,” ucap Riang tiba-tiba. Ia membuyarkan bait-bait puisi gila yang mulai merasuki pikirannya.

“Dan kau memahami alur fikiran manusia yang tidak mempercayai hal gaib?”

“Setidaknya faham sedikit Mas.” Riang segera menjawab. Kali ini Riang tidak membiarkan dirinya larut dalam pikirannya sendiri.

“Sedikit juga tidak apa!” Fidel kembali menghirup teh yang sedari tadi ia biarkan menganggur. Riang mengikutinya. Wajahnya terlihat lebih segar, begitu pula pikirannya. Tapi tidak lama karena setiap ia diam, pikirannya akan kembali meresapi puisi gila, sementara hayalnya meresapi pujangganya.

“Mas?” Riang memotong keheningan mereka.

“Ya?” Fidel sedikit terkejut. Dia senang dengan anstusiasme Riang. Dia tidak tahu apa yang berkecamuk di celah-celah otak Riang yang sederhana.

“Saat kita percaya keberadaan mahkluk halus melalui informasi yang disampaikan kitab suci-Nya, lalu bagaimana cara kita mempercayai keberadaan Tuhan? Kepercayaan terhadap Tuhan disandarkan pada apa?” Riang tidak tahan dengan puisi-puisi gila yang mengganggunya. Ia ingin membahasnya, ia ingin membebaskan dirinya. Tapi sanggup kah dia membebaskan diri dari bayang-bayang pujangga gila bersenyum menjerat itu?

“Disandarkan pada alam semesta menggunakan kekuatan akal kita,” jawab Fidel gembira. Pertanyaan Riang mengejutkannya lagi.

“Mengapa untuk mengetahui keberadaan Tuhan kita harus menyandarkan pada alam semesta menggunakan kekuatan akal? Mengapa bukannya dengan panca indera?” Riang berusaha antusias, berusaha keras terlepas dari bayang-bayang pujangga gila bersenyum menjerat.

“Mengetahui keberadaan alam semesta menggunakan apa?” tanya Fidel tersenyum kalem seperti biasanya.

“Menggunakan Indera kan?” Riang menjawab setengah bertanya.

“Benar! Menggunakan telinga, penciuman, penglihatan. Dan salah satu syarat untuk menjalankan akal dengan baik ialah menggunakan hal hal tadi, menggunakan perangkat indera. Kamu mempercaya Tuhan?”

“Aku mempercayainya!” Jawab Riang mantab.

“Lantas kau mempercayai keberadaan Tuhan dengan apa?” Fidel menguji.

“Aku tidak tahu! Tetapi yang kutahu alam semesta itu teratur. Dan apa pun alasannya keteraturan selalu ada yang menciptakan dan mengatur.” Jawaban simpel tapi tepat sasaran. Fidel senang.

“Alam semesta memang teratur sehingga terkesan mustahil jika terjadi dan muncul dari sebuah kebetulan. Sebagai contoh, ada beberapa angka yang dianggap membuktikan penciptaan yang tak mungkin kebetulan. Dan ini harus diuji.” Ujar Fidel. “Contoh ini sedikit klasik.”

Fidel mengambil penggaris pita di dalam tabung hitam. Ia meminta Riang berdiri. Riang mengikuti arahannya. Ia mengambil penggaris untuk mengukur tinggi badan,kemudian membagi dengan jarak pusar ke telapak kaki; mengukur pinggang ke kaki dan membagi dengan panjang lutut sampai kaki; membagi panjang jari dan membagi dengan lekuk jari; yang terakhir, membagi panjang pundak ke ujung kaki dan membaginya dengan siku ke ujung jari.

“Hasilnya selalu 1,618 = phi” ucap Fidel sambil menunjukkan masa lalu yang ia abadikan di lengannya, masa ketika dia masih mencari Tuhan.

phi

“Menakjubkan!” teriaknya. Riang terperanjat amat sangat.“Mengapa bisa seperti ini?”

“Mengapa? The golden number of human life Fibonaci jawabannya. The golden number of human life, merupakan bukti keberadan Arsitek Agung penciptaan. Semua manusia kalau diukur seperti itu hasilnya, sama.” Riang melihat Fidel seperti Go Kong melihat Kwan Im.

“Mungkin Tuhan menggunakan penggaris saat menciptakan manusia?” Fidel tertawa. “Dan menggunakan millimeter blok untuk menggambar cetakan wanita cantik,” sambutnya.

Riang menggelengkan kepala berulang-ulang. “Menakjubkan! Me-m-menakjubkan!” Riang berdecak kagum.

“Jangan dulu bahagia!” Fidel kembali mengetes Riang. “Latas, bagaimana dengan manusia cacat yang tak memiliki jemari tangan dan kaki untuk membuktikan adanya angka fibonacci? Apa mereka tak menakjubkan juga?”

Riang tak dapat menjawab. Pertanyaan Fidel kembali menggodam ketakjubannya. Kebahagiaannya melesak hingga ke dasar bumi. Ah jangan-jangan Fidel juga gila seperti Pepei? Bukankah mereka karib lama? Jelaslah pemikiran-pemikirannya nyaris sama walau dengan diksi yang berbeda. Tampaknya saja mereka saling mendebat, tapi sejatinya sama. Bukankah kemarin mereka tampak saling memukul dan menggulat tapi sejatinya saling merangkul melepas resah? Mendadak dada Riang dipenuhi rasa tidak senang. Tidak senang pada pembahasan ini. Tidak senang dengan Fidel. Tidak senang pada semuanya. Ah mengapa dia mendadak menjadi seperti ini? Riang terjebak prasangka, Riang terbakar rasa ganjil yang tak diketahuinya. Cemburukah?

Wajah Riang tampak kalut, tenggelam dalam syak wasangka. Fidel paham, dia segera mengangkatnya untuk bernafas. Dia tidak mau membiarkan Riang mati tenggelam dalam kebingungan dan syak wasangka.

“Riang …” ujar Fidel kalem. “Manusia tak begitu memerlukan angka fibonaci untuk membuktikan keseriusan penciptaan. Susunan saraf yang ada di dalam tubuh orang cacat, di dalam aliran darah, di degup jantung mereka membuktikan betapa rumitnya proses penciptaan. Alam semesta, termasuk manusia di dalamnya, tidaklah terjadi secara kebetulan seperti saat kita mendapat lotre. Kita hanya butuh satu angka: KOSONG, kosong dari kesombongan dan dusta. Maka kita akan menemukan keberadaan Tuhan dalam setiap hembus nafas kita, setiap jengkal pandang kita, dan setiap detak jantung kita”. Riang merasa sedikit legah. Wajahnya cerah kembali. Tapi dia belum benar-benar yakin pada lelaki kalem di hadapannya. Baginya lelaki kalem itu sama cerdasnya dengan sang pujangga, sama berbahanyanya. Sama-sama memporak-porandakan pikirannya meski dengan cara yang berbeda.

”Mas?” ada lagi yang hendak ia pertanyakan. Ia ingin meyakinkan dugaannya.

”Ya?”

”Maaf …” Riang bertanya hati-hati. Matanya yang polos menajam. ”Agama yang Mas Fidel anut, apa?”

”Memangnya kenapa?” Fidel meliriknya. Riang berdebar menanti jawaban.

”Hanya ingin tahu saja.”

Fidel mengatur nafas. ”Menurut bahasa, agamaku bermakna damai. Islam berarti damai.”

Mendengar kata damai Riang tiba-tiba terkena setrum! Bukankah suara yang menghantuinya itu menambahkan perkataan Damai dalam bisikannya yang terakhir?

M a s u k ke d a l a m k e d a m a i a n.

R i a n g … D a m a i Riang!

M a s u k d a l a m k e d a m a i a n.

R i a n g … D a m a i Riang!

Riang tenggelam di dalam arus deras pikirannya. Ia tak begitu memperhatikan lagi apa yang Fidel sampaikan. Kata damai terus menerus mengiang-ngiang di telinganya. Memompa jantungnya, mempercepat aliran darah di aortanya dan membangkitkan perasaan yang tak menentu. Menggerus puisi-puisi gila dari puncak gyrus otaknya. Menghapus bayang-bayang sang pujangga gila dari dasar sulcus otaknya. Riang tenggelam dalam satu kata: Damai. Mata Riang melompong! Pandangannya serupa the golden number of Fidel = kosong!

0

Riang terperanjat amat sangat.