Riang Merapi 8 Damai

 

Originally written by divan semesta

edited n covered by Desem

pirated from divansemesta.blogspot.com

 

halo

TENDA DOOM BERSIH seperti baru. Warnanya didominasi merah marun, sisanya kuning. Rangka yang terbuat dari serat fiber melengkung di luar. Setelah selesai mendirikan tenda Pepei mengambil benang pancing dan kail di antara gulungan tali rapia. Ia masuk ke dalam tenda, mengambil parang dan roti. Ia mengitari danau, mencari ranting yang cukup kuat untuk menahan tarikan ikan. Tak menemukan, kemudian Pepei naik ke atas pohon, mengayunkan parang yang menimbulkan suara erangan.

“Apa alam memiliki jiwa?” Riang bertanya pada Fidel. “Apa pepohonan memiliki nyawa?”

“Nyawa?” Fidel kebingungan dengan pertanyaan serius yang datang tanpa lampu sen. “Jika yang dimaksud nyawa seperti jiwa manusia, aku mana tahu? Tetapi, jika yang dimaksud nyawa adalah kemampuan untuk tumbuh dan berkembang, mungkin pohon memilikinya.”

“Mungkin?”

“Mungkin artinya aku tak dapat memastikan jawabanku tepat atau tidak.” Fidel menatap Riang. Ia meminta penjelasan: pertanyaan yang datangnya tiba-tiba itu.

“Suara pohon yang Mas Pepei tebang, terdengar sedih. Pohon itu mengerang.”

Fidel merenung. “Aku merasakan keanehan yang kau rasakan. Kupikir yang dirasakan Pepei pun demikian.” Hati-hati Fidel bertanya, “Maaf … agamamu apa Yang?”

Riang menggelengkan kepalanya.

“Tidak tahu agamamu apa?” Suara Fidel datar, tak berteriak, tak berkecipak.

“Aku tidak tahu.”

“Percaya Tuhan?”

“Tentu.”

Fidel menghela nafas. Nampaknya penjelasannya akan panjang. Ia mengetahui benar jika lelaki di hadapannya takut setan. “Ini pemahamanku. Ini kepercayaanku.” Fidel memilih kata-kata dan memulainya. “Aku sangsi mahkluk halus dapat dilihat di bumi. Aku belum bertemu mereka. Banyak orang yang mempercayai wujud halus seperti palasik, pocong yang –yang tubuhnya dibelit kain kafan; genderuwo yang seram; atau tuyul yang dianggap sebagai penyebab raibnya uang. Tapi, aku … seumur hidupku belum pernah melihat mereka, belum begitu mempercaya jika mahluk-mahluk itu mampu menampakkan diri. Aku hanya mempercayai hal-hal yang gaib, tanpa embel-embel penggambaran bentuknya seperti apa,” Saat mengatakan itu wajah Fidel mengesankan ketenangan yang sulit dicapai.

“Mengenai keanehan yang kita rasakan, saat ini, adalah hal yang wajar. Keanehan adalah sesuatu yang alami.” Fidel berusaha meraba kondisi orang yang ada di sampingnya. “Riang?” Fidel bertanya.

“Ya?”

“Waktu pertama kali melihat kota yang baru kau lihat, apa yang kau rasakan?”

“Bingung,” jawab Riang singkat.

“Dulu kau bingung dengan kota yang dipadati orang, sekarang kejadiannya sama! Siapa yang bakal merasa nyaman berada di tempat yang tak tercetak di dalam peta. Siapa yang langsung merasa nyaman saat tersesat tiba-tiba menemukan danau yang airnya berwarna hijau pekat, danau yang seolah dihuni mahkluk hijau menyeramkan. Riang … merasa aneh tidak merupakan sebuah masalah. Merasakan keanehan pada saat ini merupakan sesuatu sikap yang wajar.”

Fidel membiarkan Riang mengendapkan apa yang ia katakan. Setelah agak lama, barulah ia melanjutkan. “Riang pernah melihat mahkluk halus?”

“Tidak,” jawab Riang. “Tapi teman-temanku pernah melihatnya. Mas Oerip pernah menjumpai lelembut Merbabu. Rambutnya panjang, wajahnya cantik tapi pucat,” Riang sedikit bersemangat, seolah peristiwa itu ia sendiri yang mengalami..

“Apa Mas Oerip melihat lelembut dengan mata kepaalanya sendiri? Menyentuh dengan tangannya sendiri?” Tanya Fidel. Riang tak yakin. Ia tak menjawab.

“Bagaimana jika kuusulkan saja, … Kau bisa mempercayai penggambaran mahluk yang menyeramkan seandainya Kau melihat atau menyentuh mahluk itu dengan tanganmu sendiri.”

Pertanyaan cerdas keluar dari mulut Riang, “Apa untuk meyakini, kita harus menyentuh dan melihat terlebih dulu?”

“Meski tidak mutlak seperti itu, tapi untuk kasus ini, ya! Demi menjaga dirimu dari ketakutan yang berlebih, dari hal-hal yang bisa membuat kita kehilangan kontrol diri. Ya! Kau harus melihat dan menyentuhnya dulu sebelum mempercayai penggambaran yang dikatakan orang. Riang …” kata Fidel menekankan, “manusia terkadang melakukan dusta.”

“Aku tidak mengerti?” Riang berusaha mencecar. “Mas tidak mempercayai hantu?”

“Aku mempercayai jika mahkluk halus itu ada, tetapi aku belum mempercayai jika mahluk-mahluk itu dapat mengganggu manusia dengan penampakannya. Ingat … pe nam pak kan nya,” Fidel mengeja, “sebab bagaimana mau percaya, bagaimana dikatakan menggangguku jika bertemu sekali seumur hidup pun, aku tak pernah. Kadang, aku baru bisa meyakini sesuatu setelah melihat atau menyentuhnya, tapi itu kadang-kadang, … dan teknik ini ternyata berhasil membebaskanku dari rasa takut yang menjijikan.”

Riang tidak mencecar dengan pertanyaan ‘maksudnya?’ seperti pada Pepei kemarin. Ia mengerti sebagian dan tak mengerti sebagian yang lainnya. Ia cuma bilang, “Kata-kata Mas Fidel membuatku pusing.”

Fidel tak perlu melanjutkan toh tujuan awal dia untuk mengurangi ketakutan pada diri Riang berhasil dilakukan. Fidel tersenyum. Riang membalas. Rupanya senyum dapat membuat orang yang kalut menjadi tenang. Yang suram menjadi bahagia.

SEMENTARA ITU itu di bagian danau lainnya, tak satupun bibir ikan yang jontor dikait kail Pepei. Riang kemudian menyampaikan kornet yang diberikan Fidel. Pepei kemudian kembali membuat bulatan umpan. Tak lama berselang, benang pancingnya diseret ikan yang bernasib sial. Sebuah tarikan lantas melayangkan ikan ke udara. Ikan itu membentur pohon. Satu ikan besar memar. Mulutnya sobek mengeluarkan darah.

Riang dan Pepei membawa dua ekor ikan menuju tenda. Sebelum dimasak, Riang membedah dua ekor ikan di pinggiran danau, sendirian. Saat itulah keganjilan kembali mendatanginya. Sebuah suara memanggilnya.

R

i

a

n

g

K e m a r i

R

i

a

n

g

A         y          o          k e       s i         n i

R

i

a

n

g

A         k          u          i ni

M

b

a

h

m

u

J                      a          n          g         a         n

T

a

k

u

t

Riang menepis bisikan itu. Tapi suara yang sama semakin jelas di telinganya. Bulu kuduk Riang tegap. Ia tergopoh-gopoh, menyelesaikan pekerjaannya lalu menghilang di pintu tenda. Bersamaan dengan itu lenyap pulalah pembicaraan antara dirinya dengan Fidel.

Hitam mulai mengepung. Malam menjadikan danau segelap kubangan aspal. Bulan tak sanggup mengintip yang dilakukan ketiga orang itu menggunakan permukaan danaunya. Di luar tenda onggokan kayu kering tampak berdiri menyerupai piramida: kayu terbakar tetapi hutan yang lebat memborgol api. Cahaya api tidak mungkin melarikan diri untuk menyampaikan pesan pada gerombolan Kardi.

 

MALAM ITU, karena terlalu banyak ganggang, Pepei membawa air di dalam wadah ke dekat perapian. Genangan air yang dari jauh terlihat pekat, dari dekat kini terlihat hijau kekuningan. Ia kemudian menampung air di dalam peples besi dan panci kecil: menunggu ganggang dan tanah mengendap. Tak mau tinggal diam, Riang lantas membantu Pepei membuat penampungan air hujan, sembari berharap agar hujan segera datang hingga mereka tak lagi kerepotan menunggu mengendapkan tanah dan ganggang hingga keesokan harinya.

Tak jauh dari ke dua orang itu, Fidel berhasil mengubah kayu menjadi abu yang panas.  Ikan segera ia masukan ke dalam perapian. Tak beberapa lama kemudian ketiga orang itu sudah bersantap sambil berbincang ringan. Ketiga orang itu kemudian masuk ke dalam tenda, mengistirahatkan badan. Tak berapa lama kemudian hujan pun turun deras dan ketika –di pertengahan malam– hujan mereda, sebuah suara kembali datang menyapa Riang.

R

i

a

n

g

K e m a r i

R

i

a

n

g

A         y o       k e      s i        n i

R

i

a

n

g

A            k         u         i          n         i

M

b

a

h

m

u

J           a         n         g         a         n

T

a

k

u

t

A            y o       k e      m a     r i

d a      l a m   p e       l u        k a n    M b a h.

M a s u k            ke       d a l a m         k e d a m a i a n.

R i a n g … D a m a i Riang!

Mendengar suara misterius itu, Riang langsung menempelkan badannya di tubuh Pepei. Pepei bangun, ia menebarkan kantung tidurnya. Lelaki itu menyangka jika Riang hampir mati kedinginan. Lantas ia merengkuh tubuh pemuda desa itu ke dalam pelukannya yang hangat. Ia tak menyadari jika tubuh Riang bergetar karena ketakutan yang sangat. Jauh dari kata yang dibisikkan suara gaib itu: Damai.

hantu kabut