Riang Merapi 6: DANAU MISTIS

Originally written by Divan Semesta

Edited n covered by Desem

Pirated from divansemesta.blogspot.com

 

kabut1

Menembus kabut tebal memang merupakan perbuatan terkutuk. Riang tahu itu. Tapi terkadang ketakutan membuat seseorang hilang akal. Ia tidak lagi mengenal kawasan yang saat ini dipijaknya. Kabut hilang beberapa jam yang lalu. Hutan seperti labirin yang diciptakan untuk menyesatkan. Pepohonan tinggi menghalangi riang Riang melihat matahari untuk mengetahui kepastian waktu.

Fidel segera mengambil inisiatif setelah Riang berulang kali menggelengkan kepalanya saat ditanya mengenai posisi mereka. Fidel langsung naik ke atas pohon. Sampi di dahan pertama ia meminta Pepei untuk melempar tabung berwarna hitam. Fidel menggantungkannya di leher. Ia merayap lincah setangkas cicak di batang dan dahan pohon. Cara memanjat Fidel tidak tampak seperti gerakan penyadap terpentin yang kaku. Keahlian memanjat tebing membantunya mengurangi pijakan kaki dan genggaman jari yang memboroskan energi.

Dalam sekejap pohon setinggi lima belas meter ia taklukan hingga batang yang paling ujung. Fidel mengeluarkan teropong dari balik bajunya. Ia memandangi seluruh kawasan hutan, lalu membuka tabung berisi selembar peta. Fidel meneropong, melihat peta, matanya berkeliling, mulutnya mengguman: Merapi, Merbabu. Ia mencari tanda untuk menentukan arah utara kemudian merogoh kompas. Ia membidik puncak Merapi dan Merbabu, lantas mengeluarkan bolpoint dan menuliskan angka-angka di balik peta.

Usai menghitung, Fidel menggulung dan menjatuhkan peta bersamaan dengan tabung hitam. Saat peta jatuh ke tanah, Riang melihat peta itu mirip dengan peta selalu di bawa tim SAR. Peta itu dilengkapi dengan garis-garis kontur, garis imajinasi yang menyerupai sidik jari manusia.

“Ini aliran air yang kita lewati saat menuju Watu Gubug. Ini Puncak Merapi dan Merbabu! Kita berada di sini, di pinggir jurang ini,” Fidel menjelaskan sembari  menunjuk garis kontur yang rapat bersinggungan antara satu garis dengan garis lainnya.

Pepei berjalan menyelidik. Ia menembus pepohonan. “Di sini jurang curam,” Pepei berteriak, memastikan.

“Sebelum potong kompas sebaiknya kita menyusuri jurang lebih dulu,” ujar Fidel sambil memandang Riang.

“Bagaimana kalau kita kembali mencari jalan menuju Selo?” Riang mengusulkan.

“Kita sudah jauh tersesat. Kalau pun menemukan jalur menuju Selo, kemungkinan besar gerombolan itu berada di depan kita. Aku khawatir mereka membagi diri menjadi dua kelompok. Jika bersikukuh, kita akan terjebak di antara dua kelompok itu!”  Jawab Fidel.

Riang faham, terjebak berarti berbahaya. Ia menghela nafas, menghela beban perasaan bersalah, menghela kekesalan terhadap dirinya sendiri karena memaksa kedua lelaki itu untuk melanjutkan perjalanan menembus kabut demi alasan yang ia buat.

“Se…se… sebenarnya…” Riang gugup, “sebenarnya, gerombolan Kardi mengincar kalian sejak di Thekelan,” ia mengaku. Siapa Kardi, siapa pula gerombolannya,  tentulah Pepei dan Fidel tidak tahu. Riang pun mengkisahkan tentang Kardi Cs yang sering membegal penduduk dan pendaki.

“Seandainya aku berfikir sedikit … kejadiannya tidak akan sesulit ini! Maafkan aku …,” Riang memohon. Kepalanya dipenuhi dengan perasaan bersalah. Bersalah karena mengajak mereka meneruskan pendakian. Bersalah karena tidak menceritakan tentang gerombolah Kardi sejak awal. Bersalah karena…. karena… karena merasakan perasaan aneh pada Pepei, dan demi perasaan itu pula Riang memabahayakan nyawa mereka bertiga.

Pepei tersenyum. “Berfikir sedikit itu yang seperti apa?” Ia malah mempertanyakan hal yang tidak penting. Lalu menggoda Riang dengan senyumnya yang menjerat pandangan Riang.

“Harusnya …harusnya… emmm….” mendadak Riang kikuk. Wajahnya kembali terasa membara setelah terasa beku oleh ketakutan pada Kardi dan gerombolan. Dan tentunya sesuatu dalam dadanya kembali berdetak lebih kencang dari biasanaya. Sedang pikirannya kembali melayang oleh senyuman lelaki pendaki itu. Ughh… dasar tak tahu diri! Dia mulai mengutuki diri sendiri, mengapa di saat yang genting seperti ini, dia justru terjerat oleh sebentuk senyum. Riang semakin merasa bersalah.

“Harus bagaimana?” Desak Pepei, masih dengan senyum yang menjerat. Riang semakin tersudut.

“Harusnya aku berpikir nyawa lebih penting ketimbang antarkan kalian,” jawab Riang tergeragap.

“Jadi harusnya Kau menyelamatkan dirimu sendiri?!” Pepei menaikan tempernya.

“Bukan! Bukan Mas!” Riang terdesak. “Aku seharusnya memberitahu kalian sejak di Thekelan. A-ak- aku … aku tidak berpikir sampai ke sana. Aku berpikir kepalang… kepalang kalian jauh-jauh datang… sayang apabila perjalanan ke puncak Merbabu tidak kalian lanjutkan.” Riang menyembunyikan satu alasan: ingin dekat dengan Pepei. Pepei dan Fidel tertawa.

“Seandainya siulan batu Watu Gubug kuperhitungkan,” lanjut Riang, “kejadiannya mungkin tidak akan begini.”

“Apa hubungan gerombolan Kardi dengan siulan di Watu Gubug?” tanya Fidel mulai penasaran.

“Kalau ada angin dan di dalam batu tidak ada orang, batu itu akan terus menerus bersiul. Hilangnya siulan di sore hingga subuh hari menandakan adanya beberapa orang yang tengah berkumpul di dalam bolongan batu. Melalui ketiadaan siulan batu, gerombolan Kardi mengetahui: ada orang yang melewati jalur pendakian yang sudah lama tidak biasa dipakai pendaki. Aku sungguh menyesal!” ucap Riang.

Pepei bosan. Ia mengingatkan. “Yang?!” tanyanya.

“eh…iya,” jawab Riang. Ah Riang kembali melayang saat Pepei memanggilnya ‘Yang’.

“Tak ada yang harus disalahkan,” kata Pepei. “Setidaknya aku bisa mengenal Riang.” Pepei menatap Riang dalam-dalam. Riang membatu.

“Nyawa memang harus dipikirkan,” kata Fidel menyambung, “Tetapi jika mati, matilah karena ajal memang sudah tiba. Kalau kami mati kelaparan, mati kekurangan air, terkena hipotermia atau mati dimakan binatang buas, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena itulah hidup.” Fidel melirik tajam ke arah Pepei, ia berusaha menghentikan aksi Pepei yang mulai kelewat batas. Dia terlihat tidak setuju dengan perlakuan Pepei pada Riang.

“Asal jangan mati sewaktu kami buang air besar!” celetuk Pepei memotong. Pepei menyadari lirikan Fidel.

“Memang mati buang air besar dosa?!” Tanya Riang polos.

“Tidak, tapi malu hahaha.” Pepei menyanggah Riang, Senyum Riang muncul untuk yang pertama kalinya di pagi ini. Ah entahlah lelaki dihadapannya memang ajaib. Dia bisa mengubah kecemasan dalam dadanya menjadi keceriaan. Sebaliknya, dia juga bisa mengubah ketenangan menjadi kewaswasan. Ah entahlah.

“Bagaimana… bagaimana kalau Kardi dan gerombolannya berhasil menangkap kita? Bagaimana kalau terjadi pada kalian? Aku tidak akan bisa memaafkan diriku. Aku yang salah….” mendadak Riang teringat kilauan logam tajam yang diacungkan kardi. Ia kembali cemas.

“Mas Riang…” Fidel berusaha menenangkan. “Jangan menjerumuskan diri dengan menyalahkan terlalu berlebih. Tak usahlah terlalu dipikirkan! Yang penting Mas Riang sudah berani menentukan hidup! Berani menantang!”

“Ya! Keberanian menantang hidup! Keberanian untuk menantang ego, keberanian untuk tidak mendekam saat kami tengah diincar bahaya.” Kembali Pepei tak mau kalah. “Kau sudah berani memilih! Berani mengganti ego dengan sikap altruis. Kau juga sudah berani mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang” Pepei kembali menunjukkan keajaibannya. Perlahan ia menyulap rasa berdosa riang menjadi rasa bangga. Riang semakin merasa wajahnya membara.

“Ah Mas ini. Bukankah itu…e…sikap apa tadi?” Rasa berdosa Riang hampir hilang.

“Sikap altruis: mau mengorbankan diri.”

“Bukannya lebih baik aku memberikan informasi mengenai gerombolan Kardi, pada saat ketika kita masih berada di Thekelan, ketimbang dekati bahaya seperti ini? Bukankah sikap yang aku miliki ini sikap yang bodoh …. Ini bukan, …. sifat apa tadi, … Mas …?”

“Altruis!”

“Ini bukan sifat altruis yang pintar Mas. Ini altruis yang bodoh!”

Pepei mendekat, ia menatap lekat-lekat mata Riang yang polos. Lalu menunjuk ke ke arah dadan Riang yang bergemuruh. “Kau sudah menjadi manusia yang berguna Yang… seperti pohon tumbang kemarin.” Ucap Pepei semakin membuat wajah Riang membara.

“Riang …. “ ganti Fidel menepuk bahunya dari belakang. Ia sadar Riang sudah semakin jauh terjerat oleh jebakan karibnya. “Jangan pernah menyesali apa yang pernah Kau perbuat! Jangan pernah mengandai-andai, mengulur angan-angan mengenai suatu kesalahan di masa lampau! Penyesalan tidak akan berfungsi jika tidak menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pembelajaran! Penyesalan hanya untuk sekali! Setelahnya tatap masa depan! Jangan pernah melihat ke belakang!”

Tak lama perbincangan pun usai. Fidel masih menatap Pepei dengan pandangan setengah marah. Sementara lelaki yang bersangkutan hanya cengengesan, senyam-senyum tidak jelas.

Ransel sudah berada di punggung masing-masing orang. Mereka pun beranjak meneruskan perjalanan menempuh jurang yang dibentuk oleh bebatuan kapur. Dalam perjalanan itu lumut-lumut terlihat menyediakan tempat bagi tanaman kecil di tebing untuk tumbuh. Lumut gemuk tersebut meneteskan air bening yang steril. Dari jurang ini ketiga orang itu menyaksikan pinus pegunungan tumbang. Suaranya terdengar berderak menakutkan. Sampai di bawah, Riang memandang ke atas. Tebing terjal itu –setidaknya– memiliki ketinggian lebih dari duapuluh meter.

Matahari terlihat jelas dari bawah. Bolanya tampak condong ke arah barat. Tanah yang mereka pijak tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau pernah dilewati manusia. Beberapa meter ke depan kaki ketiga orang itu mulai menginjak rawa-rawa. Setelah berputar-putar sekian lama di tanah yang basah, mereka menemukan sebuah danau mungil. Fidel dan Pepei bersiul girang. Riang menyapu pandangan.

“Mengapa danau ini tidak pernah diceritakan orang? Aneh.” Pikir Riang.

Di tengah danau, asap tipis terlihat membumbung, melayang-layang lalu diam seperti sesosok mahluk yang seram. Ikan-ikan putih dan abu-abu sebesar telapak tangan berseliweran di dalam danau. Di pinggirnya, lumpur coklat bergerak-gerak: ada beberapa kepiting yang lezat untuk disantap. Seekor belibis terbang di ujung danau paling jauh lalu masuk ke dalam semak dan berkoak.

“Tempat apa ini?” tanya Pepei kembali mendahului Fidel. Riang menggeleng.

Fidel beranjak, segera mensurvei  medan. Tak berapa lama kemudian setelah menyiba semak dan perdu, Fidel menemukan lahan yang dipenuhi bantalan lumut, lahan yang nyaman bagi mereka untuk bermalam. Pepei segera membuka tenda. Tentu dengan senang hati Riang ikut membantunya. Fidel kembali menyingkir, ia segera Fidel menggelar peta.

“Daerah ini tidak terpetakan,” ucap Fidel tenggelam, seolah pada dirinya sendiri. “Danau ini mungkin tidak pernah disinggahi para pendaki.” Lanjutnya.

“Danau mistis!” komentar Pepei.

“Bukan mistis. Hanya suram,” jelas Fidel menyamarkan. Ia paham Riang terganggu saat Pepei mengucapkan kata-kata mistis. Lama-lama dia pun gusar pada keisengan karibnya yang makin keterlaluan.

Benarlah Riang tampak menciut mendengar komentar Pepei: Danau Mistis. Dan emmang danau itu terasa benar-benar misterius, mistis!

R            I           A         N         G         …         …         …   sebersit bisikan kembali menyinggahi membran timpani telinga Riang. Riang bergidik. Bayang-bayang kejadian di gerbang kuburan menziarahi kembali Riang lagi. Fidel merasakan getaran ketidaknyamanan itu.

“Ada apa?” tanyanya berusaha menenangkan.

“Tidak apa-apa.” Hati Riang mulai diselipi rasa tidak aman. Danau itu mistis.

dabut