Originally written by: Divan Semesta

Edited n Covered by: Desem

Pirated from : divansemesta.blogspot.com

wat

Sirkulasi yang baik membuat mereka tidur pulas selama tiga jam dan si penunjuk jalan baru bangun saat matahari tenggelam. Riang keluar dari bolongan batu. Fidel menyodorkan cangkir dan roti saat melihat Riang telah berada di sampingnya. Roti tenggelam di dalam cangkir. Perut Riang kenyang. Ia mengmpulkan ranting-ranting kayu untuk menghangatkan badan. Dimasukannnya kayu ke dalam batu yang dapat bersiul.

Dinding bolongan di dalam batu itu dibercaki butiran kaca. Ruangannya mampu memuat lima orang dewasa, tingginya sekitar satu meter, memiliki dua lubang, yakni lubang yang mereka tempati sementara lubang lainnya yang sebesar roda mobil bisa mereka jadikan perapian mini. Riang memperhitungkan agar api tidak terlihat dari gubuk gerombolan Kardi. Ia membuat rangka menggunakan ranting yang tersisa. Atap rangkanya ia lapisi kertas koran dan rerumputan. Selesai mengerjakan Riang merasakan angin menderas di buhulnya. Ia masuk ke dalam bolongan dan mengeluarkan sayuran.

Tanggap oleh kesibukan Riang, Fidel masuk ke dalam dan memasang kompor parafin di dekat lubang perapian. Matras digelar, tak lama berselang, sup jadi. Mereka makan. Dua kali perut Riang kenyang. Setelahnya, Rokok putih dinyalakan. Riang menolak tawaran Pepei. Rokok kretek yang diselipkan di dalam dompetnya dimainkan. Busss…Buss…Buss! Dalam sekejap ruangan menjadi pekat.

Di saat saat seperti ini cerita pun mengalunlah. Batu yang mereka tempati biasa diberi makan oleh penduduk desa dan pendaki yang percaya. Makanan batu ini adalah sebungkus rokok kretek dan klobot, dua genggam bunga mawar melati, cerutu menyan, bunga kemboja, satu kendi besar berisi air, ditambah nasi dan ayam bakar camani. Semuanya dimasukkan ke anyaman besar dan ditujukan untuk mencari jodoh, menebak toto gelap, memohon arwah leluhur memerangi hama, agar lelembut Merbabu tidak lagi menjahili pendaki dan berbagai macam permohonan lainnya. Untuk keperluan yang terakhir tadi Riang pernah menyaksikan dua kepala kerbau disajikan diatas nampan, dimasukan ke dalam bolongan batu setelah belasan pendaki hilang.

Pepei dan Fidel berusaha memahami. Mereka serius mendengar apa yang Riang paparkan dan –mereka– tak mengeluarkan satu komentar apapun pun, hingga ketika Riang mengemukakan keraguannya akan pengaruh mahluk gaib yang bisa mencelakakan atau membuat manusia bahagia, penuturan pun dimulai.

”Sejak zaman purba manusia memiliki ketertarikan terhadap keajaiban yang berada di luar dirinya.” Tutur Pepei. ”Manusia, kita, mengagumi gumpalan awan dan berkah hujan. Manusia, kita, berdecak-decak atas kemampuan hujan menyulap tanaman untuk tumbuh dengan cantik dan baik. Manusia terkagum-kagum menyaksikan hasil bercocok tanam yang semarak, manusia terkagum-kagum tasa melimpahnya hasil perburuan, besarnya gelombang di samudera, tiupan angin yang mampu membawa bahtera berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya. Manusia pun terbelalak manakala menyaksikan kekuatan negatif alam berupa gempa, kekuatan air bah, kekuatan taufan di kepulauan tropis! Manusia heran, kita super heran. Hal ini menjadi semacam rahasia dan untuk medapatkan jawaban atas rahasia yang membuat heran itu, segala peristiwa kemudian manusia sangkutpautkan dengan kekuatan gaib yang manusia anggap berada di balik seluruh kejadian. Manusia berkhayal, fenomena alam nan dahsyat mereka kaitkan dengan kebahagiaan dan amarah mahluk kasat mata yang tak mampu manusia indera …” Riang terdiam, matanya mengerjap-ngerjap kagum pada lelaki pendaki berwajah tegas itu. Kembali dadanya didera sesutau dari dalam, sesuatu yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Riang menunduk, wajahnya terasa panas.

Pepei tersenyum melihat reaksi Riang yang agak janggal. Ia mencoba menyederhanakan penjelasannya.

”Yang….” pangilnya. Riang semakin terpekur. Sungguh panggilan itu membuat Riang memikirkan satu kata: Sayang.

“eh…” Riang menyahut, mencoba mengusir pikiran-pikrian yang usil mendatanginya. Bukan saatnya dia berfikir tentang hal itu. Saat ini dia harus tetap waspada dengan Kardi dan gerombolannya.

“Kalau Riang melihat ibu Riang murka, apa yang akan Riang lakukan?” Tanya Pepei, Riang tergagap. Ia masih sibuk menangkapi pikirannya yang sudah ke mana-mana.

”Melakukan sesuatu yang beliau mau.” Tanggap Riang tergugup.

”Seperti halnya Riang, jika alam tampak menakutkan, manusia zaman purba melakukan tindakan yang –manusia anggap—akan disenangi mahluk kasat mata. Manusia memberi sesaji, mereka mengabulkan pesanan yang dianggap keinginan mahluk kasat mata yang menguasai alam. Mereka melakukan berbagai macam hal agar pertanian, perburuan, dan segala hal yang mereka usahakan tidak dikenai bala.”

”Dulu …” Pepei panjang bercerita, ”bangsa Teotihuakan memiliki ritual agar dewa musim semi Xipo Totec tidak menurunkan murka. Imam-imam yang dianggap paling mengerti keinginan dewa menyeleksi wanita terpilih untuk mereka tikam dengan belati batu lalu jantung wanita-wanita terpilih yang masih segar, yang masih berdenyut itu diambil hidup-hidup. Para Imam dan pengikut agama Teotihuakan menganggap apa yang mereka lakukan sebagai simbol penyambutan bergantinya musim dingin menuju semi. Tak selesai sampai di sana, mereka menganggap para dewa membutuhkan simbolisasi yang sempurna, lantas kulit wanita-wanita pilihan itu mereka kelupas untuk dikenakan para imam selagi merapal mantra dan menari-nari sembari mengelilingi altar.”

Riang terbengong. Antara heran dengan kekejian bangsa yang diceritakan Pepei dengan kagum dengan cara Pepei berbicara.

“Seram?” tanya Pepei. Riang hanya menganggu cepat.

Ohoi bangsa bangsa Toltec lebih seram lagi!” sanggah Pepei. “Apa yang dilakukan bangsa Toltec lebih memuakan lagi, apa yang mereka lakukan lebih menakutkan dari bangsa Teotihuakan. Datangnya musim semi berarti pengurbanan besar. Tentara Toltec kemudian mencari kurban dengan menculik atau memerangi suku-suku kecil yang tersebar mengelilingi kota besar mereka. Suku-suku itu diburu, dimatikan dan kurbannya bukan hanya ratusan. Dalam satu hari tumpukkan mayat bergelimpangan di dekat altar!”

Pepei mulai berapi-api. Sementara Riang makin ciut mendengarnya. Riang tak bisa membayangkan bila pengurbanan manusia masih berlaku di abad ini. Ia tidak sanggup membayangkan jika imam abad kontemporer ini adalah Kardi.

“Tapi sekarang manusia sudah mampu memperkiraan alam, manusia sudah mampu mempelajari gejala, sudah mampu mengendalikan bahkan memanfaatkan alam untuk kehidupan. Semakin abad bertambah kemampuan manusia makin baik. Jika dulu manusia mengetahui musim yang baik untuk bercocok tanam melalui rasi bintang tapi manusia tidak mempu mendatangkan hujan, kini manusia sudah bisa membuat tempat bercocok tanam yang tak terpengaruh musim.” Jelas Pepei mengakhiri kisah tragis itu. Riang mulai tenang.

“Tidak berhenti di sana kita yang semula hanya menunggu hujan terbang ke awan,membawa berkarung-karung bubuk garam, ammonium nitrat dan bahan kimia lain untuk ditebarkan di atas awan: untuk memaksa awan menurunkan hujan.” Pepei berhenti sejenak, ia menatap tajam pemuda Desa Thekelan di depannya. Pemuda itu masih menatapnya dengan tatapannya yang lugu. Pepei tidak tahu bahwa pemuda lugu di depannya sedang menikmati perasaan hangat yang mengalir dari dada ke seluruh tubuhnya

“Dari yang percaya, menyerahkan nasib serta memberi sesaji pada pada penguasa alam, manusia mulai beralih mempercayai dirinya sendiri, pada kekuatan dirinya, tidak pada yang lain! Hanya kepada dirinya manusia percaya! Menyandarkan segala!”

“Maksudnya?” Itulah kata lengkap pertama yang diucapkan Riang sepanjang percapakan.

“Jangan menyandarkan diri pada kegaiban, masukilah dirimu sendiri, temukanlah kekuatan untuk mengelola kehidupan. Temukanlah kekuatan ilmiahmu sendiri!” Pepei menepuk pundak Riang seolah ingin menyalurkan energi dan semangatnya.

“Memm  maa maksudnya?” Riang semakin melayang, bahkan kata sederhana itu pun tak bisa ia ucapkan dengan benar. Pikirannya bercabang-cabang. Satu cabang ke arah Kardi dan gerombolan. Satu cabang ke arah penjelasan Pepei yang membingungkan. Dan satu cabang ke arah tatapan Pepei yang menjerat.

Pepei menghelah nafas. Gemas melihat reaksi Riang yang memberondongnya dengan pertanyaan ‘maksudnya’ yang bertubi. Apalagi wajah polos dan tatapan lugunya yang  mengingatkan Pepei pada percakapan pertama mereka yang didominasi serangkaian o dan iya. Semakin menegaskan imaji Pepei bahwa Riang adalah anggota sekte perserikatan pelantun mantra o, iya dan maksudnya.

Beberapa hal yang Pepei paparkan memang masih terlalu cepat untuk Riang cerna, tetapi pada kenyataannya Riang memang tidak bodoh bodoh amat. Yang ia perlukan saat ini hanyalah duduk manis dan tidak menuruti hal-hal yang mendesak di kepalanya.

Selanjutnya, Riang tak mengetahui kelanjutan arah pembicaraan ketika Fidel menggertak Pepei dan mengejeknya. Untuk sementara keikutsertaan Riang dalampembicaraan berakhir. Ia merasa belum mampu masuk ke dalamnya. Pembicaraan itu masih terlalu cepat. Riang hanya menyimak, menyaksikan bagaimana Pepei dan Fidel saling menyangkal satu sama lain.

Sejenak Riang lupa pada Kardi dan gerombolannya. Ia terjerat pada perdebatan kedua lelaki yang mengagumkannya itu.

“Tidak semua manusia yang percaya pada Yang Maha Mengendalikan alam menjauhi pemikiran ilmiah. Newton, Pascal dan Einstein adalah bukti. Yang lainnya pun tidak hanya berdoa agar taufan reda. Manusia beriman menerbangkan kamera kecil super canggih untuk mengetahui, untuk menggali penyebab, untuk mengendalikan kebuasan alam, tetapi mereka tetap menyadari bahwa tidak semua hal bisa di laboratoriumkan, dan tidak semua hal yang tidak bisa dilaboratoriumkan bukan merupakan sesuatu nyata.” Fidel menaikkan suaranya.

“Kita tahu di dunia ini ada banyak paham,” Fidel menyambung, “keyakinan akan keberadaan Tuhan ataupun penafikan terhadap-Nya, tidak ada sangkut pautnya dengan upaya manusia menjelajah, mengeksplorasi alam semesta. Di alam ini ada manusia beriman tapi pemalas, ada pula manusia yang tak percaya tetapi juga pemalas yang sama. Yang satunya menyandarkan semua hal dengan jawaban sederhana: “ya itu karena Tuhan” sementara yang satunya lagi mengatakan, “tidak ada tuhan, yang terjadi di alam semesta hanyalah hukum alam. Lalu mereka diam membatu dan berlumut di dalam dunia filsafat yang pasif.”

Pepei menyepak Fidel lalu merangkulnya dari belakang hingga keduanya jatuh berguling-guling. Mereka kembali menjadi anak kecil yang sedang berebut layang-layang putus. Saling berusaha menindih lawan. Mereka lupa ada orang ketiga yang sedang melihat mereka.

“Kebenaran itu relatif!” kata Pepei saat berhasil mendudukitubuh Fidel dan mengunci kedua tangannya ke tanah.  “Tetapi, di antara kebenaran yang relatif itu hanya pemahamankulah yang benar hahahahah,” Pepei terbahak menikmati kemenangan sesaatnya. kausnya tersingkap memperlihatkan sederet huruf yang menghiasi perut bawahnya.

Gnothi Seauton! Pahamilah kaplingmu sendiri!” Fidel menyalak berusaha berontak dari kuncian Pepei yang duduk di atas tubuhnya.

“Sialan! Obrolan kita tak pernah berakhir. Sudah berapa kali kita bicara dan kau tak lantas meyakinkanku!” Pepei mulai kewalahan memadamkan pemberontakan Fidel. Fidel tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan sedikit teknik yang pernah dipelajarinya di dojo, Fidel berhasil melepaskan diri dari kuncian Pepei.

“Justru argumentasimu yang tak meyakinkan!”Fidel terlepas dari kuncian Pepei.

Mereka masih saling membantah. Lalu saling meninju dan pada kahirnya saling berangkulan melepas rindu setelah terpisah jarak dan waktu. Pepei semakin erat merangkul Fidel. Sedang Fidel hanya merangkul ragu.

Dan di atas bolongan batu itu, langit yang menggantung menyerupai atap tenda yang melengkung. Atmosfer seakan kantung plastik yang melindungi kemah bumi dari canon ball angkasa yang tajam laksana belati. Bintang-bintang silih berganti berpijar. Ketiga lelaki itu pun tertidur hingga matahari datang menyepuh pagi.

gs tato

BEBERAPA RATUS METER dari bolongan seorang lelaki memaki-maki dengan kata-kata kasar sambil menendang batang pohon, menjatuhkan dua ekor tentara semut yang tengah menggendong larva anggota koloninya. Belasan orang lelaki yang mengelilinginya menadah tetesan anggur murahan yang masih menempel di pohon sembari memainkan kartu remi porno, untuk membunuh rasa bosan.