Originally written by: Divan Semesta

Edited n covered by: Desem

Piratted from : divansemesta.blogspot.com

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

CAHAYA MATAHARI sampai di desa Thekelan setelah melakukan perjalanan yang cukup lama. Cahayanya mendandani wajah angkasa, mengelus lekukan lereng Merbabu yang sedikit mirip pinggul janda. Cahayanya yang eksotis berbisik agar ‘janda raksasa’ itu menyiapkan tubuh semloheinya untuk menyambut para  pendaki yang akan berteriak kelojotan ketika mengagumi keindahan belukar dan gundukan karangnya.

Pagi itu di Thekelan, kayu pagar dan rerumputan yang menyempil di bebatuan jalanan, berembun. Suara burung memantul di dinding lembah. Ada yang bersuara seperti tekukur, ada pula yang melengking. Riang bangun. Ia membuka pintu rumah, merasakan udara dingin menyapu wajahnya

Setiap subuh kerjaan Riang ya begini ini. Keluar dari kamar, membuka pintu, melamun, memegang pokok pagar dan mengharapkan sapu yang digenggamnya tiba-tiba beraksi membersihkan halaman sendiri. Setiap pagi seperti inilah, Riang memandangi lanskap, mensyukuri betapa hidup dia dipenuhi berkah meski migrasi keluarganya menuju Thekelan tidak dilakukan atas dasar pilihan.

Dulu, Riang memiliki keluarga besar yang tinggal di bawah Merapi di dekat kali Boyong, tetapi itu dulu pada tahun 1995 sebelum aliran awan panas memangsa enam puluh empat nyawa. Kakek, nenek, bibi, paman, ponakan dan sepupu dari pihak bapak serta ibu Riang lebih baik nasibnya, dibandingkan dengan nasib penuduk yang menjadi arang. Bagi keluarga besar Riang, tak ada istilah manusia panggang, sebab tak ada yang tersisa. Alakazam, sim salabim, abracadabra! Keluarga Riang hilang. Amblas dikremasi wedhus gembel gunung Merapi. Dari tanah liat menjadi debu.

Riang mengingat apa yang ia lakukan sewaktu awan panas menimbulkan suara daging yang mendesis dan tulang penduduk desa yang mengkeretak. Saat itu Riang dan ibunya tengah memasukkan rumput ke dalam karung goni di lereng barat gunung Merapi. Riang masih mengingat bagaimana dengkur mengerikan terdengar dari kejauhan, awan hitam gerak cepat menyelancari angin. Semakin awan itu mendekat, suhu bertambah panas dan cuaca menjadi semakin kelam, dan burung-burung menjadi seperti buah masak yang berjatuhan.

Riang menatap langit. Menyaksikan awan hitam yang memberi kiriman guntur menakutkan, Riang segera membuang sabit yang menggantung di celana pendeknya. Ia melemparkan ranting kayu di punggung ibunya. Kedua anak beranak itu berlari menuruni jalan setapak, menerjang bebatuan dan onak, terpontang panting dalam kebingungan dan ketakutan. Lima puluh meter dari tubuh mereka gugusan cemara terbakar. Suasana mencekam. Dan ketika manusia sudah tak mampu lagi melihat harapan, ketika manusia sudah harus ikhlas melepaskan diri dari usaha yang dilakukan, sebait angin puitis datang menjinakkan gerombolan wedhus liar itu. Ibu Riang menoleh. Ia menyaksikan keajaiban datang menyelamatkan. Aliran awan panas itu mendadak belok kiri serapi barisan pasukan pengibar bendera pusaka.

Entah bagaimana kejadiannya, anggota keluarga kecil Riang selamat. Kawasan penambangan tempat bapak biasa menambang pasir tidak dilalui aliran awan jahanam. Dan kalau pun awan itu tetap bersikukuh melewatinya, keluarga nuklir Riang tetap bakal selamat sebab –kebetulan—di hari yang naas itu bapak mengirim dua truk pasir ke Bantul. Jadi begitulah, hanya keluarga Riang yang disisakan bencana, hanya keluarga Riang yang menjadi penerus trah keluarga.

Usai kejadian tak ada yang tersisa kecuali petak peninggalan kakek di Thekelan yang tanpa bukti surat tanah, kecuali patok dan beberapa penanda yang apabila dibawa ke pengadilan tidak bisa dijadikan bukti kepemilikan. Keluarga Riang benar-benar harus merangkak dari awal, namun hidup harus tetap berjalan. Bapak segera mendirikan rumah kecil di bawah gunung Merbabu.

Saat itu tidak ada orang Thekelan yang memanfaatkan pengetahuan hilangnya surat tanah keluarga Riang. Mereka bersimpati. Semuanya berbudi kecuali satu orang yang hidupnya senantiasa disarati keburukan hingga feses, hingga ampas kotoran. Lelaki yang di paru-parunya dijamuri syakwasangka itu biasa membuat masalah sepele menjadi alat berkelahi.

Lelaki itu bernama Kardi. Lelaki yang hatinya di siasati purbasangka itu pernah memukul kakek Oerip dengan bata merah hanya karena merasa diperhatikan si kakek. Kardi, yang tidak ketulungan itu tidak pernah menganggap perlu menghormati orang lain. Mau kepala pamong praja, mau anak gorila, mau turunan siluman ular sanca dia tidak peduli. Bagaimana dengan keluarga Riang yang baru menetap di Thekelan?

Semula keluarga Riang tidak tahu menahu siapa Kardi, hingga lelaki liar itu datang tanpa spada tanpa kulonuwun. Dalam syukuran pendirian rumah keluarga Riang itu Kardi memasuki ruang tengah tanpa melepaskan sandal.

Di luar, lima orang temannya berjaga. Lengan kaus mereka dilinting. Beragam corak tato dari yang cabul macam lukisan di bak truk antarkota, tulisan norak seperti i love you Ratna hingga yang seram-seram semisal tato kalajengking dan kepala macan kumbang sengaja mereka perlihatkan.

Suasana rumah saat itu berubah. Muka penduduk pias. Suasana canda mendadak berhenti. Kardi berkacak pinggang. Seperti periskop kapal selam kepalanya berputar.

“Namaku Kardi.” Satu persatu dilihatnya wajah penduduk desa. “Orang-orang ini tahu siapa aku!” ia menunjuk dan mengultimatum ”Jadi … Kalian keluarga baru di desa ini harus tahu siapa penguasa di sini! Kalian harus tahu siapa aku!” Riang menatap wajahnya.

“Kau! Sini!” Kardi berteriak. Ia marah. Riang diam. Ia menatap bukan karena keberanian. Riang yang masih empat belas tahun diam ketakutan. Merasa perintahnya Riang elakkan, mata Kardi langsung membelalak. Bola matanya membesar dua kali lipat. Ia menggoyang golok pada sabuknya. Semua mata mengarah ke pinggang Kardi. Kekhawatiran mengundang kepakan kupu-kupu di perut mereka. Beberapa orang penduduk desa mulai kesemutan namun rasa yang diindera Riang berbeda. Ketakutan menimbulkan gempa berskala dua richter mengguncang tubuhnya. Riang mengingat ketakutan yang sama seperti saat ia berlari menyelamatkan diri dari wedhus gembel Merapi.

Gelas kopi yang Riang pegang tumpah. Kardi cuma menggertak. Lelaki bau ikan asin itu menyarungkan golok lalu melanjutkan koakannya di ruang tengah. “Aku begini supaya kalian, koak koak! … Sekarang kumpulkan sumbangan. Seribu per kepala. Koak-koak! Jangan sampai koak-koak! Dan siapa saja yang memberi informasi ke polisi maka akan ku koak-koak!”

Setelah kedatangan yang tak jelas titik komanya itu, Kardi pulang membawa belasan bungkus rokok yang dimasukan ibu ke dalam gelas hadiah cat Avian. Ia tidak sadar punggungnya ditusuk-tusuk pandangan kebencian seluruh penduduk. Ia tidak sadar jika mata penduduk desa membicarakan kutukan.

Dia lah Kardi, si Begal Gunung Merbabu.  Dari sejak dulu hingga sekarang, tidak ada yang berani melawan atau melaporkannya.  Aparat keamanan pun letih dengan pencarian yang tak pernah mendapat dukungan penduduk Thekelan. Gerombolan itu pun semakin memperluas wilayah pencurian mereka. Mereka hidup nomaden ala orang purba, berpindah dan terus berpindah mencari sasaran begal.

Beberapa bulan lalu Riang sering menerima laporan dari para pendaki yang kehilangan ransel dan barang. Riang menduga, pencurian itu dilakukan oleh Kardi Cs di pertigaan jalan setapak, antara puncak Syarif 3119 m dan Kenteng Songo 3142 m.

###

SEMALAMAN Riang memikirkan bisikan-bisikan yang mengaku Simbah. Tapi pagi ini ia berusaha mengesampingkan bisikan yang ia dengar di gerbang kuburan. Ada hal yang yang lebih penting harus ia tuntaskan. Pagi itu Riang menyimpulakn beberapa thesis.

Pertama: lelaki brewok yang berpapasan dengannya di gerbang kuburan adalah tangan kanan Kardi.

Ke dua: orang itu hendak berbuat jahat. Riang kemudian teringat dua orang lelaki yang hendak mendaki Merbabu pagi ini.

Ketiga: Gerombolan Kardi mengincar untuk mencuri atau bahkan merampok kedua lelaki pendaki yang sekarang menjadi tamu bapaknya.

Setelah menyimpulkan apa yang harus dilakukan, apa lantas Riang harus memberitahu ke dua orang itu agar tidak mendaki pagi ini? Sebaiknya begitu. Tapi pikiran sederhana Riang berkerja untuk mencari alternatif lain agar kedua orang itu tidak merasa rugi karena Merbabu telah nampak di depan mata mereka! Dan tentunya dia tidak rela jika lelaki yang menggetarkan sesuatu di dalam dadanya itu harus berakhir tragis di tangan gerombolan Kardi.

Sepilon-pilonnya Riang dalam mengambil kesimpulan, setidaknya anak pegunungan ini berbeda dari kebanyakan ahli filsafat yang hanya memikirkan kondisi dunia namun tidak ikut serta merubahnya, maka melalui thesis IV-nya Riang pun memutuskan untuk mengantar kedua lelaki itu hingga selamat sampai di puncak. Riang mungkin mengigau ingin menyelamatkan dunia tapi bukankah kitab moralitas berkata menyelamatkan satu nyawa ibarat menyelamatkan seluruh umat manusia? Tesis ke IV inilah yang menjadikan wajah Riang berpendar cerah.

Di pagi hari itu salah seorang lelaki pendaki berwajah tegas bermata tajam memergoki Riang tengah tersenyum-senyum sendiri memperhatikan dinding Merbabu, menggenggam sapu sambil menyaksikan matahari yang tengah mengoplos warna-warna di angkasa menggunakan cahayanya yang indah

“Sudah lama melamun?” tanya lelaki itu sambil menyisir rambutnya menggunakan jemari tangan.

“eh…. hehehehe ” Riang terkejut tak mampu menjawab.  Wajahnya terasa membara, sedang sesuatu di dadanya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Lantas ia tersenyum sehangat ia bisa.

Celakanya, lelaki pendaki berwajah tegas berpandangan tajam itu pendendam. Ia merasa harus membalas senyuman Riang dengan senyuman yang lebih hangat dari senyuman Riang. Dan Riang semakin merasa terbakar wajahnya.

“Namaku Pepei,” katanya, mengulurkan tangan. Riang  menyambutnya dengan ragu. Ada kepakan kupu-kupu memenuhi rongga antara perutnya. Dan kupu-kupu itu semakin beringas mengepakkan sayapnya tatkala tangan mereka bersentuhan. Riang seperti tersengat listrik yang dialirkan oleh lelaki pendaki berwajah tegas berpandangan tajam itu. Hingga bibirnya hanya mampu bergumam tak jelas menyebut namanya.

“Kemarin sore Mas mencari kami ya?!” tanyanya tiba-tiba. Bagaimana lelaki ini bisa tahu? Riang bingung. Riang merasa diperhatikan.

”Dari mas Oerip,” Pepei menjelaskan.

”O”  Jawab Riang sedikit kecewa. Lalu mereka terdiam.

Pepei mengalihkan pembicaraan. “Dini hari begini Masnya sudah keluar rumah?”

“Iya.” jawab Riang singkat dan kaku.

“Nyapu halaman?” tanya Pepei kembali,

“Iya.” Riang kembali menjawab, tetap singkat dan kaku.

“Pasti dingin…” Pepei tidak berputus asa.

“Iya..” Riang tetap menjawab singkat dan kaku. Sampai setengah jam kemudian pembicaraan tetap berlanjut dengan jawaban Riang yang terdiri dari 4 huruf saya. Huruf o dan gabungan I, Y dan A: Iya. O iya, o iya, o dan iya.

Pepei putus asa. O dan iya yang keluar dari mulut Riang membuat bosan. Pepei memilih pergi usai meminjam sendal. Ia balik ke dalam, mengambil sikat gigi yang diimbuhi pasta, kemudian pergi menuju bak penampungan air di dekat wihara. Di sana ia menjumpai sahabat karib yang bahunya bergetar menahan dingin. Ia mencium wangi pasta gigi dan pembersih di wajah sahabatnya yang berambut klimis itu.

Iseng-iseng Pepei mengacak-acak rambut karibnya lalu berlari menghindar. Karibnya marah lalu berlari hendak mengejarnya. Pepei senyum mengejek lalu membuka pakaiannya. Karibnya membatalkan niat lalu melengos pergi.

Sekembalinya dari bak penampungan Pepei mendapati sahabatnya tengah bicara dengan orang yang sebelumnya berkata o iya o iya menyebalkan itu. Pepei masuk ke dalam ruangan, lalu keluar membawa sebungkus rokok. Dimasukkannya sampah plastik ke dalam kantung celana. Disodorkannya bungkus rokok untuk Riang.

Riang menjentik sisa rokok kreteknya, ia mengambilnya sebatang. Pepei memantikkan geretan untuknya. Api menyerobot keluar dari dalam lubang geretan. Asap pun mengepul. Riang kini leluasa bicara.

“Hendak mendaki jam berapa?” tanyanya. Riang merasa bangga dengan bau mulutnya.

“Jam tujuhan.” Pepei memasukan batang rokok ke dalam mulut. Badan yang sebelumnya bergetar hebat bergerak beraturan. Hisapan rokok membantu kinerja paru-parunya.

“Tidak berangkat bertani?” tanya Pepei kepada Riang.

“Tidak, Mas. Paling-paling nanti pagi mencari kayu. Seminggu yang lalu bapak, melihat pohon besar tumbang di jalan setapak dekat Pereng Putih. Dari pada busuk, sebaiknya pohon itu dimanfaatkan.”

“Penduduk yang lainnya ndak tahu?” Pepei mulai antusias mendengar jawaban Riang yang tak lagi terdiri dari 4 huruf saja.

Ndak tahu apa?”tanya Riang polos.

“Pohon yang tumbang?”

“O… Kayunya pasti masih teronggok di jalan. Saya belum melihat penduduk Thekelan membawa lempengan kayu sejak seminggu yang lalu.”

Pendaki satunya yang berada di samping mereka, tersisih. Ia membiarkan kedua orang itu berbincang sementara dirinya memandangi dinding Merbabu yang setiap pertambahan detiknya mengingatkan dia pada keajaiban teknologi yang membuat foto hitam putih menjadi berwarna.

“Mas baru pertama kali naik Merbabu, ya?” kali ini Riang yang ganti bertanya.

“Ya? Tapi, Fidelku ini pernah,” Pepei melirik lelaki berwajah kalem disampingnya. Lelaki berwajah kalem yang disebut Fidelku oleh Pepei membalas melirik Pepei sengit. Pepei kembali tersenyum mengejek.

“Masnya pernah lewat mana?” tanya Riang ganti pada lelaki berwajah kalem.

“hmmm…..” Lelaki itu berusaha mengingat-ingat, ia lupa.  Tapi ia yakin selama ini ia belum pernah melewati jalur Kopeng. Jawaban inilah yang menimbulkan ilham di dalam diri Riang. Ia lantas menjelaskan beberapa jalur yang ada namun ia menekankan bahwa jalur yang pemandangannya paling menarik, jalur yang paling indah yang pernah ia lalui adalah jalur Kopeng.

”Start awalnya, ya dari desa ini!” ujarnya bangga. “Dan, kalau seandainya masih menginginkan pemandangan yang lebih indah lagi, Mas-Masnnya harus berbelok ke arah Tenggara dari jalur yang biasa pendaki tempuh.” Riang terkekeh, ”trek rahasia Mas! Karena jarang ada pendaki yang mengetahui, jalurnya sudah lama tidak dilalui.”

Kedua orang itu mulai terpengaruh oleh kekehan Riang yang bernada misteri itu. Lelaki berwajah kalem yang sedari tadi tenang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya,

“Petanya bisa dibuatkan?” pintanya pada Riang.

Aha, inilah saatnya. Pikir Riang.

“Sulit Mas! Sukar!” Riang pura-pura berpikir. ” Begini saja … bagaimana kalau kalian aku antar saja?” Berpandang-pandanglah mereka.

Dan pada jam tujuh lewat dua menit, Fidel serta Pepei melakukan packing, sementara sang gembala mempersiapkan semuanya. Ia memasukan pakaian, bahan makanan berupa beras dan beberapa bungkus mie. Ia mengambil geretan yang tergeletak di perapian dan memasukan golok ke dalam sarung lalu ia selipkan ke pinggang sewaktu ibu tengah membungkus nasi dan sayuran untuk bekal di perjalanan.

Beberapa belas menit kemudian, –di depan rumah– Pepei mengeluarkan dua lembar poto kopi KTP dari dompetnya. Ia memberikannya secara estafet kepada Fidel, lalu Fidel menyerahkan lembaran dengan tambahan beberapa helai uang pada Bapak sebagai balas jasa penginapan. Bapak menolak.

Mereka pun berangkat. Wajah Fidel dan Pepei tampak jelas bahagia. Mereka tak sadar jika kebahagiaan menjadikan alpa: jam tangan Fidel ketinggalan di Thekelan. Kedua orang itu begitu bahagia hingga tidak mengetahui jika hati orang yang mengantarkan mereka mulai dirawani kerusuhan.