Originally written by: Divan

Edited n covered by: Devan

Pirated from: divansemesta.blogspot.com

merapi

D u m! Du m! Du m! Dentum Merapi menghamparkan permadani ketakutan. Suaranya mengkelebat di seluruh penjuru mata angin. Echonya menggelegarkan desa hingga keraton Yogyakarta. Dentum pertama menyebabkan amnion* seorang Ibu pecah. Tak lama berselang lelaki itu lahir ke dunia berbekal nama Riang sebagai lokomotifnya dan Merapi sebagai gerbongnya.

Riang Merapi demikian gagah perwira namanya. Beruntunglah dia yang memiliki nama sedemikian wow-nya sebab dalam setiap perkenalan pertama yang hangat, hampir setiap orang merenungi dan sejenak mengomentarinya. Dan itulah sebab, mayoritas orang-orang yang baru mendengar nama Riang pasti membayangkan perawakan yang tegap, membayangkan keberadaan lelaki yang bugar berotot selang, berkulit plat kuningan, berambut gimbal dengan karakter khas Merapi yang meledak-ledak.

Benar kulit Riang berwarna coklat. Benar jika dia cukup kuat mengangkat beban yang dua kali lipat dari massa tubuhnya. Tapi jika ada yang mengatakan badan dia tegap seperti anggota angkatan bersenjata Timor Leste, atau kalau dibayangkan rambutnya didreadlocks seperti rambut penyembah kaisar Ethiophia Hailie Selasie, maka dia salah. Pada kenyataannya penampakan Riang bisa dikatakan biasa-biasa saja.

Setiap nama adalah cangkang yang memiliki kisah menarik dibaliknya, demikian pula dengan nama Riang. Dia sang pemilik nama yang menggetarkan itu tidak begitu saja mengetahui asal muasal penamaan dirinya setelah plop keluar dari uterus ibunya. Riang baru memahami makna keramat yang disematkan kepadanya, itu pun setelah usia dia sama dengan pertambahan usia planet biru sewaktu mengorbit matahari selama 1826 hari** dengan kecepatan rata-rata 107 ribu km/jam.

“Le kemari. Duduk di sini. Bapak mau cerita,” bujuk bapaknya mengajak Riang bicara. Riang meletakan pengki yang sedari tadi ia buat mainan. Riang duduk bersandar di dada bapak sambil memandangi Puncak Merapi yang mengepulkan asap.

“Cerita apa Pak’e?” tanyanya.

“Mau tahu kenapa bapak menamakanmu Riang?” Kepala Riang mendongak ke arah dagu bapak.

“Mau Pak’e.”

“Kamu tahu Riang artinya apa?”

“Ndak Pak’e”

“Nama Riang artinya bahagia. Bapak bahagia dikaruniai anak lelaki sepertimu.”

“Kalau bukan anak lelaki, apa Bapak tidak bahagia?” tanya Riang menyela. Bapak tersenyum.

“Ya bahagia.” Beliau mengusap bulir keringat di dahi Riang. Pertanyaan anaknya kadang memang merepotkan. “Kalau nanti kau sudah besar” kata bapak melanjutan. ”Le, kalau nanti kamu sudah menikah, punya anak lelaki atau perempuan, kamu akan memandang sama untuk anak pertama”

“Lantas kalau sama, kenapa Pak’e bahagia?”

“Ya bahagia. Ya … ya …” Bapak bingung memikirkan pertanyaan Riang. Di kepala bapak ada banyak kata yang dibolak-baliknya. Kalau anak perempuan tidak sama berarti tidak bahagia. Hm, kalau sama berarti bahagia. Bukannya sama-sama yang justru sama bahagianya. “Ya… ya …honocorokodotosowolo …” ujar bapak berusaha menepiskan pertanyaan yang membingungkan itu, tapi Riang malah terus menerus bertanya.

“Kenapa honocoroko Pak’e?” Bapak tertawa. Ia tak mau ikut mencampur pikiran anaknya yang kompleks. Dihisapnya rokok klobot yang sedari tadi nangkring diantara telunjuk dan jari tengahnya.

“Begini Nak …” Bapak menghisap rokok klobotnya, “namamu itu dulu bukan Riang pada awalnya. Bapakmu ini ndak tahu harus menamakan kamu apa, padahal … waktu ibumu itu hamil tua, bapak suka menghina,” bapak tertawa. ”Nama yang dulu ibumu berikan jelek semua,” katanya.

“Kenapa dihina? Menghina kan dosa Pak’e?”

Bapak seperti dipentung. “Ya … ya, ya tapi bagaimana?” Bapak gagap. Ia menyerah. ”Memang dosa … memang dosa, tapi nama yang ibumu beri itu kurang Le’ …”

“Kurang apa Pak’e?”

“Ya kurang sreg poko’e.”

“Tapi kan dosa Pak’e?”

“Iya! Tapi … tapi apa kamu mau dikasih nama Pitono?” Bapak membuat muslihat: mengalihkan pertanyaan Riang. ”Lha kamu lahirnya kapan saja belum ada yang tahu! Aneh ibumu itu!”

“Pitono artinya apa Pak’e?”

Jam pitu wes ono!*** Kamu mau dikasih nama itu?!Riang meraba-raba.

“Ya ndak Pak e’!” Nama yang diberikan ibu memang kurang menjanjikan dibandingkan namanya sekarang.

“Nah,” sambung bapak, ”Kamu saja ndak mau dinamai Pitono apa lagi aku!” Bapak menjentikkan abu rokok lalu menghisap dalam-dalam dan menjadikan hisapannya itu sebagai ancang-ancang. “Dulu … namamu bukan Riang. Waktu bapak mentertawakan nama Pitono itu ibumu marah. Ya sudah! Kata ibumu. Cari nama yang sampean mau! Akhirnya Bapak jadi kelimpungan Le’.”

“Kenapa bisa kelimpungan Pak’e?”

“Soalnya sampai kandungan ibumu tua, Pak’e belum menemukan nama yang kedengaran enak, kedengaran nikmaaaaaaaaat.” Bapak mengela nafas panjang, sepanjang asap yang keluar dari saluran nafasnya.

”Lalu, lalu Pak’e?” Riang mulai antusias.

”Pas Merapi meledak, Kamu lahir!” Ya! saat dentum Merapi terdengar, sewaktu letus pertamanya menjungkir balikkan bebatuan, memuntah dan melelehkan agar-agar bersuhu ribuan derajat yang mengkilat, serta merta saat itu juga bapak Riang melunjak gembira. Nama yang sedari dulu pusing dipikirkan tiba-tiba meng-eureka dari balik gumpal otaknya.

Bapak memberi anak pertama yang keluar dari uterus**** istrinya itu nama Gembira. Penamaan awal itu merupakan ungkapan yang jujur melompat dari hati seorang bapak yang baru mendapat jagoan pertama –yang juga bakal satu-satunya selamanya. Kebahagiaan yang luar biasa itu pula yang menyebabkan bapak meletakkan nama Merapi sebagai tetangga nama Gembira.

Namun, karena tidak enak dalam mengucapkannya, maka di hari kedua, nama Gembira bukan saja diusir tapi disemayamkan seperti placenta***** yang tak boleh dipungut kembali:Gembira diganti Riang, yang hingga kini masihlah Riang. Maka tersebutlah nama yang sedemikian wow itu: RIANG MERAPI.

End Note:

* amnion = air ketuban

**1826 hari = 5 tahun

*** uterus = rahim

**** jam pitu wis ono = jam tujuh sudah ada, maksudnya lahir sebelum jam tujuh.

***** placenta = ari-ari