Originally written by: Divan Semesta

Edited n covered by: Devan

Pirated from : divansemesta.blogspot.com

 

Riang Merapi 1: BISIKAN

 merbabu

MERBABU TEGAK membentengi Desa Thekelan dari risauan angin. Baik pagi, siang, terlebih malam, suasananya sejuk. Di pagi dan senja, horison benteng alam setinggi lebih dari tiga ribu meter itu berubah warna menjadi beludru. Bersamanya lautan aura mistis mengambang di angkasa, bersinar-sinar memberitahu bahwa cahaya alam adalah perlambang keajaiban.

Di sini, di tempat Riang berada ini, kegelapan dan cahaya dapat bersatu menjadi sebuah lukisan surealis* yang indah. Saat awan berbondong-bondong datang, angin membentuknya menjadi kuda berkepala harimau; cabikan daging manusia yang digilas kereta; atau bulatan-bulatan misterius seperti lukisan si bohemian kuping rebing Van Gogh**.

Desa Riang berada di kangkangan gunung itu, menyempil di lekuk lembah. Di sisi yang satu belantara dan hutan yang nyaris dipenuhi pepohonan besar dengan lerengnya ditumbuhi kol muda yang berwarna hijau pastel. Sementara di sisi lainnya, umbi wortel berwarna oranye menghunjami lahan pertanian dan daun-daun bawang menyucuk-nyucuk angkasa mengeluarkan aroma menyengat yang nikmat. Itulah Desa Thekelan, desa tempat Riang tinggal bersama bapak dan ibunya.

Pagi itu, ketika rintik air melayang dibawa kabut, Riang melihat dua lelaki berjalan seperti kalkun mengaso di pos penjagaan Lokasi Wisata Kopeng. Saat itu Riang memberi mereka sedikit perhatian. Salah seorang berwajah tegas jantan, nyaris bisa disebut garang. Sedangkan seorang lainnya tampak lebih kalem dan tenang. Lelaki pertama menatap Riang tajam. Riang tertegun gugup. Hanya selembar senyum yang sempat ia lampirkan saat mereka bertatapan pandang. Ada sesuatu yang berdetak lebih kencang di dada Riang.

“hhhhh……” Riang menghembus nafasnya, menghalau perasaan aneh yang mulai menjalarkan geli dari perutnya. Riang melangkah pergi sambil berharap akan bertemu dengan lelaki bermata tajam itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, secepat-cepatnya.

Ah, ternyata harapan Riang terkabul. Tak sampai satu jam sejak pertamuan mereka bertiga. kedua lelaki itu sudah sampai di tepi halaman rumah Riang. Lelaki bermata tajam segera membuka tas, mengendurkan otot dan menggerakkan jemari tangan sambil melirik Riang saat lelaki berwajah tenang mengetuk pintu rumah Riang.

Bapak menyambut mereka, sedangkan Riang hanya berani mengintip dari balik jendela. Percakapan terdengar. Kedua orang itu menuju ruang sebelah, ruang yang khusus didirikan untuk menampung para pendaki sebelum mereka tancap gas menuju Puncak Merbabu.

Di dalam ruangan yang bisa menampung hingga empat puluh pendaki itu tidak terdapat tempat tidur konvensional. Keluarga Riang sebatas menyediakan panggung sederhana agar para pendaki tidak tidur di lantai. Kondisi itu pun sudah lebih dari cukup. Sebab mereka memang sudah terbiasa tidur beralas tanah dan berselimut ponco. Bahkan sebagian kecilnya sudah terbiasa tidur dan melamun di samping jenazah teman seperjalanannya.

Setelah cukup lama berada di dalam rumah, Riang keluar mengantar teh panas, memberanikan diri mengundang kedua pendaki itu untuk mengikuti ‘syukuran kecil’ atas panen berlimpah yang keluarga Riang nikmati tahun ini. Tapi sayang, saat Riang masuk ke dalam ruangan penampuangan, ruangan itu sudah kosong melompong. Riang tidak dapat menemukan mereka. Ia menyimpan baki teh panas di atas panggung kayu.

Angin dingin masuk, Riang lantas segera menutup pintu. Riang termenung. Sesuatu mengganggunya. Sewaktu berjalan melewati gerbang kuburan, ia berpapasan dengan beberapa lelaki. Sekilas Riang merasa mengalami deja vu, ia merasa pernah melihat salah seorang di antara mereka, tapi hingga saat ini ia belum dapat menyimpulkannya.

Riang pun keluar, dan di bawah pohon beringin dekat rumah ia menjumpai Oerip. Riang menanyakan kedua lelaki yang  menjadi tamu bapaknya. Tetangganya yang baru menikah itu tidak melihat kedua lelaki yang Riang maksud. Setelah memberitahu Oerip bahwa penjualan panen tahunan bisa diambil di rumahnya, Riang lantas pergi menyusuri jalan batu. Ia berpikir kedua pria itu hendak membeli Djarum Coklat, rokok yang konon paling mantap jika dihisap di ketinggian, sembari melengkapi kekurangan bahan makanan.

Sesampainya di warung Riang menemukan Simbok Rahayu tengah menyeduh mie instant rasa soto untuk anaknya, Parman.

”Hari ini ndak ada pendaki yang ke sini, Mbok?” tanya Riang.

”Ada juga yang beli batu baterai, Yang,” jawab Simbok.

“Dua orang?!”

”Bukan, sendiri Yang.”

Riang menduga. ”Lelaki berewok, yang pakai kupluk, yang lehernya dililit kain merah?” tanyanya. Simbok mengiyakan sambil mengetuk mangkuk mie hingga menimbulkan bunyi ting berkali-kali.

“Orangnya sendirian Mbok?”

“Memangnya kenapa Yang?”

”Di gerbang kuburan aku melihatnya tidak sendirian.” Riang meminta penegasan, ”Benar dia sendirian, Mbok?”

Simbok sewot “Sudah dibilang sendirian, ya sendirian!”

Riang tertawa. Ia mencomot pisang goreng lalu pergi menuju lahan tempat leluhur desa Thekelan dikubur. Menuruni jalan batu yang menyimpan dingin, sunyi menjadikan ketukan langkah kaki Riang terdengar lebih keras. Di kuburan itu tak ada tanah merah yang baru. Semuanya menua. Batu-batu nisan terlihat jompo, gerbang kuburan lembab dan tampak kehilangan vitalitas dimakan usia. Jangkrik mengerik. Kerosak pohon kemboja yang disiurkan angin menciptakan suasana yang mencekam. Bayang-bayang hitam pohonnya bergerak-gerak melambai. Sunyi kembali datang dan sebuah bisikan tiba-tiba terdengar:

R

i

a

n

g

K         e          m         a          r           i

R

i

a

n

g

A         y         o

K         e          s           i           n          i

R

i

a

n

g

A  k     u         i           n          i

M

b

a

h

m

u

J             a          n          g          a          n

T

a

k

u

t

Sesuatu di luar akal tiba-tiba menyebut nama Riang berulang-ulang Mendengar bisikan itu tubuh Riang mendadak dijalari dingin yang aneh. Bulu kuduk Riang meremang menancapi udara. Ia ingin berlari tetapi takut jika sesuatu yang membisiki telinganya itu memiliki persamaan dengan tingkah laku anjing. Semakin terbirit ia kabur, semakin garang dan semakin kurang ajar si anjing. Riang tak berani lari, dia hanya berjalan pelan menahan tubuhnya yang gemetar tiba-tiba.

Saat pinus hutan menjadikan bayangan bukit di sebelah barat Merbabu terlihat seperti pucuk senjata tajam, Riang berbalik. Sesampainya di halaman rumah ia melihat halaman pintu ruangan di samping terbuka lebar. Kedua orang yang dicarinya sudah kembali. Riang masuk ke dalam rumah menghangatkan badan, tak terpikirkan lagi olehnya untuk berbincang dengan kedua lelaki pendaki itu.

Yang kini mengisi tempurung kepala Riang hanya bisikan yang masih menyisakan rasa heran bercampur kekhawatiran. Riang menyegerakan masuk ke kamar. Orang tuannya menganggap biasa. Mereka pikir anaknya tengah membutuhkan waktu menyendiri, melakukan semedhi. Mereka tidak tahu jika hati anaknya kebat-kebit ketakutan seperti hati perawan yang baru saja dirogol satpam.

Sekeping merah tersisa di angkasa. Bintang-bintang menyala, menggantikan matahari yang meredup di batas cakrawala. Dan bisikan itu masih memenuhi lekukn-lekukan otak Riang yang sederhan.

R

I

A

N

G

K         e          m         a          r           i……

To be continued …

 

End Note:

* Surealisme ialah gerakan budaya yang bermula pada pertengahan tahun 1920-an.  berupa seni dan penulisan yang memiliki unsur kejutan, dengan meletakkan barang tak terduga berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Kata surealisme diciptakan tahun 1917 oleh Guillaume Apollinaire  dari kata super-realisme.

** Vincent van Gogh:

Vincent Willem van Gogh  (30 Maret 185329 Juli 1890) adalah pelukis pasca-impresionis Belanda. Lukisan-lukisan dan gambar-gambarnya termasuk karya seni yang terbaik, paling terkenal, dan paling mahal di dunia. Vincent Van gogh didiagnosa menderita epilepsi yang cukup parah. dan pernah memotong telinganya sendiri. Pada akhir hidupnya, ia merasa dirinya menjadi gila dan akhirnya menghabiskan sisa hidup di R.S. Jiwa di Perancis. Sampai akhir hidupnya dia tetap melukis.