CUAP2 NAYAKA

salam…

ini cerpen ke 3 dari ABI ZAENAL, hehehehe, aku pribadi lebih interest sama gaya tulis dan bahasa yg dipakainya dalam cerpen ini, lebih lentur. idenya luar biasa. singkat, padat dan menohok tepat sasaran. dengan yakin aku katakan, kalian tidak membuang2 waktu dgn membaca KAMU TETAP KAKAKKU.

jadi, selamat membaca. jika tidak memberatkan, kawan Abi pasti ingin membaca komentar kalian.

wassalam
nayaka

“KAMU TETAP KAKAKKU..”

 

Aku meletakkan carrier-ku diatas kursi besi di halte ini. Bus yang membawaku kesini sudah melaju meninggalkanku bersama asap hitam yang mengepul, mengotori udara di bawah langit yang masih memendarkan warna jingga keemasan. Kutengok jam tanganku, jarum panjang itu masih anteng berputar, sedang jarum pendek tebalnya masih berkisar di angka empat. Senja sebentar lagi mengunjungiku. Dan awan gemawan itu tampak seperti cendawan kejinggaan yang indah. Angin juga menghembusi kulit wajahku dan menimbulkan sensasi dingin yang menyejukkan.

 

Akhirnya aku kembali ke tanah kelahiranku.

 

Ah, aku harus segera sampai ke rumah. Aku sudah rindu dengan ibuku, sosok yang sangat berjasa dalam hidupku.

 

Ojeg yang telah mengantarku sampai ke depan teras rumahku sudah berlalu, meninggalkanku yang sedang mengulum senyum, menanti raut terkejut ibu saat mendapati aku, anaknya yang sudah hampir setahun ini tak pulang. Tiga kali ketukan pintu rasanya sudah cukup untuk memberitahu pada ibu bahwa ada orang di teras ini. Dan aku semakin mematut diri saat telingaku menangkap suara langkah tergesa ke arah pintu tepat di depan hidungku.

 

Aku harus terlihat bugar dan menawan di depan ibuku.

 

Benar saja. Ibu terlonjak kaget dan langsung memelukku sebelum aku sempat mencium kedua tangannya yang sudah mulai keriput itu. Aku sampai malu sendiri ketika kecupan bibir ibu mendarat di dahiku. Rasanya aku sudah terlalu tua untuk dikecup oleh seorang ibu. Tapi jujur aku senang sekali dengan tingkahnya. Menyambut dan membuatku merasa dirindukan kepulanganku adalah hal yang indah.

 

Ternyata aku yang seperti ini masih menjadi anak dimatanya.

 

Aku hanya duduk sambil menggeleng memerhatikan ibu yang tampak sibuk sendiri, berlalu-lalang sambil tertawa-tawa. Menaruh beberapa toples dan juga secangkir teh manis hangat sambil memberondongku dengan banyak sekali pertanyaan. Aku pun menanggapinya dengan menahan tawa. Ah ibu, kau masih saja seperti dulu. Bertanya ini itu, bercerita tentang siapa, kapan dan begini-begitu. Menyindirku tentang anak gadis tetangga yang terus saja menanyakanku. Dan mengatakan perubahan raga dan rupaku sampai membuatnya pangling tadi. Aku tersipu lagi di depan ibu. Tersipu bahagia.

 

“Selalu saja kamu tak pernah bilang kalau akan pulang. Dan rasanya setahun itu amat sangat lama sampai-sampai ibu tadi tak mengenalmu. Kamu semakin terlihat putih Nak, terlihat rupawan sekali bak bentang pelm di televisi itu, siapa itu…ah, kamu mirip Rezky yang di Putri Tertukar itu..”

 

Aku terkekeh mendengarnya. Pujian yang terdengar konyol itu memang harus kuakui sedikit membesarkan ruang di lubang hidungku. Ibu memang penyuka sinetron, seperti lumrahnya ibu-ibu lain. Dulu sering sekali ibu mengomel selepas nonton sinetron, atau setelah menonton berita tentang kawin-cerai para selebritis. Dan aku hanya diam mendengar celotehan ibu sembari masak.

 

Kami bertukar kisah, tentang siapa-siapa teman sekolahku dulu yanng sudah menikah dan punya anak. Tentang sanak dan tetangga yang telah meninggal dunia, bahkan tentang ternak-ternak yang sebenarnya tak perlu dicakapkan ibu. Tapi aku bahagia. Bukankah hal tak penting menjadi begitu menarik bila kita cakapkan dengan orang tersayang?

 

Sampai akhirnya ibu bergegas ke dapur. Ibu menjerang air untuk mandiku, karena ibu tahu, air di kampungku sekarang terasa seperti air es yang akan membuatku gemelutuk, meskipun dimuka senja.

 

“Tapi sayang, adikmu sekarang sedang PKL di kota. Sekarang dia semakin tinggi, bahkan hampir mengalahkan tinggimu” ibu bicara sedikit keras dari dapur.

 

Adikku. Ah, aku memang rindu dia. Rindu dia dengan sangat. Tapi ibu tak tahu bahwa aku sengaja pulang sekarang karena aku sudah tahu bahwa adikku tak ada di rumah. Dan malu-malu harus kuakui bahwa aku merindukan adikku yang begitu pandai membuat masalah, membuatku gusar sampai kadang membuatku menangis… entahlah, apa aku terlalu lancang untuk merindukannya. Tidak. Aku tak boleh merinduinya. Rindu yang kurasakan ini harusnya bisa kubatasi, serta kulabeli dengan jelas. Dia itu adikku.

 

Aku segera melenggang ke arah kamarku, yang juga kamar adikku sekarang. Kuhempaskan carrier-ku diatas kasur tanpa ranjang itu. Kain penutupnya sekarang sudah berganti menjadi kain bergambar logo klub sepakbola kesukaan adikku, Mancester United.

Aku ingat, dulu aku menghardik adikku yang terus saja mengejek kain penutup kasurku yang bermotif Winnie The Pooh. Dia juga terus saja meracau tentang poster-poster yang kutempeli dinding kamarku dengan idolaku, Marshanda. Juga kliping bergambar artis-artis serta lirik-lirik lagu penyanyi bersuara emas, Mariah Carey. Dan aku hanya bisa mengadu pada ibu. Ibulah yang akhirnya melerai kami berdua.

 

Itu lima tahun lalu.

 

*****

Tapi awal aku menghindari adikku adalah setelah kejadian itu, kejadian di dua tahun kemarin. Setelah lulus sekolah, aku memilih hijrah ke kota, mencari penghasilan sendiri demi membantu ibu yang berjuang menghidupi kami selepas ayah pergi dan kakak perempuanku yang sudah dibopong ke rumah suaminya di kota.

 

Waktu itu aku merantau sudah hampir setahun. Selepas gajian, aku menyengaja pulang kampung, layaknya para perantau lainnya. Aku sudah berikrar untuk membelikan baju batik dan juga kebaya untuk ibu, agar saat kondangan beliau semakin terlihat cantik. Tentu saja ibuku harus terlihat cantik.

 

Tak lupa, aku juga membelikan sebuah sepatu buat adikku. Adikku memang sangat menyukai sepatu, dan sudah lama ibu tak membelikan dia sepatu baru.

 

Setelah tak bertemu adikku selama hampir setahun lepas, aku mendapati seorang anak berbadan jangkung, berkulit putih sedang tersenyum ke arahku di depan pintu. Menyambutku dan meraih tas yang tersampir di pundakku. Dia menyalami dan mencium tanganku. Tuhanku. Adikku yang berandal itu sekarang telah tumbuh, menjelma menjadi seorang yang…ah, terlalu berlebihan kubilang rupanya sempurna layaknya Yusuf, tapi dia telah memesonaku. Aku menahan nafas dan semakin lama menahan kedip.

 

Bodoh. Dia itu adikku sendiri. Darahnya mengalir dalam darahku.

 

Sesaat setelah itu aku menjadi gagu. Aku bingung dengan apa yang kurasakan. Aku memang punya rasa cinta yang unik, tapi kenapa tuhan mengujiku lagi lewat adikku?

 

Tapi adikku yang dulu berandal itu semakin bertingkah. Kulihat ada bekas tindik di telinga kirinya. Tapi saat ini dia pasti tak memakainya karena itu akan membuat ibu murka. Rambutnya berantakan sekali, tapi justru berantakan itu malah semakin membuatnya terlihat liar. Liar yang menawan. Dan satu yang membuatku tak bisa berhenti memerhatikannya. Dia memasang barbel di lidahnya. Beberapa kali dia memainkan barbel itu dengan lidahnya sendiri, dan semakin mengingatkanku pada seseorang yang sekarang sudah pergi kemana. Orang yang mengenalkanku pada nikmatnya bertukar lendir.

 

Saat itu ibu terus aja mengoceh di depanku. Bertanya banyak hal tentang kota. Seberapa besar Istiqlal itu, atau lebih tinggi mana Monas dengan gunung yang ada di kamungku. Tapi aku terus saja mencuri-curi pandang pada adikku yang sedang duduk di dipan sambil memainkan gitarnya, dengan segelas kopi mengepul di sampingnya.

Dan malamnya, aku dibuat gelisah karena kami berdua bersisian. Aku tak mampu menyurutkan debar jantungku yang terasa kencang sekali. Apalagi saat adikku membalikkan wajahnya, bertanya padaku tentang bagaimana hidup di kota itu. Bagaimana rasanya naik Hysteria di Dufan. Dan bertanya apakah aku pernah bertemu drummer atau gitaris band kesukaannya, Netral. Juga pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatku beku.

 

Aku kelu. Diam dan gagu.

 

*****

 

Dan sekarang, kamar ini tampak begitu berbeda dari tahun kemarin. Poster-poster Avenged Sevenfold, Valentino Rossy dan juga OI menempeli dinding kamarku. Dan aku sedikit kaget karena posterku ternyata tak dibuang, hanya dipindahkan ke tempat yang tak begitu terlihat. Dia begitu pandai menempatkan segala sesuatu itu agar terlihat artistik. Bukan indah, tapi terlihat berseni. Aku juga mendapati beberapa action figure pemain bola idolanya, dan juga tokoh-tokoh manga kesukaannya. Dia memang pecinta kartun kelas wahid. Terutama Naruto dan juga One Piece.

 

Dan saat aku menjangkau sebuah meja pendek itu, aku mendapati buku-buku pelajarannya yang tak terlalu rapi, disandingi sebatang lampu belajar yang tampak melengkung. Itu lampu belajarku dulu. Di depan meja belajar itu tampak satu papan stereofoam yang ditempeli jadwal pelajaran dan juga beberapa potonya, termasuk foto kecilnya bersama cukup banyak perempuan yang cantik. Tak dinyana adikku yang rupawan ini akan menjadi seorang pewaris jiwa Cassanova.

 

Panggilan ibu dari dapur menyadarkanku. Aku harus segera mandi, walaupun sebenarnya terasa malas sekali. Aku yang biasa mandi berlama-lama, disini rasanya baru saja segayung air menyentuh kulit, aku sudah ingin memakai handuk. Tapi setidaknya air hangat yang dijerangkan ibu tak terlalu menyiksa, walaupun kata menyiksa terlalu berlebihan.

 

****

 

Matahari yang menyembul dibalik bukit terasa hangat, terlebih suara bebek-bebek yang cerewet saling bersaing dengan cicit burung yang bertengger di dahan beluntas. Ah, pagi hari di kampungku itu seperti surga. Tadinya aku hendak mengunjungi kawan-kawanku di kota, tapi tak sengaja aku mencuri dengar saat ibu sedang menelpon seseorang.

 

“De, cepatlah kau pulang Nak. Kakak kau pulang. sudah lama kau tak nampak kakak kau kan?”

 

Dan aku mulai gelisah mendengar percakapan antara ibu dan adikku di telpon. Aku kalang kabut. Jujur aku tak mau melihat adikku, bukan aku tak rindu, tapi aku tak mau mengagumi adikku sebagai  sosok lain. Rasa ini saja sudah salah, apalagi aku harus mencintai adikku sendiri. Dosa dan nista ini berlapis-lapis sampai aku tak tahu harus meminta ampun seperti apa pada tuhan.

 

Aku segera bergegas memberesi pakaianku dan berbohong pada ibu bahwa perusahaan tempatku bekerja menyuruhku untuk segera kembali ke kota. Mendesak, itu kata yang tak bisa dibantah ibu. Ibu pasti tak ingin aku mendapati masalah dengan perusaan. Dan rasa bersalah melingkupiku karena aku harus berbohong pada orang yang mengandung dan menyapihku.

 

Tak lama aku mendapati ojeg datang ke rumahku karena tetanggaku berbaik hati mencarikannya. Kulihat raut sedih ibu. Masih ingin melepas rindu, ujar beliau. Tapi apa daya, aku tak ingin bertemu adikku.

 

*****

 

Cukup lama aku berdiri disini, di sebuah halte tempat menunggu bus yang akan membawaku ke kota. Tapi saat aku melihat ada bus yang harus kunaiki, aku melihat ada seorang yang tampak menuju ke arahku. Mataku mengerjap beberapa kali untuk memastikan siapa orang itu. Tidak, dia adikku. Aku berdo’a dalam hati agar bus itu segera menepi di depanku agar aku langsung masuk dan tak menemuinya.

 

Tapi sorot mata orang yang sekarang berhenti di depanku membuatku sedikit gelagapan. Pandangan tajamnya tampak rumit sekali.

 

“Kak…”

 

Aku mencoba tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan meraih tanganku lantas menciumnya.

 

******

 

Aku masih memegang pinggangnya. Tak berani berkata sedikitpun. Kami berdua masih menikmati bisu yang sunyi. Bisu yang membuatku merasa mengerut dan megap-megap. Tapi jalan berbatu ini membuatku hampir bertanya-tanya, kenapa dia membawaku ke tempat itu lagi, tempat dulu kami selalu diajak oleh ayah saat awal musim hujan.

 

Dan akhirnya kami berdua duduk di atas batu besar, batu dimana dulu kami berdua selalu ternganga saat ayah menceritkan sebuah kisah epik masa lalunya yang hebat. Bagaimana beliau hidup pada masa pemberontakan dan juga kegetiran selepas Orde Lama dilengserkan. Intonasi suara ayah serta temponya yang tak teratur justru membuatku semakin melekat padanya.

 

Aku memandangi hamparan kemuning padi yang seperti serakan emas, terbelah oleh jalan setapak dan sungai-sungai kecil. Beberapa pohon kelapa nampak seperti tuhan tempatkan pada letak yang begitu nikmat dipandang mata. Saung-saung beratap jerami tampak coklat mengilat ditimpa cahaya matahari. Para petani tampak seperti semut, berjalan tergopoh-gopoh dengan karung beras di tangan dan bakul di punggung.

 

Aku mengerjap.

 

“Kenapa Kakak selalu lari dariku?”

 

Kalimat pertama itu menohok sangat pada hatiku. Kenapa? Kalau aku berkata yang sejujurnya, apakah kamu masih akan bertanya lagi, ujarku dalam hati.

 

“Aku tak pernah tahu apa yang membuat kakak selalu menghindariku. Apa kakak malu mempunyai adik berandal seperti aku?” dia bicara tapi wajahnya membelakangiku. “Kenapa kakak selalu lari dariku? Kenapa kakak tak pernah mau bercengkrama denganku barang sehari dua hari? Kenapa Kak?”

 

Aku hendak membuka mulut dan mengatakan penyangkalan, tapi lidahku tercekat. Aku gagu dan tak bisa berkata-kata. Lidahku seumpana direkatkan ke langit-langit. Tapi aku harus memberi penjelasan. Aku tak mau dia berpikir aku tak menyayanginya atau mungkin malu karena dilekatkan nama saudara pada dia yang berandal.

 

“Kamu sudah besar ya sekarang…” ucapku yang membuatnya menoleh tajam ke arahku. Dia memicingkan mata seperti mencari-cari jawaban dalam mataku.

 

“Aku memang sudah besar Kak, tapi seberapa besar dan dewasa pun aku, aku tetap dan akan masih menjadi adikmu. Aku butuh nasihat dari seorang kakak, aku ingin diajari dan berbagi cerita dengan kakak” dia mencelos dan aku tak tahu harus berkata atau berbuat apa.

 

“Apa karena kakak sibuk? Apa karena kakak malu? Atau karena kakak…suka aku?” tatapan matanya melunak dan perasaanku ambruk sekarang. Dia menyadarinya. Dia sadar bahwa aku mempunyai rasa yang unik, dan tak bisa menahan diri dari mengaguminya.

 

“Aku faham Kak, bertahun-tahun hidup serumah dengan kakak aku sudah bisa tahu apa dan bagaimana kakak itu. Apa aku pernah pedulikan kakak yang…seorang gay?” dia terdengar berhati-hati menyebut kata yang tabu itu. Satu kata yang akan menghantarku pada hujatan dan cercaan.

 

“Aku tak peduli Kak. Bodoh kalau aku membenci kakak, orang yang paling dibanggakan ayah dan ibu, orang yang sudah banting tulang demi aku sekolah, demi menghidupi ibu… Durhaka bila aku membenci kakak..”

 

Itu adalah pujian yang terasa menohok hatiku.

 

“Tolong jangan lari lagi dari aku Kak, karena apapaun dan bagaimana pun, orang yang ada dihadapanku tetap kakakku…”

 

Tak terasa mataku yang dari tadi terasa perih, kini sudah mengalirkan air mata. Mendengar hal itu membuat ulu hatiku terasa sakit.

 

“Aku mohon, menginaplah semalam ini. Aku ingin menghabiskan malam yang langka ini bersama ibu dan juga kakak.”

 

Akhirnya aku mengalah pada egoku. Benar, aku terlalu egois. Harusnya aku lebih kuat dan lebih bisa mengatur perasaanku. Aku kakaknya, aku harus kuat. Aku tak boleh larut dalam rasa yang menjebak ini.

 

Dan malam itu, adikku memintaku membuatkan opor ayam kesukaannya, menunjukkan foto-fotoku saat liburan dan meminta untuk mengajarinya menggunakan piranti tercanggihku. Kami bertiga bercengkrama yang hangat, bercerita dan berbagi tawa. Dia berceloteh dan sesekali ibu mendengus saat dia mencelos kenakalannya.

 

Aku bahagia tuhan, aku bahagia meskipun hati ini terasa sakit. Aku bahagia karena Kau limpahkan semua karunia yang bahkan aku sendiri tak mampu mengingkarinya. Terlalu baik Kau pada mahluk sepertiku. Terlalu pengasih Kau pada orang yang selalu memunggungi-Mu. Tak banyak yang mampu aku mintakan pada Engkau, cukup Kau jaga agar aku tak menyayangi adikku dengan porsi lain. Cukup limpahkan apa yang terbaik untuk ibu. Jaga dan lindungi adikku agar ia tak seperti aku nantinya.