CUAP2 NAYAKA

Masih dari ABI ZAENAL. Pertama baca judulnya, aku lansung ingat Natalie Portman dan Mila Kunis, mereka berdua membintangi film berjudul sama dgn ini, salah satu film terbaik yg pernah kutonton.

Tidak mengisahkan tentang penari balet yg depresi, Black Swan yang ini lain. Kehebatan dan kebesaran hati seorang kakak. idenya mungkin kayak ide Bidadari Bidadari Surga Tere Liye, menyentuh, dan mengajarkan. Black Swan sangat layak utk dibaca.
trims kapada kawan abi…

happy reading

wassalam
nayaka

 

BLACK SWAN

Aku berada disini, dengan sebuah spatula di tangan, menghadap ke arah wajan yang mengepul. Bau wangi tercium dari piring-piring yang terhidang di balik tudung saji. Masih hangat untuk  mengisi perut ibu dan juga adikku yang mungkin sekarang masih di tempat megah itu. Ah, aku harus menyajikan makanan paling enak hari ini. Karena hari ini adikku yang cantik itu akan menghadapi hari besar. Wisuda.

 

Tadi pagi dia sudah nampak begitu cantik bak bidadri yang sering berwara-wiri di atas pelangi. Dia bahkan membilas tubuhnya sambil melantunkan nada-nada indah di balik ulas senyumnya. Aku hanya bisa ikut tersenyum untuknya. Aku pasti ikut berbahagia di setiap derai tawanya. Tak lain dengan ibu. Beliau juga tampak cantik dengan baju encim berwarna coklat mudanya. Pagi inilah senyum terbaik ibu sunggingkankan, membuat ibu nampak seperti lima tahun lalu, saat tiba-tiba ayah pulang dan menghadiahi ibu sebuah baju terbaiknya itu.

 

Aku masih mematut kerudungku di depan cermin besar rumah ini. Dan ini kulakukan entah untuk ke berapa kalinya. Dan aku kembali menaburkan bedak itu ke pipiku, membuat diriku merasa cantik. Tak lupa kusemprotkan dari botol itu ke bajuku, membuatku girang saat mencuim wangi dari ujung lengan bajuku. Tentu saja, aku harus tampil cantik dan harum di depan adikku saat dia pulang nanti. Biar dia betah berlama memeluk aku bahagia ini.

 

Senja mulai turun. Tapi tak ada lembayung jingga yang menghiasi barat. Tak nampak burung-burung yang kembali ke peraduannya. Hanya suara serangga malam yang mulai bernyanyi dengan bahasanya. Tapi kenapa sampai senja begini ibu dan juga adikku belum juga pulang? Ah, pasti yang namanya wisuda itu berlangsung cukup lama. Karena saat aku mencuri dengar percakapan mereka, seratusan orang yang akan di wisuda. Ya, pasti wisuda itu ramai dan penuh derai tawa.

 

Tepat lima menit sebelum panggilan tuhan berkumandang dengan merdunya diiringi tabuhan bedug di surau, aku mendengar suara dari dua orang yang paling kusayang melebihi diriku sendiri, sekarang sedang bercakap-cakap di depan rumah. Tak ada tawa ibu seperti tadi pagi, tak ada nada merdu yang terlontar dari mulut kecil adikku. Dengan tergesa aku segera menjangkau daun pintu, dan langsung mendapati raut adikku yang masam ke arahku.

 

“Ibu mau mereka membatalkannya? Ibu kan tadi lihat sendiri bagaimana dia dan juga keluarganya.” Kata adikku, tapi matanya menghujam ke arahku.

 

Ibu hanya mengalihkan pandangannya ke arahku yang sekarang sedang bingung. Aku tak tahu apa yang terjadi tadi saat wisuda. Karena saat ibu menawariku untuk ikut, aku lebih memilih tinggal disini, menghidangkan makanan terbaik untuk adikku. Dan tentu saja aku tak mau membuat mata teman-teman adikku mengernyit saat menatapku. Aku tak mau adikku dibuat repot untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kawannya nanti.

 

 

Ibu tampak berusaha tersenyum ke arahku. Aku tahu beliau hendak mengatakan sesuatu tapi seakan ada kunci yang kokoh di mulutnya yang penuh petuah itu. Dan sekarang aku seperti patung. Tak tahu apa yang sedang terjadi antara ibu dan juga adikku yang cantik itu. Tapi di pikiranku tentang wisuda sekarang berubah. Wisuda itu pasti menegangkan.

 

Aku berusaha meleraikan mereka dengan membuka tudung saji di atas meja yang menghamparkan masakan terbaik yang ku buat sepanjang masaku, lebih banyak dari lebaran kemarin malah. Karena bagiku wisuda adikku itu lebih raya dari lebaran puasa. Gerbang menuju kesuksesan adikku. Gerbang yang akan mengantarkan adikku yangcantik dan cerdas ke kantor-kantor atau instansi pemerintah yang megah itu. Tapi adikku hanya berlalu ke kamarnya dengan pintu berdebam. Sedang ibu tampak berusaha menjaga senyumnya padaku. Beliau mengelus pundakku dan mendudukanku di kursi kayu itu, menghadap meja dan memintaku makan. Adikku terlalu lelah kata ibuku.

 

Ternyata wisuda itu sangat melelahkan dan melunturkan selera makan seseorang.

 

Tak ada kepulan lagi dari atas piring-piring saji. Semuanya telah dingin sedingin senyum ibu. Kupandangi piring ibu yang hanya berkurang satu sendok. Apa aku tadi terlalu banyak memasukkan garam? Ataukah ayam yang kumasak itu terlalu alot? Ataukah belum matang? Mendapati rautku ibu langsung menyuapkan lagi sendoknya.

 

Kami berdua makan tanpa banyak bersuara. Karena sedari kecil, saat aku hendak bertanya, ibu selalu menempelkan jari lentiknya diatas bibir. Aku sedikit merengut. Tadinya aku hendak meminta adikku untuk menunjukkan foto-foto saat wisuda itu. Aku yakin adikku adalah yang tercantik diantara deretan gadis-gadis lain di aula kampus itu. Aku yakin senyum riangnya terlukis indah di balik layar kamera digital yang kuhadiahkan tahun lalu. Kamera yang ditunjuk olehnya saat kami berdua jalan-jalan di mall tempo hari. Dan aku menabung gajiku selama beberapa bulan untuk menghadiahkannya sebagai kado ulang tahunnya.

 

Beberapa kali aku menengok ke arah kamar adikku yang dari kamarnya terdengar musik  yang berdentum-dentum. Ibu tak menoleh, padahal biasanya ibu akan memarahinya karena maghrib bukan waktu yang tepat untuk mendengarkan musik. Beliau akan mengingatkan untuk mengambil air wudlu dan segera menghadap tuhan. Dan juga mengingatkan bahwa tetangga kami yang cerewet itu sering mengocehkan hal itu.

 

Ibu menyuruhku untuk sholat karena Maghrib terlalu pendek untuk berlama-lama makan. Segera kurapikan piring kotorku dan memisahkan sisa nasi ibu, padahal dulu ibu selalumarahi kami semua yang menyisakan makanan. Menyia-nyiakan rejeki dari tuhan, dan makanan yang tersisa pasti akan menangis bila tak dihabiskan. Begitulah kata-kata ibu dulu. Tapi aku tak banyak bicara, aku hanya menaruhnya di dapur dan kembali merapikan piring-piring di bawah tudung saji itu, berharapa adikku akan makan saat perutnya merasa lapar.

 

Aku melenggangkan kakiku untuk mengambil air wudlu. Menjangkau air yang dingin membekukan itu untuk membersihkan diriku. Di balik cermin, terpantul wajahku yang gelap itu masih berbulir-bulir air wudlu. Memperlihatkan diriku yang sudah berumur 33 tahun.

 

Aku memang tak secantik adikku. Aku tak memiliki hidung bangir seperti hidung adikku. Aku juga tak punya bibir tipis dan mungil itu, jugalesung pipit pada pipinya yang halus bak pualam itu. Aku tak punya kaki yang jenjang dan tubuh ramping seperti adikku. Adikku adalah duplikasi ibu saat muda, cantiknya ibuku bahkan masih kentara saat ini. Benar kata orang, aku mewarisi segala ayahku yang sedari tujuh tahun lalu sudah disisi tuhan.

 

Aku juga tak secerdas adikku. Aku tak pernah berdiri di podium sambil membacakan pidato perwakilan siswa. Tak ada piala atas namaku di dalam lemari. Tak ada piagam yang memajang namaku diatas piagam yang berjejer di dinding ruang tamu ini. Semua atas nama adikku yang indah itu.

 

Aku kembali teringat bahwa waktu itu terus berjalan, dan tak lama lagi isya akan menjelang.

 

Langkah kakiku terhenti ketika aku berada di depan pintu kamar adikku. Dentuman musik itu berhenti. Digantikan suara adikku yang menyalak-nyalak.

 

“Ibu. Umur kakak sudah tiga puluh tiga. Dan sampai sekarang pun tak kudengar ada lelaki mendekatinya, bahkan supir truk sekalipun. Kalau aku terus saja menunggunya menikah, selamanya aku tak akan menikah Bu”

 

Aku terdiam. Tubuhku terasa kaku. Mendengar perkataan adikku rasanya aku ingin berlari ke kamarku. Tapi serasa ada paku besar yang menancapi kakiku sampai tembus ke ubin. Dan hanya desah ibu saja yang kudengar.

 

“Dia itu tahun depan akan menjadi seorang dokter spesialis Bu. Apa itu tak tahu bagaimana hebatnya seorang dokter? Aku akan menjaadi istri seorang dokter Bu. Belum lagi keluarganya juga tadi sudah mendesak. Katanya dia akan ditempatkan di luar kota. Sekarang apa lagi yang Ibu tunggu?”

 

Aku pun mendengar suara hempasan saat beliau terduduk di ranjang adikku. Desahnya seakan menanggung berat atas tanggung jawab seorang ibu. Ibu dari dua anak perempuannya. Dan suara serak ibu mulai terdengar, setengah berbisik.

 

“Harta peninggalan ayahmu telah habis terjual demi membiayai sekolahmu. Kakakmu yang tak tamat SMA itu tak pernah mengeluh selepas bekerja, demi siapa? Itu demi membeli baju karena kamu selalu merengak minta dibelikan baju olehnya.”

 

Tak apa Bu, aku bahagia bisa melakukan itu semua demi adikku, jeritku lirih dalam hati.

 

“Kamu tahu, kalau saja dulu kamu tak mengalami kecelakaan dan butuh uang yang banyak untuk operasi, mungkin sekarang kamu sudah punya keponakan yang berlari kesana-kemari dan meramaikan rumah ini”

 

Aku tertegun mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Saat itu keluarga kami sedang dirudung bahagia. Atmosfir bahagia itu melingkupi setiap malamku. Aku akan menikah. Meski calon suamiku tak setampan dan sehebat sangka orang, tapi aku bahagia karena dia seperti ayahku, sederhana dan tak banyak bicara. Rencana telah dimatangkan, waktu sudah ditentukan. Tapi kabar duka datang menghinggapi keluarga kami.

 

“Kamu tak tahu betapa kalutnya kakakmu saat itu. Kamu adalah apa yang paling disayangnya. Dia jahitkan baju lebaran untukmu, dia belikan buku tebal untukmu. Bahkan dia rela membatalkan pernikahannya yang tinggal seminggu itu demi membiayai biaya berobatmu…kamu tak tahu itu karena kamu sedang terbaring di rumah sakit…”

 

Akhirnya paku itu tercerabut dan dengan badan gemetar aku berlari ke kamarku, menghamparkan sajadah menghadap kiblat dan memakai mukenaku yang putih gading dan sedikit lusuh. Mataku perih. Tapi tidak, aku tak boleh menangis. Seorang kakak itu harus kuat demi adiknya. Siapa yang akan melindungi adiknya bila aku adalah kakak yang lemah? Aku tak boleh menangis karena aku seorang kakak.

 

Aku mengangkat kedua tanganku dengan mata terpejam. Aku hanya bisa melantunkan ayat demi ayat dalam hatiku, karena mulutku sekarang terasa keram. Dan saat telunjukku mengacung keras menunjuk kiblat, aku kalah. Air mataku deras membasahi mukenaku. Selepas kedua tangan meraup wajahku setelah salam terakhirku, aku merundukkan wajahku mencium sajadah. Menangis tersedu dan menumpahkan segala keluh kesahku pada tuhan. Tuhan yang maha adil. Tuhan yang maha tahu. Ya, Dia tahu kenapa sampai saat ini Dia belum mempercayakanku seorang imam. Dia tahu bahwa aku belum bisa jadi makmum yang baik untuk suamiku kelak. Dia mengingatkanku untuk masih harus menjaga adikku dari kejamnya zaman.

 

Tapi sekali lagi, aku seorang kakak. Seorang kakak itu harus kuat demi adiknya.

 

Aku kembali duduk dan menyeka air mataku. Dan mataku terbelalak menangkap raut wajah sendu di sampingku. Satu tetes air mata menitik di ujung matanya yang hitam pekat itu. Bibirnya bergetar, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Tapi aku hanya berusaha mengusap air matanya, takut merusak riasannya dan mengurangi cantiknya. Tidak, dia harus tetap menjadi adikku yang cantik.

 

Tapi sesaat sebelum tanganku menyentuh pipinya, dia memelukku erat. Tubuhnya berguncang-guncang dan suara tangis itu terasa menykitkan dadaku. Dadaku terasa penuh oleh air mata yang tertahan selama bertahun-tahun, yang hanya mampu sedikit tercurah di sepertiga malam terakhirku.

 

“Maafin adek Kak. Maafin adek yang tak tahu diri ini…”

 

Hanya itu yang mampu kudengar disela isak tangisnya. Dua kata itu mewakili semua kata yang sudah kumaafkan bahkan sebelum kata itu terlontar dari bibirnya. Dua kata itu tak selayaknya terucap dari bibirnya. Karena bagaimana pun dia, aku adalah kakaknya.

 

*****

 

Aku sedang memainkan bulir-bulir tasbih di sela jemariku. Aku tersenyum sambil menatap sebuah kado kecil yang tadi kuambil dari dalam lemariku, sebuah kotak kecil berisi apa yang selama ini dia inginkan. Tampak adikku yang kini sedang berdiri sambil menunduk menghadap tuhan. Dan selepas dia mengucap salam, dia duduk di sampingku. Tanpa banyak kata aku mengangsurkan kotak berbalut pita warna merah muda ke arahnya. Dia tampak tertegun dan menatapku penuh arti. Matanya kembali bening oleh air mata. Dan kini dia kembali memelukku. Kubisikkan di telinganya..

 

“Selamat ulang tahun, adik tercantikku..”

 

Dia tak menjawab, hanya sengguk tangisnya di pundakku yang kudengar.

Aku berdiri dan merengkuh dua mushaf kitab suci. Memilihkan surat ar Rohman dan dia membacanya dengan suara lembutnya juga lengkingnya yang indah. Dialah adik yang kubanggakan.
Berulang-ulang dia melafalkan dengan fasih huruf berbahasa arab itu dengan sedikit terisak..

 

“Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan…”

 

Dan aku berujar dalam hati, “sungguh, nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan???”

Adikku mencium takjim tanganku, dan aku hanya mampu mencium keningnya. Mengahturkan segala do’a terbaik untuknya. Memintakan apa-apa yang bisa membuatnya selalu tersenyum. Memintakan pendamping yang gagah untuknya. Dan sampai waktu itu datang, aku akan tetap mendampinginya. Selama waktu itu aku ingin menjadi kakak terbaik untuknya.

 

 

END

 

*****

Cerpen ini aku buat saat aku ingat kakaknya teman CLOPP-ku. Aku masih ingat dulu saat aku masih STM, setiap aku kerumah kawanku untuk ‘numpang makan’, kakaknya temanku selalu kegirangan. Dia selalu melenggang ke warung dengan riangnya dan membuat masakan seadanya yang bagiku terasa lezat sekali karena itu dimasaknya dengan bumbu cinta dari hati. Dia selalu bilang bahwa dia telah menganggapku selayaknya adiknya sendiri.

Di balik sikap polosnya, dia adalah seorang kakak yang yang amat sangat baik hati dan terlihat cantik dari lembut hatinya. Senyum sabar itu tercetak saat dia membantu memakaikan gaun pengantin untuk adik perempuannya. Tangis ikhlasnya tercermin dari bening bulir air matanya yang jatuh saat melihat walimatul urs adik perempuannya. Dan sekali lagi, cerpen Karena Aku Seorang Kakak aku persembahkan untuk Teh Imas, kakak perempuan yang layak mendapat gelar kakak terbaik di dunia, bersama kakak perempuan kandungku.