CUAP2 NAYAKA
salam…
ada yang tau ABI ZAENAL? yg sudah tahu, bagus… berarti tulisan2nya juga sudah familiar buat kalian. bagi yg belum tahu, maka ini satnya utk tahu.

DKN mendapat kehormatan dari Kawan Abi utk mempublish tulisannya, dan ini adalah BENG BENG. Yap, coklat kacang beng beng yg lezat itu (yg blm pernah icip, minta uang jajan sama mama yaa…)

seperti apa rasa BENG BENG dari Kawan Abi? rasakan sendiri dan beritahu seperti apa lezatnya di kolom komen.

happy reading.

wassalam
nayaka

 

Baiklah, ini adalah sebuah cerpen yang aku tulis khusus untuk seorang kawanku, Nduk si hasemeleh, pecinta SUJU kelas wahid. Mungkin kisah ini tak ada kaitannya dengan salah satu mozaik hidupnya.

Tapi sok dinikmati welah karya artis asal Garut ini. Muehehe.

Jangan lupa kripiknya ya~~~

BENG BENG

 

Matahari menyembul di timur laut, tampak kemerahan seperti bayi yang baru lahir, menggemaskan. Hangatnya sampai menguapkan butir-butir embun yang dengan tenangnya hinggapi pucuk rumput-rumput berdaun jarum itu. Hawa dingin mengabut itu kelur dari mulut kecilmu, menandakan hari ini memang cukup dingin. Bahkan membuatmu semakin merekatkan jaket yang membalut tubuh ringkihmu.

 

Tapi hari ini senyuman manis itu nampak jelas terkulum di bibir manismu yang jarang mengeluarkan kata itu. Kamu acuhkan segelas susu hangat yang dijerangkan oleh ibumu. Kamu hanya mengambil apa yang diletakkan ibumu disamping pisin tempat gelas itu tegak.

 

Dua bungkus lebih tepatnya. Satu untukmu, dan satu lagi untuk seseorang yang pasti sudah duduk di bangku kelas yang sedang dituju olehmu. Dan ini adalah bungkus ke tujuh yang akan kamu serahkan seperti hari kemarin. Sebuah pita kecil yang manis diikatkan di tengahnya, pita biru muda yang meliuk terlipat indah itu.

 

Kamu meraih sepeda putih mengilat yang tergolek di belakang rumahmu, mengayuhnya dengan riang bahkan bersiul-siul penuh nada. Nafasmu tersengal saat mendaki tanjakan, tapi lagi-lagi senyuman itu tak juga lepas dari bibirmu. Senyuman itu sudah tercetak sedari shubuh tadi, meskipun gigimu gemelutuk karena bekunya shubuh hari ini. Senyum manis tanpa syarat.  Kayuhanmu tak juga mengendur bahkan semakin menderas jalan berbatu sesaat setelah nampak ujung bubungan sekolah itu.  Kamu harus segera kesana, mendahului siswa-siswa lain.

 

Selepas mengusapnya dengan kain perca dan mengunci sepedamu, dan tak lupa kamu sematkan secarik kertas yang wangi baunya dan bertulis tanganmu, kamu berlari menuju ruang kelas itu. Tanah masih basah oleh air yang baru disiramkan petugas yang sudah tampak tua itu. Bahkan sapaan penjaga sekolah itu juga hanya lalu ditelingamu. Ya, kamu tuli saat ini. Kamu gagu saat ini. Yang bisa kamu lakukan hanya dua hal, tersenyum dan berlari menderas jalan.

 

Nafasmu semakin memburu saat pintu kelas itu terbuka. Kamu menyeka bulir-bulir keringat di dahimu dengan handuk kecil yang selalu diselipkan ibumu di saku belakang celanamu. Benar saja, seorang anak lelaki tampak sedang membaca buku sendirian, di sudut kelas yang masih sepi ini. Karena kamu tahu, dia akan selalu paling awal duduk di bangku itu, mendahuli kawan-kawanmu yang lain. Menumpang mobil kolt dan bersanding dengan sayur-sayur yang hendak ke ke pasar.

 

Lagi-lagi kamu tersenyum, mencoba bersikap tenang sambil berjalan menjangkau kursi disebalah kawanmu yang sedang menggenggam buku. Kamu duduk tanpa bersuara. Tak mau mengganggu keasikan karibmu itu. Tapi deru nafasmu tentu saja terdengar olehnya meskipun kamu telah sekuat tenaga mengatur hembus nafasmu. Detak jantungmu yang berdegup seperti musim lebaran pun juga pasti terdengar oleh kawanmu itu. Dan kamu masih tersenyum bahkan saat kawanmu memalingkan muka darimu.

 

Tangan putihmu mengangsurkan apa yang tadi dibalut dengan pita biru muda tadi. Lagi-lagi kawanmu itu mendengus seolah kamu tadi telah begitu berisik didepan telinganya.

 

“Beng Beng lagi? Ini sudah kali ketujuh kalinya kamu memberiku sebuah beng beng. Dan..apa ini? Kenapa kamu membalutnya dengan pita? Kamu…aneh”

 

Pandangan jijik itu dengan ujung bibir tertarik sebelah tak melunturkan senyum itu. Dan kamu mengangsurkan kembali dan dengan mendengus-dengus kawanmu menarik kasar, bahkan hampir memustukan pita kecil itu dan melemparkannya ke kolong meja dengan kasarnya. Matamu yang kecil itu sedikit meredup, tapi senyum itu kamu usahakan tak berkurang sesentipun.

 

Dan kini kamu meninggalkan kawanmu yang kembali menenggelamkan dirinya dalam buku yang sedang dijelajahi oleh matanya yang gelap itu. Kamupun melenggang meninggalkannya sendiri sambil memainkan tali tas yang melintangi pundakmu.

 

*****

 

Suasana kelas masih ramai, seperti biasa. Tapi kamu hanya duduk di sebuah bangku taman di depan kantor sekolah itu. Kamu tak tahu bahwa kawanmu tampak mencari-cari sosokmu, sosok yang minggu lalu dia tinggalkan dan lebih memilih bertukar tempat duduk dengan kawan yang lain demi menghindarimu. Kawan yang kesehariannya tampak begitu enggan di dekatmu kini merasa gelisah karena tak mendapatimu di ruangan kelas. Tak ada acungan tanganmu yang bisa menjawab pertanyaan guru tentang fungsi organ-organ tubuh. Tak ada sipu malumu saat guru memuji nilai sempurnamu. Tak ada tawa renyahmu saat dia menceritakan cerita-cerita lucu.

 

Kamu tak tahu itu, karena sekarang kamu sedang menunggu ibumu keluar dari ruang kecil yang sedikit mewah dari ruang yang lain itu, mengahadap orang yang berwenang paling tinggi atas apapaun di sekolahmu.

 

Tak terhitung berapa kali kamu memandangi jam tangan itu, jam tangan yang kawanmu pilihkan saat kamu memintanya untuk menemanimu jalan-jalan mencari jam tangan. Karena kamu bilang kamu butuh jam tangan sekarang, demi tahu jam berapa saja kamu harus segera berangkat untuk les. Padahal kawanmu tak pernah tahu bahwa hari itu adalah hari ulang tahunmu.

 

Dan akhirnya kamu bernafas lega karena ibumu telah nampak, mengapit berkas dibawah ketiaknya. Sebuah tas juga tersampir di lekuk sikut ibumu, menghiasi gelung raut ibumu yang masih tampak energik itu. Ibumu itu tampak cantik dengan rok selutut dan sepatu berhak rendah.

 

Ibu dan juga kepala sekolahmu dan juga beberapa guru tampak menghampirimu. Mengusap rambutmu yang keemasan itu.

 

“Kami semua akan sangat kehilanganmu Nak. Kamu yang rajin ya belajar di sekolahmu yang baru. Dan SMA negeri ini akan sangat-sangat merindukan siswa sepertimu”

 

“Sering-sering lah main ke SMA ini Nak, meskipun kamu tak lagi bersekolah disini tapi kami yakin, teman-temanmu akan sangat merindukanmu.”

 

Dan lagi-lagi kamu hanya membalas dengan sunggingan senyum. Tak mau berkata-kata, padahal aku tahu dadamu sesak bukan buatan. Kamu tetap kukuh memegang janjimu pada kawanmu itu untuk tak pernah lagi menangis, seperti janjimu tujuh tahun yang lalu saat kamu dikelilingi berandal-berandal berseragam putih-biru itu.

 

*****

 

Aku yakin kamu masih ingat, suatu sore yang teduh tujuh tahun lalu. Kelas lima SD lebih tepatnya. Saat kamu melenggang riang selepas belajar bersama kawanmu, kamu tersentak oleh hadangan beberapa berandal bercelana seragam biru. Mengulurkan tangannya meminta uang yang setiap harinya ibumu selipkan di saku bajumu. Kamu merengut, karena kamu rela tak jajan bersama yang lain demi membeli sesuatu esok hari bersama kawanmu.

 

Tapi akhirnya kamu hanya bisa menangis beteriak-teriak diantara derai tawa berandal berusia tanggung itu yang memegangi kedua tanganmu. Kamu masih meronta, memelas dan mengiba agar uang kamu tak diambil olehnya. Tapi kamu waktu itu masih terlalu kecil untuk melawan. Dan kamu hanya bisa tersungkur sembari menangis sampai akhirnya kawanmu yang berambut kriting gimbal itu datang.

 

Dia datang dan terus memarahimu sambil menggendong tubuhmu. Dan di ujung isakanmu, kamu tersenyum mendengar ocehan kawanmu tentang kamu yang begitu lemah. Dan saat itu, kamu memegang janji, janji yang kamu pegang sampai saat ini. Bahwa kamu tak akan pernah menangis lagi.

 

Dan hari itu pula, kamu mulai merasa bingung dengan apa yang kamu rasakan dalam hatimu. Kamu bertanya-tanya, apakah ini cinta? Tapi definisi cinta sendiri masih tak lazim untuk anak sekecil kamu saat itu. entahlah, hanya kamu yang tahu apa yang kamu rasakan.

 

****

 

Lagi-lagi kamu hanya tersenyum. Memandang ke arah kelas yang kemarin masih sempat kamu tertawa di dalamnya. Menerawang saat kawanmu mencontek tugas dan saat kamu menjelaskan rumus yang berderas-deras. Aku tahu dadamu sesak, dan kulihat tanganmu mengepal saat mengingat semua kenangan yang tercetak setahun ini.

 

Tapi sayang, kamu tak melihat bagaimana raut bekas kawan sebangkumu itu. Bagaimana rupa gelisahnya saat gurumu yang sedang berdiri di depan kelas memberi tahu seluruh kawan sekelasmu, bahwa kamu akan pindah sekolah dari sini, meninggalkan dia dengan kebingungan atas perasaannya. Meninggalkan dia dengan rasa bersalah karena mengacuhkanmu belakangan ini. Meninggalkan dia dengan penolakan atas rasa yang selama ini membuncah dan membuat kalut dirinya.

 

Kamu tak melihat matanya yang tampak memerah saat dia berlari menghambur ke arahmu saat guru di kelasnya telah menutup pintu. Ya, kamu hanya tersentak saat kawanmu yang kamu sayangi itu merangkulmu erat. Badanmu tampak bergetar saat yang lain ikut memberondongmu dan mengelu-elukanmu. Kamu yang selama ini tak banyak tingkah. Kamu yang selama ini kadang mereka ledeki karena keenggananmu bermain bola. Kamu yang selama ini sering disoraki seperti Batman dan Robin dengan kawanmu itu karena kalian berdua serenteng dan tak terpisahkan. Dan satu tetes air matamu akhirnya jatuh, menitik di pundak kawanmu yang sekarang masih tersedu.

 

Dan saat kawanmu menarik tanganmu, kamu hanya berusaha menyesuaikan langkahnya, tergopoh-gopoh mengikuti langkah panjangnya. Kalian berdua terdiam di bawah pohon kersen yang berbuah merah kecil-kecil itu. Kamu meraba batangnya. Mengingat saat dulu kawanmu mengulurkan tangannya hendak membantumu naik ke dahannya. Meyakinkanmu bahwa ketinggian itu adalah hal indah dan bersensasi. Mengingat saat kawanmu menantangmu bergelayut paling lama di dahan itu. Dan kamu tertawa lirih.

 

Kawanmu membersihkan daun-daun yang terserak lantas duduk bersandar ke batang kersen itu, seperti bulan-bulan lalu sebelum dia menjauh darimu. Dia memeluk lututnya dan dia menangis tanpa suara. Kamu tak tahu bahwa sesal itu meledak-ledak dalam dadanya. Marah dan takut itu bercampur aduk tapi tak mampu dia ucapkan. Dia juga ingin katakan bahwa dia merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi kelumrahan tak mengizinkan dua insan berkelamin sama bahagia mereguk indahnya asmara.

 

Kamu ikut duduk disampingnya. Memegang bahunya yang kokoh. Kamu mengangkat wajahnya, menyeka keringat dan air matanya dengan handuk yang selalu terselip di saku celanamu. Dan senyum terbaikmu kamu ulaskan di bibir tipismu. Senyum yang membuat kawanmu meraih tanganmu dan menciuminya, membasahi tanganmu dengar linang air matanya. Dia tak lagi peduli pada pandangan kawan-kawan sekelasmu.

 

Dan kalian berdua hanya diam. Diam yang sesak. Diam yang menjelaskan banyak hal, banyak rasa dan banyak kenangan. Kalian berteriak lewat tatapan mata, lewat desah nafas, lewat erat genggaman tangan. Dan ulasan senyum terakhirmu tersungging, dengan tangan mengulur, menyerahkan sebuah benda kecil di genggam tanganmu.

 

“Ambil kunci ini. Aku akan menemani setiap harimu. Aku akan menemani kamu di tiap pagimu, mengantarkan dengan derasku. Ya, aku akan menggendongmu. Mengantarkan kemanapun kamu hendak pergi. Membuatmu melesat diantara jalan berbatu dan terjal liku jalan ke rumahmu.”

 

Kawanmu hanya menatap matamu yang kini mulai merah. Dan dia mengeluarkan tujuh bungkus Beng Beng dalam sebuah plastik bening. Tampak olehmu, satu bengbeng berbalut pita biru muda.

 

“Tujuh bungkus Bengbeng ini mewakili tujuh tahun kebersamaan kita. Tujuh tahun perasaan yang kusemat dalam hatiku. Dan hari ini, aku pamit. Dan maaf karena aku mencintaimu tujuh tahun ini..”

 

*****

 

Kamu tampak melihat ke arah jendela mobil yang dikemudikan ibumu yang cantik itu. Tak menjawab setiap pertanyaan yang ibumu lontarkan. Tak tersenyum mendengar liburan yang ibumu tawarkan. Aku tahu pikiranmu tak ada di dalam ragamu. Kosong. Pikiranmu melayang menikmati tujuh tahun kamu bersama karibmu itu.

 

Tapi kamu tak tahu, sekarang kawanmu sedang tersedu di samping sepeda yang kamu hadiahkan padanya pagi ini. Dia meratapi penyesalannya. Dia mengutuki keegoannya. Dan dia tak mampu berkata-kata. Dia selalu bilang padamu bahwa dia tak pernah mau menerima apapun dari kamu, karena miskin baginya bukan berarti mengiba. Dan kamu tak mendengar janjinya untuk membuatkan kotak indah berukir untuk tujuh bungkus Beng Beng darimu.

 

Dan kamu tak mendengar bagaimana dia lirih menyematkan nama Beng Beng pada sepeda putih yang hadiahkan padanya, sepeda yang kamu beli dari uang tabunganmu selama tujuh tahun itu.

 

END