Stasiun Tugu Jalur3
Perjalanan ini bukan sajak tiba-tiba dari sebuah hidup. Ini adalah tumpukan kenang yang selalu kutitipkan pada tiap-tiap gerbong kereta.

Kita bertemu di Tawang, ketika gambang Semarang mulai mengalun. Lalu peluit-peluit itu mendesing dan keretamu datang dari barat.

Waktu menjadi penghubung hati kita. Diantara keroncong penyambut kedatangan dan bangku-bangku tunggu yang sekarang ini tak lagi muda.

Kau duduk disampingku bertanya perihal waktu, lalu kotaku, perjalananmu, hingga buku dipangkuanku. Ada yang menggelitik perut ketika kutemukan semua keramahan yang terselip diantara senyummu, lalu membuatku malu dan tertunduk sesekali waktu.

Sajak perjalanan ini bukan kali pertama tercipta. Ini adalah sebuah harapan yang selalu saja kutinggalkan pada peron-peron stasiun yang makin menua. Lalu kau datang dengan semua doa pada tiap malamku. Lelaki dari arah jalur Banyubiru yang tak lagi berfungsi sejak beberapa tahun lalu.

Aku dan kamu lalu berkolaborasi menulis cerita hidup. Beberapa purnama terlalui dan kini aku akan datang menuju kotamu.

Aku memilih kereta daripada mencium knalpot kendaraan kota. Parmeks melaju membelah entah apa yang dilewatinya, hutan, pinggiran jalan, persawahan dan semua kisah orang.

Stasiun Tugu. bangku tunggu dan sebuah cerita.

Kereta datang lebih cepat dari berita keterlambatanmu menjemputku. Dan diantara jedanya seorang laki-laki disebelahku bersedia mengisinya.

Dia tak cukup tinggi darimu, parasnya campuran antara keteguhan mahasiswa muda dan kelembutan wanita.

Penantian disebuah stasiun. Ah, aku ingat diriku sendiri. Mungkinkah kisahnya berawal dari peron tua dan bangku tunggu juga. Entah.

Waktu berjalan lambat dan dia adalah kereta ekspres. Kau akan menemukan percakapan yang menggebu dari lelaki muda ini. Aku mengulas senyum diantara kenang yang dia kisahkan.

Kawan lama. Saudara. Atau semacam adik. Semua rasa nyaman menyeruak diantara kaki-kaki tertahan oleh kata tunggu dari kekasih. Dia sama sepertiku. Sedang menunggu.

Lalu senja mulai menyembul dari balik rel-rel yang melengkung, jalan bagi seribu kisah penumpang kereta. Kau menegurku, dengan terengah dan meminta maaf.

Detik berikutnya, aku menyerahkan gulungan hijau kepada pemuda itu.

“Undangan pernikahan kami. Datanglah bersama kekasihmu.”

 

 

Semarang, 28 Januari 2013

—————————————————-

Tulisan Januari lalu yang aku remake sedikit hari ini.