Burung Kertas cover

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Izinkan aku berkata panjang lebar kali ini.

Jika Dewi ‘Dee’ Lestari punya Perahu Kertas, maka Nayaka ‘Ehem’ Al Gibran punya Burung Kertas, (Eh? Burungmu bukannya Cucak Rowo ya nay?), tapi jangan salah mengira aku nyontek2 Dee ya, engga. Bukan pula ikut-ikut. Ide menulis cerita ini sudah ada setelah aku nulis LELAKI beberapa waktu lalu. Bulan Desember tepatnya, namun saat itu idenya belum matang hingga aku gak bisa menggoalkannya di bulan Desember, alih-alih aku malah mematangkan konsep Orlando’s Diaries sebanyak 3 seri. Tapi sudah menjadi kebiasaanku, jika sudah kepikiran sebuah tema cerita, aku langsung membuka Ms Word dan membuat file dengan nama judul cerpen yang akan aku realisasikan, sama kasusnya dengan LELAKI, Burung Kertas juga langsung kubuat judulnya di MS Word meski isinya belum ada, hanya judul dan sebait syair pembuka saja. Kenapa bisa kepikiran burung kertas? Jawabannya ada dalam syair pembuka. Tiba-tiba saja ketika kepikiran tema cerita ini aku langsung menganalogikan benda mati yang indah semisal burung kertas untuk kutuliskan sebagai syair. Akhirnya, ya Burung Kertas. Hehehehe…

Lebih 13.000 kata, Burung Kertas menjadi cerpen terpanjang yang pernah kucakar sejauh ini. Menurutku tak pantas lagi disebut cerpen, andai tidak kuposting sekalian, mungkin ini layak disebut mini seri.

Aku bilang, temanya agak sensitive. Maka dari itu aku mohon diperbanyak maaf jika ada di antara sahabat yang merasa tidak nyaman ketika membaca Burung Kertas. Aku juga minta diperbanyak maaf jika ada fakta-fakta yang aku tuturkan dalam Burung Kertas yang bertentangan dengan keadaan sebenarnya. Aku minta maaf dan sila aku ditegur agar bisa memperbaiki tulisan ini.

Sedikit curhat (lirik Mbak Afni), aku nyaris tak bisa menamatkan Burung Kertas ketika sampai di sepertiga akhir. Emosiku labil, aku sempat mengadu pada Mbakku bahwa aku terjebak alur tulisanku sendiri untuk pertama kalinya. Sial, aku tak pernah merasa se-gak jelas itu sebelumnya ketika menulis. Tapi itulah yang terjadi, aku berhasil dikalahkan tulisanku hingga harus mengambil jeda untuk tidak melanjutkannya sampai emosiku jelas lagi. Kekekeke…

Akhirnya, kuserahkan cerpen ini buat kalian. Beritahu Nayaka apa yang kalian rasakan ketika menamatkannya ya… aku harap, semoga kalian menikmati membaca BURUNG KERTAS seperti aku menikmati (ragu deh kayaknya) ketika menulisnya…

Wassalam

Nayaka Al Gibran

##################################################

Seperti burung kertas….

Meski bersayap, namun ia tak dapat terbang

Ia tak bisa mengepakkan sayap lalu melanglang buana

Ia mustahil bergerak mencapai cakrawala luas

Karena bagaimanapun cantik wujud burung kertas,

Ia tetaplah sehelai kertas

Ia diam dan mati…

***

Ulee Lheue, 31 Desember 2012

Aku masih merasa canggung dengan diriku. Meskipun dulu pernah satu kali mengenakan peci dan baju koko yang kekecilan di badanku, tapi tetap saja saat ini rasanya bagai baru pertama kali aku menggunakan dua benda ini.

‘Kalau baju kokonya memang ukuranmu mungkin kamu bisa terlihat kayak muallaff…’

Apa benar aku tampak bagai muallaf? Senyum menyeruak di wajahku saat mengingatnya.

Kuperhatikan lagi keadaan diriku sebelum turun dari taksi yang mengantarku dari Hotel Medan di kawasan Peunayong menuju kemari. Baju koko-ku warna hitam, aku baru membelinya beberapa jam lalu, begitu masuk dalam toko pakaian muslim yang ada di Pasar Aceh Shoping Centre, aku langsung tertarik dengan baju ini. Bukan karena coraknya yang bagus berbordir sulam emas di dada hingga ke leher, dan juga di ujung lengannya, tapi lebih karena warnanya yang hitam pekat.

Aku menyentuh kepalaku, peci rajut ini juga berwarna hitam. Masih kuingat Bapak yang punya toko berkata ketika aku bertanya apakah ada warna hitam yang sama untuk tutup kepalaku, ‘Saya tidak akan menawarkan peci warna lain jika Anak memilih koko yang itu…’ begitu jawabnya, dan aku tidak menawar ketika mengeluarkan dompet untuk menjadikan dua benda ini milikku.

“Mas mau ke pelabuhan dulu baru nanti pulangnya mampir kemari? Saya bersedia menunggu barang setengah jam jika Mas ingin melihat-lihat pelabuhan…” Sopir taksi, pria lingkungan 40-an yang terlihat simpatik membuyarkan lamunanku, dia memanggilku ‘Mas’ mungkin dia mengira aku Orang Jawa. Bahasa Indonesianya lancar tanpa logat, tapi aku yakin dia adalah pribumi, wajahnya menunjukkan demikian. “Lagi pula, di sini masih terlalu sepi, biasanya agak sore nanti ramai pengunjung…” lanjutnya.

Aku tersenyum, menyadari bahwa aku sudah membuang-buang jam kerjanya dengan tidak segera turun sejak lebih lima menit lalu taksinya berhenti. Meski tampaknya dia sama sekali tak keberatan aku berlama-lama, bahkan bersedia menunggu jika aku ingin melihat-lihat pelabuhan lalu mengantarku kembali kemari, tapi tetap saja aku tak boleh memanfaatkan sifat baiknya, pasti di hotel sana ada orang yang ingin menggunakan jasanya.

Aku mengambil toples kaca bawaanku yang kutaruh di jok di sampingku “Tadi Bapak sudah membawa saya keliling Lampulo, sudah lebih dari cukup kok. Tak mengapa, Pak… saya turun sekarang saja. Saya memang berencana berlama-lama di sini…”

Bapak itu mengangguk ramah.

Aku membuka pintu.

“Baik-baik, Mas…” serunya setelah aku menutup pintu taksi.

Aku membalas dengan mengangkat tangan kananku sambil mengangguk.

“Apa harus saya jemput lagi nanti?” kepalanya melongok dari pintu.

Aku diam sejenak lalu menggeleng, “Saya tidak yakin akan selesai di sini tepat jam berapa…”

Dia mengangguk-angguk mengerti. Setelah melambai padaku dan mebunyikan horn satu kali, taksinya bergerak maju.

Aku menghela napas, memegang toples kaca di tanganku kuat-kuat seakan takut benda itu akan meluncur jatuh dan pecah menghamburkan isinya. Setelah delapan tahun, setelah mengumpulkan kekuatan dan memantapkan hati, baru kini aku mampu kemari. Aku harus melangkah sebelum pijakanku goyah.

Kupandangi pintu gerbang hijau sangat besar berjarak satu meter di depanku, tingginya membuatku mendongak. Gerbang besar ini dibangun dengan lima pintu besi dalam satu rangkaian, ada tulisan di tiap pintu yang sepertinya bersambung antara satu dan lainnya. Pintu yang cantik. Kembali aku mengisi paru-paru dengan udara beraroma garam hingga dadaku mengembang. Aku mengayunkan kaki kananku, mengambil langkah pertama untuk masuk kedalamnya.

Hamparan rumput menghijau menyambutku begitu melewati gerbang besar, tak ada jengkal tanah yang tak hijau di dalam sini, semuanya tertupi rumput yang menghampar rapi hingga ke sudut-sudut. Begitu luas, aku sampai harus memicingkan mata saat memandang tembok yang memagari sekelilingnya.

Kehijauan ini, sama persis seperti yang kulihat berkali-kali dalam lenaku. Aku sudah berada di tempat yang benar. Kutarik napas dalam lagi…

Bagaimana caranya aku bisa tahu? Sudut mana yang harus kupilih sebagai dirimu? Sisi hijau mana yang harus kudatangi untuk melepaskan isi toples-ku?

Lalu aku berjalan ke satu sudut hijau terpilih…

***

Padang Bulan, akhir Agustus 2003

Aku baru saja meletakkan koper berukuran lumayan besar di teras rumah yang akan menjadi kediaman baruku selama menuntut. Pinggangku lumayan pegal, duduk hampir 6 jam dari Kisaran kemari tidaklah nyaman. Selain pinggang dan punggungku yang rasanya kaku, leherku juga tegang. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan sekarang adalah mengguyur badanku dengan air segar lalu merebahkan diri di tempat tidur. Tapi sebelum itu, aku masih harus menaikkan barangku ke lantai dua. Kupandang koper di lantai teras dengan malas, juga ransel yang kuturunkan dari punggungku beberapa menit lalu. Penghuni kos-an ini ternyata kurang solidaritas, tidak ada yang keluar untuk membantu Si Anak Baru memasukkan barangnya. Atau mungkin mereka memang tidak sedang berada di dalam.

Aku menghembuskan napas putus asa. Welcome to the new world, Edgar.

DIN DIINNN

Suara klakson yang amat sangat keras membuatku menoleh ke gerbang, mobil travel baru saja berhenti di sana, mengantar penumpang kah? Atau menjemput penghuni kos yang mau pulang kampung? Aku berdiri memperhatikan.

Supirnya turun dan langsung menuju ke bagasi di belakang, ternyata mobil itu menurunkan penumpang. Aku tak bisa melihat orang yang diturunkan Si Supir, dia tidak keluar dari pintu berseberangan yang terlihat di depanku.

Tak berapa lama, mobil itu bergerak maju setelah Si Supir membunyikan klaksonnya satu kali. Aku masih belum beranjak dari teras, masih terus memperhatikan ke gerbang.

Di depan sana, seorang anak SMP terlihat kerepotan menyeret barang-barangnya. Dia kepayahan sendiri, kopernya lebih besar dari punyaku, hampir dua kali ukuran koperku. Selain itu, masih ada satu tas jinjing berukuran tak kalah besar di tangan kiri ditambah satu ransel segede ranselku yang bertengger berat di belakangnya.

Rasanya aku ingin tertawa melihat anak itu kepayahan. Bodoh, sudah tahu badannya kecil, kenapa maksain nyeret semua barangnya sekaligus? Tunggu, dia menuju kemari, kemungkinan dia penghuni baru juga sepertiku. Apa kos-an ini menerima bocah SMP? Seingatku minggu lalu pemilik kos-an memberitahu kalau yang ngekos di sini adalah mahasiswa semua, tapi kenapa sekarang ada siswa SMP yang menuju kemari?

Suara ribut roda kopernya menggesek kerikil jelas kedengaran. Baru beberapa langkah melewati gerbang, bocah itu berhenti. Ini juga kebodohannya, seharusnya dia meminta supirnya berbelok ke halaman sepertiku tadi, toh gerbang itu cukup luas untuk dimasuki truk besar.

Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. Saat itu, aku masih memperhatikannya. Mata kami bertabrakan, entah apa yang kurasakan, tapi mendadak saja dadaku berdebar. Hal pertama yang berhasil kuidentifikasi dari anak itu adalah, dia punya mata bundar, dari jauh pun aku bisa tahu kalau matanya juga bersinar jernih.

Dia melepaskan gagang koper dan berdiri tegak memandangku, aku juga tidak berniat memindahkan tatapanku darinya. Hal yang tak kuduga, setelah saling menatap hampir satu menit, dia tersenyum ramah sambil mengangkat tangan kanannya.

First day juga…?”

Logatnya lucu, sedikit cadal. Namun entah kenapa aku menyukainya. Kuberi dia sebuah anggukan.

“Kufikir, aku akan jadi satu-satunya anak baru di sini…”

Aku tersenyum, “Saat tiba sepuluh menit tadi aku juga berfikiran sama sepertimu…” aku berjalan mendekatinya, kuputuskan untuk mengambil alih koper raksasanya. Sesekali berbuat baik tak ada ruginya. Kuabaikan rasa pegalku yang sempat kukeluhkan beberapa menit lalu. “Pindah rumah?” candaku sambil menunjuk koper besarnya.

“Abah dan Ummiku sangat takut anak cowok satu-satunya kesulitan mendapatkan barang-barang di sini, jadi mereka sangat gigih mengisi koper mudik ini untukku…” dia menyengir.

Hal selanjutnya yang berhasil kuidentifikasi dari sosok mungil ini adalah, dia gingsul, tapi entah bagaimana itu membuat senyumnya menarik dalam penglihatanku. Aku sedikit mendapat kejutan, abah-ummi, pasti dia muslim. Selain itu, aku tambah menyukai logatnya.

“Apa mereka juga memberimu daftar?” aku bertanya sambil meraih gagang kopernya.

Dia mengernyit menatapku.

“Daftar hal-hal yang harus dan tidak boleh kamu lakukan di lingkungan baru…”

Dia tertawa, lalu menggeleng cepat.

“Yah, setidaknya ortumu lebih keren. Tahu? Aku punya daftar seperti itu dalam ranselku…” kukedipkan sebelah mataku padanya.

Kali ini dia tertawa lebih lebar. “Apa daftarnya banyak?”

“Nyaris penuh enam lembar kwarto…”

“Waow…!” bibirnya membulat.

“Coba tebak, apa yang menempati urutan pertama dalam daftar Hal Yang Harus Dilakukan…”

“Mandi dua kali sehari?” tebaknya, “Eh, tunggu tunggu… pasti mengganti kaus kaki setiap tiga hari. Iya kan? Ummiku sering ngingatin gitu tuh…”

Aku tertawa lalu menggeleng. “Di urutan pertama yang harus dilakukan adalah, tidak boleh absen berdoa tiap hari minggu…” Dia mengernyit lagi. Aku paham apa yang sedang dipikirkannya. “Aku katolik…” ujarku sebelum dia bertanya.

“Oh…” dia hanya berujar pendek.

Aku bersip-siap memikul kopernya.

“Hey… kamu akan membantu membawa koperku kah?”

Alisku bertaut, menatapnya heran. “Memangnya apa yang kamu pikir akan kulakukan di sini? Menuturkan riwayat hidupku? Of course, aku akan membantumu memasukkan koper mudikmu ini ke dalam sana…”

Kali ini dia benar-benar tertawa, “Terima kasih…”

Aku menggumam lalu mulai memikul ransel besarnya di bahu kananku. Berat, tulang leherku sampai berderak.

“Terlalu berat ya?” sepertinya dia mendengar bunyi tulangku barusan.

“He eh… kamu benar, Abah dan Ummimu sangat gigih mengisi koper ini.” Aku mulai berjalan mendahului. Di belakangku dia mengikuti sambil menjinjing tasnya, masih tetap kepayahan.

Aku meletakkan kopernya di samping koperku, setelah itu kurenggangkan leher dan badanku ke kiri dan kanan. Dia bengong mendengar bunyi tulang-tulangku yang sedang ber-extensi.

“Apa kamu sering ngangkat benda-benda berat?”

“Aku sering mikul karung beras, papaku punya gudang sembako di rumah.” Semoga dia tidak menganggap serius bualanku tentang karung beras barusan. “Lalu, apa yang dilakukan siswa SMP sepertimu di sini? Mandaftar SMA? Bukankah saat ini sudah terlalu telat untuk itu?”

Dia membeliak, “Jadi dari tadi kamu nganggapnya aku masih bocah yang baru tamat SMP?”

Aku mengangguk mantap tanpa dosa. “Kenapa harus nyambung sekolah menengah jauh-jauh hingga kemari, apa di tempatmu ti…”

“Senin besok adalah awal semester gasal pertamaku di Fakultas Hukum!” dia memotong kalimatku secepat lesatan peluru. “Aku sudah melepas seragam SMA-ku dua bulan lalu…”

Mulutku menganga. Anak sekecil ini masuk Fakultas hukum? Sulit dipercaya. Kuperhatikan lagi sosok di depanku lebih lekat. Mulai dari puncak kepalanya hingga ujung sepatunya yang kuperkirakan bernomor 36 atau 37. Sungguh, dia sangat mirip siswa SMP. Wajahnya tampak polos dan lugu meski dengan model rambut ala si kembar Nakula Sadewa, kriwil-kriwil berantakan. Kaos hitam yang dipakainya pastilah berukuran SS atau mungkin sudah dikecilkan ke tukang jahit karena ukuran SS bisa jadi masih terlalu lebar buatnya. Lingkar pinggangnya paling banter pasti 27, atau malah 26. Tingginya? Tak mungkin lebih dari 150 cm, bisa jadi malah kurang dari itu, 140 cm?

“Berapa umurmu?” akhirnya aku mampu bersuara setelah menelan ludah beberapa kali karena tercekat sendiri ketika membandingkan keterangannya dengan fakta hasil observasiku yang berbanding terbalik.

“Dua puluh enam bulan Desember nanti genap enam belas…”

“HAH…?!?” untuk kedua kalinya aku hampir melompat dari tempatku berdiri.

“Aku sempat loncat kelas saat SD, dan masuk akselerasi saat sekolah menengah…”

Aku menganga lagi. Dia lebih dua tahun di bawahku. Aku jadi ingin tahu berapa IQ-nya.

“Apa kita akan mengobrol saja atau bergotong royong memasukkan barang-barang kita… emm… maksudku, mengangkut barang-barangku. Kamu akan membantuku membawanya ke tingkat dua kan?”

Aku berhenti dari ketakjubanku terhadap sosok mungil yang kupastikan akan menjadi temanku di kos ini sebagai sesama anak baru. Kupandang dia, “Hemm… aku tak ingin melihatmu terguling di tangga gara-gara nyeret kontainer ini…” kuputuskan untuk memasukkan kopernya terlebih dahulu.

“Bagus, jadinya kamu gak rugi punya badan gede gitu…” ujarnya santai lalu menuju pintu.

“Apa kita tak perlu ngabarin Ibu Kos dulu kalau kita sudah masuk?” aku melirik rumah induk semangku yang berdiri tak kalah megah di sebelah kanan bangunan kos.

“Nanti saja, kan kunci kamarnya kita sudah punya…” dia berbalik menatapku setelah membuka pintu depan dengan kuncinya. “Apa kamu belum dapat kunci?”

Aku mengangguk, “Aku langsung dapat kunci kamar dan kunci duplikat pintu depan setelah membayar lunas dua minggu lalu.”

“Ya udah, berarti langsung masuk aja…”

Aku menggumam. Kecil-kecil ternyata dia punya mental juga. Aku berjalan mengikutinya masuk ke rumah. Kali ini kopernya kuseret. Kami melintasi satu ruang luas yang hanya berisi satu set sofa dan satu TV. Di lantai bawah hanya ini satu-satunya ruang luas yang bukan kamar. Selain itu, di sini ada 4 kamar, juga 2 kamar mandi berdekatan dengan dapur sempit yang sepertinya jarang digunakan.

“Kamu dapat kamar yang mana?”

“Di atas juga…” jawabku.

“Nanti aku bantu ngangkat ranselmu…”

“Itu wajib,” balasku singkat.

Dia membuka pintu, ternyata kamar kami bersisian. “Kita sedinding…” ujarku.

Dia mengangguk, “Kemana orang-orang ya? Sepi begini…”

Aku mengangkat bahu, kudorong kopernya melewati ambang pintu kamar. “Bisa jadi masih liburan di kampung halaman masing-masing, bisa juga masih berada di kampus…”

“Di kampus? Sudah lewat jam lima begini?” tanyanya sambil melirik jamnya.

Aku merespon dengan kembali mengangkat bahuku. “Gak penting… ayo sekarang bantu ngangkat barangku.”

Dia melihat jamnya lagi, “Emm… aku ingat tadi belum sempat shalat Ashar… waktunya mau abis nih…”

Aku langsung melotot.

Dia menyengir, “Kamu kan udah sering ngangkat karung beras, pasti kopermu yang tidak lebih besar dari punyaku itu adalah perkara kecil, iya kan?”

Ungkapan ‘Orang kecil mungil biasanya banyak akal bulus’ agaknya berlaku untuk bocah satu ini. “Hhh… ya sudah, sembahyang lebih penting dari yang lain, kan…”

Dia tersenyum, “Makasih ya…”

Lelahku terangkat bersama senyum lebar yang menampakkan gingsulnya. Bersamaan dengan senyumnya, aku menyadari bahwa diriku sudah jatuh suka pada makhluk Tuhan ini.

***

Aku sedang menyusun beberapa buku yang kubawa di atas meja belajar ketika pintu kamarku diketuk.

“Masuk…”

Satu wajah melongok di balik daun pintu, sepertinya aku mulai hapal garis senyum di wajahnya. “Aku tidak ngasih salam, takutnya kamu kebingungan menjawabnya nanti… karena jawab salam bagi kami itu wajib…” dia melangkah masuk setelah menutup pintu.

“Hemm… trims atas pengertiannya…” aku melanjutkan pekerjaanku dengan buku-bukuku.

“Kamu ngambil jurusan apa?” dia mulai melihat-lihat barangku yang masih berantakan di sekitar tempat tidur.

Setelah memasukkan koperku ke kamar, aku langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu seperti yang sempat kurencanakan. Terbangun  jam tujuh lewat malah langsung mengobrak-abrik isi koper dan ranselku.

“Fakultas Ekonomi…”

“Calon bankir…” ucapnya lirih sambil berjongkok di dekat koperku.

“Yap, begitulah…”

Hening. Aku sibuk dengan buku-buku dan beberapa peralatan tulisku termasuk laptop dan printernya, dua benda yang baru dibelikan papaku ini kutempatkan serapi mungkin di meja belajar yang sekarang menjadi milikku, sedang dia hanya diam memperhatikan.

Selesai dengan meja belajar, aku berbalik untuk memasukkan baju-bajuku. Aku terpegun sejenak melihat dia sedang menimbang-nimbang sesuatu di tangannya.

“Itu namanya rosario…” ujarku sambil mendekat. “Aku tak melihat ketika Mama memasukkannya…”

Dia mendongak memandangku, lalu mengulum senyum. “Baru kali ini aku lihat langsung…”

“Dan memegangnya sekaligus…” aku berjongkok lalu mengambil rosario-ku dari telapak tangannya. “Aku simpan ya?”

“He eh…”

Kumasukkan itu ke dalam laci meja belajarku paling atas lalu meneruskan berbenah. Dia pindah duduk ke atas ranjang yang sepreinya masih berantakan setelah kutiduri tadi, sekarang dia asik memencet-mencet hape.

“Apa tadi sore kamu sempat menyebutkan asalmu?” aku bertanya sambil terus mengatur barang-barang.

“Kita juga belum sempat menyebutkan nama masing-masing kok…” ujarnya santai.

Aku berhenti bergerak lalu menoleh padanya, dia masih terpekur pada layar hape, masih asyik sendiri. Kudekati dia, “Mengapa kita bisa sampai lupa berjabat ya?” aku mengulurkan tangan.

Dia berhenti memencet hape dan menyambut tanganku, “Karena koperku tampak lebih menarik.”

Aku tertawa pendek, “Julius Edgar Siagian…” ujarku menyebutkan nama lengkap.

“Ada marganya kah?”

Alisku bertaut, kenapa dia mau tahu? Bukankah seharusnya dia menyebutkan nama lengkapnya juga? Dan ini aneh, seharusnya dia bisa menduga-duga yang mana nama marga dari namaku. Aku mulai menyangsikan, dia tidak sepintar seperti kelihatannya. Dan aku juga tahu kini, dia tidak berasal dari Sumatra Utara

“Kamu bukan orang Sumatra Utara asli? Biasanya kan nama mereka ada Pasaribu-nya, Selian, Siahaan, Simanjuntak, Silalahi, Sitompul, Siregar, Hasibuan, Rajasinga, Marpaung, Panjaitan, Tobing… ya kayak-kayak gitu…”

Aku tertawa, dia hampir sukses merunutkan nama belakang orang Batak. Gemas kueratkan genggamanku pada telapak kecilnya. “Siagian juga nama marga tau…!”

Mulutnya membulat tanpa suara.

“Lalu, apa margamu?” aku balas bertanya meskipun aku tahu dia pasti tak punya marga.

Dia menyengir, lagi-lagi memberiku pemandangan gingsulnya. “Teuku Phonna Darussalam… menurut kabar, aku masih tergolong berdarah biru.”

Aku membelalak, “Teuku? Teuku Ryan, Teuku Wisnu, Teuku Zacky, Teuku Firmansyah…”

“Teuku Umar,” cetusnya.

“KAMU DARI ACEH???” sosok kecil di depanku penuh dengan kejutan.

Dia tertegun kaget, “He eh… masalah ya buatmu?”

Aku diam sebentar sebelum kembali berucap, “Aku belum pernah bertemu orang dari sana sebelumnya. Mengapa harus jauh-jauh kuliah kemari? Di sana kan ada univ negeri juga, Syiah Kuala kan?”

“Eh? Ada larangan ya, kalau di tempat sendiri ada universitas negeri maka dilarang kuliah di universitas lain di kota orang?” dia melirik tangannya yang masih kupegang, “Tanganmu gede, sakit tau. Lepasin!”

Aku baru sadar, kulepaskan genggamanku.

“Lagipula, sejak SMA aku sudah berniat pengen kuliah ke luar daerah, belajar mandiri. Aku pengennya ke Pulau Jawa, tapi ya gitu, dengan alasan kalau aku anak lelaki satu-satunya di rumah, Ummi gak ngijinin aku keluar Sumatra. Akhirnya, aku putuskan untuk milih univ negeri paling tua di luar Jawa, USU.”

Aku manggut-manggut. “Kenapa milih Fakultas Hukum, kamu kan pintar ya… kenapa gak milih fakultas yang agak berat dikit, kedokteran misalnya, atau sains?”

“Gak ada suatu apapun di dunia ini yang lebih berat ketimbang hukum. Hukum itu elemen pertama untuk menjadikan sebuah bangsa lebih bermartabat, elemen dasar untuk menegakkan keadilan, menata kehidupan dalam sebuah negeri. Menurutmu… apa yang lebih berat dan lebih utama dari itu?”

Huh, sepertinya aku salah omong. Aku menggeleng lemah, tak sanggup menjangkau pola pikirnya. “Ya ya ya… hukum memang paling berat deh,” ujarku kalah debat. “Trus, di Aceh sana kamu menetap di kabupaten apa?”

“Aku di Banda Aceh, nama daerahnya Lampulo…”

“Gak pernah dengar.”

“Gak penting juga untuk diketahui. Bagaimana denganmu?”

“Aku dari Kisaran, terdampar ke Fakultas Ekonomi karena kebetulan masuk lima besar di SMA-ku.”

Dia manggut-manggut, “Hemm… kamu gak bawa kendaraan? Setahuku, mahasiswa yang manggil ortunya dengan papa-mama pasti tunggangannya hebat-hebat… tapi tadi aku lihat di halaman gak ada satupun mobil mengkilat.”

Aku kontan terbahak, Teuku yang satu ini punya sifat lucu. “Baru dua bulan lalu aku nabrak orang, gak parah sih… tapi papaku beringasnya minta ampun, motorku disita untuk waktu yang tidak jelas… makanya aku nyari kos tidak di luar Padang Bulan, biar dekat kampus.”

“Bagus kan, bisa jadi masa untuk instrospeksi diri. Kamu bisa merenung sepuasnya dalam angkot setiap pergi dan pulang kuliah.”

Aku mengangkat bahu. Lalu suara ribut tivi ditingkahi suara gitar dan obrolan tak jelas mulai terdengar dari lantai bawah. Penghuni kos sudah mulai unjuk gigi.

“Apa kita perlu beramah-tamah dengan yang tua-tua? Sepertinya mereka sedang bikin onar di bawah sana…” dia memberi usul.

“Malas… gak ngaruh juga. Biarin aja, kita juga bayar kok di sini. Gak ada efek kita baik-baikin mereka. Jangan terlalu ramah, lebih baik dikenal dingin buat jaga diri, pergaulan di sini bahaya.” Aku memperhatikan lagi Si Mungil ini, apa dia cukup bisa menjaga dirinya sendiri ya? Persepsi orang-orang pastilah sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya, lugu dan polos. Sasaran empuk untuk dibelokkan dalam ritme pergaulan kota besar.

“Kalau badanku gede dan jangkung kayak kamu, rasanya gak akan ada yang berani macam-macam.” Dia bangun dari ranjang, “Aku ikut saranmu, jadi lebih dingin kan? Karena ukuranku kecil maka saranmu patut diindahkan.”

“He eh…”

Teuku menuju pintu, “Sebenarnya aku mau bilang ini dari tadi…” dia berbalik setelah menguak pintu kamarku.

“Apa?”

“Aku paling gak tahan berada lama-lama dalam satu ruang dengan orang yang malas mandi, gak peduli secantik atau seganteng apapun dia…”

“Setan…”

“Kalau tidak punya sabun mandi, aku bisa kasihkan…”

“Kembali saja ke alammu!”

Ujung rambut kriwilnya menghilang begitu pintu kamarku tertutup. Apa selain meledek dia juga baru saja memujiku?

‘Gak peduli seganteng apapun dia…’

Aku berbalik ke cermin, memperhatikan tampilanku sendiri di bidang datar itu. Sepertinya Si Mungil dari Aceh memang baru saja memujiku, tampilanku masih membanggakan di cermin.

***

Kami langsung jadi teman akrab, pergaulanku di luar kampus hanya dengan Teuku. Dia juga begitu, satu-satunya temannya di luar kampus hanya aku. Dua bulan pertama nge-kos tak ada satu hari pun yang terlewati tanpa bertemu satu sama lain, kadang dia yang membuat keributan di kamarku atau kadang aku yang pergi menimbulkan keonaran ke kamarnya. Aku menemukan banyak hal yang kusukai darinya, selain dari tampilannya yang membuat gemas, aku juga geregetan tiap kali mendengar logatnya.

“Kata dokter, lidahku pendek, jadi phonetic-ku tidak seperti mereka yang lidahnya normal-normal aja, makanya logatku cadal gini. Bukan Bahasa Indonesia saja, Logat Acehku juga sama…” begitu katanya ketika aku menyinggung gaya bicaranya yang lucu.

Selain itu, aku menikmati waktu yang kuhabiskan dengannya. Wawasannya luas, dia mengerti segala bidang, dia juga pendengar yang baik, pemberi saran yang bagus kadang-kadang meski sebelum itu harus membuatku jengkel lebih dulu, tapi dia selalu bisa membuka pandanganku. Membuatku merasakan aura positifnya, membuatku merasakan keceriaannya. Bagiku, dia masih seperti kanak-kanak, keberadaannya selalu menggembirakan. Aku selalu merasa lelahku saat di kampus terangkat lepas begitu tiba di kos dan bercengkrama dengannya. Aku semakin jatuh suka, mungkin aku juga mulai menyayanginya tanpa kusadari.

Aku mulai familiar dengan menu daerah asalnya. Kami selalu membeli nasi bungkus di kedai makan Aceh langganannya untuk makan malam.

“Kalau kamu beneran pengen ikut aku liburan semester pertama nanti, maka mulai dari sekarang harus terbiasa sama makananku. Ummi tahunya masak Aceh aja. Kalau gak suka, berat badanmu bisa turun nanti di rumahku.”

Begitu dia pernah berkata ketika satu kali aku sempat berkelakar ingin melihat Aceh itu seperti apa. Aku memang tidak serius ketika mengatakan ingin melihat kampung halamannya, tapi aku serius menanggapi kalimatnya. Jadilah sejak saat itu aku selalu ikut Teuku ketika membeli makan malam.

Yang paling meninggalkan kesan dalam persahabatan kami adalah tenggang rasa. Aku mengakui, Teuku adalah muslim yang baik, muslim yang taat. Aku menghormatinya. Aku menghormati waktu ibadahnya. Bahkan aku suka memperhatikan saat dia bertransformasi dari mahasiswa kecil menjadi santri cilik bila sudah mengenakan sarung dan baju muslim serta tutup kepalanya. Bila kebetulan aku masuk kamarnya dan dia sedang beribadah, selalu, aku akan duduk menunggunya selesai tanpa membuat sebarang suara.

Demikian juga dia kepadaku, bahkan keseringan dia akan mengetuk pintuku pagi-pagi buta ketika hari Minggu bila aku malas bangun. Sejauh aku mengingat, baru Teuku sahabat terbaik yang kupunya.

***

Padang Bulan, Akhir Oktober 2003

Teuku berpuasa. Ini adalah bulan puasa pertama yang dilaluinya jauh dari keluarga. Sendirian, katanya. Namun aku meyakinkan diriku sendiri, Teuku tidak akan berpuasa sendirian selama aku masih menghuni kamar di samping kamarnya.

Pagi pertama dia bangun untuk makan di awal pagi, itu adalah penghujung Oktober, tanggal 27. Aku ikut membuat alarm di hapeku. Kami makan nasi bungkus dan lauk yang sudah dingin. Aku mengawani Teuku ke kedai makan untuk membeli menu sahur setelah dia pulang dari mesjid melaksanakan sembahyang malam pertamanya di bulan puasa.

“Beli dua bungkus, ya. Lauknya dipisah aja biar gak basi.”

Dia menatapku, “Satu lagi buat siapa?”

“Buatku, kan? Siapa lain?”

“Kan kamu bisa sarapan saat pagi… lagipula bukannya tadi kamu sudah makan malam? Ngapain lagi…”

“Trus nanti aku cuma liatin kamu makan aja sambil nelan liur, gitu?”

Teuku bengong sesaat, “Edgar mau ikut bangun sahur juga?”

“Rencana…”

Dia mengangkat bahu buatku, lalu berbalik pada Ibu Penjual, “Dua bungköh, Mak… eungkot ngen kuwah jih neupisah beh…

Aku menikmati Bulan Puasa Teuku sebagai rutinitas baruku, dari penghujung Oktober sampai Nopember. Dia sempat gigih melarangku, tapi aku tetap dengan tekadku. Berat memang, aku mati-matian nahan diri agar tidak makan dari pagi sampai petang. Aku akan tergolek di tempat tidur setelah pulang kuliah. Namun selalunya, aku akan kembali bersemangat ketika Teuku berkata, “Beli bukaan yuk, Gar!”

Beberapa kali aku akan menjawab jujur ketika Teuku bertanya, “Ada makan gak siang tadi?” dan dia hanya tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala ketika aku menjawab, “Di kampus aku sempat minum segelas jus, gak apa-apa kan?” atau, “Tadi panas, aku minum air mineral dingin saat pulang.”

Aku selalu suka mendengar suara Teuku ketika dia kerap membaca kitab sucinya sampai larut malam di Bulan Puasa. Suara cadal Teuku terdengar lucu menggelitik kupingku ketika dia melakukan itu. Tak jarang aku sampai tertidur di kamarnya. Dia akan menggoyangkan bahuku menyuruh untuk pindah ke kamar ketika selesai membaca di atas sajadahnya.

Ini akan menjadi memoriku bersama Teuku yang tak akan pernah kulupa sepanjang napasku…

“Gar… Edgar… aku mau tidur.” Suaranya selalu lembut saat membangunkanku, beda dengan nadanya bila kami bercanda. “Kalau ranjangnya gede gak masalah kamu ngorok sampai ngiler di sini, tapi ini cuma muat buat badanku… bangun lekas!” dan selama berkata-kata, dia terus menimbulkan gempa di badanku. Aku suka, kadang malah dengan sengaja berlama-lama membuka mata.

***

Padang Bulan, 23 Desember 2003

Sebenarnya aku ingin pulang merayakan natal bersama keluargaku di Kisaran seperti Teuku yang tega meninggalkanku untuk merayakan lebaran dengan keluarganya di Banda Aceh. Aku benci bila ingat bagaimana dia membuatku kehabisan akal untuk menghalangi kepulangannya di penghujung Bulan Puasa lalu, saat itu dia sedang memasukkan baju-baju ke ranselnya.

“Aku bisa nangis penuh satu bak mandi bila gak nyium tangan abah dan ummiku setelah Shalat Ied…” jawabnya ketika aku memintanya untuk tidak pulang.

“Iya, aku ngerti… tapi liburnya kan cuma sebentar, cape loh bolak-balik. Banda Aceh tuh jauh…”

Dia melotot, “Kamu sanggup liat aku di sini kayak duda ditinggal mati istri, bengong sambil nangis di hari raya? Kamu gak kasihan?”

“Trus kalau kamu pulang, aku di sini sama siapa?”

“Sendirian,” cetusnya enteng.

Aku manyun, ingin saja aku mengeluarkan semua baju yang sudah dimasukkannya dalam ransel. Tapi aku langsung luluh saat dia menutup obrolan sambil menatap sayu padaku.

“Ummi kangen aku, Gar… ingat, dia bahkan berat ngelepas aku kuliah jauh kemari. Meski belum lama di sini, aku juga sudah merasa kangen rumah…”

Dan sekarang, saat tiba waktuku, dia malah berhasil membuatku luluh untuk membatalkan rencanaku pulang ke Kisaran. Sungguh tak adil.

“Gak sampai tiga hari kok, tanggal dua enam aku udah ada di sini lagi. Mama juga sudah kukabari kalau aku berangkat sore ini.”

Teuku duduk bersila di atas ranjangku, diam menunduk sambil memilin-milin rumbai sarung gulingku dalam pangkuannya. Aku menatap sekilas lalu meneruskan memilih baju dari lemari yang akan kubawa pulang nanti.

Teuku masih diam selama aku sibuk, masih menunduk hingga aku selesai memasukkan beberapa pasang baju dalam ransel. Sejak masuk kamarku belasan menit lalu, dia baru mengucap satu kalimat saja, “Jangan pulang dong, Gar…” setelah itu dia diam di atas ranjang.

“Beneran, tanggal dua enam aku akan balik. Ultahmu kan?” kutatap dia yang masih tidak bereaksi. “Aku janji bakal ngucapin selamat ulang tahun buatmu langsung dari mulutku, face to face…” kuturunkan ransel ke lantai lalu duduk di sampingnya.

Teuku tak merespon, sebaliknya dia semakin beringas membuat kusut sarung gulingku. Saat sedang begini, dia sungguh terlihat bagai anak SMP seperti yang kukira pertama kali dulu.

“Kamu khawatir aku gak balik pas tanggal dua enam ya?”

Teuku kian menunduk.

“Kamu khawatir nanti gak ada kawan buat ngerayain ultahmu, kan? Kamu khawatir aku keasyikan di rumah dan mutusin gak balik hingga lewat tahun baru, iya?”

Tiba-tiba saja aku mendengar bunyi serut ingus.

HAH? Apa ini? Aku menunduk mencoba menjenguk ke wajahnya, rambut kriwilnya menghalangiku. Kutahan diriku agar tidak tertawa, Teuku sedang berair mata. “Aku gak pernah ingkar janji, dini hari tanggal dua enam nanti aku udah ada di sini lagi. Pasti…”

Teuku mengucek matanya. Bunyi ingus diserut terdengar lagi. Dia menunduk kian dalam.

“Hhhh…”

Aku mendesah panjang. Kurogoh hape dari saku celana, semoga aku tidak diceramahi panjang lebar layaknya khutbah misa karena plin-plan begini. Kutekan tombol panggil di hapeku…

“Ma… Edgar gak jadi balik, ya… natalan di sini aja sama temen. Salam buat Papa, Edgar minta dikirimi paket Natal…”

Mamaku memang merepet panjang seperti yang kuduga, tapi tak sempat kudengar habis. Hapeku lebih dulu terbanting ke kasur ketika Teuku berteriak girang sambil menubrukku.

“YESSS…! BERHASIIILLL…!!!”

Aku nyaris terjengkang jika saja tidak sempat memegang besi ranjang. “Sialan…!” cetusku geram.

Teuku melepaskan pinggangku lalu nyengir sambil membersihkan sisa-sisa tangis di kedua mata dan hidungnya. “Makasih… aku akan jadi batu kalau kamu beneran pulang…” ucapnya lirih, lalu menunjuk dadaku, “Dan minta maaf untuk itu…”

Aku reflek menunduk ke dadaku, noda putih bening kental tampak lengket di kemeja putih yang baru saja kukenakan, tepat di tengah-tengah dada. Ingus Teuku. Rasanya asap menyembur kencang dari kedua kuping dan tanduk mencuat runcing dari kepalaku saat ini.

“SINI KAMU BOCAAAH…!!!”

Detik berikutnya kami bergumul di ranjang diselingi suara Teuku yang memekik-mekik. Entah kerena kegelian saat pinggangnya kugelitik tanpa jeda, entah karena kesakitan sebab rambut kriwilnya kutarik-tarik tanpa henti.

***

Padang Bulan, 24 Desember 2003

Teuku langsung berbinar ketika aku membuka kardus besar yang baru saja diantar mobil travel dari Kisaran, paket natal dari mamaku. Isinya pernak-pernik natal, kue-kue dalam toples bening, topi Santa ukuran kepalaku dan dua kado yang terbungkus rapi masing-masing bertuliskan ‘MAMA’ dan ‘PAPA’ di sampulnya.

“Wah… dapat kado…!” serunya begitu aku mengeluarkan dua kado itu dari kardus.

“Iya, kado natalku. Baru boleh dibuka besok.”

Teuku langsung manyun, tapi tak lama. “Wah, ada cemara juga!” serunya lagi.

“Itu pohon natalku. Biar aku tetap ngerasain aura natal meski gak di rumah.” Kukeluarkan cemara plastik yang tingginya tak mungkin lebih dari setengah meter itu dari kardus, langsung kuletakkan di sudut kamar.

“Aku bantu ya…” Teuku menghampiriku dengan kresek berisi pernak-pernik hiasan pohon natal yang diambilnya dari dalam kardus.

“Asal jangan dibikin jelek aja,” kelakarku.

Rasanya aku tak pernah sebahagia ini ketika mempersiapkan banyak pohon natal di rumahku sebelumnya. Kali ini aku merasa benar-benar sedang mempersiapkannya. Aku dan Teuku menggantung bola-bola mengkilat warna-warni, kaus kaki mini, merekatkan bintang di pucuk cemara, melilitkan pita bercahaya dan lampu-lampu kecil ke seluruh bagian pohon. Aku merasa begitu hidup ketika melakukannya bersama Teuku.

“Kadonya diletakkan di bawah pohon, kan?” Teuku mengambil kado dari atas meja belajarku dan meletakkannya di lantai di bawah pohon, pot cemara tertutup dengan dua kotak dari mama-papaku itu.

Aku tersenyum.

“Cantik ya…”

“Hemm…”

Merry christmas, Gar…” ujarnya.

“Masih besok…”

Dia mendecak, “Kue-kue ini juga gak boleh dimakan sebelum besok ya?” sekarang toples-toples berisi kue kering bikinan mamaku jadi sasaran perhatiannya.

“Jangan dihabiskan…”

Dia menyengir seperti kebiasaannya, kemudian mulai mempreteli toples itu satu persatu sambil mengecap-ecap. Hatiku berdesir melihat betapa imutnya dia, aku semakin sayang pada mahasiswa belia satu ini.

***

“Di Jalan Pemuda katanya ada gereja besar, besok kamu natalannya ke sana saja…” demikian dia berujar ketika aku membicarakan pengalaman natalku selama di Kisaran setelah kami mengosongkan setengah dari isi masing-masing toples kue.

“Iya, aku tau… itu Gereja Katedral Medan, sudah ada sebelum merdeka…”

Dia bengong. “Benarkah? Dari dulu udah ada dan bagus gitu?”

“Ya enggak dari dulu bagusnya, maksudku gereja itu sudah berdiri sejak sebelum merdeka, gitu. Konon, pada saat pertama dibangun, atapnya masih ijuk dan daun rumbia…”

Teuku mendengarkan ceritaku penuh minat, entah karena dia memang suka mengikuti sejarah atau karena dia memang menyukai ceritaku. Atau bisa jadi karena dia juga suka mendengar suaraku seperti aku yang suka mendengar logatnya.

***

Kota Medan, 25 Desember 2003

Aku keluar dari Gereja Katedral Medan setelah mengikuti Misa. Teuku tersenyum begitu aku berjalan menujunya. Kemarin dia benar-benar bersikeras menyarankanku untuk mengikuti misa di gereja paling tua di Sumut ini. Jemaatnya ramai sekali.

Aku sudah melarangnya untuk ikut, tapi dia tetap memaksa ingin mengantarku. Jadi, selama aku mengikuti Misa, Teuku setia menunggu di tempat makan tidak jauh dari gereja. Begitu tiba di tempatnya, alisku bertaut melihat tujuh buah gelas kosong bertebaran di atas meja.

“Tiga kali ke kamar mandi…” dia berucap sambil menunjukkan tiga jarinya begitu aku melongo sambil menatap tak percaya pada gelas-gelas di depannya. “Aku minum tiga macam jus, dua gelas es teh manis dan dua macam kopi…” lanjutnya, “Meja kasirnya ada di sana…” kali ini sambil menunjuk meja di dekat pintu keluar yang dijaga seorang wanita paruh baya.

Aku geram setengah mampus. Dia yang mengosongkan gelas, aku yang harus bayar. Bagaimana dia bisa tahan minum sebanyak itu? “Banyak bener…” lirihku.

“Masih untung aku gak ngosongin tujuh buah piring, sana bayarin!”

Aku menuju meja kasir sambil menggerutu dan bibir mengerucut.

***

Padang Bulan, 26 Desember 2003

“HAPPY BIRTHDAY, MUNGIIIIILLL…!!!”

Aku menerobos ke kamarnya tepat tengah malam dengan kue tart murahan di tangan kanan dan kado kecil berbungkus kertas perda di tangan kiri.

“HAH…?!?”

Aku menyalakan lampu kamarnya, kutemukan dia terduduk bengong di atas ranjang dengan rambut kusut dan tampang mengantuk. Selimut tebalnya bergulung-gulung di pinggang. Mulutnya tetap menganga ketika dia mengucek mata dengan kedua tangan. Aku berhasil mengacaukan jam tidurnya.

“Kenapa harus tengah malam begini sih, Gar? Ganggu tau… besok pagi kan bisa ngucapin selamatnya. Orang rumahku aja belum ada yang nelpon, eh kamu malah aktif sendiri…” dia menguap, lalu mengeluarkan diri dari selimut, sekarang duduk menjuntai di tepi ranjang.

“Wew, harusnya kamu seneng dong ada yang ngucapin tepat waktu. Hari ultah itu baru kerasa sakralnya ya begitu masuk permulaan hari, kayak sekarang.” Aku melangkah mendekati ranjangnya. “Orang-orang yang menyayangiku selalu ngucapin selamat saat masuk tanggal lahirku tepat tengah malam.” Kulabuhkan bokongku di pinggir ranjangnya.

“Ummiku bilang, tanggal lahir itu bukan untuk dirayakan, tapi untuk direnungi…”

“Siapa yang mau merayakan?”

“Lah, itu apa?” dia menunjuk kue tart-ku.

“Ini kue, buat kita makan…” jawabku, “Perayaan itu kan hura-hura, hingar-bingar, ini kan cuma kue saja.”

Dia manggut-manggut, “Dulu kami pernah memperingati hari lahirku dengan bikin syukuran di rumah, undangannya anak-anak panti asuhan…”

Aku diam, tidak merespon kalimatnya. Kunyalakan lilin angka 16 di atas kue. Aku tersenyum lalu mulai bernyayi sendiri.

Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday happy birthday, happy birthday Mungil…”

Dia terpegun, “Bilang apa barusan?”

“Nyanyi happy birthday, kan? Apa lain?”

“Gak, gak… yang terakhir, nyebut apa?” dia antusias, bahkan beringsut lebih dekat padaku.

“Mungil…” jawabku enteng. Apa dia tidak sadar kalau saat masuk tadi aku juga meneriakkannya dengan panggilan demikian? Mungkin tadi kupingnya belum terjaga sepenuhnya.

Alisnya bertaut. “Maksudnya?”

“Maksudnya ya mungil, kecil, kate, imut, mini, gak gede…”

“Kamu manggil aku gitu sekarang?” dia membelalak, “Kok kesannya kayak aku ini cewek kelas enam SD ya?”

Aku terbahak, “Usia baru, nama panggilan yang baru, oke Ngil…” aku mendekatkan kue, “Ayo tiup lilinnya.”

Dia terlihat mikir-mikir, lalu menyeringai jahil, “Aku juga mau berhenti manggil kamu Edgar, mulai sekarang kamu adalah,” jeda sesaat yang menimbulkan lipatan di keningku. “Jayen… G-I-A-N-T, Jayen.” Dia meniup lilin. “Makasih, Jayen…”

Giliranku yang membelalak. “Apa aku mirip Takeshi yang jadi Jayen di Doraemon?”

Dia menggeleng, “Boleh aku makan kuenya?”

“Trus kenapa manggil aku gitu?” kujauhkan piring kue dari jangkauannya.

Dia mengerucutkan bibir, “Julius Edgar Siagian… di ujung namamu kan ada G-I-A-N-nya, aku cuma nambah huruf T aja. Kalau udah ditambah huruf T kan jadi lain lafalnya, tapi itu masih ada unsur namamu kok.”

“Kamu sedang berusaha membegokanku, ya?” kutatap dia tanpa berkedip.

Teuku menggeleng lagi, “Boleh aku makan kuenya?” untuk kedua kalinya dia bertanya dengan nada lebih memelas.

Aku mendesah, ah sudahlah. Terserah dia memanggilku apa. Kusodorkan piring, “Semoga panjang umur ya, Mungil…”

“Amiiin…” dia menggenggam sendok dan membelah-belah kue kecil itu. “Ayo makan…”

“Nanti dulu, kadoku belum kamu buka…” aku mengulurkan tangan kiriku.

Dia batal menyuap kue ke mulut, menatap kotak kecil yang kuangsurkan buatnya. “Itu kado? Kecil amat, bungkusnya pun jelek…”

Rasanya aku ingin menimpukkan piring di tangan kananku ke mukanya yang tidak lebih besar itu. Tapi aku tak mungkin tega, alih-alih aku malah tertawa. “Siapa suruh lahir tanggal tua begini? Coba kamu lahirnya pas tanggal muda, kiriman dari rumah baru datang, pasti kotaknya gak segini…”

Dia tersenyum, “Bercanda…”

“Jangan liat dari besar kecilnya…”

“Tapi lihatlah dari keikhlasan orang yang memberi,” Teuku menyambung kalimatku, “Itu adalah cara ngeles orang pelit kebanyakan.”

Aku tertawa lagi, “Gak kok, aku beneran ikhlas, dan memang cuma sanggup kasih segini.”

Teuku mengambil kotak dari tanganku, “Makasih ya, Jayen…”

You’re welcome, Mungil…”

Kotak itu langsung rusak begitu berada di tangan Teuku, dia membukanya dengan style preman pasar nagih iuran keamanan. Semoga saja dia tidak jantungan ketika melihat isinya.

“BOLA…!” dia membeliak, “Tenis?” kali ini sambil menunjukkan bola itu tepat di depan hidungku.

“Bisbol,” sahutku pendek.

Bahunya turun, “Rugi bangun tengah-tengah malam buta begini…”

Aku menarik rambut kriwilnya, “Gak tau terimakasih banget… aku ikhlas tau!”

“Bercanda…” dia menimbang-nimbang bola hijau itu di tangannya, “Siapa tahu ke depan nanti aku bisa jadi pemain tenis kayak Roger Federer… makasih ya…”

“Udah berapa kali makasihnya?” aku menimpuknya dengan kotak bekas kado, “Itu bola bisbol, ultahmu kali depan aku beliin sarung tangannya, terus ultah sekali lagi aku kasih pemukul. Komplit selama tiga tahun.” Iseng kutarik lagi rambutnya lalu mendahului menyerbu isi piring.

“Sakit tau!” dia menggapai kepalaku, maksudnya ingin balas menjambak. Namun karena badannya lebih pendek dia kesusahan melaksanakan niat.

Teuku naik ke ranjang dan menumpahkan kekesalan dengan berusaha menumbangkanku. Aku tersedak kue yang belum selesai kukunyah. Di saat aku terus batuk-batuk, Teuku justru tertawa-tawa sambil menyerang kepalaku tanpa ampun. Piring kue jatuh ke kasur dan menumpahkan isinya di atas seprei, tapi sepertinya dia tak peduli.

“Ngil…” aku batuk-batuk, “Stop, aku kesedak…” masih batuk-batuk.

“Mampus…” dia tak menggubris.

Aku menelungkup di ranjang sambil terus menyalak sementara Teuku duduk di pinggangku sambil ngakak besar.

“WOIII…!!! BERISIIIKKK…!!!”

Ada yang berteriak dari kamar sebelah, aku dan Teuku langsung terdiam.

***

Kota Medan, tahun baru 2004

Aku membawa Teuku melihat pesta kembang api di alun-alun kota Medan. Kami sudah terlunta-lunta sejak pukul sembilan malam. Teuku berkali-kali mengeluh kakinya pegal dan mengajakku duduk dimana saja. Kalau tidak ingat bakal mengundang perhatian, ingin saja aku mendukungnya di punggungku, dia tidak lebih berat dari kopernya yang pernah kupikul dulu.

“Jayen… kakiku rasanya mau tanggal. Nyesal deh aku ikut ajakanmu…”

“Tepat tengah malam saat kembang apinya sudah memenuhi langit Medan, rasa sesalmu bakal terinjak-injak hancur tak bersisa,” cetusku sambil menyodorkan kaleng soft drink buatnya. “Lagipula, ini kan pesta setahun sekali, masa kamu mau ngurung diri di kamar kos dengan film-film gak jelas di laptopmu itu.”

“Film-ku jelas tau, memangnya laptopmu, isinya bokep semua.” Dia menenggak isi kaleng dengan rakus, “Alamat harus cari kamar kecil lagi nih…”

Aku tertawa, lalu merespon ucapannya. “Memangnya kamu pernah lihat kalau laptopku penuh bokep?”

“Ya tahu aja, cowok kayak kamu tuh pasti doyan ngoleksi yang kayak-kayak gitu.”

“Cowok kayak aku? Memangnya aku cowok yang bagaimana?” kejarku.

Teuku fokus memandangku sekarang. Aku seperti mengalami de javu, debar seperti ini pernah kualami ketika kami bertatapan untuk pertama kalinya di halaman rumah kos. Kini aku bahkan dapat melihat jelas matanya yang bersinar secerah Venus, bintang timur.

Teuku terdiam lama. Mata kami masih bersitatap, tak ada yang mengedip hingga dia kalah lebih dulu. Teuku berhenti memandangku dan menolehkan kepalanya lurus ke depan. Aku melakukan hal yang sama kemudian.

“Kamu cowok baik…”

Itu ucap lirih yang keluar dari bibir Teuku setelah kami lama membisu. Aku tidak meresponnya, diam hingga dia kembali bersuara yang lebih berupa bisikan.

“Kamu adalah lelaki baik yang pernah jadi sahabatku…”

Aku tersenyum simpul. “Itu penilaian subjektifmu untukku kan? Kamu bilang gitu karena orangnya adalah aku.”

Dia menggeleng, “Itu penilaian objektif, bukan karena orangnya kamu, tapi karena kamu memang baik…”

TET TERERET TET TEEET

Suara terompet mulai bersahut-sahutan. Petasan juga mulai meledak dimana-mana.

“Budek kupingku lama-lama di sini…” keluhnya.

“Sesaat lagi, jangan budek dulu…!”

Aku segera bangun dan menarik tangan Teuku begitu orang-orang mulai menghitung mundur dari sepuluh. “Ayo, sudah saatnya…”

“… ENAM… LIMA… EMPAT… TIGA… DUA… SATUUU…!!!”

Dan kembang api seketika itu juga bertaburan menutup langit. Di sampingku, entah mendapat energi dari mana, Teuku berseru riuh sambil mendongak langit. Dia tertawa gembira, berganyut di bahuku dan sesekali melompat.

“Aku belum pernah lihat yang kayak gini… Aku belum pernah lihat yang kayak gini!” serunya berulang-ulang.

Aku tak akan melupakan ekspresinya. Melihat Teuku seceria sekarang, rasanya bagai seisi dunia baru saja diletakkan dalam tanganku.

Kami kelabakan mencari transport untuk pulang ke kos. Teuku sudah meringis-ringis menjelepok di atas trotoar sambil sesekali memegang lututnya. Rasa lelah yang tadi sempat dilupakannya ketika kembang api meledak kini muncul lagi, berkali-kali lipat lebih parah katanya.

“Semua becak gak ada yang terlihat kosong, Ngil… sabar bentar lagi deh,” bujukku. “Omong-omong, happy new year ya, Mungil…”

Dia membalas ucapanku dengan gumam pelan, masih sambil memijit lututnya.

“Gak balas ngucapin?”

“Se-la-mat ta-hun ba-ru, Ja-yen…” balasnya dengan nada menjengkelkan. Lalu, “BECAAAAAAKKK…!!!” dia berteriak keras.

Aku melihat sebuah becak mendekati kami.

“Akhirnya…”

Sepanjang perjalanan dari kota ke Padang Bulan, Teuku menyandarkan kepalanya ke pundakku. Sepertinya dia sama sekali tidak terganggu dengan keadaanku yang pasti bau keringat. Tangannya juga mengait pinggir saku jaketku. Entah dia beneran tertidur atau tidak, aku tak peduli.

***

Lampulo, akhir Februari 2004

Aku masih tidak percaya dengan keputusanku sendiri. Dulu aku hanya berkelakar kalau ingin melihat rumah Teuku, siapa yang mengira ternyata aku benar-benar bisa berada di tempatnya. Aku berhasil meyakinkan mamaku agar memberi izin menghabiskan seminggu liburan akhir semesterku di tempat Teuku. Awalnya mamaku bersikeras melarang, beliau khawatir mengingat kondisi di Aceh yang sedang dilanda konflik, berpergian ke sana dipandang terlalu beresiko. Tapi ketika Teuku mengatakan ‘Kita akan baik-baik saja’ itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkanku bahwa Tuhanku dan Tuhannya akan menjaga kami. Lagipula, ini aku bersama Teuku, dia sudah pernah pulang pergi sebelumnya.

‘Natal kamu gak pulang, tahun baru juga gak pulang, sekarang libur semester juga gak pulang… Mama khawatir…’

Mamaku akhirnya luluh setelah kuyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja, dan pasti akan pulang saat libur tahunan nanti yang biasanya lebih lama.

Jadi, di sinilah aku sekarang, di daerah bernama Lampulo yang letaknya tak begitu jauh dari pantai. Kami tiba lewat pukul sepuluh malam, setelah menempuh perjalanan lebih kurang 13 jam dari Medan ke Banda Aceh dalam mobil travel yang sumpek dan membuat sakit seluruh badan. Aku berdiri canggung melihat Teuku dipeluk dan dicium keluarganya di beranda rumah.

Kesan pertama yang kutangkap, mereka adalah keluarga yang solid. Abah dan umminya menyambutku hangat, adik perempuannya yang paling kecil –dibungkus piyama Hello Kitty- menyalami dan mencium tanganku, sepertinya dia baru terbangun atau bisa jadi menolak untuk tidur sebelum kakak laki-lakinya pulang, bocah TK itu terkantuk-kantuk memegang guling kecilnya. Sedang adik perempuannya yang lebih besar menunduk malu-malu ketika bersalaman denganku, kuperkirakan dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

“Mari masuk, Nak Edgar. Langsung istirahat saja, lelah pastinya seharian di mobil,” ujar abahnya sambil mempentangkan pintu lebih lebar.

“Iya, Om…”

Jujur, aku sedikit segan dengan abahnya Teuku, aura kharismatik beliau membuatku tak berani menatap wajahnya terang-terangan. Lain dengan umminya, aku langsung merasa nyaman.

“Yuk, Gar…” ternyata di sini Teuku memutuskan untuk memanggil namaku seperti biasanya.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

***

Hari pertama di rumah Teuku, aku baru bangun pukul sepuluh pagi. Sangat telat, bahkan adiknya yang paling kecil sudah kembali dari Taman Kanak-kanak. Kutemukan Teuku sedang berkutat di sinky, mencuci piring.

“Aku gak bangunin kamu, kasihan. Gak apa ya kamu sarapannya telat.”

Aku menguap sambil duduk di kursi meja makan.

“Eh, mau langsung makan? apa gak mandi dulu…”

“He eh, mandi dulu…”

Adiknya yang paling kecil masuk ke dapur, berdiri memperhatikanku yang masih kusut hanya bercelana pendek.

“Halo…” sapaku sambil menunduk. Kuberanikan diri menyentuh rambutnya yang sama persis seperti rambut Teuku.

“Jangan harap dia mau menjawab, dua adikku diam banget kalau ketemu orang baru.” Teuku selesai mencuci, “Tuwah, kita tunggu Ummi aja sambil nonton tivi, yuk!” Teuku menggandeng tangan adiknya. “Kamu mandi sana, jangan sampai sarapanmu jamak sama jam makan siang.”

“Namanya unik ya, Tuwah?” tak kurespon kalimat Teuku yang menyuruhku mandi, sebaliknya mengomentari nama adik kecilnya itu.

“Cut Nyak Meutuwah, namanya…” jawab Teuku.

“Bagusnya. Yang satu lagi?”

“Cut Nyak Taria, dia baru kelas satu SMP.”

Aku manggut-manggut, “Memangnya ummimu kemana?”

“Belanja bahan dapur. Udah sana mandi, makin siang nih.”

***

Yang tak bisa kulupakan saat di rumah Teuku adalah ketika sampai hari Jumat. Saat Teuku dan abahnya sudah rapi dengan pakaian muslim mereka sedang aku duduk tenang di sofa ruang tamu sambil membolak-balik majalah, Tuwah berucap dengan suara yang cukup jelas terdengar dari arah dapur setelah sebelumnya asik mondar-mandir mengecek keberadaanku tanpa menegur sepatah kata pun.

“Ummi, Abang Edgar itu engga ke mesjid ya?” ternyata dari tadi dia heran mengapa aku duduk tenang-tenang saja sedangkan kakak dan abahnya sudah hendak pergi. Ketika rasa herannya sudah tak tertahan minta diluruskan, dia mendapatkan umminya untuk bertanya.

Lirih kudengar umminya menjawab di sela bunyi pisau yang beradu dengan talenan, sepertinya beliau sedang memotong sayur. “Pergi, Nak… tapi Abang Edgar perginya baru hari minggu lusa…”

Aku tersenyum simpul mendengar jawaban lirih itu. Malamnya ketika aku bercerita pada Teuku saat menjelang tidur, dia tertawa sampai ranjang bergoyang.

“Adikku memang gitu, suka penasaran. Biasa kan, usia anak segitu rasa ingin tahunya sedang pesat…”

Aku mengangguk, “Yang mendamaikanku tuh jawaban Ummi… Memangnya di sini ada gereja, ya?”

“Gereja Methodist sih ada, kamu mau ke sana hari minggu ini? Kalau mau biar aku antar.”

Aku berfikir sejenak. “Gak usah aja, hari minggu ini kita muter-muter lagi, sorenya kan udah harus balik.”

“Ya sudah…”

***

Hari minggu dari pagi hingga siang, untuk kesekian kalinya sejak tiba enam hari lalu, aku dibawa Teuku menjelajah Kota Banda Aceh dan daerah pinggirannya. Meski sudah pernah beberapa kali, rasanya masih tetap aneh mendapati diriku duduk di boncengan Teuku di atas motor bebeknya. Rasanya seperti aku diboncengi adikku, itu karena dia begitu imut sedang aku tampak begitu menjulang di belakangnya.

“Kamu turisnya, aku tour guide-nya. Jadi diam sajalah!” Teuku selalu bilang begitu tiap kali aku menawarkan untuk menyetir dan dia yang memberi instruksi di tiap persimpangan, tapi dia tak mau.

Terakhir, saat menjelang siang setelah dua kali isi bensin, kami melihat-lihat pelabuhan kapal air di Ulee Lheue.

“Kalau mau ke Sabang ya lewat pelabuhan ini perginya.”

“Yah, aku malah gak ingat Sabang… duh, kamu telat nyinggungnya. Padahal kita sempat untuk pergi. Itu pulau paling brand di Aceh, kan?”

Teuku tertawa, “Nanti kapan-kapan deh, aku juga sama sekali gak ingat tuh kemarin-kemarin.”

“Ngeles aja, takut aku minta dibayarin, ya?”

“Itu juga salah satu hal yang menjadi pertimbanganku…”

“Dasar pelit!”

Teuku hanya ngakak besar sambil terus mengemudi pulang.

***

LALU bulan-bulan berganti. Kami menjalani rutinitas perkuliahan semester dua tak jauh beda dari semester satu. Seiring waktu pula, aku semakin menyadari satu rasa yang mulai berakar dan mengembang dalam hatiku. Itu adalah perasaan tak ingin kehilangan. Itu adalah perasaan tak ingin jauh. Itu adalah perasaan tak ingin berpisah. Belakangan aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah memutuskan, aku tidak salah memutuskan bahwa nama perasaan itu adalah cinta. Ya, dari hanya jatuh suka, dari hanya jatuh sayang, kini aku sudah jatuh cinta pada Teuku Phonna Darussalam. Aku sama sekali tak disaput ragu, sama sekali tak dibuat tertekan dengan aturan alam dan kodrati yang tidak membenarkan objek tujuan perasaanku, aku sama sekali tidak takut dan bimbang. Aku meyakini dengan keteguhan hati yang bukan olah-olah. Salah atau benar menjadi hal yang tak penting lagi.

Yang aku pegang, aku mencinta Teuku, lelaki mungilku. Itu saja.

Ketika hatiku kian mantap, aku mulai menunggu masa, mengintai kesempatan, menanti hari dimana aku bisa meneriakkan kata cinta yang tertahan di ujung lidah. Aku sabar, selama Teuku masih bersamaku, meski dia belum tahu, itu sudah cukup bagiku.

***

Padang Bulan, 07 Juli 2004

Aku mendapat kado sehelai oblong warna hitam dari Teuku sebagai hadiah ulang tahunku. Dia juga membelikan kue tart dan lilin angka 19 untukku. Tidak sepertiku yang mengagetkannya tepat tengah malam, Teuku baru masuk kamarku setelah sembahyang subuh. Aku memakluminya, dia tak pernah mengejutkan orang ketika masih dalam jam dimana si orang tersebut seharusnya beristirahat. Itu katanya.

“Masih terhitung awal bulan, jadi aku beli yang mahalan dikit…” ujarnya ketika aku mempentangkan oblong itu dari bungkusnya.

Aku tersenyum senang ketika melihat labelnya, dia benar, ini cukup mahal. Tapi aku masih ingin balas dendam mengingat betapa dia pernah membuatku geram saat ultahnya Desember kemarin.

“Coba kalau warnanya putih ya, Ngil… bakal lebih senang.”

“Aku kan beli sesuai seleraku, kalau mau yang warna putih harusnya kamu kasih uangnya ke aku lebih dulu. Gak terima kasih banget…”

“Bercanda…” tukasku sambil tertawa. “Makasih ya, Ngil…”

Dia mengangguk.

“Emm… boleh aku peluk bentar?”

Dia melongo, “Kenapa?”

“Sebagai rasa syukur aja bisa punya teman kayak kamu.”

Dia mengangkat bahu, “Jangan lama-lama…”

Aku tersenyum lalu memeluknya. Puncak kepalanya cuma sampai di batas bawah dadaku.

Aku bahagia.

***

Kisaran, Agustus 2004

Libur tahunan. Jauh-jauh hari Teuku sudah mengutarakan niatnya untuk gantian berkunjung ke rumahku. Dia mengaku itu adalah keputusan terbesar dan terberat yang pernah diambilnya selama periode satu tahun ini. Aku mengerti yang dia maksudkan dengan keputusan terberat itu adalah, dia berat kerena tidak berjumpa keluarganya liburan kali ini. Satu sisi aku kasihan dan ingin saja melarangnya ikut, tapi satu sisi lagi aku sangat ingin dia ikut bersamaku. Maka, aku tidak melarangnya.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam dari Kota Medan ke Kisaran, kini aku tiba di rumah. Di sampingku, Teuku berdiri sambil merapikan rambutnya –yang menurutku tak akan pernah bisa rapi walau digosok dengan setrika paling panas sekalipun, dia berdecak beberapa kali.

“Kamu pasti orang terkaya di Kisaran ya, gede banget rumahnya. Lebih gede dari rumah kos kita.”

“Cuma unggul ukuran aja, tampilan luar dan dalamnya standar. Gak ada fasilitas yang luar biasa,” ujarku. “Mama-papaku pasti ada di gudang, yuk!”

Teuku mengikutiku menuju bangunan beton yang terpisah sepuluh meter dengan samping kanan rumah, itu adalah sumber nafkah keluargaku. Sebagian besar waktu satu harian dihabiskan mama-papaku di sana.

“Ternyata kamu gak bohong ya tentang mikul karung beras…”

Aku tertawa, “Aku gak bohong tentang gudang sembako. Kalau tentang karung beras, pekerja Papa yang melakukannya. Mereka datang  pas ada bongkar muat aja…”

Sepertinya Teuku siap mengomel, tapi batal karena mamaku keburu histeris menyambut kami. Setahun tidak bertemu anak tunggalnya membuat mamaku bereaksi berlebihan. Aku merona sendiri karena pipiku dicium beliau berkali-kali, kepalaku jadi bulan-bulanan sambil terus berujar “Mama kangen Mama kangen…”

“Ma, ini Teuku yang sering Edgar certain di telepon…” kataku menghentikan tingkah Mama yang membuatku terlihat belia sepuluh tahun ke belakang.

“Horas, Tante… apa kabar?” sapa Teuku sambil menyalami dan mencium tangan mamaku.

Kami kontan tertawa mendengar dia menyapa mamaku dengan sapaan khas Sumatra Utara. Seingatku, Teuku belum pernah menyebut ‘horas’ sebelumnya.

“Duh, Nak Teuku bener-bener menggemaskan seperti yang dibilang Edgar… Tante baik… selamat liburan di Kisaran, selamat datang di rumah Edgar, moga betah.”

Kulihat Teuku kikuk sendiri karena bahunya ditepuk-tepuk mamaku perlahan. Dia tersenyum canggung dan mengangguk-angguk. “Pasti betah, Tante.”

Saat itu juga, kehadiran Teuku yang Anak Aceh langsung membuat heboh lingkungan sekitar rumahku yang mayoritas katolik. Mamaku merumpi dengan ibu-ibu tetangga di kiri kanan. Beberapa dari mereka bahkan langsung menyusul masuk ke rumah untuk melihat Si Anak Aceh. Hari pertama di rumahku dilalui Teuku tanpa melewatkan rona merah di wajahnya tiap kali ada ibu-ibu yang mengulurkan tangan padanya. Aku bahkan belum sempat membawanya beristirahat di kamar.

***

“Kamu sering nyeritain aku sama mamamu, ya?”

Aku membuka pintu kamar, “Beberapa kali…”

“Nyeritain apa saja?”

“Nyeritain beberapa sifat baik teman kos-ku,” jawabku sambil menyeringai padanya. “Yap, welcome to my world…” aku masuk kamar diikuti Teuku di belakangku.

Benda pertama yang menyita perhatian Teuku dari sekian banyak benda di dalam kamarku adalah toples bening bertutup merah yang bertengger sendiri di rak paling atas meja belajarku.

“Itu isinya apa?” dia menunjuk.

Aku mengikuti arah telunjuknya, “Lihat saja sendiri.”

Teuku berjalan mendekat, rak itu terlalu tinggi buat digapainya. “Siapa sih orangnya yang gak punya kerjaan bikin rak setinggi Seulawah gini…” dia mengomel, siap untuk memanjat ke kursi di dekatnya.

Aku geli sendiri mendengar Teuku berucap seperti itu. Kuhampiri dia lalu kuserahkan toples yang mencuri perhatiannya sebelum dia sempat memanjat ke kursi.

“Burung kertas?”

“Memangnya dari tadi belum kelihatan ya?”

“Warna-warninya berkilau, aku kira gulali.”

Aku sukses terbahak. “Jadi kamu mengambil dengan niat mau dimakan, gitu? Dasar bocah…” Ledekku, “Mereka berkilau karena terbuat dari kertas perda…” aku menunjuk pada toples di tangan Teuku.

“Tapi bagus ya… kamu yang bikin?”

Aku mengangguk. “Itu usianya sudah setua masa pendidikanku. Tahukah, aku bikin burung-burung itu saat kelas satu sekolah dasar. Aku bahkan masih ingat guru yang mengajarkan kami waktu itu, namanya Ibu Mimi.”

“Wah… luar biasa. Masih awet gini.”

“Awet karena disimpan dalam toples kaca, kedap udara dan gak lembab.”

Dia manggut-manggut, “Toples kaca juga bikin burung-burung ini tampak artistik di dalamnya… mereka jadi lebih cantik.”

Aku tersenyum melihat dia menatap toples yang masih terus dibolak-balik dalam tangannya dengan mata berbinar. “Meskipun cantik, ia hanyalah burung kertas, ia boleh punya sayap, tapi tetap tak bisa terbang kan?”

Dia menatapku, “Jayen sedang berfilosofi, ya?”

“Enggak,” jawabku. “Yang lebih pintar berfilosofi biasanya mahasiswa Fakultas Hukum.”

“Mahasiswa Hukum tuh pinternya ngapalin UUD empat lima, yang gemar nyiptain filosofi adalah Mahasiwa Filsafat.”

Aku tak merespon lagi, kuperhatikan Teuku yang mulai menggoyang-goyangkan toples, membuat burung-burung kecil di dalamnya berpelantingan.

“Kamu suka?”

“Banget.”

“Ambil aja…”

“Eh?”

“Aku bilang, kalau suka ambil aja, bawa pulang.”

“Buatku?”

Heuh, lemot juga dia. “Iya. Gak mau?”

“Geratis kan, kenapa harus gak mau?”

Aku menghembuskan napas putus asa. Kutinggalkan dia yang masih asik dengan toples menuju tempat tidurku. “Kalau mau istirahat, silakan…” aku melepas kemeja dan kaos dalam, bertelanjang dada kuhempaskan diriku terlentang di kasur.

***

“Maaf ya, aku gak punya sajadah buatmu…” ujarku ketika Teuku baru saja selesai mengambil wudhu, ujung lengan baju muslim hitamnya tampak basah. Ini sembahyang magrib pertamanya di rumahku.

“Tak apa, sarung bersih ada kan? Minta itu aja buat sajadah… Aku gak ingat untuk bawa, padahal koko sama sarung dan peci gak kelewat. Pikun!”

Seperti biasa, aku diam memperhatikan sampai dia selesai menoleh ke kanan dan ke kiri.

***

Meskipun ini bukan yang pertama, berada satu tempat tidur bersama Teuku sekarang membuat aku berdebar hebat. Ketika satu tempat tidur di rumahnya dulu, aku tak merasa dadaku begitu berdentuman seperti saat ini.

Aku tak dapat memejamkan mata. Dari merebahkan diri lebih empat jam lalu kantuk sama sekali belum menjamahku. Alih-alih aku hanya memperhatikan sosok kecil Teuku yang berbaring damai satu hasta di samping kiriku. Nafasnya teratur, bibirnya sedikit merenggang. Dalam keadaan seperti ini, dia berkali-kali lipat tampak begitu menarik semua inderaku.

Tiba-tiba saja hasrat untuk memeluknya membuncah dalam dadaku.

Aku menahan napas sambil bergerak perlahan menutup sehasta jarak antara kami. Takut membuatnya terbangun, dengan begitu perlahannya juga aku melingkarkan tangan kananku ke pinggang rampingnya, diikuti bagian tubuhku lainnya yang menempel padanya. Sekarang, aku bisa merasakan hembus nafas Teuku di kulit dadaku, aku bisa membaui aroma rambutnya lewat hidungku, aku bisa merasakan tekstur kulit punggungnya di telapak tanganku. Kuangkat tungkai kananku untuk menyempurnakan dekapanku padanya seiring dengan mataku yang terpejam.

Tidur memeluknya seperti ini menimbulkan satu keyakinan baru lagi dalam hatiku… bahwa Teuku diciptakan untuk mengisi dekapku.

***

“Aku akan terlihat seperti apa ya jika mengenakan seragam sembahyangmu itu?” aku bertanya iseng setelah Teuku selesai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Dia mengangkat bahu, “Kalau mau tahu terlihat kayak apa ya bercermin saja.” Teuku melepas kancing-kancing baju muslimnya dan menyodorkan padaku. “Ini bukan seragam wajib, ini disunatkan saja. Yang wajib itu adalah menutup aurat selama shalat, boleh dengan pakaian apa saja asal suci…” dia menjelaskan lalu menyodorkan peci rajutnya.

Aku tersenyum menerima baju dan pecinya.

“Meski di badanku kedodoran, di badanmu pasti kesempitan. Baju koko style-nya memang harus longgar, gak ngepas kayak misal kita mengenakan kemeja…”

Dia benar, rasanya badanku mengerucut dalam belitan baju muslimnya ini. Teuku tertawa. Aku menatap bayanganku di cermin sambil nyengir sendiri. “Kalau ukurannya lebih besar lagi mungkin bakal bagus ya, Ngil.”

“Mungkin,” sahutnya. “Kalau baju kokonya memang ukuranmu mungkin kamu bisa terlihat kayak muallaff…

Sesaat aku bengong, dia pernah menjelaskan tentang muallaf padaku satu kali dulu. Katanya, muallaf itu keadaannya bersih seperti bayi baru lahir, semua dosanya sebelum jadi muallaf dihapuskan, tak dihitung.

Aku tersenyum sambil melepas baju muslim Teuku.

***

“Mungil sanggup gak, duduk motor selama lebih empat jam?” tanyaku saat pagi menjelang kepulangan kami ke Padang Bulan.

Dia baru saja memasukkan toples burung kertas yang kuberikan kedalam ranselnya. “Kenapa?”

“Hukumanku kandas, motorku balik lagi. Aku berencana bawa pulang motornya hari ini biar kita punya kendaraan di sana jika keluar-keluar. Sanggup aku bonceng selama itu gak?”

Teuku terlihat mikir, “Barang-barang kita mau ditaruh dimana?”

Aku tersenyum simpul, ternyata itu yang jadi bebannya. “Barangnya kita kasih mobil travel aja, biar Papa yang ngurus lah. Kita berdua balik pake motor, gimana?”

“Ayo aja!”

“Tapi kamu sanggup kan?”

“Kecil lah kalau cuma duduk aja.”

Tepat pukul sembilan pagi, setelah Teuku diwanti-wanti mamaku untuk berkunjung lagi liburan mendatang dan setelah uang sakuku ditambah Papa –uang bensin, katanya- kami meninggalkan rumahku.

Sepanjang jalan dari Kisaran hingga ke Padang Bulan, Teuku merapat ke punggungku. Aku yakin, dari depan dia bahkan tidak terlihat sedikit pun, tersembunyi di balik punggungku yang katanya selebar dan setinggi pilar mesjid. Yang membuatku senyum-senyum senang sendiri, dia hanya melepaskanku ketika kami singgah untuk minum. Selebihnya selama di atas motor, tangannya tak pernah meninggalkan pinggangku.

***

Padang Bulan, Oktober 2004

Kami melewati Bulan Puasa Teuku sama seperti dulu. Aku masih ikut sahur dan berbuka bersamanya, kadang-kadang masih mengisi perut dengan segelas jus atau air mineral dingin di siang hari, masih sering tertidur ketika sedang mendengarnya membaca kitab suci. Bedanya, kami tidak lagi membeli menu sahur sepulang dia dari mesjid. Karena sudah punya motor, kami membeli menu sahur tepat di jamnya. Seperti dulu, aku menikmati rutinitasku, bahkan lebih menikmatinya kini.

***

Perasaanku pada Teuku masih seperti dulu, kata-kata cintaku juga masih tetap tertahan. Adakalanya aku merasa begitu siap untuk berucap, bibirku sudah bergerak-gerak hendak memuntahkan kata, tapi kemudian aku menyadari diriku belum mampu menerima reaksi paling buruk dari Teuku. Meski belum bisa menyematkan status baru pada hubungan kami, aku tidak lantas merasa putus asa apalagi kecewa. Selama kami masih bersama-sama, status sehebat ‘kekasih’ belumlah terlalu prioritas.

***

Padang Bulan, awal Desember 2004

“Kalau kuliah kita udah tamat, kita bakalan pisah ya… mencari jalan sendiri-sendiri…”

Aku berpaling menatapnya, dia sudah lancar melipat-lipat kertas mengkilat di tangannya menjadi burung-burung kecil. Toples yang dulu masih menyisakan ruang kosong kini terlihat mulai penuh. Aku sendiri yang mengajarinya.

“Jangan ngomongin pisah dulu, masih lama kita selesainya. Masih ada tujuh semester lagi.”

Aku tidak dizinkan melipat kertas-kertas itu, dia mau memenuhkan toples dengan jarinya sendiri, ‘Setengah punyamu, setengahnya lagi punyaku…’ begitu dia berujar saat aku pertama-tama mengajarinya beberapa hari lalu.

“Apa aku udah pernah bilang kalau kamu adalah sahabat terbaik yang pernah kupunya?”

Aku mendesah, “Udah, saat malam tahun baru dulu itu kan…”

Dia menggeleng, “Bukankah saat itu aku bilangnya kalau kamu adalah lelaki baik yang pernah jadi sahabatku?” ternyata dia masih ingat dengan rinci kalimatnya waktu itu.

“Beda ya?”

“Jelas beda…” sahutnya mantap sambil memasukkan burung kertas ke sekian yang baru saja selesai dilipatnya ke dalam toples.

“Dimana bedanya?”

“Lelaki baik yang pernah jadi sahabat, beda dengan sahabat terbaik yang pernah dimiliki.” Dia membalikkan badan menghadapku, “Sini biar aku kasih pencerahan…”

Aku tertawa lalu duduk bersila menghadapnya, bersiap mendengarkan sesi pencerahan dari Teuku. Toples burung kertas berada di antara kami.

“Kalau ‘Lelaki Baik yang Pernah Jadi Sahabat’ itu artinya, masih ada kemungkinan lelaki lain yang kadar baiknya juga sama denganmu akan menjadi sahabatku…”

Aku bengong sambil mencoba mencerna kalimatnya. Lalu mengangguk mengerti.

Dia mengulum senyum, “Kalau ‘Sahabat Terbaik yang Pernah Kupunya’ itu artinya kamu adalah satu-satunya sahabat paling baik yang pernah kumiliki. TER-BA-IK…” dia memenggal-menggal kata ‘terbaik’ dengan jeda yang tepat. “Gak ada yang lebih baik lagi, hanya kamu satu-satunya…”

Aku tak bisa berkata-kata untuk waktu yang agak lama. Satu sisi aku bahagia dengan kalimatnya yang menerangkan bahwa aku adalah satu-satunya lelaki paling baik yang pernah jadi sahabatnya. Namun pada saat bersamaan aku merasa bagai melompat dari atas menara, jatuh deras menuju bumi ketika dia memegang kuat kata ‘SAHABAT.’ Aku tak mungkin bisa lebih dari itu untuknya. Namun kemudian aku tercengang ketika dia tiba-tiba berucap…

“Andai aku cewek ataupun kamu yang seorang gadis, pasti aku akan mengubermu kemana-mana buat jadi kekasihku…” dia menyengir. Kalimat lanjutannya sukses membuatku terbelalak. “Andai dua orang lelaki tak dilarang pacaran, ya…”

Meski dia tertawa setelah berucap seperti itu, tapi hatiku sudah cukup menghangat. Kuambil kesimpulan sepihak, dia mencintaiku. Tapi norma menghalanginya untuk menyebutku kekasih. Itu sudah cukup.

***

Padang Bulan, 24 Desember 2004

Kami setuju untuk meninggalkan kost. Aku akan merayakan natal bersama keluargaku dan Teuku akan merayakan hari jadinya bersama keluarganya. Umminya sudah menelepon beberapa hari yang lalu mengabarkan ingin membuat syukuran seperti yang dulu pernah dilakukan ketika tiba hari lahir anak sulungnya. Kami juga sudah sepakat akan melewati momen pergantian tahun bersama-sama di Kota Medan seperti setahun lalu. Jadi, kami berjanji untuk sudah berada di kos-an lagi tanggal 29.

Tepat pukul sembilan pagi, mobil travel datang menjemput Teuku yang sudah siap dengan ranselnya. Dia tidak membawa pulang banyak barang, begitupun aku. Kami tak sampai seminggu di tempat masing-masing.

Teuku memelukku sebelum masuk ke mobil, cukup lama. Kutepuk-tepuk punggungnya ketika kurasakan dia menangis di dadaku. Si supir memandang kami, dia pasti berpikir kalau aku sedang melepas keberangkatan adikku.

“Baik-baik ya di jalan…” kubantu dia mengeringkan matanya. “Kalau sudah sampai kasih kabar…”

Dia mengangguk, “Kamu juga jangan ngebut-ngebut pulangnya…”

“He eh… salam buat semua di sana.”

“Salamku juga buat Papa Mama…”

Kuangkat jempolku buatnya.

Dia menyalamiku, menggenggam tanganku begitu erat dan lagi-lagi air mata meluncur darinya. Kupaksakan sebuah senyum sambil satu tanganku yang bebas mengusap bulir air yang menggantung di bawah matanya.

“Jaga diri…”

Dia mengangguk.

Aku kaku dengan perasaan tak menentu ketika Teuku membungkuk dan mencium punggung tanganku, untuk yang pertama kalinya.

“Aku pulang, ya…” dia melepaskan genggamannya lalu berbalik.

Teuku masuk lalu menutup pintu, dia menempati jok depan, di samping Si Supir. Klakson berbunyi satu kali sebelum mobil bergerak, Teuku melongok sambil melambai padaku. Aku jelas melihat dia masih menangis. Kubalas lambaiannya hingga dia sudah tak terlihat. Wajahnya yang melongok dari kaca mobil terekam jelas di kepalaku, rambutnya yang tak pernah bisa rapi, bentuk wajahnya yang kecil, dan mata bundarnya yang berlinangan. Itu semua terekam dengan amat jelasnya.

Aku masih berdiri mematung hingga sepuluh menit setelah mobil travel meninggalkan gerbang. Baru setelah itu aku mengancing jaketku, menyandang ransel dan menyalakan motor.

Ketika motorku mulai melaju di jalanan, saat itulah aku menangis sejadi-jadinya. Dadaku rasanya sesak. Kami pernah berpisah sebelumnya, saat Teuku pulang untuk berhari raya. Namun perpisahan kali ini rasanya begitu beda sehingga emosiku tak terbendung, dan aku menangis sesengukan di atas motor…

***

Kisaran, 26 Desember 2004 pukul 00.00 WIB

Aku tak menunggu lama ketika panggilanku tersambung. Suara yang teramat kurindukan menyapa di ujung talian. Rasanya sudah begitu lama aku tak menikmati logat cadal ini.

“Halo… Jayen…”

Dadaku mengembang detik itu juga.

“Apa aku membangunkanmu, Mungil?”

“Aku belum tidur…”

Ya, aku tau kalau dia belum tidur. Jika sudah, panggilanku tak mungkin terjawab secepat ini, bahkan sebelum aku sempat mendengar nada sambung. Tapi aku berpura-pura bego saja.

“Eh, Mungil kenapa belum tidur?”

Dia tertawa, “Nunggu kamu nelpon…”

Aku tersenyum meski dia tak dapat melihatnya. “Kok yakin gitu kalau aku bakal nelpon? Kan aku gak ada bilang-bilang mau nelpon.”

“Kamu gak mungkin gak bakal nelpon!” cetusnya demikian yakin.

Aku tertawa, kemudian berdehem. “Selamat hari jadi yang ke tujuh belas ya… semoga panjang umur.”

“Iya, makasih…”

“Maaf gak bisa bawain lilin angka tujuh belas ke situ…”

“Memangnya sekarang kamu punya lilinnya?”

“Engga.”

“Konyol…”

Aku tertawa, “Kadonya nanti pas balik ke sini ya, Ngil…”

“Sarung tangan bisbol?”

“Itu salah satunya,” jawabku.

“salah dua-nya?”

“Rahasia, biar jadi kejutan aja.”

“Harus bagus dan mahal!”

Aku tertawa lagi, “Pasti.”

Diam sejenak, sepertinya Teuku menguap.

“Kalau udah ngantuk tidur aja sana…”

“Gimana natalnya tadi?” dia tidak menggubris kalimatku, malah menanyakan natalku.

Great, aku dapat banyak kado di sini…”

“Pohon natalnya?”

“Luar biasa, aku menghiasnya sama Mama…”

“Hemm…”

“Persiapan syukuran-mu bagaimana? Udah beres semua? Pasti banyak makanan enak besok di rumah…”

“Abah order catering, Ummi cuma bikin beberapa penganan khas aja buat nambah-nambah.” Dia menjelaskan.

Setelahnya tak ada yang bersuara di antara kami. Diam menggantung di talian telepon.

“Mungil…”

“Jayen…”

Aku dan Teuku tertawa. Setelah sama-sama diam, baru saja kami memanggil berbarengan. “Kamu dulu,” ujarku.

“Emm… mau dibawain kado natal apa?”

Aku tak yakin itu yang akan diobrolkannya ketika memanggilku tadi, tapi biarlah… “Gak usah, aku udah dapat banyak di sini…”

“Aku juga pengen jadi Santa Claus buatmu. Ayo, pengen kado apa?” dia bersikeras.

“Kadonya cukup kamu yang balik ke Padang Bulan tepat waktu. Itu aja udah…”

Dia tertawa, “Itu sudah pasti. Selain itu?”

“Aku gak pengen apa-apa lagi asal kamu udah ada…”

Dia mendesah, “Ini akan jadi kado natal pertamaku buatmu. Aku bawain jaket ya…”

“Gak usah, Mungil!”

“Tapi aku udah beli…”

Ya Tuhan, kalau sudah dibelinya ngapain nanya-nanya lagi. Aku kembali merasakan perasaan gemas yang sudah tak kurasakan sejak beberapa hari lalu. “Gila, kalau sudah dibeli ya bawa aja. Aneh…”

Dia ngakak lebar.

Lalu hening lagi beberapa saat.

“Jayen…”

“Hemmm…”

“Makasih ya…”

“Untuk?”

“Untuk semuanya… untuk apapun kebaikan yang ada di dirimu buatku. Untuk kebersamaan yang telah kamu berikan, untuk waktu-waktu berharga yang sudah kamu ciptakan di duniaku, untuk apapun…” kudengar suara tarikan nafasnya. “Aku belum pernah bilang ini sebelumnya… terima kasih untuk telah jadi pelindungku selama ini…”

Aku tak bisa bersuara sepatah katapun.

“Mungkin kamu gak sadar bahwa keberadaanmu bersamaku telah melindungiku di negeri orang. Aku merasakan itu, aku merasa terlindungi dengan adanya kamu… makasih ya.”

“Hemm…”

“Aku menyayangimu lebih dari yang kamu tahu…”

Lidahku kelu.

“Aku juga yakin bahwa diriku tak bisa menakar sedalam mana kamu menyayangiku…” dia tertawa pendek. “Jujur ya, saat pertama kali melihatmu di depan teras waktu itu, aku merasa takut melihat sosokmu yang jangkung. Dalam hati aku berujar, ‘Bakalan sering dipalak nih…’”

Tawa kecil menyembur dari mulutku.

“Tapi begitu melihat tatapan teduhmu padaku, aku langsung sadar bahwa ketakutanku tak beralasan. Lalu aku memutuskan untuk tersenyum… dan kamu menunjukkan kebaikan yang aku lihat di matamu ketika kita bertatapan.”

Aku sungguh kehilangan kata-kataku. Teuku tidak bersuara lagi beberapa lama kemudian, yang terdengar hanya bunyi hela nafasnya.

“Ngantukku hilang…” cetusnya tiba-tiba sambil terkekeh.

Aku ikut tertawa.

Kami mengobrol lama setelahnya, aku bahkan harus men-charge ulang hape polyphonic-ku karena batrenya lemah. Baru ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari aku memaksa Teuku untuk mengakhiri obrolan meski dia terus bilang tidak mengantuk.

“Besok adalah hari besarmu, gak lucu kalau kamu tiba-tiba pingsan pas sedang bagiin catering buat anak-anak panti. Udah sana tidur…!” Setelah mengucapkan selamat sekali lagi buatnya, kami mengakhiri obrolan.

Sebelum tidur, kutatap kotak kado yang terbungkus rapi di atas meja belajarku. Aku sendiri yang membungkusnya sore tadi. Kado ulang tahun Teuku yang ke-17.

***

Kisaran, 26 Desember 2004

“EDGAR…!!! EDGAR…!!!”

Rasanya aku seperti mendengar teriakan Mama. Mataku terasa berat untuk kubuka.

“EDGAR… BANGUN… GEMPA…!!!”

Tanganku ditarik hingga aku terlonjak bangkit. Dan seketika aku sadar bahwa bumi bergoncang hebat. Bisa kudengar bunyi derak atap rumahku.

“AYO KELUAR…!!!” Mama kembali menarik tanganku.

Kantukku tak berbekas, aku tak pernah merasa se-terjaga ini sebelumnya. Begitu tiba di halaman, aku menemukan orang-orang sudah mengelesoh rata di tanah. Semuanya bergoyang. Rasanya tanah bergerak bak gelombang laut. Orang-orang meracau menyebut Tuhan, berdengung bagai dengung lebah, kadang diselingi teriakan.

Aku memegang kuat lengan Mama, kami jongkok di halaman rumah. Pikiranku melayang kemana-mana, Tuhan… apakah ini kiamat?

Dunia masih terus bergoyang, kadang serasa menyentak. Aku takut tanah akan terbelah dan menyedotku ke dalamnya. Membayangkan demikian, aku bergetar ngeri.

Mama komat-kamit membaca doa, sekarang kedua tangannya mencengkeram lenganku begitu kuatnya. Aku mengikuti Mama, meracau apapun yang aku bisa.

Rasanya belasan menit ketika perlahan kurasakan bumi berangsur-angsur diam. Kupandang wajah-wajah pias di sekitarku, sama pucatnya dengan wajahku saat ini.

Kulihat Mama yang berdiri gemetar memandang gudang kami, isinya porak-poranda.

“Ma, Papa mana?” aku baru sadar bahwa dari tadi belum melihat Papa.

“Keluar pukul tujuh tadi…”

Aku memandang sekitar, Mama berjalan ke gudang. Lalu tiba-tiba aku ingat Teuku, apa di tempatnya juga terjadi gempa? Segera aku berlari masuk ke rumah. Kuabaikan beberapa guci keramik Mama yang pecah bertaburan di ruang tamu, aku berlari menuju kamar.

Satu kali panggilanku tak tersambung, kocoba lagi, masih belum tersambung. Aku berteriak kencang ketika mendengar suara Teuku pada panggilan kelima.

“Mungil… di sini gempa!” seruku kencang.

“Jayen…” lalu bunyi ribut koneksi yang buruk.

“Halo, Mungil… aku gak dengar apa-apa…” kembali aku berseru sambil berlari keluar dari kamar.

“…ru…man…gar…tiang lis…han… Krrrkk… kirkkk…”

Yang kudengar adalah suara Teuku yang terpenggal-penggal dan bunyi tak jelas. “Mungil…” panggilku.

Lalu

TUT TUT TUT TUUUTTT

Rasanya aku ingin membanting hape sialan di tanganku ketika berkali-kali kucoba menghubungi Teuku lagi setelahnya namun selalu gagal.

“Edgar, bantuin Papa di gudang!” papaku memanggil.

“Arrrggh…”

***

Banda Aceh luluh-lantak diterjang air pasang, ribuan orang meninggal dunia.

Begitulah yang kudengar. Kehebohan terjadi dimana-mana. Televisi menayangkan gambar tanpa jeda. Aku tak peduli. Di sudut kamar, aku masih terus memencet tombol panggil di hapeku. Masih terus melakukannya, meski aku tahu bahwa yang kulakukan adalah kesia-siaan.

Banda Aceh luluh-lantak. Ribuan orang tewas.

Aku tak ingin mempercayai dua kalimat itu, aku tak ingin mempercayai berita itu. Masih sambil berlinangan, kubanting benda ditanganku hingga hancur berantakan. Tak berbentuk lagi.

Kuharap Tuhannya menjaganya.

***

Bencana Nasional. Berita berkoar-koar demikian. Indonesia menjadi sorotan dunia, Aceh menjadi destinasi utama lembaga kemanusian di belahan dunia manapun. Semuanya tumpah-ruah menuju ke ‘rumah’ Teuku.

Aku tak ingin memadamkan asa yang masih berkelip-kelip kecil di hatiku. Aku tak ingin berhenti berharap bahwa Mungil-ku baik-baik saja di sana. Tapi kenyataan juga tak mungkin bisa kubantah.

Kami sudah berjanji akan bertemu kembali di Padang Bulan.

Aku mulai putus asa.

***

Jika saja tak dilarang keras oleh Papa, aku sudah akan menumpang truk bantuan yang menuju ke Aceh. Transportasi begitu sulit diperoleh. Mobil-mobil travel penuh hingga ke atap-atapnya. Tak ada celah untuk pergi.

Aku ingin mencari Teuku. Aku ingin menemukan Mungil-ku. Meski takdirnya harus pedih, aku ingin menemukannya di antara jasad-jasad kaku di sana…

Namun aku tidak berada di sana. Aku meringkuk gemetar di sudut kamarku yang terasa kian suram.

***

Kehilangan itu adalah sayat pedih

Dan remuk hancur

Dan derak patah

Dan nanah luka

Kehilangan itu adalah kehampaan

Dan kekosongan abadi

Dan keputus-asa-an panjang

Dan kesendirian tak ber-sudah

Kehilangan itu adalah aku

Dan diriku yang mati rasa

Dan hatiku yang hilang cahaya

Dan jiwaku yang serasa lepas…

 

Aku harus ikhlas menelan kenyataan pahit. Bahwa aku tak akan melihat Teuku lagi sampai kapanpun. Jumlah korban terus bertambah, tak ada harapan bagiku. Tak ada yang bersisa dari daerah yang berada di pesisir pantai, Lampulo begitu dekat dengan pantai. Aku berhenti berharap.

Dan kehilangan meleburku hingga jadi abu.

***

Kisaran, 01 Januari 2005

Aku berada di alun-alun kota medan. Teuku melompat-lompat girang di sampingku sambil mendongak langit yang dipenuhi nyala kembang api. Dia begitu ceria, begitu hidup… logat cadalnya memenuhi pendengaranku, sosoknya memuaskan pandanganku…

Saat pagi tiba, Mama bertanya, apakah aku menangis dalam tidurku malam tadi?

***

Padang Bulan, mulai Februari 2005

Aku melihat Teuku dimana-mana. Di kedai makan Aceh langganannya, di kampusnya, di sepanjang jalan Dr. T. Mansur saat pulang pergi kuliah, di kantin, di angkot yang melintas, di becak manapun yang berpapasan denganku, di dalam mobil travel, di mesjid dekat kos tempat dia beribadah hari Jumat, di sekitar Katedral Medan. Aku melihatnya setiap hari di boncengan motorku, di dalam kamarku, di seluruh sudut rumah kos. Aku menemukannya di gerbang ketika hendak pergi dan pulang, berdiri bersama koper besarnya. Aku melihatnya setiap saat, dia ada dimana-mana.

***

Padang Bulan, Juni 2005

Aku menatap miris pada barang-barang dalam kamar Teuku. Sudah sejauh ini, tak ada siapapun yang datang kemari mengklaim bahwa barang-barang itu milik kerabat mereka, Teuku Phonna Darussalam. Tak ada seorang pun. Teuku seakan tak pernah kemari untuk diketahui siapapun di sana. Teuku seakan tak pernah lahir untuk ditelusuri jejaknya di sini oleh siapapun di sana yang tahu dia. Tak ada, Teuku terhapus hilang dari ingatan entah siapapun itu di sana.

Namun dia tidak pernah akan terhapus dari ingatanku, tak akan pernah. Kurebahkan diriku di atas ranjang tempat dia biasa berbaring. Kupeluk gulingnya dengan mata yang mulai basah.

Besok kamar ini akan ditempati orang lain. Pemilik kos baru saja memberikan kunci duplikat kamar Teuku padaku. ‘Dia paling dekat denganmu, tolong urus barang-barangnya, ya.’

Aku mulai membuka seprei dan sarung bantal, juga guling. Kulipat rapi dan kumasukkan dalam koper. Kukeluarkan baju-baju Teuku dari dalam lemari. Pekat. Hitam adalah warnanya. Gambaran dirinya ketika mengenakan baju-baju itu dapat kuingat semuanya. Ada baju muslim yang sempat kupakai juga di sini, peci rajutnya, sajadahnya, denim-denimnya yang begitu kecil, baju almamaternya, jaketnya, semuanya. Kini lemari itu kosong, isinya sudah kembali masuk ke koper besar tempat mereka berada ketika dibawa kemari dulu.

Kusapu mataku sebelum beranjak ke meja belajar. Teuku membawa pulang Laptopnya tika itu, kusentuh mesin printernya, berdebu. Buku-bukunya juga diselimuti abu tipis. Tangan yang biasa menjamah mereka tak ada lagi. Air mataku kembali meluncur deras ketika menatap kitab sucinya yang berdiri sepi di sudut meja, aku rindu suara Teuku ketika membacanya. Teramat sangat rindu. Kumasukkan benda-benda di atas meja belajar itu bergabung dalam kardus.

Sekarang aku terpaku menatap bola bisbol yang bersanding dengan toples kaca berisi burung kertas di dalamnya. Kedua benda itu diletakkan pada satu-satunya rak yang ada di meja.

‘Siapa tahu ke depan nanti aku bisa jadi pemain tenis kayak Roger Federer…’

‘Warna-warninya berkilau, aku kira gulali…’

‘Toples kaca juga bikin burung-burung ini tampak artistik di dalamnya… mereka jadi lebih cantik…’

Kalimat-kalimat Teuku seakan kudengar lagi kini, begitu jelas. Aku mendekap kedua benda itu di dadaku. Rasanya begitu menyesakkan. Dia pergi terlalu pagi, bahkan matahari belum naik sempurna. Usianya genap tujuh belas…

Kini aku memasukkan sepatu-sepatu Teuku dalam kardus lainnya. Ukurannya begitu mungil, semungil nama yang kuberikan untuknya. Beberapa sandalnya juga kugabung dalam kardus sepatu.

Aku beralih pada poster-poster yang disebutnya sebagai kaligrafi yang tertempel di beberapa bagian dinding kamar. Dulu Teuku pernah membacakan bunyinya satu-satu untukku. Sekarang, aku melepaskan lembar itu satu-satu dengan perasaan hampa.

Kosong.

Bahkan setelah identitas Teuku telah tersembunyi di dalam koper dan kardus, aku masih bisa melihatnya bergerak aktif di dalam kamar ini. Nyatanya, identitas Teuku yang tersimpan dalam diriku tak akan pernah bisa kusembunyikan.

***

Aku hanya mengeluarkan baju muslim dan peci rajut dari dalam koper, kugantung dalam lemari bergabung dengan baju-bajuku. Sepasang sepatunya juga kuletakkan bersama beberapa pasang sepatuku.

Toples berisi burung kertas dan bola bisbol kusandingkan di dekat sarung tangan yang belum sempat kuberikan, di satu sudut meja belajarku. Di sana juga ikut menggeletak kotak yang masih rapi berbungkus kertas kado. Hadiah ulang tahun Teuku yang tak sempat diterimanya. Kado itu masih terbungkus rapi, bukan karena aku masih berharap bahwa suatu hari nanti aku bisa memberikannya pada Teuku. Namun ia masih berbungkus rapi karena aku tak punya daya untuk merobek bungkus, dan mengeluarkan isinya yang sempat kukatakan pada Teuku akan menjadi kejutan. Aku tak punya daya untuk melihat isinya yang kupilih dengan hati gembira di sebuah toko di Kisaran yang kukunjungi pertama dan terakhir kalinya tika itu.

Baju muslim warna hitam dan peci rajut berwarna sama di dalam kotak yang masih terbungkus rapi di atas meja belajarku, tak akan pernah menjadi kejutan…

***

AKU hidup bersama bayang dan memoriku tentang Teuku sampai pendidikanku selesai tahun 2008. Aku tidak pindah kos, barang-barang Teuku masih terawat baik dalam kamarku. Kadoku yang tak tersampaikan juga masih di tempatnya walau kertas pembungkusnya mulai usang.

Papaku menangis haru ketika aku diwisuda. Mama sesengukan saat aku berujar, ‘Andai Teuku juga bisa memakai toganya…’ Lebih dari yang aku tahu, Teuku juga telah meninggalkan kenangan baik dan menorehkan rasa kehilangan di hati mamaku ketika dia pergi.

***

Penghujung tahun 2008 aku diterima bekerja di sebuah bank swasta di Kota Medan. Kupindahkan semua barang-barangku dan Teuku ke rumah kontrakanku yang baru.

Lembar hidupku boleh saja berganti sejak saat itu, tapi ingatanku akan masa yang telah lewat bertahun ke belakang tidak serta-merta terkikis. Teuku masih hidup dalam diriku.

Setiap datangnya bulan puasa, aku juga masih melakukan beberapa hal yang pernah kulakukan bersama Teuku. Setiap tibanya tanggal lahirku, aku akan melepas rindu pada baju kaus yang pernah dihadiahkannya untukku yang sengaja tidak kupakai lagi sejak dia tiada, kusimpan bersama baju muslimnya. Pun begitu ketika tiba tanggal lahirnya, ketika orang-orang mengenang musibah dahsyat di tanggal yang sama, aku tenggelam dalam sesaknya kenangan bersama Teuku, berteman dengan identitasnya yang masih kusimpan.

Lalu bila natal tiba, aku melihat diriku dan Teuku sama-sama menghias pohon cemara sambil tertawa-tawa.

Dan pergantian tahun menjadi titik hampa yang kulewati bersama sepi.

***

Kota Medan, pertengahan 2012

Akhir-akhir ini aku sering melihat Teuku ketika tidur. Dia berdiri di atas hamparan luas rumput yang menghijau, tersenyum padaku sambil melambai. Wajahnya begitu cerah, mata bundarnya masih sama seperti yang kuingat, rambutnya juga, hanya saja terlihat lebih rapi. Tak ada kata, dia hanya berdiri memandang dan melambaikan tangan sambil tersenyum.

Ketika paginya aku terbangun, benda pertama yang aku ingat adalah toples berisi burung kertas yang berada di nakasku. Burung kertas buatan kami berdua.

Setelahnya aku akan teringat kata-kataku sendiri yang pernah kuucapkan padanya.

‘Meskipun cantik, ia hanyalah burung kertas, ia boleh punya sayap, tapi tetap tak bisa terbang…’

Seperti perasaan tak terkatakan yang masih kusimpan dalam hatiku hingga kini. Perasaan bernama cinta itu begitu cantik, begitu indah. Tapi cintaku diam, tidak menuju kemana-mana lagi. Burung kertas itu seperti aku. Meski aku punya cinta yang masih begitu kuat, namun cinta itu tak mungkin melesat kemanapun. Aku tertahan. Cintaku sudah terkurung di satu titik, tak mungkin bisa tersampaikan lagi, buat Teuku.

***

Kota Medan, 26 Desember 2012

Ketika Teuku muncul dalam tidurku lebih sering dengan gambaran yang sama, aku mulai mengerti satu hal. Melepaskan. Ya, delapan tahun aku telah hidup bersama kenanganku, dan kini dia ingin aku melepaskannya.

Pagi ini saat terbangun, aku merenung dalam-dalam akan gambaran berulang yang selalu sama dalam tidurku. Maka kemudian kumantapkan hatiku. Kuyakinkan diri bahwa aku telah sampai di ujung garis. Lalu kuputuskan, aku akan mengunjungi Teuku di hamparan luas rumput menghijau tempat dia berdiri tersenyum sambil melambai kepadaku.

Aku akan ke sana untuk pertama kalinya…

***

Ulee Lheue, 31 Desember 2012

Aku menatap hampa pada burung-burung kertas yang sudah kutaburkan di atas rumput hijau tempatku duduk berjongkok sejak belasan menit lalu. Toples yang menjadi wadahnya juga turut kuletakkan di atas rumput.

“Aku sudah melepaskanmu, Mungil… aku sudah bisa mengikhlaskanmu…”

Aku menyeka mata. Kususurkan jemariku di atas rumput, menyentuh burung-burung kertas yang baru saja kutaburkan.

‘Terima kasih untuk telah jadi pelindungku selama ini…”

 ‘Mungkin kamu gak sadar bahwa keberadaanmu bersamaku telah melindungiku di negeri orang. Aku merasakan itu, aku merasa terlindungi dengan adanya kamu…’

Kembali aku merefleksi masa yang pernah kulewati bersamanya. Dari awal aku melihatnya di gerbang rumah kos, sampai rekaman wajahnya yang melongok dari kaca mobil travel. Saat itu aku merasakan perpisahan kami beda. Siapa mengira, dia yang menangis sambil melambai dari pintu mobil ternyata menjadi penglihatanku yang penghabisan akan sosoknya, bahkan aku merasa sudah benar-benar berpisah dengannya ketika sesengukan di atas motorku waktu itu. Begitu juga ketika kami berbicara lama di telepon saat hari jadinya.

Takdir sudah menunjukkan tanda-tanda dengan begitu jelasnya, manusia yang tak jeli membaca.

‘Aku menyayangimu lebih dari yang kamu tahu…’

“Aku juga menyayangimu teramat sangat, Mungil…”

Angin sore berhembus damai di sini, aroma pantai membaur di udara. Satu kali dulu aku pernah membaui aroma yang sama di sini, ketika Teuku membawaku memutari Ulee Lheue dengan motor bebeknya.

“Tadi aku mengunjungi Lampulo… tempat rumahmu dulu… ah, aku masih bisa melihatnya meski sekarang ada bangunan baru di sana…” kuseka mataku, “Rasanya aku melihat Tuwah dan yang lainnya menyambut kita di teras…” aku tertawa pendek.

Senja mulai turun. Aku sudah terpekur cukup lama di atas rumput hijau yang menjadi satu-satunya tujuanku di sini.

“Mungil, dulu kamu pernah mengatakan padaku hal yang belum pernah kamu katakan sebelumnya… bahwa kamu merasa terlindungi dengan adanya aku. Sekarang, aku juga akan mengatakan hal yang belum pernah kukatakan sebelumnya padamu, meski aku pernah berpikir bahwa mungkin kamu tahu…” aku berucap lirih. “Aku mencintaimu, Mungil. Aku mencintaimu…” nafasku tercekat, aku mendongak sebelum meneruskan ucapan. “Aku pikir, suatu saat aku bisa mengatakan langsung. Tapi ternyata aku salah… aku baru bisa mengatakan sekarang setelah sekian tahun lamanya… setelah kamu di sini…”

Sebentuk kedamaian menelusup dalam rongga dadaku, aku merasa begitu ringan sudah melisankan setelah menyimpannya bertahun-tahun. “Aku yakin Mungil sudah bahagia di sana… jangan khawatir, Jayen juga bahagia di sini…”

Aku menoleh pada kubah mesjid di arah matahari terbenam, suara orang membaca kitab suci Teuku mulai mengalun dari speaker-nya.

“Mungil, aku sudah harus pulang…” kususurkan lagi jemariku di atas rumput. “Jika penghujung tahun depan aku masih hidup, aku pasti mengunjungimu lagi…” aku tersenyum, “Mungkin dengan membawa serta bola tenismu… tenang saja… masih banyak benda yang bisa kubawa sebagai kawanku jika tahun depan dan tahun depan dan tahun depannya lagi aku masih ada…”

Aku mendongak menatap langit yang sudah kelabu seluruhnya, lalu kubawa pandanganku ke arah barat yang memerah. “Mungil, aku belajar ikhlas… aku sudah ikhlas… meski aku tak bisa lupa, tapi aku sudah melepaskanmu…”

Kuraup wajahku lalu bangkit berdiri. Kupandang lagi burung-burung kertas di atas rumput sebelum mengambil langkah. Aku lega kini, aku percaya, inilah yang diinginkan Teuku.

Kulangkahkan kaki menuju gerbang. Sebelum beranjak keluar, aku berdiri dan kembali menyapu seluruh hamparan hijau di dalam sini dengan mataku. Pandanganku berhenti pada papan tanda bertuliskan ‘KUBURAN MASSAL’ dengan huruf besar yang terbaca begitu jelas bahkan dari jauh, diikuti kalimat ‘TAMAN MAKAM SYUHADA KORBAN TSUNAMI DESEMBER 2004’ yang tertulis dengan huruf lebih kecil di bawahnya. Papan ini terpancang demikian jelasnya, sebagai tanda. Layaknya prasasti. Aku mendesah. Taman Makam Syuhada, Teuku adalah Syuhada… aku tahu itu  sebutan yang baik. Dia telah berada di tempat yang layak, dengan sesama Syuhada.

Suara adzan magrib berkumandang tepat ketika aku keluar melewati gerbang hijau, pintu indah rumah Teuku sekarang…

Awal Pebruari 2013

Dariku yang sederhana

Nayaka Al Gibran

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com