CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tanpa memperbanyak kalimat, berikut Nayaka meng-upload tulisan ke-3 dari d’Rythem24. Apa hubungan TEARS dan SHINE dalam tulisan ini? semoga ada yang bisa nangkap hubungannya setelah menamatkan semua barisnya.

Happy reading, enjoy it. Jangan lupa kasih masukan.

wassalam

nayaka al gibran

################################################################

-d’Rythem24 present-

download

THE TEARS and THE SHINE

Genre: Boys Love, Angst, Fantasy, School-life.

. . .

Andi Point of View…

. . .

Aku membuka mata perlahan dan langsung disambut kilauan cahaya terang namun menenangkan hati…
Kutarik bibirku mencoba menciptakan senyum terbaik agar dapat tersinari cahayanya…
Aku berlari… Lari mengejar cahaya agar aku bisa mencapai tempat terciptanya…
Tapi…

“Andi Rahardian!!”

“Apa?!” Sahutku begitu mendengar suara seseorang meneriakan namaku tepat di indra pendengaranku.

“Ck ck ck,…”

Oh tidak, Suara decakan ini… Kupandangi seisi ruangan tempatku berada, semua mata kini tertuju ke arahku. “Ya ampun…” Desisku sembari menundukan kepalaku lesu.

“Udah puas tidurnya?” Tanya Bu Hasanah, Guru Fisikaku.

Aku mengangkat wajahku, kemudian nyengir padanya. “Hehehe, Ibu…?”

“Hehehe, Ibu… Apa?!” Bentaknya yang langsung membuat luntur cengiranku.
Ibu Hasanah, usianya 26 tahun. Berkerudung, cantik, sudah bersuami dan beranak satu, Tapi sayang dia galak.

“Ma-maaf, Bu… Sa-saya…” Aku tidak berani melanjutkan kata-kataku.
Kemudian aku menghembuskan nafasku pelan, “Apa hukumannya, Bu?” Tanyaku sebelum dia berkata ‘Kamu harus di hukum’ yang sudah jadi trademarknya.

Ibu Hasanah menarik nafas berat, “Buka halaman 78 sampai 84 dan hapalkan isinya… Ibu akan mengetes kamu besok, mengerti?” Titahnya menjelaskan.

Aku mengangguk lemah, Ibu Hasanah pintar sekali memberi hukuman. Tau saja aku bodoh dalam menghapal.
Setelah itu aku mulai melihat ke bukuku, tapi…

“Ini apa?” Tanyaku saat terlihat ada tetesan aliran air kecil di atas buku paketku.

“Apa? Itu iler kamu lah!” Jawab Bu Hasanah lantang. Terdengar suara cekikikan kecil dari beberapa teman sekelasku. Memalukan sekali! Dapat aku rasakan wajahku menghangat.

“Tapi biasanya saya gak ngiler kok.” Timpalku membela diri.

“Ckckck… Terus, itu iler siapa, hah?”

“Hmm, Oke Bu… Saya ngerti. Ini iler saya.” Kataku mengalah daripada pertikaian tidak penting ini bertambah panjang.

Bu Hasanah berjalan kembali ke tempatnya sambil berdecak pinggang. Lalu sebuah tangan yang memegang tissu terlihat membersihkan tetesan iler di atas bukuku. Aku menatapnya, dia memasang wajah polos sambil terus melap bukuku. Dia Hairul Maharaja, teman sebangkuku. Anaknya baik, pintar, suka membela orang lain, manis dan juga…

“Makasih, Rul.” Ucapku padanya begitu ia telah selesai mengelap iler di bukuku. Dia mengangguk kemudian menulis di atas tissu yang tadi ia gunakan.

‘Lain kali jangan tidur di kelas lagi ya?
Sama-sama.’

Itulah isi tulisannya. Dia adalah seorang tunawicara.

Aku punya kebiasaan buruk, sangat seringkali tertidur ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung. Bukan karena aku suka begadang, tapi itu memang sudah jadi ciri khasku.
Aku sering tertidur, terlebih di kelas yang mata pelajarannya tidak aku suka sama sekali, termasuk Fisika. Hairul sering sekali menepuk-nepuk tubuhku, hanya saja karena dia tidak bisa bicara, aku tidak pernah terbangun ketika digugah olehnya. Suara adalah hal utama yang bisa membuatku terjaga, apalagi suara menggelegar semacam suara milik Bu Hasanah, seperti yang baru saja terjadi.

Huft, inginnya sih aku punya teman sebangku yang baru agar bisa membangunkanku kapanpun-dan bisa bicara- hanya saja… Aku menatap Hairul yang kini sedang mengerjakan tugas di buku tulisnya.

“Aku menyukai Si Bisu ini…”

Hairul berkedik sekejap lalu menoleh ke arahku.
Ia terlihat akan menulis sesuatu di bukunya.

“Gak apa kok… Lanjutin aja tugas kamu.” Sergahku padanya. Ia pun mengangguk seraya tersenyum.

Ya, aku menyukainya… Meski aku tau ini tak wajar, dari segi jenis kami di ciptakan sama. Aku dan dia sama-sama lelaki. Hairul punya mata bulat berbola mata hitam pekat sehitam pekat rambutnya, punya bulu mata yang lentik, hidungnya pesek namun lucu, pipinya tembem, bibirnya tipis dan setiap saat aku melihat wajahnya… Aku merasa dia menyinariku.

Dia cahayaku…

.

Aku baru selesai memasukkan buku-bukuku ke dalam tas saat sebuah pesawat kertas mendarat tepat di atas mejaku. Aku memungutnya, di salah satu sayap pesawat kertas itu terdapat sebuah tulisan…

‘Open it!’

Aku membuka kertas itu, ada sebuah tulisan lagi disana…

‘Jangan lupa menghapal halaman 78-84..
SEMANGAT!!!!’

Aku pasti semangat…

Aku menoleh ke arah pintu kelas. Hairul melambaikan tangannya kemudian berlalu dari hadapanku. Aku tersenyum sembari memasukkan kertas itu ke dalam kolong mejaku, dimana kertas-kertas lain yang sudah ditulisi oleh Hairul sebelumnya berada.

. . .

Hari ini…

“Arrgghh!! Aku belum hapal semuanya!” Teriakku kesal sambil membanting buku Fisikaku ke atas meja. Beberapa saat kemudian secarik kertas diletakkan di atas telapak tanganku. Aku membaca tulisan yang tertera disana…

‘SEMANGAT!!!’

“Huh, gampang bagimu mengatakannya…” Responku seraya menoleh ke arah Hairul. Dia menulis kembali di atas sebuah kertas.

‘Aku tidak pandai berkata-kata kok.^^’

Begitu tulisnya.

“Hee? Ja-” Aku berhenti berucap ketika melihat senyum di wajahnya. “Maaf…” Ucapku pelan namun bersungguh-sungguh. Hairul cuma mengangguk, kemudian dia menepuk pundakku. Bibirnya mengucap ‘Semangat’ tanpa bersuara.

Ya, dia memang tidak pandai berkata-kata. Bahkan, Ia tidak bisa menyuarakan satu huruf pun.

.

Tuhan itu maha adil bukan? Dia selalu menciptakan manusia dengan kelebihan beserta kekurangannya. Dia menciptakan manusia yang wah dari fisiknya, tapi… Ada cacat saat takdir harus menghendakinya. Seperti aku dan Hairul… Aku tidak bisu tapi aku begitu bodoh. Sedangkan Hairul begitu pintar tetapi dia bisu.

“Andai kau bisa bicara…” Desisku sambil menatap ke atas langit biru dari tepi danau ini. Danau yang berada di belakang ruang seni.

Aku biasa bersantai di sini, untuk membagi cerita tentang cahayaku pada cahaya yang lainnya, yaitu Hairul pada langit. Dan juga untuk menambahkan isi air di dalam danau ini dengan tetes demi tetes air mataku yang mungkin akan mengalir kesana, seperti saat ini.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangaku.

“Andai saja…” Lirihku.

.

Ini adalah saat paling menegangkan dalam kelasku. Sebentar lagi Bu Hasanah akan masuk dan celakanya, aku belum hapal tugasku sama sekali. Kenapa harus ada hal sejenis Fahrenheit, Newton dan semacamnya sih dalam Fisika? Kenapa tidak Spongebob, Patrick atau Naruto yang lebih baik lagi? Tanpa membaca Wikipedia, men-searching di internet bahkan tidak menghapal pun, aku bisa menjelaskan tentang mereka, dari episode satu hingga yang sekarang. Err… aku benar-benar bodoh.

“Selamat pagi anak-anak!” Sapa Bu Hasanah ketika siluet tubuhnya mulai memasuki ruang kelasku ini.

“Pagi, Bu…” Jawab Kami bersamaan.

Aku dapat melihat senyum senangnya, namun senyum itu tidak terlihat menyenangkan bagiku saat Bu Hasanah mulai berjalan ke tempat dudukku.

‘Oh tidak!’

Bu Hasanah baru saja sampai di tempatku…

BRUKKK

“Hairul!?” Seruku ketika tiba-tiba saja tubuh Hairul jatuh tergeletak di lantai. Aku beranjak dari tempatku, diikuti teman-temanku yang lain yang juga beranjak dari kursi mereka.

“Rul? Hairul?! Kamu kenapa?” Teriakku panik sambil memangku kepalanya di atas pahaku.

“Bawa Dia ke UKS! Cepet, ‘Ndi!” Perintah Bu Hasanah.

“I-iya Bu!” Jawabku masih dilanda kepanikan, dan rasa khawatir yang menduduki posisi teratas.

.

Aku dan 3 temanku yang ikut menggotong tubuh Hairul membaringkannya di atas matras. “Dia kenapa, ‘Ndi?” Tanya Ikhlam, ketua kelasku yang ikut menggotong Hairul tadi.

Aku menggeleng, “Gak tau… Tadi pagi dia masih gak apa-apa kok.” Jawabku sejujurnya. Aku melihat ke arah wajahnya… Dia tidak kelihatan pucat, tubuhnya juga setauku tidak lemas, lalu… Dia kenapa?

“Gimana keadaannya?” Tanya Bu Hasanah yang sepertinya baru menyusul masuk.

“Gak tau, Bu. Dia cuma begini…” Jelasku apa adanya yang memang tidak tau juga perihal penyebabnya.

“Yang lain segera kembali ke kelas, dan buat kamu Andi… Berhubung kamu temen Hairul yang paling dekat, kamu tetap di sini, jagain dia.” Perintah kedua Bu Hasanah padaku.

“Tapi tugas saya gimana,Bu?” Tanyaku bingung dan tetap khawatir.

“Lupakan tugas, pentingkan dulu kesehatan Hairul… Bagaimanapun dia murid kesayangan Ibu! Ibu akan cari perawat buat dia, soalnya Bu Disti sedang absen. Mengerti?”

Aku hanya mengangguk menanggapi penjelasan darinya. Bu Hasanah dan 3 temanku keluar dari ruang UKS, kini hanya aku berdua dengan Hairul yang masih belum sadarkan diri di sini. Aku menggaruk-garuk kepalaku, bingung, khawatir, panik dan takut bercampur jadi satu sekaligus. Aku menyalakan kipas angin yang berada di samping tempatku berdiri. Siapa tau Hairul butuh udara segar.

Ya Tuhan, dia kenapa…

Aku mendudukkan tubuhku di atas matras di sampingnya. kuberanikan diri membelai rambut di atas dahinya yang berwarna hitam pekat. “Kamu kenapa sih?” Tanyaku lebih kepada diriku sendiri sembari mengusap dahinya.

Tiba-tiba mata Hairul terbuka, aku refleks berdiri karena kaget. “Hairul?!” aku berseru kikuk.

Hairul terduduk di pembaringannya sambil ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.

“Ka-kamu gak apa-apa, hah?” Tanyaku kemudian.

Hairul mengangguk mantap.

“Tapi tadi… Kamu pura-pura ya?” Tebakku mulai kesal.

Hairul mengangguk, lebih kuat dari sebelumnya.

Aku menghembuskan nafas lega, “Kamu ini… Ngapain pura-pura pingsan segala? Aku khawatir banget tau gak!” Lanjutku memprotesnya.

Hairul mengeluarkan pulpen dari kantong celana seragamnya, disusul tissu dari saku seragamnya. Ia mulai menuliskan sesuatu, kemudian ia tunjukan padaku…

‘Biar Kamu gak jadi di tes.’

“Hah?” Responku melongo total begitu membaca tulisannya.

Hairul cuma mengangguk, lagi.

Jadi, dia melakukan ini demi aku? Entah kenapa, aku merasa senang. “Kamu gak perlu pura-pura pingsan begitu, aku dihukum juga gak apa-apa kok…” Cetusku.

Hairul kembali menuliskan sesuatu ke tissu yang ia pegang. Tapi saat ia mengangkat wajahnya, ia tidak langsung menunjukan tulisannya padaku, melainkan terdiam melihatku dengan raut wajah yang kuyu.

“Kenapa?” Tanyaku.

Hairul menunduk dalam.

Aku memiringkan kepala hendak mengintip wajahnya, namun sebuah suara yang sangat aku kenali mengagetkanku…

“Hairul! Andi! Kalian harus dihukum!!” Bu Hasanah berdiri tegak di belakangku.

Oh Tidak!!!

. . .

Aku dehidrasi. Sudah hampir 15 menit aku dan Hairul berlari memutari lapangan basket di bawah terik sinar matahari siang bolong. Kakiku pegal, seragamku basah. Aku lihat Hairul tertinggal agak jauh di belakangku, ia juga pasti sudah sangat kelelahan. Gila… Bu Hasanah tidak tanggung-tanggung memberikan hukuman semacam ini pada kami. Aku kasihan sekali pada Hairul, demi menolongku dia harus kena hukuman menyengsarakan begini.

Aku sudah tidak kuat, bahkan aku lupa, sudah ke berapa putaran ini. Dapat kulihat Hairul berlutut lemas, ia juga pasti sudah tidak kuat. Terlebih lagi, nilai kebugarannya adalah yang terendah di kelasku. Aku balik berlari ke belakang mendekati Hairul, ia menatapku sambil terus berusaha bernafas normal. nafasnya berat, dia kelelahan. Keringat membasahi wajahnya, tak jauh beda sepertiku.

“Ayo, sedikit lagi!” Kataku menyemangatinya. Hairul menggeleng, ia menggosok-gosok lehernya sendiri. Apa itu artinya dia kehausan?

“Aku juga haus… Kita selesain ini dulu lalu minum nanti. Ayo!” Ujarku.

Tetapi Hairul menggeleng lagi, kini ia menggerakkan tangannya dari perut ke tenggorokan kemudian ke mulutnya.

“Hah? Aku gak ngerti…” Responku sejujurnya.

Hairul menghela nafas berat nan panjang. Perlahan sekali Hairul mengerak-gerakan tangannya ke arahku, memintaku meneruskan lariku sepertinya.

“Tapi kamu gimana?” Tanyaku.

Hairul menggeleng, kemudian Ia berdiri dari berlutut. Detik berikutnya, ia mulai berlari mendahuluiku. Baru saja aku mau menyusulnya berlari, tubuh Hairul ambruk tepat saat langkahku hampir bergerak.

“Hairul!?” Teriakku. Aku bergerak cepat mendekat ke arahnya. Ya tuhan, wajahnya pucat sekali dan tubuhnya juga terasa dingin. “Rul, Kamu kenapa?” Tanyaku panik sambil mengguncang tubuhnya. Dia menggeleng, tangannya meraih wajahku kemudian ia mengusapnya.

Hairul terlihat kesakitan, ia terbatuk-batuk tanpa suara disusul sebuah cairan kental nan merah keluar dari mulutnya, membuat dua bola mataku sukses terbelalak lebar.

Ya tuhan!

“Tolong!!!”

.

Aku berlari mengimbangi laju brankar tempat Hairul terbaring tak sadarkan diri, dua suster mendorongnya cepat melintasi lobi. Kami membawanya ke rumah sakit segera setelah aku berteriak keras yang menyebabkan hampir seisi sekolah melihat ke lapangan, beberapa menit setelahnya Hairul sudah dalam ambulance. Keadaan Hairul benar-benar mengkhawatirkan.

“Maaf, Mas… Mas harus menunggu di luar.” Perintah seorang suster begitu aku ingin ikut masuk ke ruang UGD.

“Ahh! Ada apa ini!? Kenapa semuanya bisa jadi begini!?” Protesku entah pada siapa. Aku meremas rambutku antara panik dan kesal. Ini semua salahku, andai saja aku tidak tidur di kelas… Aku tidak akan dihukum dan tidak akan membuat Hairul harus pura-pura pingsan yang kemudian menyebabkannya ikut dihukum dan berakhir di UGD seperti ini.

Aku butuh cahaya sekarang juga… Cahayaku yang mungkin belum redup sama seperti dia yang berada di dalam sana.

Aku segera berlari kencang dari tempatku berdiri, mencoba mencari letak atap yang terhubung dengan tangga darurat. Begitu aku menemukannya, aku langsung menaiki tangga itu menuju atap rumah sakit secepat yang aku bisa.

Aku membuka pintu di depanku sesaat setelah aku sampai di lantai paling atas. Namun bukan cahaya seperti kuharapkan yang menyambutku, melainkan udara dingin dan langit mendung yang kurasakan dan kulihat kini.

Ada apa ini?
Bukankah tadi cuacanya panas sekali?
Kenapa sekarang tiba-tiba mendung seperti ini?
Kenapa?
Apa yang sedang terjadi?
Cahaya terang yang biasanya menyinariku sedang lemah sekarang, tapi kenapa cahayaku yang lain juga ikut melemah dan redup seperti ini?

Ya Tuhan, ada apa ini?

Aku mengepalkan tanganku…
Aku mulai takut sekarang, sangat takut…
Dingin dan gelap ini, membuatku panik.

Tetes demi tetes air mataku jatuh bersamaan dengan jatuhnya tetesan air yang lebih deras di sekelilingku.

Aku menengadahakn wajahku ke atas langit…
Ini Hujan…
Apakah Hujan ini ikut menangis karena merasa takut kehilangan cahayanya juga…

Seperti aku?

Cahayaku, Hairul…

Aku membalikan tubuhku dan berlari kembali ke ruang UGD dimana Hairul berada.
Aku harus mengembalikan cahayaku… Secepat mungkin.

.

Aku baru saja sampai di depan pintu ruang UGD bersamaan dengan terbukanya pintu itu. Sesosok tubuh yang di tutupi kain dari atas kepala sampai kakinya membuat langkahku terhenti. setiap sendi di tubuhku melemah…

Ini… Ini tidak nyata.

“Ada apa ini?” Tanyaku dengan suara berat.

Seorang dokter berjalan ke arahku kemudian menepuk pundakku. “Kamu harus sabar ya, Nak.. Temanmu-“

“Tidak, Dok! Jangan katakan hal yang tidak ingin aku dengar…” Potongku cepat sambil berjalan menjauhi dokter itu dan perlahan mendekati tubuh yang tertutupi kain.

Tubuhku basah, terasa dingin dan gemetaran. Aku takut… Kini aku sudah berdiri di samping tubuh yang tertutupi kain putih ini, yang aku takutkan kalau-kalau Hairul sudah…
Tidak! Tidak mungkin.

Aku memegang ujung kain yang ada di pucuk kepalanya yang setelah itu mulai aku sibakkan ke bawah.

Aku tak bisa membendung air mataku begitu melihat wajah redupnya… Mata bulat dengan bulu lentiknya tertutup, hidung peseknya tidak mengeluarkan nafas, dan bibir tipis di antara pipi tembemnya sangat pucat. Aku berlutut lemah di samping tubuh yang sudah tidak bernyawa, sesegukan di samping jasad Hairul.

Kenapa?
Kenapa kau tidak bisa adil padanya?
Kenapa tuhan?

Aku menutup mataku dan kuletakkan wajahku di atas punggung tangan kanannya yang kaku, dan dingin.

Hairul, kamu harus tetap hidup, kamu harus tetap bercahaya… lagi demi aku. Aku mohon…

. . .

Aku membuka mataku perlahan dan langsung disambut kilauan cahaya terang namun menenangkan hati.
Ku tarik bibirku mencoba menciptakan senyum terbaikku agar dapat tersinari cahaya itu…
Aku berlari… Lari mengejarnya agar aku bisa mencapai tempat ia tercipta…
Tapi cahaya itu menghilang saat aku baru tiba di pertengahan jarak.

Kemana dia?
Kemana cahaya terang itu?

“Dimana kau?!” Teriakku yang takut karena merasa redup kini mulai menyelimutiku.

Dimana cahaya itu?
Aku menoleh kesana-kemari mencarinya.

“Aku mohon… Terangi aku!” Teriakku sekali lagi.

Dimana?
Kemana perginya?
Tempat ini makin gelap…
Oh Tidak!

Sebuah tangan tiba-tiba saja terulur di depan mataku.
Aku tak dapat melihat wajah si pemilik tangan itu karena kegelapan ini, hingga sebuah kertas putih tiba-tiba saja terjatuh di depanku.

Ada sebuah tulisan disana…

‘Raih tanganku!’

Aku pun segera meraih uluran tangan itu dan bersamaan dengannya sebuah cahaya terang menyambutku…

Cahayaku telah kembali.
Tapi…

“Andi Rahardian!!”

“Apa?!” Sahutku ketika mendengar suara seseorang memanggil keras namaku tepat di ambang indra pendengaranku.

Tunggu… Apa ini? Aku menegakkan kepalaku, kemudian memutar pandangan ke seisi ruang tempatku berada sekarang. Aku masih di kursiku, di kelasku dan masih dalam jam pelajaran fisika. Semua mata menatapku. Bencana.

“I-ini?” Aku masih belum berani menduga-duga apa yang sebenarnya sudah terjadi.
Dengan perasaan takut bercampur gugup aku menoleh perlahan ke sebelah kanan, ke tempat dimana ada seseorang yang duduk di sampingku.

Tatapan mata kami bertemu. Dapat kulihat mata bulat yang dihiasi bulu mata lentiknya, hidung pesek lucunya, pipi tembemnya dan bibir tipisnya. Rambut hitam pekatnya dan juga… wajah manis nan polosnya.

Dia masih ada di kursinya, di sisiku.

Bibirku bergetar seraya menyunggingkan senyuman. Aku langsung saja menarik tubuh Hairul ke dalam pelukanku. Aku tak peduli kalaupun yang lain akan menatap bingung ke arahku, yang aku mau sekarang adalah bersyukur dan tak mau melepasnya.

Cahayaku… Tidak akan pernah kulepas, takkan kubiarkan pergi lagi.

“Syukurlah… Aku senang, Rul! Tuhan adil sama kamu…” Bisikku perlahan.

Hairul mulai bergerak-gerak tidak jelas, memberontak dalam dekapan eratku… Tapi aku tetap tidak mau melepasnya. Untunglah… Dia tak bisa bicara untuk meneriaki aku. Hanya saja…

“Ck ck ck… Andi!!”

Huft… aku lupa Bu Hasanah masih di sini.

. . .

Aku menengadahkan wajahku ke langit agar bisa melihat cahaya terangku yang lain.

“Kau Maha Adil… Aku berterima kasih pada-Mu.” Ucapku sambil mengulum senyum.

Sehelai kain terasa menempel di kulit wajahku, menghapus tetesan airmataku.
Aku meraih tangan si empunya kain, dan sebuah cahaya terang langsung menyinariku.

Aku tersenyum lebih lebar lagi, dia membalasnya dengan senyuman manis malu-malu.
sekarang, kami duduk rapat bersisian.

Hairul menjenguk wajahku.

“Kenapa?” Tanyaku.

Dia menunjuk mataku.

“Oh…” aku baru sadar kalau mataku mengeluarkan air. “Aku cuma ngerasa senang. Terharu…” Jawabku.

Dia membulatkan bibirnya lucu. Sesaat kemudian ia mulai menuliskan sesuatu di tissunya seperti biasa.

‘Apa ini berhubungan dengan apa yang terjadi di kelas tadi?’

Itu yang ia tulis…

Aku mengangguk.

Ia kemudian menulis lagi, ‘Apa yang terjadi?’

“Kamu gak akan mau tau,” Jawabku.

Hairul menggeleng kecewa.

“Mau tau?”

Hairul mengangguk mantap.

Aku tersenyum. Kudekatkan wajahku tepat sejengkal di depannya, setelah itu aku tangkupkan tanganku di kedua pipi tembemnya, sedetik kemudian aku nekat mencium bibirnya perlahan. Entah berapa kali kuluman, aku tak tahu, yang kutahu Hairul tidak menamparku sebagai responnya.

Aku menjauhkan wajahku darinya. “Gimana menurutmu?”

Dia diam… Tidak berkedip dan tidak bergerak pula. Sepertinya Hairul shock. Aku menahan tawaku, kemudian aku cubit hidung peseknya yang lucu menggemaskan.

“Kamu tau… Aku suka sama kamu!” Ungkapku pada akhirnya meski ciuman tadi sudah menjabarkan semuanya.

Dia mengerjapkan matanya beberapa kali seraya memiringkan kepala, kemudian menunjuk wajahnya sendiri dengan polos.

Aku mengangguk.

Hairul terlihat cekikikan dalam diam, ada semburat merah yang berhias di wajahnya.
Aku lihat dia mulai akan menulis lagi, tetapi aku langsung menahan tangannya.

“Aku tau apa yang mau kamu tulis. Kamu juga suka sama aku kan, Cahayaku?”

Aku menerjang Hairul, menindihnya di atas reremputan di tepi danau ini. Kupeluk dia seerat yang kumau. Semenit dia diam, menit berikutnya dia bergerak gelisah, menit berikutnya dia mulai memberontak. Aku melepasnya.

“Kenapa? Aku salah ya?” Tanyaku seraya menatap bola mata hitam bulatnya.

Hairul menggeleng pelan, lalu tangannya bergerak mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantung seragamnya, sepertinya sudah dipersiapkannya sebelum kami kemari. Dia menunjukkan kertas itu tepat di depan hidungku.

Aku mengembang laksana adonan bolu dioven saat membaca tulisan yang tertera di  kertas itu…

‘Aku suka kamu, Andi…’

Aku tersenyum. “Syukurlah,” Aku mengambil kertas itu kemudian kusimpan di dalam kantung seragamku sendiri. “Aku senang… kamu juga suka aku.” Ucapku padanya.

Hairul mengangguk pelan dengan semburat merah yang kian terukir jelas di wajahnya. Kami berdua bertatapan cukup lama.

“Boleh aku cium kamu lagi?” Tanyaku meminta.

Bola mata Hairul berputar kesana kemari seakan takut bila mungkin ada orang lain yang memergoki kami. Tak lama, bola matanya kembali menatapku, lalu dia mengangguk memberikan jawaban.Aku merendahkan wajahku dan kembali mencium bibirnya. Mencium cintaku, Hairul… cahayaku.


. . .

Aku bersyukur, sangat bersyukur. Tuhan benar-benar adil padanya, terlebih padaku. Aku senang bisa melihat cahayaku kembali, dan bukan hanya melihat, tapi kini cahaya itu sudah jadi milikku.
Tuhan, tak ada hal baik lain melebihi keadilan yang kau berikan padaku. Terimakasih, karena sudah bersedia adil dengan mengembalikan cahaya untukku…

[THE END]