490497_pga_promo-gp05

AL GIBRAN NAYAKA’s words

################################################################

Pernahkah kamu bertanya-tanya apa arti hidup? Bisakah kamu mengingat perjalanan hidup sejak saat pertama kamu mampu mengingat sampai saat membaca tulisan ini? Aku yakin tak seorangpun dari kita mampu mengingatnya. Yang terlintas hanyalah momen-momen berkesan dalam perjalanan hidup kita, momen-momen yang kita katakan sebagai ingatan masa kecil, atau kenangan masa remaja. Sadarkah, begitu banyak waktu yang telah kita lewati. Kita lahir, menjadi balita, menjadi kanak-kanak, menjadi remaja lalu dewasa. Lahir lalu dewasa, diantara dua titik itu kita sudah berjalan meretas waktu yang cukup panjang.

Apa kamu pernah duduk merenung, menimbang-nimbang kemungkinan bahwa waktu yang kamu miliki lebih banyak terpakai untuk hal kosong tak berfaedah? Pernahkah kamu bertekad untuk tidak lagi menyia-nyiakan waktumu ketika sadar bahwa telah begitu banyak ia terbuang untuk hal sia-sia…? Jika jawaban untuk kedua pertanyaan ini adalah ‘tidak’ maka sudah saatnya kita merenung lalu bertekad, AKU AKAN MEMBUAT BERKAT WAKTU YANG KUPUNYA.

Kawan, hidup takkan selamanya. Ada masanya waktu itu akan berhenti bagi kita. Dan ketika saat itu tiba, hanya ada dua kemungkinan, dan salah satunya akan terjadi padamu, padaku, dan pada siapa saja. Apa itu? menyesal telah membuang waktu dengan perbuatan sia-sia atau bahagia telah mengisi waktu dengan perbuatan bermanfaat.

Kita sering mendengar ungkapan serupa ini, “Hidup adalah pilihan.” Tentu saja ungkapan itu benar. Setiap masa kita dihadapkan pada dua hal yang harus kita pilih, karena hakikatnya segala yang ada di dunia ini terdiri atas dua bagian, saling berlainan dan bertolak belakang, tapi dua hal itu adalah pasangan. Baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, seperti itulah.

Karena hidup adalah pilihan, dan karena kitajuga bertanggung jawab pada hidup kita sendiri, maka pilihan itu juga berada di tangan kita, kitabertanggung jawab penuh terhadapnya. Jangan sampai salah membuat pilihan, kawan. Karena jika sampai salah, bersiaplah hidup dalam keadaan merugi. Buatlah pilihan yang bijak, untuk itu diperlukan hati yang bersih dan pikiran yang jernih sehingga pada akhirnya kita tidak menyesal dengan pilihan itu.

Kawan, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Ketahuilah, bukan orang lain yang membuat kita menjadi baik atau menjadi buruk. Tetapi kita sendirilah yang menjadikan diri kita baik, begitu juga sebaliknya. Ibarat pepatah, “bukan salah bunda mengandung, salah badan buruk pinta.” Itu benar. ”Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.” Itu juga sangat benar.

Keputusan ada di tangan kita masing-masing, ingin terus membuang waktu atau mengisinya, ingin terus hidup dalam kesia-siaan atau membenahinya, ingin terus menyesal dengan pilihan kita, atau keluar dari keterpurukan dan membuat tekad baru yang berujung cerah, ingin terus seperti sekarang atau berubah menjadi lebih baik. Jika sekarang keadaan diri sudah baik, berubahlah menjadi lebih baik lagi, jika sudah lebih baik, maka berubahlah menjadi yang paling baik.

Izinkan aku mengutip sebuah hadist…

“Manfaatkan LIMA PERKARA sebelum datangnya LIMA PERKARA : mudamu sebelum tuamu; sehatmu sebelum sakitmu; kayamu sebelum miskinmu; lapangmu sebelum sempitmu, dan; hidupmu sebelum matimu.”
[HR : Ibnu Hakim]

Betapa kata Rasul di atas menganjurkan kita untuk tidak melengah-lengahkan masa.

Ibarat kapal, begitulah kita. Kemudi ada di tangan, jadilah nahkoda yang baik untuk kapalmu sendiri, amati arah angin, awasi badai, dan jelilah memilih tempat singgah ketika jangkarmu diturunkan. Kelak, kita sendiri yang akan mempertanggung-jawabkan masa yang telah kita habiskan…

Wassalam
Nayaka Al Gibran

p.s :
Kembali, aku merepet tak tentu pasal tak jelas arah. Efek insomnia ternyata mengerikan yak.