CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ada yang ingat Syailendra Setiawan? tentu saja ADA. Yap, benar sekali. Kali ini DKN memperoleh kehormatan untuk memposting tulisan Kawan Lendra yang kabarnya adalah pertanda kedatangannya kembali ke dunia literatur blog (aku harap ini benar-benar titik buat Lendra untuk berkarya lagi, dan DKN menjadi wadah pilihannya, ahahaaak).

Aku bukan meng-iklan atau apa, faktanya… tulisan Kawan Lendra memang tak pernah mengecewakan. Cerpen-cerpennya selalu punya daya pikat yang membuat kita terkesan setelah menamatkannya, setidaknya itu yang kurasa setelah membaca HARMONI-nya kali ini.

Pada kesempatan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih secara personal kepada Kawan Lendra, trims so much karena sudah berkenan memilih Dunia Kata Nayaka sebagai tujuan tulisanmu, semoga ini bukan yang pertama dan terakhir yak…

Buat Sahabat sekalian, happy reading, jika tidak memberatkan, mohon isi kolom komen.

wassalam

Nayaka Al Gibran

________________________________________________________________

Lendra’s words

Halo teman-teman, senang sekali aku bisa menulis kembali. Setelah sekian lama timbul tenggelam di dunia maya, aku mencoba menulis lagi. Ini cerpen baruku. Aku benar-benar merasa sedikit aneh, setelah sekian lama tak menulis dan saat ini kembali menulis lagi. Seperti biasa kalau ada yang kurang dimaafkan ya J selamat bertemu Kemal dan Kiki. Terima kasih juga buat Kak Nay.

 

HARMONI

harmoni

By : Lendra Setiawan

Aku menopang daguku berusaha mempertahankan posisi tubuhku tegak dari rasa kantuk. Dosenku yang satu ini memang terkenal banyak bicara dan terkesan lamban. Jadi jangan heran aku dibuatnya hampir tertidur.

Kelopak mataku berhasil mengerjap beberapa kali. Ingin rasanya aku memasang plester, lalu kutempelkan di atas kelopak mataku supaya tidak tertutup dan aku tak tertidur. Tapi, kurasa aku akan mirip murid-murid di film buatan China yang dulu sering aku tonton. Entah judulnya apa.

Samar-samar kulihat dosenku memandang ke arahku. Ah, tapi mungkin aku salah lihat. Sebentar. Dosenku itu melihat ke arahku.

“Kemal..”

Seketika aku tersadar, bukan karena dosenku yang kini tengah memandangku. Tapi, lebih kepada sikutan yang lumayan menyakitkan dari orang di sampingku. Dia, Eric, sahabatku.

Sejenak aku memandang ke arah Eric, ia diam. Namun, wajahnya seakan berkata, “Tuh dosen manggil elo, tuh.”

Buru-buru aku kembali memandang dosen berkacamata plus buncit itu. Apa mungkin karena masih mengantuk, suara si dosen kembali menjadi samar-samar walau pelan-pelan bisa kutangkap apa yang ia bicarakan.

“Kemal Rahadja, kamu berpasangan dengan Kiki Soewirya,” kata dosen itu, lalu kemudian lanjut berbicara. Entah apa.

Kiki-siapa? Berpasangan dengan Kiki-siapa? Ini apa? Tugaskah? Atau apa?

Aduh, mendadak aku bingung. Ini karena mengantuk, membuatku tidak konsentrasi.

Lagi pula. Kiki itu siapa, ya? Pikiranku melayang sembari pandanganku menyapu ke seluruh ruangan kelas. Berusaha memecahkan pertanyaan ‘siapa Kiki?’

Dan mataku tertuju padanya. Kiki.

Aku bahkan lupa, aku punya teman sekelas bernama Kiki.

Di pojok ruangan. Sendirian. Kini sedang menatap dosen dengan intens.

Sepersekian detik, ia menoleh kepadaku. Mata kami sempat bertabrakan. Lalu, aku memalingkan pandanganku.

*****

“Sebentar deh, emangnya tadi kita disuruh ngapain?” tanyaku pada Eric di sela-sela makan siang kami di kantin kampus.

“Makanya dengerin. Jangan molor doang kerjanya,” timpal Eric membuatku sewot.

“Yee, namanya juga ngantuk. Kayak lo gak pernah ngantuk pas mata kuliah tuh dosen aja,” belaku terhadap diri sendiri.

“Tapi, Mal. Lo gak mau kan kejadian semester lalu terulang lagi. Udah cukup lo dapet D dari dosen itu. Mau lagi dapet D yang kedua?” ujar Eric di sela seruputan kuah sotonya.

Aku menghela nafas pasrah, mengingat kejadian itu. Iya, aku mendapat nilai D dari dosen itu saat mata kuliah Editing III. Hanya karena aku jarang masuk, dan kalaupun masuk, aku lebih banyak tertidur.

Tapi, jangan salahkan aku, dong. Dosennya saja yang kelewat membosankan dalam mengajar mahasiswanya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dan aku mendapat D.  Beruntungnya, aku bisa memperbaikinya di semester depan.

Eric menaruh sendoknya ke dalam kubangan kuah soto yang kekuningan. Sayang, aku tak terlalu suka makanan satu itu. “Jadi, kita secara berpasangan disuruh bikin film dokumenter pendek tentang apa saja.”

Aku mendengarkan penjelasan Eric dengan seksama, tak mau kasus nilai D kembali terulang. Aku kemudian mengangguk seiring dengan penjelasan Eric hingga selesai.

“So, siapa pasanganmu?” tanyaku setelah ia selesai menjelaskan.

“Diva!” jawabnya dengan nada yang sedikit antusias.

Ah ya, aku menyadari bahwa Eric memang punya perasaan lebih terhadap Diva, sahabat kami yang satu lagi, sejak tahun pertama di kampus. Namun, sayangnya Diva pernah menembakku. Beberapa kali. Namun, Eric tak tahu itu.

Aku akui Diva adalah gadis yang cantik dan seksi. Apalagi di kampus, yang kuketahui ia menjadi incaran beberapa cowok. Termasuk Eric.

Kalian tahulah maksudku, aku tidak mungkin menerima Diva sebagai kekasih, sedangkan Eric sangat memuja gadis itu. Ini masalah persahabatan antar lelaki. Pantang untuk berpacaran dengan gebetan sahabat.

“Lo pasangan sama si Kiki-Kiki itu, kan?” Pertanyaan Eric menyadarkan lamunanku.

“Iya,” jawabku singkat. Bingung mau menjelaskan apa lagi. Entah harus senang atau sedih.

Jadi, seperti inilah sosok Kiki. Dia tinggi menjulang tapi tak lebih tinggi dariku yang seratus tujuh puluh delapan sentimeter ini.  Tidak terlalu putih, kuning langsat tepatnya. Pipinya tirus, matanya sayu. Dan yang membuat aku menyadari akan sesuatu-sekaligus bingung-adalah tubuhnya mirip sekali dengan tubuh wanita. Tapi, dia laki- laki. Dan semakin menyempurnakan pemikiranku itu adalah dia berambut panjang sebahu.

Ia seperti perempuan dalam bentuk laki-laki.

Aku tak heran jika seorang laki-laki berambut panjang. Di kampusku yang berkonsentrasi dalam bidang seni ini, banyak sekali mahasiswa alias calon-calon seniman yang berambut panjang, atau sebut saja gondrong. Bahkan, gimbal juga ada.

Tak heran jika banyak orang yang memiliki stereotipe seorang seniman pasti berambut panjang dan berantakan. Walau tak semua.

Nah, Kiki ini berbeda.

Kalian pasti bingung, kan, mengapa aku tahu tentang Kiki, sedangkan di kelas tadi aku sempat melupakan bahwa aku punya teman sekelas bernama Kiki?

Tenang saja, semua penilaianku itu aku dapatkan secara langsung.

Yap, tak jauh dariku dan Eric duduk, Kiki juga duduk sambil menghadap laptop bergambar apel yang digigit.

Terlihat serius, hingga tak sadar aku sedang meneliti tubuhnya dari atas sampai bawah.

Kali ini, walau pun ia memakai pakaian layaknya seorang laki-laki, berkaus putih ber-print yang dibalut kemeja biru gelap. Jeans biru pudar dan sepatu converse hitam. Tapi, tetap saja aura wanitanya terlihat.

Mungkin kalian akan berkata sok tahu padaku. Namun, ini penilaianku dari kacamata seorang laki-laki. Aku bisa menduga, jika seorang perempuan yang menilai Kiki, mungkin akan berkata lain. Imut, barangkali.

Aku tersentak saat Diva tiba di meja kami.

Ia datang membawa kamera kesayangannya, LomoKino. Jadul, tapi ia suka. Tak bisa dipungkiri, Diva suka dengan hal-hal berbau vintage.

“Hei,” sapanya padaku dan Eric. Seperti yang kuduga mata Eric seketika berbinar bak melihat bidadari surga, padahal sebelumnya saat melihatku tampangnya seperti hidup segan mati tak mau.

“Ric, coba lihat apa yang gue dapet.” Diva mengangkat sebuah lentera kecil berwarna cokelat.

Eric yang diajak berbicara hanya bisa bengong, “Ya, itu lampu petromax, kan?”

Diva menghembuskan nafasnya berat, “Jaman dulu banget sih bahasa lo. Ini lentera. Gue dapetin dari toko antik di daerah Sabang.”

“Kapan lo kesananya?” Eric mengeryitkan dahi, bingung.

“Tadi. Pas selesai matkul Psikologi Visual. Makanya gue telat gabung bareng kalian,” jelas Diva.

Eric dan aku berpandangan, kemudian hanya bisa menggelengkan kepala, setengah tak percaya. Mengingat matkul Psikologi Visual tadi baru selesai sekitar satu setengah jam yang lalu. Dan setelahnya Diva sempat pergi ke toko antik di Sabang. Entah karena dia memang mempunyai mobilitas yang tinggi atau memang kakinya merupakan kloning-an dari kaki The Flash, super hero favoritku.

“Nah, jadi gue pengen film kita tentang toko antik itu, ya. Gue kesana dan kayaknya bakalan cocok dengan ide gue. Eh, terus ketemu lentera lucu ini, jadi sekalian gue beli,” cerocos Diva.

Eric terpana, sesekali tersenyum tipis, tak mengerti.

“Jadi, mau ya pake ide gue. Percaya deh pasti berhasil,” kata Diva, lebih kepada rengekan.

Eric langsung mengiyakan. Apa sih yang enggak buat sang pujaan hati.

Aku hanya bisa tertawa kecil, walau tak ikut dalam konversasi mereka.

“Eh, Mal. Jadi, ide lo buat film nanti apaan?” tanya Diva seketika, setelah ia menghabiskan semangkuk bakso dengan sisa kuah yang menghitam akibat kecap. Gadis ini suka sekali kecap.

“Belum tahu. Gue aja belum ketemu Kiki,” ucapku datar.

“Oh, lo pasangan sama Kiki?” tanya Diva.

Aku mengangguk pelan, walau sedikit terganggu dengan kata ‘pasangan’ yang tersemat di antara namaku dan Kiki. Kedengaran aneh.

“Eh, Kiki itu imut, ya?” kata Diva kemudian, membuatku tersentak.

See? Wanita pun akan bilang Kiki itu imut.

Seketika wajahku memalingkan pandangannya ke tempat Kiki tadi berada. Namun, dia sudah tak berada di sana.

*****

Aku mengeluarkan Yaris silver, pemberian Ayah dua tahun lalu, saat aku berulang tahun yang kedua puluh, dari parkiran kampus.

Baru saja melewati gerbang, aku melihat Kiki berdiri di sebuah halte, di dadanya terkalung sebuah kamera SLR.

Aku memajukan mobilku, lalu berhenti tepat di depan Kiki. Dari dalam aku melihat Kiki sedang bingung, berusaha mencari tahu siapa pemilik mobil yang berhenti seenaknya di depannya itu.

Aku turun dari mobil, lalu menghampirinya. Aku bingung sebenarnya. Canggung, lebih tepatnya. Soalnya, aku dan Kiki tidak akrab. Bukan tidak akrab lagi, kata-kata yang sebentar lagi akan aku ucapkan kemungkinan adalah kata-kata pertama yang pernah kuucapkan padanya.

Aku dan dia tak pernah berbicara apa pun. Walau aku dan dia sekelas, semua itu tak menjamin. Apalagi sebelum semester ini, aku jarang sekali masuk. Jadi, aku tidak tahu mahasiswa lain, selain Eric, Diva, dan  teman-teman Eric dan Diva yang lain.

Bukan. Aku bukan cupu. Aku tak mau dapat label itu. Tapi, karena Kiki ini memang pendiam dan sering menyendiri. Sampai-sampai aku kadang tidak menyadari jika ia ada di kelas, seperti tadi pagi.

Tapi, karena aku tak mau dapat nilai D kedua. Akhirnya, aku mengajaknya bicara.

“Lo Kiki, ya?” tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal siapa sih yang tidak tahu dengan penampilan nyentriknya itu.

Ia mengangguk. Tapi, tak ada tanda-tanda berniat akan membuka percakapan lebih lanjut.

“Gue dan elo satu kelompok di Psikologi Visual. Inget?” Aku berusaha mengingatkannya, siapa tahu ia lupa.

“Inget,” ucapnya datar, pelan. Aku bersyukur ternyata makhluk ini bisa berbicara juga.

“So, gimana kalau kita obrolin tugas itu sekarang? Kalo lo ada waktu sih,” ucapku sembari menunjuk mobilku agar kita berbincang di dalamnya.

Ia kembali mengangguk. Aku mengerutkan dahiku dengan keiritan kata dari Kiki-Kiki ini. Entahlah apakah aku dan ia akan nyambung diajak berbicara mengenai tugas nanti.

Aku memasuki mobil, diikuti Kiki yang duduk di sampingku.

Mobil berjalan, menjauhi halte.

*****

“So, lo ada ide gak?” tanyaku tanpa memandang ke arahnya. Demi Tuhan, aku canggung sekali. Entah kenapa?

“Belum. Lo?” tanyanya balik, membuatku refleks menoleh kepadanya. Ia sedang memandangku balik. Sebagian rambut panjang lurusnya ia letakkan ke belakang telinga, sehingga memperlihatkan daun telinga yang berbentuk unik itu. Aku ingin tertawa, tapi kutahan.

“Gimana kalo tentang museum tekstil?” usulku saat ide itu terlintas begitu saja dibenakku.

“No.” Ia menggeleng. “Terlalu mainstream,” lanjutnya.

Diam. Aku sibuk memandang jalanan hitam di depan. Jariku mengetuk beberapa kali pada setir yang kupegang.

“Kalo tentang banjir jakarta?” usulku sekali lagi, mengingat ide tersebut sedang hangat-hangatnya.

Kiki bergeming. Aku melihat dari sudut mataku. Wajah serius yang sama seperti saat aku melihat di kantin tadi. Lucu.

Perhatianku buyar, saat ia menggeleng. “Medannya terlalu susah.”

Bola mataku memutar-mutar, berusaha mencari ide yang lain. “Okey. Kalo tentang penari ronggeng jalanan?”

Dengan cepat Kiki menjawab, “Vidya dan Romi udah ambil ide itu.”

Aku menghela nafas berat. Bingung. Bingung karena ada nama Vidya dan Romi-yang entah siapa- di percakapan kami, sekaligus memikirkan ide apa lagi yang akan keluar dari otakku. Aku menyerah.

“Jadi lo maunya tentang apa?” tanyaku akhirnya dengan nada ketus. Kesal, karena tampaknya ia sama sekali tak memikirkan ide apa yang akan kami angkat untuk tugas nanti.

Tidak menjawab pertanyaanku, Kiki malah berkata, “Eh, gue turun di depan deh.”

Aku bengong seperti orang bego. Ini serius?

Aku memandangnya. Ia memandangku. Ia terlihat cantik. No. Maksudku, ia memandangku terlihat seakan berkata, “Lo gak denger gue tadi bilang apa?”

Aku akhirnya meminggirkan Yaris-ku ke sisi jalan. Kiki turun, lalu berkata, “Thanks ya. Ntar gue kabarin deh kalo gue dapet ide. Bye.”

Ia berjalan dengan cepat, lalu menghilang di balik sebuah gedung. Menyisakan aku yang masih terpaku diam di dalam mobil. Entah akan melakukan apa.

Ternyata si Kiki ini memang aneh. Seaneh penampilannya yang seperti perempuan itu.

Lalu, apa kabar tugasku? Aku tak mau dapat D kedua.

*****

Akhirnya empat hari menjelang hari H pengumpulan tugas film dokumenter pendek, Kiki mengirim pesan padaku bahwa ia mendapat ide untuk tugas kami.

Namun, sebelumnya aku sudah mempersiapkan film dokumenter mengenai museum tekstil dan sejarahnya-seperti ide pertamaku. Sebagai bahan cadangan jika kami tidak punya ide lain, lebih tepatnya jika Kiki pada akhirnya tidak berniat mengerjakan tugas ini dengan serius. Aku harus serius dengan tugas ini. Aku tak mau mendapat nilai D kedua.

Jadi, ide darinya adalah kami akan mengangkat kisah seorang bidan yang membantu warga sekitar dalam hal melahirkan secara gratis di sebuah daerah kumuh di Tambora. Bagiku, itu bukan ide yang buruk. Mengingat, biasanya film dokumenter selalu mengangkat isu-isu sosial. Dalam hal ini, adalah yang terpinggirkan.

Namun, ide yang tak kusuka adalah aku tak diperbolehkannya membawa mobil. Jadi, kami harus menggunakan angkutan umum untuk tiba disana. Oke. Selamat datang di dunia yang sebenarnya.

Aku berdiri di depan halte, sambil memanggul tas ransel berisi kamera Bolex, tripod, lalu beberapa catatan pertanyaan yang bisa kuajukan kepada si bidan demi keperluan gambar.

“Nungguin lama?” Aku dikejutkan oleh sebuah suara dari samping kananku. Aku menoleh, mendapati Kiki memandangku sembari tersenyum. Deretan gigi putih nan rapinya terlihat.

Hari ini, ia mengikat rambut panjang sebahunya, menjadi ikatan ekor kuda, mengekspos wajah ‘cantik’-nya. Pipi tirusnya tercetak jelas disana. Seandainya ia benar-benar perempuan, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.

“Enggak,” jawabku singkat. “Berangkat sekarang, yuk.”

Kiki berkata padaku, kami akan tiga kali naik angkutan umum untuk sampai di daerah itu. Demi Tuhan, aku tidak akan tahu seperti apa tampangku jika harus naik angkutan umum, terpapar polusi dan keringat, dan tentu saja suara-suara yang menganggu telinga akan aku dengar. Mengapa aku iya-iya saja dengan keputusan makhluk nyentrik ini?

Kami berada di bis pertama. Aku tak tahu harus bicara apa dengan Kiki dengan kondisi seperti ini. Bis ini penuh sesak, membuatku tak bisa bergerak sama sekali.

Beruntungnya lima menit kemudian kami turun. Kiki selanjutnya berkata bahwa kami harus jalan sedikit.

Cuaca tidak terlalu panas. Aku mengikuti Kiki dari belakang. Ia terlihat serius. Wajahnya ketika serius benar-benar lucu. Kedua alisnya seakan menyatu, lalu bibirnya maju sekitar satu senti. Aku mengeluarkan kamera Bolex-ku, lalu mulai merekam.

Objekku tentu saja Kiki.

Kiki.

Sembari mengarahkan layar kameraku ke arahnya. Bibirku tanpa kusadari mengulang beberapa kali namanya. Kiki. Ki-ki. Ki. Ki.

Kedengaran menyenangkan saat mengucapkannya. Kiki. Seperti Lili, Mimi, Riri, Vivi. Yah, Kiki. Aku suka nama itu.

Aku terus merekamnya. Walau aku telah berada di depannya, dan mengarahkan kameraku tepat ke wajahnya, ia tak sadar.

Dan seketika aku menabrak sesuatu. Lebih tepatnya, seseorang. Seseorang itu menggerutu.

“Mas, hati-hati dong kalo jalan.” Seorang wanita berpakaian seragam kantor berteriak saat tak sengaja aku menabraknya, lalu menumpahkan isi kopi yang ia pegang ke kemejanya.

Aku merasa bersalah. “Aduh, mbak. Maaf, saya gak sengaja.”

“Kalo jalan liat-liat dong.” Nada suaranya semakin meninggi.

“Maaf ya, mbak,” ucapku sekali lagi, sekarang ditambah mimik memelas.

“Mbak, suruh deh pacarnya itu hati-hati,” ucap si wanita membuatku dan Kiki sontak terkejut. Lalu, tanpa menyadari keterkejutanku dan Kiki, wanita itu langsung pergi.

Aku memandang Kiki dengan tatapan tak mengerti bercampur absurd. Dan Kiki melakukan hal yang sama. Lalu, sejenak kemudian kami berdua terbahak-bahak dengan kejadian barusan.

Jadi, wanita tadi menyangka Kiki adalah perempuan karena ia dipanggil ‘Mbak’ dan parahnya lagi aku dikira pacarnya Kiki. Demi Tuhan, itu menggelikan.

Tawa Kiki memecah. Deretan gigi putihnya terlihat melebar. Aku seketika mengangkat kembali kamera Bolex-ku, mengarahkannya ke arah Kiki. Ia tampak begitu lepas. Dan menghilangkan segala keanehan yang sempat kutangkap darinya. Ia begitu…..

Ada sesuatu yang aneh bergelenyar ke seluruh tubuh. Aku tak tahu apa itu. Tapi aku begitu menikmati perasaan itu.

Ingin aku berlama-lama melihat Kiki dalam keadaan seperti itu, tapi sayangnya ia sudah berhenti tertawa. Sudut matanya berair karena tawa lepas itu.

Sekejap kemudian, aku menurunkan kameraku.

Di bis kedua, tak begitu ramai. Hanya berisi beberapa penumpang.

Aku sudah tak tahu harus bagaimana. Aku benar-benar mati gaya. Mana perjalanannya lama lagi.

“Ki, ini masih lama?” tanyaku dengan nada kesal, sambil memain-mainkan tali kameraku.

“Lumayan,” jawabnya singkat. Kembali ke sifat anehnya lagi.

Aku menekan tombol record pada kamera, lalu mengarahkan keluar jendela. “Kadang lumayan itu berarti lama, loh,” kataku mengingatkan. Kesal tak mendapat pemandangan bagus, aku menaruh kameraku di pangkuan, dengan lensa mengarah ke arah atas. Aku takut pecah saja.

“Sabar dong. Jangan jadi anak manja gitu, deh,” ucap Kiki mendadak ketus. Aku tentu saja terkejut. Aku pikir selain jarang berbicara, ia juga tidak bisa marah.

“Maksud gue, kalo lama bilang lama. Kalo bentar lagi bilang bentar lagi,”

“Bawel ih. Intinya, kita bakal nyampe juga, kan?”

Aku menghela nafas berat. Menyadari bahwa Kiki bukan hanya fisiknya seperti perempuan, tapi emosinya juga sensitif kayak test pack.

*****

Aku dan Kiki baru turun dari bis kedua, berarti semakin mendekati lokasi syuting kami. Ingin rasanya aku sujud syukur. Okey, ini berlebihan.

Tapi, sayangnya rasa senangku tak berlangsung lama. Mau tahu kenapa? Kenapa!!!!! Hujan. Hu-jan. H-u-j-a-n!

Damn!

Kututupi kameraku dengan jaketku. Aku berlari, berdampingan dengan Kiki yang juga basah kuyup. Rambut ekor kudanya sudah melemas. Titik-titik hujan menerpa wajahnya. Seketika aku merasa iba.

Tanpa kusadari, aku mengandeng jemari Kiki, lalu mengajaknya ke arah sebuah kedai kopi. Entah apa namanya, yang terpenting kami bisa berteduh sejenak di sana.

Aku baru saja mau mengeluarkan sapu tangan, lalu kulihat Kiki sibuk mengelap wajahnya pula dengan kaosnya.

“Mau pakai ini.” Aku menawarkan sapu tanganku untuknya.

Ia menggeleng. “Gak usah. Lo pake aja. Gue udah cukup pake kaos gue.”

Akhirnya, aku mengelap wajahku dengan sapu tangan putih di tanganku. Mengelapnya dengan bersih sesaat sebelum waitress datang ke meja kami.

Aku memesan secangkir cappucino hangat. Kiki memesan segelas hot chocolate.

Dalam diam, aku memperhatikan wajah Kiki. Ia seperti kelelahan. Mukanya pucat. Bibirnya memutih. Dingin menyergap, hujan tak tergagap untuk turun. Alunan musik dari Payung Teduh menambah kehangatan kafe ini. Bagiku.

Tak untuk Kiki. Ia mengigil kedinginan. Giginya bergemeretak.

“Lo gak apa?” tanya gue cemas.

Ia menggeleng. Isyarat itu membuatku kesal, baik-baik saja dari mana, jika yang kulihat adalah wajah pucatnya beserta tubuh menggigil di hadapanku.

“Mending kita pulang aja,” usulku masih dengan nada cemas.

Ia kembali menggeleng. Ah, dia keras kepala.

Aku bangkit dari kursiku, menghampirinya. Memakaikan jaketku yang tadi sebagai pelindung Bolex-ku, kini melekat ke tubuh ramping milik Kiki. Tampak sedikit kebesaran.

Kukeluarkan pula selembar uang berwarna merah ke atas meja, memasukkan kameraku ke dalam tas. Aku baru menyadari, ternyata belum menghentikan rekaman sejak tadi, lalu mematikannya segera.

Kemudian aku membopong tubuh Kiki.

Satu yang ku ingat, tubuhnya dingin.

*****

Aku menjatuhkan pantatku ke sofa. Bau obat-obatan khas rumah sakit sejak tadi berhasil kucium. Akhirnya aku membawa Kiki ke rumah sakit terdekat dengan taksi. Dan saat ini, Kiki masih tertidur pulas di atas tempat tidur.

Aku sudah tak mengingat rencana syuting kami yang berantakan hari ini. Yang paling terpenting, Kiki baik-baik saja. Melihatnya pucat dengan tubuh mengigil adalah kejadian yang menakutkan bagiku. Entah mengapa aku dibuatnya cemas sekali. Aku tak mau melihatnya seperti itu.

Aku juga bingung sejak kapan aku begitu perhatian dengannya. Perasaan aneh yang terus menghinggapiku, itu begitu nikmat. Tapi, aku tak tahu perasaan apa itu?

Kusandarkan punggungku ke sandaran sofa. Aku mengeluarkan laptopku. Aku sudah memindahkan isi rekaman dari kameraku ke laptop. Aku ingin melihat hasil rekamanku itu.

Yang pertama terlihat adalah saat Kiki terlihat begitu serius. Jujur aku tertawa melihat rekaman itu. Wajah Kiki seperti anak kecil yang sedang serius dengan mainannya. Lucu dan menggemaskan. Aku tak menyangka, laki-laki ini bisa tampak seperti itu.

Gambar kemudian bergoyang hebat. Samar-samar terdengar percakapanku dengan seorang wanita. Lalu berakhir dengan tawa. Aku ingat, ini saat aku menabrak wanita berseragam kantoran sehingga mengotori kemejanya.

Kemudian gelap. Dilanjutkan dengan gambar di dalam bis, beralih keluar jendela, lalu kembali ke dalam bis, berakhir dengan wajah Kiki. Aku mengeryit, kapan aku merekamnya?

Tampak wajah ketus Kiki. Seketika tanpa kusadari senyum simpul tersungging di bibirku. Wajah ketusnya, tak merubah struktur wajahnya yang cantik. Aku teringat berarti saat itu aku lupa tak menghenti rekaman itu.

Rekaman berlanjut dengan gambar yang tak jelas. Sepertinya saat aku turun dari bis. Lalu hujan turun. Kamera yang ada di peganganku, kututupi sembarangan dengan jaket. Ternyata bagian lensa tak tertutup sempurna. Beberapa kali gambar menampilkan wajah Kiki yang basah oleh air hujan.

Terakhir, saat kami berada di kedai kopi. Aku ingat, kamera kuletakkan di atas meja. Kali ini gambar menampilkan sosok Kiki setengah badan. Tubuhnya terlihat lelah, wajahnya pucat, bulir-bulir hujan tak sepenuhnya bersih dari wajahnya. Kemudian seperti deja vu, dari screen aku melihat Kiki mulai mengigil hebat, terdengar suaraku disertai gelengan Kiki.

Tiba-tiba kamera bergoyang, mengakibatkan gambar berubah, tak menangkap wajah Kiki. Yang terlihat hanya bagian leher ke bawah. Lalu, aku melihat seseorang, yang tak lain adalah aku, memakaikan jaket kepada Kiki. Wajahku tak terlihat di sana. Begitu pula Kiki. Seseorang itu menghilang dari kamera. Lalu, sorot kamera berpindah ke arah lantai. Sejenak kemudian ada suaraku di sana, mengakhiri. Lalu gelap.

Aku menahan nafas sejenak, lalu menghela nafas lega. Entah lega karena apa.

Aku meletakkan laptopku ke atas meja, di samping sofa. Aku bangkit, melangkah ke arah tempat tidur.

Tubuhku berdiri tegak di samping Kiki yang tertidur pulas. Wajahnya masih pucat. Bibirnya masih putih.

Kuperhatikan lekat-lekat wajah itu. Tenang, diam, dan sejuk. Ia tenang seperti anak kecil. Ia diam, seperti menikmati tidurnya. Aku senang melihatnya. Dan wajahnya menyejukkan, ingin rasanya aku…

Ah tidak, ada apa aku ini?

Kubelai pipinya, pelan. Teksturnya halus, sehalus batu pualam. Jemariku menelusuri setiap senti wajah Kiki, merapikan anak-anak rambut yang nakal, mengelus rahangnya. Dan berakhir menyentuh bibirnya.

Sungguh, ia cantik. Demi Tuhan, tak pernah kutemui sosok secantik dia. Bibirnya kutelusuri. Lembut, selembut kapas.

Entah bisikan dari mana, aku mulai menundukkan wajahku mendekati wajahnya. Bibirku mulai mendekati bibir lembutnya. Aku ingin merasakan bibir selembut kapas itu. Mengecupnya. Menghisap dalam-dalam. Dan merasakan…

Ah tidak.

Akhirnya aku mendaratkan bibirku ke keningnya. Menumpahkan segala rasa yang sampai saat ini belum kuketahui disebut apa. Seketika rasa cemas dan khawatir menguap seiring ciuman lembutku di keningnya.

Aku menarik bibirku dengan cepat, berusaha menyadari semua yang telah kulakukan. Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskan. Menariknya lagi, lalu menghembuskannya kembali.

Rasa sakit tak kupedulikan saat aku menarik rambutku sendiri, saking membingungkan dengan diriku yang tak bisa kukenali beberapa hari terakhir. Juga rasa yang terus menjalari tubuhku setiap saat, namun aku sendiri tak mau menduga terlalu jauh terhadap perasaan ini.

Aku tak mau rasa itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih signifikan. Aku tak mau.

*****

“Lo udah bangun?” tanyaku dengan suara serak, baru bangun.

“Iya. Lo kayaknya ketiduran deh,” ujarnya.

Aku melihat diriku berada di kursi di samping tempat tidur. Kepalaku bersandar pada tempat tidur.

Sebentar. Ada yang aneh. Buru-buru kulepas tanganku yang saat itu menggenggam erat jemari Kiki. Dadaku naik turun, menyadari itu. Nafasku jadi boros.

“Lo megang tangan gue. Jadi gue juga gak bisa gerak. Kalo gue gerak pasti lo kebangun. Ya, akhirnya gue diam aja,” jelasnya panjang lebar. Aku menyadari itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Kiki ucapkan padaku.

Bukan itu yang kupedulikan. Tapi, mengapa aku bisa terbangun dengan menggenggam tangan Kiki.

Aku tidak mengenali diriku sendiri. Ini aneh.

Aku bangkit, lalu berkata, “Gue udah nelpon keluarga lo. Mungkin sebentar lagi mereka kemari. Gue balik dulu.”

Langkahku kubuat lebar-lebar meninggalkan Kiki. Mungkin ia bingung dengan sikapku. Tapi aku tak peduli.

Aku juga sedang bingung dengan rasa yang semakin kuat menjalar di tubuhku. Rasa yang saat ini kubenci, sekaligus sedang kunikmati.

*****

Hari H pengumpulan tugas Psikologi Visual telah tiba. Saat ini aku sedang berada di hadapan puluhan pasang mata yang siap menyaksikan hasil film dokumenterku. Tak jauh dariku Diva dan Eric memberi tatapan penuh dukungan.

Aku begitu gugup saat semua mata tertuju padaku. Termasuk si dosen berkacamata dan buncit yang semester lalu memberiku nilai D.

Aku harus lebih dari pada itu.

“Pada kesempatan kali ini, saya akan menayangkan hasil karya saya, Kemal dan Kiki. Dan film ini saya beri judul Harmoni, selamat menyaksikan.” Aku menekan sebuah file dari laptopku, lalu film buatanku terefleksikan ke sebuah layar putih yang lumayan besar.

Film itu berisi gambar hitam putih. Tokoh utama di film itu adalah Kiki, yang saat ini berada di sampingku. Menampilkan berbagai raut wajah yang menggemaskan-bagiku-dari Kiki.

Akhirnya aku dan Kiki tak jadi mengambil ide kehidupan seorang bidan di Tambora. Saat Kiki masih sakit, yang ternyata ia terkena hipotermia ringan, aku mengolah hasil rekaman candid-ku terhadap Kiki.

Berbagai ekspresi yang ditunjukkan Kiki bagiku sangat natural, dimana setiap ekspresi berselaras membentuk sebuah harmoni yang setiap saat dilakukan oleh setiap manusia.  Ada diam, serius, tawa, cemberut, sakit. Semua terlihat indah. Harmonisasi itulah yang melabeli kita dengan sebuah nama, yaitu manusia. Tak ada manusia, yang tak merasakan itu semua, kan?

Jadi, tak perlu lagi kujelaskan mengapa filmku kuberi judul Harmoni.

Karena Kiki adalah sebuah Harmoni. Harmoni dalam film itu. Harmoni dalam hidupku.

Aku tahu rasa yang diam-diam tumbuh di hatiku, dan sempat kubenci itu adalah…

Aku tak sanggup mengucapkannya. Tak sanggup untuk memberitahu kalian, sedangkan Kiki saja belum tahu akan hal ini.

*****

“Kiki, aku cinta sama kamu. Kedengaran aneh, bukan?”

“Awalnya. Tapi, itu sebelum aku merasakan apa yang kamu rasakan juga.”

“Aku suka bibirmu. Kamu cantik.”

“Aku suka semua yang ada padamu. Aku cinta kamu, Kemal.”

*****