ShoppingLogoTSS-280x300

CUAP2 NAYAKA
Salam…
Anggap postingan ini hanya iklan saja yang lewat sesaat. Yang perlu dicamkan, isi dari postingan ini bukanlah pengalaman pribadi yang bikin postingan, sama sekali bukan. Terima kasih.
Jadi, ini adalah ‘adonan’ keduaku dengan Mbak Afni Sutrisna. Masih ingat? Dulu aku dan Mbak Afni juga pernah bicara ngawur tentang cinta di blog ini, sudah sangat lama. Alhamdulillah sekarang kami bisa join lagi untuk menulis tulisan asal jadi ini, itung-itung belajar nulis selain fiksi, gitu deh.
Jangan anggap serius postingan ini yak, minta maaf bila gaje dan gak nyambung. Semua itu memang disengajakan. Kekekeke.

Happy reading…

Wassalam
Nayaka
________________________________________________________________
Belanja bagi beberapa orang adalah kegiatan yang begitu sangat mengasyikkan. Tapi, kegiatan berbelanja bisa berubah menyebalkan jika salah satu dari 7 nomor di bawah ini menimpa dan merusak kenyamanan. Apa saja 7 nomor itu? Let’s check them out…!!!

1. Batal Beli Gara-gara Gak Cukup Budget

Bayangkan kalo kita seorang shopaholic yang laper mata, tanpa disertai amunisi budget yang cukup. ‘Eh, t-shirt itu keren’, ‘Ya ampun, blus/kemeja itu kayanya pas deh dipake aku’, ‘W-O-W, jaket/sweater itu asik..’. Trus, kita bawa 10 potong baju ke kamar pas. Kata mbak shopkeeper-nya, “Mbak/Mas, maaf.. Maksimal yang dibawa ke kamar pas 2 potong aja…” Terpaksa kita keluar masuk kamar pas sebanyak 5 kali masing-masing dengan 2 potong baju. Trust me, mbak shopkeeper-nya pasti bete. Dan begitu kita selesai nyobain 10 potong baju tadi, dengan senyum dipaksakan dia akan tanya, “Gimana Mbak/Mas? Jadi pilih yang mana?” Kita pura-pura memilah dan memilih, ya ampun… ternyata tadi kita terlalu asik nyobain baju-baju itu tanpa ngeliat label harganya. Akhirnya, kita akan ngeles buat nyari barang yang sekiranya nggak ada stok. “Eng.. Warna itu ada nggak Mbak? Kalo size ini ada? Yang tulisannya anu ada nggak?” Dan, biasanya, umumnya, wajarnya, jawaban dari mbak shopkeeper -yang mengecewakan kalo kita beneran pengen beli, tapi menyelamatkan kalo dompet kita mepet- adalah “Maaf, stok-nya tinggal yang ada di gantungan aja.”
Hohoho… Kita terbebas dari kewajiban membeli. Trus, tinggal pasang muka kecewa, “Yah Mbak, saya nyarinya yang warna ini, size itu atau tulisannya anu..” Jangan lupa, sebelum ngacir, tambahkan “Maaf ya, Mbak…” Si mbak shopkeeper pasti bakalan senyum terpaksa buat yang kedua kalinya, kali ini lebih sepet, dengan tatapan “Kalo nggak punya uang jangan masuk toko dong…”

2. Telat Sadar Kalau Kita Telah Kecopetan

Copet tidak hanya mencari nafkah di pasar tradisional atau dalam bis kota, tak dapat dipungkiri, di kota-kota besar yang punya mall super megah juga tidak bebas dari copet. Beda copet mall dengan copet pasar adalah, jika copet pasar berpenampilan ala orang pinggiran maka copet mall bergaya ala anak gedongan. Siapa yang mengira bahwa remaja-remaja berpenampilan ngalahin style Raffi Ahmad itu adalah pengincar tas/saku belakang kita? Tak ada.
Hampir sama dengan ‘Batal Beli Gara-gara Gak Cukup Budget’ tadi, ini juga bisa jadi hal gak banget jika sampai kejadian.
Bayangkan, dua jam yang lalu kita dengan sumringah keluar dari ATM, lalu dengan daftar belanjaan yang udah kita bikin dengan sedetilnya (tentu saja setelah setengah hari mengecek dapur, kamar mandi, lemari baju, dan perlengkapan cermin) kita mulai menyusuri lorong-lorong swalayan mengisi troli sambil menconteng list belanja. Bila kita adalah tipe orang yang super teliti, prosesi mengisi troli bisa lebih melelahkan lagi, tiap mengambil satu barang pasti dikulik setuntasnya, tanggal dibuatnya, tanggal kadaluarsa, kode produksi, jika kebetulan produk baru atau baru mau mencoba tentu kita akan membaca semua tulisan yang tertera di kemasan tanpa melewatkan titik koma meski ditulis dalam bahasa yang tidak dimengerti. Oh, belanja dengan list itu melelahkan.
Bagian gak banget-nya ada di sini…
Troli sudah menggunung, keringat sudah berceceran (ini belanja di mall apa di lapak kaki lima ya?), kaki sudah pegal kelamaan berdiri ngantri di kassa dan perut juga sudah minta jatah (karena planningnya, setelah belanja lalu makan di food court lantai atas). Pas giliran kita dilayani Mbak Kasir, kita baru sadar kalau dompet kita sudah merantau entah kemana. OMG… ini adalah tsunami.
“KEPARAT… GUE DIRAMPOOOOOOOOOOOKKK…!!!” lalu sumpah-serapah meluncur begitu saja bagi orang yang gak bisa nahan emosi dan tak sadar sedang dilihatin orang banyak, “Copet bangsat, beraninya main belakang, gue sumpahin badan loe panuan dari ujung rambut sampe ujung kaki, copet tengik, copet sialan, copet bajingan, gue doain loe ditabrak truk hingga nyatu sama aspal…” seharusnya kita menjeritkan kalimat itu dalam hati saja.
Mbak Kasir : Jadi ini gimana Mas/Mbak?
Gue : Gimana apanya, loe gak liat gue abis kecopetan! (teriak kenceng di mukanya Si Mbak)
Mbak Kasir : (Dalam hati : Gue disemprooooot, uh… liurnya bau…) Berarti dicancel ya Mas/Mbak?
Gue : Emang loe mau bayarin? (masih emosi sama copet)
Orang di belakang : WOOOIII… ENYAH DARI SITU, KASIR BUKAN PUNYA LOE SENDIRI…!!!
Sumpah, telat menyadari kalau kita sudah kecopetan adalah bencana. Jadi, sebelum menuju kasir pastikan dompet kita masih berada di tempat kita menyimpannya ketika masuk swalayan, karena jika kita sadarnya telat, itu akan mempermalukan diri kita sendiri meskipun kita adalah pihak yang dirugikan.

3. Ketemu Mantan Ketika Sedang Milih Rasa Kondom

Pernah membayangkan? Atau barangkali ada sahabat yang pernah mengalami? Yap, ketemu mantan pacar ketika kita sedang asik memilih flavour alat kontrasepsi yang satu ini memang sungguh gak banget.
Kondom tidak hanya dijual di depot obat atau praktek bidan saja, di kota besar jenis balon khusus dewasa ini juga bisa kita peroleh dengan sangat gampang di mini market atau swalayan bahkan kios sorong pinggir jalan. Jika dulu orang yang ingin membeli kondom pasti sembunyi-sembunyi jangan sampai ada yang melihat/mengetahui selain si penjual, tapi sekarang orang-orang membeli kondom layaknya membeli kacang rebus, terang-terangan dan persetan dengan lingkungan.
Meski demikian, bagi orang yang masih punya urat malu ada beberapa keadaan yang bisa dikategorikan sebagai momen naas ketika membeli kondom, salah satunya adalah yang sedang kita bahas ini.
Bayangkan, di satu lorong dalam swalayan yang jarang/belum pernah kita kunjungi (kebanyakan orang memilih untuk membeli kondom di market yang tak pernah mereka datangi sebelumnya), kita sedang serius memeriksa kemasan jaket pengaman ini sambil mengingat-ingat, “Rasa strawberry udah pernah, mangga udah, jeruk, anggur… aduh yang belum rasa apa ya?” begitu beragamnya rasa hingga kita pusing sendiri.
Ketika sedang asyiknya memilih, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kita sambil bilang, “Kali ini siapa lagi…?”
Kita –dengan tangan penuh kemasan kondom aneka rasa- langsung menoleh. Damn, mantan kita sedang berdiri dengan tampang melecehkan (menurut kita). Pada kondisi begini, jangan berpura-pura kalau mantan kita salah orang demi menyelamatkan muka sendiri, itu gak baik dan gak dianjurkan. Bagaimana pula? Bertindaklah sebagai bajingan sejati dan jawab begini, “Pertanyaannya kurang tepat, seharusnya… ini yang ke berapa?” yeah, so bastard. Bila kadar kurang ajar kita masih terlalu tinggi gak ada salahnya melanjutkan dengan kalimat ini, “Bisa bantu aku milih-milih gak?” tapi kudu hati-hati, pada beberapa kasus biasanya muka kita dikira wastafel tempat cuci muka hingga sang mantan gak segan-segan meludah (ini jika si mantan dendam sebab kita permainkan dulu).

4. Nyobain Tester Kebanyakan

Biasanya, di mall atau mini market, ada promo produk tertentu, baik yang udah edar di pasaran, atau yang baru launching. Yang umum sih biasanya produk makanan atau minuman ya..
Nah, gimana kalo misalnya kita suatu hari di akhir bulan, sepulang kerja/kuliah/sekolah, ‘terpaksa’ ke mall atau mini market buat beli kebutuhan mendesak, hm.. perlengkapan mandi misalnya, kalo abis kan nggak bisa di-pending tuh. Sebenernya pengen beli makanan instan yang mengenyangkan, tapi apa daya isi dompet nggak sampai.. Pas giliran kita keluar dari sana sambil mikir-mikir makanan apa yang bisa balance sama kondisi keuangan sambil nunggu gajian atau transferan ortu, taraaa.. di pintu masuk mall, nangkringlah seorang mbak SPG yang mengumbar senyum sambil nawarin tiap orang yang lewat sebuah piring kecil berisi beberapa tusuk tester makanan. Hehehe.. bisa buat ganjel perut nih. Kemudian, kita akan pura-pura lewat depan mbak SPG itu, dengan harapan akan ditawarin juga. Selanjutnya, kita nyoba sebiji, eh.. enak! Dan jangan lupa, gratis.. Yang perlu dilakukan berikutnya adalah ber-SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sama si mbak. Mulai tanya-tanya soal produk, atau bahkan soal si mbak sendiri, jangan lupa tangannya tetep thithil-thithil ya.. Kalo udah kenyang, baru kita pulang, jangan lupa buat meninggalkan kesan kalo kita pengen beli produk itu se-truk penuh. Dan, kalo masih cukup berani malu, tanya aja sama si mbak SPG, “Besok ada tester apa lagi ya Mbak?”

5. Terpeleset Hingga Masuk Troli Orang

Tuhan, semoga ini tak terjadi padaku, karena jika ini menimpa diriku maka sama artinya dengan memakai celana dalam di atas celana luar, kadar malunya sama besar.
Yang paling beresiko mengalami momen gak banget ini adalah mereka yang pergi berbelanja dengan kostum hendak ke kondangan, mereka yang memakai sepatu roda untuk ke mall, mereka yang tapak sepatu/sandalnya selicin lantai berlumut, mereka yang berbelanja dengan mata kemana-mana, mereka yang berbelanja sambil melakukan hal lainnya juga, contoh : berbelanja sambil menelepon, sambil ngerumpi, sambil joget-joget dengan earphone di kuping biar nampak extraordinary atau apalah. Intinya, hal memalukan ini bisa menimpa siapa saja yang tidak memperhatikan langkah mereka.
Mari kita deskripsikan satu kondisi :
Kenal Syahrini? Semoga tak ada yang kenal. Jadi, suatu hari Syahrini dengan penampilannya yang sudah cetar membahana terlihat memasuki sebuah swalayan di pusat kota M bersama asisten pribadinya yang bernama Syakuprak. Yang namanya Syahrini sudah pasti gak bakal keluar rumah tanpa mengenakan sesuatu yang luar biasa, sama seperti sekarang, yang luar biasa adalah hak sepatunya yang lebih tinggi 2 inchi dari sepatunya kemarin plus gadget bling-bling tipe terbaru yang harganya tentu gak bakal sanggup dibeli si empunya blog ini (bahkan setelah nabung jungkir-balik tetap gak mampu beli).
Mereka mulai bebrbelanja, Syakuprak mendorong troli sementara Syahrini berjalan di depan, tangannya terus memasukkan apa saja ke dalam troli tanpa lihat-lihat dulu (maklumlah orang berduit), sambil tangan bekerja, Syahrini juga asik maenan gadgetnya tanpa sekalipun melihat keadaan sekitar.
Di ujung lorong, barusan saja ada balita pipis banyak karena popoknya kekecilan, cleaning service swalayan baru saja menggunakan alat kerjanya. Tepat beberapa menit setelahnya Syahrini muncul. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, begitulah… Syahrini terpeleset. Gadgetnya terbang hingga nyangkut di salah satu rak, hak sepatunya patah kiri kanan, Syahrini sendiri berhasil menggantikan posisi belanjaan seorang konsumen dengan dirinya sendiri yang sukses mengisi penuh troli hingga ke sudut-sudutnya.
Syakuprak melongo bego melihat aksi akrobat majikannya, sungguh cetar membahana.
“SWALAYAN INI SAYA TUNTUT…!!!” Syahrini menjerit sambil berusaha keluar dari troli. Drama berakhir.
Gak banget kan? Pengunjung swalayan tak akan menunggu untuk menertawakan jika ada kejadian semacam itu. Jadi sahabat, awasi langkah kalian ketika berbelanja.

6. Masuk Toko Buat Numpang Ngadem

Nggak semua orang beruntung punya motor apalagi mobil, yang ber-ac pula. Ada sebagian orang yang harus pergi ke sekolah, kampus atau kantor naik angkot. Angkot, apa itu mikrolet atau bis, yang kadang penuh sesak sama orang-orang dengan tempat tujuan sama atau berbeda. Gimana kalo di tengah hari yang gerah, demi menghindari angkot yang penuh sesak sama orang yang bau keringetnya juga bikin sesak hidung, kita milih buat jalan kaki aja. Huhuhu.. Ternyata JJSB (Jalan-jalan Siang Bolong) nggak lebih baik. Masih aja gerah, keringetan, cape pula.. Eh, ada toko tuh, ber-ac pasti, belok ah.. Ing eng.. Apa yang paling nyebelin pas masuk ke sebuah toko? Yaitu kalo mbak shopkeeper-nya suka ngekorin kita keliling toko sambil terus nanya, “Ada yang bisa dibantu?”, abis itu dia akan sibuk berceloteh begitu kita pegang barang jualannya dikit aja. Sebenernya shopkeeper kaya gitu cuman berusaha menjalankan tugasnya dengan baik ya, but it can’t help annoying..
Nah, kembali ke niat awal buat numpang ngadem tadi. Adakah yang pernah menghitung berapa waktu yang dibutuhkan ac buat mengeringkan keringat? 10 menit? 15? 20? Kayanya itu relatif deh, tergantung dari berapa lama kita pengen mempertahankan rasa nyaman yang diciptakan si ac. Dan, selama itu juga kita harus betah diekorin sama si mbak shopkeeper. Sebenernya bisa aja kita bilang, “Bentar ya Mbak, saya masih liat-liat..”, atau mungkin kita pake jurus nyari barang yang stok-nya nggak ada. Tapi kebanyakan si mbak tetep kekeuh ngekor, kecuali kalo tampang kita nggak cukup ‘wajah konsumen’ alias keliatan nggak mampu beli, hihihi.. Kalo udah gitu, nggak ada jalan lain selain mengakhiri lebih awal kenyamanan belaian ac. Hm, apa ya ngelesnya.. “Maaf ya Mbak, barang yang saya cari nggak ada..”, atau enaknya langsung ngacir aja? Atau malah ada yang punya nyali buat bilang, “Duh Mbak, saya itu masuk toko sini cuman mau numpang ngadem ajaaaaaa…”

7. Salah Ngira Pramuniaga

Kebanyakan swalayan/supermarket tentu punya uniform untuk semua pramuniaga yang bekerja di dalamnya, dan tidak semua jenis uniform itu begitu spesifik. Nah, ini juga harus diperhatikan. Jangan sampai kita mendapat tatapan aneh karena salah mengira parmuniaga. Karena yang bekerja dengan uniform bukan hanya pramuniaga market, customers supermarket juga banyak yang bekerja dengan pakaian seragam.
Sebenarnya, kondisi begini bisa berakibat tidak enak pada kedua belah pihak, pihak yang menganggap dan pihak yang dianggap. Pihak yang menganggap merasa bego sendiri karena tak bisa membedakan mana pramuniaga dan mana customer, sedang pihak yang dianggap merasa penampilannya mirip pramuniaga dalam kata lain pakaian yang dikenakannya membuatnya jadi pegawai, bukan pelanggan.
Gak asik kan, kita udah ngomong serius nanya ini itu tentang produk dan segala macam, lalu dijawab “Maaf… saya bukan pramuniaganya…”
Meski jawabnya sambil masang muka manis dan senyum tipis, tapi percayalah, dalam hatinya orang yang kita anggap pramuniaga itu merutuk habis-habisan, “Keparat, ini orang buta atau apa? Gue dikira pramuniaga, huh… pasti gak pernah masuk swalayan…” Minimal kata makiannya pasti begitu.
Lalu dengan tampang kikuk sambil berusaha nyelamatin muka, kita cuma bisa bilang, “Oh… saya kira… Maaf ya Mbak/Mas…” lalu ngibrit dengan segera tanpa noleh-noleh belakang.

***

Demikianlah, semoga bisa membantu sahabat sekalian buat jaga-jaga… hehehehe…

-nayafni-