Kita Adalah Kenangan

by. Al-Vindra Febrian

Hingga detik ini, masih kutumpuk semua beban dalam lubuk hatiku yang kian dangkal.

Telah kulucuti semua ego, telah kubuang semua perasaan, telah kutinggalkan emosi diri, namun nyatanya tak membuat ini jadi lebih baik, justru makin membelenggu ke dalam telaga kepahitan yang makin menghitam.

Diam, sendiri menatap angin, meresapi tiap jengkal perasaan yang terus mengaduk, kecewa, marah, letih, semuanya berpadu membuat duniaku terbengkalai, jasadku pun ikut terpuruk menatap detak waktu.

Dan akhirnya, aku kembali di ujung kesimpulan mengenai semua ini.

Kita adalah kenangan, yang kini harus kembali kutumpuk dalam ruang kecil yang makin menyempit, mengikatnya dengan simpul luka.

Terbiasa, aku berharap aku bisa terbiasa.

Mengerti, aku berharap aku bisa mengerti.

Mengikhlaskan, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ikhlas.

Jalan ini telah kita tentukan masing-masing, senja dengan mendung dan hujannya, pagi dengan embun kabut dan merahnya. Lalu aku? Biarlah aku tetap menjadi malam bersama kepekatan juga keheningannya.

Sumsel, 22 Januari 2013

–***–

Kenangan di Merahnya Senja

By. Olief Ariestiani

Sebenarnya aku lebih memilih senja daripada pagi. Layaknya aku lebih suka mencipta kenang ketimbang mulai merentas harapan baru.

Seperti pula lebih puasnya aku duduk menghadap laut, menyaksikan matahari tenggelam di cakrawala lalu dalam diam kita berpegangan tangan saling menautkan cerita yang terjalin tanpa kata pada merah dan jingganya langit senja.

Sebenarnya pula bagiku dua puluh empat jam itu dihitung sejak senja. Dari tenggelamnya matahari lalu muncul bayangan bulan di malam yang mulai merambat. Bukan dari munculnya matahari melerai tiap kabut di puncak pegunungan.

Seperti halnya aku akan secara riang meletakkan semua kenangan dalam sore yang memerah. Dan aku yakin kalian juga sama, karena sejak Jumu’ah di bulan Zulqaidah tahun lalu, senja milik kita. Dan tak akan berubah.

Kita sudah tahu bukan, melupakan dan menghindari kenangan tak akan mempan membuat rasa sakit sirna. Kita pun sepakat membuang segalanya tak menjadikan kita terbebas dari malam-malam resah dan tarikan nafas tertahan serta isakan.

Dan tahukah kalian, kesimpulan yang dipungut dari sebuah luapan emosi tak akan pernah bijak, meski sering kali kita selalu lengah akan hal itu.

Diam.

Merajam luka.

Menahan isakan.

Lalu mengurai semua kerumitan hingga menemukan ujung kesimpulan.

Bertahanlah, semampu yang kita bisa. Beri jeda di dalamnya. Mungkin inilah masa yang pas untuk memahami senja lewat masing-masing jendela kamar kita.

Waktu akan menyembuhkan. Yakin itu.

Hingga saat itu tiba marilah kita berdamai dengan kenangan. Kita kenangan. Dan bukan dengan mengurut jari pada luka, tapi berbesar hati menerima ceritanya.

Berdamai dengan luka bukan berarti melupakan.

Semarang, 26 Januari 2013

—————

Sepertinya sekarang ini “cerpen” lebih digemari daripada “puisi” di DKN ini, tapi tak mengapalah, karena aku tak bisa memaksakan mengapload apa yang aku tak cocok dihati dan bukan ranahku. Namun aku sadari, komen kalian akan sangat berharga. Meskipun kalian mencaci maki tulisanku, karena itu tetap sebuah apresiasi. Jadi terima kasih banyak bagi kalian yang mau kasih komentar🙂.