Yuuki dan Afni : Sebuah Fusi

Persimpangan Jalan

~ Karena Selamanya Tak Pernah Ada ~

Isi hati yang meninggalkan :

Aku tersenyum pada memori, ingatan yang masih setia mengendap dalam pikiranku.

Rasanya bisa aku kumpulkan kenangan itu, tentang waktu yang pernah kita lalui dulu.

Bersama.

Dan tentang janji kita, selamanya…

Aku ingat canda, tangis serta tingkah konyol kita.

Membuatku percaya, abadi itu ada.

Namun perlahan ketidakpastian itu berbisik padaku, meskipun keyakinan selalu kutanamkan dalam diriku, bahwa kita tak terpisahkan.

Sebab ada ragu.

Saat itu senyum tak lagi hanya untuk kita saja.

Saat itu duka tak lagi kita bagi bersama.

Hanya hal kecil namun kita baru menyadarinya.

Bahwa kita semakin jauh.

“Mungkinkah kita tak bisa lagi berjalan beriringan?” aku bertanya dalam diam.

Dan semua terjawab ketika langkah kita terhenti di persimpangan jalan.

Aku menggenggammu erat, kau pun balas genggaman itu, menatapku seolah berkata,

“Tetaplah ada didekatku.”

Aku hanya tersenyum lirih.

Walaupun janji kita masih sama, aku menyadari bahwa mungkin ini saatnya aku harus melepasmu.

Meskipun berat, meskipun aku tak menginginkannya.

Tapi kita harus tetap berjalan kedepan bukan?

Aku ingat, langit hari itu begitu biru.

Mungkin ini awal yang baik, mungkin pula ini waktu yang tepat.

Karenanya aku memutuskan untuk pergi.

Aku ingin berpisah denganmu.

“Selamat tinggal.”

Meskipun lidah ini kelu, meskipun begitu sesak dada ini, aku tetap harus mengucapkannya bukan?

Dan bisakah kau mengucapkan hal yang sama untukku?

Hanya harapan yang selalu kubisikan dalam pintaku.

Semoga ini yang terbaik

Untukmu juga untukku…

Musim berganti tahun ini.

Meski kau tak lagi ada di sampingku seperti dulu, aku menyadari bahwa aku tak akan bisa membuangmu dari ingatanku.

Dan sama seperti musim yang terus berganti itu, perlahan kitapun berubah

Janji kita tak lagi ada.

Kau dan aku pun tak lagi sama.

Karena selamanya tak pernah ada…

*

*

*

Kata batin yang ditinggalkan :

Ada suatu masa, di mana aku dan kamu, kita, bersama menjalin cerita.

Pernah suatu ketika, di saat aku dan kamu, kita, berdua berbagi apa saja.

Tangis, duka, bahagia, dan tawa mewarnai hari, melewati inchi demi inchi langkah di bumi.

Aku dan kamu, kita, dalam sebuah dunia kecil itu, suatu ruang dimana hanya kita yang tahu.

Terbersit asa, bahwa ini akan berlangsung selamanya.

Terucap harap, bahwa ini tak akan pernah lekang oleh masa.

 

Bumi berputar tak henti, hari berganti dan waktu terlewati.

Kebersamaan kita terkikis, menipis, hingga nyaris habis.

Tak ada lagi yang sama.

Tak ada lagi yang tersisa.

Dan tak ada lagi kita.

Aku sendiri, dan kamu menyepi.

Bersama tinggal cerita, berdua tak lagi ada.

Kemudian aku bertanya-tanya, nyatakah dulu yang pernah kita punya?

Ke manakah kini perginya?

 

Nafasku sesak merasakan kesepian.

Mataku pekat meratapi kehilangan.

Dunia kita tak lagi ada.

Ruang kita tinggal hening yang menjelma.

Tapi aku tak juga mau beranjak dari sana.

Aku tak ada daya.

 

Akhirnya kamu berlalu, meninggalkanku.

Menjauh pergi dari jangkauku.

Dan aku, tak punya pilihan selain melepasmu.

Saat aku menyadari, tentang kita telah tertinggal jauh di belakang sana.

Jawabku atas semua tanya.

Karena selamanya tak pernah ada…

*

*

*

Yuuki & Afni