CUAP2 NAYAKA

Salam…

Ini cerpen kedua d’Rythem24 setelah Pesan Terakhir, kali ini gaythemed. Aku pribadi menangkap pembelajaran dalam cerpen ini, pembelajaran apa itu? Kalian akan tahu setelah membacanya dan menempatkan posisi sebagai tokoh utama dalam cerpen ini.

Happy reading, jangan lupa tinggalin komentar ya…

Wassalam

Nayaka

________________________________________________________________

-d’Rythem24 present-

gambar hati love cinta

TERIMAKASIH, KARENA KAU MENCINTAIKU

Rizki (Kiki) point of view…

. . .

Apa bagian tubuh yang paling kalian sukai?
Untukku, mata adalah bagian favoritku.
Karena… Jika aku tak dapat berjalan, mataku masih bisa mencari arahnya.
Kalau aku tak bisa bicara, mataku masih bisa memandang apa dan siapa yang mengatakan sesuatu padaku.
Dan saat aku tak memungkinkan untuk bisa mendengar, mataku masih mampu menyaksikan apa yang tak dapat aku dengar itu.

Tapi? Kalau aku tak dapat melihat?
Tak bisa melihat apa-apa saja yang ada di dunia ini, sepi dan lara lah yang pasti akan aku rasa…
Aku tak mau punya mata tetapi tak dapat menggunakannya dengan baik, sama seperti mataku yang dulu.

. . .

Aku membuka mata dengan malas, gendang telingaku sudah tak bisa lagi mengabaikan suara alarm yang kupasang otomatis pada ponselku yang tengah berbunyi ini.

Klik.

Alarmnya sudah mati. Itu artinya sekarang sudah jam 05.30.

Aku menyibak selimut tipis yang menutupi tubuhku, bangun dan menggantungkan kakiku sembari duduk di tepi ranjang.
Aku meregangkan tubuhku sambil mengucek-ngucek mata yang belum dapat terbuka sempurna.

Kenapa buram begini?
Aku mengucek lagi mataku… Tapi tetap buram.
Aku pun menggeleng-gelengkan kepalaku, masih tetap saja pandanganku buram.

Apa mataku mendadak minus? Ah, masa?

Aku pun segera turun dari tempat tidur, mengambil handuk dan keluar dari kamar kostku. Mungkin mataku butuh disiram air segar.

.

Sudah 1 jam, aku sudah selesai mandi, memakai baju, mendandani diri seperlunya dengan penglihatanku yang masih blur.
Ada apa dengan mataku?

Tint! Tint!

Aku segera mengamit tas punggung yang ada di atas gantungan dekat cermin kamarku, lalu aku ambil kacamata yang tadi sempat kupinjam pada Ibu Kostku, kacamata untuk mereka yang bermata minus. Entah punya siapa, sepertinya kaca mata lama punya beliau sendiri. kacanya sedikit baret, ah jadilah.

Aku mengunci pintu dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celanaku, siap berangkat kampus.

Dia tersenyum ke arahku dengan masih terduduk diam di atas motornya, aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari halaman kost-anku ini seraya memakai kacamata yang dari tadi masih dalam peganganku.

Alisnya bertautan begitu aku sampai di hadapannya.

“Buat apa kamu make kacamata?” Tanyanya bingung sembari mengusap dahiku sebentar.

“Entahlah… Tiba-tiba mata aku burem gak karuan, daripada nanti gak fokus di kelas.” Perjelasku pada kekasihku ini.

Namaku Rizki Zarkijaya, usiaku sekarang 18 tahun, aku sudah memasuki masa kuliah. Dan kekasihku ini, Alex Wangxiu. Yaa, dia juga adalah seorang lelaki. Hanya bedanya dia lelaki keturunan China, sedangkan aku asli Indonesia.

Aku gay? Benar. Aku tak bisa menyukai perempuan. Menjalin hubungan dengan Alex sudah kumulai sejak beberapa bulan lalu saat kebetulan kami menjalani Moska bersama.

“Emang ada apa sama mata kamu? Kelilipan? Atau apa?”

“Aku juga nggak tau, mendadak banget… Masa baru bangun sekeliling aku udah ngeblur aja.” Perjelasku. Dapat ku lihat sudut bibir Alex tertarik.

“Nanti kita periksa ya?” Aku menggeleng, menolak tawarannya. “Loh? Kenapa?”

“Gak mau aja, Lex. Nanti juga mendingan… Jangan khawatir,” Kataku dengan memberi tanda Ok dengan jari-jariku padanya.

“Emang enak pake sunglass?” Aku jujur saja, jadi aku menggeleng. Alex sukses terbahak.
“Ya udah, tapi lain kali kamu harus mau periksa, ok? Yuk, naek.” Aku cuma mengedikan bahuku, setelah itu mulai menunggangi boncengan motor Suzuki milik si Pemegang setir.

Alex mulai menggas motornya dan aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya… Seperti biasa.

.

Alex menurunkanku di depan gerbang. Itu sudah kebiasaan juga… Dia tak mau sampai ada yang mengetahui hubungan kami, apalagi jika nanti ada seseorang yang tau aku pacar Alex. Bisa dibully habis-habisan aku.

Alex kembali melajukan motornya, memasuki tempat parkiran.
Ketika aku mau mulai memajukan langkahku…

“Pagi, Kiki…”

Aku memutar dua bola mataku mendengar suara itu. Tanpa mau menoleh ke sumber suaranya, aku acuh dan melangkah begitu saja.

“Kiki!” Serunya begitu aku sudah berjalan menjauhinya. “Ki, mata kamu kenapa?” Tanyanya, tapi aku tetap diam. Persetan dengan anak ini. “Kiki!” Dia meraih pergelangan tanganku, membuat laju kakiku terhenti.

Aku menghempaskan tangannya kesal lalu memandangnya dengan jengah. “Mau Loe tuh apa sih sebenernya?” Tudingku bertanya padanya, aku muak. “Denger ya,… Gue males punya urusan sama loe, daripada loe ganggu gue, mendingan loe pergi aja jauh-jauh sana. Nyebelin tau gak!” Cemoohku ke arahnya. Dia cuma terdiam dengan wajah murung. Aku tak peduli.

“Aku seneng, kamu mau ngomong sama aku…” Ucapnya disusul tawa garingnya.

Aku terperangah, makin jengah dengannya. Tanpa mau berlama-lama dengan dia, aku segera saja berlalu dari hadapannya.

Dia tak pernah mau berhenti mengganggu aku, awalnya aku cuek saja, tapi lama-kelamaan aku tak tahan sampai harus membentaknya. Apa hasilnya? Dia malah makin gencar mengekoriku.

Namanya Dimas, ada satu hal yang aku tau kenapa dia selalu mendekatiku. Dia sama sepertiku,… Dia Gay. Dan sepertinya, dia suka padaku. Menyebalkan…

.

Ponselku bergetar di saku kemejaku, telpon dari Alex. “Halo?”

“Ehm,… Ki, hari ini kamu pulang sendiri aja ya, gak apa kan?”

Aku mengangkat kedua alisku. “Ada apa emangnya?”

“Aku… Ada perlu penting.” Jawabnya.

Aneh, kenapa mendadak begini?

“Ya udah, Ki… Maaf ya. Aku mau pergi dulu. Bye.” Dan sambungan telpon pun di putuskan.

Aku melepaskan kacamata yang aku pakai sejak pagi tadi. Mata sedang buram begini, aku harus pulang sendiri, berjalan pula. Aku mulai menggerakan langkah kakiku, berjalan menuju halte.

Belum seberapa jauh aku meninggalkan gerbang kampus, sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti di sampingku seraya membunyikan klaksonnya keras.

Siapa?

Kaca mobil terbuka. Dimas. Aku menghembuskan nafas lesu, lebih baik aku jalan lagi saja.

“Kiki, mau ikut gak?” Dimas berlari ke arahku setelah turun dari mobilnya. Tetapi aku malas mengindahkannya.

“Ki?” Dimas menangkap pergelangan tanganku, ini sudah menjadi kebiasaannya, namun seperti biasa juga cepat-cepat aku menghempaskannya kasar.

“Ikut yuk… Mata kamu lagi gak sehat kan? Daripada nanti kenapa-kenapa?”

Hah? Kenapa malah dia yang seakan mengerti keadaanku? Aku menggeleng kuat yang malah membuat mataku makin buram, bahkan rasanya jadi agak gelap.

“Ki? Kamu gak apa-apa?” Nada bicara Dimas terdengar cemas. Aku coba melihat wajahnya, tak jelas bahkan dalam jarak sedekat ini.

“Udahlah. Gue mau pulang sendiri, jangan ganggu gue!” Tolakku kasar dan langsung berjalan cepat dari sana.

Mataku kenapa? Ada apa ini?

.

Aku sudah sampai di tempat kostku, bernafas lega karena bisa sampai tanpa tersungkur. Kucoba memakai lagi kacamata yang sempat aku lepas di kampus, tetapi hasilnya… Kepalaku malah jadi pusing.

“Nak Kiki?” Aku melonjak di tempatku kemudian menoleh ke arah orang yang tadi memanggilku.

“Eh, Ibu…” Balasku pada Ibu Kostku. Bu Hanah. Meski tak terlihat jelas, tapi aku hapal kerudung hijau bermanik yang sejak pagi tadi beliau kenakan.

“Mata kamu udah mendingan?” Tanyanya.

Aku memutar mataku kesana kemari, tetap tak ada perubahan.

“Cobalah periksa, Ki. Takutnya ada apa-apa sama mata kamu. Mata itu pancaindra yang penting loh, setidaknya kalau kamu tau kenapa, kamu mungkin bisa mengobatinya. Iya kan?” Nasehat Bu Hanah padaku.

Aku mulai memikirkan perkataan Bu Hanah. Sepertinya ini memang serius. Akhirnya aku mengangguk.

Bu Hanah membelai kepalaku, hangat… Serasa belaian Almarhummah Mama. Aku adalah seorang Yatim Piatu, bisa dikatakan begitu. Bagaimana menjelaskannya ya? Ayahku masih hidup, tapi aku tak tau dia dimana. Aku hanya punya Ayah Tiri yang di nikahi Mama 3 tahun sebelum beliau meninggalkanku karena kanker rahim yang dia derita. Ah, juga ada 2 Kakak Tiriku… Tetapi Mereka ada di luar kota, sedangkan aku ngekost disini. Jauh dari keluarga bukan sedarahku.

.

Alex kemana sih?

Aku coba menghubunginya tapi di reject melulu. Aku berdecak kesal, saat ini aku butuh dia. Puas menelepon tanpa hasil, aku ambil dompet, kacamata, jaket lalu jam tanganku. aku akan pergi sendiri ke rumah sakit.

Semoga aku akan baik-baik saja.

.

“A-apa, Dok?!” Sahutku terperangah.

“Mata Anda mengalami cedera dan kemungkinan dapat mengakibatkan kebutaan,…” Perjelas Dokter berkacamata di depanku ini, dia sukses membuat tubuhku melemas di hadapannya.

“Ke-kenapa, Dok? Kenapa mendadak begini?” Tanyaku terbata.

“Ini adalah gejala yang tertunda, bukan mendadak…” Dokter itu menatapku tajam. “Apakah anda ingat pernah mengalami sebuah benturan keras di sekitar kepala ataupun bagian di dekat mata?”

“Benturan? Tidak, Dok,” Jawabku yang memang tak merasa.

“Coba ingat-ingat,…”

Aku mulai berpikir, coba mengingat-ingat. Lalu satu bayang-bayang muncul… Aku ingat. Bulan lalu aku dan Alex terjatuh dari motor, dan bagian kepala tepat di lurusan mata dan telingaku membentur keras tepi trotoar. Dan anehnya… aku tak mengalami luka apa-apa. Aku tersadar. Kupegangi kedua mataku setelah itu.

“Aku ingat, Dok…”

Dokter itu menghela nafasnya. “Kau punya waktu 10 hari lagi,…”

“Apa, Dok?” Tanyaku tak mengerti.

“10 hari lagi sebelum matamu akan buta, selamanya.” Dan mata buramku sukses membulat sempurna.

Aku… Akan buta?

.

Aku berjalan lesu, sekarang aku merasa seakan langit sudah jatuh menimpaku.

‘Kau punya waktu dari sekarang untuk berpikir, lakukan operasi mata atau matamu tak bisa melihat lagi secara permanen.’

Kata-kata Dokter tadi seakan menyelam dari syaraf otak sampai jantungku. Aku tidak mau buta. Benar-benar tidak mau.

Aku mendongakan wajahku menatap langit mendung yang terlihat seperti malam dalam pandanganku. Ini baru jam 4 bukan? Kenapa langitnya terasa gelap begini? Dan kenapa gelap ini baru datang sekarang? Kenapa harus mataku?

Lagipula… Darimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi nanti?
Pengeluaranku dalam waktu 3 bulan saja tidak mungkin cukup. Di kartu ATM, aku hanya punya simpanan sedikit, cuma tinggal 3 juta.

“Mama… Kiki harus ngapain?” Desisku hampir tak bersuara.

Aku tak ingin pesimis, tapi… Bagaimana bisa?

Bayangan sosok Alex muncul begitu saja dalam ingatanku. Benar… Alex. Dia pasti bisa membantuku. Aku segera mempercepat langkahku. Aku harus menemuinya dan menceritakan semuanya.

.

Gerbang rumahnya tertutup. Kemana Alex? Apa aku harus menunggunya? Tapi kelihatannya sebentar lagi akan turun hujan… Aku melepas kacamata yang aku pakai, buram sekali… Seakan semua yang aku lihat sedang dalam mode blur dimana-mana. Atau mosaic?

Aku duduk di bangku yang berada tepat di sebrang jalan rumah Alex. Di sini juga ada sebatang pohon besar, menaungiku.

Kembali aku memikirkan apa yang Dokter di rumah sakit tadi katakan padaku. Aku harus operasi, kalau tidak… Kusentuh kedua mataku, kupejamkan dan kubayangkan bagaimana jika gelap seperti ini yang terjadi ke depan?

Aku mendengar suara deru motor yang makin keras dan kencang menuju ke arahku. Suara motor Alex. Aku langsung membuka kedua mataku, memakai lagi kacamata yang tadi aku lepas, kemudian berdiri dari dudukku. Baru saja aku bersiap akan meneriakkan namanya…

“Alex…” Lirihku menyebut namanya. Dia memberhentikan motornya tepat di depan gerbang rumahnya. Tetapi… Dia tak sendirian. Seorang gadis cantik duduk rapat di boncengan dimana biasanya akulah yang berada di sana.

Pintu gerbang dibukakan oleh salah satu pembantu rumahnya. Masih memeluk pinggang Alex, mereka melaju masuk ke halaman.

Sakit. Bukan hanya langit saja yang seakan menimpaku, tapi aku seperti sebuah kapur yang di hancurkan dengan satu pukulan seketika.

Sekarang… Apa yang aku punya?
Apa yang harus aku lakukan?

Hujan deras turun dan seketika membuat tubuhku basah kuyup. Rasanya hidupku sudah berakhir, berakhir dengan dramatis.

Aku berlari. Aku berlari dengan sakit dan juga lemas yang tergabung dalam seluruh syarafku. Hancur, sedih… Aku menangis sekarang, dan seketika itu pula duniaku benar-benar jadi gelap.

Ada apa ini? Aku kenapa? Aku dimana?

Aku coba mengucek mataku dan malah membuat kacamataku terlepas lalu pergi entah kemana. Aku menggerakan tanganku kesana kemari, berusaha menemukan siapapun atau apapun yang dapat aku sentuh. Aku tidak mau buta.

Tuhan… Tolong aku.

Tapi kemudian langkah kakiku terasa hampa. Aku terjatuh dan dapat kurasakan daguku terbentur benda yang begitu keras. Ini pasti jalanan. Aku menyentuh daguku. Perih dan bau amis bertambah lagi sekarang. Hanya basah, tetesan air, dingin dan sakit yang kini aku rasakan. Tubuhku lemas. Aku terbaring di atas jalanan yang tak dapat aku lihat ini.

Aku tidak kuat.

“Kiki?!”

Suara siapa itu? Aku merasakan tangan seseorang menyentuh tengkuk dan juga pergelangan lututku.

Tuhan… rasanya aku ingin mati saja bersama kebutaan ini.

. . .

Gelap. Semuanya gelap dan hitam. Aku sudah sadar sekarang, tapi aku tak tau aku dimana dan aku kenapa? Yang terakhir aku ingat hanya, aku pingsan dalam keadaan basah kuyup.

.

Rasanya ada sesuatu yang membelenggu mataku. Aku menggerakan tanganku… Tunggu, tangan kiriku. Apa ini infus? Kugerakkan tangan kiriku untuk menyentuh mataku dan benar… mataku sepertinya di baluti perban. Daguku juga.

“Kamu sudah sadar?”

Aku mengerutkan keningku mendengar suara itu.

“Siapa?” Tanyaku padanya yang entah ada dimana. Kurasakan sebuah tangan menggenggam tangan kananku.

“Aku Dimas,…”

Tanganku langsung saja kutarik dari genggamannya. Gigiku bergemeletukan. Kenapa dia disini? Kenapa dia?

“Mau apa Loe disini?” Tanyaku ketus. Aku merasa tak tenang di tempatku sekarang.  Apalagi aku tak dapat melihat apapun.

“Berpura-pura jadi keluargamu, agar matamu bisa sembuh dan bisa dioperasi,”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Tenanglah… Aku jamin kau pasti akan bisa melihat lagi. Kau sudah dioperasi kemarin,”

Deg!

Jadi, Mataku sudah…

“Kenapa kamu seenaknya meng-”

“Aku tidak mau kamu buta,” Potongnya. “Aku selalu mengikutimu dan melihatmu dimanapun, jadi aku tau dan aku mau melakukan apapun, agar kau sembuh dan jadi Kiki yang seperti biasanya.”

Penjelasannya membuat aku membisu di atas tempat pembaringan ini. Tapi… Kenapa dia mau? Kenapa dia mau melakukan sejauh ini demi aku?

“Tenanglah dan tunggu saatnya nanti. Kalau kamu sudah sembuh dan sehat, aku janji akan membiarkanmu membalas apapun perbuatanku yang membuatmu kesal seperti sekarang ini…”

Aku terdiam. Kegelapan di sekitarku seakan membuat aku tenang sekarang. Aku mengangguk pelan lalu kurasakan belaian di pucuk kepalaku.

.

Semua perban yang menutupi sepanjang mata sampai kepala bagian belakangku sudah dilepaskan. Dan sekarang dua kapas yang menempel di depan mata tertutupku pun sudah diambil.

“Nah, Rizki… Sekarang coba buka mata kamu pelan-pelan.” Ujar Sang Dokter kepadaku.

Aku menggerakkan kelopak mataku, membukanya perlahan-lahan. Pertama-tama buram rasanya, lalu aku mengerjapkan mataku beberapa kali kemudian mataku yang sudah terbuka ini menangkap satu wajah yang berada di samping kiriku.

Matanya menatap tepat ke arah mataku. Rasanya kali ini, dia terlihat berbeda dalam pandanganku. Dia terlihat baru dalam penglihatanku yang juga baru.

“Ini berapa?” Tanyanya seraya mengangkat 5 jarinya di depan wajahku, menggantikan pekerjaan Sang Dokter.

“Dimas,…” Sebutku di depannya.

Mata Dimas terlihat melebar, dia tersenyum lalu memelukku sigap. Aku terlonjak di tempatku. “Kamu udah bisa ngeliat, Ki!” Katanya seraya melepas pelukannya. Aku terdiam, tak tau harus berkata apa.

Dimas terlihat berdiri dari duduknya. Setelah itu dia memeluk Dokter dan 2 Suster yang ada di dalam ruangan ini sambil berteriak “Dia bisa melihat! Terimakasih!” pada mereka.

Sesenang itukah dia? Sepeduli inikah Dimas terhadapku?

Dimas kembali menatapku. Aku menyunggingkan senyum canggung untuknya. Mungkin senyum pertamaku baginya.

Tuhan… Aku bisa melihat dengan normal lagi sekarang.

.

Dimas masuk ke ruangan rawatku dengan membawa satu kursi roda. Aku mengangkat alisku. Buat apa itu?

“Kita jalan-jalan, yuk? Mata kamu butuh refreshing. Kebetulan di samping rumah sakit ada taman.” Ajaknya. Kursi roda itu sudah ia letakan tepat di samping tempat berbaringku.

Yah, bukan ide buruk juga. Aku pun memberi anggukan kepala ke arahnya.

.

Dimas mendorong pelan kursi roda yang kini aku duduki. Sekarang kami sudah sampai di lobi, dan di sini aku melihat pemandangan yang sungguh buruk. Dimas juga menghentikan laju kursi roda ini.

“Mereka…” Desisku lirih.

Di sana, Alex dan gadis yang dulu kulihat kini sedang duduk di jajaran kursi yang ada di dekat tempat Administrasi, entah menunggu apa. Gadis itu bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu Alex.

Aku menggigit bibirku. Aku tak boleh menangis tapi… Hatiku sakit.

Tanpa kuduga-duga Alex kini malah menatap balik ke arahku. Matanya membulat lalu Dia segera berdiri dari duduknya. Di susul Gadisnya yang juga ikut berdiri.

Gadis itu terlihat menggerakkan mulutnya, yang dibalas oleh Alex setelah itu. Entah apa yang Mereka bicarakan, tapi sekarang Alex dan Gadis itu berjalan ke arahku.

“Hai…” Gadis itu melambaikan tangannya ke arah kami begitu sudah sampai di depan kursi rodaku. “Kamu temen Alex kan? Rizki kan?” Tanyanya padaku. Tangannya lalu terulur ke arahku, “Aku Clara, tunangan Alex,” Katanya yang seketika itu juga membuat tubuhku bergetar. Apa alex menceritakan perihalku pada gadis ini?

Aku tertunduk dalam. Kenapa Alex tega? mataku memburam, ada kabut yang menggantung. Kubungkam mulutku rapat-rapat, tidak mau jika mereka sampai mendengar isakanku.

“Maaf,… Rizki mengalami amnesia. Dia gak bisa mengingat siapapun, terutama seseorang bernama Alex. Permisi…” Kata Dimas sedikit menyindir lalu segera menggerakan lagi laju kursi roda ini. Sepertinya dia mengerti keadaanku.

Dan kami berakhir sudah. Aku dan Alex sudah berakhir. Tentu saja, dia sudah menuliskan kata TAMAT sejak hari dimana dia memutuskan untuk mempermainkanku.

Kursi rodaku sudah berhenti lagi. Dan mulutku sukses mengeluarkan suara isakan, tak aku bungkam lagi kali ini. Untuk apa? Toh, Aku sudah jauh dari Alex dan gadis bernama Clara itu.

“Alex minta putus sama kamu 4 hari setelah kamu dirawat di sini.” Perkataan Dimas membuat aku mengangkat kepalaku. Menatapnya yang ternyata tengah berjongkok di depanku. “Ponselmu ada padaku, Ingat kan? Selama kamu dirawat di sini aku yang mengurus semuanya, maaf karena aku gak ngasih tau kamu sejak awal… Aku gak mau kondisi kamu drop, Ki…” Tuturnya padaku.

Jadi, begitu… Rupanya Alex benar-benar berengsek.

Dimas mengusap kedua pipiku, berusaha mengeringkan tetesan airmata yang membasahi wajahku.

“Jangan gunain mata baru kamu buat nangis, Ki… Terutama buat dia. Aku gak suka.” Ucap Dimas. Tatapan matanya begitu teduh. “Rasanya gak enak kan? Sakit emang saat ngeliat orang yang kita cinta mencampakan kita begitu saja, tapi akan lebih sakit lagi… Saat kita melihat orang yang kita cintai menangis hanya untuk orang lain yang mempermainkan cintanya…”

Kata-kata Dimas sukses membuat aku tercekat. Aku menatap dua bola matanya yang juga tengah menatapku.

“Aku cinta kamu, Ki… Cinta banget sama kamu.” Ungkapnya.

Meski sudah bisa menduga, tapi ini tetaplah kejutan bagiku. Mendapati Dimas menyatakan perasaannya, mendapati bahwa dia tulus, ini menghantamku bertubi-tubi. Betapa selama ini aku jahat padanya.

Bibirku bergetar. “Kenapa? Kenapa kamu bisa cinta sama orang kaya aku, Dim? Padahal selama ini, aku jahat dan gak pernah nganggap kamu. Kamu tau kan?” Kataku dengan suara bergetar.

Dimas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu gak pernah jahat dan kamu juga gak pernah gak nganggap aku, Ki. Bukannya tiap kita ketemu kamu selalu ngomong sama aku? Tiap aku ngomong ke kamu, kamu selalu ngerespon aku. Inget kan?”

Airmataku sukses merembes lebih banyak lagi. Aku tersentuh. Ternyata selama ini… Dimas begitu sabar menghadapi sikapku. Bentakan dan cercaanku dianggapnya sebagai ‘respon’ dariku.

“Aku minta maaf… Maaf, Dimas. Maafin aku,” pintaku padanya. Dimas membelai rambutku lembut, dia masih tersenyum.

“Aku gak butuh maaf kamu, Ki…” Komentarnya. “Yang aku mau cuma satu…” Dia mengusap kembali pipiku. “Pertama… Berhenti nangis. Kedua…” Dia menjeda kata-katanya.

Aku menghentikan tangisanku sesuai kemauannya seraya menatapnya. Menunggu lanjutan kata-katanya.

“Mulai hari ini, cobalah Mencintaiku. Bisa?”

Aku tertawa tertahan di sela tangisku lalu mengangguk kuat-kuat.

Dimas mendekap tubuhku, “Aku janji akan jadi kekasih yang baik buatmu, Ki… aku janji…”

Aku mengangguk di dadanya, “Terimakasih, Dimas. Terimakasih… Karena kau mencintaiku.”

.

Duniaku berubah sejak hari itu. Dan satu oranglah yang mengubahnya… Yaitu Seorang Lelaki bernama Dimas Prawira. Orang yang pernah aku pandang dengan tatapan benci dengan mataku yang dulu.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk bisa mencintai lelaki sebaik dia. Lelaki yang mengajarkanku akan arti cinta yang sesungguhnya… Bahwa cinta adalah bukan tentang kesetiaan, bukan tentang seberapa luas dan besar perasaan yang kita berikan ataupun tentang sakit dan bahagia yang kita akan dapatkan karenanya. Tetapi Cinta adalah tentang ketulusan… Tulus mencintai dengan sabar, setia dan menerima apapun resiko yang akan kita terima nanti karenanya.

Dan Cintaku… adalah Dimas Prawira. Aku sungguh berterimakasih padanya, karena dia telah memilihku juga sebagai cintanya.

=THE END=