CUAP2 NAYAKA

Salam…

Cerita baru nih, hehehehe… dari judulnya udah ketahuan sih kalau genrenya SAD. Sudah jadi kesepakatan tak tertulis dalam ranah tulis-menulis bahwa fiksi yang titlenya ada kata TERAKHIR harus dan wajib punya aura duka dan air mata, hihihihi… nah gitu juga dengan cerpen yang ditulis sama d’Rythem24 ini, aura sedihnya kerasa kok.

Aku gak melakukan perubahan apapun dalam tulisan ini, aku bilang EYD dan tanda baca serta penggunaan hurufnya udah bagus, alur ceritanya juga terarah. yang jelas, INI ADALAH TULISAN LAYAK BACA. But… hehehehe, so sorry, ini bukan gaythemed, ini general fiction tentang persahabatan dua cowok (tetap ada unsur cowoknya kan, jadi ini menarik laahhh).

So… happy reading dan jangan lupa tinggalin komen agar yang nulis cerita ini semangat dan mau ngelempar cerpennya ke DKN lagi.

 

wassalam

nayaka

________________________________________________________________

PENGANTAR PENULIS

.Ehem, ehem, pasti namaku masih asing ya di mata kalian? ^^
Perkenalkan kalau begitu, namaku d’Rythem24… Seorang gadis berumur 18 tahun, Fujoshi dan merupakan fans Kak Nay yang sudah mau dengan senang hati memposting karyaku ini di blognya…

Jujur aja, aku ada beberapa tulisan-ketikan tepatnya- yang sudah pernah aku posting di facebookku, maupun di beberapa page… Tapi untuk yang satu ini, Alhamdulillah Blog DKN jadi yang pertama memposting selain akun facebook milikku.

Semoga kalian tahan membaca cerita singkatku ini… ^^
Dan jangan lupa, tolong berikan kritik, komentar dan saran buatku…

________________________________________________________________

-d’Rythem24 present-

fiazku-sejarah-amplop

PESAN TERAKHIR

Arza Point of View…

– – –

Drrt… Drrt…

Ponselku bergetar di atas meja yang ada di samping tempat tidurku, pertanda ada pesan yang masuk dalam inboxku. Aku yang sedang tiduran pun bangun, lalu duduk di tepi ranjang.
Kuraih ponselku setelah itu mengklik tombol ‘Ok’.

From: Ruru
Capeknyaaaa!!

Aku tersenyum membaca sms dari Sahabat terdekatku ini, dia pasti baru pulang dari Rumah Sepupunya yang tengah mengadakan acara khitanan dan kebetulan Ruru ikut membantu disana.

Aku mulai mengetik balasan untuknya…

To: Ruru
Baru pulang ya?
Aduh kasiaaaan…..

Tak berselang lama setelah smsku terkirim, ponsel di tanganku bergetar lagi…

From: Ruru
Hu’um!
Mana sepeda aku lelet banget ini.. Mau ngompa tapi males!
Dorongin…

Salah sendiri, cowok umur 19 tahun tapi gak bisa naek motor, alasannya aja, biar irit.
Prett, ah… si Ruru. Meski aku tau dia punya alasan lain.

To: Ruru
Masalahmu, Deritamu!
Gkgkgkgk…

From: Ruru
Jahat ih! =.=

To: Ruru
Becanda atuh, say.

From: Ruru
Iih~ Apa deh manggil-manggil Say ke eke…
Emang ente kira eke cowok apaan!
Rumpi deh…

Aku tidak dapat menahan tawaku membaca balasan smsnya yang satu ini…

To: Ruru
Iya deh, Cyn.
Maafin ekeu…

From: Ruru
Najong ih, Kamu!

To: Ruru
Najong-najong juga Kamu suka…

From: Ruru
Ah, si Akang tau aja…

To: Ruru
Sini cium dulu…
Mmuach!
Wkwkwkwk

From: Ruru
Apa deh! Ciuman aku mahal!
1 ciuman seratus!

To: Ruru
Minta 10 dong!

From: Ruru
Bayar 1 juta.

To: Ruru
Eh?

From: Ruru
Pan harganya 100 ribu…
Wkwkwk

To: Ruru
=.=

From: Ruru
Lagi apa, Ar?

To: Ruru
Lagi diem aja sambil smsan, sambil nafas, sambil duduk, sambil kedip, sambil megang Hape dan sambil yang lainnya.

From: Ruru
Sambil ngupil tuh ketinggalan!

Aku lagi-lagi tertawa, aku pun mengetik lagi balasan buatnya…

To: Ruru
Kan upilnya buat Ruru yang tercinta ini…
Gkgkwkwkhaha

Aku alihkan pandanganku pada foto yang ada di atas meja di samping tempat tidurku ini. Itu adalah foto Kami, fotoku dan juga Ruru dua tahun lalu saat Kami baru lulus dari SMA.

Aku dan Ruru sudah berteman sejak SMP. Sangat lama bukan?
Sebenarnya Ruru itu bukanlah nama aslinya, aku hanya iseng memanggilnya begitu yang lama kelamaan malah jadi kebiasaan. Sampai hari ini…

Drrt… Drrt…

From: Ruru
Week… Najong ah!
Ar, pulsa aku udah mau abis nih, padahal ada pesan penting yang pengen aku sampein ke kamu.

Aku mengerutkan keningku.
Pesan penting?

To: Ruru
Pesan penting apa gitu?
Mau aku telpon aja?

From: Ruru
Nggak ah, Nanti ya, aku mau ngetik dulu.
Stok terakhir nih…

Aku pun mulai menunggu…

Pesan penting apa ya yang mau di sampaikan padaku?
Hmm, tapi tak di sangka aku dan dia bisa berteman selama ini.
Meskipun akhir-akhir ini kami sudah jarang bertemu, tapi masalah saling kontak kami masih berlanjut.
Kadang aku menelpon Ruru, begitupun sebaliknya… Menceritakan tentang pekerjaan di tempat kami masing-masing, bercerita tentang Anime yang menjadi kesukaan Ruru dan banyak lagi.

.

Aku tengok layar HPku, lama sekali sih dia ngetik?

Karena bosan menunggu, aku putuskan untuk menelpon nomornya saja sekalian.

Tutt… Tutt…

Nada tunggu sudah mulai bertut-tut ria di telinga kiriku, tapi kemudian…

‘Maaf.. Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi.’

“Hah? Kok?” Aku mendadak di serang bingung.
Tadi masih tersambung, tapi kok sekarang sudah tak dapat di hubungi?

Aku coba menelponnya lagi…
Hasilnya sama.

Aku pun bangun dari dudukku, tapi sialnya lututku malah terbentur meja.

Prakk!!

Suara benda pecah pun terdengar tepat di bawahku. Saat aku menengoknya, ternyata foto milikku yang terjatuh.

Aku merunduk kemudian mengambilnya.
Keningku berkerut begitu mendapati ternyata foto ini pecah, bukan itu… Anehnya, bagian pecahnya hanya ada pada sekitar wajah Ruru.

Tiba-tiba saja suasana di sekitarku menjadi dingin dan terasa mencekam.
Aku memandang sekelilingku, ada perasaan tak enak berdesir dalam dadaku.

Ya Tuhan, aku harap Ruru baik-baik saja…

. . .

Shock, sedih, tak percaya, sakit, berharap ini mimpi dan merasa ini tak mungkin, itulah yang aku rasakan sekarang.

Ruru… Tak mungkin.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mataku mulai memburam, tubuhku terasa lemas dan seluruh syaraf dalam tubuhku seakan membeku.
Tubuhku terjatuh bersamaan dengan datangnya tangan Kak Arni yang meraih bahuku mencegah aku tak limbung.

“G-gak mungkin…” Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Sesegukan dan bergetar.
“Gak mungkin!” Teriakku. Kak Arni segera saja memeluk tubuhku. Ia juga terdengar sedang terisak.

“Sabar, Za… Sabar!” Bisik Kak Arni sembari tangannya mengusap punggungku.
“Ikhlaskan dia, Nak…” Itu suara Mama.

Ikhlas? Bagaimana bisa?!
Bagaimana bisa aku ikhlas sedangkan aku tau 2 jam lalu aku masih bersms dengannya, masih tertawa karenanya dan sekarang aku mendengar kabar langsung dari Om Fazri kalau Ruru sudah meninggal!
Dimana letak keikhlasan yang bisa aku terapkan sekarang ini, bahwasannya semua ini sangat mendadak buatku.

Airmataku tak dapat berhenti mengalir.
Ini pasti tak mungkin, ini mimpi, aku yakin.
Ruru tak mungkin meninggalkanku tanpa menyampaikan apa-apa dulu padaku, tadi dia pun bilang ingin menyampaikan pesan penting padaku kan?

Aku melepaskan diri dari dekapan Kak Arni, berdiri dan langsung berlari ke arah kamarku.
Aku ambil ponselku dan memeriksa inbox, tetap tak ada sms baru yang masuk.

Aku menekan tombol panggil, tapi…

‘Maaf.. Nomor yang anda tuju tid-‘

Prakk!!

Ponselku hancur berserakan di atas lantai keramik kamarku.
Aku membantingnya sekuat tenaga saking kesalnya.
Menyebalkan.

“Arrggh!!” Aku berteriak sekeras-sekerasnya yang setelah itu kembali jatuh di atas lantai.
Suara derap langkah terdengar memasuki kamarku.

“Arza, Ya Allah…” Mamaku yang pertama sampai di dekatku segera memelukku.
Aku kembali terisak.
“Ma,… Ruru masih hidup kan, Ma?” Tanyaku dengan suara serak dan nafas yang tersenggal. Tapi Mama hanya membelai rambutku.

“Sabar, Arza… Sabar, Nak. Ikhlaskan Haru.” Ucapnya perlahan yang membuat tangisku kembali pecah.

Tidak mungkin.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam dekapan Mama.
Ya Tuhan, aku harap ini tidak nyata.

– – –

Sakit adalah saat kita harus merasakan kehilangan sekaligus di tinggalkan…
Kehilangan itu relatif dan banyak sekali jenisnya, dari kehilangan harta benda, kehilangan hewan peliharaan sampai kehilangan orang yang kita sayangi…
Dan kehilangan terakhir itu, tengah aku rasakan saat ini, bahkan aku tak hanya kehilangan dia, tapi juga di tinggalkan olehnya… Oleh Ruru, selamanya.

Raungan sendu dan tangisan haru seharu namanya tengah memenuhi suasana pemakaman ini.
Tante Hissyah, Mama Ruru tak henti-hentinya berteriak dan meraung sendu dengan terus memeluk nisan terukirkan nama putra tunggalnya, sedangkan Om Arjuna hanya terduduk lemah di samping Istri serta gundukan tanah berisikan jasad putranya.

Banyak sekali orang-orang yang menghadiri pemakaman ini, tak terkecuali teman-teman SMA kami dan juga Guru yang dulu pernah mengajarkan aku dan Ruru saat masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Siapa yang tak kenal Haru Randyatama Arjuansyah? Sahabatku itu punya pribadi yang menyenangkan, supel, pintar dan juga baik. Terlalu baik malah buatku…
Sepanjang waktu sejak pertama kami berkenalan, tak pernah sekalipun Ruru marah padaku. Tak pernah.
Sebandel apapun aku, sejahil apapun sikapku padanya, dia tak pernah marah. Kalaupun ada itu hanyalah pura-pura semata.

Seluruh wajah mereka yang terlihat oleh mata buramku tersiratkan duka dan sedih yang mendalam pada rautnya, sama seperti aku.
Tapi airmataku sudah kering, jangankan menangis untuk bicara saja rasanya sudah tak sanggup. Suaraku serak, berbicara hanya membuat tenggorokanku sakit.

Tanah pemakaman ini mulai di tinggalkan oleh para pelayatnya satu-persatu.
Nisan bertuliskan ‘HARU . R . ARJUANSYAH’ itu masih aku pandangi sejak awal terpasangnya ia disana.

Tante Hissyah bangun dari duduknya di papah oleh Om Arjuna yang setia berada di sampingnya. Mereka berdua berjalan beriringan setelah sebelumnya berbalik menghadapku yang sejak tadi tak bergeser berdiri di belakang mereka.

Mata Tante Hissyah terlihat bengkak, pasti dia tak berhenti menangis sejak kemarin. Kehilangan ini juga teramat dalam dan menyakitkan baginya.
Tentu saja, Ibu mana yang tak merasakan lara begitu tau anaknya, dan putra satu-satunya telah tiada.

“Nak Arza,…” Sebutnya dengan bibir bergetar. Aku hanya bisa mengangguk.
Tante Hissyah berjalan gontai lalu memeluk tubuhku. Ia menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar hebat.

“Haru… Haru sudah tidak ada, Nak. Haru…” Desisnya dengan suara tersendat. Tapi aku tak dapat mengeluarkan suaraku, aku cuma bisa menepuk pundak wanita yang sudah aku anggap Mama keduaku ini.

Andai aku mampu menguatkannya, tapi mana mungkin… Menguatkan diriku sendiri saja aku tidak bisa.
Aku meraih pundak Tante Hissyah, melepaskan dirinya dari tubuhku. Ku taruh kedua tanganku di pipinya lalu mengusap tetesan airmata yang membasahi pipinya.

“Jangan nangis, Tante…” Kataku dengan suara teramat serak dan parau. Sakit rasanya.

“Sudah, Ma… Ayo kita pulang. Ayo, Arza…” Om Arjuna merangkul Tante Hissyah kemudian beranjak dari hadapanku.

Tapi aku tetap disini, tepatnya… Terdiam disini sendirian.

Aku melangkapkan kakiku perlahan mendekati gundukan yang telah menutupi tubuh mungilnya.

Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin kau bisa meninggal di usia semuda ini, Ru?
Kamu bahkan belum nyampein pesan penting kamu buat aku sesuai apa yang kamu bilang kemarin di sms…

Aku lemah dan rapuh mendadak karena dia…
Tapi mengertikah? Bagaimana perasaan kalian saat tau sahabat yang sudah berteman selama 7 tahun dengan kalian tiba-tiba saja di kabarkan meninggal, padahal belum lama ketika kabar itu sampai kalian masih di buatnya tertawa lewat pesannya.

Aku tertunduk dalam.
Perih dan sakit ini masih belum menghilang.
Saat aku di tinggal Nenekku dan saat di putuskan pacarku dulu aku akui aku juga sakit dan sedih, tapi kali ini rasanya berkali lipat lebih menyiksa…
Teramat sangat.

. . .

“Kamu mau ikut gak, Za? Ini 7 hari malam tahli-”
“Nggak, Pa! Pergi aja sendiri.” Potongku cepat.

Aku yang sedang memasang simcard lamaku pada ponsel baruku pun jadi mendadak bergetar.
Sudah seminggu… Tak terasa sudah seminggu dia pergi, dan seminggu itu pula aku tak pernah mau ikut Papaku untuk hadir ke kediaman Ruru yang menggelar tahlilan untuknya.
Tak mau, atau tepatnya… Aku tak sanggup.

Papaku beranjak dari hadapanku, dia pasti sudah tau akan sia-sia bicara padaku.

Bukan hanya Papa… Mama, Kak Arni, Tante Hissyah dan Om Arjuna pasti tau. Tau dan mengerti kenapa aku jadi begini…
Mereka tau sedekat apa aku dan Ruru.
Pulang pergi sekolah selalu bersama, berliburpun keluarga kami selalu sama-sama dan mereka tau seperti apa hubunganku dan Ruru yang sudah seperti saudara kompak meski dari keluarga berbeda.

Aku sangat menyayanginya. Aku mengenalnya lebih dari dia mengenalku begitupun sebaliknya.

Aku ingat, dulu saat aku kelas 2 SMA aku mengalami kecelakaan karena terjatuh dari motor bersamanya. Dia bukannya minta tolong, tapi malah menangisi aku dan terus meraung-raung di dekatku.
Dan itu jugalah salah satu alasan Ruru, kenapa dia tak pernah mau mencoba belajar menaiki motor.

Simcardku telah terpasang, dan ponsel baru pengganti HPku yang hancur di banting olehku pun sudah menyala.
Sayang sekali Ponselku rusak total, padahal semua pesan terakhir Ruru ada disana.
Tak semua, pesannya yang benar-benar terakhir belum ia kirim padaku… Atau tepatnya, tak akan pernah terkirim padaku.

– – –

“Hah? Kok bisa, Ma?” Tanyaku meminta lanjutan penjelasan pada Mama.

“Jadi, kata para saksi mata yang ada di TKP waktu itu,… Haru itu lagi berhenti di pinggir jalan sambil megang HPnya, tapi gak tau kenapa HP Haru tuh jatuh ke jalanan. Mungkin Haru gak liat ada mobil lagi jalan kenceng banget ke arah dia, jadi pas dia ngerunduk…” Mama menghentikan penjelasannya. Tangannya yang ada di bahuku terasa bergetar, begitupun juga tubuhku.

Begitu rupanya, jadi Ruru tertabrak mobil dan meninggal di tempatnya? Dan mobil yang menabraknya malah pergi begitu saja tanpa mau menolong dulu…
Sialan! Aku bersumpah semoga pengendaranya akan mati, musnah sekalian lebih baik.

“Tapi anehnya, HP yang mau Haru ambil itu malah gak ketemu lho…” Aku tercekat mendengar penuturan Mama yang baru saja aku dengar.
“Kok?”
“Gak tau… Katanya udah ada yang ngambil, atau nyuri ya? Orang-orang juga bingung…” Mama mengusap pipiku. “Kamu jangan sedih lagi… Mama tau gimana perasaan kamu, tapi kalo kamu terus gini, Haru cuma bakal sedih nanti disana.” Kata Mama yang hanya aku balas dengan anggukan.

Aku masih bertanya-tanya, kemana dan kenapa Ponsel Ruru hilang? Apakah pesan yang sudah ia ketik ada disana juga?

. . .

“Ar… Arza,… Aku mohon, Za… Baca pesanku!”

Aku langsung membuka mataku dan tergugah dari tidurku.
Bisikan itu… Itu suara Ruru bukan?
Aku menyeka keringat yang membasahi wajahku.
Apa tadi itu mimpi?

Kutengok jam sudah menunjukan pukul 4 sore.
Ah, tidur siangku tidak nyenyak.
Kini ku pandangi foto kami berdua yang bingkainya sudah aku ganti.

“Ru, Aku kangen kamu…” Desisku.

Aku ambil ponselku yang ada di samping foto itu, lalu mengetik sesuatu disana…

To: Ruru
Aku masih gak percaya kamu udah gak ada…
Bagi aku kamu masih hidup, Ru!

Meski gila, tapi aku tetap mengirimkannya.
Hhh… Menyedihkan.
Aku meremas ponsel dalam genggamanku erat-erat, andai dia masih hidup, smsku pasti sudah dia balas.

– – –

40 hari…
Tak terasa sudah selama itu dia pergi…
Tanah tempatnya di kuburkan sudah mulai di tumbuhi rumput-rumput kecil nan hijau.

Ku letakan rangkaian bunga yang aku bawa di bawah nisannya yang setelah itu aku usap nisan bertuliskan namanya ini.

“Gak nyangka kamu udah pergi selama ini, Ru… Aku kangen kamu…” Ucapku.
Aku tertunduk dengan mencengkram kuat-kuat nisan di peganganku ini.

“Ar…?” Suara dan tepukan mendadak di bahuku membuatku refleks menoleh.
Mataku melebar…

“Ru-Ruru?!” Sebutku dengan suara terbata dan masih agak kaget.
Aku mengucek mataku lalu melihatnya lagi…
Tapi dia sudah tidak ada.

Aku berdiri dari jongkokku, mengedarkan pandanganku kesana kemari dan satu sosok seorang pemuda seumuranku berhasil tertangkap dua bola mataku… Tapi dia bukan Ruru.

Lelaki muda itu berjalan mendekat ke tempatku, di tangannya rangkaian bunga yang sama seperti milikku berada dalam genggamannya.

Ia berjongkok lalu meletakan bunga itu tepat di samping rangkaian bunga milikku aku letakan.

“Kau yang bernama Arzaki Yudiandrata?” Tanyanya tanpa melihat ke arahku dan malah mengusap nisan Ruru sama seperti yang tadi aku lakukan.

“I-iya… Kau siapa? Apa kau kenal Ruru?” Jawabku sambil memberikan pertanyaan juga untuknya.
Ia mendongak dengan mengulas senyum. Kemudian Ia berdiri menghadap tepat di depanku.

Lelaki dengan mata sipit, alis tipis dan wajah lonjong ini merogoh saku jaketnya. Tak lama ponsel yang sangat aku kenali dan yang aku tau pemiliknya sudah tak ada itu terlihat berada di genggamannya, di ambil dari saku jaketnya.

Aku terperangah dan menatapnya terheran-heran, “Ba-bagaimana b-bisa?” Tanyaku tergagap. Lelaki ini menundukan wajahnya, ia terlihat menekan beberapa tombol di ponsel yang tak lain adalah milik Ruru itu dan…

Drrt… Drrt…

Ada pesan masuk.
Aku pun merogoh saku celanaku dan sedikit terlonjak di tempatku begitu tau apa yang kulihat di layar ponselku.
Tanganku mendadak gemetar…

“Bacalah… Itu pesan pentingnya yang ingin Ia sampaikan padamu…” Kata Lelaki ini dengan suara agak tersendat.

Dengan perlahan, aku tekan tombol Ok…

Aku mengedarkan mataku membaca pesan yang tertera di layar ponselku saat ini…

Hatiku sakit, jantungku seakan berhenti berdegup, tubuhku gemetaran…
Aku lemas di tempatku berdiri, kemudian tanpa bisa aku tahan, aku berlutut di samping pusara pemilik pesan yang baru selesai aku baca ini.

Airmataku merembes membasahi pipiku, aku letakan ponselku di depan dadaku…

“Arrggh!!” Aku berteriak, kebiasaanku jika benar-benar sudah merasakan sakit.

Aku letakan tanganku ke Nisannya dan perlahan aku usap…
“A-aku bahagia, Ru… Aku seneng bisa punya temen kaya kamu. Semoga kamu tenang ya…” Ucapku dengan suara yang parau dan serak.

Dan aku melihatnya.. Dia tersenyum seraya melambai ke arahku hingga bayang sosoknya lenyap dari pandanganku.

Aku merasakan sebuah usapan di pundakku. “Dia udah tenang… Dia pasti senang karena kau sudah membaca pesannya,” Kata lelaki di depanku dengan suara yang parau juga.

Aku pun mengangguk, “Terimakasih… Terimakasih.” Balasku.

Hilir angin terasa menyejukanku… Tanah pemakaman yang tentram ini seakan menjadi saksi…
Saksi sejatinya persahabatan kami.

Aku kembali melihat ke layar ponselku,
Pesan terakhir Ruru…

From: Ruru

Eumm, mau ngomong apa ya? Hehehe…
Tau gak, Ar? Aku tuh seneng banget bisa punya temen kaya kamu.
Bisa di ajak maen bareng, di ajak jalan bareng dan di ajak sakit bareng juga..
Aku mau berterimakasih sama kamu, karena selama ini kamu mau jadi temenku yang setia meskipun resenya naudzubillah…
Ar, Aku tuh sayang banget sama kamu.
Eets, jangan mikir najong dulu. Aku sayang sama karena kamu itu sahabat aku, udah aku anggap saudara malah.
Makasih udah bikin hari-hari selama hidupku gak ngebosenin.
Jujur ya, kalaupun hari ini aku bakalan mati asalkan pesan ini udah kamu baca, aku bakal tenang nan bahagia…
Sekali lagi, makasih, Bro.
Cium dulu ah, Mmuach!
Wkwkwk

Aku coba tersenyum…
Aku juga berterimakasih sama kamu, Ru…
Dan aku sayang sama kamu… Sahabatku.
Selamat jalan.

. . .

Lega… Itulah yang beberapa hari ini tengah aku rasakan.
Setidaknya di balik semua kejadian ini aku tau satu hal…
Ruru, memang di takdirkan untuk pergi. Bahkan dia seakan sudah tau masanya lewat pesan yang ia ketik untukku.

1 bulan lebih… Butuh satu bulan lebih untuk lelaki itu memperbaiki ponsel milik Ruru yang ia haruskan ambil di TKP dulu sebelum akhirnya ia kembalikan, hanya demi mengirim pesan Ruru yang belum tersampaikan, untukku…

Lelaki itu… Danar, Berkat dia aku tau detail kejadian sebenarnya…
Ternyata Danar adalah anak seorang pemilik Toko yang kebetulan waktu itu Tokonya menjadi tempat pemberhentian sepeda Ruru saat ia mengetik sms untukku.
Danar bahkan sempat mengobrol sebentar dengan Ruru, dan Ruru berkata, “Aku mau mengirim pesan penting untuk sahabatku…”
Tetapi ketika Ruru baru mau mengirimnya, ia di kejutkan oleh panggilan yang mendadak datang hingga membuat ponselnya refleks terlempar dari tangannya. Setelah itu, ia merunduk menghampiri ponselnya dan sukses membuat bagian depan tubuhnya tertabrak mobil yang tengah melaju dalam kecepatan tinggi waktu itu.
Tubuh Ruru terhempas agak jauh, Danar menghampirinya dan Ruru berucap, “Tolong… Sampaikan pesan terakhirku pada Arzaki Yudiandrata.” , sambil tangannya menyerahkan ponsel miliknya yang ikut remuk seremuk tubuhnya pada Danar.
Lalu Ruru pergi… Selama-lamanya dengan tenang, karena pesannya telah tersampaikan kini.

Jujur, aku sakit… Kalau saja aku tak menelponnya Ruru pasti masih hidup. Tapi Danar bilang ini sudah di gariskan, tak ada seorang pun yang salah di balik semua ini.

Dan Danar…

“Woy!” Dia membuatku hampir menjatuhkan fotoku dan Ruru dalam peganganku karena teriakannya.
“Danar!” Bentakku padanya. Danar hanya cengengesan.

Yaa, dan Dia sekarang jadi temanku.
Meski ini terdengar mengada-ngada, tapi aku rasa Danar di kirimkan Ruru untuk di jadikan olehku sebagai penggantinya.
Walaupun Ruru tak tergantikan, tapi aku senang… Aku sudah punya teman sekawan denganku lagi. Dan kali ini, aku tak akan pernah membiarkan ia meninggalkanku dalam kematian.

.

Jangan pernah biarkan semuanya terlambat…
Disadari atau tidak, Sahabatmu itu berharga, namun ketika kehilangannya… Berharganya itu akan lebih terasa.
Kau punya sahabat bukan? Lindungi dan terus hiburlah dia selama kalian masih bersama… Karena kita tak akan tau, kapan kita akan pergi dan meninggalkan, atau di tinggalkan olehnya nanti.

-THE END-

Apakah ada yang menangis?😄 *tebar tissue*
Cerita pertamaku yang muncul ini horror(?) banget ya. ^^
Tapi kalau ada yang menangis, aku berterimakasih… Karena itu artinya kalian begitu mendalami membaca cerita buatanku ini.

Ingat, jangan lupa komentar… Dan tunggulah cerita d’Rythem24 yang lain muncul di blog ini.
Itu pun kalau tanggapannya bagus.

Thanks for reading,

d’Rythem24.