CUAP2 NAYAKA

Ini cerpen terbaru (sepertinya) milik Kawan Choi Ha So. Masih ingat kan? itu loh, penulis yang nulis TROTOAR, salah satu cerpennya di blognya Kawan Tommy dulu. Nah, kali ini kawan Choi mau berbaik hati menyumbangkan satu cerpennya buat DKN (baik kan dia), judulnya cantik tuh, he he he… Pendar Bintang, bintang adalah benda langit paling cantik menurutku, ada yang setuju?

ini aku post tanpa mengubah sedikit pun materi di dalamnya, aku udah baca, ada beberapa typo memang, maaf belum sempat kuperbaiki, aku juga mengejar postinganku sendiri. Tapi tidak mengubah maksud kok. Ceritanya gak kalah apik dengan tulisan Kawan Choi terdahulu. Jadi, selamat membaca. Aku rasa kawan Choi berhak dapat komen atas tulisannya ini, jadi jangan ragu berkata-kata yaa…

enjoy…

wassalam

nayaka

________________________________________________________________

bintang

PENDAR BINTANG

By : Choi Ha Soo

 

Aku terduduk sendiri di bawah pohon taman kompleks rumahku, sambil sesekali tersenyum melihat pendar bintang yang berkilauan indah di langit yang berwarna hitam pekat. Hari ini sabtu malam, walaupun demikian taman komplek ini tak selalu ramai. Hanya beberpa orang tua bersama anaknya, menemani bermain beberapa permainan yang tersedia. Tempat ini menjadi tempat favoriteku sejak pertama kali aku kenal sahabat komplek perumahan ini. Hampir setiap malam bila senggang waktu, aku sempatkan untuk duduk sebentar dibawah pohon pinus ini sambil melihat beberapa pendar bintang. Walau terkadang memang ia tak selalu berkilau tapi aku tau dia tetap ada di sana.

FlasBack

***

Bintang                                : PING!!

Bintang                :Hai boleh kenalan??  Sapa seseorang dari seberang sana.

Aku                        :Boleh, kenalin aq Tyo qm?? Balasku.

Bintang                                :Hai Tyo, aq Bintang.

Aku                        : Owh Bintang, qm tinggal dmana?? Jng bilang qm tinggal di langit malam?? Hehehe

Bintang                                :hehe bisa aja qm, aq tinggal di perumahan Permata. Kalo km??

Aku                        : sama dunk?? Blok brp?? Aq di blok H.

Bintang                                : Really??? Aq di blok J. Aq baru seminggu pindah di sini, aq pindahan dari kota Jogja

Aku                        : Jogja?? Hmm.. terus kapan qt bisa ketemu?? Sekarang??

Bintang                                : sekarang? Yakin?? Dmana?

Aku                        : aq tunggu di taman Kompleks, aq berangkat sekarang!

Bintang                                : oke!!!

Namanya Bintang, awal kami kenalan lewat Brodcast Message BBM. Entahlah kami tak begitu menyangka bisa tinggal di kompleks yang sama. Hari itu juga setelah kami mengenal sebagian dari data pribadi kami lewat BBM. Kami merencanakan untuk ketemu di taman komplek perumahan kami.

Bintang                 : km dmana?? Aq dah di taman.

Aku                        : sebelah mana? Pake baju apa qm??

Bintang                 : sweeter Biru.

Aku                        : coba qm tengok kebelakang aq melambai ke arahmu.

Aku dapati dia memakai sweeter biru. Saat aku melambai kearahnya, senyum mengembang di bibir manisnya. Dan berlari kecil menghampiriku, aku di buatnya canggung pasalnya senyumannya benar-benar membuat aku malu. Kami berjabat tangan dan kembali berkenalan secara tatap muka.

“duduk di situ yuk??” ajaknya padaku.

Kami berjalan menuju bangku kosong di bawah pohon pinus dan di terangi cahaya lampu orange taman. Sejenak kami terdiam, akupun juga sedang memikirkan kata apa yang baik untuk memulai perbincangan. Saat sedang memikirkan kata terbaik tuk memulai perbincangan, dia mengeluarkan buku dongeng legenda candi prambanan dari dalam tas samping yang ia bawa tadi. Secara reflek aku bertanya padanya.

“buku apa itu??”

“ Legenda Candi Prambanan, kamu tau kan ceritanya??” jawabnya sambil balik bertanya padaku.

“hmm pernah denger sich tapi nggak terlalu banyak tau ceritanya” jawabku.

“mau aku ceritain secara singkatnya??” tanyanya lagi padaku.

“boleh boleh..”

“asal kamunya nggak tidur disini aja yah klo aku cerita hehe”

“ah nggak lah nggak mungkin”

“okeh, jadi dahulu kala tuh ada seorang pangeran bernama Bandung Bondowoso, ia di utus ayahnya untuk berperang melawan musuh kerajaannya dimana musuh kerajaanya itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang, ketika bandung bondowoso berperang melawan ayahanda Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan ayahhanda Roro Jonggrang. Saat Bandung Bondowoso melihat putri Roro Jonggrang si Bandung Bondowoso terpesona oleh kecantikan Roro Jonggrang hingga akhirnya Bandung Bondowoso ingin meminang Roro Jonggrang, Karena Roro Jonggrang masih marah dan kecewa Roro Jonggrang menolak permintaan Bandung Bondowoso yang ingin meminangnya. Untuk menolak pinangnya Roro Jonggrang mempunyai siasat. Roro Jonggrang mau di pinang Bandung Bondowoso asalkan Bandung Bondowoso sanggup memenuhi dua permintaan Roro Jonggrang. Permintaan pertama yaitu Roro Jonggrang meminta untuk dibuatkan sumur dan permintaan kedua Roro Jonggrang meminta untuk dibuatkan 1000 Candi. Bandung Bondowoso menyanggupinya. Ketika permintaan pertama di kabulkan yaitu sumur, Roro Jonggrang meminta Bandung Bondowoso untuk masuk kedalam sumur tersebut, si Bandung Bondowoso pun masuk dan ketika Bandung Bondowoso masuk Roro Jonggrang memerintah prajuritnya untuk menimbun Bandung Bondowoso. Dan menurut perkiraan mereka Bandung Bondowoso sudah mati. Ternyata tidak Bandung Bondowoso bersemedi di dalam sumur tersebut dan berhasil keluar dengan selamat. Bandung Bondowoso marah terhadap Roro Jonggrang namun karena kecantikan Roro Jonggrang Bandung Bondowoso tidak berani melawannya, akhirnya permintaan yang kedua pun di laksanakan yaitu membuat 1000 candi dalam waktu satu malam. Saat Bandung Bondowoso tengah melakukan permintaan Roro Jonggrang yang kedua dengan bantuan jin. Roro Jonggrang memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian. Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Bandung Bondowoso tau bahwa hal tersebut memang sengaja di lakukan Roro Jonggrang untuk menggagalkan tugasnya. Maka Bandung Bondowoso marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi Patung sebagai pelengkap candi ke seribu.”

“wah itu tadi bukan cerita singkat bintang” ejekku padanya.

“hmm itu uda singkat tau!!” jawabnya.

“kamu suka dongeng ya?”

“ya begitulah, almarhum ayahku suka membacakan dongeng waktu aku akan tidur. Dan itu terbawa sampai sekarang”

“berarti sekarang kamu tinggal berdua dengan ibumu?”

“nggak sekarang aku tinggal bersama ibu dan ayah tiriku”

“ngomong-ngomong kamu sekolah dimana?”

“SMA… Bandung, kalo kamu?”

“owh disitu, aq di SMA …. Bandung”

Obrolan-obrolan singkat yang kami lakukan menambah keakraban kita dan tak terasa sudah larut malam, Bintang mendapat sms dari ibunya untuk segera pulang karena sudah malam. Kami pun memutuskan untuk bertemu lagi besok di sini. Kami berjalan bebarengan meninggalkan taman Komplek perumahan. Dan berpisah ketika kita sampai di persimpangan. Aku melambaikan tangan dan berteriak “sampai jumpa besok yah?” dan aku lihat dia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju.

Sesampainya dirumah, aku langsung menuju kamarku melepas jaket yang ku kenakan tadi dan merebahkan badanku di kasur. BB ku berdering, ada BBM dari Bintang.

“Good Night have a nice dream yah?”

Dan aku balas :

“good night and have a nice dream too..”

***

Ke esokan harinya, aku bangun gontai menuju kamar mandi sambil menetralisir keadaanku yang terhuyung-huyung. Aku ambil handuk dan mandi. Ibu sudah berteriak di bawah menyuruhku untuk segera turun dan sarapan. Dengan sedikit olesan minyak rambut kini rambutku menjelma seperti tanduk badak bercula satu. Aku raih tas sekolahku yang tergeletak di meja belajar dan memainkan jemariku sebentar di BB kesayanganku.

“hai Bintang selamat pagi, semoga harimu menyenangkan”

Lalu tak lama kemudian ada balasan dari bintang.

“selamat pagi dan semoga harimu menyenangkan juga”

Senyum mengembang saat membaca Balasan darinya, dan untuk kesekian kalinya ibu berteriak memanggilku. Dan kali ini aku tak bisa mengelak lagi, dengan sekuat tenangga aku berlari menuruni tangga dan sesegera mungkin duduk di kursi meja makan sebelum ibu meneriaki aku lagi. Segera saja setelah selesai sarapan aku berangkat ke sekolah. Pelajaran pelajaran terasa sangat membosankan dan aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya yah dengan bintang, malam ini di taman Komplek perumahanku. Jam 13.30 sekolah mulai terasa sepi mungkin tinggal  siswa kelas 12  yang sedang Bimbingan Belajar. Hari ini jadwalku untuk latihan renang, karena dalam waktu dekat ini aku harus mengikuti lomba renang untuk mewakili sekolahku.

Tepat pukul 16.00 aku keluar dari kamar bilas kolam renang dengan pakaian rapi. Aku coba BBM bintang untuk mengajaknya ketemu sekarang.

“bisa tidak kalo kita ketemunya sekarang aja??” Tak lama kemudian BB ku berdering, ada balasan darinya.

“kenapa terburu-buru aku nggak bisa klo ketemu sekarang”

“ayolah kenapa sich nggak bisa??”

“tidakkah kamu tau kalo bintang selalu muncul di malam hari bukan disore hari hehe”

Aku menahan tawaku saat membaca balasan BBM darinya, ternyata dia mempunyai selera humor yang cukup menghiburku, dan itulah salah satu yang kusuka darinya selain senyumnya yang manis semanis… Madu mungkin.

Aku pasrah saja ketika dia bilang tak bisa untuk bertemu denganku sekarang, aku pun hanya bisa berkutat dengan laptopku di kamarku sambil mendengarkan lagu-lagu korea kesukaanku. Lee Min Ho  “your my everything” lembut mengalun di telingaku, tiba-tiba saja muncul pertanyaan di benakku. Apa nama akun Facebooknya yah?? Aku coba BBM dia menanyakan akun Facebook dia karena penasaran seperti apa pribadi dia di facebook.

Dia membalas BBM ku

Bintang                 : Jung Jekyo. Buat apa??

Aku                        : nggak, pengen tau aja. wah nama korea?? Km suka korea jg??

Bintang                 : iya begitu lah, km jg??

Aku                        : iya, lama bgt bales.na lg sibuk kah?

Bintang                 : maaf nggak terlalu, lg sama Ibu ini ngobrol serius.

Aku                        : miane.. aq ganggu? Seserius apa emang?

Bintang                 : gpp, ada lah kepo bgt km hehe..

Aku                        :  ya uda dilnjt aja ngobrolnya, aq tunggu km di taman Komplek di tempat kmrn.

Bintang                 : Okeh!!

 

Langsung saja aku tulis nama akun Facebooknya di colom searching, aku lihat foto dia terpampang. Aku klik fotonya agar lebih besar untuk ku lihat. Dia memakai kemeja kotak-kotak warna biru, memakai kaca mata. Foto itu aku simpan di laptopku, saat aku asyik melihat- lihat FaceBook dia alarm BB ku berbunyi. Segera saja aku pergi ke kamar mandi mengambil wudhu untuk segera melakukan shalat magrib. Setelah itu baru aku bersiap-siap untuk bertemu Bintang di taman komplek perumahan, aku ambil sedikit gel dengan sekejam rambutku berubah menyerupai tanduk badak bercula satu. Gaya rambut yang sampai sekarang masih aku favoritein, aku pilih kemeja yang aku pakai nanti. Akhirnya terpilih kemeja warna merah, tak lupa aku bawa kamera digital ku entahlah mungkin nanti akan berguna.

***

Tepat pukul 18.30 aku  sampai di taman, aku duduk di tempat kemaren kita bertemu. Aku coba BBM Bintang.

Aku        : hai, dmana? Aq dah di taman.

Bintang : bentar lg nyampek.

Aku        : oke aq tunggu.

Sambil menunggu dia datang, aku duduk sambil mendengarkan lagu-lagu dengan mp3 yang aku bawa tadi. Memandang langit malam yang begitu indah dihiasi terangnya bintang-bintang. Saking ke enakan dengerin musik dan melihat langit malam yang indah. Aku di kejutkan oleh kedatangan Bintang secara tiba-tiba.

“hayo.. ngelamun apaan..” ucap Bintang padaku.

“ lagi liat bintang tu disana..” jawabku sambil menunjuk ke langit malam.

“ais.. jangan jauh-jauh liat disini juga ada Bintang” ucapnya lagi kali ini sambil menggeser posisiku untuk menghadap ke padanya.

Saat itu yang pertama kali aku lihat yaitu senyumnya, senyumnya seperti kelip bintang di langit sekilas tapi memberi kesan. Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum, ada sedikit aneh di wajahnya tidak seperti yang sebelumnya aku temui. Dia tampak sedikit pucat, bibirnya pun tak semerah waktu pertama kali aku ketemu dia.

“kamu kayaknya lagi sakit ya Bin? Kok aku lihat kamu sedikit pucat.” Tanyaku padanya.

“ah masa sich nggak kok, aku baik-baik aja” jawabnya.

“oh ya gimana di sekolah tadi?” tanya Bintang mungkin ini salah stu taktik dia untuk mengalihkan pembicaraan.

“hmm nggak gimana-gimana sich, oh ya kamu suka renang gak? Kapan-kapan renang bareng yuk?” tawarku pada Bintang berharap dia menyetujuinya.

“aduh aku nggak bisa renang, hehe” jawabnya sambil tertawa kecil.

“ya udah mau aku ajari renang? Gimana kalo besok kita berenang bareng?” tawarku lagi padanya.

“hmm coba aku tanya ibu dulu yah? Kalau boleh ntar aku hubungi kamu” jawabnya.

Percakapan-percakapan kecil berlangsung antara aku dan Bintang saat itu, sampai tak terasa waktu berjalan cepat. Bintang minta ijin untuk pulang, aku dan Bintang pulang bersamaan, seperti halnya kemaren kami berpisah di persimpangan blok perumahan.

 

***

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku pergi ke rumah Bintang untuk mengajaknya berenang. dengan petunjuk yang di berikan Bintang semalam, akhirnya aku menemukan rumahnya. Tak jauh berbeda dengan rumah di sebelah kanan dan kirinya hanya saja ada taman dengan sebuah pohon kecil  bonsai lebih tepatnya. Aku pencet bel rumahnya dari luar pagar rumahnya, muncul seorang mbak-mbak dari dalam rumahnya.

“iya, mencari siapa ya mas?” tanya mbak-mbak itu kepadaku.

“Bintang mbak, Bintangnya ada?” aku balik bertanya kepadanya.

“oh iya silakan masuk” mbak itu mempersilakan aku masuk.

Rumah yang tertata apik, bersih dan di dominasi warna biru langit. Banyak benda-benda berkilau di dalam ruang tamu ini. Aku lihat di jajaran foto-foto yang tertata di sebuah meja panjang foto masa kecil bintang, dari situ aku dapat menyimpulkan Bintang adalah anak tunggal karena hanya terdapat foto dirinya ibunya dan ayah tirinya disini. Sedang asyik aku mengamati frame foto satu-satu, Bintang muncul dari arah belakangku.

“hayo ngapain..” ucapnya sambil memegang pundakku.

“ah kebiasaan deh ngagetin orang” jawabku padanya sambil berbalik menghadap ke arahnya.

“lucu ya aku waktu kecil, hehe” tanyanya kepadaku sambil tertawa.

“iyah apa lagi pas mewek ini bibirnya hhehe” jawabku sambil menunjuk foto masa kecil bintang waktu tengah menangis.

“ayuk katanya mau ngajakin renang?” tanya Bintang padaku.

“oke ayuk uda siap kamunya??”

“mah… Bintang berangkat yah?

***

Dua minggu sudah kami berteman, ada perasaan lain yang aku rasa beda bukan hanya sekedar perasaan kepada seorang teman. Aku rasa aku mulai suka dengan Bintang. Kita juga sudah cukup tau banyak tentang pribadi masing-masing dia tau hoby ku renang dan aku tau di hoby nya menulis. Aku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku yang berbeda ini padanya, tak begitu berharap dy akan merespon baik tentang ukapan perasaanku. Yang terpenting aku sudah berusaha mengungkapkan padanya. Malam itu tepatnya hari Rabu, aku ajak dia janjian ketemu di tempat biasa kami bertemu, aku sengaja datang lebih awal karena perasaanku yang gelisah tak menentu. Dia datang memakai kemeja panjang warna biru yang persis seperti kemeja yang ia kenakan di foto Facebooknya yang aku simpan di laptopku. Entah perasaanku mungkin, yang aku lihat dari wajahnya ada guratan-guratan kesedihan menyelimutinya, yang buat aku jadi ragu untuk mengungkapkan isi hatiku padanya. Tapi ketika dia tersenyum padaku aku menjadi semangat lagi untuk mengungkapkan isi hatiku ini padanya.

“hai, Tyo.. “ sapanya dengan senyum yang mengembang indah.

“hai.. lama amat kamu?” tanyaku.

“iya maaf tadi sebenernya ibu tidak ngebolehin aku keluar rumah tapi akunya maksa jadi agak lama ngelobby ibu.” Jelasnya padaku.

Saat dia berhenti berkata itulah saat dimana nafasku seperti tercekak, aku takut dia menanyakan padaku tentang mengapa menyuruhnya datang kesini.

“Ada yang mau kamu omongin?” tanyanya padaku,

“e..e,. iya ada”

“ngomong aja..”

“k..k..kamu mau nggak jadi.. p..pacar aku?” ucapku terbata-bata.

Aku lihat sepertinya dia kaget dengan pernyataanku tadi, tapi kemudian dia membuka mulut hendak merespon peryantaanku.

“ada syaratnya..” bisiknya pelan sambil mendekatkan bibirnya ke telingaku.

“apa syaratnya..” jawabku penasaran.

“kamu harus kasih aku 5 pendar bintang dalam waktu 1 bulan”

“pendar bintang??”

“yah 5 pendar bintang, pertama kamu harus kasih aku cincin pasangan yang berkilau, kedua kamu harus kumpulin 15 kunang-kunang yang di masukin kedalam toples, ketiga kamu kadoin aku piala juara kelas, keempat buktiin ke aku kalo kamu jago renang dengan membawa mendali juara renang itu dan untuk yang kelima kamu musti cari sendiri benda yang berkilauan itu”

“sesulit itukah? Posisiku disini sepertinya kayak si Bandung Bondowoso yang hendak meminang Roro Jonggrang. Aku takut semua ini hanya alasan kamu untuk buatku menyerah mendapatkan kamu”

“sudahlah kamu belum mengerjakannya kan? Jadi usaha dulu dan aku yakin kamu bisa jika benar-benar mencintai aku kamu pasti dapat penuhi persyaratan itu”

***

Setelah pertemuanku semalam dengannya aku berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi persyaratan itu, karena aku ingin membuktikan padanya bahwa aku benar-benar menicintainya. Mungkin dulu Bandung Bondowoso juga sama sepertiku saat ini, persyaratan pertama yaitu cincin pasangan yang berkilau, sepulang aku dari sekolah sengaja aku pergi ke toko perhiasan titanium, ya aku hanya sanggup membeli cincin yang terbuat dari titanium dan aku pikir ini sudah cukup berkilau bila digunakan. Syarat kedua yaitu 15 kunang-kunang dalam toples aku sudah temukan dimana letak kunang-kunang yang dapat aku jumpai dalam jumlah yang banyak karena kebetulan lokasinya tidak cukup jauh dari rumah maka aku lewati dulu persyaratan yang kedua itu, untuk kemudian mekanjutkan persyaratan yang ketiga yaitu piala juara kelas, aku sempat tak yakin untuk bisa mendapatkan piala itu karena selama ini aku hanya mampu bertahan di juara ketiga di kelasku, tapi entah itu mungkin karena dorongan semangat yang kuat setiap malam aku belajar dan belajar untuk menghadapi Ujian akhir semester di kelas 2 SMA ini. Sampai aku tak menyadari Bintang tak pernah memberiku kabar, pikirku mungkin dia juga tengah memberiku waktu untuk mempersiapkan semua persyaratan yang ia berikan padaku.

***

Entah ini mukjizat atau apalah, aku berhasil mendapatkan piala juara kelas itu. Nurul teman sekelasku yang biasanya namanya selalu terpanggil waktu pengumuman juara kelas kini datang menghampiriku memberi ucapan selamat atas kerja kerasku mendapat gelar juara kelas ini. Persyaratan ke empat yaitu mendali renang yang harus aku dapatkan dalam acara pekan olah raga daerah yang diadakan di kabupaten ku, aku optimis aku bisa mendapatkan mendali itu karena aku yakin aku akan mengulang kemenanganku di tahun lalu. Walau pesaing-pesaing yang berbakat sangat banyak. Ketika perlombaan berlangsung, dorongan semangat yang tinggi yang inginsegera aku selesaikan ke lima persyaratan yang diberikan Bintang padaku membuat aku berhasil mendapatkan mendali juara renang gaya bebas, walau hanya 1 mendali yang aku dapat tapi aku harap Bintang bisa menerimanya. Tak terasa batas waktu sebulan yang diberikan Bintang padaku tinggal 2 hari lagi,aku masih dibuat bingung dengan persyaratan yang kelima pasalnya dia tak memberi tahu ku apa yang harus aku penuhi untuk menyelesaikan peryaratan kelima itu.

***

Pagi-pagi sekali BB ku berdering bunyi alarm tanda pengingat bahwa waktuku untuk memenuhi persyaratan yang diberikan Bintang padaku sudah habis. Aku hendak menyerah untuk persyatan yang kelima itu belum juga aku temukan. Ada BBM dari bintang.

“ntar malem aq tunggu qm di taman komplek dan jangan lupa bw ke lima persyaratan yang aku berikan”

Aku patah semangat sepertinya aku tak bisa mendapatkannya, sepertinya perjuanganku sia-sia. Disekolah tak begitu bersemangat seperti hari-hari biasanya, pelajaran yang  diberikan guru masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan begitu saja. Suara bel tanda pulang sekolahpun tak begitu membuatku bahagia seperti kebanyakan teman-temanku yang sangat girang mendengar bunyi dering 3 kali  itu.

***

Malam harinya aku berangkat membawa tas samping kecil berisi 3 syarat yang di tentukan Bintang, sambil kubawa juga toples makanan ringan kosong yang akan aku gunakan untuk menaruh 15 kunang-kunang hasil tangkapanku nanti. Aku berhasil menangkap ke-15 kunang dan aku simpan di dalam toples yang aku bawa tadi, aku berjalan menuju taman kompleks itu dengan malas-malasan. Aku yakin semua mimpiku tak akan bisa terwujud, aku bisa menerka-nerka kata apa yang akan diucapkan Bintang nanti padaku, karena aku tak bisa memenuhi ke-5 persyaratan yang ia mau. Ketika aku pertama kali menginjakan kakiku memasuki gerbang taman kompleks ini aku dibuat bertanya-tanya ketika mataku menangkap sesosok anak seusiaku tengah duduk di kursi roda memakai baju seperti baju piama tidur dirangkap jaket swetter tebal warna biru. Sepertinya dia menunggu seseorang, aku beranikan diri untuk mendekat padanya dan berharap sosok itu bukan Bintang. Karena dia terlihat sangat rapus sekali di kursi roda itu. Aku pegang pundaknya aku geser perlahan posisi duduknya agar aku dapat melihat dengan jelas siapakah dia sebenarnya, ketika dua mata miliknya berhasil menatapku kaki perlahan gemetar aku diserang lumpuh secara mendadak ketika kudapati sosok Bintang yang begitu mengerikan, wajah yang pucat bibir yang merah menguntai senyum yang biasa dia persembahkan padaku kini memudar warnanya. Aku menitikan airmata dan mencoba bangkit memeluknya, mendekapnya berusaha menghangatkan badanya yang dingin dihempas angin semilir malam itu. Aku pun merasakan tetesan airmatanya jatu membasahi punggungku.

“maafin aku, aku belum bisa penuhi persyaratan kamu yang kelima Bintang” aku mencoba memulai pembicaraan.

“kamu akan temukan pendar bintang ke lima itu nanti Tyo” jawabnya

“sekarang ikut bersamaku” lanjutnya

Aku dorong kursi rodanya ke arah tempat yang Bintang mau, di pojok taman komplek kini kami berada. Langit tampak begitu jelas dari bawah sini, bintang-bintang malam bersinar begitu terang di atas sana.

“Tyo bisakah kamu membopongku agar aku dapat duduk juga disampingmu.” Pintanya padaku.

Aku turuti kemaunya, aku bopong dia agar dapat duduk bersebelahan dengaku. Lalu dia rebahkan tubuhnya di atas rumput taman yang hijau.

“Tyo, bisa kamu tunjukan ke 4 syarat yang aku minta padamu”

“dengan senang hati..” jawabku .

Aku keluarkan satu persatu 4 persyaratan itu dari dalam tas samping kecil miliku.

“Tyo gantungkan Piala kelasmu itu dan mendali mu itu di atas pohon pinus itu dengan tali ini”

Pintanya padaku sambil memberikan seutas pita warna biru muda yang samar-samar ku ingin warnanya sama dengan warna sweter yang pertama kali ia gunakan waktu pertemuan pertama kita. dengan sedikit susah payah aku berhasil menggantungkan piala dan mendali itu di atas pohon pinus.

“kau tau, mengapa aku memintamu mendapatkan piala juara kelas itu?” tanyanya padaku.

“tidak memang kenapa kamu menyuruhku dapatkan piala itu?”

“Piala itu melambangkan masa depanmu kelak, aku harap piala itu akan kamu dapatkan terus menerus bukan Cuma untuk sekarang saja”

“lalu kenapa kau suruh aku membawa mendali renang itu?” tanyaku padanya.

“mendali itu aku lambangkan cita-citamu aku yakin esok kamu akan jadi atlit renang yang hebat”

“sedangkan cincin ini?” tanyaku lagi.

“apa kamu bawa 15 kunang-kunang juga? Berikan padaku”

Aku ambil toples yang berisi 15 kunang-kunang itu lalu aku berikan padanya.

“15 ini tanggal dimana kita pertama kali ketemu.” Jawabnya kemudian membuka tutup toples itu perlahan dan kunang-kunang yang ada di dalamnya berterbangan.

“dan cincin pasangan ini, aku mau kamu pakaikan kelak pada calon pasangan hidupmu nanti” pintanya.

Aku masih menunggu apa yang selanjutnya hendak ia bicarakan tapi tubuhnya melemah, ia terkulai dan dengan sigap aku tangkap ia dipelukanku.

“apa kamu masih ingin tahu apa persyaratan yang kelima?” ucapnya terbata-bata

Airmataku mengalir begitu melihat segumpal darah keluar dari bibirnya yang pucat, aku mengangguk perlahan tanda aku ingin tahu apa persyaratan yang kelima itu. Dia menunjuk ke arah langit kemudian menunjuk kearah dadanya. Perlahan aku dengar dia bersuara, “aku.. aku akan jadi… pendar bintang… yang kelima itu… diatas sana… nanti”.

***

Bintang menutup matanya untuk selamanya, aku masih sering menjenguknya sesekali di tempat yang sama aku tau dia ada atas sana seperti janjinya padaku, untuk jadi pendar bintangku di atas sana.