Oralndos cover 3

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku hampir dipecat Orlando, tadi pagi ketika mengubek-ubek bukunya untuk mencuri baca jurnalnya lagi, aku ketahuaaan. Namun masih untung aku sempat mengkopi isi jurnal yang berhasil aku baca itu ke dalam memoriku (emang bisa?) hingga kalian bisa membacanya sekarang. Tapi aku sedih, hiks… sepertinya ini bakal jadi jurnal pacarnya Aidil itu yang terakhir kalian baca, aku tak diizinkan ber-bersih di kamar Den Orlando lagi, jadi aku tak punya kesempatan untuk membeberkan isi jurnalnya pada kalian, maafkan aku ya… Nayaka memang bukan Babu Profesional. #Plakkk

Yuk kita bersihkan…!

Stuck. Ya, aku nyaris menyerah di + 1200 kata saking mandegnya otakku. Rencana jurnal ke-3 ini bakal aku post malam kemarin (malam rabu), tapi duduk dari siang hingga hampir tengah malam tidak lantas membuat jurnal ini terselesaikan, alih-alih aku hanya bisa bolak-balik ke tombol delete dan backspace. Sejauh ini, aku tak pernah se-blank demikian ketika menulis. Sumpah, kemaren malam adalah yang terparah, seakan semua kata menguap pergi dari batok kepalaku. Sebelum aku menciderakan layar di depanku, kuputuskan menggaje di pesbuk. Alhamdulillah, ternyata di sana banyak teman yang bisa diajak sedeng bareng. Kekekeke.

Okeh, inilah dia jurnal ke-3 (terakhir) dari rangkaian jurnal Orlando yang kujanjikan. Lebih panjang sedikit dari 2 jurnal sebelumnya, tapi kayaknya tidak lebih bagus, lebih cetar membahana IYA. Kekekeke.

Nilai sendiri yaa… kolom komen terbuka selebar-lebarnya untuk kalian nyerocos hingga mulut berbusa. Silakan muji-muji jika kalian ngerasa bagus, silakan mengkritik dan merepet jengkel jika mengecewakan, dan silahkan kasih masukan jika kalian peduli dengan tulisanku agar lebih baik ke depan. Sebelumnya, aku hanturkan banyak terima kasih.

Semoga kalian menikmati membaca ORLANDO’S DIARIES : I Just Wanna Say, I lOve You… seperti aku menikmati ketika menulisnya (meski sempat mumet).

Untuk selanjutnya, kayaknya aku akan fokus ke cerpen dulu, nulis serial capek oii..

Wassalam

Nayaka

##################################################

*Dari jurnal Orlando Ariansyah*

Baiknya, seberapa sering kita harus bilang ‘I love you’ pada pacar kita? Apakah seperti kita boker, minimal harus satu kali sehari jika tidak ingin dikira sedang menyembunyikan sesuatu dalam perut? Apakah seperti jatah makan anak kost kebanyakan dari tanggal 15 ke atas, dua kali saja sehari dengan lauk yang membuat cacing dalam lambung mogok makan? Atau seperti etiket minum obat lazimnya, tiga kali sehari sesudah mengosongkan piring? Apakah ada kemungkinan pacar kita akan jemu mendengar kalimat ‘aku cinta kamu’ bila sudah terlalu sering kita ucapakan? Jika ada, aku patut khawatir.

Aku tipe pacar yang amat-sangat-terlalu-sering bilang ‘I love you’ buat pacarku. Tak kira waktu. Kapanpun aku merasakan cinta, maka aku akan mengatakannya langsung pada Aidil, dan faktanya… aku merasakan cinta pada Aidil sepanjang waktu, setiap menit dan jam, setiap hari. Aku pernah mengirimi Aidil SMS yang hanya berisi kalimat ‘I love you’ saja terus-terusan selama satu hari penuh. Saat itu, Aidil membalasnya dengan emo ciuman, hanya emo ciuman, dan aku akan langsung senyum-senyum sendiri sambil mencium layar hapeku. Katakan kita punya emo ML (atau memang kita sudah punya tapi aku yang tak tahu, apakah XO bisa dikatakan emo ML?) lalu Aidil membalas pesanku dengan emo itu, sudah pasti aku akan senyum-senyum sambil mengelus sesuatu di antara pahaku yang sudah menjadi hak milik Aidil sepenuhnya sejak kami resmi berstatus sebagai ‘suami-suami.’

Kembali ke pertanyaan, apakah pacar kita akan bosan jika kita mengucapkan kalimat itu terus-terusan sepanjang waktu?

Aku ingin meneliti pacarku sendiri. Aidil membalas pesanku dengan emo ciuman. Kesimpulanku, bahwa jika aku mengucapkan kalimat ‘I love you’ itu membuatnya ingin menciumku. Bagus. Ternyata tidak hanya membuatnya jengkel (bila jauh dari rumah) yang membuatnya ingin melahap bibir jantan-ku, kalimat ‘I love you’ dariku juga bisa merangsangnya untuk menciumku. Semoga analisisku seratus persen akurat. Itu kesimpulanku berdasarkan emo dalam SMS-nya karena aku mengtakan ‘I love you’ lewat hape.

Bagaimana jika aku bilang langsung, berhadap-hadapan?

Satu malam, di kamarnya, aku pernah bilang kalimat ‘I love you,’ lantas apa reaksinya? Sebenarnya aku tak terlalu peduli dengan reaksi Aidil, karena bagiku… apapun reaksi darinya, efeknya hanya satu : membuatku bertambah cinta. Namun tak ada salahnya aku mengenang reaksi Aidil malam itu, termasuk salah satu reaksi paling manis dalam sejarah kalimat ‘I love you’ dariku untuknya…

***

“Dil…”

“Hemmm…”

Tanpa menoleh padaku yang terlentang di ranjangnya, Aidil hanya menggumam pelan sedang jari-jarinya terus saja mengetik di keyboard komputernya, dia sedang mengerjakan tugas. Aku menggerakkan kepalaku memandang ke kursinya.

“Apa kamu benar-benar mencintaiku?”

Dalam keadaan normal, seharusnya aku bisa mendapatkan perhatian penuh darinya karena pertanyaan itu. Namun sepertinya sekarang bukan keadaan normal, Aidil sama sekali tidak menoleh ke ranjang. Tugasnya lebih pantas mendapatkan perhatian sekarang ketimbang pacarnya, ini keadaan abnormal bagiku.

“Tidak, aku tidak benar-benar mencintaimu…” jarinya semakin beringas di atas tombol. “Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu. Dan aku akan semakin mencintaimu jika sekarang kamu bisa diam di tempatmu tanpa mengganggu pekerjaanku dengan pertanyaan gak berbobot kayak tadi…”

Okey, jawabannya berefek dua macam padaku. Satu sisi aku tidak senang dengan kalimat ‘tidak benar-benar mencintaimu’ dan ‘diam di tempatmu tanpa mengganggu pekerjaanku dengan pertanyaan gak berbobot.’ Tapi aku senang dengan kalimatnya di pertengahan, dia sungguh-sungguh mencintaiku.

Aku bangkit dan duduk di atas ranjang. “Apa pertanyaanku benar-benar tak berbobot?”

“Menurutmu?” dia menjawab singkat, bahkan mengembalikan pertanyaanku, masih tanpa menoleh.

“Amat sangat berbobot,” jawabku mantap.

“Dimana letak berbobotnya?”

“Kalau pertanyaan itu aku tulis di kertas, maka ada tanda tanya di ujungnya, nah itu yang bikin pertanyaanku punya bobot. Aku ingin tahu…”

Kudengar Aidil tertawa pelan, menggelengkan kepalanya sekilas lalu kembali bekerja. “Kak Saif sepertinya sedang main play station di kamarnya, kenapa Kak Lando tidak ikut gabung dan membiarkanku menyelesaikan tugasku dengan segera?”

“Kamu sedang kesal?”

“Tidak, aku sedang menimbang-nimbang kemungkinan melakban mulutmu…”

Aku tersenyum di tempat dudukku, tentu kali ini dia melewatkan senyumku ini. “Yah, sepertinya aku memang harus bergabung dengannya, semakin lama berada di sini dadaku malah makin nyesek.”

“Dan semakin membuatku jengkel.”

“Yap, dan semakin membuatmu jengkel…” aku turun dari ranjang dan melangkah ke pintu. Aidil masih bergeming di tempat duduknya. Aku meraih handle pintu lalu menolehnya. “Dil…”

“Hemm…” dia kembali menggumam dengan cara yang persis sama seperti ketika tadi aku memanggilnya.

“Aku hanya ingin bilang… I love you…”

Aku membuka pintu, siap untuk keluar. Tapi…

BAMMM

Nyaris saja jari-jariku kejepit daun pintu yang tiba-tiba menutup cepat dengan gerakan sebat. Aidil baru saja mendorong daun pintu itu untuk menutup semula. Aku tak sempat berfikir apa yang terjadi, dengan sangat cepat Aidil membalikkan badanku dan mendorong punggungku merapat ke daun pintu. Kemudian kurasakan mulutnya menempel sempurna di atas bibirku.

Aku kaku, dan menegang di bawah sana. Kubiarkan Aidil melakukan sesukanya pada bibirku, aku tak membalas, berdiri diam, menerima perlakuannya padaku dengan tangan terbuka.

Aidil menarik bibirnya, “Orly, kamu tidak pernah sepasif ini. Apa tiba-tiba impoten menjamahmu?”

Aku tersenyum, lalu membuka mulut siap untuk menjawabnya…

Tiba-tiba…

“AIDIL… KENAPA BARUSAN…???”

Sepertinya Kak Adam baru saja berteriak dari lantai bawah, ternyata Aidil membanting pintu terlalu keras.

Kami saling bertatapan, bingung, dan was-was apakah seseorang akan memeriksa kemari.

“INI SAIF, KAK… NABRAK LEMARI BAJU…!”

Rasanya aku ingin memberikan sekeranjang bunga untuk Saif.

“SERING-SERING SAJA, IF…!” Kak Adam balas berteriak. Lalu hening.

Aku dan Aidil sama-sama tersenyum, “Apa dia selalu menimpakan kekacauan yang kamu buat sebagai tanggung jawabnya?”

Aidil mengangguk, “Kak Saif adalah kakak terbaik yang kupunya, dulu dia rela berbohong untuk kebaikanku.”

“Kapan?”

Aidil menurunkan tangannya dari tengkukku, sekarang dia mencengkeram pundakku kiri kanan. Gelagat tak menguntungkan bagiku, sepertinya dia tidak akan menciumku lagi, tangannya sudah tak bersiaga di belakang kepalaku seperti ketika dia melumat ganas mulutku beberapa menit lalu.

“Saat dia harus melawan preman demi menyelamatkanku…”

Alisku terangkat, “Bukannya aku yang ada ketika preman-preman menjarahmu saat itu?” aku teringat kejadian ketika Aidil nyaris dihabisi preman yang merampoknya di gang sempit dulu.

Dia menggeleng, “Bukan yang itu. Ini sebelum aku dirampok. Kak Saif datang menolong, dia berantem sampai babak-belur, tapi pas Bunda bertanya, Kak Saif bohong kalau dia baru saja jatuh motor. Padahal itu terjadi karena ketololanku.”

Aku mengernyit, “Aku tak pernah tahu ada kejadian itu… kapan tepatnya? Dan bagaimana kamu bisa berkata kalau dia berkelahi dengan preman disebabkan ketololanmu? Pacarku tak akan pernah melakukan ketololan.”

Aidil diam sebentar, matanya mengerjap, “Bagaimana kalau kita melupakan Kak Saif dan melanjutkan meeting kita barusan?” dia tersenyum nakal padaku. Satu tangannya kembali bergerak naik, meremas ujung rambut di tengkukku, sementara tangannya yang lain bergerak turun menuju perutku.

Aku mendecak, “Kamu berhutang satu penjelasan padaku, Beib…” aku menggerakkan kedua lenganku yang dari tadi diam di sisi badanku, merangkul pinggangnya dan membawanya merapat.

“Apa aku bisa melunasinya dengan…”

“Tidak, kamu tidak bisa melunasinya dengan apapun. Tidak dengan menciumku hingga aku kehabisan napas, tidak juga dengan bermain di sini hingga tanganmu lengket.” Aku menyentuh tangan Aidil yang sudah berada tepat di atas penisku, masih di luar. “Kapan kamu sempat, aku tetap ingin mendengar ceritamu itu…”

Dia mengembungkan pipinya. “Gak jadi…”

Tiba-tiba saja semuanya berubah. Aidil menurunkan tangannya dari tengkukku, meninggalkanku yang separuh menegang di bawah karena membayangkan kalau sesaat lagi akan mendapatkan service panas darinya. Dia mendorong dadaku hingga aku kembali menempel ke pintu dan siap menuju komputernya kembali.

Aku berpikir cepat, menyadari kebodohan yang baru saja kubuat. Aku tidak mau kehilangan kesempatan emas. “Hey…” aku berhasil menahannya. “Okey, aku rasa satu ciuman kayak tadi bisa melunasi hutangmu…”

Dia berbalik dan tersenyum, aku semakin ketar-ketir mendapati bahwa dia sengaja memamerkan senyumnya yang paling menggoda iman. “Tapi aku tak ingin kamu se-impoten tadi…”

Aku tertawa, “Tidak jika kamu juga aktif di bawah…” Aku melirik pinggangku sendiri.

Aidil tertawa, “Lalu… apa yang kita tunggu?”

Maka tanpa menunda waktu, aku segera membawanya ke dalam pelukku, membuktikan padanya bahwa aku tidak impoten, tidak pernah akan menjadi impoten selama dia masih menggairahkan seperti ini.

***

Ya, mengatakan ‘I love you’ langsung di depan Aidil maka reaksi yang kudapatkan adalah seperti efek Axe. Lihat iklan Axe? Lebih kurang efeknya seperti itu. Aku membayangkan berdiri di tengah kota yang padat dan berteriak ‘AIDIL… I love you…!’ lalu tiba-tiba semua aktifitas manusia berhenti seperti yang terjadi dalam film XMen ketika Profesor Xavier pamer kekuatan, kemudian entah dari mana datangnya Aidil sudah menempel di perutku, melekatkan dirinya hingga tak bercelah di depanku, seperti tokek yang menempel di dinding. Waow, mendadak aku ingin menyibukkan diri di kamar mandi sambil meracaukan namanya.

I just wanna say, I love you. Ternyata perasaan cinta begitu sederhana hingga kita hanya perlu menjabarkannya dalam tiga kata saja, hanya tiga kata, tak lebih. Aku-cinta-kamu. Hanya itu.

Aidil jarang mengatakan ‘I love you’ padaku, cukup jarang. Maksudku tidak sesering yang aku ucapkan untuknya. Meski demikian, aku tahu kalau dia mencintaiku sebanyak aku mencintainya, bahkan mungkin cintanya Aidil lebih kuat. Aidil bukan tipe lelaki yang memberikan cintanya setengah-setengah, jika sudah cinta maka dia akan memberikan cintanya secara utuh. Begitu yang terjadi dengan Zayed dulu. Aidil memberikan cintanya utuh kepada Zayed, dia meletakkan dunianya di genggaman lelaki malang itu (aku menyebutnya lelaki malang bukan untuk mencemooh, tapi karena dia harus pergi dan berhenti menjadi penerima cinta Aidil yang tanpa pamrih). Walau Aidil tak pernah mau bercerita banyak perihal kisahnya dengan Zayed, namun aku tidak buta melihat kenyataan itu. Aku tahu kalau Aidil juga mencintaiku utuh kini, namun kadang aku tetap merasa cemburu pada Zayed walau dia sudah tak ada. Ya, aku aneh… apa perlunya mencemburui arwah? Entahlah, aku tak bisa menjawab. Yang jelas, kadang di hatiku masih timbul perasaan di-nomor-duakan oleh Aidil jika dia sedang larut bersama Zayed yang tak terlihat…

***

Aku masih duduk menjelepok di atas rumput sambil memeluk lutut semeter jauhnya dari Aidil. Sudah lebih setengah jam kami berada di sini namun tak ada gelagat bahwa pacarku itu akan menyudahi kunjungannya. Aidil masih duduk bersidekap dada di samping nisan Zayed, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Setelah belasan menit pertama dihabiskannya dengan menadahkan tangan dan berkomat-kamit, setelah itu menyapu daun-daun kering yang bertebaran di atas makam zayed, kemudian mengelus batu nisannya, kini Aidil termenung menatap gundukan tanah di depannya.

Aku memang sudah terbiasa dengan ritual ini, aku mengalaminya minimal dua kali dalam sebulan. Ya, Aidil masih rutin mengunjungi makam Zayed hingga kini dan sebagai pacarnya yang sekarang, aku wajib menemaninya kemana-mana, termasuk pergi ke kuburan sore-sore seperti sekarang. Aku sudah hapal urutan gerak Aidil di makamnya Zayed, sangat hapal. Yang paling menjemukan dan membuatku lumutan sambil gigit-gigit kuku adalah tahap akhir, dimana Aidil akan membuang-buang masa (menurutku) menatap kosong makam Zayed tanpa melakukan gerakan apapun, hanya memandang. Sejauh yang sudah kulalui, aku selalu sabar menunggu prosesi merenungnya selesai dan dia yang mengajak pulang lebih dulu, tapi kali ini Aidil merenung terlalu lama. Di belakangnya, aku mulai gusar sambil sesekali menarik kupingku sendiri.

“Masih lama ya…”

Aku tahu, seharusnya seperti yang sudah-sudah, aku tak pantas meng-interupsi kekhusyukannya, Aidil tak akan suka. Aku juga tidak mau membuatnya tidak suka padaku, tapi seperti yang kubilang, hari ini prosesi merenungnya sudah melewati takaran. Bokongku mulai gatal kelamaan duduk di rumput, bagaimana dia bisa tenang-tenang saja? Bahkan posisi duduknya adalah posisi paling hantu bagi orang haemoroid, Aidil duduk jongkok sejak kami tiba. Apa dia tidak tahu kalau lama-lama berada dalam posisi duduk seperti itu bisa berakibat buruk pada bagian terseksi –tentu setelah selangkangan- yang aku suka darinya? Tidak, aku tidak mau Aidil bermasalah dengan bagian terseksi itu.

Ucapanku tadi belum mendapat responnya, dia seolah-olah tak mendengar. “Dil, kalau masih lama duduknya diubah dong, jongkok terus-terusan gak baik…”

Masih diam.

Aku menggaruk kupingku makin keras. Angin sore kian terasa sejuk di kulit wajahku. Langit mulai temaram, sebentar lagi malam akan turun, sebentar lagi warga tanah ini juga bakal keluar berduyun-duyun dan membuat parade. Pemikiran konyolku membuat meremang diriku sendiri. Aku menatap cemas pada ratusan gundukan di sekelilingku. Apa Aidil sudah lupa kalau sekarang kami sedang berada di tanah perkuburan? Segala macam makhluk halus ada di sini.

“Dil, bentar lagi Magrib loh…”

Angin dingin menghembus tengkukku. Bulu kudukku berjingkrakan, mataku langsung sebat berputar mengawasi keadaan. Sedetik tadi, aku nyaris pipis di celana. Apa Aidil tidak merasakan angin dingin barusan? Kalau tak ingat dia masih berstatus pacarku (lebih tepatnya, kalau aku tak ingat bakal diputusin Aidil jika meninggalkannya sendirian), ingin saja aku melepas sandalku kiri kanan, memegangnya di tangan lalu segera ambil langkah seribu dari area paling berbahaya di malam hari tempat kami bersantai sekarang.

“Dil… ngerasain gak?”

Aidil tak bersuara.

“Kok aku merinding ya, Dil…” aku nyerocos sendiri sambil menyapu lenganku kiri kanan bergantian. “Masih lama kah?” sungguh, ingin saja aku menyeret Aidil keluar dari sini dengan segera, tapi jangankan menyahut, bergerak saja pun dia tidak. “Dil, aku tau kamu masih pengen di sini, tapi…” bulu kudukku berdiri lagi, angin sialan itu baru saja berhembus untuk kedua kalinya. “DEMI TUHAN, DIL… KITA HARUS PULANG!” aku tak bisa mengendalikan diriku lagi.

“Kak Lando kenapa sih?”

Aidil menoleh padaku, kulihat matanya sembab. Apa dia dia baru saja menangis? Sial, mengapa aku sampai tak tahu kalau dari tadi sebenarnya dia sedang menangis. Bangsat, aku sudah bertekad tak akan membuatnya menangis lagi bila sedang bersamaku. Rasa takutku lenyap sudah, aku cepat-cepat bangkit dan duduk rapat di sampingnya.

“Maafkan …” Aku merangkul pundaknya.

Aidil mengesat matanya, “Kak Lando, boleh kan kita berada di sini beberapa saat lagi…”

Aku mendesah, “Kamu kesal denganku?”

Aidil menggeleng, “Aku sedang ingin menuakanmu…”

“Yah… kenyataannya aku memang lebih tua, kan?”

Aidil merangkul kakiku yang tertekuk lalu menumpukan dagunya di atas lututku. “Dia juga lebih tua dariku… setelah resmi pacaran… kami jadi sebaya…” Aidil menarik napas, “Dia suka nama panggilan yang kuberikan… terdengar terlalu manis untuknya, dia pernah bilang begitu…”

Okey, kupingku sedikit gatal jika dia mulai selarut ini mengenang Zayed. Satu sisi aku memang ingin tahu seperti apa kisah mereka, tapi efek cemburu juga tak bisa kuabaikan begitu saja.

“Hemmm…” aku menggumam di puncak kepala Aidil, merasakan ketenanganku sendiri lewat helai-helai rambutnya yang menyentuh kulit wajahku. “Aku tahu dia kekasih paling hebat yang pernah hadir dalam hidupmu… dibandingkan dia, aku…”

“Jangan mulai…” Aidil menggigit lututku, liurnya membekas di celana jeans-ku.

“Jorok…”

Dia menggigitnya lagi, aku tertawa pelan. “Kamu ingin memamerkan kemesraan kita di depan Zayed? Hantu juga bisa cemburu loh…”

Aidil menarik diri. Aku tertawa geli sendiri dalam hati, berkat kemesraan kecil tadi, cemburuku menguap.

“Kenapa tadi berteriak?”

“Heh?” keningku bertaut.

“Tadi kamu berteriak ngajak pulang, kenapa?”

Aku tersadar, kami sudah nyaris berada dalam gelap. “Ya Tuhan, Dil… sudah Magrib…” aku segera bangkit dan menepuk bokongku. “Saatnya pulang, ucapkan sayonara…”

Aidil tersenyum, membelai nisan Zayed satu kali lalu tanpa berkata apa-apa langsung menggamit lenganku. Kami berjalan menuju gerbang.

“Makasih ya…” Aidil berujar ketika kami sampai di tempat aku meletakkan motor.

“Untuk?”

“Untuk mau tinggal di sana tadi sedikit lebih lama dari biasanya…”

“Itu tidak sedikit lebih lama, itu sangat lama dari biasanya tau…”

Aidil tertawa, “Kak Lando takut ya?”

“Walaupun aku lebih tua dan penisku besar dan panjang, itu bukan jaminan aku tak takut hantu…”

Aidil terbahak, “Jika sudah meninggal nanti, kamu juga bakal jadi hantu…”

Aku kontan bergidik. Membayangkan diriku dikebumikan orang sekampung, membayangkan orang sekampung akan berkata seperti ini, ‘Ya Allah… selama di dunia, Orlando selalu dipuji-puji karena ketampanannya, sekarang siapa yang akan memujinya di dalam tanah. Ya Allah, selama ini Orlando selalu tidur di kasur empuk, tapi sekarang tanah liat yang jadi ranjangnya.’ Yang lebih menyedihkan sekaligus mengerikan jika ada yang berkata begini, ‘Ya Allah, selama ini Orlando sangat takut sama hantu, tapi nanti malam dia pula yang jadi hantu.’ Oh mi got, aku tak mau jadi hantu.

“Orly… kenapa?” Aidil menjenguk ke wajahku.

Aku mengerjap, “Aku tak mau jadi hantu.”

Kontan Aidil tertawa lagi, “Ngawur, ayo pulang!”

Aidil langsung naik ke boncengan, padahal aku masih belum siap mengemudi, aku masih berdiri satu langkah dari motor. “Kamu mau menyetir?”

Aidil menggeleng.

“Rugi dong Zayed mengajarimu motor kopling jika gak pernah mengemudi…” aku memanas-manasi, “Atau jangan-jangan kamu bohong padaku, dia tak pernah mengajarimu sesuatu apapun…” aku semakin menyalakan komporku.

Aidil menggeram di jok motor, “Bawa sini kuncinya! Akan kubuktikan kalau dia pernah dengan sungguh-sungguh mengajariku sesuatu…” Aidil menggeser duduknya lebih ke depan, mengambil posisi sebagai pengemudi.

Aku menyeringai, rencanaku berhasil. Sesekali, aku juga ingin meletakkan jariku di depan gundukannya, sukur-sukur bisa berkesempatan mempreteli zippernya. Dan sepertinya rencanaku bakal mulus, suasana sudah cukup gelap, tak akan ada yang melihat.

Kuserahkan kunciku pada Aidil lalu segera naik ke boncengannya. “Pelan-pelan aja, kita tidak sedang terburu-buru…”

Aidil menyalakan mesin, “Berdoa saja aku tidak membuat kita masuk parit…”

“Dia sungguh-sungguh mengajarimu, kan?” aku memastikan lagi sebelum melingkarkan tanganku ke pinggangnya.

“He eh, tapi ini pertama kali aku mengemudi di jalan dengan motor rumit ini…”

“Selalu ada pertama kali untuk setiap hal… ayo, bawa kita ke rumah!” aku merapatkan diriku padanya sembari dengan sengaja menurunkan letak tautan jemariku.

Aidil menunduk, “Jangan bilang kamu memanfaatkanku untuk ini…”

Aku kontan tertawa, lalu menjilat kupingnya sambil berbisik, “Aidil, aku mencintaimu…”

“Oh, kamu tidak sedang begitu, Orly… kamu sedang mengambil kesempatan… tapi… aku suka.”

Lalu Aidil menekan gas motor bersamaan dengan aku yang menekan gasnya.

***

I just wanna say, I love you… mungkin itu salah satu senjataku untuk membuat Aidil klepek-klepek yang lalu akan menyenangkanku saat dia klepek-klepek begitu. Aku tidak akan keberatan lagi jika Aidil menomor-duakanku saat sedang larut bersama Zayed yang tak tampak, karena setelah aku mengucapkan mantra cintaku, dia akan kembali menomor-satukanku di atas apapun yang sempat menyisihkanku sementara waktu.

Aidil, tak keliru aku berkata… kamu adalah segalanya-ku.

***

[Aku di jendela]

Begitu pesan yang tertera di layar hapeku, dari Aidil. Saat ini aku baru saja selesai mandi, bahkan belum memakai sehelai kolor pun. Aku berhenti dari gerakanku mengeringkan rambut dengan handuk, memandang sekilas ke pinggangku kemudian menoleh ke jendela yang tirainya sudah kuturunkan saat pulang tadi.

Kupandang lagi pesan Aidil, dia pasti kangen ingin melihatku. Seharian ini kami tidak bertemu, aku ada pertandingan basket bersama timku dan dia ada praktikum hari minggu sehingga tak bisa menjadi supporter utama. Aku tersenyum jahil. Saatnya memberikan Aidil sedikit kejutan.

Aku melempar handuk ke atas ranjang dan dengan mantap melangkah menuju jendela. Kuatur poseku sebagus mungkin sebelum menyibak tirai. Aku berdiri sedikit menyamping, menekuk sebelah tanganku ke belakang kepala hingga ketiakku tumpah-ruah dengan sempurna, kakiku sedikit mengangkang. Merasa masih kurang sempurna, aku membawa tanganku yang satunya lagi menuju alat biologis di tengah-tengah tubuhku, belum apa-apa aku sudah sesak dan tegang sendiri.

Aku siap. Kusibakkan tirai dengan sekali hentak hingga menganga, dan…

JEGGAAARRR

GUBRAKKK

Aku langsung kelabakan, tanpa pikir panjang segera merapat ke lantai. Hampir saja aku lupa menarik tirai menutup kembali.

Apa yang terjadi?

Celaka dua belas, tidak… ini lebih dari dua belas, sepertinya ini celaka dua puluh empat. Aku salah perhitungan, ternyata Aidil tidak sendirian di jendelanya, dia sedang bersama Erlangga. Catat, ER-LANG-GA. Oh mi got, ini tidak baik. Aku melihat mereka melongo tadi, apalagi Erlangga… dia sampai melotot besar. Lagi, ini tak bagus buat karierku.

Segera, aku berlari menerkam handukku bertepatan dengan hapeku yang memekik. Aidil menelepon.

Aku menghela napas, ini harus diluruskan. Setelah memastikan kalau handukku tak akan melorot dan mempermalukanku untuk kedua kalinya, aku melangkah ke jendela dan menjawab panggilan Aidil.

Pemandangan pertama yang kutemukan adalah, Erlangga terpingkal-pingkal memeluk perutnya, suara tawanya menyerbu telingaku lewat corong hape ditingkahi racauannya yang terus mengejekku.

“Ya Tuhan… Dil… liat gak tadi…” tertawa, “Tetanggamu aneh…” terpingkal, “Tititnya dipamer sama kita…” terbahak, “Dikiranya kita gak punya yang kayak dia…” terkikik, “Gede sih, tapi tak segede punyaku…” terkekek, “Jembutnya baru dicukur kayaknya…” terkokok, “Ampun dah tetanggamu itu…”

Rasanya aku ingin menjadi teleporter dan muncul di kamarnya Aidil lalu mencengkeram leher Erlangga, menonjok hidungnya hingga melesak ke dalam sebelum melemparnya lewat jendela. Aku geram mampus, yang paling membuatku panas adalah kalimat ini, ‘tak segede punyaku.’ Beraninya dia bilang begitu di depan Aidil, aku takut jika pacarku tidak tertarik lagi dengan punyaku tapi malah lebih tertarik ingin mengetahui seberapa gede punya Erlangga Sedeng itu, bisa gawat kan?

Aidil mesem-mesem mendengar racauan Erlangga.

“Kasih hapenya ke makhluk salah kaprah itu!” aku membuka percakapan.

Aidil menyengir lalu menyerahkan hape ke Erlangga. Aku masih mendengar sisa-sisa tawa menyebalkannya sebelum dia menyapa dengan kalimat yang membuat tandukku mencuat.

“What’s up, Mr. Penis at the windows???”

“AKU SUMPAL MULUTMU PAKE KOLOR BURIKKU TAU RASA! Ngapaen sore-sore masuk kamar orang?”

Erlangga tertawa besar, “Duh… Mr. Penis at the windows marah euy…”

Aku mendengus, “Yakin amat punyamu lebih gede, dari sini pun bisa terlihat kalau isi kolormu kalah jauh dariku.”

Mendadak Erlangga berhenti tertawa, sepertinya emosinya tersulut. “Berani taruhan berapa?”

“Aduh kalian apaan sih, taruhan apa? Jangan gila…” suara Aidil, dia bermaksud mengambil hape dari Erlangga.

“Bentar, Sweetheart, aku pengen ngelurusin masalah dulu sama kunyuk suka pamer ini…”

Aku menggelepar di tempatku berdiri, berani-beraninya dia memanggil sweetheart buat pacarku. Nyaris saja aku kehilangan kendali dan meneriakkan pada Erlangga kalau dia tak pantas memanggil Aidil seintim itu karena aku pacarnya. Aku lebih berhak.

“Kalian menghabiskan pulsaku, ngomongin yang tidak jelas. Sini…” Aidil kembali bersuara sambil berusaha mengambil hape dari kuping Erlangga.

“Bentar…” Erlangga menangkap tangan Aidil.

Aku kian panas. Jika saat ini aku adalah seekor banteng, maka Erlangga adalah kain merah yang dipegang matador, aku tak sabar ingin menanduk kain merah itu hingga robek-robek.

Tanpa menghiraukan Aidil, Erlangga buka suara, “Catet ya, suatu saat kita bakal buktiin kalau punyaku lebih gede, dan jika terbukti benar, kamu harus masang status di akun pesbukmu selama seminggu penuh yang bunyinya mengakui kalau punya Orlando Ariansyah lebih imut dibanding punya Erlangga Afghanessa, jelas???”

“DEBAT GAK MUTU…!!!” Aidil membentak, “Bawa sini hapeku!”

“Okey, deal! Tapi jika terbukti aku yang menang, kamu yang harus masang status kayak gitu sebulan penuh…” aku menjawab tantangan Erlangga penuh emosi.

“Huh, siapa takuuuut…” Erlangga berseru dengan mantapnya.

“Dasar orang aneh…” Aidil berhasil menarik hapenya.

Erlangga cengengesan, “Aku pulang ah, Dil… bakalan sial tujuh hari tujuh malam akunya gara-gara sempat ngelihat barang antik Si Lando, aku harus pipis di pinggir jalan untuk buang sial.”

“Sarap…” cetusku penuh dongkol.

Erlangga memberiku jempol terbalik, menjulurkan lidahnya berkali-kali seperti biawak, lalu menyonggengkan pantatnya sebelum berlalu dari jendela. Aidil tertawa terpingkal-pingkal.

“Kasihan Rani Tayang punya pacar sarap kayak Erlangga…”

Aidil tersenyum, “Dia lucu…”

“Tidak, dia gila.”

Aidil mengangkat bahu, “Selamat ya!”

“Untuk?”

“Kata Kak Saif kalian menang. Aku hanya ingin bilang itu aja tadi…”

Aku tersenyum, “Trims, Sweetheart.”

“Erlangga membuatmu terobsesi?”

“Salah ya?”

Aidil menggeleng, “Aku suka…”

“Aku kesal mampus sama Erlangga.”

“Yeah, I see…”

“Dia membuatku panas luar dalam ketika memanggilmu kayak gitu… dan dia juga megang-megang tanganmu.”

Aidil menggeleng, “Omong-omong, apa itu tadi? Live show?”

Mukaku merona, sekarang aku malu sendiri, padahal tadi aku sangat percaya diri ketika berpose di jendela.

“Aku suka…”

“HAH???”

Aidil tertawa, “Aku bilang, aku suka. Lain kali jika ingin memberiku kejutan, pastikan kamu tidak ikut mengejutkan orang lain…” Aidil mengedipkan sebelah matanya.

“Apa aku mengejutkan Erlangga?”

Aidil mengangguk, “Untung dia tidak curiga dan nanya macam-macam…”

“Dia tidak terkejut, tapi iri padaku.”

“Mungkin.”

“Kamu tidak berpikiran kalau apa yang dia katakan adalah benar, kan?”

“Apa yang dia katakan?”

“Bahwa galah miliknya lebih tinggi dari punyaku…”

Aidil terbahak.

“Jangan percaya sama bualannya, ya… galahnya tidak lebih tinggi dari galahku.”

Aidil mengulum senyum lalu mengangguk mantap, “Tak ada yang melebihimu, Orly… kamu adalah segalanya bagiku kini, tak ada yang lain lagi.”

Aku mencium kaca jendelaku hingga berbunyi, Aidil melakukan hal yang sama. Lalu kami sama terkekeh, “Kamu juga segalanya-ku, Dil… I love you.”

“Yah, kamu memang mencintaiku.”

Aku menggumam, “Apa aku bisa melanjutkan show-ku yang tertunda?”

“Ini bukan kejutan lagi, sana pake kolormu!” Aidil menutup telepon sekaligus menutup tirai.

Bahuku turun, padahal aku sudah siap melepas handuk.

***

‘Tak ada yang melebihimu, Orly… kamu adalah segalanya bagiku kini, tak ada yang lain lagi…’

Itu kalimat Aidil yang membuatku serasa jadi pangeran yang sedang berada di lantai dansa bersama seorang putri, yang membuatku serasa menjadi ksatria yang sedang mengendarai kuda dalam peperangan untuk membebaskan kekasihku dari sarang penyamun. Aku melesat ke udara seperti kembang api lalu meledak menghamburkan warna indah, begitulah aku saat Aidil meletakkanku di posisi teratas dalam hidupnya.

Aidil, tak bosan… aku akan terus bilang… I love you.

Terimalah bait-bait ini sebagai pelengkap kata I love you-ku untukmu…

 

Ketika ayam jantan berkokok di pagi hari

Aku langsung ingat kamu

Ketika ayam betina berkotek di siang hari

Aku langsung ingat kamu

Ketika itik paya ber-kwek-kwek di sore hari

Aku langsung ingat kamu

Pun ketika kambing mengembik entah kapan

Aku juga langsung ingat kamu

Begitu pula ketika lembu menguak tak tentu pasal

Akupun langsung ingat kamu

 

Tak peduli ayam jantan atau betina, tak peduli kambing atau lembu

Tak peduli apapun mereka

jika mereka sudah buka suara, aku akan ingat kamu

Lalu aku juga akan bersuara

Meng-kokok-kan namamu

Meng-kotek-kan kelebihanmu

Meng-kwek-kwek-kan keindahanmu

Mengembik-kan kepolosanmu

Juga menguak-kan ketulusan cintamu

 

Aidil…

Aku rela jadi tutup panci asalkan kamu adalah pancinya

Aku ikhlas jadi ulekan asalkan kamu adalah cobeknya

Aku tak keberatan jadi karburator asalkan kamu adalah knalpotnya

Aku siap jadi celak asalkan kamu adalah eye liner-nya

Aku mantap jadi lalat ijo asalkan kamu adalah bunga bangke-nya

 

Dengan begitu, kita akan selamanya bersama

Kayak panci dan tutupnya

Kayak cobek dengan ulekan-nya

Kayak knalpot yang terhubung karburator

Kayak paket lengkap celak plus eye liner

Pun kayak lalat ijo yang rela jungkir balik mengendus wangi bunga bangke (?)

 

Aidil…

Aku cinta kamu dengan segenap jiwa ragaku

Dengan seluruh rambut dan buluku

Dengan sekalian kuku tangan dan kakiku

Juga dengan setiap gigi dan gusiku

Aku cinta kamu

 

Apalah artinya bank tanpa teller

Untuk apa beli sayur banyak kalau tak punya Freezer

Kenapa harus bersedih kalau masih punya peler

Begitu juga aku…

Apalah arti diriku tanpa dirimu

Untuk apa pacaran jika tidak elus-elusan

Dan aku jelas masih punya peler, jadi kamu tak perlu bersedih

Karena peler-ku hanya untukmu seorang…

 

Ah… menulis tentangmu memang tak akan pernah ada habisnya. Aku rasa lembar-lembar jurnal ini terlalu sedikit untuk menuliskan keindahanmu yang begitu banyak. Lembar-lembar ini terlalu sempit untuk memuat kebaikanmu yang begitu luas. Lebih dari itu, lembar-lembar ini terlalu kecil untuk menempatkan cintamu yang begitu besar, untukku.

Tahukah? Sebelum terisi segala hal indah tentangmu, jurnal ini adalah rongsokan pucat dan suram yang hanya berisi hampa di tiap lembarnya. Kini lihatlah, ia telah berubah ceria, indah berwarna seiring aku menuliskan indah warnamu di tiap barisnya…

 

Kutulis dengan cinta

Orlando Ariansyah

________________________________________________________________

 

Akhir January 2013

Dariku yang (mungkin) ada apa-apanya

Nayaka Al Gibran

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

AKU BEBAAASSS…!!! Janjiku tertunaikan. Alhamdulillah…